• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 45-58)

Penelitian ini telah dilakukan untuk mengkaji proses biodegradasi magnesium ECAP dalam perendaman cairan fisiologis. Pada setiap sampel dilakukan perhitungan laju biodegradasi, evolusi gas hidrogen, dan gambaran pola biodegradasi pada perendaman larutan DMEM pada hari ke-1,2,3,5,7, dan 14 seperti pada diagram berikut.

Gambar 5.1 Distribusi Laju biodegradasi magnesium berdasarkan metode weight loss

Pada gambar 5.1 terdapat gambaran laju biodegradasi berdasarkan metode weight loss. Terlihat bahwa laju biodegradasi yang tertinggi terjadi pada hari ke-3 baik pada sampel magnesium ECAP (3,095 mm/tahun) ataupun magnesium murni (6,495 mm/tahun), dan mulai stabil pada hari ke-5 hingga hari ke-14.

Gambar 5.2 Distribusi Laju biodegradasi magnesium berdasarkan spektrometri

Pada gambar 5.2 didapatkan laju biodegradasi pada hari perendaman berdasarkan metode spektrometri. Terlihat terjadi penyilangan pada hari ke-2 antara laju biodegradasi magnesium ECAP dan magnesium murni.

29

Universitas Indonesia

Tabel 5.1 Sebaran dan uji normalitas data nilai dari masing-masing sampel

Kelompok N Mean ± SD Minimum Maksimum Nilai p*

Keterangan: * uji normalitas Shapiro-Wilk p>0,05

Rate1ECAP=Laju biodegradasi magnesium ECAP dengan metode weight loss Rate1Kontrol=Laju biodegradasi magnesium murni dengan metode weight loss Rate2ECAP= biodegradasi magnesium ECAP dengan metode spektrometri Rate2Kontrol=Laju biodegradasi magnesium murni dengan metode spektrometri HydroEvoECAP=Tingkat evolusi hidrogen magnesium ECAP

HydroEvoKontrol=Tingkat evolusi hidrogen magnesium murni

Pada tabel 5.1 menunjukan rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP dengan menggunakan metode weight loss adalah 1,86±0,7 mm/tahun dengan rentang pengukuran yang bervariasi antara 1,25-3,09 mm/tahun. Rata-rata laju biodegradasi magnesium murni dengan menggunakan metode weight loss adalah 3,769±1,74 mm/tahun dengan rentang pengukuran yang bervariasi antara 1,74-6,50 mm/tahun. Rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP dengan menggunakan metode spektrometri adalah 2,885±1,79 mm/tahun dengan rentang pengukuran yang bervariasi antara 1,28-5,85 mm/tahun. Rata-rata laju biodegradasi magnesium murni dengan menggunakan metode spektrometri adalah 4,477±1,61 mm/tahun dengan rentang pengukuran yang bervariasi antara 2,41-6,42 mm/tahun. Rata-rata tingkat evolusi hidrogen magnesium ECAP adalah 1,123±0,68 ml/cm2/hari dengan rentang pengukuran yang bervariasi antara 0,47-2,25 ml/cm2/hari. Rata-rata tingkat evolusi hidrogen magnesium murni adalah 1,954±0,64 ml/cm2/hari dengan rentang pengukuran yang bervariasi antara 1,10-2,67 ml/cm2/hari. Berdasarkan perhitungan uji normalitas data menggunakan Shapiro-Wilk didapatkan data berdistribusi normal (p>0,05) pada setiap kelompok data.

Setelah dilakukan uji normalitas data, maka dilanjutkan dengan melakukan uji outlier dengan menggunakan uji Nalimov, dengan tujuan untuk mengeluarkan data pencilan yang menyimpang dari ditribusi data.

30

Universitas Indonesia

Tabel 5.2 Analisis Outlier pada pengukuran laju biodegradasi Magnesium ECAP menggunakan metode weight loss

Pengukuran Urutan Data Data tanpa nilai terbesar Data tanpa nilai terbesar 2

1 1,253 1,253 1,253

x-bar 1,860333333 1,6154 1,44525

SD 0,700618203 0,40452416 0,15868076

PW terkecil 0,95 1,001 1,398

PW terbesar 1,917 1,881 1,3444

Nilai tabel 1 1,816 - -

Nilai tabel 2 - 1,758 -

Nilai tabel 3 - - 1,644

Keterangan: * uji outlier nalimov nilai PW < Nilai Tabel (p<0,05)

PW= [ |X*-X-bar|/SD] x [ N /(N-1)]1/2 (nilai terbesar dan terkecil)

Pada uji nalimov terhadap data laju biodegradasi magnesium ECAP dengan menggunakan metode weight loss didapatkan dua buah data outlier yang harus dieksklusikan, setelah itu didapatkan rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP dengan metode weight loss adalah 1,45±0,16 mm/tahun.

