BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3 Hasil Pengamatan dan Wawancara
Waktu Wawancara : 16 Januari 2015, pukul 17.00 WIB. - 20 Januari 2015, pukul 14.00 WIB. - 13 Juni 2015, pukul 19.00 WIB.
Tempat Wawancara : Rumah informan, Jalan Garu VI No 29.A - Texas Chicken, Jalan SM. RAJA
- Tempat nongkrong informan, Jalan Garu VI Peneliti sudah mengamati aktivitas informan pertama ini di media sosial facebook dan twitter sejak bulan Desember 2014. Beberapa kali peneliti mengirimkan pesan singkat lewat chatting di facebook, ia tidak meresponnya. Agar dapat memperoleh informasi tentang Gibran, peneliti juga mencari tahu tentang aktivitas informan lewat ibunya. Kebetulan rumah Gibran tidak jauh dari tempat tinggal peneliti. Proses wawancara terjadi pada tanggal 16 Januari 2015 dan 20 Januari 2015. Hal tersebut terjadi karena Gibran cukup sibuk sehingga sulit menentukan waktu yang tepat untuk bertemu dengannya. Kemudian pada tanggal 13 Juni 2015, peneliti kembali melakukan wawancara sebagai upaya pendalaman atas informasi yang telah peneliti dapatkan pada wawancara sebelumnya.
Awal pertemuan wawancara peneliti melakukan wawancara tersamar terhadap Gibran. Hal tersebut bertujuan agar peneliti memperoleh informasi yang sejujurnya dari informan. Pada pertemuan pertama, Gibran membenarkan bahwa ia adalah pengguna media sosial facebook dan twitter. Sebagai anak muda, ia selalu mengikuti trend yang sedang terjadi dikalangan anak muda seusianya. Hal tersebut dianggapnya perlu agar tidak ketinggalan zaman. Pertama kali Gibran mengetahui informasi tentang facebook dari teman-teman sekolahnya pada tahun 2010. Namun, pada saat itu ia belum begitu tertarik untuk membuat akun facebook pribadi miliknya karena ia tidak memiliki gadget untuk mengakses internet. Sehingga ia tidak tahu apa itu facebook, bagaimana menggunakannya dan untuk apa fungsinya.
Facebook semakin menjadi perbincangan hangat dikalangan teman- temannya pada saat itu. Hingga pada tahun 2011, Gibran diajak oleh temannya
untuk main di sebuah warung internet atau yang sering dikenal dengan warnet. Kemudian Gibran mencari tahu tentang facebook dan dibantu oleh temannya tersebut untuk membuat akun facebook. Namun tidak lama kemudian, teman- temannya asyik berbicara soal twitter Gibran pun tidak ingin tertinggal jauh. Ia juga membuat akun twitter di tahun yang sama. Namun pada saat itu, Gibran lebih memilih menggunakan facebook daripada twitter karena menurutnya penggunaan twitter sedikit lebih sulit jika dibandingkan dengan facebook.
“Pada saat itu awak lebih suka main facebook, sih, kak, karena banyak fiturnya. Misalnya games online. Dulu kan sempat heboh soal permainan Point Blank. Jadi setiap main facebook yang diutamakan ya main games itu, Soalnya bisa main bareng sama kawan-kawan. Waktu itu awak enggak terlalu pandai main twitter karena susah menurut awak. Jadi, setelah awak bikin akun twitter, enggak pernah awak buka akun twitter-nya. Enggak ngerti juga fungsinya untuk apa. Awak sekedar ikut-ikutan aja bikin itu”.
Gibran mengatakan bahwa dengan adanya facebook hubungan ia dengan teman-temannya jauh lebih akrab, karena hampir setiap saat berkomunikasi walaupun tidak sedang berada di sekolah. Ia pun sering mengomentari status teman-temannya atau sekedar memberi like. Kegiatan saling berbalas komentar itu yang membuat hubungannya dengan teman-temannya semakin. Selain main games online, Gibran juga senang berbagi status, foto atau video di facebook. Ia sering berbagi tentang hal apa saja yang menurutnya menarik untuk dibagikan di facebook.
