BAB V PEMBAHASAN
5.2 Hasil Penerapan Program Jam Baca pada Siswa
proses penerapan program, tetapi juga hasil dari penerapan program. Hasil program jam baca yang diamati meliputi: (1) kemampuan membaca siswa SMP Negeri 01 Puri dan (2) minat membaca siswa SMP Negeri 01 Puri. Hal tersebut sesuai pendapat Wiryodijoyo (1989:39) yang menyatakan bahwa program membaca meliputi bahan pelajaran serta pelaksanaan kegiatan untuk memajukan sikap (senang atau tidak senang) dan ketrampilan membaca.
5.2.1 Kemampuan Membaca Siswa SMP Negeri 01 Puri
Dalam penerapan program jam baca, kompetensi yang diajarkan pada siswa yaitu “Mengomentari Buku Cerita yang Dibaca”. Kompetensi ini terdiri atas beberapa indikator yaitu meliputi: (1) kemampuan menulis identitas buku, (2) kemampuan siswa menuliskan ringkasan bacaan, (3) kemampuan memberikan komentar terhadap bacaan dengan disertai alasan, dan (4) kemampuan menuliskan kutipan dari bagian bacaan yang dikomentari. Dalam kompetensi ini bertujuan agar siswa memiliki kemampuan membaca yang baik untuk memahami isi bacaan dan memberikan penilaian atau pendapat sesuai skemata yang dimiliki oleh siswa. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Oka (1983:87-88) yaitu sebagai berikut.
Kemampuan membaca yang baik bercirikan (1) kemampuan memahami atau menangkap isi bacaan secara secara komprehensif, baik isinya yang tersurat maupun yang tersirat dan tersorot, (2) kemampuan menilai bacaan secara kritis dalam rangka menentukan kualitas intrinsik bacaan (bahasanya, tatananya, keakuratannya, dan keshahihannya) di satu pihak, dan nilai, fungsi, dan kebergunaan bacaan itu di pihak lain, dan (3) kemampuan memanfaatkan bacaan itu secara kreatif untuk memecahkan masalah kehidupan yang sedang dihadapi, untuk memproyeksikan masalah kehidupan di masa-masa yang akan datang, dan untuk menghasilkan hal-hal yang baru.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa pada studi pendahuluan, siswa yang mengalami ketuntasan atau nilai mencapai KKM hanya sebesar 24%. Setelah dilakukan tindakan penerapan program jam baca, siswa yang mencapai KKM meningkat sebesar 44% sehingga menjadi 68%. Untuk siklus 2 dilakukan beberapa perbaikan dari kekurangan pada pelaksanaan tindakan siklus 1 sehingga terjadi peningkatan. Peningkatan yang dialami sebesar 16%, sehingga jumlah ketuntasan hasil kemampuan membaca menjadi 84%.
Peningkatan kemampuan membaca terjadi akibat adanya tindak lanjut dari refleksi pada setiap siklus. Tindak lanjut tersebut diberikan berupa pemberian pelatihan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam meringkas cerita dan menulis kutipan. Pelatihan itu diberikan karena adanya identifikasi kesulitan yang dialami siswa dari hasil kerja jurnal membaca. Untuk memperoleh hasil membaca yang baik guru perlu menyusun program kembali untuk siklus berikutnya dengan mempertimbangkan kesalahan siswa dalam belajar membaca dari hasil jurnal membaca.
Hasil kemampuan membaca dilihat juga dari segi kualifikasi nilai yang diperoleh. Pada studi pendahuluan, persentase jumlah siswa pada kualifikasi SB adalah 12%. Setelah pelaksanaan program jam baca siklus 1, jumlah siswa dengan kulifikasi SB mengalami peningkatan cukup besar yaitu menjadi 36%. Pada siklus 2 peningkatan jumlah siswa dengan kualifikasi SB kembali mengalami
peningkatan besar menjadi 56%. Selain itu, setiap siklus juga mengalami
penurunan jumlah siswa dengan kualifikasi cukup (C), kurang (K), dan gagal (G). Bahkan pada siklus 2, sudah tidak terdapat siswa dengan kualifikasi kurang dan gagal. Hal tersebut menunjukkan pelaksanaan program jam baca berhasil meningkatkan kemampuan membaca siswa.