Tabel 5.3 Analisis Outlier pada pengukuran laju biodegradasi Magnesium murni menggunakan metode weight loss

Keterangan: * uji outlier nalimov nilai PW < Nilai Tabel (p<0,05)

PW= [ |X*-X-bar|/SD] x [ N /(N-1)]1/2 (nilai terbesar dan terkecil)

Pada uji nalimov terhadap data laju biodegradasi magnesium murni dengan menggunakan metode weight loss tidak didapatkan adanya data outlier.

31

Universitas Indonesia

Tabel 5.4 Analisis Outlier pada pengukuran laju biodegradasi Magnesium ECAP menggunakan metode spektrometri

Pengukuran Urutan Data Data tanpa nilai terbesar Data tanpa nilai terbesar 2

1 1,284 1,284 1,284

x-bar 2,88516667 2,2914 1,81075

SD 1,78801526 1,16277977 0,5124252

PW terkecil 0,9805 0,9686 1,18698

Pw terbesar 1,81816 1,84855 1,06422

Nilai tabel 1 1,816 - -

Nilai tabel 2 - 1,758 -

Nilai tabel 3 - - 1,644

Keterangan: * uji outlier nalimov nilai PW < Nilai Tabel (p<0,05)

PW= [ |X*-X-bar|/SD] x [ N /(N-1)]1/2 (nilai terbesar dan terkecil)

Pada uji nalimov terhadap data laju biodegradasi magnesium ECAP dengan menggunakan metode spektrometri didapatkan dua buah data outlier yang harus dieksklusikan, setelah itu didapatkan rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP dengan metode spektrometri adalah 1,81±0,51 mm/tahun.

Tabel 5.5 Analisis Outlier pada pengukuran laju biodegradasi Magnesium murni menggunakan metode spektrometri

Keterangan: * uji outlier nalimov nilai PW < Nilai Tabel (p<0,05)

PW= [ |X*-X-bar|/SD] x [ N /(N-1)]1/2 (nilai terbesar dan terkecil)

Pada uji nalimov terhadap data laju biodegradasi magnesium murni dengan menggunakan metode spektrometri tidak didapatkan adanya data outlier.

32

Universitas Indonesia

Tabel 5.6 Analisis Outlier pada pengukuran Evolusi Hidrogen Magnesium ECAP Pengukuran Urutan Data

Keterangan: * uji outlier nalimov nilai PW < Nilai Tabel (p<0,05)

PW= [ |X*-X-bar|/SD] x [ N /(N-1)]1/2 (nilai terbesar dan terkecil)

Pada uji nalimov terhadap data evolusi hidrogen magnesium ECAP tidak didapatkan adanya data outlier.

Tabel 5.7 Analisis Outlier pada pengukuran Evolusi Hidrogen Magnesium Murni Pengukuran Urutan Data

Keterangan: * uji outlier nalimov nilai PW < Nilai Tabel (p<0,05)

PW= [ |X*-X-bar|/SD] x [ N /(N-1)]1/2 (nilai terbesar dan terkecil)

Pada uji nalimov terhadap data evolusi hidrogen magnesium murni tidak didapatkan adanya data outlier.

33

Universitas Indonesia

Tabel 5.8 Analisis perbedaan laju biodegradasi dan evolusi hidrogen antara magnesium ECAP dan magnesium murni

HydroEvoECAP x HydroevoKontrol 12 -0,846 -1,679 -0,135 0,047 Keterangan: * uji T tidak berpasangan p<0,05

Rate1ECAP=Laju biodegradasi magnesium ECAP dengan metode weight loss Rate1Kontrol=Laju biodegradasi magnesium murni dengan metode weight loss Rate2ECAP= biodegradasi magnesium ECAP dengan metode spektrometri Rate2Kontrol=Laju biodegradasi magnesium murni dengan metode spektrometri HydroEvoECAP=Tingkat evolusi hidrogen magnesium ECAP

