• Tidak ada hasil yang ditemukan

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Kajian Teori

2.1.14. Hasil Penelitian yang Relevan

Hasil penelitian terdahulu yang menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe TSTS, pertama, yaitu penelitian yang dilaksanakan oleh Ranty Kumalasari (2011) dari Universitas Negeri Yogyakarta berjudul “Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Kelas IV SD Negeri Klegen dengan

Menggunakan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (TSTS)”. Hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Presentasi ketuntasan

demikian, dapat disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran Matematika dengan

menggunakan model kooperatif tipe TSTS mengalami peningkatan.

Kedua, penelitian oleh Istirokah (2013) dari Universitas Negeri Semarang

berjudul “Penerapan Model TSTS (TSTS) dalam Meningkatkan Hasil Belajar Melalui Kompetensi Dasar Mengidentifikasi Persyaratan Personil Administrasi

Kantor pada Peserta didik Kelas X AP di SMK Cut Nya’Din Semarang”. Hasil belajar peserta didik mengalami peningkatan pada setiap siklusnya. Presentasi

ketuntasan belajar pada siklus I sebesar 54% pada siklus II sebesar 83%. Dengan

demikian, dapat disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran dengan menggunakan

model pembelajaran kooperatif tipe TSTS mengalami peningkatan.

Ketiga, penelitian oleh Ismawati (2010) dari Universitas Negeri Semarang

berjudul “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif dengan Pendekatan Struktural TSTS untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta didik Kelas X SMA". Penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan peningkatan hasil

ketuntasan belajar peserta didik di setiap siklusnya. Siklus pertama ketuntasan

belajar peserta didik sebesar 87,5%, kemudian pada siklus kedua meningkat

menjadi 97,5%. Sebuah hasil yang memuaskan untuk menyelesaikan

masalah-masalah pembelajaran di kelas.

Keempat, penelitian oleh Rismawaty (2013) dari Universitas Tanjungpura

Pontianak “Model Kooperatif Tipe TSTS Meningkatkan Aktivitas Belajar PKN Kelas IV SDN 11 Sungai Raya”. Penelitian eksperimen ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kimia antara peserta didik yang mengikuti model

kooperatif TSTS dengan peserta didik yang mengikuti model pembelajaran konvensional.

Kelima, penelitian oleh Mariyam, Sumardi, dan Sukmanasa (2012) dari

Universitas Pakuan “Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif TSTS Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam ”. penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan peningkatan hasil

belajar peserta didik di setiap siklusnya. Siklus pertama hasil belajar peseta didik

sebesar 67,67% , kemudian pada siklus kedua meningkat menjadi 78,67%.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran Matematika

dengan menggunakan model kooperatif tipe TSTS mengalami peningkatan.

Keenam, penelitian oleh Mahyuni, dan Wayan dari Universitas Pendidikan

Ganesha Singaraja, Indonesia “Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TSTS (TSTS) Terhadap Hasil Belajar Kimia Kelas XI IPA SMA Negeri 1 Selemadeg Ditinjau Dari Gaya Berpikir”. penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan peningkatan hasil belajar peserta didik di setiap

siklusnya. Siklus pertama hasil belajar peseta didik sebesar 67,67% , kemudian

pada siklus kedua meningkat menjadi 78,67%. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa kualitas pembelajaran Matematika dengan menggunakan

model kooperatif tipe TSTS mengalami peningkatan.

Ketujuh, penelitian oleh Soedjoko dan Eko Susilo (2012) dari Universitas

Negeri Semarang “Penerapan Pembelajaran TSTS Terhadap Kemampuan Pemahaman Konsep Dan Minat”. Penelitian eksperimen ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan minat belajar matematika antara peserta didik yang mengikuti

model kooperatif TSTS dengan peserta didik yang mengikuti model pembelajaran ekspositori.

Kedelapan, penelitian oleh Nursetiaji, dkk (2015) dari Universitas Negeri

Semarang “Penerapan Metode Kooperatif TSTS Dalam Pembelajaran Merakit Instalasi Komponen PC Di SMK”. Penelitian yang dilaksanakan dalam dua siklus menunjukkan peningkatan di setiap siklusnya. Siklus pertama sebesar 63,8%,

kemudian pada siklus kedua meningkat menjadi 87,2%. Sebuah hasil yang

memuaskan untuk menyelesaikan masalah-masalah pembelajaran di kelas.

