EFEK EKSTRAK DAUN WIDURI (Calotropis gigantea)
SEBAGAI LARVASIDA PADA LARVA NYAMUK
Aedes albopictus
SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S1)
Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan
Universitas Tadulako
SULISTYAWATI N 101 10 036
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PENGESAHAN DEWAN PENGUJI
Judul : EFEK EKSTRAK DAUN WIDURI (Calotropis
gigantea) SEBAGAI LARVASIDA PADA LARVA
NYAMUK Aedes albopictus.
Nama : SULISTYAWATI
Stambuk : N 101 10 036
Disetujui Tanggal : 15 AGUSTUS 2014
DEWAN PENGUJI
Ketua : dr. I Nyoman Widajadnja, M.Kes ...
Sekretaris : dr. David Pakaya ...
Penguji I : drg. Elly Yane Bangkele, M.Kes ...
Penguji II : dr. Puspita Sari ...
Mengetahui,
Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako
d
PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan
Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.
Palu, 5 Agustus 2014
Penulis,
KATA PENGANTAR
Alhamdulillahirabbil‟alamin, dengan segala kerendahan hati penulis
panjatkan puji dan syukur yang setinggi-tingginya kepada Allah SWT atas
berbagai anugrah, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi dengan judul “EFEK EKSTRAK DAUN WIDURI (Calotropis gigantea)
SEBAGAI LARVASIDA PADA LARVA NYAMUK Aedes albopictus”.
Tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk
menyelesaikan program sarjana strata satu (S1) di Fakultas Kedokteran dan Ilmu
Kesehatan Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Tadulako.
Penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada kedua
orang tua terkasih, tersayang dan teramat penulis cintai. Untuk Ayahanda Ismail
dan Ibunda Aspiah yang telah membesarkan penulis dengan penuh kasih, cinta
dan rasa sayang yang begitu berlimpah serta tak henti-hentinya memberi semangat
dan wejangan-wejangannya selama proses pembuatan tugas akhir ini. Tak lupa
pula penulis mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara tercinta
Iswahyudi dan Annisa Sri Rahayu yang selalu memberi keceriaan di sela-sela
kelelahan dan kejenuhan penulis.
Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih dan rasa hormat yang
setinggi-tingginya kepada dr. I Nyoman Widajandja, M.Kes selaku
pembimbing I dan dr.David Pakaya selaku pembimbing II yang ditengah
kesibukkannya terus memberikan arahan, bimbingan dan saran yang sangat
Pada penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak,
untuk itu perkenankan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
yang tak terhingga kepada:
1. Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir, SE., MS.
2. Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako,
dr. Fajar Waskito, Sp. KK.(K) beserta segenap jajarannya.
3. Wakil Dekan bidang akademik FKIK Universitas Tadulako, dr. Ketut
Suarayasa, M.Kes
4. Wakil Dekan bidang umum dan keuangan FKIK Universitas Tadulako,
dr. Asri Arham Effendi, Sp.B, M.Kes
5. Wakil Dekan bidang kemahasiswaan FKIK Universitas Tadulako,
Drs. Hakim Laenggeng, M. Kes
6.
Ketua PSPD FKIK Universitas Tadulako, dr. Diah Mutiarasari7. Dosen Penguji I, drg. Elly Yane Bangkele, M.Kes
8. Dosen Penguji II selaku dosen pembina departemen Biokimia PSPD FKIK
Universitas Tadulako, drg. Tri Setyawati, M.Sc
9. Dosen Penguji III, dr. Puspita Sari
10. Bapak/ibu dosen FKIK UNTAD yang telah mengajar dan membimbing
penulis sejak awal kuliah hingga terselesaikannya tugas akhir ini.
11. Segenap pegawai Tata Usaha dan Akademik FKIK UNTAD.
12. Dosen pembina departemen Biokimia PSPD FKIK UNTAD, dr. Nur
13. Kepala kantor Balai Litbang P2B2 Donggala, Bapak Jastal, SKM, M.Si dan
Ibu Hayani Anastasia, SKM, MPH selaku kepala bagian pelayanan
penelitian serta pegawai Balai Litbang P2B2 Donggala bagian Sumber Daya
Hayati, bagian Hewan Uji, dan bagian Pelayanan Penelitian yang telah
menerima dan menyambut dengan baik penulis dimulai saat permintaan izin
penelitian hingga terselesaikannya penelitian.
14. Kak Ludia Rustin Palondongan, S.Si yang senantiasa membantu penulis
dimulai saat pencarian judul hingga terselesaikannya penelitian.
15. Indra Firmansyah yang selalu mendampingi, memberi nasehat, dukungan
dan motivasi selama perkuliahan dan penyusunan tugas akhir ini.
16. Sahabat-sahabat penulis yang juga berperan penting selama perkuliahan dan
penyusunan tugas akhir ini, Nurkhalidah, Lestari Irawan, Windy
Mentari, Ayu puspita, Nurul Afriani, Nanda Hikmah, Nursafitri dan
Nurafni Oktavia.
17. My beloved family Card10 atas kekompakan dan kebersamaannya selama
ini, kakak-kakakku 01factorius dan Oste09en, serta adik-adikku Achi11es,
Arth12on dan Pl13xus.
18. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter (HMPD),
AMSA Untad, dan FKI-Assyifa Untad.
19. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua
pihak yang telah membantu dan tak bisa disebutkan satu-persatu namanya,
Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih banyak
terdapat kekurangan, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang
bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini
dapat memberikan kontribusi serta manfaat yang besar bagi semua pihak terkait,
khususnya penulis secara pribadi dan para pembacanya.
Palu, 5 Agustus 2014
Penulis,
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ... iii
KATA PENGANTAR ... ... iv
DAFTAR ISI ... ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... ... ... xiii
DAFTAR SINGKATAN ... ... ... xiv
ABSTRAK ... ... xvi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Keaslian Penelitian ... 4
A. Telaah Pustaka ... 6
1. Tanaman Widuri Kunyit (Calotropis gigantea) ... 6
a. Taksonomi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea) ... 6
b. Morfologi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea) ... 7
c. Kandunag kimia tanaman Widuri (Calotropis gigantea) .. 8
d. Khasiat tanaman Widuri (Calotropis gigantea)... 9
e. Pembuatan Ekstrak Ethanol Daun Widuri (Calotropis gigantea) ... 10
f. Larvasida Sebagai Pengendali Nyamuk ... 13
2. Aedes albopictus ... 16
a. Taksonomi Aedes albopictus ... 16
b. Morfologi Aedes albopictus ... 17
c. Siklus Hidup Aedes albopictus ... 17
d. Perilaku Aedes albopictus ... 19
3. Kerangka Teori ... 21
4. Kerangka Konsep ... 22
B. Landasan Teori ... 22
C. Hipotesis ... 23
BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 24
B. Jenis Penelitian ... 24
C. Populasi dan Sampel ... 24
E. Alat dan Bahan Penelitian ...
F. Prosedur Penelitian ...
G. Definisi Operasional Variabel ...
H. Alur Penelitian ...
I. Analisis Data ...
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ... 34
B. Pembahasan ... 43
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 51
B. Saran ... 51
DAFTAR PUSTAKA ... 52
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Pohon
Gambar 2. Gamba
Gambar 3. Daur Hidup
Gambar 4. Keran
Gambar 5. Keran
Gambar 6. Alur P
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1. Kandungan fitokimia daun widuri (Calotropis gigantea) ... 9
Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 31
Tabel 4.1 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok perlakuan ... 34
Tabel 4.2. Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok kontrol ... 36
Tabel 4.3. Persentase mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok perlakuan dalam 24 jam ... 37
Tabel 4.4. Koreksi Persentase mortalitas larva Aedes albopictus dengan menggunakan formula Abbot ... 38
Tabel 4.5. Friedman test ... 39
Tabel 4.6. Uji statistik perbandingan antar kelompok perlakuan (analisis Post-hoc Mann-Whitney) ... 40
Tabel 4.7. Uji korelasi Spearman ... 41
Tabel 4.8. Analisis Probit LC50 ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)... 42
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Output Hasil Analisis SPSS ...
viii
Lampiran 2. Dokumentasi Penelitian ...
xiii
Lampiran 3. Surat Keterangan Penelitian ...
xvi
Lampiran 4. Hasil ekstraksi daun Widuri dan perhitungan konsentrasi ...
xvii
Lampiran 5. Surat keterangan identifikasi tumbuhan ...
