• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1.3 Hasil Pengamatan dan Wawancara

Seperti yang telah disebutkan dalam tujuan penelitian ini, untuk mengetahui bagaimana gaya komunikasi verbal dan nonverbal anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Perempuan di Provinsi Sumatera Utara, peneliti melakukan pengamatan langsung dan wawancara secara mendalam kepada lima orang anggota perempuan DPRD Provinsi Sumatera Utara. Berikut hasil wawancara dengan masing-masing informan :

Informan I

Hj. Meilizar Latief, MM

Ibu Meilizar Latief adalah informan pertama dalam penelitian ini. Wawancara dimulai dengan menanyakan biodata beliau, dan dilanjutkan dengan pertanyaan lainnya yang telah disiapkan oleh peneliti. Ibu Meilizar Latief mengaku bahwa beliau bukanlah pendatang baru di dunia perpolitikan, beliau sudah memasuki periode kedua dalam menjabat sebagai wakil rakyat. Beliau menggeluti dunia politik sejak terpilihnya sebagai anggota dewan di tahun 2009 sampai tahun 2014. Tidak berhenti sampai disitu, beliau kembali terpilih sebagai wakil rakyat pada periode 2014 sampai 2019.

“Saya sudah dua periode disini, periode 2009 sampai 2014 dan terpilih lagi untuk periode 2014 sampai 2019.”

Dalam kesehariannya berkomunikasi di kantor, apabila sedang berada di situasi yang formal beliau akan menggunakan bahasa Indonesia formal. Namun beliau mengakui bahwa bahasa daerah juga kerap muncul, dikarenakan lingkungan tempat beliau bekerja terdapat berbagai etnis dan suku sehingga saat mereka berinteraksi secara tidak sengaja mereka akan menggunakan bahasa daerah. Seperti beliau yang berasal dari Padang, terkadang jika bertemu dengan orang Padang beliau menggunakan bahasa daerah.

Bahasa yang sering digunakan bahasa Indonesia dan bahasa daerah, jadi kita disinikan berbagai etnis suku yang mayoritas disini Tapanuli Selatan banyak juga, batak banyak juga. Di dalam komunikasi formal kami menggunakan bahasa Indonesia, tapi seperti saya Padang ada juga kadang-kadang beberapa disini menggunakan bahasa tradisional. Jadi kadang-kadang sering juga muncul bahasa tradisional. Jadi kita di Sumatera Utara ini memang tidak seperti di Barat sana selalu menggunakan bahasa yang sifatnya internasional. Jadi kalau kita disini lebih ke bahasa Indonesia formal.”

Saat pertama sekali menjabat sebagai anggota dewan, beliau mengakui adanya kesulitan saat berinteraksi ataupun berkomunikasi, menurut beliau hal ini disebabkan oleh latar belakang pendidikan dan pengalaman yang berbeda-beda setiap orang. Terlebih pada diri beliau, yang memiliki latar belakang pengalaman kerja yang berbeda dengan dunia politik. Dulunya beliau bekerja di sebuah bank, berkutat dengan angka dan memiliki hasil akhir pada hari itu juga. Bagi beliau hal itu berbeda jauh dengan dunia politik yang memiliki tenggang waktu, tidak dapat terukur jangka waktunya karena menyangkut aspirasi rakyat serta kepentingan

politik. Meskipun awalnya beliau merasa terhambat, namun saat itulah beliau mempelajari apa sesungguhnya pekerjaan anggota dewan, dengan beradpatasi, memahami, dan menghayati sesungguhnya pekerjaan yang beliau tekuni adalah pekerjaan yang indah.