HydroEvoKontrol=Tingkat evolusi hidrogen magnesium murni

Analisis statistik menggunakan uji T tidak berpasangan pada data laju biodegradasi dengan metode weight loss (tabel 5.8) menunjukan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara magnesium ECAP dengan magnesium murni (p<0,05). Pada tabel 5.2 tampak bahwa nilai rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP adalah 1,45±0,16 mm/tahun dibandingkan dengan magnesium murni sebagai kontrol sebesar 3,769±1,74 mm/tahun (tabel 5.3), sehingga dapat disimpulkan bahwa laju biodegradasi magnesium ECAP lebih baik dengan magnesium murni dengan beda rerata 2,324 mm/tahun (tabel 5.8). Maka hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara laju biodegradasi antara magnesium ECAP dengan magnesium murni pada larutan DMEM, diterima.

Pada tabel 5.8 juga menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara laju biodegradasi magnesium ECAP dengan magnesium murni dengan menggunakan metode spektrometri (p<0,05). Pada tabel 5.4 tampak bahwa nilai rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP adalah 1,81±0,51 mm/tahun dibandingkan dengan magnesium murni sebesar 4,477±1,61 mm/tahun (tabel 5.5), sehingga dapat disimpulkan bahwa laju biodegradasi magnesium ECAP lebih baik dengan magnesium murni dengan beda rerata 2,666 mm/tahun (tabel 5.8). Maka hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan antara laju biodegradasi antara magnesium ECAP dengan magnesium murni pada larutan DMEM, diterima.

Kemudian analisis statistik juga menunjukan terdapat perbedaan bermakna antara tingkat evolusi hidrogen magnesium ECAP dengan magnesium murni (p<0,05). Pada tabel 5.6 tampak bahwa nilai rata-rata evolusi hidrogen

34

Universitas Indonesia magnesium ECAP adalah 1,123±0,68 ml/cm2/hari dibandingkan dengan magnesium murni sebesar 1,954±0,64 ml/cm2/hari (tabel 5.7), sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat evolusi hidrogen magnesium ECAP lebih baik dengan magnesium murni dengan beda rerata 0,846 ml/cm2/hari (tabel 5.8). Maka hipotesis yang menyatakan bahwa terdapat perbedaan tingkat evolusi hidrogen antara magnesium ECAP dengan magnesium murni pada larutan DMEM, diterima.

Tabel 5.9 Analisis perbedaan pengukuran laju biodegradasi antara metode weight loss dan spektrometri

Kelompok N Beda rerata 95% CI Nilai p*

Minimum maksimum

BioRate1 x BioRate2 12 -0,494 -1,957 -0,968 0,45

Keterangan: * uji T berpasangan p<0,05

BioRate1=Laju biodegradasi dengan metode weight loss BioRate2=Laju biodegradasi dengan metode spektrometri

Dari hasil analisis pengukuran laju biodegradasi dengan menggunakan metode weight loss dan metode spektrometri dilakukan analisis statistik SPSS menggunakan uji T berpasangan untuk melihat perbedaan penilaian antara kedua metode tersebut (tabel 5.9). Pada pengukuran magnesium ECAP dan magnesium murni didapatkan hasil uji tidak bermakna dengan nilai p=0,45 (p>0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan secara statistik dalam pengukuran laju biodegradasi antara metode weight loss dengan metode spektrometri.

Pada sampel penelitian juga dilakukan analisis untuk gambaran pola degradasi dari magnesium ECAP yang akan dilihat dalam struktur makro dan struktur mikro. Pada penilaian struktur makro setelah perendaman, secara garis besar pada sampel magnesium ECAP didapatkan gambaran yang homogen dan lebih halus bila dibandingkan dengan sampel magnesium murni sebagai kontrol (gambar 5.3).

35

Universitas Indonesia

Gambar 5.3 Gambaran struktur Makro

Pada hasil uji struktur mikro pada magnesium ECAP didapatkan gambaran pola biodegradasi yang homogen dengan ketebalan lapisan film pasif yang bervariasi (gambar 5.4). Pada hari ke-1 didapatkan ketebalan 5,7μm, sedangkan hari ke-3 sebesar 65,7μm, pada hari ke-7 sebesar 45,7μm, dan hari ke-14 sebesar 92,8μm.