“Dulu, main facebook itu kalo enggak main games ya paling update status terus komentarin status atau foto kawan-kawan. Itu ajalah kerjaan. Makanya lama-lama pun bosan main facebook kak. Isi beranda awak pun itu-itu aja. Kalau enggak status kawan, foto kawan awak. Cuma satu yang bikin betah main facebook yaitu games online nya hehehe....”.
Gibran mengatakan bahwa ia menggunakan facebook sesuai kehendaknya, termasuk menulis status. Ia menceritakan jika status yang ia unggah di facebook bisa berupa curhat tentang keluarga, pendidikan, pertemanan ataupun hal lain yang membahagiakannya. Namun tidak semua hal yang bersifat pribadi di unggah di media sosial. Gibran mengakui bahwa ia dulu pernah menulis status dengan kata-kata kasar, menyindir atau menghina seseorang. Hal itu dilakukannya untuk mengungkapkan ekspresi marah yang ia rasakan namun tidak dapat disampaikan dengan orang yang dituju. Pada saat itu ia tidak memikirkan efek yang akan
timbulkan dari tulisannya tersebut dan tidak memperdulikan pandangan orang lain terhadapnya.
“Pernah awak menyindir orang lewat status. Tapi kan kak, orang yang awak sindir tidak berkawan sama awak di facebook. Jadi dia enggak akan membacanya hahaha. Awak tulis status itu enggak ada niat khusus sih, cuma sekedar meluapkan emosi aja”.
Selain curhat, Gibran juga sering mengkritisi tentang fenomena yang terjadi disekitarnya lewat status facebook yang dikemas dengan berbagai cara. Cara yang baik seperti melalui kata-kata bijak atau lewat lelucon bahkan dengan cara yang kasar seperti menyindir dengan kata-kata kasar. Saat berkomentar di postingan teman-temannya pun Gibran tidak menggunakan bahasa yang baku. Ia menggunakan gaya bahasa sehari-hari yang ia gunakan ketika berkomunikasi dengan teman-teman sebayanya. Meskipun Gibran menulis status yang bersifat menyindir atau berkomentar dengan menggunakan bahasa yang kasar, ia mengaku tidak pernah mengalami konflik dengan lawan bicaranya di media sosial facebook atau twitter. Ia juga beranggapan bahwa hal tersebut merupakan hal yang lumrah dilakukan oleh para pengguna facebook. Ia juga sering melihat pengguna lain menyindir dan memaki lewat status pribadi mereka. Pada saat itu, Gibran tidak merasa bawa ia telah melakukan tindakan bullying dan ia juga tidak merasa di bully oleh teman-temannya.
“Sejauh ini awak tidak pernah berantem sih kak sama kawan-kawan awak di
facebook atau twitter. Kalau misalnya kami chatting atau saling komen gitu kan pake kata-kata jorok sekalipun, enggak pernah pula berantam. Mungkin karena kami bisa membedakan mana yang becanda dan mana yang serius. Kalaupun misalnya awak manggil kawan awak dengan sebutan Alien atau Bodat atau Anjeng misalnya, tidak merasa tersinggung awak kak. Kadang awak balaspun manggil kawan awak dengan sebutan yang kaya gitu juga hehe”.
Gibran mengatakan, banyaknya media sosial yang ditawarkan membuatnya sulit untuk menentukan pilihan. Ternyata, twitter yang dianggapnya sulit untuk digunakan lebih menarik perhatiannya hingga sekarang. Saat ini Gibran justru lebih aktif di twitter daripada di facebook bahkan ia mengatakan sudah lama tidak menggunakan facebook. Hal tersebut terbukti dari pengamatan peneliti pada akun facebook-nya yang tidak lagi mengunggah status, foto atau video sejak bulan November 2014. Gibran mengaku jenuh menggunakan facebook karena pengguna
facebook lebih pasif dibandingkan awal pertama ia membuat akun facebook. Selain itu, ia tidak mendapatkan perkembangan informasi apapun yang dapat menambah wawasannya. Kemudian ia beralih ke twitter hingga saat ini dan menjadi pengguna aktif.
