BAB II KAJIAN TEORI
B. Hasil Penelitian yang Relevan
Hasil dari tinjauan yang telah penuls temukan ada beberapa contoh skripsi dan penelitian yang relevan dengan penelitian ini. Beberapa penelitian tersebut akan dijelaskan di bawah ini:
Skripsi “Pengaruh Pendidikan Agama Islam Terhadap Pembentukan
Akhlak Siswa di SMP YPI Cempaka Putih Bintaro.” Penulis Yusrina,
mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Tujuan penelitiannya adalah untuk menelaah pengaruh pendidikan Agama Islam terhadap akhlak anak didik di SMP YPI Cempaka Putih Bintaro. Penelitian ini dibandingkan dengan penelitian yang saya lakukan memiliki satu sisi persamaan yakni dalam membentuk Akhlak Anak. Adapun hasil penelitian yang dapat disimpulkan adalah tidak adanya pengaruh nilai mata pelajaran PAI terhadap pembentukan akhlak di SMP YPI Cempaka Putih Bintaro, baik yang mendapatkan nilai tertinggi maupun yag mendapatkan nilai terendah. Semua pengaruh ini tidak terlepas dari peran aktif sekolah atau guru PAI yang menanamkan nilai-nilai agama di dalam diri siswanya, dengan harapan agar terbentuknya akhlak dan tingkah laku yang baik sehingga dapat direapkan dalam kehidupan sehari-hari. Skripsi “Upaya Pengembangan Kecerdasan Interpersonal Siswa Dalam Pembelajaran Agama Islam (Studi Kasus SD Madania Indonesian School
With World Class Standard).” Penulis Sofyan Adenansi, mahasiswa jurusan
Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Tujuan penelitian mengkaji konsep dan implementasi pengembangan kecerdasan interpersonal siswa dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Kecerdasan interpersonal adalah bagian dari kecerdasan majemuk yang merupakan salah satu nilai dalam sekolah peradaban. Setelah diteliti olehnya, ternyata materi pembelajaran PAI khususnya yang berhubungan dengan aspek akhlak sudah mengandung
kecerdasan interpersonal. Contohnya materi tentang akhlak terpuji, akhlak tercela serta materi tentang tata cara mengurus jenazah.
Skripsi “Hubungan Hasil Belajar Akidah Akhlak Dengan Akhlak Siswa
(Studi Kasus Di Mts Darul Muttaqien Parung Bogor).” Penulis Nur Awalia
F.R mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan hasil belajar akidah akhlak dengan akhlak siswa. Pelajaran akidah akhlak merupakan salah satu materi yang diajarkan di sekolah, yang mana berisi muatan-muatan materi yang berisi nilai-nilai akhlak di dalamnya. Mata pelajaran ini mempunyai harapan pada output siswa yang memiliki akidah yang kuat dan berkahlak mulia. Setelah diteliti olehnya, antarahasil belajar akidah akhlak dengan akhlak siswa MTs Darul Muttaqien, terdapat hubungan naumn sangat lemah. Saran yang diharapkan adalah mata pelajaran akidah akhlak ini siswa harus benar-benar mempraktekkan materi yang telah didapatkannya, karen adengan mempraktekkan materi yang telah dipelajari maka siswa telah melatih dirinya untuk berbuat baik, dan secara tidak langsung ini merupakan pembinaan akhlak.
Skripsi “Konsep Pendidikan Akhlak Pada Anak Didik Menurut
Al-Ghazali.”Penulis Siti Mulyanih, mahasiswi jurusan Pendidikan Agama Islam
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatulah Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkonstruk pemikiran al-Ghazali tentang pendidikan akhlak bagi anak. Pemikiran al-Ghazali ini memberikan motivasi yang besar dalam memperbaiki akhlak lebih baik dari sebelumnya. Adapun hasil kajiannya adalah bahwa akhlak pada anak didik itu dapat dirubah dan dibentuk menjadi akhlak yang baik. Perubahan itu dapat dilakukan dengan cara memberikan keteladanan yang baik kepada anak didik sehingga ia dapat meniru perbuatan baik tersebut.