DAFTAR SINGKATAN
Anova Analysis of varians
BPO Piperonyl butoxide
cc Cubical centimeter
CDC Centers for disease control
CO Karbon monoksida
DBD Demam berdarah dengue
g Gram
LC50 Lethal concentration 50%
ml Mililiter
mm Milimeter
O2 Oksigen
o
P2B2 Pengendalian penyakit bersumber binatang
Background : The Aedes albopictus mosquito is a vector of dengue hemorrhagic fever (DHF), which is still a health problem in Indonesia, especially in Central
Sulawesi. One of the dengue vector control efforts are larvacides. Eradication of larvae using chemical insecticides often causes problems such as resistance,
adverse effects on human health. One of the plants that have the potential of being larvicides are thistle (Calotropis gigantea).
Objective : The purpose of this study was to determine the effectiveness of
larvicides thistle leaf extract (Calotropis gigantea) against larvae of Aedes albopictus. hours, then continued statistical analysis.
Conclusion : Thistle leaf extract (Calotropis gigantea) have potential larvicides against larvae of Aedes albopictus.
Keywords: Thistle leaf extract (Calotropis gigantea), Aedes albopictus,
larvicides, LC50.
ABSTRAK
Latar belakang : Nyamuk Aedes albopictus merupakan salah satu vektor dari penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, khususnya Sulawesi tengah. Salah satu upaya pengendalian vektor DBD adalah larvasidasi. Pembasmian larva dengan insektisida kimia sering menimbulkan masalah misalnya resistensi, efek samping pada kesehatan manusia. Salah satu tanaman yang memiliki potensi menjadi larvasida adalah widuri (Calotropis gigantea).
Tujuan : Mengetahui efektifitas larvasida ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.
Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test only control group design. Sampel yang digunakan adalah Aedes albopictus instar III sebanyak 750 larva yang terdiri dari 6 kelompok perlakuan (150 ppm, 300 ppm, 600 ppm, 1200 ppm, kontrol positif (Abate 1 ppm) dan kontrol negatif (air tanpa perlakuan). Setiap kelompok berisi 25 larva dengan 5 kali pengulangan. Pengamatan larva dilakukan pada 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam dan 24 jam, kemudian dilanjutkan analisis statistik.
Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun widuri (Calotropis gigantea) memiliki efek larvasida terhadap Aedes albopictus. Hasil uji Friedman dan Post-hoc Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi < 0,05 yang menunjukkan terdapat perbedaan jumlah mortalitas larva secara bermakna antara kelompok perlakuan. Uji korelasi Spearman menunjukan nilai signifikansi < 0,05 pada waktu pengamatan 2 jam hingga 24 jam, artinya terdapat korelasi antara besar konsentrasi dan jumlah mortalitas larva. Uji probit menunjukkan nilai LC50 pada
Kesimpulan : Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) memiliki potensi larvasida terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.
Kata kunci : Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea), Aedes albopictus,
larvasida, LC50.
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belak an g
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan di
Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya
semakin luas. Di Indonesia demam berdarah dengue masih merupakan masalah
kesehatan karena masih banyak daerah endemik (Widoyono, 2011).
Pada tahun 2011 tercatat kasus DBD yang ditemukan di Sulawesi Tengah
sebanyak 2.037 kasus dan terbanyak berada di Kota Palu yaitu 1.061 kasus.
Jumlah kasus tersebut tidak berbeda jauh dengan tahun 2010 yaitu sebanyak 2.092
kasus. Hal ini disebabkan kondisi lingkungan di Sulawesi Tengah potensial dalam
merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Nyamuk yang menjadi
vektor DBD adalah nyamuk yang terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang
sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya). Vektor yang pembawa virus
dengue adalah nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus. Setiap kejadian luar
biasa (KLB) demam berdarah dengue umumnya dimulai dengan peningkatan
jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran DBD diperlukan
gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus, pangasapan
(fogging) dan larvasidasi (Widoyono, 2011).
Aedes aegypti menempati habitat domestik terutama penampungan air di
dalam rumah yang tidak berhubungan dengan tanah, sedangkan Aedes albopictus
berkembang biak di lubang-lubang pohon, drum, ban bekas yang terdapat di luar
rumah (Hadi, 2012). WHO pada tahun (2004) melaporkan bahwa di daerah
perkotaan habitat Aedes aegypti dan Aedes albopictus sangat bervariasi tetapi 90%
ditemukan pada penampungan air.
Di Indonesia, pengendalian penularan DBD terutama dilakukan dengan
menggunakan insektisida golongan organofosfat (malation dan temefos) untuk
menurunkan kepadatan vektornya. Malation dan temefos selalu digunakan dalam
program nasional pengendalian DBD di Indonesia sejak tahun 1970-an. Dari
banyak pengalaman di banyak tempat di dunia, diketahui bahwa efektivitas
aplikasi kedua insektisida ini ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah
tingkat kerentanan nyamuk vektor (stadium larva dan dewasa) yang menjadi
sasaran utamanya. Penggunaan insektisida kimia dalam jangka lama dengan
bertahap insektisida itu akan menekan dan menyeleksi serangga (nyamuk vektor)
sasaran untuk menjadi toleran (heterozigot resisten; RS) sampai resisten
(homozigot resisten; RR) terhadapnya (Lidia et al., 2008).
Beberapa gangguan kesehatan yang sering dihubungkan dengan penggunaan
insektisida kimia diantaranya iritasi mata dan kulit, kanker, cacat pada bayi, serta
gangguan saraf, hati, ginjal dan pernafasan. Kejadian anemia dapat terjadi pada
penderita keracunan organofosfat adalah karena terbentuknya sulfhemoglobin dan
methemoglobin di dalam sel darah merah. Hal ini menyebabkan hemoglobin
menjadi tidak normal dan tidak dapat menjalankan fungsinya dalam
menghantarkan oksigen (Runia, 2008)
Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan
menggunakan insektisida nabati. Insektisida ini berasal dari tumbuhan sehingga
memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi yaitu karena sifatnya yang mudah
terurai di alam sehingga tidak menimbulkan bahaya residu yang berat dan lebih
selektif (tidak merugikan makhluk hidup dan lingkungan yang bukan sasarannya).
Insektisida yang digunakan untuk memberantas larva nyamuk disebut larvasida
(Kardinan, 2005).
Salah satu tanaman yang memiliki potensi menjadi larvasida adalah
Calotropis gigantea. Dalam penelitian yang dilakukan Seniya et al. (2011)
melaporkan kandungan senyawa kimia dalam Calotropis gigantropis adalah tanin,
steroid, alkaloids, flavonoid , glycosides, anthraquinones, terpenoid dan resins.
Peneliti memilih daun widuri (Calotropis gigantea) karena banyaknya
tanaman ini tumbuh di sekitar kampus Universitas Tadulako. Dalam penelitian
Shreya et al. (2012) melaporkan efek larvasida daun widuri (Calotropis gigantea)
terhadap larva nyamuk Aedes aegepty dan dapat digunakan dalam program
pengendalian vektor nyamuk. Sedangkan untuk larva nyamuk Aedes albopictus
peneliti melihat belum ada yang melakukan penelitian tersebut, sehingga peneliti
merasa perlu untuk menelitinya.