“Awak jenuh main facebook kak karena isinya pun itu-itu aja. Semakin lama
semakin alay pengguna facebook itu awak liat. Statusnya kebanyakan tentang curhat, jadi tidak berkembang awak kalo main facebook. Nah, kalau di twitter informasinya lebih up to date. Terus kita bisa pilih apa-apa aja yang kita suka yang bisa mengisi beranda kita. Kalau awak misalnya suka bola nih, awak tinggal cari akun twitter official club bola favorit awak”.
Selain banyak mengetahui informasi tentang bola lewat twitter, Gibran juga mengatakan bahwa twitter juga membantunya dalam memperkaya informasi tentang agama, musik dan berita terkini. Selain mengikuti akun-akun seperti itu, ia juga mengikuti pengguna twitter lain hanya saja ia lebih menyaring siapa saja yang ia follow pada akun twitter-nya. Gibran juga mem-follow akun twitter orang- orang yang ia kenal di dunia nyata sehingga komunikasi yang ia jalin dengan teman-temannya lebih terjaga. Sebab, ia tidak ingin seperti saat menggunakan facebook. Ia memiliki teman facebook sebanyak 1.700-an orang tetapi lebih banyak orang yang tidak dikenalnya di dunia nyata.
Aktivitas yang dilakukan Gibran di twitter juga berbeda jika dibandingkan saat ia menggunakan facebook. Saat menggunakan facebook ia lebih sering melakukan aktivitas self discloaure dan bermain games online. Namun, saat ia menggunakan twitter aktivitasnya sedikit berubah dimana ia lebih sering mencari dan berbagi informasi dibandingkan melakukan aktivitas self disclosure lewat status di media sosial. Komunikasi yang ia lakukan dengan temannya di twitter juga tidak sesering ketika ia menggunakan facebook. Ia berinteraksi dengan teman-teman twitter hanya pada saat ada yang mengajaknya berinteraksi atau ketika temannya mengunggah tweet atau foto yang menarik saja. Saat ditanyakan apakah ia masih menggunakan gaya bahasa yang kasar, Gibran mengatakan bahwa ia sudah menguranginya. Sebab, ia pernah membaca berita yang menjadi trending topic dikalangan para pengguna twitter terkait kasus hukum yang menjerat tukang sate yang menghina Presiden Jokowi.
“Sekarang udah enggak se-frontal dulu sih kak. Makanya sekarang udah jarang nge-tweet takut salah tulis. Soalnya sekarang ini banyak yang dipenjara gara-gara status media sosial.Udah ada Undang-Undangnya setau awak kak. Jadi,sekarang lebih banyak baca newsfeed sama nge- retweet informasi atau tulisan-tulisan humor dari akun lain aja sih kak. Udah jarang kali awak nulis tweet”.
Selain mendapat informasi dari twitter, Gibran juga mengatakan bahwa ibu dan kakaknya sering memberi nasihat kepadanya agar berhati-hati saat menggunakan media sosial. Sejak keluarganya mengetahui bahwa Gibran menggunakan media sosial, ia mendapat pengawasan dari pihak keluarganya khususnya sang kakak. Agar dapat mengawasi Gibran, sang kakak juga mengajari ibunya menggunakan facebook sehingga dengan demikian aktivitas informan dapat terpantau oleh pihak keluarga. Hal tersebut juga yang menjadi alasan Gibran untuk tidak lagi aktif menggunakan facebook. Ia merasa risih dengan tindakan keluarganya tersebut. Apalagi sang kakak yang aktif menasehatinya jika kakaknya melihat Gibran mengunggah tulisan yang bernada kasar atau menyindir.