”Sebetulnya dalam berkomunikasi ataupun interaksi karena background kita pada saat masuk ke DPRD ini artinya masing-masing dari dunia yang berbeda-beda, dari background pendidikan, pengalaman berbeda-beda. Jadi namanya kita terbiasa kadang-kadang bekerja sebelumnya dengan suatu yang setiap hari terukur, misalnya kita kerja di kantor, di bank atau di PT itu satu harinya itukan ada terukur. Kalau di dewan ini, pekerjaan kita adalah rata-rata yang menyangkut aspirasi masyarakat. Jadi artinya tidak ada setiap hari dihitung angka, seperti kami bekerja itu dengan mitra provinsi Sumatera Utara. Jadi komunikasi disitu, bagi saya pribadi awalnya memang ada masalah, karena saya datangnya dari pekerjaan yang profesional yang kalau empat ditambah empat itu enambelas, itu siap hari itu. Tapi dalam dunia politik ada tenggang waktu, ada aspirasi ada kepentingan politik jaditerhambatnyadisitu awal-awalnya, sambil kita mempelajari apa sesungguhnya pekerjaan di dewan ini. Kita harus adaptasi, kita harus memahami, kita harus menghayati bahwa sesungguhnya pekerjaan politik ini indah.”

Dalam lingkungan organisasinya, Ibu Meilizar mengakui ketimpangan sering terjadi antara laki-laki dan perempuan. Sebelumnya pada periode pertama, beliau memang ditempatkan di komisi yang sesuai dengan background pendidikannya yaitu komisi B bagian perekonomian. Tetapi setelah memasuki periode kedua, beliau ditempatkan di komisi E bagian kemasyarakatan, yang menurut beliau tidak sesuai dengan background pendidikannya. Beliau beranggapan, hal itu kerap memicu perbedaan persepsi dan sulit untuk menyatukannya karena perbedaan cara pandang dari background yang berbeda. Beliau menjelaskan bahwa politik ini merupakan sarat kepentingan yang suka tidak suka harus siap dan tetap professional.

Ketimpangan kerap sekali terjadi antara laki-laki dan perempuan, itu salah satu faktornya adalah kami yang ada sekarang ini dengan background yang berbeda-beda jadi susah untuk menyatukan dan menyamakan persepsinya susah. Dan kita selalu ditempatkan di komisi yang sebetulnya itu tidak sesuai dengan backgrund kita, dulu pada periode 2009 sampai 2014, saya memang ditempatkan di komisi yang sesuai dengan background pendidikan ekonomi saya yakni Komisi B. Tetapi yang namanya politik ini kan sarat kepentingan. Jadi seperti saya, katakanlah saya ini fraksi di partai Demokrat, background saya ekonomi,

Ada 2 faktor. Faktor pertama memang kondisi anggota fraksinya tidak mengijinkan yang tidak membenarkan kita untuk memilih. Faktor yang kedua like-dislike, itu tetap ada namanya politik sarat kepentingan, sehingga background selalu tidak sama dengan apa yang kita kerjakan. Tapi, dimana pun kita ditempatkan kita harus tetap professional, tetap belajar hal-hal baru yang mungkin belum kita ketahui. Sebab kita sudah diberi tugas dan tanggungjawab, yang harus bagaimanapun kita harus melakukan yang terbaik, tetap professional dengan tanggungjawab dan tugas itu.”

Saat disinggung mengenai konstituen yang pro maupun yang tidak, Ibu Meilizar mengaku tetap bersikap adil sekalipun beliau tahu ada konstituen yang tidak pro terhadap beliau. Sebagai wakil rakyat, beliau tetap bersikap adil dan seimbang terhadap konstituen yang ada di daerah pemilihannya baik itu yang pro maupun yang kontra terhadap beliau, karena bagi beliau rakyat itu sama di mata hukum.

“Tidak, tidak ada yang berbeda. Kita ini kan sudah terpilih menjadi wakil rakyat semua rakyat itu sama di mata hukum, sekalipun saya tahu bahwa si X tidak pro terhadap saya, bukan berarti saya tidak memperdulikannya dan jarang menemui mereka. Siapapun konstituen yang berada di daerah pemilihan saya, saya akan selalu berlaku adil dan tidak ada pilih-pilih kasih. Bukan wakil rakyat lah namanya kalau tidak melakukan pemerataan terhadap konstituennya. Jadi untuk siapa yang sering didatangi, keduanya sama-sama balance, baik yang pro maupun yang tidak pro terhadap saya. Tidak ada itu namanya konstituen yang jarang di datangi dan sering didatangi.”

