• Tidak ada hasil yang ditemukan

337508692 Ka Sulis Ekstrak Daun Widuri Sebagai Larvasida Aedes Albopictus

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "337508692 Ka Sulis Ekstrak Daun Widuri Sebagai Larvasida Aedes Albopictus"

Copied!
86
0
0

Teks penuh

(1)

EFEK EKSTRAK DAUN WIDURI (Calotropis gigantea)

SEBAGAI LARVASIDA PADA LARVA NYAMUK

Aedes albopictus

SKRIPSI

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan Program Sarjana Strata Satu (S1)

Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Tadulako

SULISTYAWATI N 101 10 036

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS TADULAKO

(2)

PENGESAHAN DEWAN PENGUJI

Judul : EFEK EKSTRAK DAUN WIDURI (Calotropis

gigantea) SEBAGAI LARVASIDA PADA LARVA

NYAMUK Aedes albopictus.

Nama : SULISTYAWATI

Stambuk : N 101 10 036

Disetujui Tanggal : 15 AGUSTUS 2014

DEWAN PENGUJI

Ketua : dr. I Nyoman Widajadnja, M.Kes ...

Sekretaris : dr. David Pakaya ...

Penguji I : drg. Elly Yane Bangkele, M.Kes ...

Penguji II : dr. Puspita Sari ...

Mengetahui,

Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako

d

(3)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tugas akhir ini tidak terdapat karya

yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan

Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat

yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis

diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Palu, 5 Agustus 2014

Penulis,

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirabbil‟alamin, dengan segala kerendahan hati penulis

panjatkan puji dan syukur yang setinggi-tingginya kepada Allah SWT atas

berbagai anugrah, rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

skripsi dengan judul EFEK EKSTRAK DAUN WIDURI (Calotropis gigantea)

SEBAGAI LARVASIDA PADA LARVA NYAMUK Aedes albopictus”.

Tugas akhir ini disusun untuk memenuhi salah satu persyaratan untuk

menyelesaikan program sarjana strata satu (S1) di Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Tadulako.

Penulis mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya kepada kedua

orang tua terkasih, tersayang dan teramat penulis cintai. Untuk Ayahanda Ismail

dan Ibunda Aspiah yang telah membesarkan penulis dengan penuh kasih, cinta

dan rasa sayang yang begitu berlimpah serta tak henti-hentinya memberi semangat

dan wejangan-wejangannya selama proses pembuatan tugas akhir ini. Tak lupa

pula penulis mengucapkan terima kasih kepada saudara-saudara tercinta

Iswahyudi dan Annisa Sri Rahayu yang selalu memberi keceriaan di sela-sela

kelelahan dan kejenuhan penulis.

Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih dan rasa hormat yang

setinggi-tingginya kepada dr. I Nyoman Widajandja, M.Kes selaku

pembimbing I dan dr.David Pakaya selaku pembimbing II yang ditengah

kesibukkannya terus memberikan arahan, bimbingan dan saran yang sangat

(5)

Pada penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak,

untuk itu perkenankan pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih

yang tak terhingga kepada:

1. Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Ir. Muhammad Basir, SE., MS.

2. Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Tadulako,

dr. Fajar Waskito, Sp. KK.(K) beserta segenap jajarannya.

3. Wakil Dekan bidang akademik FKIK Universitas Tadulako, dr. Ketut

Suarayasa, M.Kes

4. Wakil Dekan bidang umum dan keuangan FKIK Universitas Tadulako,

dr. Asri Arham Effendi, Sp.B, M.Kes

5. Wakil Dekan bidang kemahasiswaan FKIK Universitas Tadulako,

Drs. Hakim Laenggeng, M. Kes

6.

Ketua PSPD FKIK Universitas Tadulako, dr. Diah Mutiarasari

7. Dosen Penguji I, drg. Elly Yane Bangkele, M.Kes

8. Dosen Penguji II selaku dosen pembina departemen Biokimia PSPD FKIK

Universitas Tadulako, drg. Tri Setyawati, M.Sc

9. Dosen Penguji III, dr. Puspita Sari

10. Bapak/ibu dosen FKIK UNTAD yang telah mengajar dan membimbing

penulis sejak awal kuliah hingga terselesaikannya tugas akhir ini.

11. Segenap pegawai Tata Usaha dan Akademik FKIK UNTAD.

12. Dosen pembina departemen Biokimia PSPD FKIK UNTAD, dr. Nur

(6)

13. Kepala kantor Balai Litbang P2B2 Donggala, Bapak Jastal, SKM, M.Si dan

Ibu Hayani Anastasia, SKM, MPH selaku kepala bagian pelayanan

penelitian serta pegawai Balai Litbang P2B2 Donggala bagian Sumber Daya

Hayati, bagian Hewan Uji, dan bagian Pelayanan Penelitian yang telah

menerima dan menyambut dengan baik penulis dimulai saat permintaan izin

penelitian hingga terselesaikannya penelitian.

14. Kak Ludia Rustin Palondongan, S.Si yang senantiasa membantu penulis

dimulai saat pencarian judul hingga terselesaikannya penelitian.

15. Indra Firmansyah yang selalu mendampingi, memberi nasehat, dukungan

dan motivasi selama perkuliahan dan penyusunan tugas akhir ini.

16. Sahabat-sahabat penulis yang juga berperan penting selama perkuliahan dan

penyusunan tugas akhir ini, Nurkhalidah, Lestari Irawan, Windy

Mentari, Ayu puspita, Nurul Afriani, Nanda Hikmah, Nursafitri dan

Nurafni Oktavia.

17. My beloved family Card10 atas kekompakan dan kebersamaannya selama

ini, kakak-kakakku 01factorius dan Oste09en, serta adik-adikku Achi11es,

Arth12on dan Pl13xus.

18. Keluarga besar Himpunan Mahasiswa Pendidikan Dokter (HMPD),

AMSA Untad, dan FKI-Assyifa Untad.

19. Tak lupa penulis ucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua

pihak yang telah membantu dan tak bisa disebutkan satu-persatu namanya,

(7)

Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis menyadari masih banyak

terdapat kekurangan, sehingga penulis mengharapkan saran dan kritik yang

bersifat membangun demi kesempurnaan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini

dapat memberikan kontribusi serta manfaat yang besar bagi semua pihak terkait,

khususnya penulis secara pribadi dan para pembacanya.

Palu, 5 Agustus 2014

Penulis,

(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

HALAMAN PERNYATAAN ... iii

KATA PENGANTAR ... ... iv

DAFTAR ISI ... ... viii

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... ... ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... ... ... xiv

ABSTRAK ... ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 3

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

E. Keaslian Penelitian ... 4

(9)

A. Telaah Pustaka ... 6

1. Tanaman Widuri Kunyit (Calotropis gigantea) ... 6

a. Taksonomi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea) ... 6

b. Morfologi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea) ... 7

c. Kandunag kimia tanaman Widuri (Calotropis gigantea) .. 8

d. Khasiat tanaman Widuri (Calotropis gigantea)... 9

e. Pembuatan Ekstrak Ethanol Daun Widuri (Calotropis gigantea) ... 10

f. Larvasida Sebagai Pengendali Nyamuk ... 13

2. Aedes albopictus ... 16

a. Taksonomi Aedes albopictus ... 16

b. Morfologi Aedes albopictus ... 17

c. Siklus Hidup Aedes albopictus ... 17

d. Perilaku Aedes albopictus ... 19

3. Kerangka Teori ... 21

4. Kerangka Konsep ... 22

B. Landasan Teori ... 22

C. Hipotesis ... 23

BAB III METODE PENELITIAN A. Waktu dan Lokasi Penelitian ... 24

B. Jenis Penelitian ... 24

C. Populasi dan Sampel ... 24

(10)

E. Alat dan Bahan Penelitian ...

F. Prosedur Penelitian ...

G. Definisi Operasional Variabel ...

H. Alur Penelitian ...

I. Analisis Data ...

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian ... 34

B. Pembahasan ... 43

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan ... 51

B. Saran ... 51

DAFTAR PUSTAKA ... 52

(11)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Pohon

Gambar 2. Gamba

Gambar 3. Daur Hidup

Gambar 4. Keran

Gambar 5. Keran

Gambar 6. Alur P

(12)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1. Kandungan fitokimia daun widuri (Calotropis gigantea) ... 9

Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 31

Tabel 4.1 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok perlakuan ... 34

Tabel 4.2. Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok kontrol ... 36

Tabel 4.3. Persentase mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok perlakuan dalam 24 jam ... 37

Tabel 4.4. Koreksi Persentase mortalitas larva Aedes albopictus dengan menggunakan formula Abbot ... 38

Tabel 4.5. Friedman test ... 39

Tabel 4.6. Uji statistik perbandingan antar kelompok perlakuan (analisis Post-hoc Mann-Whitney) ... 40

Tabel 4.7. Uji korelasi Spearman ... 41

Tabel 4.8. Analisis Probit LC50 ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)... 42

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Output Hasil Analisis SPSS ...

viii

Lampiran 2. Dokumentasi Penelitian ...

xiii

Lampiran 3. Surat Keterangan Penelitian ...

xvi

Lampiran 4. Hasil ekstraksi daun Widuri dan perhitungan konsentrasi ...

xvii

Lampiran 5. Surat keterangan identifikasi tumbuhan ...