5.2.2 Minat Membaca Siswa SMP Negeri 01 Puri
Selain untuk meningkatkan kemampuan membaca, tujuan pelaksanaan program jam baca adalah juga untuk meningkatkan minat membaca siswa SMP Negeri 01 Puri. Peningkatan minat membaca dalam hal ini berfokus pada
frekuensi membaca dan variasi bahan bacaan (jenis teks). Fokus tersebut menjadi pengukur dalam peningkatan minat membaca pada siswa. Selain itu, indikator
pengukur tersebut merupakan aspek keadaan membaca seseorang. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Franz/Meier (1983:11) yang menyatakan bahwa aspek keadaan membaca yaitu jenis teks, motif membaca, tempat membaca, asal dan pemilihan literatur, frekuensi membaca, dan intensitas membaca.
Dalam proses peningkatan minat membaca, guru memberikan motivasi kepada siswa untuk memiliki antusias membaca yang tinggi karena manfaat dari kegiatan membaca sangat banyak. Menurut Giehrl yang dikemukakan oleh Franz/Meier (1983:8), terdapat tiga motivasi membaca berupa rangsangan dasar yaitu sebagai berikut.
(1) Rangsangan dasar pertama untuk membaca adalah keinginan untuk menangkap dan menghayati yang dijumpai di dunia-dalamnya, disadari oleh hasrat berorientasi pada dunia sekelilingnya dan untuk dapat menjelaskan adanya dunia disekelilingnya itu, (2) rangsangan dasar kedua untuk membaca berasal dari hasrat untuk mengatasi atau setidaknya melonggarkan keterikatan manusia (mengisi waktu, melupakan sesuatu, menghibur atau melipur, dan mengganti sesuatu dalam kehidupan), dan (3) rangsangan dasar untuk membaca yaitu mencari keteraturan dan bentuk, mencari apa arti dan makna kehidupan manusia.
Ketiga jenis motivasi tersebut dirangkum menjadi manfaat-manfaat membaca yang dijadikan motivasi yang diberikan pada siswa. dengan adanya pemberian motivasi berupa rangsangan dasar tersebut terbukti dapat
meningkatkan minat membaca siswa.
Pada kegiatan program jam baca perkembangan minat membaca siswa selalu diamati. Hasil tersebut dibandingkan dengan hasil sebelumnya. Jika peningkatan yang dialami belum maksimal dilakukan refleksi dan tindak lanjut untuk meningkatkan hasil pada siklus selanjutnya. Pada studi pendahuluan siswa frekuensi minat membaca siswa sangat rendah. Hal tersebut terbukti dari jumlah siswa yang tidak memiliki minat membaca dengan kualifikasi rendah yaitu 24
siswa (96%). Dari 24 siswa tersebut, 12 siswa (48%) tidak memiliki minat baca dan 12 siswa (48%) memiliki minat baca. Siswa yang memiliki minat membaca dengan kualifikasi sedang hanya 1 siswa (4%). Akan tetapi, tidak terdapat siswa yang memiliki minat membaca dengan kategori tinggi. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa siswa masih belum memiliki minat untuk membaca.
Setelah dilakukan tindakan program jam baca, pada siklus 1 minat
membaca siswa mengalami peningkatan. Peningkatan hasil terjadi karena adanya motivasi oleh guru tentang manfaat membaca dan pentingnya variasi bahan bacaan. Pada siklus ini tidak terdapat siswa yang tidak memiliki minat baca seperti pada studi pendahuluan. Namun, frekuensi membaca siswa masih
cenderung rendah. Frekuensi membaca siswa dengan kualifikasi rendah terdapat 22 siswa (88%), sedangkan siswa dengan kualifikasi sedang meningkat menjadi 3 siswa (12%). Namun, belum terdapat siswa yang memiliki frekuensi membaca dengan kualifikasi tinggi. Peningkatan yang terjadi tidak begitu besar. Akan tetapi, dengan adanya peningkatan ini menunjukkan adanya peningkatan pula pada antusias siswa untuk mulai menyukai kegiatan membaca.
Pada siklus 2, hasil minat membaca siswa juga mengalami peningkatan frekuensi membaca. Peningkatan tersebut terjadi karena adanya motivasi oleh guru tentang contoh tokoh sukses di Indonesia yang memiliki hobi membaca seperti Soekarno dan R. A. Kartini. Siswa yang memiliki frekuensi membaca dengan kategori rendah berkurang menjadi 7 siswa (28%). siswa yang memiliki kategori membaca sedang meningkat menjadi 14 siswa (56%), sedangkan pada siklus ini juga terdapat siswa yang memiliki kategori membaca tinggi yaitu 4
siswa (12%). Berdasarkan data tersebut dapat disimpulkan bahwa secara bertahap minat dan antusias siswa dalam membaca sudah meningkat.