Gambar 5.4 Gambar struktur Mikro

36 Universitas Indonesia BAB 6

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk menilai proses biodegradasi magnesium ECAP sebagai salah satu material yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai biomaterial implan tulang di bidang bedah mulut maksilofasial. Dengan melalui proses ECAP, sebuah material akan mengalami penurunan ukuran butir sehingga sifat fisiknya akan meningkat, termasuk juga ketahanan terhadap korosi. Op’t Hoog, dkk (2008) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa proses ECAP pada material magnesium akan menghasilkan struktur butir yang baik dan homogen dengan ukuran rata-rata butir 16,9 μm.10 Sedangkan pada penelitian Karayan, dkk (2011) menyatakan bahwa magnesium murni yang telah melalui proses ECAP akan mengalami perbaikan butir dari 700 μm menjadi 10 μm dengan homogen.

Ben Hamu,dkk (2009) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa proses ECAP merupakan metode yang efektif dalam memperkecil ukuran butir, sehingga memperbaiki struktur mikro dan sifat korosi paduan logam magnesium.29 Ralston dan Birbilis (2010) melakukan tinjauan mengenai efek ukuran butir terhadap korosi, bahwa semakin kecil ukuran butir maka resistensi korosi magnesium akan semakin baik. Magnesium yang telah melalui proses ECAP akan memiliki ketahanan korosi yang lebih baik bila dibandingkan dengan magnesium yang dihasilkan dari metode prosesing lain, khususnya dengan surface mechanical attrition treatments (SMAT).11 Wang, dkk (2008) dalam penelitiannya menyatakan bahwa proses mekanis seperti ECAP dan hot rolling dapat mengurangi ukuran butir secara signifikan dan merupakan salah satu cara yang efektif dalam mengurangi korosi ekstensif magnesium sebagai material implan biodegradable.

Keuntungan lain dari metode ini ialah meningkatkan sifat mekanis dan resistensi fatigue yang juga diperlukan untuk sebuah material implan.30

Sampel magnesium yang digunakan dalam penelitian ini direndam dalam wadah yang berisi larutan DMEM. Larutan ini merupakan larutan fisiologis yang mengandung komponen organik dan inorganik sehingga diharapkan memberikan simulasi pseudo-fisiologis seperti dalam tubuh manusia. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Xin, dkk (2011) yang meneliti mengenai pemilihan cairan untuk

37

Universitas Indonesia penelitian in vitro dengan membandingkan beberapa jenis cairan pseudo-fisiologis. Kesimpulannya adalah larutan DMEM memiliki komposisi yang hampir menyerupai plasma darah dan merupakan cairan yang paling baik untuk melakukan penelitian magnesium biomedis secara in vitro.4

Penelitian ini dilakukan secara in vitro karena merupakan penelitian awal untuk melihat proses biodegradasi dari magnesium ECAP, selain dari itu pada penelitian ini variabel-variabel yang berpengaruh seperti waktu perendaman, suhu, volume, derajat keasaman dari larutan dapat dikontrol. Keuntungan dari model penelitian ini adalah kesederhanaan alat yang digunakan, kemudahan dalam pengukuran hasil, dan proses pengujian dapat diamati dengan mudah.

Kekurangan dari metode ini adalah tidak dapat secara keseluruhan mendapatkan gambaran simulasi kondisi nyata secara in vitro, karena terdapat banyak faktor lain yang sulit untuk diterapkan secara in vitro seperti kondisi hidrodinamik jaringan sekitar, pengaruh beban mekanis terhadap laju biodegradasi, dan serta peran mikroorganisme dalam tubuh.

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan bermakna antara laju biodegradasi magnesium ECAP dengan magnesium murni sebagai kontrol (tabel 5.8). Pada penelitian ini setelah dilakukan uji outlier nalimov didapatkan rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP adalah 1,45 – 1,81 mm/tahun sedangkan magnesium kontrol memiliki nilai 3,769 – 4,47 mm/tahun.