B. Pe ru mu san Masalah
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan
pertanyaan penelitian sebagai berikut :
Apakah ekstrak daun Widuri (Calotropis gigantea) efektif dalam membunuh
larva nyamuk Aedes albopictus?
C. Tu juan
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas larvasida ekstrak daun
Widuri (Calotropis gigantea) terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.
2. Tujuan Khusus
Membuktikan hubungan antara peningkatan konsentrasi ekstrak daun Widuri
(Calotropis gigantea) dengan jumlah larva nyamuk Aedes albopictus yang mati
D. Manf aat Pen eli tian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi tentang
efektivitas ekstrak daun Widuri (Calotropis gigantea) sebagai larvasida, dan dapat
diaplikasikan oleh masyarakat untuk membasmi nyamuk Aedes albopictus sebagai
vektor penyakit demam berdarah dengue di Indonesia, khususnya di Sulawesi
Tengah. Serta menambah khasanah ilmu pengetahuan dan sebagai bahan
perbandingan bagi penelitian yang lebih luas dan lebih dalam.
E. Keasli an Pen eli tian
Penelitian seperti ini pernah dilakukan sebelumnya oleh Shreya et al. (2012)
yang berjudul “Aktivitas larvasida Calotropis gigantea pada vektor Aedes aegypti
penyebab dengue dan chikungunya”. Variabel bebas yang digunakan dalam
penelitian ini adalah soxhlet ekstrak ethanol daun Calotropis gigantea terhadap
efek larvasida pada larva nyamuk Aedes aegypti dengan range konsentrasi
100-1000 ppm.
Penelitian seperti ini pernah pula dilakukan sebelumnya oleh Kumar et al.
(2012) dengan judul “Aktivitas larvasida, repellant dan ovisidal Calotropis
gigantea pada Culex gelidus, Culex tritaeniorhynchus”. Variabel yang di gunakan
adalah efek ekstrak air daun Calotropis gigantea pada Culex gelidus, Culex
tritaeniorhynchus dengan konsentrasi 62,5, 125, 250, 500, 1000 ppm.
Penelitian larvasida Calotropis gigantea juga telah dilakukan oleh Kabir et al.
(2010) dengan judul penelitian “Efek larvasida latex dari Calotropis gigantea
senyawa spesifik latex (alkaloid) yang terkandung dalam Calotropis gigantea
dengan 1000, 2000, 4000, 8000 dan 16000 ppm. Larva nyamuk yang digunakan
dalam penelitian ini adalah Culex quinguesfasciatus yang terdiri dari instar I, II,
III dan IV.
Perbedaan penelitian ini dengan tiga penelitian sebelumnya terletak pada jenis
variabel bebas dan terikatnya, yaitu metode ekstraksi, jenis larva nyamuk dan
konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea). Adapun variabel bebas
pada penelitian ini menggunakan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)
dengan metode maserasi, larva nyamuk yang digunakan adalah Aedes albopictus
instar III dan konsentrasi yang digunakan 150, 300, 600, 1200 ppm dengan
kontrol positif abate 1 ppm.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Telaah Pu staka
1. Tanaman Widuri (Calotropis gigantea)
Tanaman widuri (Calotropis gigantea) memiliki beberapa nama lokal
yaitu Niujiaogua (China); crown flower, giant indian milkweed, giant
milkweed (English); asclepiade gigantesque, faux arbre de soie, mercure
végétal (French); biduri, saduri, widuri (Jawa- Indonesia); dok hack (Lao
PDR); rembega, lembega (Malayu-Malaysia); dok rak, pan thuean, po
a. Taksonomi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea)
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivision : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Subkelas : Asteridae
Ordo : Gentianales
Family : Asclepiadaceae
Genus : Calotropis R.Br
Spesies : Calotropis gigantea (L) W.T.Aiton (United States
Department of Agriculture, 2014).
b. Morfologi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea)
Tanaman widuri (Calotropis gigantea) berasal dari Bangladesh,
Burma, China, India, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Thailand
dan Sri Lanka. Calotropis gigantea merupakan tanaman yang sering
digunakan untuk beberapa acara adat dan pengobatan tradisional di
India (Ali et al.,2010).
Sarkar et al. (2014) menjelaskan morfologi tanaman widuri (Calotropis
gigantea) sebagai berikut:
a. Daun : Tunggal, tebal, opposite, bulat telur, ujung tumpul,
b. Bunga :
c. Batang :
d. Akar :
Gambar 1. Pohon Widuri (Calotropis gigantea) (United States Department of
Agriculture, 2014).
c. Kandun g Kimia T an a man Widu ri ( Calotropi s gigan tea)
Dalam penelitian fitokimia yang dilakukan Wang et al.(2008)
melaporkan kandungan senyawa kimia dalam tanaman widuri (Calotropis
gigantea) adalah cardenolide, terpen, pregnanes, senyawa phenoic,
flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, glikosida dan pitosterol.
Penelitian yang dilakukan oleh Seniya et al.(2011) menemukan
kandungan fitokimia ekstrak etanol daun widuri (Calotropis gigantea)
sebagai berikut:
Tabel 2.1. Kandungan fitokimia daun widuri (Calotropis gigantea)
Kandungan Fitokimia
Alkaloid Anthraquinones
Flavonoid Cardic Glycosides
Terpenoid
Keterangan : (+) ada senyawa kimia; (-) tidak di temukan senyawa kimia.
d. Kh asiat Tan aman Widu ri (Calot ropis gigan tea )
Beberapa penelitian melaporkan kandungan alkaloid, saponin dan tanin
menghambat pertumbuhan bakteri dan melindungi tanaman terhadap
dapat digunakan sebagai insektisida alami. Insektisida ini menyerang
sel-sel neurosekresi otak (racun saraf) dari serangga, menghambat
pembentukan pupa dan hormon tumbuh, sehingga memotong atau
menghentikan daur larva. Senyawa alkaloid juga menghambat daya makan
larva dan bertindak sebagai racun perut. Senyawa ini bersifat basa dan
merupakan senyawa polar (Wiryowidagdo, 2007).
Senyawa saponin diduga mengandung hormon steroid yang
berpengaruh dalam pertumbuhan larva nyamuk. Senyawa ini akan
menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva
sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif. Kerusakan salah satu
organ nyamuk dapat menurunkan proses metabolisme dan gangguan
dalam proses fisiologinya (Fuadzy et al., 2012).
Efek flavonoid terhadap organisme bermacam macam. Salah satu
diantaranya adalah juga sebagai inhibitor kuat pernafasan. Gangguan
metabolisme energi terjadi di dalam mitokondria dengan cara menghambat
sistem transport elektron atau dengan menghalangi coupling antara sistem
transport dengan produksi ATP. Adanya hambatan pada sistem transport
elektron menghalangi produksi ATP dan menyebabkan penurunan
pemakaian oksigen oleh mitokondria (Sudjari, 2006). Pada literatur lain
disebutkan inhibitor pernafasan bekerja dengan menghambat rantai
respirasi, menghambat fosforilasi oksidatif atau dengan memutuskan
rangkaian (uncouple) antara rantai respirasi dengan fosforilasi oksidatif
Tanin dapat memperkecil pori-pori lambung sehingga menyebabkan
proses metabolisme sistem pencernaan menjadi terganggu. Penumpukan
sari-sari makanan pada organ pencernaan larva dapat menjadi racun dan
secara perlahan-lahan larva akan mati (Fuadzy et al., 2012).
e. Pe mbu atan Ek strak Da u n Widu ri (Calot ropis gigan tea)
Ekstraksi adalah suatu proses penyarian senyawa kimia yang terdapat
didalam bahan alam atau berasal dari dalam sel dengan menggunakan
pelarut dan metode yang tepat. Ekstrak adalah hasil dari proses ekstraksi,
bahan yang diekstraksi merupakan bahan alam. Pada prinsipnya ekstraksi
adalah melarutkan dan menarik senyawa dengan menggunakan pelarut
yang tepat. Ada tiga tahapan proses pada waktu ekstraksi yaitu:
a. Penetrasi pelarut kedalam sel tanaman dan pengembangan sel.
b. Disolusi pelarut ke dalam sel tanaman dan pengembangan sel.
c. Difusi bahan yang terekstraksi ke luar sel (Emilan et al., 2011).