Skripsi “Pengaruh Budaya Sekolah Terhadap Karakter Siswa (Studi di
SDN Jumeneng LOR Mlati Sleman Yogyakarta” oleh Lis Andari, mahasiswi
jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan budaya sekolah, menguji korelasi antara budaya sekolah dengan karakter siswa, dan menguji kontribusi budaya sekolah terhadap karakter siswa di SDN Jumeneng LOR Mlati Sleman. Adapun hasil kajiannya adalah bahwa terdapat pengaruh yang positif antara budaya sekolah dengan karakter siswa di sekolah tersebut. Dan karakter siswa dipengaruhi oleh budaya sekolah sebesar 17,4% sedangkan 82,6% dipengaruhi oleh faktor lain di luar dari variabel. Serta pelaksanaan karakter di sekolah tersebut dilihat melalui proses kegiatan belajar mengajar, kurikulum yang digunakan, pengembangan proses pembelajaran, pengembanggan budaya sekolah dan pusat kegiatan belajar mengajar yang meliputi kegiatan rutin, kegiatan spontan, keteladanan dan pengkondisian. Skripsi“Pembinaan Akhlak Mulia Siswa Melalui Pengembangan Budaya
Sekolah di MTsN Wonokromo Pleret Bantul” oleh Muhammad Faisal Mahrus
Pahlevi, mahasiswa Jurusan Pendidikann Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses pembinaan akhlak mulia siswa yang diterapkan di MTsN Wonokromo Pleret Bantul melalui pengembangan budaya sekolah dan untuk mengetahui faktor-faktor penghambat dalam pembinaan akhlak mulia siswa melalui pengembangan budaya sekolah di sekolah tersebut. Adapun hasil kajiannya proses pembinaan akhlak mulia tidak cukup hanya diberikan pada saat KBM di kelas, namun juga diberikan pembinaan di luar kelas dengan adanya budaya sekolah yang dikembangkan dan diaplikasikan ke dalam bentuk kegiatan-kegiatan. Adapun faktor-faktor yang menghambat proses pembinaan akhlak mulia melalui pengembangan budaya sekolah ini adalah meliputi faktor internal dan faktor eksternal yang ditimbulkan tidak hanya dari siswa selaku obyek yang dibina, akan tetapi terdapat faktor penghambat yang justru datang dari tenaga pendidik tersebut.
Jurnal Penelitian Riset dan Pengembangan “Membangun Kultur Akhlak
Mulia di Kalangan Siswa di Sekolah Dasar dan Menegah Di Indonesia” oleh
bertujuan untuk menemukan model pembentukan kultur akhlak mulia yang selama ini dikembangkan di Sekolah Dasar dan Menengah di Indonesia. Dari penelitiannya terhadap delapan sekolah baik pada tingkat Sekolah Dasar maupun Menengah sebagai sampel penelitian, didapatkan hasil bahwa terdapat variasi model pembetukan kultur akhlak mulia bagi siswa di sekolah-sekolah di Indonesia mulai dari Sekolah Dasar hingga sekolah Menengah atas. Selain itu juga, dalam penelitian ini didapatkan model-model yang ideal yang sebaiknya dikembangkan dalam pembentukan kultur akhlak mulia di sekolah di Indonesia baik di tingkat dasar maupun menengah.
Jurnal Penelitian “Fungsi Kultur Sekolah Menengah Atas Untuk Mengembangkan Karakter Siswa Menjadi Generasi Indonesia 2045
(Tantangan dan Peluang)” oleh Dr. Moerdiyanto, M.Pd. MM., Jurusan
Manajemen Fakultas Ekonomi UNY. Tujuan penelitian ini adalah untuk memotret kultur utama yang ada di sekolah menengah tingkat atas dan upaya pengembangannya dalam rangka mengembangkan karakter siswa menjadi generasi Indonesia 2045. Adapun hasil penelitiannya adalah bahwa pengembangan budaya sekolah berjalan baik, khususnya di Sekolah Menengah Atas. Selain itu, aspek budaya mutu akademik dan budaya sosial antar warga sekolah yang paling utama dan dikembangkan bagi terbentuknya insan berkarakter pada para lulusan diantaranya budaya jujur, budaya saling percaya, kerjasama, gemar membaca, disiplin, bersih, berprestasi, suka memberi penghargaan dan efisien.Yang mana budaya jujur dan saling percayalah yang merupakan budaya yang paling banyak ditekankan dalam pengembangan kultur sekolah. Pengembangan kultur sekolah di SMA pada umumnya dilakukan melalui pendekatan struktural, yaitu pemaksaan dengan aturan dan sangsi yang tegas dari sekolah.
Jurnal Penelitian “Pembentukan Kultur Akhlak Mulia di Kalangan
Mahasiswa UNY melalui Pembelajaran PAI,” oleh Marzuki. Adapun tujuan
penelitiannya adalah untuk megungkapkan satu masalah tentang pembelajaran PAI di UNY dan perannya dalam pembentukan akhlak mulia di kalangan mahasiswa. Hasil penelitiannya adalah pembelajaran PAI mempunyai peran
yang sangat penting dalam rangka pembentukan kultur akhlak mulia di kalangan mahasswa UNY. Selain itu, problematika yag muncul dalam pembelajaran PAI di UNY cukup banyak, diantaranya adalah kemmapuan dasar mahasiswa UNY tentang PAI yang sagat beragam, perhatian mahasiswa terhadap akhlak masih sangat kurang, dan materi pembelajaran PAI yang lebih menekankan kemampuan kognitif saja serta sulitnya melaksanakan kotrol terhadap mahasiswa di luar perkuliahan. Menurutnya, semua problematika tersebut harus dicegah degan memaksimalkan fungsi dosen dalam pembelajara PAI.