(14)

DAFTAR SINGKATAN

Anova Analysis of varians

BPO Piperonyl butoxide

cc Cubical centimeter

CDC Centers for disease control

CO Karbon monoksida

DBD Demam berdarah dengue

g Gram

LC50 Lethal concentration 50%

ml Mililiter

mm Milimeter

O2 Oksigen

o

(15)

P2B2 Pengendalian penyakit bersumber binatang

Background : The Aedes albopictus mosquito is a vector of dengue hemorrhagic fever (DHF), which is still a health problem in Indonesia, especially in Central

Sulawesi. One of the dengue vector control efforts are larvacides. Eradication of larvae using chemical insecticides often causes problems such as resistance,

adverse effects on human health. One of the plants that have the potential of being larvicides are thistle (Calotropis gigantea).

Objective : The purpose of this study was to determine the effectiveness of

larvicides thistle leaf extract (Calotropis gigantea) against larvae of Aedes albopictus. hours, then continued statistical analysis.

(16)

Conclusion : Thistle leaf extract (Calotropis gigantea) have potential larvicides against larvae of Aedes albopictus.

Keywords: Thistle leaf extract (Calotropis gigantea), Aedes albopictus,

larvicides, LC50.

ABSTRAK

Latar belakang : Nyamuk Aedes albopictus merupakan salah satu vektor dari penyakit demam berdarah dengue (DBD) yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, khususnya Sulawesi tengah. Salah satu upaya pengendalian vektor DBD adalah larvasidasi. Pembasmian larva dengan insektisida kimia sering menimbulkan masalah misalnya resistensi, efek samping pada kesehatan manusia. Salah satu tanaman yang memiliki potensi menjadi larvasida adalah widuri (Calotropis gigantea).

Tujuan : Mengetahui efektifitas larvasida ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.

Metode : Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post test only control group design. Sampel yang digunakan adalah Aedes albopictus instar III sebanyak 750 larva yang terdiri dari 6 kelompok perlakuan (150 ppm, 300 ppm, 600 ppm, 1200 ppm, kontrol positif (Abate 1 ppm) dan kontrol negatif (air tanpa perlakuan). Setiap kelompok berisi 25 larva dengan 5 kali pengulangan. Pengamatan larva dilakukan pada 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam dan 24 jam, kemudian dilanjutkan analisis statistik.

Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa daun widuri (Calotropis gigantea) memiliki efek larvasida terhadap Aedes albopictus. Hasil uji Friedman dan Post-hoc Mann-Whitney menunjukkan nilai signifikansi < 0,05 yang menunjukkan terdapat perbedaan jumlah mortalitas larva secara bermakna antara kelompok perlakuan. Uji korelasi Spearman menunjukan nilai signifikansi < 0,05 pada waktu pengamatan 2 jam hingga 24 jam, artinya terdapat korelasi antara besar konsentrasi dan jumlah mortalitas larva. Uji probit menunjukkan nilai LC50 pada

(17)

Kesimpulan : Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) memiliki potensi larvasida terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.

Kata kunci : Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea), Aedes albopictus,

larvasida, LC50.

BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belak an g

Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan di

Indonesia yang jumlah penderitanya cenderung meningkat dan penyebarannya

semakin luas. Di Indonesia demam berdarah dengue masih merupakan masalah

kesehatan karena masih banyak daerah endemik (Widoyono, 2011).

Pada tahun 2011 tercatat kasus DBD yang ditemukan di Sulawesi Tengah

sebanyak 2.037 kasus dan terbanyak berada di Kota Palu yaitu 1.061 kasus.

Jumlah kasus tersebut tidak berbeda jauh dengan tahun 2010 yaitu sebanyak 2.092

kasus. Hal ini disebabkan kondisi lingkungan di Sulawesi Tengah potensial dalam

(18)

merupakan sumber penyebaran penyakit ke wilayah lain. Nyamuk yang menjadi

vektor DBD adalah nyamuk yang terinfeksi saat menggigit manusia yang sedang

sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya). Vektor yang pembawa virus

dengue adalah nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes albopictus. Setiap kejadian luar

biasa (KLB) demam berdarah dengue umumnya dimulai dengan peningkatan

jumlah kasus di wilayah tersebut. Untuk membatasi penyebaran DBD diperlukan

gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) yang terus menerus, pangasapan

(fogging) dan larvasidasi (Widoyono, 2011).

Aedes aegypti menempati habitat domestik terutama penampungan air di

dalam rumah yang tidak berhubungan dengan tanah, sedangkan Aedes albopictus

berkembang biak di lubang-lubang pohon, drum, ban bekas yang terdapat di luar

rumah (Hadi, 2012). WHO pada tahun (2004) melaporkan bahwa di daerah

perkotaan habitat Aedes aegypti dan Aedes albopictus sangat bervariasi tetapi 90%

ditemukan pada penampungan air.

Di Indonesia, pengendalian penularan DBD terutama dilakukan dengan

menggunakan insektisida golongan organofosfat (malation dan temefos) untuk

menurunkan kepadatan vektornya. Malation dan temefos selalu digunakan dalam

program nasional pengendalian DBD di Indonesia sejak tahun 1970-an. Dari

banyak pengalaman di banyak tempat di dunia, diketahui bahwa efektivitas

aplikasi kedua insektisida ini ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah

tingkat kerentanan nyamuk vektor (stadium larva dan dewasa) yang menjadi

sasaran utamanya. Penggunaan insektisida kimia dalam jangka lama dengan

(19)

bertahap insektisida itu akan menekan dan menyeleksi serangga (nyamuk vektor)

sasaran untuk menjadi toleran (heterozigot resisten; RS) sampai resisten

(homozigot resisten; RR) terhadapnya (Lidia et al., 2008).

Beberapa gangguan kesehatan yang sering dihubungkan dengan penggunaan

insektisida kimia diantaranya iritasi mata dan kulit, kanker, cacat pada bayi, serta

gangguan saraf, hati, ginjal dan pernafasan. Kejadian anemia dapat terjadi pada

penderita keracunan organofosfat adalah karena terbentuknya sulfhemoglobin dan

methemoglobin di dalam sel darah merah. Hal ini menyebabkan hemoglobin

menjadi tidak normal dan tidak dapat menjalankan fungsinya dalam

menghantarkan oksigen (Runia, 2008)

Salah satu upaya untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan

menggunakan insektisida nabati. Insektisida ini berasal dari tumbuhan sehingga

memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi yaitu karena sifatnya yang mudah

terurai di alam sehingga tidak menimbulkan bahaya residu yang berat dan lebih

selektif (tidak merugikan makhluk hidup dan lingkungan yang bukan sasarannya).

Insektisida yang digunakan untuk memberantas larva nyamuk disebut larvasida

(Kardinan, 2005).

Salah satu tanaman yang memiliki potensi menjadi larvasida adalah

Calotropis gigantea. Dalam penelitian yang dilakukan Seniya et al. (2011)

melaporkan kandungan senyawa kimia dalam Calotropis gigantropis adalah tanin,

steroid, alkaloids, flavonoid , glycosides, anthraquinones, terpenoid dan resins.

(20)

Peneliti memilih daun widuri (Calotropis gigantea) karena banyaknya

tanaman ini tumbuh di sekitar kampus Universitas Tadulako. Dalam penelitian

Shreya et al. (2012) melaporkan efek larvasida daun widuri (Calotropis gigantea)

terhadap larva nyamuk Aedes aegepty dan dapat digunakan dalam program

pengendalian vektor nyamuk. Sedangkan untuk larva nyamuk Aedes albopictus

peneliti melihat belum ada yang melakukan penelitian tersebut, sehingga peneliti

merasa perlu untuk menelitinya.