Proses diatas diharapkan terjadinya kesetimbangan antara linarut dan
pelarut. Kecepatan untuk mencapai kesetimbangan umumnya tergantung
pada suhu, pH, ukuran partikel dan gerakan partikel. Prinsip yang utama
adalah yang berkaitan dengan kelarutan, yaitu senyawa polar lebih mudah
larut dalam pelarut polar dan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam
pelarut nonpolar (Emilan et al., 2011).
Pembuatan Ekstrak meliputi tahap penyarian. Penyarian simplisia dapat
mendidih. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan
cara maserasi atau perkolasi, sedangkan penyarian dengan eter dilakukan
dengan cara perkolasi (POM RI, 2010).
a. Maserasi
Maserasi berasal dari kata “macerare” artinya melunakkan. Maserata
adalah hasil penarik simplisia dengan cara maserasi. Sedangkan maserasi
adalah cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut
dalam cairan penyari pada suhu biasa atau memakai pemanasan. Suhu
yang ditetapkan adalah 15OC-25OC (Syamsuni, 2006).
Dalam proses maserasi, simplisia yang akan diekstraksi biasanya
ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar, bersama
menstruum yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat dan isinya dikocok
berulang-ulang biasanya berkisar dari 2-14 hari. Pengocokkan
memungkinkan pelarut mengalir berulang-ulang masuk ke seluruh
permukaan dari simplisia yang sudah halus. Cara lain untuk pengocokan
yang berulang-ulang ini dengan menempatkan simplisia dalam kantung
kain yang berpori yang diikat dan digantungkan pada bagian atas
menstruum. Begitu zat-zat yang mudah larut, melarut dalam menstruum,
maka cenderung untuk turun ke dasar bejana karena adanya penambahan
berat cairan. Ekstrak dipisahkan dari ampasnya dan membilasnya dengan
penambahan menstruum baru (Ansel, 2008).
Percolare berasal dari kata colare yang artinya menyerkai dan per
artinya menembus. Dengan demikian, perkolasi adalah suatu cara
penarikan memakai alat yang disebut perkolator yang simplisianya
terendam dalam cairan penyari, zat-zat akan terlarut dan larutan tersebut
akan menetes secara beraturan sampai memenuhi syarat yang telah
ditetapkan (Syamsuni, 2006). Proses ini menggunakan sebuah wadah
penapis (sempit, berbentuk kerucut terbuka pada kedua ujungnya).
Bahan-bahan ekstraksi dibasahi dengan sejumlah cairan penyari dan didiamkan
selama sekitar 4-24 jam dalam wadah tertutup rapat, setelah itu massa
dikemas dan bagian atas perkolator ditutup (Sukhdev et al., 2008)
c. Sokslet
Dalam metode ini, simplisia ditumbuk halus ditempatkan dalam
kantong berpori yang dibuat dari kertas filter yang kuat dan di letakkan
dalam sebuah gelas ekstraksi yang bekerja secara kontinu. Gelas ekstraksi
yang mengandung kantung diletakkan di antara labu suling dan suatu
kondensor yang dihubungkan dengan pipa. Labu tersebut berisi bahan
pelarut, yang menguap dan mencapai ke dalam kondensor melalui pipet,
berkondensasi dan akan membawa keluar bahan yang diekstraksi
(Sukhdev et al., 2008).
d. Infus
Bahan ekstrak yang telah dihaluskan dicampurkan dengan sejumlah air
menit dengan pengadukan berulang. Setelah dingin (kira-kira 30oC),
kemudian disaring (Syamsuni, 2006).
f. Larvasid a S eb agai Pen gend ali N yamu k
Pengendalian vektor DBD dilakukan dengan cara memutuskan rantai
penularan. Salah satu cara yang dilakukan adalah penggunaan insektisida
dengan cara penyemprotan dan larvasidasi (Sukowati, 2010).
Beberapa Insektisida yang umum digunakan pada masyarakat, yaitu:
1. Fenitrotion
Insektisida ini termasuk golongan organofosfat, disebut juga sumitron
atau folition. Bersifat sedikit menguap, oleh karena itu penggunaannya
dengan menyemprotkan residu pada dinding rumah. Mempunyai daya
residu kurang lebih 2 bulan. Aplikasi di lapangan untuk penyemprotan
residu pada dinding rumah. Di Indonesia insektisida ini digunakan untuk
pengendalian vektor malaria (Anopheles sp) terutama di pulau Sumatra,
Jawa dan Bali (Utama, 2008).
2. Temefos (Abate 1% SG)
Insektisida ini tergolong organofosfat, terutama digunakan untuk
pengendalian Aedes aegypti di tempat penampungan air, dengan
konsentrasi 1 ppm (1 g temefos 1% SG dalam 10 liter air). Larvasida ini
tidak toksik terhadap mamalia termasuk manusia, tetapi mempunyai
mempunyai daya residu lebih kurang 1 bulan bila digunakan dalam
penampungan air (Utama, 2008).
Golongan insektisida ini mempunyai cara kerja menghambat enzim
cholinesterase baik pada vertebrata maupun invertebrata, sehingga
menimbulkan gangguan pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya
acetylcholine menjadi cholin dan asam cuka sehingga bila enzim tersebut
dihambat maka hidrolisa acetylcholin tidak terjadi. Abate akan mengikat
enzim cholinesterase dan dihancurkan sehingga terjadi kontraksi otot yang
terus menerus, kejang dan akhirnya larva akan mati (Ridha, 2011).
3. Piretrum dan Piretrin
Bahan piretrum dan piretrin bersumber dari bunga krisan
(Crysanthenum cinerariaetolium) yang telah dikeringkan. Piretrin
merupakan istilah untuk 6 senyawa yang bersifat insektisida yang
terkandung dalam piretrum (bahan mentah). Senyawa piretrin bekerja
dengan cara mengganggu jaringan saraf serangga. Piretrin bekerja dengan
cepat dan dapat langsung membuat pingsan serangga. Namun, sebagian
besar serangga bangun kembali setelah sempoyongan beberapa saat,
karena kemampuan serangga dalam menguraikan dan menetralisr piretrin.
Oleh karena itu, dalam produk komersial yang mengandung piretrin selalu
ditambahkan bahan sinergis seperti BPO (piperonyl butoxide) yang
berfungsi memperpanjang daya racun dengan cara menghambat proses
metabolisme yang menguraikan piretrin di dalam tubuh serangga
Insektisida kimia yang telah digunakan dalam frekuensi yang tinggi
secara bertahap akan menekan dan menyeleksi serangga (nyamuk vektor)
sasaran menjadi toleransi hingga resistensi terhadap insektisida tersebut
(Lidia et al., 2008). Penggunaan insektisida nabati atau insektisida botani
merupakan salah satu upaya untuk mengatasi resistensi insektisida kimia.
Insektisida nabati merupakan jenis insektisida yang berasal dari tumbuhan
sehingga memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi yaitu karena
sifatnya yang mudah terurai di alam sehingga tidak menimbulkan bahaya
residu yang berat dan tidak merugikan makhluk hidup dan lingkungan
yang bukan sasarannya (Kardinan, 2005).
Kebutuhan akan larvasida yang lebih aman bagi manusia dan
lingkungan memang telah menjadi tuntutan masyarakat di negara-negara
maju. Produk larvasida yang telah banyak dikembangkan adalah
diantaranya piretrin, nikotin daun tembakau, dan mimba (Budiman, 2009).