Untuk gaya berpakaian, Ibu Meilizar mengaku bukanlah tipe orang yang modis yang selalu mengikuti perubahan trend dalam berbusana. Dari waktu ke waktu baik sebelum dan sesudah menjadi anggota dewan, beliau lebih memilih menggunakan busana muslim dengan baju lengan panjang dan celana panjang serta sesekali menggunakan rok. Hanya saja memiliki sedikit perbedaan saat dulu beliau bekerja di sebuah bank yang memang memiliki uniform tersendiri. Tidak pernah memakai kaos maupun celana jeans, beliau mengaku dalam kesehariannya nyaman dengan style formal yang beliau kenakan.

Tipekal saya memang yang tidak terlalu berubah mode jadi kalau di kantor begini, nanti kalau di pesta tinggal celananya diganti dengan rok, kalau saya pribadi ya, hanya kadang-kadang mau juga saya pakai rok ke kantor.Tapi kalau model baju sama, karena saya lebih familiar dengan gaya baju seperti ini. Saya orangnya tidak modis, tidak mengikuti trend sekarang kan baju muslim itu kan banyak tapi saya orangnya gak bisa. Inilah standart baju saya ahahha. Saya kalau keluar tidak pernah pakai baju kaos, gakpernah pakai jeans. Saya sudah beginilah style nya

formal. Tapi mungkin adek-adek bisa lihat bahwa kami juga disini disediakan uniform, tapi kesehariannya kami menggunakan baju bebas. Tapi kalau tentunya memang etika berbusana kantor dengan busana pesta itu mesti dibedain. Sebelum menjadi anggota DPR memang begini gaya berbusana saya, kecuali dulu masih bekerja di bank ada peraturan berbusananya disesuaikan dengan uniform kantor itu.”

Sementara saat terjun ke masyarakat, gaya berpakaian maupun gaya berbahasa yang beliau gunakan lebih menyesuaikan dan berbaur kepada masyarakat. Seperti saat berkunjung ke pedalaman, beliau mengaku akan lebih nyaman jika mengganti sepatu dengan sandal. Sama hal nya saat berkomunikasi, beliau akan memakai bahasa yang sangat sederhana yang dapat dimengerti oleh masyarakat, beliau bahkan mengaku kerap mencuri gaya bahasa masyarakat yang dikunjunginya dan menghindari istilah-istilah yang tidak biasa disebut oleh masyarakat.

”Saya justru lebih minim lagi misalnya kesini (kantor) pakai gelang uda terbiasa pakai gelang, jadi ke masyarakat itu kita enaknya berpakain seperti mereka biar membaur, seperti pakai sendal, karena kita itu ke pedalaman. Saya kan dapil Medan, 11 kecamatan2014, pada saat 2009, 21 kecamatan wilayah saya. Yah bayangilah kalau kita pakaisepatu ke belawan turun ke pelabuhan ke tembung sana. Jadi sebenarnya lebih enaknyake masyarakat ini kita pun berbahasa pada saat kita menerima aspirasi, kita harus berkomunikasi dengan bahasa yang sangat sederhana. Kalau bisa pun bahasa mereka itulah yang kita curi. Kita gak bisa berbahasa yang aneh-aneh gitu, kita menyampaikan program pemerintah tidak gak bisa bila budgeting, kita cuma bisa bilang anggaran biaya misalnya. Kita enggak bisa bergaya bahasa yang tidak biasa mereka sebutkan, jadi komunikasi kita mengikuti komunikasi mereka.”

Dalam penggunaan bahasa tubuh atau komunikasi nonverbal, beliau mengaku lebih sering menggunakannya di lingkungan kerja terutama saat rapat di kantor. Menurut beliau gaya komunikasi nonverbal seperti gerakan tangan dapat memperlihatkan sikap tegas terhadap lawan bicara baik saat berbicara maupun saat mengeluarkan pendapat.

“Di kantor, kita berbicara di kantor apalagi saat rapat lebih cenderung menggunakan gerakan tangan untuk gaya nonverbalnya, karena bagi saya dalam mengemukakan pendapat apabila kita menggunakan gerakan tangan, hal itu lebih memperlihatkan sikap tegas.”