Kesembilan, jurnal yang ditulis oleh Sulisworo dan Suryani (2014)

berjudul “The Effect of Cooerative Learning, Motivation and Information Technology Literacy to Achievement”. Dalam penelitian ini menjelaskan tentang penggunaan model TSTS dalam pembelajaran yang membuat peserta didik lebih aktif dan percaya diri dalam mengikuti pembelajaran.

Kesepuluh, jurnal yang ditulis oleh Fatoni Nur (2014) berjudul “The Influence Using TSTS In Learning Reading Comprehension Of Recount Text”. Dalam penelitian ini menjelaskan tentang penggunaan model TSTS efektif terhadap pemahaman membaca peserta didik kelas kedua dalam penelitian

eksperimen.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Ranty

Kumalasari dan Rismawaty yaitu sama-sama menggunakan model pembelajaran

kooperatif tipe TSTS dan jenjang pendidikan, sedangkan perbedaannya, yaitu pada mata pelajaran, model penelitian, variabel, dan tempat penelitian. Ranty

Kumalasari menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe TSTS pada peserta didik kelas IV SD Negeri Klegen, dan Rismamaty menerapkan model

pembelajaran kooperatif TSTS pada peserta didik kelas IV SDN 11 Sungai Raya, sedangkan penulis menerapkannya pada peserta didik kelas IV SD Negeri

Kajongan Kabupaten Pekalongan dengan menggunakan penelitian eksperimen.

Penelitian yang dilakukan Ranty Kumalasari pada mata pelajaran Matematika

yaitu meneliti tentang hasil belajar, dan penelitian yang dilakukan oleh Rismawaty

pada mata pelajaran PKN yaitu meneliti tentang aktivitas belajar peserta didik,

sedangkan dalam penelitian ini melakukan penelitian pada mata pelajaran IPA

materi pemanfaatan sumber daya alam dengan variabel aktivitas dan hasil belajar.

Penelitian oleh penulis dan Istirokah, Ismawati dan Mariyam, Sumardi,

Sukmanasa, Mahyuni dan Wayan, Nursetiaji yaitu sama-sama menggunakan

model pembelajaran kooperatif tipe TSTS. Perbedaannya penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian Istirokah, Ismawati dan Mariyam, Sumardi,

dan Sukmanasa dan Mahyuni dan Wayan yaitu pada mata pelajaran, variabel,

model penelitian dan jenjang pendidikan, sedangkan penulis menerapkannya pada

peserta didik kelas IV SD Negeri Kajongan Kabupaten Pekalongan. Istirokah

melakukan penelitian Mengidentifikasi Persyaratan Personil Administrasi Kantor,

sedangkan dalam penelitian ini melakukan penelitian pada mata pelajaran IPA

materi pemanfaatan sumber daya alam.

Penelitian oleh penulis dan Soedjoko dan Eko Susilo yaitu sama-sama

menggunakan model kooperatif tipe TSTS dalam penelitian eksperimen. Perbedaannya penelitian yang dilakukan penulis dengan penelitian Soedjoko dan

Eko Susilo yaitu pada variabel dan jenjang pendidikan.

Jurnal yang ditulis oleh Sulisworo dan Suryani dan penelitian yang

dilaksanakan penulis memiliki kesamaan dalam menggunakan model

Suryani yaitu membahas mengenai model pembelajarn TSTS yang mampu mengaktifkan dan memberikan percaya diri kepada peserta didik saat

pembelajaran. Sedangkan dalam penelitian ini melakukan penelitian terhadap

aktivitas dan hasil belajar peserta didik kelas IV SD Negeri Kajongan Kecamatan

Kajen Kabupaten Pekalongan.

Jurnal yang ditulis oleh Fatoni Nur dan penelitian yang dilaksanakan

penulis memiliki kesamaan yaitu sama-sama menggunakan model pembelajaran

TSTS efektif terhadap peserta didik dengan menggunakan penelitian eksperimen. Perbedaannya pada mata pelajaran dan jenjang pendidikan.

Penelitian yang telah dilaksanakan berkaitan dengan model pembelajaran

kooperatif tipe TSTS digunakan sebagai landasan dalam melaksanakan penelitian eksperimen.pada penelitian ini, model tersebut diterapkan dalam pembelajaran

IPA. Penelitian ini dilaksanakan untuk mengetahui keefektifan model

pembelajaran kooperatif tipe TSTS terhadap aktivitas dan hasil belajar IPA peserta didik kelas IV SD Negeri Kajongan Kabupaten Pekalongan.