Berdasarkan hasil keseluruhan ditinjau dari frekuensi membaca, peningkatan minat membaca siswa kelas VII SMP Negeri 01 Puri belum
mengalami peningkatan yang besar. Hal tersebut terjadi karena dalam pembiasaan minat membaca siswa melalui program jam baca membutuhkan waktu yang lama karena hanya dalam waktu 3 minggu tidak dapat membuat perubahan besar dalam peningkatan minat membaca. Selain itu, pembinaan minat membaca perlu
dilakukan secara berkelanjutan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Mudjito yang menyatakan bahwa pembinaan minat membaca memiliki ciri-ciri yaitu pembinaan minat baca merupakan suatu proses yang berkelanjutan (Suradi 2010:29).
Pada studi pendahuluan, semua siswa belum memiliki variasi bahan bacaan. Setiap siswa hanya membaca satu jenis bahan bacaan. Dari jumlah siswa yang memiliki minat membaca, 8 orang (32%) memiliki kecenderungan membaca buku sastra/fiksi. Siswa yang memiliki bahan bacaan lain yaitu berupa buku pengetahuan dan koran/majalah yaitu 5 siswa (20%). Dari 5 siswa tersebut, terdapat 2 siswa (8%) memiliki kecenderungan membaca koran/majalah dan 3 siswa (12%) membaca buku pengetahuan. Kecenderungan bahan bacaan yang dibaca siswa menunjukkan bahwa siswa belum memiliki kesadaran akan pentingnya membaca bahan bacaan variatif. Siswa hanya membaca buku yang sesuai dengan minatnya masing-masing. Nurhadi (1989:4) menyatakan bahwa salah satu ciri pembaca yang buruk yaitu bahan bacaan yang dibacanya itu-itu saja.
Variasi bacaan setelah dilakukan tindakan siklus 1 belum mengalami peningkatan. Setiap siswa belum mengalami peningkatan variasi bacaan
dibandingkan dengan studi pendahuluan. Hanya terdapat 1 siswa yang mengalami variasi yaitu membaca koran/majalah dan buku sastra/fiksi. Berdasarkan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa tindakan siklus 1 belum berhasil meningkatkan variasi bahan bacaan siswa.
Untuk menindaklanjuti variasi bahan bacaan siswa yang tidak mengalami peningkatan maka siswa diberikan kembali motivasi tentang manfaat membaca bahan bacaan dengan variasi lain dan memberikan contoh tokoh sukses di Indonesia yang memiliki hobi membaca. Menurut pendapat Wiryodijoyo (1989:192), kegemaran membaca hendaknya diarahkan untuk memperluas pandangan murid-murid terhadap kehidupan, sesuai dengan naluri manusia pada umumnya. Perkembangan budaya, ilmu, seni, dan fantasi manusia makin
memperluas ragam pustaka dunia saat ini. Oleh karena itu, pemilihan bahan bacaan untuk para pelajar perlu diusahakan seluas mungkin.
Dari hasil tindakan siklus 2 bahan bacaan siswa sudah cukup variatif. Terdapat 21 siswa (84%) sudah memiliki 2 variasi bacaan, bahkan ada 1 siswa (4%) yang sudah memiliki 3 variasi bacaan. Akan tetapi, masih ada 3 siswa (12%) yang belum memiliki variasi bacaan. Berdasarkan data tersebut maka dapat disimpulkan bahwa program jam baca siklus 2 sudah berhasil meningkatkan minat membaca siswa SMP Negeri 1 Puri.
Hasil yang diperoleh dari penelitian ini memiliki perbedaan dengan
penelitian sebelumnya yang berjudul “ Peningka tan Mina t Ba ca Siswa kela s IV MI Muawanah Banjaranyar Paciran La mongan melalui Penerapan Program Jam
Baca” yang dilakukan oleh Qurrota A’yun. Pada penelitian tersebut hanya memiliki tujuan untuk meningakatkan minat baca saja. Selain itu, indikator yang digunakan untuk mengukur minat baca yaitu kuantitas buku, sehingga minat baca siswa dilihat dari banyaknya buku yang dibaca saat program jam baca
BAB VI