Setiap kali memiliki masalah di kantor, beliau mengaku akan berpengaruh pada ekspresi wajahnya. Tidak ingin masalah yang ada terbawa sampai ke rumah, beliau memiliki cara sendiri dalam mengatasinya yaitu sepulang dari kantor beliau

Hal ini beliau lakukan untuk meredakan pikiran beliau dari masalah yang ada, sehingga saat kembali ke rumah beliau tidak mencampur adukkan urusan pekerjaan dengan urusan keluarga.

Sedikit, kita memang bisa membedakan apalagi namanya manusia ini kadang mau sampai terbawa. Jadi kadang memang mau terbawa dalam keluarga, karena mood itu cukup berpengaruh ya dan gak bisa dibohongi oleh ekspresi wajah kita. Cara mengatasinya kalau saya ada masalah di kantor, terkadang saya kasih jeda waktu sebelum pulang ke rumah misalnya pergi belanja, jalan-jalan untuk meredakan. Setelah saya rasa sudah mendingan, baru saya pulang ke rumah. Jadi kan tidak terbawa sampai ke rumah, masalah yang di kantor cukuplah untuk di kantor, jangan dicampur baurkan dengan keluarga.”

Selain memberikan waktu sejenak untuk diri sendiri melupakan masalah, beliau mengakui tempat untuk beliau dapat mencurahkan isi hati maupun kekesalannya adalah suaminya sendiri. Sementara untuk teman sesama anggota dewan baik sesama fraksi maupun komisi, beliau mengaku lebih terbuka mengenai masalah pekerjaan dan masyarakat dibandingkan dengan urusan pribadi.

”Seperti yang saya bilang tadi, kalaupun ada masalah untuk melepaskan emosi saya lebih memilih memberikan waktu sejenak untuk saya sendiri atau biasa orang-orang bilang „me time‟, jadi kalaupun saya ingin cerita masalah atau kekesalan saya, suami saya tempat curhat saya. Kalau untuk teman-teman sesama anggota dewan baik itu teman satu komisi ataupun teman satu fraksi, kami lebih terbuka dalam masalah pekerjaan, masalah masyarakat lah, tapi kalau untuk urusan pribadi sih tidak begitu ya.”

Untuk penggunaan nada, intonasi maupun volume suara, Ibu Meilizar Latief mengaku akan mengkondisikan sesuai tempat, situasi dan lawan bicaranya. Seperti saat di keluarga, beliau menggunakan intonasi yang bersifat keibuan bagaimana layaknya istri terhadap suami, dan ibu terhadap anaknya. Sementara saat berada di lingkungan organisasinya khususnya saat berada di kantor beliau mengaku ada saat dimana intonasi yang dikeluarkan akan berubah-ubah, terlebih saat suasana rapat, naik-turunnya intonasi ataupun volume suara sangat berpengaruh disaat mengeluarkan pendapat ataupun menegaskan suatu hal. Berbeda saat berada di tengah masyarakat, beliau mengaku lebih memperhatikan intonasi, nada maupun volume yang dikeluarkan agar tidak menimbulkan persepsi yang berbeda pada masyarakat sehingga masyarakat akan tetap merasa nyaman dengan kehadiran beliau.

Pasti ada, kalau dengan anak-anak dan suami itu lebih ke intonasi bagaimana seorang ibu dengan anak bagaimana istri dengan suami, lebih ke bahasa sayang atau bahasa keluarga. Kalau dalam ruang lingkup pekerjaan khususnya saat di kantor, pasti ada saat-saat dimana intonasi kita itu berubah-ubah, naik-turunnya intonasi suara pasti ada. Terlebih saat kita melakukan agenda rapat, untuk mengeluarkan pendapat maupun menegaskan suatu hal intonasi suara kita bisa naik-turun. Tetapi untuk masyarakat sedikit berbeda ya, karena kan untuk menghadapi mereka itu harus bertahap, kita juga harus memperhatikan dari mulai kata, intonasi, nada dan volume suara kita agar mereka tetap nyaman berada dengan kita, dan mereka tidak salah persepsi dengan kita. Karena terakadangkan dari intonasi suara yang berbeda bisa membuat persepsi yang berbeda-beda juga dari lawan bicara kita.”