B. Pe ru mu san Masalah

Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan

pertanyaan penelitian sebagai berikut :

Apakah ekstrak daun Widuri (Calotropis gigantea) efektif dalam membunuh

larva nyamuk Aedes albopictus?

C. Tu juan

1. Tujuan Umum

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas larvasida ekstrak daun

Widuri (Calotropis gigantea) terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.

2. Tujuan Khusus

Membuktikan hubungan antara peningkatan konsentrasi ekstrak daun Widuri

(Calotropis gigantea) dengan jumlah larva nyamuk Aedes albopictus yang mati

(21)

D. Manf aat Pen eli tian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber informasi tentang

efektivitas ekstrak daun Widuri (Calotropis gigantea) sebagai larvasida, dan dapat

diaplikasikan oleh masyarakat untuk membasmi nyamuk Aedes albopictus sebagai

vektor penyakit demam berdarah dengue di Indonesia, khususnya di Sulawesi

Tengah. Serta menambah khasanah ilmu pengetahuan dan sebagai bahan

perbandingan bagi penelitian yang lebih luas dan lebih dalam.

E. Keasli an Pen eli tian

Penelitian seperti ini pernah dilakukan sebelumnya oleh Shreya et al. (2012)

yang berjudul “Aktivitas larvasida Calotropis gigantea pada vektor Aedes aegypti

penyebab dengue dan chikungunya”. Variabel bebas yang digunakan dalam

penelitian ini adalah soxhlet ekstrak ethanol daun Calotropis gigantea terhadap

efek larvasida pada larva nyamuk Aedes aegypti dengan range konsentrasi

100-1000 ppm.

Penelitian seperti ini pernah pula dilakukan sebelumnya oleh Kumar et al.

(2012) dengan judul “Aktivitas larvasida, repellant dan ovisidal Calotropis

gigantea pada Culex gelidus, Culex tritaeniorhynchus”. Variabel yang di gunakan

adalah efek ekstrak air daun Calotropis gigantea pada Culex gelidus, Culex

tritaeniorhynchus dengan konsentrasi 62,5, 125, 250, 500, 1000 ppm.

Penelitian larvasida Calotropis gigantea juga telah dilakukan oleh Kabir et al.

(2010) dengan judul penelitian “Efek larvasida latex dari Calotropis gigantea

(22)

senyawa spesifik latex (alkaloid) yang terkandung dalam Calotropis gigantea

dengan 1000, 2000, 4000, 8000 dan 16000 ppm. Larva nyamuk yang digunakan

dalam penelitian ini adalah Culex quinguesfasciatus yang terdiri dari instar I, II,

III dan IV.

Perbedaan penelitian ini dengan tiga penelitian sebelumnya terletak pada jenis

variabel bebas dan terikatnya, yaitu metode ekstraksi, jenis larva nyamuk dan

konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea). Adapun variabel bebas

pada penelitian ini menggunakan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)

dengan metode maserasi, larva nyamuk yang digunakan adalah Aedes albopictus

instar III dan konsentrasi yang digunakan 150, 300, 600, 1200 ppm dengan

kontrol positif abate 1 ppm.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Telaah Pu staka

1. Tanaman Widuri (Calotropis gigantea)

Tanaman widuri (Calotropis gigantea) memiliki beberapa nama lokal

yaitu Niujiaogua (China); crown flower, giant indian milkweed, giant

milkweed (English); asclepiade gigantesque, faux arbre de soie, mercure

végétal (French); biduri, saduri, widuri (Jawa- Indonesia); dok hack (Lao

PDR); rembega, lembega (Malayu-Malaysia); dok rak, pan thuean, po

(23)

a. Taksonomi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea)

Kingdom : Plantae

Subkingdom : Tracheobionta

Superdivision : Spermatophyta

Divisi : Magnoliophyta

Kelas : Magnoliopsida

Subkelas : Asteridae

Ordo : Gentianales

Family : Asclepiadaceae

Genus : Calotropis R.Br

Spesies : Calotropis gigantea (L) W.T.Aiton (United States

Department of Agriculture, 2014).

b. Morfologi Tanaman Widuri (Calotropis gigantea)

Tanaman widuri (Calotropis gigantea) berasal dari Bangladesh,

Burma, China, India, Indonesia, Malaysia, Pakistan, Filipina, Thailand

dan Sri Lanka. Calotropis gigantea merupakan tanaman yang sering

digunakan untuk beberapa acara adat dan pengobatan tradisional di

India (Ali et al.,2010).

Sarkar et al. (2014) menjelaskan morfologi tanaman widuri (Calotropis

gigantea) sebagai berikut:

a. Daun : Tunggal, tebal, opposite, bulat telur, ujung tumpul,

(24)

b. Bunga :

c. Batang :

d. Akar :

(25)

Gambar 1. Pohon Widuri (Calotropis gigantea) (United States Department of

Agriculture, 2014).

c. Kandun g Kimia T an a man Widu ri ( Calotropi s gigan tea)

Dalam penelitian fitokimia yang dilakukan Wang et al.(2008)

melaporkan kandungan senyawa kimia dalam tanaman widuri (Calotropis

gigantea) adalah cardenolide, terpen, pregnanes, senyawa phenoic,

flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, glikosida dan pitosterol.

Penelitian yang dilakukan oleh Seniya et al.(2011) menemukan

kandungan fitokimia ekstrak etanol daun widuri (Calotropis gigantea)

sebagai berikut:

Tabel 2.1. Kandungan fitokimia daun widuri (Calotropis gigantea)

Kandungan Fitokimia

Alkaloid Anthraquinones

Flavonoid Cardic Glycosides

Terpenoid

Keterangan : (+) ada senyawa kimia; (-) tidak di temukan senyawa kimia.

d. Kh asiat Tan aman Widu ri (Calot ropis gigan tea )

Beberapa penelitian melaporkan kandungan alkaloid, saponin dan tanin

menghambat pertumbuhan bakteri dan melindungi tanaman terhadap

(26)

dapat digunakan sebagai insektisida alami. Insektisida ini menyerang

sel-sel neurosekresi otak (racun saraf) dari serangga, menghambat

pembentukan pupa dan hormon tumbuh, sehingga memotong atau

menghentikan daur larva. Senyawa alkaloid juga menghambat daya makan

larva dan bertindak sebagai racun perut. Senyawa ini bersifat basa dan

merupakan senyawa polar (Wiryowidagdo, 2007).

Senyawa saponin diduga mengandung hormon steroid yang

berpengaruh dalam pertumbuhan larva nyamuk. Senyawa ini akan

menurunkan tegangan permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva

sehingga dinding traktus digestivus menjadi korosif. Kerusakan salah satu

organ nyamuk dapat menurunkan proses metabolisme dan gangguan

dalam proses fisiologinya (Fuadzy et al., 2012).

Efek flavonoid terhadap organisme bermacam macam. Salah satu

diantaranya adalah juga sebagai inhibitor kuat pernafasan. Gangguan

metabolisme energi terjadi di dalam mitokondria dengan cara menghambat

sistem transport elektron atau dengan menghalangi coupling antara sistem

transport dengan produksi ATP. Adanya hambatan pada sistem transport

elektron menghalangi produksi ATP dan menyebabkan penurunan

pemakaian oksigen oleh mitokondria (Sudjari, 2006). Pada literatur lain

disebutkan inhibitor pernafasan bekerja dengan menghambat rantai

respirasi, menghambat fosforilasi oksidatif atau dengan memutuskan

rangkaian (uncouple) antara rantai respirasi dengan fosforilasi oksidatif

(27)

Tanin dapat memperkecil pori-pori lambung sehingga menyebabkan

proses metabolisme sistem pencernaan menjadi terganggu. Penumpukan

sari-sari makanan pada organ pencernaan larva dapat menjadi racun dan

secara perlahan-lahan larva akan mati (Fuadzy et al., 2012).

e. Pe mbu atan Ek strak Da u n Widu ri (Calot ropis gigan tea)

Ekstraksi adalah suatu proses penyarian senyawa kimia yang terdapat

didalam bahan alam atau berasal dari dalam sel dengan menggunakan

pelarut dan metode yang tepat. Ekstrak adalah hasil dari proses ekstraksi,

bahan yang diekstraksi merupakan bahan alam. Pada prinsipnya ekstraksi

adalah melarutkan dan menarik senyawa dengan menggunakan pelarut

yang tepat. Ada tiga tahapan proses pada waktu ekstraksi yaitu:

a. Penetrasi pelarut kedalam sel tanaman dan pengembangan sel.

b. Disolusi pelarut ke dalam sel tanaman dan pengembangan sel.

c. Difusi bahan yang terekstraksi ke luar sel (Emilan et al., 2011).