Namun dengan berjalannya waktu, akhirnya Gibran dapat menerima sikap keluarganya tersebut. Apalagi dengan banyaknya kasus yang menjerat para pengguna media sosial semakin memberinya wawasan tentang penggunaan media sosial. Gibran membaca berita online yang memuat tentang kasus tersebut dan kemudian mendiskusikannya dengan sang kakak sehingga ia mengetahui bahwa ternyata ada Undang-Undang yang mengatur tentang internet. Selama menggunakan media sosial, Gibran tidak mengetahui adanya aturan tersebut, sehingga ia merasa bahwa media sosial miliknya seperti facebook atau twitter adalah media pribadi. Jadi, ia dengan bebas mengekspresikan dirinya melalui tulisan-tulisan statusnya.
Awalnya Gibran tidak mengetahui bahwa tindakannya selama ini tersebut termasuk tindakan bullying di media sosial. Gibran juga tidak pernah merasa bahwa ia merupakan korban bullying. Tindakannya yang mengejek sesama ketika saling berkomunikasi di media sosial dianggap sebagai tindakan yang tidak melanggar norma. Namun, pihak keluarga mengambil peran aktif dalam membimbing dan mengarahkan Gibran. Menurut pengakuan penggemar club sepak bola Barcelona itu, sang kakak dan ibu sering memberinya nasihat agar
menggunakan media sosial secara bijak. Sebab, ibu dan kakaknya tersebut mengikuti perkembangan berita tentang banyaknya pengguna media sosial yang terjerat kasus hukum.
Gibran sempat merasa risih dengan adanya reaksi dari pihak keluarga yang mulai mengawasi aktivitasnya di media sosial. Namun pada akhirnya Gibran menyadari bahwa tindakan keluarganya tersebut merupakan tindakan yang baik. Sebab, Gibran tidak akan tahu jika ada pemberitaan tentang hal tersebut. Kemudian ia pun mencari tahu sendiri pemberitaan tersebut lewat internet. Ia mengetahui tentang beberapa kasus yang menjerat tukang sate yang menghina Jokowi dan sejak saat itulah ia mengetahui adanya aturan yang mengatur tentang tindakan di dunia maya.
“Awak pernah baca sekilas tentang UU ITE, tapi awak enggak tahu pasti isinya apa. Cuma kakak awak bilang, kalau di internet ada Undang- Undangnya. Kita enggak boleh menyinggung SARA, enggak boleh menipu, enggak boleh bertindak kejahatan, melakukan pencemaran nama baik dan enggak boleh memfitnah”.
Sejak mengetahui hal itu, Gibran lebih hati-hati dalam beraktivitas di media sosial. Ia mengaku telah mengurangi intensitasnya mengunggah tulisan di media sosial facebook dan twitter. Meskipun Gibran tidak mengetahui netiket, namun ia memiliki pemahaman yang baik tentang etika yang harus dijaga oleh setiap pengguna media sosial. Gibran mengatakan bahwa kini ia lebih selektif dalam berkomunikasi dengan pengguna media sosial facebook dan twitter. Misalnya ketika ia berkomunikasi dengan pengguna twitter perempuan ia menggunakan kata-kata yang sopan seperti menggunakan kata panggil nama dan bercanda dengan cara yang lebih halus. Gibran menambahkan bahwa setiap pengguna media sosial harus berhati-hati saat memberi komentar terhadap suatu hal. Menurutnya, memberi komentar tidak boleh sembarangan karena hal itu berkaitan dengan nama baik seseorang dan sebelum berkomentar, ada baiknya orang tersebut memahami sumber informasi yang tepat.
Meskipun ia memahami hal tersebut, namun ia mengaku masih sering melanggar etika yang diketahuinya. Misalnya menggunakan bahasa yang “nyeleneh” kepada teman lelakinya seperti menggunakan kata panggil aku, kau, bodat atau monyet. Meskipun ia sudah tahu bahwa tindakan itu termasuk tindakan
bully namun menurutnya, jika gaya bahasa anak lelaki terlalu sopan, terdengar agak aneh. Menurut Gibran, tindakan tersebut wajar dilakukan kepada orang yang sudah saling akrab.