Daun widuri (Calotropis gigantea) merupakan salah satu tanaman yang
memiliki potensi larvasida nabati dan banyak terdapat di Sulawesi tengah.
Dalam penelitian Kumar (2012) melaporkan efek larvasida daun widuri
(Calotropis gigantea) terhadap nyamuk Culex sp.
2. Aed es alb op ictu s
a. Tak son omi Aedes albopictu s
Klasifikasi Aedes albopictus sebagai berikut:
Kingdom : Animal
Phylum : Artropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Subordo : Nematocera
Famili : Culicidae
Subfamili : Culicinae
Genus : Aedes
Subgenus : Stegomyia
Species : Aedes albopictus ( Boesri, 2011).
b. Morf ologi Aedes albopictu s
Aedes sp dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan
ukuran nyamuk rumah, mempunyai warna dasar yang hitam dengan
bintik-bintik putih pada bagian-bagian badannya terutama pada kakinya.
Morfologinya yang khas adalah gambaran lira (lyre-form) yang putih pada
punggungnya (mesonotum). Aedes albopictus tampak seperti nyamuk
Aedes aegypti yaitu mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik
putih pada bagian badannya, tetapi pada mesonotumnya terdapat
gambaran menyerupai garis tebal putih vertikal. Nyamuk ini disebut juga
Gambar 2.Gambaran garis vertikal di bagian dorsal toraks Aedes
albopictus (Rey, JR. 2013).
c. S ik lu s Hi du p Aedes A lbopi ctu s
Siklus hidup Aedes Albopictus secara umum melalui empat tahap
stadium yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Telur nyamuk Aedes
Albopictus berwarna hitam, yang akan menjadi lebih hitam warnanya
ketika menjelang menetas, bentuk lonjong dengan satu ujungnya lebih
tumpul dan ukurannya lebih kurang 0,5 mm (Boesri, 2011).
Perkembangbiakan larva dihitung dari hari pertama menetas dari telur
yakni pada stadium 1 dengan tubuh sangat kecil, warna transparan,
panjang 1 - 2 mm dan duri – duri pada dada belum begitu jelas. Telur
menetes menjadi larva membutuhkan waktu antara 2 – 3 hari (Adifian,
Gambar 3. Daur hidup nyamuk Aedes albopictus (CDC,2010).
Larva Aedes albopictus, kepala berbentuk bulat silindris, antena pendek
dan halus dengan rambut-rambut berbentuk sikat di bagian depan kepala,
pada ruas abdomen VIII terdapat gigi sisir yang khas dan tanpa duri pada
bagian lateral thorax (yang membedakannya dengan Aedes aegypti),
berukuran lebih kurang 5 mm (Boesri, 2011).
Dalam membedakan instar dari larva Aedes albopictus dapat dipakai
perbedaan lebar seperti pada Aedes aegypti yaitu:
- Instar I dengan lebar kepala lebih kurang 0,3 mm
- Instar II lebar kepalanya lebih kurang 0,45 mm
- Instar III lebar kepala lebih kurang 0,65 mm,
- Instar IV lebar kepala lebih kurang 0,95 mm (Boesri, 2011).
Pupa merupakan stadium akhir calon nyamuk dengan bentuk tubuh
pupa bengkok seperti koma, kepalanya besar, gerakan melambat dan
membutuhkan waktu antara 6 – 8 hari untuk menjadi pupa dari stadium
Pupa Aedes albopictus bentuk seperti koma dengan cephalothorax
yang tebal, abdomen dapat digerakkan vertikal setengah lingkaran, warna
mulai terbentuk agak pucat berubah menjadi kecoklatan kemudian menjadi
hitam ketika menjelang menjadi dewasa, dan kepala mempunyai corong
untuk bernapas yang berbentuk seperti terompet panjang dan ramping
(Boesri, 2011).
Nyamuk Dewasa Aedes albopictus, tubuh berwarna hitam dengan
bercak/garis-garis putih pada notum dan abdomen, antena
berbulu/plumose, pada yang jantan palpus sama panjang dengan proboscis
sedang yang betina palpus hanya 1/4 panjang proboscis, mesonotum
dengan garis putih horizontal, tibia gelap dan sisik putih pada pleura tidak
teratur (Boesri, 2011).
d. Pe ril ak u Aedes albopictu s
Aedes albopictus ternyata dapat menghisap darah pada malam hari
(nokturnal). Padahal sejauh ini diketahui bahwa Ae. aegypti aktif
menghisap darah pada siang hari (diurnal) dengan dua puncak gigitan
yaitu pagi hari jam 8:00-9:00 dan sore hari jam 16:00-17:00. Aedes
albopictus berkembang biak di lubang-lubang pohon, drum, ban bekas
yang terdapat di luar (peridomestik) (Hadi et al., 2012).
Tempat perkembang biakan nyamuk Aedes menurut Depkes (2001)
pada umumnya suhu tempat biakan berkisar antara suhu 25OC – 27OC.
sampai 27OC. Larva akan mati pada suhu kurang dari 10OC atau lebih dari
40OC. Kadar O2 dan CO di air juga berpengaruh terhadap pembentukan
enzim sitokrom oksidasi larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus.
Karateristik Aedes albopictus dapat diperkuat teori Scholte dan
Schaffner (2007, dalam Adifian, 2009) yang sebelumnya mengatakan
nyamuk demam berdarah jenis Aedes albopictus biasanya terdapat diluar
rumah, sehingga nyamuk ini bisa saja terdapat pada selain air bersih
karena karakteristik hidupnya terdapat diluar rumah. Adifian pada
penelitiannya (2009) juga menyebutkan bahwa nyamuk Aedes albopictus
lebih banyak terdapat pada air selokan, nyamuk lebih menyukai kondisi air
selokan yang mengandung senyawa-senyawa kimia dan senyawa organik
(tumbuhan air) yang dapat dijadikan sebagai makanan.
3. Ke ran gk a Teori
Daun Widuri (Calotropis gigantea)
Ekstraksi Maserasi dengan pelarut
Alkaloid Saponin
Racun saraf (sel
neurosekretori) Dinding saluran pencernaanmenjadi korosif
Efek larvasida
Kematian Larva
Aedes Albopictus
Gambar 4. Kerangka teori (Fuadzy et al., 2012)
4. Ke ran gk a Kon sep
Ekstrak Daun Widuri (Calotropis gigantea)
dengan berbagai konsentrasi
Efek Larvasida (Kematian Larva nyamuk Aedes
Albopictus)
Suhu ruangan uji pH air
Keterangan :
: Variabel bebas
: Variabel terikat
Gambar 5. Kerangka konsep
B. Land asan Teori
Pengendalian vektor DBD dilakukan dengan cara memutuskan rantai
penularan. Salah satu cara yang dilakukan adalah penggunaan insektisida dengan
cara penyemprotan dan larvasidasi (Kemenkes RI, 2010).
Penelitian sebelumnya telah menemukan beberapa kandungan senyawa aktif
yang terdapat pada daun widuri (Calotropis gigantea), diantaranya adalah
alkaloida, saponin, flavonoida, tanin , saponin, glikosida (Seniya et al., 2011).
Senyawa alkaloid dapat berfungsi sebagai insektisida alami karena perannya
dalam merusak sel neurosekretori otak (racun saraf) pada serangga, sehingga
menghambat pembentukan pupa dan sekresi hormon pertumbuhan. Senyawa
alkaloid selain bekerja dengan cara menganggu sistem kerja saraf (neuromuscular
dan bertindak sebagai racun perut. Senyawa ini bersifat basa dan merupakan
senyawa polar (Wiryowidagdo, 2007).
Senyawa saponin diduga mengandung hormon steroid yang berpengaruh
dalam pertumbuhan larva nyamuk. Senyawa ini akan menurunkan tegangan
permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus
digestivus menjadi korosif. Kerusakan salah satu organ nyamuk dapat
menurunkan proses metabolisme dan gangguan dalam proses fisiologinya (Fuadzy
et al., 2012).