Laju biodegradasi magnesium ECAP memiliki nilai yang lebih baik sekitar dua kali bila dibandingkan dengan magnesium murni, baik dengan menggunakan metode weight loss maupun metode spektrometri. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian op’t Hoog, dkk (2008) yang menunjukan bahwa proses ECAP dapat meningkatkan resistensi korosi secara signifikan, secara spesifik tingkat korosi setelah melalui proses ECAP lebih rendah kurang lebih dua kali bila dibandingkan sebelumnya.10

Hasil penelitian ini menunjukan rata-rata laju biodegradasi magnesium ECAP adalah 1,45 – 1,81 mm/tahun (tabel 5.2 dan tabel 5.4). Hasil ini memberikan gambaran thickness loss rate dari area permukaan sampel per tahun yang terpapar. Apabila sebuah miniplate dengan ketebalan 2 mm dibuat dari material magnesium ECAP dengan diasumsikan kondisi fisiologis yang serupa

38

Universitas Indonesia dengan penelitian ini, maka dapat diperkirakan lama waktu biodegradasinya berkisar antara 12-18 bulan, sehingga diharapkan implan dengan material magnesium ECAP dapat bertahan hingga tercapainya proses penyembuhan rahang.

Pada penelitian ini dalam pengukuran menggunakan metode weight loss didapatkan laju biodegradasi tertinggi terjadi pada hari ke-3 perendaman, pada magnesium ECAP laju yang tertinggi adalah 3,09 mm/tahun, dan pada sampel magnesium murni dengan nilai 5,42 mm/tahun (gambar 5.1). Sedangkan pada metode spektrometri, laju biodegradasi tertinggi terjadi pada hari pertama pada magnesium murni dan pada magnesium ECAP terjadi pada hari ke-2 (gambar 5.2). Hasil ini sesuai dengan beberapa penelitian sebelumnya, salah satunya diungkapkan oleh Wang dan Shi (2011) bahwa laju biodegradasi akan tinggi pada beberapa hari pertama dan kemudian laju biodegradasi akan mulai stabil.2

Pada gambar 5.2 didapatkan pada hari ke-2 laju biodegradasi magnesium ECAP lebih tinggi bila dibandingkan dengan laju biodegradasi magnesium murni dengan nilai 5,584 mm/tahun berbanding 3,041 mm/tahun. Hasil ini bertentangan dengan yang terjadi pada keseluruhan sampel, kemungkinan disebabkan oleh kesalahan ketika proses perendaman, dimana kemungkinan telah terjadi kontaminasi dari mikroorganisme, sehingga merusak komponen organik dari larutan DMEM seperti glukosa, dan menghasilkan sifat asam. Hal ini akan menyebabkan peningkatan laju biodegradasi dari magnesium. Walaupun pada penelitian ini telah dilakukan penyesuaian derajat keasaman (pH) setiap 24 jam, akan tetapi pada sampel tersebut diperkirakan telah terjadi percepatan laju biodegradasi. Virtanen (2011) dalam tinjauannya mengenai sifat korosi dan biokompatibilitas bahan magnesium mengungkapkan bahwa pH jaringan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi kecepatan biodegradasi dari material berbahan dasar magnesium. Selain dari pH, terdapat beberapa hal lain yang juga mempengaruhi sifat biodegradasi seperti suhu tubuh, kondisi hidrodinamik, kadar oksigen, dan kadar ion inorganik, terutama ion clorida.17

Pada penelitian ini, untuk menguji laju biodegradasi dari magnesium digunakan dua metode, yaitu metode weight loss dan metode spektrometri. Dari hasil uji T berpasangan, tidak ditemukan perbedaan bermakna diantara kedua

39

Universitas Indonesia metode tersebut dalam mengukur laju biodegradasi (tabel 5.9). Sehingga dapat disimpulkan kedua metode ini dapat digunakan untuk menilai laju biodegradasi dari magnesium.

Pada tabel 5.8 didapatkan adanya perbedaan tingkat evolusi hidrogen yang signifikan antara magnesium ECAP dengan magnesium murni sebagai kontrol.

Hasil ini menunjukan dengan menurunnya laju biodegradasi maka akan berbanding lurus dengan tingkat evolusi hidrogen yang dihasilkan. Hal ini dikarenakan proses biodegradasi dari magnesium merupakan sebuah proses korosi. Pada proses korosi akan terjadi sepasang reaksi, yaitu reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Pada proses korosi magnesium, reaksi reduksi inilah terjadi pelepasan gas hidrogen, jumlah gas hidrogen yang dilepas akan setara dengan jumlah pelepasan ion magnesium.17 Kesetaraan inilah yang menjadi dasar perhitungan evolusi hidrogen berdasarkan total magnesium yang dilepaskan dari sampel dan ditentukan secara spektrometri absorpsi atom.