4.1.3.2Dilla
Waktu Wawancara : 27 Januari 2015, pukul 13.45 WIB.
Tempat Wawancara : Kantor Trans Engineering Sentosa, Jl. Garu II B. Informan kedua ini merupakan seorang pengguna facebook yang telah diamati sejak pertengahan Januari 2015. Dilla, sering muncul di beranda facebook milik peneliti, ia sering menggunakan smartphone setiap mengakses facebook . Ia sering mengunggah foto momen-momen penting ke akun facebook-nya. Hal tersebut bertujuan untuk berbagi momen kebahagiaan dengan sesama pengguna facebook dan juga sebagai arsip digital. Selain mengunggah foto, Dilla juga melakukan hal lain di akun facebook-nya.
“Aku sih senang travelling ya mbak, dari dulu aku senang upload foto-foto
pribadiku. Saat-saat sedang traveling atau sedang selfie atau momen lain bersama teman atau keluarga juga aku upload. Kalau di facebook yaitu aja sih yang paling sering aku lakukan tapi terkadang aku juga nulis status, komentar di status atau foto orang lain, kasih likes, chatting juga masih sering aku lakukan ke teman-teman atau saudara aku”.
Selain travelling, Dilla juga memiliki hobi membaca dari berbagai sumber termasuk internet. Setiap informasi yang ia rasa menarik selalu ia bagikan di- timeline twitter atau facebook-nya. Dilla membagi informasi tentang banyak hal seperti informasi tentang kuliner, wisata, humor atau tentang berita terkini. Ia lebih terlihat aktif di facebook daripada di twitter karena ia lebih senang menggunakan facebook yang lebih banyak fiturnya dibandingkan twitter. Dilla juga mengatakan bahwa teman-teman facebook-nya jauh lebih banyak yang memberi feedback atas informasi yang dibaginya tersebut. Meskipun ia tidak mengenal semua teman-teman facebook-nya itu sementara di twitter ia hanya berteman dengan orang-orang yang dikenalnya saja dan jumlahnya relatif sedikit.
“Dulu sih aku tidak pilih-pilih teman, kenal atau enggak tetap aku terima
permintaan pertemanannya. Jadi kalau di facebook itu, kebanyakan orang yang tidak aku kenal sih mbak haha. Tapi, tidak kenal bukan berarti enggak
ada interaksi sama sekali. Ada juga mereka yang suka kasih likes atau komentar di postingan aku. Entah itu soal foto, link-link informasi atau hanya sekedar status, mereka aktif memberi respon daripada kawan di twitter. Soalnya di twitter hampir semua yang follow aku dan yang aku follow adalah orang-orang yang aku kenal Hehehe”.
Hingga saat ini, Dilla masih aktif menggunakan kedua media sosialnya yaitu facebook dan twitter. Namun, ia masih jauh lebih sering mengakses facebook lewat gadget atau komputer di kantornya daripada mengakses twitter. Alasannya masih menggunakan facebook karena media sosial tersebut dapat memenuhi kebutuhan dirinya akan informasi, hiburan dan memberinya kebebasan untuk berinteraksi dengan orang terdekatnya. Selain itu, facebook banyak menyediakan banyak pilihan games online dan games online tersebut merupakan hiburan tersendiri baginya saat mengisi waktu luang di kantor. Dilla mengakses facebook sebanyak 5 kali dalam seminggu dan menggunakan hampir 1 jam waktunya hanya sekedar berselancar di facebook sambil main games online.
Aktivitas Dilla di media sosial facebook juga terpantau oleh ibu dan keluarganya. Bahkan sang ibu juga merupakan pengguna aktif media sosial facebook. Awalnya, informan tidak suka jika ibunya juga menggunakan media sosial karena ia jadi tidak bebas berselancar di facebook. Apalagi sang ibu sempat aktif mengomentari setiap postingan yang ia unggah di facebook. Namun, akhirnya Dilla dapat memahami keinginan sang ibu yang menggunakan media sosial facebook. Dilla paham betul bahwa sebagai seorang sosialita, sang ibu perlu mengikuti perkembangan zaman agar tidak tertinggal oleh teman-teman ibunya yang lain.