C. Hip otesis
1. Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) efektif sebagai larvasida pada larva
nyamuk Aedes albopictus.
2. Terdapat hubungan antara peningkatan konsentrasi ekstrak daun Widuri
(Calotropis gigantea) dengan jumlah larva nyamuk Aedes albopictus yang mati
per satuan waktu.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Wak tu d an Lok asi Pen eli tian
Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan April hingga Juni 2014 di
Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Tadulako dan Laboratorium Balai
Penelitian Pengembangan dan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang
B. Jen is Pen eli tian
Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan post test only control
group design. Desain penelitian ini dipilih karena tidak dilakukan pretes terhadap
sampel sebelum perlakuan. Dengan cara ini memungkinkan dilakukan
pengukuran pengaruh perlakuan (intervensi) pada kelompok eksperimen yang satu
dengan cara membandingkannya dengan kelompok eksperimen yang lain dan
kelompok kontrol.
C. Popu lasi d an S amp el
1. Popu lasi
Populasi penelitian ini adalah larva instar III nyamuk Aedes albopictus
yang didapat dari Laboraturium Penelitian Balai Litbang P2B2 Donggala.
2. S amp el
a. Kriteria Inklusi
1. Larva nyamuk Aedes albopictus sehat dan telah mencapai instar III.
2. Larva bergerak aktif.
b. Kriteria Eksklusi
1. Larva yang telah berubah menjadi pupa ataupun nyamuk dewasa.
2. Larva yang mati sebelum perlakuan.
c. Besar Sampel
Besar sampel 25 ekor larva instar III. Diletakkan dalam 6 kontainer,
sebanyak 5 kali pada tiap bahan uji. Jumlah seluruh sampel yang dibutuhkan
sebanyak 750 Larva Aedes albopictus.
d. Cara Pengambilan Sampel
Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan purposive
sampling terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.
D. Variab el Penelitian
1. Variab el B eb as
Variabel bebas atau independent variable penelitian ini adalah yaitu
ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dengan berbagai konsentrasi.
2. Variab el T erik at
Variabel terikat atau dependent variable dalam penelitian ini adalah
Konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) yang paling efektif
sebagai larvasida larva nyamuk Aedes albopictus.
E. Alat d an Bah an Pen eli tian
1. Alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu neraca analitik, pipet,
gelas ukur 1000cc, nampan plastik, 30 wadah plastik (sebagai kontainer),
beker glass, kain putih, blender atau juicer, batang pengaduk, ekstraktor
(Peralatan Maserasi), evaporator, kertas label, pisau.
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : ekstrak daun widuri
(Calotropis gigantea); larutan ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 150
ppm, 300 ppm, 600 ppm, 1200 ppm; air bersih atau aquadest; larva nyamuk
Aedes albopictus instar III; Fish food unutk makanan larva. Serta Abate
sebagai kontrol positif.
F. Pros edu r Pen eli tian
Ada beberapa tahap yang kami lakukan dalam penelitian ini yaitu:
a. Pe mbu atan Larvasid a Esk trak Daun Widu ri ( Calot ropis gigan tea )
1) Menimbang daun widuri (Calotropis gigantea) seberat ± 2 kg.
2) Mencuci daun widuri (Calotropis gigantea) sampai bersih kemudian
mengeringkannya dibawah sinar matahari.
3) Mengolah daun widuri (Calotropis gigantea) yang sudah kering sampai
menjadi serbuk kering dengan menggunakan blender.
4) Maserasi serbuk bahan dengan etanol 96% selama 3 x 24 jam.
5) Saring larutan ekstrasi dengan menggunakan kertas saring sehingga
mendapatkan ekstrak cair.
6) Menguapkan maserat yang sudah didapatkan dengan menggunakan
menggunakan rotary evaporator.
7) Ekstrak kental di dapatkan dan dapat disimpan di dalam lemari es.
b. Uji Fitoki mia
a. Menyiapkan 1 ml sampel ekstrak daun widuri yang telah
diencerkan.
b. Memasukkan 1 ml HCL 2M
c. Memanaskan dan mengaduk selama beberapa menit. Kemudian
didinginkan pada wadah yang telah disediakan.
d. Menambahkan NaCl serbuk sebanyak 1 sendok teh. Mengaduk dan
saring.
e. Filtrat yang didapatkan, ditambahkan HCL 2M sebanyak 1 ml.
f. Membagi tabung menjadi dua kelompok ( tabung 1 dan tabung 2).
g. Menambahkan reagen Wagner pada tabung 1. Sedangkan tabung 2
merupakan blanko. Bandingkan tabung 1 dan tabung 2, kemudian
catat hasilnya.
2. Uji flavonoid
a. Menyiapkan sampel ekstrak sebanyak 1 ml dan tambahkan 2 ml
etanol absolut. Kemudian bagi tabung menjadi 2 kelompok.
b. Tabung 1 merupakan blanko. Sedangka tabung 2 diberikan
tambahan 2 tetes HCL pekat. Kemudian dihangat 15 menit dan
lihat perubahan warna larutan.
3. Uji Tanin
a. Menyiapkan 1 ml sampel ekstrak daun widuri dan tambahkan air
panas. Kemudian aduk dan dinginkan.
b. Menambahkan 5 tetes NaCl 10 % dan saring larutan.
c. Lihat perubahan yang terjadi ( hasil positif bila terbentuk endapan).
4. Uji saponin
a. Menyiapkan larutan ekstrak cair daun widuri yang masih segar
pada tabung reaksi. Kemudian dilakukan pengocokkan beberapa
kali pada tabung.
b. Adanya busa menunjukkan hasil positif.
c. Pe mb agian Kelo mp ok
Larutan yang telah dipersiapkan yang berisi ekstrak daun widuri
(Calotropis gigantea), dipindahkan kedalam kontainer yang telah
dipersiapkan dan dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan secara merata.
Dengan pembagian sebagai berikut :
a. Kelompok A: ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 150 ppm.
b. Kelompok B: ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 300 ppm.
c. Kelompok C: ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 600 ppm.
d. Kelompok D : ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 1200 ppm.
e. Kelompok Kontrol (+) : Abate konsentrasi 1 ppm.
f. Kelompok Kontrol (−) : tanpa pemberian perlakuan.
Dalam penelitian ini larutan ekstrak daun widuri dalam setiap kontainer
tidak diganti selama percobaan. Setiap konsentrasi dari kelompok percobaan
direplikasi lima kali.
Adapun banyaknya replikasi dalam bercobaan, didapatkan dengan
menggunakan rumus Federer dengan memperhitungkan banyaknya taraf
t (r – 1) ≥15
4 (r – 1) ≥ 15
4 r – 4 ≥ 15
r ≥ 4,75
Perhitungan diatas didapatkan dengan menggunakan empat taraf
konsentrasi, maka replikasi yang akan dilakukan sebanyak 5 kali.
Keterangan:
t: Banyaknya konsentrasi yang digunakan.
r: Jumlah pengulangan.
d. Pra P e m be rian Larvasi d a
1) Menyiapkan 6 gelas plastik (Kontrol (+), Kontrol (−), perlakuan 1,
perlakuan 2, perlakuan 3 dan perlakuan 4).
2) Masing-masing gelas plastik diberi akuades sebanyak 200 ml dan larva
sebanyak 25 larva.
e. Pelak san aan Pe mb eria n Larvasid a
1) Memasukan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) sebagai
larvasida dengan konsentrasi 150 ppm, 300 ppm, 600 ppm dan 1200
ppm kedalam masing-masing gelas plastik yang telah dilabel (perlakuan
1, perlakuan 2, perlakuan 3 dan perlakuan 4).
2) Memasukkan bubuk Abate 1 ppm kedalam gelas plastik kontrol (+).