Informan II

Siti Aminah Perangin-angin, SE, MSP

Setelah selesai melakukan wawancara dengan Ibu Meilizar Latief, beliau langsung menunjuk Ibu Siti Aminah untuk dijadikan informan selanjutnya, yang kebetulan Ibu Siti Aminah juga berada di ruangan yang sama. Dalam wawancara peneliti dengan Ibu Siti Aminah, beliau menyatakan sudah 15 tahun terjun ke dunia politik dan menjabat sebagai anggota dewan di tanah Karo, bukan hanya sebagai anggota beliau juga pernah menjabat sebagai ketua DPR di Kabupaten Karo. Tidak hanya menjadi wakil rakyat di tanah Karo, enam bulan belakangan ini beliau sudah menjadi bagian dari anggota dewan Provinsi Sumatera Utara dengan menggantikan Sudarto Sitepu yang kala itu mengundurkan diri sebagai anggota dewan dikarenakan mengikuti Pilkada Kabupaten Karo, akhirnya beliau diangkat dan dilantik sebagai anggota DPRD Sumut dengan masa jabatan 2015 sampai 2019.

“Sudah 15 tahun atau tiga periode ya saya menjadi anggota dewan di tanah Karo, pernah juga menjabat sebagai ketua DPR di Karo. Setelah itu, dulu anggota dewan Pak Sudarto Sitepu mengundurkan diri karena beliau ikutdalam Pilkada Kabupaten Karo, nah untuk menggantikan posisi beliau saya kemudian dilantik menjadi anggota DPR SUMUT menggantikan posisi beliau dari tahun 2015 sampai 2019.”

Sehari-hari saat berkomunikasi di lingkungan kantor dalam penggunaan bahasa beliau mengaku tidak hanya memakai bahasa Indonesia, namun tergantung siapa lawan bicaranya. Apabila beliau bertemu rekan dengan suku yang sama, beliau juga akan menggunakan bahasa daerah. Sama seperti saat beliau

beliau memakai bahasa Indonesia yang juga diselingi dengan bahasa daerah. Namun hal itu berbeda saat beliau berada di lingkungan keluarga, beliau cenderung menggunakan bahasa daerah batak karo termasuk saat berinteraksi dengan anak-anaknya.

“Semuanya dipakai, bahasa Indonesia dan juga bahasa daerahmelihat orangnya, siapa teman berbicara. Kalau di rumah lebih sering pakai bahasa Karo sama anak-anak juga, sama seperti di masyarakat bahasa Indonesia juga sesekali di selingi bahasa daerah lah.”

Saat pertama kali terjun ke dunia politik beliau mengaku mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, terlebih dikala itu hanya beliau yang merupakan anggota dewan perempuan di tanah Karo. Sehingga saat terjun ke lapangan, anggota dewan laki-laki kerap merasa tidak nyaman dan marah apabila beliau ikut bersama mereka. Namun hal itu tidak menjadi halangan baginya untuk menjalankan tugasnya sebagai anggota dewan, justru di kesempatan itu beliau mengaku banyak mencuri ilmu dari anggota dewan yang lainnya.

”Ada, sulit pertama sekali dengan sesama anggota DPR, karena pada masa itu hanya saya sendiri perempuan anggota DPR di Karo. Jadi ya ilmunya saya curi pada saat saya pergi-pergi ke lapangan dengan anggota DPR yanglain. Hanya saja kadang merekamarah jika saya ikut dengan mereka, karena hanya saya sendiri yang perempuan, mereka merasa tidak nyaman dan menganggap saya seperti mata-mata.”

Namun hal itu tidak berangsur lama, seiring berjalannya waktu anggota dewan laki-laki sudah mulai terbiasa dengan kehadiran beliau. Beliau tidak lagi merasa canggung dan mulai merasa nyaman saat berkomunikasi maupun terjun ke lapangan bersama anggota dewan laki, dan sebaliknya anggota dewan laki-laki mulai terbiasa akan kehadiran dan keikutsertaan beliau. Terlebih lagi beliau sudah menjabat selama tiga periode sebagai wakil rakyat sehingga tidak ada lagi ketidaknyamanan satu dengan yang lainnya.