Reaksi berbeda justru ditunjukkan oleh anggota keluarganya yang lain seperti om, tante dan para sepupunya. Merasa tidak suka dengan tindakan informan yang gemar mengunggah status yang berisi tentang curahan hati dan mengumbar emosi di ruang publik, pihak keluarganya tersebut sering memberi nasihat baik secara langsung ataupun tidak langsung kepadanya. Reaksi yang diberikan oleh keluarganya tersebut tidak terlalu ia hiraukan.
“Waktu itu tanggapan aku sih biasa aja ke mereka haha. Nasihat mereka juga tidak terlalu aku dengarkan waktu itu. Namanya juga waktu itu masih labil, masih merasa punya dunia sendiri dan merasa paling benar haha...”.
Dilla menceritakan bahwa dulu ia memang sering curhat di facebook dan menganggap bahwa facebook adalah teman terbaiknya saat itu. Informan tidak ragu untuk membagi masalah pribadinya lewat status pribadinya di facebook. Masalah pribadi yang biasa ia ungkapkan di facebook yaitu tentang keluarga khususnya ketika orang tuanya akan bercerai pada tahun 2011. Dilla mengungkapkan isi hatinya lewat status dengan berbagai cara seperti melalui puisi, kata-kata bijak, catatan pribadi, cerpen bahkan tidak jarang ia mengungkapkannya secara terang-terangan. Hal itu yang membuat keluarganya bereaksi atas tindakan informan yang dianggap mengumbar aib keluarganya.
Setelah mengungkapkan isi hatinya lewat status di facebook, Dilla mengaku bahwa ia memperoleh kepuasan batin. Beban yang ia rasakan sedikit berkurang. Apalagi sebagai anak tunggal, Dilla memang tidak memiliki banyak pilihan untuk bercerita pada keluarganya. Sang pacar pun ternyata belum tentu dapat meringankan beban yang ada dibenaknya saat itu. Apapun yang ia alami dan ketika ia merasa tertekan dengan situasi yang ia alami, facebook merupakan wadah yang dianggapnya dapat memberikan solusi. Sebab, teman-temannya sesama pengguna facebook terkadang mampu menghiburnya.
Sebagai seseorang yang cukup aktif mengunggah status di facebook, Dilla sering kebablasan dalam memanfaatkan jejaring sosial tersebut. Terkadang, ia pun tidak terlepas dari konflik yang diakibatkan oleh curahan hatinya di facebook. Setiap ketika punya masalah dengan teman atau pacar, ia pun mengunggah status sindiran terhadap orang-orang yang ditujunya. Ia melakukan itu dengan sengaja dengan tujuan agar orang yang tidak disukainya mengetahui perasaannya. Aksi Dilla yang suka menyindir orang lain lewat status itu pun sering mendapat balasan dari orang lain. Sehingga diantara mereka yang merasa punya masalah satu sama lain terlibat perang status di facebook dan akhirnya membawa dampak negatif bagi hubungan pribadi mereka hingga ke dunia nyata.
“Kalau ingat masa-masa dulu sih lucu banget mbak! Dulu tuh aku sempat
jadi anak yang cukup frontal di facebook. Setiap ada hal yang enggak aku suka pasti aku tulis status di facebook. Facebook sudah seperti alat perang buat menyindir orang yang tidak aku suka. Misalnya, setiap punya masalah sama kawan karena sesuatu hal lalu dia buat status menyindir ke aku pake istilah-istilah yang mengarah langsung ke aku terus aku merasa tersinggung, pasti aku balas juga buat status yang lebih pedih dari status
yang dibuatnya. Sakin kejamnya aku waktu itu sampe aib-aib pribadinya ku bongkar di facebook. Duh pokoknya jahat banget deh aku waktu itu. Aku dulu tuh sering banget perang status di facebook. Hal terparah yang pernah kejadian yaitu orang yang tidak aku suka itu komentar distatus yang kubikin