Proses diatas diharapkan terjadinya kesetimbangan antara linarut dan

pelarut. Kecepatan untuk mencapai kesetimbangan umumnya tergantung

pada suhu, pH, ukuran partikel dan gerakan partikel. Prinsip yang utama

adalah yang berkaitan dengan kelarutan, yaitu senyawa polar lebih mudah

larut dalam pelarut polar dan senyawa nonpolar akan mudah larut dalam

pelarut nonpolar (Emilan et al., 2011).

Pembuatan Ekstrak meliputi tahap penyarian. Penyarian simplisia dapat

(28)

mendidih. Penyarian dengan campuran etanol dan air dilakukan dengan

cara maserasi atau perkolasi, sedangkan penyarian dengan eter dilakukan

dengan cara perkolasi (POM RI, 2010).

a. Maserasi

Maserasi berasal dari kata “macerare” artinya melunakkan. Maserata

adalah hasil penarik simplisia dengan cara maserasi. Sedangkan maserasi

adalah cara penarikan simplisia dengan merendam simplisia tersebut

dalam cairan penyari pada suhu biasa atau memakai pemanasan. Suhu

yang ditetapkan adalah 15OC-25OC (Syamsuni, 2006).

Dalam proses maserasi, simplisia yang akan diekstraksi biasanya

ditempatkan pada wadah atau bejana yang bermulut lebar, bersama

menstruum yang telah ditetapkan, bejana ditutup rapat dan isinya dikocok

berulang-ulang biasanya berkisar dari 2-14 hari. Pengocokkan

memungkinkan pelarut mengalir berulang-ulang masuk ke seluruh

permukaan dari simplisia yang sudah halus. Cara lain untuk pengocokan

yang berulang-ulang ini dengan menempatkan simplisia dalam kantung

kain yang berpori yang diikat dan digantungkan pada bagian atas

menstruum. Begitu zat-zat yang mudah larut, melarut dalam menstruum,

maka cenderung untuk turun ke dasar bejana karena adanya penambahan

berat cairan. Ekstrak dipisahkan dari ampasnya dan membilasnya dengan

penambahan menstruum baru (Ansel, 2008).

(29)

Percolare berasal dari kata colare yang artinya menyerkai dan per

artinya menembus. Dengan demikian, perkolasi adalah suatu cara

penarikan memakai alat yang disebut perkolator yang simplisianya

terendam dalam cairan penyari, zat-zat akan terlarut dan larutan tersebut

akan menetes secara beraturan sampai memenuhi syarat yang telah

ditetapkan (Syamsuni, 2006). Proses ini menggunakan sebuah wadah

penapis (sempit, berbentuk kerucut terbuka pada kedua ujungnya).

Bahan-bahan ekstraksi dibasahi dengan sejumlah cairan penyari dan didiamkan

selama sekitar 4-24 jam dalam wadah tertutup rapat, setelah itu massa

dikemas dan bagian atas perkolator ditutup (Sukhdev et al., 2008)

c. Sokslet

Dalam metode ini, simplisia ditumbuk halus ditempatkan dalam

kantong berpori yang dibuat dari kertas filter yang kuat dan di letakkan

dalam sebuah gelas ekstraksi yang bekerja secara kontinu. Gelas ekstraksi

yang mengandung kantung diletakkan di antara labu suling dan suatu

kondensor yang dihubungkan dengan pipa. Labu tersebut berisi bahan

pelarut, yang menguap dan mencapai ke dalam kondensor melalui pipet,

berkondensasi dan akan membawa keluar bahan yang diekstraksi

(Sukhdev et al., 2008).

d. Infus

Bahan ekstrak yang telah dihaluskan dicampurkan dengan sejumlah air

(30)

menit dengan pengadukan berulang. Setelah dingin (kira-kira 30oC),

kemudian disaring (Syamsuni, 2006).

f. Larvasid a S eb agai Pen gend ali N yamu k

Pengendalian vektor DBD dilakukan dengan cara memutuskan rantai

penularan. Salah satu cara yang dilakukan adalah penggunaan insektisida

dengan cara penyemprotan dan larvasidasi (Sukowati, 2010).

Beberapa Insektisida yang umum digunakan pada masyarakat, yaitu:

1. Fenitrotion

Insektisida ini termasuk golongan organofosfat, disebut juga sumitron

atau folition. Bersifat sedikit menguap, oleh karena itu penggunaannya

dengan menyemprotkan residu pada dinding rumah. Mempunyai daya

residu kurang lebih 2 bulan. Aplikasi di lapangan untuk penyemprotan

residu pada dinding rumah. Di Indonesia insektisida ini digunakan untuk

pengendalian vektor malaria (Anopheles sp) terutama di pulau Sumatra,

Jawa dan Bali (Utama, 2008).

2. Temefos (Abate 1% SG)

Insektisida ini tergolong organofosfat, terutama digunakan untuk

pengendalian Aedes aegypti di tempat penampungan air, dengan

konsentrasi 1 ppm (1 g temefos 1% SG dalam 10 liter air). Larvasida ini

tidak toksik terhadap mamalia termasuk manusia, tetapi mempunyai

(31)

mempunyai daya residu lebih kurang 1 bulan bila digunakan dalam

penampungan air (Utama, 2008).

Golongan insektisida ini mempunyai cara kerja menghambat enzim

cholinesterase baik pada vertebrata maupun invertebrata, sehingga

menimbulkan gangguan pada aktivitas syaraf karena tertimbunnya

acetylcholine menjadi cholin dan asam cuka sehingga bila enzim tersebut

dihambat maka hidrolisa acetylcholin tidak terjadi. Abate akan mengikat

enzim cholinesterase dan dihancurkan sehingga terjadi kontraksi otot yang

terus menerus, kejang dan akhirnya larva akan mati (Ridha, 2011).

3. Piretrum dan Piretrin

Bahan piretrum dan piretrin bersumber dari bunga krisan

(Crysanthenum cinerariaetolium) yang telah dikeringkan. Piretrin

merupakan istilah untuk 6 senyawa yang bersifat insektisida yang

terkandung dalam piretrum (bahan mentah). Senyawa piretrin bekerja

dengan cara mengganggu jaringan saraf serangga. Piretrin bekerja dengan

cepat dan dapat langsung membuat pingsan serangga. Namun, sebagian

besar serangga bangun kembali setelah sempoyongan beberapa saat,

karena kemampuan serangga dalam menguraikan dan menetralisr piretrin.

Oleh karena itu, dalam produk komersial yang mengandung piretrin selalu

ditambahkan bahan sinergis seperti BPO (piperonyl butoxide) yang

berfungsi memperpanjang daya racun dengan cara menghambat proses

metabolisme yang menguraikan piretrin di dalam tubuh serangga

(32)

Insektisida kimia yang telah digunakan dalam frekuensi yang tinggi

secara bertahap akan menekan dan menyeleksi serangga (nyamuk vektor)

sasaran menjadi toleransi hingga resistensi terhadap insektisida tersebut

(Lidia et al., 2008). Penggunaan insektisida nabati atau insektisida botani

merupakan salah satu upaya untuk mengatasi resistensi insektisida kimia.

Insektisida nabati merupakan jenis insektisida yang berasal dari tumbuhan

sehingga memiliki tingkat keamanan yang lebih tinggi yaitu karena

sifatnya yang mudah terurai di alam sehingga tidak menimbulkan bahaya

residu yang berat dan tidak merugikan makhluk hidup dan lingkungan

yang bukan sasarannya (Kardinan, 2005).

Kebutuhan akan larvasida yang lebih aman bagi manusia dan

lingkungan memang telah menjadi tuntutan masyarakat di negara-negara

maju. Produk larvasida yang telah banyak dikembangkan adalah

diantaranya piretrin, nikotin daun tembakau, dan mimba (Budiman, 2009).

Daun widuri (Calotropis gigantea) merupakan salah satu tanaman yang

memiliki potensi larvasida nabati dan banyak terdapat di Sulawesi tengah.

Dalam penelitian Kumar (2012) melaporkan efek larvasida daun widuri

(Calotropis gigantea) terhadap nyamuk Culex sp.