3) Masukkan 25 larva pada tiap kelompok perlakuan.
1) Menghitung jumlah larva yang ada di permukaan dan dasar gelas
plastik dengan menjaringnya menggunakan kain putih yang sudah
disiapkan dan mencatatnya pada table hasil pengamatan.
2) Pengamatan kematian larva dilakukan pada selang waktu 1 jam, 2 jam,
3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam, dan 24 jam. Membandingkan jumlah
larva yang mati dalam 6 gelas plastik.
g. Data Yang Diku mpu lk an
Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer yang
didapat dari jumlah larva yang mati pada selang waktu 1 jam , 2 jam, 3 jam, 4
jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam, dan 24 jam pada setiap konsentrasi ekstrak daun
widuri. Data yang dikumpulkan dicatat didalam bentuk tabel. Larva yang
mati merupakan larva yang tenggelam ke dasar kontainer, tidak bergerak dan
tidak berespon terhadap rangsang
G. Valid itas d an Reli ab il itas
1. Validitas dijaga dengan :
a. Matching, yaitu dengan menyamakan kondisi larva nyamuk, yaitu larva
Aedes albopictus yang telah berumur 3-4 hari setelah penetasan.
Apabila tubuh larva telah berukuran 4-5 mm, kemudian memiliki
ciri-ciri seperti duri-duri dada mulai jelas dan corong pernapasan berwarna
b. Menggunakan kriteria standar dalam menilai kematian larva nyamuk
yaitu larva yang tenggelam ke dasar kontainer, tidak bergerak dan tidak
berespon terhadap rangsang.
2. Reliabilitas data dijaga dengan replikasi lima kali pada setiap kelompok
uji.
H. De fi nisi Oper asional V ariabe l
No Variabel
1. Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea
2. Larva Aedes albopictus instar III
3. Mortalitas Larva Aedes albopictus
4. LC50
(Lethal Consentration 50%)
I. Alur Pe nelitian
Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)
Larva nyamuk Aedes albopictus instar III
J. Analisis Data
Data-data hasil yang telah diperoleh, dikelompokkan dan dimasukkan dalam
tabel dan diuji kemaknaannya dengan menggunakan Anova (Analysis of varians).
Untuk menghitung data yang diperoleh dari penelitian ini menggunakan analisis
repeated Anova atau Friedman, dengan terlebih dahulu dilakukan uji normalisasi
data yaitu uji Shapiro-wilk. Bila pada analisis repeated Anova atau Friedman
diperoleh hasil yang bermakna, Bila pada diperoleh hasil yang bermakna, maka
akan dilanjutkan dengan uji post-hoc Mann whitney dan uji korelasi Pearson atau
kadar konsentrasi efektive larvasida ditentukan dengan LC50 dengan
menggunakan analisis data yaitu Regresi linear atau Probit. Semua perangkat
analisis statistik menggunakan fasilitas SPSS dari Windows.
K. Ke ter batasan pe ne liti an
Adapun keterbatasan dari penelitian ini yaitu,
1. Penelitian ini tidak dilakukan uji fitokimia kuantitatif untuk mengukur
seberapa banyak kandungan zat alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin yang
terdapat pada daun widuri (Calotropis gigantea).
2. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol,
sehingga beberapa senyawa seperti tanin dan flavonoid tidak seluruhnya
tertarik keluar dari sel tanaman.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. HASIL PENELITIAN
1. Uji Larvasida
Pada penelitian ini menggunakan empat konsentrasi ekstrak daun widuri
pengamatan 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam dan 24 jam. Adapun
empat konsentrasi tersebut adalah 150 ppm, 300 ppm, 600 ppm, 1200 ppm. Pada
penelitian ini juga menggunakan kontrol positif (Abate 1 ppm) dan kontrol negatif
(air tanpa perlakuan). Berikut hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus
yang didapatkan:
Tabel 4.1 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok
perlakuan.
Perlakuan
150 ppm
Perlakuan
300 ppm
1200 ppm
Sumber : Data Primer, 2014.
Tabel 4.1 memperlihatkan jumlah mortalitas larva Aedes albopictus per
satuan waktu pengamatan. Pada konsentrasi 150 ppm dan 300 ppm kematian larva
pertama terjadi pada waktu pengamatan 6 jam yaitu terdapat 1 larva yang mati
pada konsentrasi 150 ppm dan 2 larva yang mati pada 300 ppm, sedangkan pada
konsentrasi 600 ppm kematian larva pertama terjadi pada waktu pengamatan 4
jam yaitu terdapat 2 larva yang mati. Pada konsentrasi 1200 ppm pada 1 jam
pertama sudah memberikan efek larvasida pada larva Aedes albopictus, yaitu ada
3 larva yang mati.
Tabel 4.2 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok
perlakuan dan kontrol.
Perlakuan
Kontrol (-) (air tanpa perlakuan)
Sumber : Data Primer, 2014.
Pada tabel 4.2 menunjukkan pada kelompok kontrol positif kematian pertama
larva terjadi pada waktu pengamatan 1 jam yaitu sebanyak 57 larva mati,
sedangkan pada kontrol negatif kematian larva terjadi pada waktu pengamatan 24
jam yaitu sebanyak 8 larva. Adapun persentase rerata kematian larva Aedes
albopictus dalam 24 jam ditunjukkan pada tabel berikut:
Tabel 4.3 Persentase mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok
perlakuan dalam 24 jam.
Perlakuan
150 ppm 300 ppm 600 ppm 1200 ppm Abate 1 ppm
-Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa kelompok perlakuan 150 ppm hanya
dapat memberikan persentase mortalitas larva sebesar 7,2%. Pada kelompok
perlakukan 300 ppm memberikan persentase mortalitas larva 9,6%. Sedangkan
pada kelompok perlakuan 600 ppm terdapat mortalitas larva 14,4% dan pada
perlakuan 1200 ppm memberikan persentase mortalitas sebesar 66,4%. Pada
kelompok positif dengan menggunakan abate 1 ppm, besar persentase yang
didapatkan adalah 100%. Sedangkan pada kelompok negatif besar persentase
yang didapatkan adalah 6,4%. Karena hasil persentase mortalitas kelompok
kontrol (-) besar dari 5 % dan kecil dari 20 %, maka akan dilakukan koreksi
mortalitas dengan menggunakan formula abbot. Adapun nilai korelasi mortalitas
untuk masing-masing perlakuann dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Koreksi Persentase mortalitas larva Aedes albopictus dengan
menggunakan formula Abbot.
Perlakuan
150 ppm
600 ppm
1200 ppm
Sumber : Data Primer, 2014.
Tabel 4.4 menunjukkan koreksi persentase mortalitas pada kelompok
perlakuan dengan menggunakan formula abbot. Berikut adalah formula abbot:
Keterangan :
Untuk menentukan efektifitas daun widuri sebagai larvasida secara statistik.
Maka akan dilanjutkan dengan menganalisis data dengan uji repeated Anova,
namun sebelumnya harus dipenuhi terlebih dahulu dua syarat uji repeated Anova
yaitu dilakukan uji distribusi data, meliputi uji normalitas dan homogenitas data.
Uji distribusi data merupakan syarat untuk dilakukan uji repeated Anova harus
memiliki nilai normal (nilai p > 0,05). Adapun hasil uji normalitas data dengan
menggunakan uji Shapiro-Wilk yang didapatkan beberapa data memiliki nilai p <
0,05 (lampiran 1). Sehingga dapat diartikan normalitas data tidak normal. Setelah
namun nilai P pada beberapa data masih <0,05 (lampiran 1). Sehingga dapat
diambil kesimpulan bahwa distribusi data tidak normal. Karena syarat pertama uji
repeted Anova tidak terpenuhi, maka tidak dilanjutkan uji homogenitas.