Artikel “Membangun Kultur Sekolah,” oleh Komaruddin Hidayat pada Jumat, 21 Mei 2010, pukul 09.29 WIB. Pada artikel ini dituliskan bahwa kutur sekolah sangat vital perannya bagi sebuah proses pendidikan. Tanpa budaya sekolah yang bagus, sulit melakukan pendidikan karakter bagi anak didik. Sebuah budaya mengasumsikan kehidupan yang berjalan natural,tidak lagi dirasakan sebagai beban. Karena itu merancang budaya sekolah mesti memikirkan dan menyiapkan pula kehidupan seni dan olahraga serta ruang kebebasan kreasi anak. Dengan demikian, proses pendidikan dan beban kurikulum sekolah tidak dirasakan sebagai beban, melainkan tantangan layaknya dalam sebuah permainan olahraga yang penuh semangat, tapi tetap ada wasit ataupun peraturan baku.
Skripsi“Pembinaan Akhlak Siswa Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak
Yogyakarta,” oleh Ummi Habibah mahasiswi jurusan Pendidikan Agama
Islam Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskrispikan dan menganalisa secara mendalam tentang proses pembinaan akhlak di Madrasah Aliyah Ali Maksum Krapyak Yogyakarta, mengetahui metode-metode yang digunakan serta mengetahui faktor pendukung dan penhambat dalam pelaksanaannya. Adapun hasil kajiannya adalah metode yang digunakannya diantara adalah metode ceramah, ibrah, diskusi, dan lain sebagainya. Pelaksanaan pembinaan akhlak di MA Ali Maksum sudah berjalan dengan baik sesuai dengan tujuan pembinaan akhlak siswa da visi misi sekolah. Selain itu, faktor pendukung
dalam pembinaan akhlak siswa ini adalah adanya kerjasama yang sangat baik oleh para pelaku sekolah, siswa berada di lingkungan pesantern sehingga keadaa siswa lebih terkontrol, adanya buku-buku paket di perpustakaan sehingga siswa mudah memperoleh dan meminjamnya. Sedangkan faktor penghambatnya adalah para siswa tinggal di satu asrama dengan teman sebaya yang memiliki tingkat ego yang sama sehingga tidak jarang terjadi konflik, BK tidak memiliki waktu yang tetap, pergaulan siswa di luar jam pelajaran dengan ligkungan luar yang terkadang membawa ke arah negatif serta ketika di dalam kelas yang terkadang siswa tidak seluruhnya mendengarkan pelajaran.
Jounal Education “Research a Comprehensive Approach in Developing
Akhlaq; a Case Study on the Implementation of Character Education at
Pondok Pesatren Darunnajah,” from Duna Izfanna, Student in International Islamic University Malaysia, Kuala Lumpur dan STAI Darunnajag, Jakarta Indoesia and Nik Ahmad Hisyam Student in International Islamic University
Malaysia, Kuala Lumpur. Tujuan dari makalah ini adalah untuk menjelaskan
bagaimana suatu sistem pendidikan Islam yang unik yaitu Pondok Pesantren, dilaksanakan dan memberikan kontribusi besar terhadap pendidikan karakter siswa. Adapun yang dapat disimpulkan dalam penelitian ini adalah bahwa mayoritas guru dan siswa mengatakan bahwa Pondok Pesantren Darunnajah mendidik karakter anak didik dalam banyak hal dan sebagai wahana untuk mengembangkan mereka sebagai generasi muda Muslim serta mempersiapkan mereka untuk kehidupan masa depan mereka. Pondok Pesantren Darunnajah mengadopsi pendekatan komprehensif pendidikan karakter berdasarkan nilai-nilai Islam sebagai filosofi utama, visi, misi , prinsip dasar karakter, serta karakter utama lainnya yang dikembangkan dan diperkuat melalui tiga metode implementasi pendidikan karakter yaitu pengetahuan, bersyarat, dan praktek. Karakter itu sendiri tidak bisa dibangun dalam hitungan waktu tetapi terus menjadi proses yang komprehensif, dan model yang paling efektif untuk implementasi adalah melalui pendekatan komprehensif yang mengintegrasikan semua aspek kehidupan sekolah.