2. Aed es alb op ictu s

a. Tak son omi Aedes albopictu s

Klasifikasi Aedes albopictus sebagai berikut:

(33)

Kingdom : Animal

Phylum : Artropoda

Class : Insecta

Ordo : Diptera

Subordo : Nematocera

Famili : Culicidae

Subfamili : Culicinae

Genus : Aedes

Subgenus : Stegomyia

Species : Aedes albopictus ( Boesri, 2011).

b. Morf ologi Aedes albopictu s

Aedes sp dewasa berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan

ukuran nyamuk rumah, mempunyai warna dasar yang hitam dengan

bintik-bintik putih pada bagian-bagian badannya terutama pada kakinya.

Morfologinya yang khas adalah gambaran lira (lyre-form) yang putih pada

punggungnya (mesonotum). Aedes albopictus tampak seperti nyamuk

Aedes aegypti yaitu mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik

putih pada bagian badannya, tetapi pada mesonotumnya terdapat

gambaran menyerupai garis tebal putih vertikal. Nyamuk ini disebut juga

(34)

Gambar 2.Gambaran garis vertikal di bagian dorsal toraks Aedes

albopictus (Rey, JR. 2013).

c. S ik lu s Hi du p Aedes A lbopi ctu s

Siklus hidup Aedes Albopictus secara umum melalui empat tahap

stadium yaitu telur, larva, pupa dan dewasa. Telur nyamuk Aedes

Albopictus berwarna hitam, yang akan menjadi lebih hitam warnanya

ketika menjelang menetas, bentuk lonjong dengan satu ujungnya lebih

tumpul dan ukurannya lebih kurang 0,5 mm (Boesri, 2011).

Perkembangbiakan larva dihitung dari hari pertama menetas dari telur

yakni pada stadium 1 dengan tubuh sangat kecil, warna transparan,

panjang 1 - 2 mm dan duri – duri pada dada belum begitu jelas. Telur

menetes menjadi larva membutuhkan waktu antara 2 – 3 hari (Adifian,

(35)

Gambar 3. Daur hidup nyamuk Aedes albopictus (CDC,2010).

Larva Aedes albopictus, kepala berbentuk bulat silindris, antena pendek

dan halus dengan rambut-rambut berbentuk sikat di bagian depan kepala,

pada ruas abdomen VIII terdapat gigi sisir yang khas dan tanpa duri pada

bagian lateral thorax (yang membedakannya dengan Aedes aegypti),

berukuran lebih kurang 5 mm (Boesri, 2011).

Dalam membedakan instar dari larva Aedes albopictus dapat dipakai

perbedaan lebar seperti pada Aedes aegypti yaitu:

- Instar I dengan lebar kepala lebih kurang 0,3 mm

- Instar II lebar kepalanya lebih kurang 0,45 mm

- Instar III lebar kepala lebih kurang 0,65 mm,

- Instar IV lebar kepala lebih kurang 0,95 mm (Boesri, 2011).

Pupa merupakan stadium akhir calon nyamuk dengan bentuk tubuh

pupa bengkok seperti koma, kepalanya besar, gerakan melambat dan

membutuhkan waktu antara 6 – 8 hari untuk menjadi pupa dari stadium

(36)

Pupa Aedes albopictus bentuk seperti koma dengan cephalothorax

yang tebal, abdomen dapat digerakkan vertikal setengah lingkaran, warna

mulai terbentuk agak pucat berubah menjadi kecoklatan kemudian menjadi

hitam ketika menjelang menjadi dewasa, dan kepala mempunyai corong

untuk bernapas yang berbentuk seperti terompet panjang dan ramping

(Boesri, 2011).

Nyamuk Dewasa Aedes albopictus, tubuh berwarna hitam dengan

bercak/garis-garis putih pada notum dan abdomen, antena

berbulu/plumose, pada yang jantan palpus sama panjang dengan proboscis

sedang yang betina palpus hanya 1/4 panjang proboscis, mesonotum

dengan garis putih horizontal, tibia gelap dan sisik putih pada pleura tidak

teratur (Boesri, 2011).

d. Pe ril ak u Aedes albopictu s

Aedes albopictus ternyata dapat menghisap darah pada malam hari

(nokturnal). Padahal sejauh ini diketahui bahwa Ae. aegypti aktif

menghisap darah pada siang hari (diurnal) dengan dua puncak gigitan

yaitu pagi hari jam 8:00-9:00 dan sore hari jam 16:00-17:00. Aedes

albopictus berkembang biak di lubang-lubang pohon, drum, ban bekas

yang terdapat di luar (peridomestik) (Hadi et al., 2012).

Tempat perkembang biakan nyamuk Aedes menurut Depkes (2001)

pada umumnya suhu tempat biakan berkisar antara suhu 25OC – 27OC.

(37)

sampai 27OC. Larva akan mati pada suhu kurang dari 10OC atau lebih dari

40OC. Kadar O2 dan CO di air juga berpengaruh terhadap pembentukan

enzim sitokrom oksidasi larva Aedes aegypti dan Aedes albopictus.

Karateristik Aedes albopictus dapat diperkuat teori Scholte dan

Schaffner (2007, dalam Adifian, 2009) yang sebelumnya mengatakan

nyamuk demam berdarah jenis Aedes albopictus biasanya terdapat diluar

rumah, sehingga nyamuk ini bisa saja terdapat pada selain air bersih

karena karakteristik hidupnya terdapat diluar rumah. Adifian pada

penelitiannya (2009) juga menyebutkan bahwa nyamuk Aedes albopictus

lebih banyak terdapat pada air selokan, nyamuk lebih menyukai kondisi air

selokan yang mengandung senyawa-senyawa kimia dan senyawa organik

(tumbuhan air) yang dapat dijadikan sebagai makanan.

3. Ke ran gk a Teori

Daun Widuri (Calotropis gigantea)

Ekstraksi Maserasi dengan pelarut

(38)

Alkaloid Saponin

Racun saraf (sel

neurosekretori) Dinding saluran pencernaanmenjadi korosif

Efek larvasida

Kematian Larva

Aedes Albopictus

Gambar 4. Kerangka teori (Fuadzy et al., 2012)

4. Ke ran gk a Kon sep

Ekstrak Daun Widuri (Calotropis gigantea)

dengan berbagai konsentrasi

Efek Larvasida (Kematian Larva nyamuk Aedes

Albopictus)

Suhu ruangan uji pH air

(39)

Keterangan :

: Variabel bebas

: Variabel terikat

Gambar 5. Kerangka konsep

B. Land asan Teori

Pengendalian vektor DBD dilakukan dengan cara memutuskan rantai

penularan. Salah satu cara yang dilakukan adalah penggunaan insektisida dengan

cara penyemprotan dan larvasidasi (Kemenkes RI, 2010).

Penelitian sebelumnya telah menemukan beberapa kandungan senyawa aktif

yang terdapat pada daun widuri (Calotropis gigantea), diantaranya adalah

alkaloida, saponin, flavonoida, tanin , saponin, glikosida (Seniya et al., 2011).

Senyawa alkaloid dapat berfungsi sebagai insektisida alami karena perannya

dalam merusak sel neurosekretori otak (racun saraf) pada serangga, sehingga

menghambat pembentukan pupa dan sekresi hormon pertumbuhan. Senyawa

alkaloid selain bekerja dengan cara menganggu sistem kerja saraf (neuromuscular

(40)

dan bertindak sebagai racun perut. Senyawa ini bersifat basa dan merupakan

senyawa polar (Wiryowidagdo, 2007).

Senyawa saponin diduga mengandung hormon steroid yang berpengaruh

dalam pertumbuhan larva nyamuk. Senyawa ini akan menurunkan tegangan

permukaan selaput mukosa traktus digestivus larva sehingga dinding traktus

digestivus menjadi korosif. Kerusakan salah satu organ nyamuk dapat

menurunkan proses metabolisme dan gangguan dalam proses fisiologinya (Fuadzy

et al., 2012).

C. Hip otesis

1. Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) efektif sebagai larvasida pada larva

nyamuk Aedes albopictus.

2. Terdapat hubungan antara peningkatan konsentrasi ekstrak daun Widuri

(Calotropis gigantea) dengan jumlah larva nyamuk Aedes albopictus yang mati

per satuan waktu.

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Wak tu d an Lok asi Pen eli tian

Pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan April hingga Juni 2014 di

Laboratorium Kimia FMIPA Universitas Tadulako dan Laboratorium Balai

Penelitian Pengembangan dan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang

(41)

B. Jen is Pen eli tian

Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan post test only control

group design. Desain penelitian ini dipilih karena tidak dilakukan pretes terhadap

sampel sebelum perlakuan. Dengan cara ini memungkinkan dilakukan

pengukuran pengaruh perlakuan (intervensi) pada kelompok eksperimen yang satu

dengan cara membandingkannya dengan kelompok eksperimen yang lain dan

kelompok kontrol.