“Tapi seiring berjalannya waktu ketidaknyamanan itu sudah mulai hilang, anggota dewan laki-laki juga sudah terbiasa akan kehadiran saya saat ikut ke lapangan terlebih sudah tiga periode menjabat kan, jadi yah sudah nyaman saja, saya pun tidak canggung lagi meskipun hanya saya perempuan.”

Saat disinggung mengenai konstituen yang pro dan tidak, beliau mengaku lebih mengutamakan konstituen yang pro, namun tetap berusaha memberikan pengertian terhadap konstituen yang tidak pro agar dapat lebih mengerti akan kedudukan dan tugas yang beliau kerjakan. Beliau mengaku tetap menyayangi

konstituen yang pro maupun yang tidak, namun dalam hal ini beliau tidak menutupi bahwa tetap ada yang tersayang karena konstituen yang pro itulah yang telah mempercayakannya sebagai wakil mereka. Namun saat kunjungan beliau tetap adil terhadap yang pro maupun yang tidak, selagi beliau menjalankan tugas dan tanggiungjawabnya ia tidak memperdulikan apakah konstituen yang kontra itu mau mendengarkannya atau tidak.

“Ya utamanya apapun ceritanya konstituen yang memilih kita itu, itu yang kita utamakan, tapi yang tidak juga kita berusaha bagaimana caranya supaya dia juga mengerti apa yang menjadi tugas-tugas kita dan apa yang dia bisa peroleh dengan kedudukan kita, gitu. Karena rakyat ini banyak yang memilih karena uang, kita ingin merinso otak-otaknya yang tidak bagus itu, gitu kalau saya. Semua saya sayang sama rakyat ini, tapi ada yang tersayang karena dia yang mendudukkan kita, begitu. Ya semua, semua didatangi, kita kan ke satu desa, satu desa itu ya kalau kita reses kan kita undang semuanya, ya kalau tidak mau dengarkan ya itu terserah dia, tapi tugas kita sebagai wakil rakyat harus kita jalankan, gituu.”

Dalam segi penampilan, dulunya saat berprofesi sebagai pengusaha kedai kopi beliau mengaku tidak begitu memperhatikan penampilan, namun berbeda saat beliau mulai terjun ke dunia politik dan menjadi wakil rakyat. Saat sudah menjabat sebagai anggota dewan, beliau mengaku lebih memperhatikan penampilannya, lebih rapi dari sebelumnya. Menurut beliau dalam hal penampilan, sesuatu yang mewah bukanlah merupakan kunci utamanya, terlihat rapi saja sudah cukup baginya. Begitu juga dalam penggunaan aksesoris, beliau mengaku lebih menyesuaikan tempat, kondisi serta mood beliau, dalam artian aksesoris tersebut tidak setiap hari ia kenakan atau menempel ditubuhnya.

Jauh beda lah, dulu kan saya latar belakang pengusaha kedai kopi bergabung dengan bapak-bapak dan siapa saja, jadi tidak begitu memperhatikan penampilan. Setelah menjadi anggota DPR kan harus lebih rapi, tidak perlu terlalu mewah cukup rapi saja menurut saya. Saya juga hanya sesekali memakai aksesoris, itupun menyesuaikan tempat dan situasi ya. Kalau misalnya ke pesta, ya kadang saya pakai, ke kantor kalau saya lagi pengen ya saya pakai, tapi kalau lagi enggak pengen, ya tidak saya pakai.”

Sementara untuk gaya berpakaian saat ke lapangan atau berkunjung ke masyarakat, beliau lebih nyaman berpakaian seperti masyarakat biasanya. Beliau lebih memilih atasan yang nyaman seperti kemeja, dan memakai celana panjang. Untuk melengkapi rasa nyaman saat ke lapangan, beliau mengaku sangat jarang

mengganggu ruang geraknya dan menyebabkan beliau tidak nyaman dan leluasa saat berjalan di tengah-tengah masyarakat.

Sudah tiga periode di tanah Karo, jadi saat saya terjun ke masyarakat saya lebih nyaman memakai pakaian yang seperti masyarakat juga. Pakai atasan yang nyaman, kadang juga kemeja, pakai celana panjang, saya jarang memakai sepatu yang ber hak tinggi saat ke lapangan karena

Dokumen terkait