Pada penelitian ini, didapatkan tingkat evolusi hidrogen magnesium ECAP sebesar 1,123 ml/cm2/hari (tabel 5.8). Witte, dkk (2005) pada penelitian in vitro mengenai efek gas hidrogen paduan logam magnesium pada marmut, menemukan setiap implan paduan logam magnesium menghasilkan gelembung gas pada jaringan subkutaneus yang terlihat dengan jelas secara klinis maupun radiografis.

Gelembung udara ini muncul pada minggu pertama setelah tindakan pembedahan, dan akan hilang pada minggu ke-2 atau minggu ke-3 setelah pembedahan, dan tidak ditemukan adanya efek samping yang terjadi akibat gelembung gas ini pada marmut.31 Witte, dkk (2008) dalam penelitiannya yang lain menyatakan bahwa kelarutan hidrogen pada jaringan dipengaruhi oleh beberapa hal seperti kadar lemak, protein, dan garam. Selain itu komponen lokal seperti kadar air dan aliran darah pada jaringan juga mempengaruhi. Pada penelitian dengan menggunakan tikus sebagai hewan coba, didapatkan tingkat penyerapan gas hidrogen dari kantung gas subkutaneus dibatasi oleh koefisien difusi hidrogen pada jaringan, dimana laju penyerapan hidrogen secara umum adalah sebesar 0,954 ml/jam. Oleh karena itu berdasarkan asumsi Witte, dkk (2008) kavitas hidrogen lokal terbentuk apabila jumlah hidrogen yang diproduksi dalam satuan waktu lebih tinggi bila

40

Universitas Indonesia dibandingkan jumlah yang dapat larut pada jaringan sekitarnya dan menyebar pada medium ekstraselular.32

Pada penelitian ini gambaran pola biodegradasi didapatkan dengan menggunakan analisis struktur permukaan. Pada analisis permukaan makro didapatkan permukaan sampel magnesium ECAP terlihat rata dan homogen bila dibandingkan dengan magnesium murni sebagai kontrol. Pada magnesium kontrol terlihat permukaan masih terlihat rata hanya hingga hari kedua perendaman, dan permukaan mulai terlihat tidak rata pada hari ketiga dan semakin tampak jelas seiring dengan waktu perendaman. Pada analisis permukaan mikro magnesium ECAP didapatkan bahwa pola biodegradasi pada permukaan terlihat homogen dengan ketebalan lapisan pasif film yang bervariasi. Wang, dkk (2008) dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa dengan proses mekanis seperti ECAP dan hot rolling maka pola korosi lokal seperti pitting akan berkurang secara signifikan dan pola homogen akan menjadi proses korosi yang dominan.30 Virtanen (2008) menyatakan pada umumnya paduan logam magnesium jarang mengalami proses korosi secara homogen, karena pada dasarnya elemen yang digunakan untuk paduan logam lebih mulia bila dibandingkan dengan magnesium sehingga menghasilkan korosi galvanik. Proses korosi yang tidak homogen dapat berbahaya apabila material tersebut sudah menjadi sebuah produk (contoh: plate dan screw), khususnya ketika berada dalam beban mekanis, karena dapat menyebabkan kehilangan integritas mekanis.17 Oleh karena itu pola biodegradasi yang homogen dari magnesium ECAP merupakan salah satu kelebihan bila dibandingkan dengan paduan logam magnesium.

Pada penelitian ini terdapat beberapa keterbatasan yang memungkinkan untuk dilakukan penelitian yang lebih mendalam, antara lain pada penelitian ini hanya menggambarkan simulasi laju biodegradasi secara in vitro, dimana dalam dalam kenyataannya pada tubuh manusia terdapat lebih banyak variabel yang berpengaruh terhadap laju biodegradasi. Pada penelitian ini menggunakan larutan DMEM yang memiliki komposisi organik, sehingga apabila terkontaminasi oleh bakteri akan terjadi penurunan derajat keasaman sehingga akan mempengaruhi hasil laju biodegradasi.

41 Universitas Indonesia BAB 7

Dalam dokumen UNIVERSITAS INDONESIA (Halaman 45-58)

Dokumen terkait