C. Popu lasi d an S amp el

1. Popu lasi

Populasi penelitian ini adalah larva instar III nyamuk Aedes albopictus

yang didapat dari Laboraturium Penelitian Balai Litbang P2B2 Donggala.

2. S amp el

a. Kriteria Inklusi

1. Larva nyamuk Aedes albopictus sehat dan telah mencapai instar III.

2. Larva bergerak aktif.

b. Kriteria Eksklusi

1. Larva yang telah berubah menjadi pupa ataupun nyamuk dewasa.

2. Larva yang mati sebelum perlakuan.

c. Besar Sampel

Besar sampel 25 ekor larva instar III. Diletakkan dalam 6 kontainer,

(42)

sebanyak 5 kali pada tiap bahan uji. Jumlah seluruh sampel yang dibutuhkan

sebanyak 750 Larva Aedes albopictus.

d. Cara Pengambilan Sampel

Cara pengambilan sampel pada penelitian ini adalah dengan purposive

sampling terhadap larva nyamuk Aedes albopictus.

D. Variab el Penelitian

1. Variab el B eb as

Variabel bebas atau independent variable penelitian ini adalah yaitu

ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dengan berbagai konsentrasi.

2. Variab el T erik at

Variabel terikat atau dependent variable dalam penelitian ini adalah

Konsentrasi ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) yang paling efektif

sebagai larvasida larva nyamuk Aedes albopictus.

E. Alat d an Bah an Pen eli tian

1. Alat

Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu neraca analitik, pipet,

gelas ukur 1000cc, nampan plastik, 30 wadah plastik (sebagai kontainer),

beker glass, kain putih, blender atau juicer, batang pengaduk, ekstraktor

(Peralatan Maserasi), evaporator, kertas label, pisau.

(43)

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : ekstrak daun widuri

(Calotropis gigantea); larutan ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 150

ppm, 300 ppm, 600 ppm, 1200 ppm; air bersih atau aquadest; larva nyamuk

Aedes albopictus instar III; Fish food unutk makanan larva. Serta Abate

sebagai kontrol positif.

F. Pros edu r Pen eli tian

Ada beberapa tahap yang kami lakukan dalam penelitian ini yaitu:

a. Pe mbu atan Larvasid a Esk trak Daun Widu ri ( Calot ropis gigan tea )

1) Menimbang daun widuri (Calotropis gigantea) seberat ± 2 kg.

2) Mencuci daun widuri (Calotropis gigantea) sampai bersih kemudian

mengeringkannya dibawah sinar matahari.

3) Mengolah daun widuri (Calotropis gigantea) yang sudah kering sampai

menjadi serbuk kering dengan menggunakan blender.

4) Maserasi serbuk bahan dengan etanol 96% selama 3 x 24 jam.

5) Saring larutan ekstrasi dengan menggunakan kertas saring sehingga

mendapatkan ekstrak cair.

6) Menguapkan maserat yang sudah didapatkan dengan menggunakan

menggunakan rotary evaporator.

7) Ekstrak kental di dapatkan dan dapat disimpan di dalam lemari es.

b. Uji Fitoki mia

(44)

a. Menyiapkan 1 ml sampel ekstrak daun widuri yang telah

diencerkan.

b. Memasukkan 1 ml HCL 2M

c. Memanaskan dan mengaduk selama beberapa menit. Kemudian

didinginkan pada wadah yang telah disediakan.

d. Menambahkan NaCl serbuk sebanyak 1 sendok teh. Mengaduk dan

saring.

e. Filtrat yang didapatkan, ditambahkan HCL 2M sebanyak 1 ml.

f. Membagi tabung menjadi dua kelompok ( tabung 1 dan tabung 2).

g. Menambahkan reagen Wagner pada tabung 1. Sedangkan tabung 2

merupakan blanko. Bandingkan tabung 1 dan tabung 2, kemudian

catat hasilnya.

2. Uji flavonoid

a. Menyiapkan sampel ekstrak sebanyak 1 ml dan tambahkan 2 ml

etanol absolut. Kemudian bagi tabung menjadi 2 kelompok.

b. Tabung 1 merupakan blanko. Sedangka tabung 2 diberikan

tambahan 2 tetes HCL pekat. Kemudian dihangat 15 menit dan

lihat perubahan warna larutan.

3. Uji Tanin

a. Menyiapkan 1 ml sampel ekstrak daun widuri dan tambahkan air

panas. Kemudian aduk dan dinginkan.

b. Menambahkan 5 tetes NaCl 10 % dan saring larutan.

(45)

c. Lihat perubahan yang terjadi ( hasil positif bila terbentuk endapan).

4. Uji saponin

a. Menyiapkan larutan ekstrak cair daun widuri yang masih segar

pada tabung reaksi. Kemudian dilakukan pengocokkan beberapa

kali pada tabung.

b. Adanya busa menunjukkan hasil positif.

c. Pe mb agian Kelo mp ok

Larutan yang telah dipersiapkan yang berisi ekstrak daun widuri

(Calotropis gigantea), dipindahkan kedalam kontainer yang telah

dipersiapkan dan dibagi menjadi 4 kelompok perlakuan secara merata.

Dengan pembagian sebagai berikut :

a. Kelompok A: ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 150 ppm.

b. Kelompok B: ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 300 ppm.

c. Kelompok C: ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 600 ppm.

d. Kelompok D : ekstrak daun widuri dengan konsentrasi 1200 ppm.

e. Kelompok Kontrol (+) : Abate konsentrasi 1 ppm.

f. Kelompok Kontrol (−) : tanpa pemberian perlakuan.

Dalam penelitian ini larutan ekstrak daun widuri dalam setiap kontainer

tidak diganti selama percobaan. Setiap konsentrasi dari kelompok percobaan

direplikasi lima kali.

Adapun banyaknya replikasi dalam bercobaan, didapatkan dengan

menggunakan rumus Federer dengan memperhitungkan banyaknya taraf

(46)

t (r – 1) ≥15

4 (r – 1) ≥ 15

4 r – 4 ≥ 15

r ≥ 4,75

Perhitungan diatas didapatkan dengan menggunakan empat taraf

konsentrasi, maka replikasi yang akan dilakukan sebanyak 5 kali.

Keterangan:

t: Banyaknya konsentrasi yang digunakan.

r: Jumlah pengulangan.

d. Pra P e m be rian Larvasi d a

1) Menyiapkan 6 gelas plastik (Kontrol (+), Kontrol (−), perlakuan 1,

perlakuan 2, perlakuan 3 dan perlakuan 4).

2) Masing-masing gelas plastik diberi akuades sebanyak 200 ml dan larva

sebanyak 25 larva.

e. Pelak san aan Pe mb eria n Larvasid a

1) Memasukan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) sebagai

larvasida dengan konsentrasi 150 ppm, 300 ppm, 600 ppm dan 1200

ppm kedalam masing-masing gelas plastik yang telah dilabel (perlakuan

1, perlakuan 2, perlakuan 3 dan perlakuan 4).

2) Memasukkan bubuk Abate 1 ppm kedalam gelas plastik kontrol (+).

3) Masukkan 25 larva pada tiap kelompok perlakuan.

(47)

1) Menghitung jumlah larva yang ada di permukaan dan dasar gelas

plastik dengan menjaringnya menggunakan kain putih yang sudah

disiapkan dan mencatatnya pada table hasil pengamatan.

2) Pengamatan kematian larva dilakukan pada selang waktu 1 jam, 2 jam,

3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam, dan 24 jam. Membandingkan jumlah

larva yang mati dalam 6 gelas plastik.

g. Data Yang Diku mpu lk an

Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer yang

didapat dari jumlah larva yang mati pada selang waktu 1 jam , 2 jam, 3 jam, 4

jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam, dan 24 jam pada setiap konsentrasi ekstrak daun

widuri. Data yang dikumpulkan dicatat didalam bentuk tabel. Larva yang

mati merupakan larva yang tenggelam ke dasar kontainer, tidak bergerak dan

tidak berespon terhadap rangsang

G. Valid itas d an Reli ab il itas

1. Validitas dijaga dengan :

a. Matching, yaitu dengan menyamakan kondisi larva nyamuk, yaitu larva

Aedes albopictus yang telah berumur 3-4 hari setelah penetasan.