Selanjutnya sebagai uji alternatif repeted Anova maka dilakukan non
parametrics test yaitu Friedman test. Hasil yang didapatkan adalah:
Tabel 4.5 Friedman test
perbedaan nilai rata-rata kematian larva pada kelompok setiap perlakuan.
Untuk mengetahui perbandingan hasil mortalitas larva antara kelompok
perlakuan, maka digunakan uji statistik Post-hoc Mann-Whitney. Hasil yang
didapatkan adalah:
Tabel 4. 6 Uji statistik perbandingan antar kelompok/konsentrasi (analisis
Tabel 4.6 menunjukkan hasil uji Post-hoc Mann-Whitney, hasil dikatakan
memiliki perbedaan yang bermakna bila nilai p < 0,05. Pada tabel 4.5
menunjukkan bahwa konsentrasi 150 ppm, 300 ppm dan 600 ppm memiliki
perbedaan bermakna dengan konsentrasi 1200 ppm dan Abate 1%, artinya setiap
kelompok perlakuan memiliki rata-rata mortalitas larva yang berbeda. Pada
konsentrasi 150 ppm tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan
konsentrasi 300 ppm dan 600 ppm. Konsentrasi 300 ppm juga tidak memiliki
perbedaan signifikan dengan 150 ppm dan 300 ppm.
Untuk menentukan adanya hubungan peningkatan konsentrasi dengan
mortalitas larva Aedes albopictus, maka dilakukan uji statistik korelasi Pearson.
Namun karena nilai distribusi data tidak normal (Lampiran 1), maka dilakukan uji
alternatif yaitu uji korelasi Spearman. Hasil yang didapatkan adalah:
Tabel 4.7 Uji korelasi Spearman
Korelasi Spearman
Correlation Coefficient Sig.2 (2-tailed)
Sumber : Data Primer, 2014.
Tabel 4.7 memperlihatkan nilai korelasi Spearman yang dimiliki konsentrasi
pada tiap waktu pengamatan. Pada waktu pengamatan 1 jam nilai p yang
didapatkan adalah 0,10. Artinya nilai p > 0,05 dan kekuatan korelasi 0,564. Nilai
ini menunjukkan arah korelasi negatif (tidak bermakna) dan kekuatan korelasi
jam dan 24 jam semua nilai p < 0,05. Nilai ini menunjukkan arah korelasi positif
atau terdapat korelasi bermakna antara variabel yang diteliti. Kekuatan korelasi
pada waktu pengamatan 2 jam dan 3 jam adalah 0,668 artinya kekuatan korelasi
kuat. Pada waktu pengamatan 4 jam nilai kekuatan korelasi dalah 0,708 dan pada
waktu pengamatan 6 jam adalah 0,719. Kedua nilai ini menunjukkan kekuatan
korelasi kuat. Sedangkan nilai kekuatan korelasi pada waktu pengamatan 8 jam
adalah 0,675 dan pada waktu pengamatan 24 jam adalah 0,758. Kedua nilai ini
juga menunjukkan kekuatan korelasi kuat antara variabel konsentrasi dan
mortalitas larva per satuan waktu. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara
peningkatan konsentrasi terhadap mortalitas larva Aedes albopictus.
Analisis data selanjutnya adalah regresi Probit untuk menentukan efektivitas
konsentrasi daun widuri (Calotropis gigantea) yang membuat mortalitas larva
50% atau lethal consentration 50% (LC50). Adapun nilai LC50 yang didapatkan
adalah:
Tabel 4.8 Nilai analisis Probit LC50 ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)
LC50 (ppm)
Sumber : Data Primer, 2014.
Pada tabel diatas menunjukkan konsentrasi efektif ekstrak daun widuri
(Calotropis gigantea) yang membuat mortalitas larva nyamuk Aedes albopictus
sebesar 50% adalah 1117,530 ppm.
2. Uji Fitokimia
Pada penelitian ini dilakukan uji fitokimia ekstrak daun widuri (Calotropis
pada ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea). Adapun hasil uji fitokimia yang
didapatkan menunjukkan hasil positif pada alkaloid dan saponin. Hasil positif
alkaloid ditunjukkan dengan terdapatnya endapan dan saponin hasil positifnya
ditunjukkan dengan adanya busa, sedangka flavonoid dan tanin menunjukkan
hasil negatif.
Tabel 4.9 Uji fitokimia ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)
No Nama senyawa
1. 2.
3. Flavonoid
4. Sumber : Data Primer, 2014.
Gambar 7. Hasil Uji Identifikasi Fitokimia, (a) Alkaloid positif (b) Saponin
positif (c) Tanin negatif (d) Flavonoid negatif
B. PEMBAHASAN
Aedes albopictus adalah vektor penular demam berdarah dengue. Jika
rumah yang tidak berhubungan dengan tanah, Aedes albopictus berkembang biak
di lubang-lubang pohon, drum, dan ban bekas yang terdapat di luar rumah (Hadi,
2012).
Salah satu upaya pengendalian vektor DBD dilakukan dengan cara
memutuskan rantai penularan yaitu dengan penggunaan insektisida, baik dengan
cara penyemprotan atau larvasida (Sukowati, 2010). Widuri (Calotropis gigantea)
merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi menjadi larvasida alami
karena adanya kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, saponin (Seniya et
al., 2011).
Dalam penelitian Shreya et al. (2012) melaporkan efek larvasida daun widuri
(Calotropis gigantea) terhadap larva nyamuk Aedes aegepty dan dapat digunakan
dalam program pengendalian vektor nyamuk DBD. Pada penelitian lainnya oleh
Kumar et al. (2012) juga melaporkan bahwa daun widuri (Calotropis gigantea)
dapat memberikan efek larvasida terhadap larva nyamuk Culex sp.
Penelitian ini dimulai dengan membuat simplisia kering daun widuri dengan
cara melakukan penjemuran pada daun widuri hingga kadar air berkurang 90%.
Kemudian simplisia kering dijadikan serbuk kering untuk memudahkan proses
penarikan senyawa kimia yang berada didalam daun widuri. Proses selanjutnya
adalah pembuatan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dengan metode
maserasi. Metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% merupakan metode
ekstraksi yang paling sederhana dengan cara merendam simplisia kering dengan
cairan penyari (etanol 96%) selama 3x24 jam, setelah itu akan dilakukan
dengan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental
(Syamsuni, 2006).
Setelah didapatkan ekstrak kental daun widuri (Calotropis gigantea), maka
selanjutnya dilakukan uji fitokimia. Pada uji fitokimia yang dilakukan dalam
penelitian ini ada empat senyawa yang diujikan dan dilakukan dengan pendekatan
kualilalif. Hasil uji fitokimia yang didapatkan terdapat reaksi positif untuk
senyawa alkaloid dan saponin pada ekstrak etanol daun widuri (Calotropis
gigantea).
Pengujian alkaloid dilakukan dengan menggunakan reagen Wagner dan hasil
positif ditunjukkan dengan adanya endapan pada larutan ekstrak, sedangkan
untuk hasil positif saponin ditunjukkan dengan adanya busa pada saat larutan
ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dikocok beberapa kali.
Pada penelitian ini juga dilakukan pengujian tanin dan flavonoid. Pengujian
tanin dilakukan dengan cara mereaksikan ekstrak daun widuri (Calotropis
gigantea) dengan gelatin, hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan
dan pada uji fitokimia yang dilakukan menunjukkan hasil negatif (tidak terbentuk
endapan). Pengujian flavonoid, dilakukan dengan cara mereaksikan ekstrak daun
widuri (Calotropis gigantea) dengan HCL pekat, hasil positif ditunjukkan dengan
terjadinya perubahan warna larutan menjadi violet. Namun pada pengujian
fitokimia pada penelitian ini memberikan hasil negatif (warna larutan tetap hijau).
Hasil negatif untuk senyawa tanin dan flavonoid dipengaruhi oleh teknik ekstraksi
yang digunakan dan kandungan senyawa kimia dalam bagian tanaman yang