Apabila tubuh larva telah berukuran 4-5 mm, kemudian memiliki

ciri-ciri seperti duri-duri dada mulai jelas dan corong pernapasan berwarna

(48)

b. Menggunakan kriteria standar dalam menilai kematian larva nyamuk

yaitu larva yang tenggelam ke dasar kontainer, tidak bergerak dan tidak

berespon terhadap rangsang.

2. Reliabilitas data dijaga dengan replikasi lima kali pada setiap kelompok

uji.

H. De fi nisi Oper asional V ariabe l

No Variabel

1. Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea

2. Larva Aedes albopictus instar III

3. Mortalitas Larva Aedes albopictus

4. LC50

(Lethal Consentration 50%)

I. Alur Pe nelitian

Ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)

Larva nyamuk Aedes albopictus instar III

(49)

J. Analisis Data

Data-data hasil yang telah diperoleh, dikelompokkan dan dimasukkan dalam

tabel dan diuji kemaknaannya dengan menggunakan Anova (Analysis of varians).

Untuk menghitung data yang diperoleh dari penelitian ini menggunakan analisis

repeated Anova atau Friedman, dengan terlebih dahulu dilakukan uji normalisasi

data yaitu uji Shapiro-wilk. Bila pada analisis repeated Anova atau Friedman

diperoleh hasil yang bermakna, Bila pada diperoleh hasil yang bermakna, maka

akan dilanjutkan dengan uji post-hoc Mann whitney dan uji korelasi Pearson atau

(50)

kadar konsentrasi efektive larvasida ditentukan dengan LC50 dengan

menggunakan analisis data yaitu Regresi linear atau Probit. Semua perangkat

analisis statistik menggunakan fasilitas SPSS dari Windows.

K. Ke ter batasan pe ne liti an

Adapun keterbatasan dari penelitian ini yaitu,

1. Penelitian ini tidak dilakukan uji fitokimia kuantitatif untuk mengukur

seberapa banyak kandungan zat alkaloid, saponin, flavonoid, dan tanin yang

terdapat pada daun widuri (Calotropis gigantea).

2. Metode ekstraksi yang digunakan adalah maserasi dengan pelarut etanol,

sehingga beberapa senyawa seperti tanin dan flavonoid tidak seluruhnya

tertarik keluar dari sel tanaman.

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. HASIL PENELITIAN

1. Uji Larvasida

Pada penelitian ini menggunakan empat konsentrasi ekstrak daun widuri

(51)

pengamatan 1 jam, 2 jam, 3 jam, 4 jam, 5 jam, 6 jam, 8 jam dan 24 jam. Adapun

empat konsentrasi tersebut adalah 150 ppm, 300 ppm, 600 ppm, 1200 ppm. Pada

penelitian ini juga menggunakan kontrol positif (Abate 1 ppm) dan kontrol negatif

(air tanpa perlakuan). Berikut hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus

yang didapatkan:

Tabel 4.1 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok

perlakuan.

Perlakuan

150 ppm

Perlakuan

300 ppm

(52)

1200 ppm

Sumber : Data Primer, 2014.

Tabel 4.1 memperlihatkan jumlah mortalitas larva Aedes albopictus per

satuan waktu pengamatan. Pada konsentrasi 150 ppm dan 300 ppm kematian larva

pertama terjadi pada waktu pengamatan 6 jam yaitu terdapat 1 larva yang mati

pada konsentrasi 150 ppm dan 2 larva yang mati pada 300 ppm, sedangkan pada

konsentrasi 600 ppm kematian larva pertama terjadi pada waktu pengamatan 4

jam yaitu terdapat 2 larva yang mati. Pada konsentrasi 1200 ppm pada 1 jam

pertama sudah memberikan efek larvasida pada larva Aedes albopictus, yaitu ada

3 larva yang mati.

Tabel 4.2 Hasil pengamatan mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok

perlakuan dan kontrol.

Perlakuan

(53)

Kontrol (-) (air tanpa perlakuan)

Sumber : Data Primer, 2014.

Pada tabel 4.2 menunjukkan pada kelompok kontrol positif kematian pertama

larva terjadi pada waktu pengamatan 1 jam yaitu sebanyak 57 larva mati,

sedangkan pada kontrol negatif kematian larva terjadi pada waktu pengamatan 24

jam yaitu sebanyak 8 larva. Adapun persentase rerata kematian larva Aedes

albopictus dalam 24 jam ditunjukkan pada tabel berikut:

Tabel 4.3 Persentase mortalitas larva Aedes albopictus pada kelompok

perlakuan dalam 24 jam.

Perlakuan

150 ppm 300 ppm 600 ppm 1200 ppm Abate 1 ppm

(54)

-Tabel 4.3 diatas menunjukkan bahwa kelompok perlakuan 150 ppm hanya

dapat memberikan persentase mortalitas larva sebesar 7,2%. Pada kelompok

perlakukan 300 ppm memberikan persentase mortalitas larva 9,6%. Sedangkan

pada kelompok perlakuan 600 ppm terdapat mortalitas larva 14,4% dan pada

perlakuan 1200 ppm memberikan persentase mortalitas sebesar 66,4%. Pada

kelompok positif dengan menggunakan abate 1 ppm, besar persentase yang

didapatkan adalah 100%. Sedangkan pada kelompok negatif besar persentase

yang didapatkan adalah 6,4%. Karena hasil persentase mortalitas kelompok

kontrol (-) besar dari 5 % dan kecil dari 20 %, maka akan dilakukan koreksi

mortalitas dengan menggunakan formula abbot. Adapun nilai korelasi mortalitas

untuk masing-masing perlakuann dapat dilihat pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Koreksi Persentase mortalitas larva Aedes albopictus dengan

menggunakan formula Abbot.

Perlakuan

150 ppm

(55)

600 ppm

1200 ppm

Sumber : Data Primer, 2014.

Tabel 4.4 menunjukkan koreksi persentase mortalitas pada kelompok

perlakuan dengan menggunakan formula abbot. Berikut adalah formula abbot:

Keterangan :

Untuk menentukan efektifitas daun widuri sebagai larvasida secara statistik.

Maka akan dilanjutkan dengan menganalisis data dengan uji repeated Anova,

namun sebelumnya harus dipenuhi terlebih dahulu dua syarat uji repeated Anova

yaitu dilakukan uji distribusi data, meliputi uji normalitas dan homogenitas data.

Uji distribusi data merupakan syarat untuk dilakukan uji repeated Anova harus

memiliki nilai normal (nilai p > 0,05). Adapun hasil uji normalitas data dengan

menggunakan uji Shapiro-Wilk yang didapatkan beberapa data memiliki nilai p <

0,05 (lampiran 1). Sehingga dapat diartikan normalitas data tidak normal. Setelah

(56)

namun nilai P pada beberapa data masih <0,05 (lampiran 1). Sehingga dapat

diambil kesimpulan bahwa distribusi data tidak normal. Karena syarat pertama uji

repeted Anova tidak terpenuhi, maka tidak dilanjutkan uji homogenitas.

Selanjutnya sebagai uji alternatif repeted Anova maka dilakukan non

parametrics test yaitu Friedman test. Hasil yang didapatkan adalah:

Tabel 4.5 Friedman test

perbedaan nilai rata-rata kematian larva pada kelompok setiap perlakuan.

Untuk mengetahui perbandingan hasil mortalitas larva antara kelompok

perlakuan, maka digunakan uji statistik Post-hoc Mann-Whitney. Hasil yang

didapatkan adalah:

Tabel 4. 6 Uji statistik perbandingan antar kelompok/konsentrasi (analisis

(57)

Tabel 4.6 menunjukkan hasil uji Post-hoc Mann-Whitney, hasil dikatakan

memiliki perbedaan yang bermakna bila nilai p < 0,05. Pada tabel 4.5

menunjukkan bahwa konsentrasi 150 ppm, 300 ppm dan 600 ppm memiliki

perbedaan bermakna dengan konsentrasi 1200 ppm dan Abate 1%, artinya setiap

kelompok perlakuan memiliki rata-rata mortalitas larva yang berbeda. Pada

konsentrasi 150 ppm tidak memiliki perbedaan yang signifikan dengan

konsentrasi 300 ppm dan 600 ppm. Konsentrasi 300 ppm juga tidak memiliki

perbedaan signifikan dengan 150 ppm dan 300 ppm.

Untuk menentukan adanya hubungan peningkatan konsentrasi dengan

mortalitas larva Aedes albopictus, maka dilakukan uji statistik korelasi Pearson.

Namun karena nilai distribusi data tidak normal (Lampiran 1), maka dilakukan uji

alternatif yaitu uji korelasi Spearman. Hasil yang didapatkan adalah:

Tabel 4.7 Uji korelasi Spearman

Korelasi Spearman

Correlation Coefficient Sig.2 (2-tailed)

Sumber : Data Primer, 2014.

Tabel 4.7 memperlihatkan nilai korelasi Spearman yang dimiliki konsentrasi

pada tiap waktu pengamatan. Pada waktu pengamatan 1 jam nilai p yang

didapatkan adalah 0,10. Artinya nilai p > 0,05 dan kekuatan korelasi 0,564. Nilai

ini menunjukkan arah korelasi negatif (tidak bermakna) dan kekuatan korelasi

(58)

jam dan 24 jam semua nilai p < 0,05. Nilai ini menunjukkan arah korelasi positif

atau terdapat korelasi bermakna antara variabel yang diteliti. Kekuatan korelasi

pada waktu pengamatan 2 jam dan 3 jam adalah 0,668 artinya kekuatan korelasi

kuat. Pada waktu pengamatan 4 jam nilai kekuatan korelasi dalah 0,708 dan pada

waktu pengamatan 6 jam adalah 0,719. Kedua nilai ini menunjukkan kekuatan

korelasi kuat. Sedangkan nilai kekuatan korelasi pada waktu pengamatan 8 jam

adalah 0,675 dan pada waktu pengamatan 24 jam adalah 0,758. Kedua nilai ini

juga menunjukkan kekuatan korelasi kuat antara variabel konsentrasi dan

mortalitas larva per satuan waktu. Hal ini menunjukkan terdapat hubungan antara

peningkatan konsentrasi terhadap mortalitas larva Aedes albopictus.

Analisis data selanjutnya adalah regresi Probit untuk menentukan efektivitas

konsentrasi daun widuri (Calotropis gigantea) yang membuat mortalitas larva

50% atau lethal consentration 50% (LC50). Adapun nilai LC50 yang didapatkan

adalah:

Tabel 4.8 Nilai analisis Probit LC50 ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)

LC50 (ppm)

Sumber : Data Primer, 2014.

Pada tabel diatas menunjukkan konsentrasi efektif ekstrak daun widuri

(Calotropis gigantea) yang membuat mortalitas larva nyamuk Aedes albopictus

sebesar 50% adalah 1117,530 ppm.

2. Uji Fitokimia

Pada penelitian ini dilakukan uji fitokimia ekstrak daun widuri (Calotropis

(59)

pada ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea). Adapun hasil uji fitokimia yang

didapatkan menunjukkan hasil positif pada alkaloid dan saponin. Hasil positif

alkaloid ditunjukkan dengan terdapatnya endapan dan saponin hasil positifnya

ditunjukkan dengan adanya busa, sedangka flavonoid dan tanin menunjukkan

hasil negatif.

Tabel 4.9 Uji fitokimia ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)

No Nama senyawa

1. 2.

3. Flavonoid

4. Sumber : Data Primer, 2014.

Gambar 7. Hasil Uji Identifikasi Fitokimia, (a) Alkaloid positif (b) Saponin

positif (c) Tanin negatif (d) Flavonoid negatif

B. PEMBAHASAN

Aedes albopictus adalah vektor penular demam berdarah dengue. Jika

(60)

rumah yang tidak berhubungan dengan tanah, Aedes albopictus berkembang biak

di lubang-lubang pohon, drum, dan ban bekas yang terdapat di luar rumah (Hadi,

2012).

Salah satu upaya pengendalian vektor DBD dilakukan dengan cara

memutuskan rantai penularan yaitu dengan penggunaan insektisida, baik dengan

cara penyemprotan atau larvasida (Sukowati, 2010). Widuri (Calotropis gigantea)

merupakan salah satu tanaman yang memiliki potensi menjadi larvasida alami

karena adanya kandungan alkaloid, saponin, flavonoid, tanin, saponin (Seniya et

al., 2011).

Dalam penelitian Shreya et al. (2012) melaporkan efek larvasida daun widuri

(Calotropis gigantea) terhadap larva nyamuk Aedes aegepty dan dapat digunakan

dalam program pengendalian vektor nyamuk DBD. Pada penelitian lainnya oleh

Kumar et al. (2012) juga melaporkan bahwa daun widuri (Calotropis gigantea)

dapat memberikan efek larvasida terhadap larva nyamuk Culex sp.

Penelitian ini dimulai dengan membuat simplisia kering daun widuri dengan

cara melakukan penjemuran pada daun widuri hingga kadar air berkurang 90%.

Kemudian simplisia kering dijadikan serbuk kering untuk memudahkan proses

penarikan senyawa kimia yang berada didalam daun widuri. Proses selanjutnya

adalah pembuatan ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dengan metode

maserasi. Metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96% merupakan metode

ekstraksi yang paling sederhana dengan cara merendam simplisia kering dengan

cairan penyari (etanol 96%) selama 3x24 jam, setelah itu akan dilakukan

(61)

dengan menggunakan rotary evaporator sehingga didapatkan ekstrak kental

(Syamsuni, 2006).

Setelah didapatkan ekstrak kental daun widuri (Calotropis gigantea), maka

selanjutnya dilakukan uji fitokimia. Pada uji fitokimia yang dilakukan dalam

penelitian ini ada empat senyawa yang diujikan dan dilakukan dengan pendekatan

kualilalif. Hasil uji fitokimia yang didapatkan terdapat reaksi positif untuk

senyawa alkaloid dan saponin pada ekstrak etanol daun widuri (Calotropis

gigantea).

Pengujian alkaloid dilakukan dengan menggunakan reagen Wagner dan hasil

positif ditunjukkan dengan adanya endapan pada larutan ekstrak, sedangkan

untuk hasil positif saponin ditunjukkan dengan adanya busa pada saat larutan

ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea) dikocok beberapa kali.

Pada penelitian ini juga dilakukan pengujian tanin dan flavonoid. Pengujian

tanin dilakukan dengan cara mereaksikan ekstrak daun widuri (Calotropis

gigantea) dengan gelatin, hasil positif ditunjukkan dengan terbentuknya endapan

dan pada uji fitokimia yang dilakukan menunjukkan hasil negatif (tidak terbentuk

endapan). Pengujian flavonoid, dilakukan dengan cara mereaksikan ekstrak daun

widuri (Calotropis gigantea) dengan HCL pekat, hasil positif ditunjukkan dengan

terjadinya perubahan warna larutan menjadi violet. Namun pada pengujian

fitokimia pada penelitian ini memberikan hasil negatif (warna larutan tetap hijau).

Hasil negatif untuk senyawa tanin dan flavonoid dipengaruhi oleh teknik ekstraksi

yang digunakan dan kandungan senyawa kimia dalam bagian tanaman yang

Gambar

Gambar 2.Gambaran garis vertikal di bagian dorsal toraks Aedes
Gambar 3. Daur hidup nyamuk Aedes albopictus (CDC,2010).
Gambar 4. Kerangka teori (Fuadzy et al., 2012)
Tabel 4.9  Uji fitokimia ekstrak daun widuri (Calotropis gigantea)

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini adalah ekstrak daun pepaya (Carica papaya L.) berpotensi sebagai larvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III, dan konsentrasi ekstrak

Beberapa langkah yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu yang pertama preparasi sampel, yang kedua ekstraksi serbuk daun widuri (Calotropis gigantea) dengan pelarut

Telah dilakukan penelitian tentang daya larvasida ekstrak etanol dan fraksi n-heksan daun mimba (Azadirachta indica Juss.) hasil maserasi kinetik terhadap larva nyamuk.. Aedes

sebagai larvasida Aedes aegypti pada kelompok kontrol negatif tidak didapat adanya kematian larva karena tidak mengandung bahan uji ekstrak daun lidah buaya

efek ekstrak daun pandan wangi juga terhadap larva nyamuk Aedes aegypti sebagai larvasida, didapatkan bahwa pandan wangi memiliki efek larvasida dengan konsentrasi 5%, 2,5%,

Untuk mengetahui efek larvasida ekstrak etanol daun Jeruk Bali (Citrus maxima) terhadap larva Aedes aegypti dan mengetahui hubungan antara peningkatankonsentrasi

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas larvasida ekstrak daun bandotan ( Ageratum conyzoides L.) dan bunga kenanga (Cananga odorata L.) pada larva nyamuk Aedes

Ekstrak etanol daun jambu monyet (Anacardium occidentale) memiliki efek larvasida terhadap larva Aedes aegypti instar III/IV.. Peningkatan konsentrasi ekstrak etanol