• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Pengamatan

Berdasarkan hasil pengamatan di RSUD Tugurejo Semarang dengan menggunakan pedoman observasi pada populasi pelayanan visum Triwulan I tahun 2013 yang berjumlah 61 pelayanan dan dari hasil wawancara dengan subjek petugas Bidang Pelayanan, Kepala Instalasi Rekam Medis, dan petugas filing didapatkan hasil sebagai berikut:

a. Pelaksanaan pelepasan informasi medis untuk keperluan visum et repertum.

a. Tata cara permintaan visum et repertum

1. Permintaan secara tertulis dari pihak kepolisian yang ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit

Permintaan tertulis dari pihak kepolisian Dokter Umum Administrasi visum Surat pengantar dari Direktur oleh bagian Bidang Pelayanan Kasi Pelayanan RJ Dokter Spesialis Mengurus administrasi Dokter Spesialis Forensik Dokter yg bertanggung jawab thd pasien Hasil Hasil Filing Kasi Pelayanan RJ Ka. Bidang Pelayanan Wadir Direktur Tidak diambil kepolisian Diambil kepolisian Diagendakan DRM

2. Kemudian Direktur mendisposisikan kepada Wakil Direktur dan selanjutnya Wakil Direktur merekomendasikannya kepada Kepala Bidang Pelayanan untuk kemudian diserahkan ke Kasi Pelayanan Rawat Jalan agar segera ditindaklanjuti

3. Kasi Pelayanan Rawat Jalan mengkoordinasikan secara lisan kepada bagian rekam medis terutama bagian filing untuk mencarikan Dokumen Rekam Medis (DRM) pasien

4. Setelah DRM ditemukan maka diserahkan kepada kasi pelayanan rawat jalan untuk diserahkan ke dokter yang memeriksa pertama kali (Dokter Umum) agar segera dibuatkan visumnya. Jika memang membutuhkan penanganan yang lebih lanjut, maka dari Dokter Umum dapat mengkonsultasikan kepada Dokter Spesialis sesuai dengan keadaan pasien. Tetapi untuk kasus tertentu pembuatan visum langsung ditangani oleh Dokter Spesialis seperti pada kasus Psikologi

5. Hasil visum yang masih dalam bentuk tulisan tangan dokter akan diketik dan dirapikan oleh Administrasi Visum dan setelah selesai hasilnya akan dimintakan tanda tangan dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien. Jika visum hanya dilayani oleh Dokter Umum maka hasilnya hanya akan dimintakan tanda tangan Dokter Umum, tetapi jika visum dikonsultasikan kepada Dokter Spesialis maka hasil visum dimintakan tanda tangan keduanya atau hanya salah satu dokter saja tergantung dari hasil pemeriksaannya baru kemudian dikonsultasikan dan dimintakan persetujuan kepada Dokter Spesialis Forensik

6. Setelah hasil visum ditandatangani oleh Dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien dan telah disetujui oleh Dokter Spesialis Forensik maka akan dibuatkan surat pengantar dari Direktur oleh bagian Bidang Pelayanan

7. Kemudian pihak rumah sakit dapat menghubungi pihak kepolisian untuk memberitahukan bahwa hasil visum sudah bisa diambil atau sebaliknya pihak kepolisian yang menghubungi pihak rumah sakit. Tetapi hasil visum tidak selalu diambil oleh pihak kepolisian. Jika kasus tidak untuk kepentingan peradilan (berakhir damai) biasanya hasil visum tidak diambil oleh pihak kepolisian melainkan hanya menjadi agenda rumah sakit. Dalam pengambilan hasil visum pihak kepolisian harus mengurus administrasi pada bagian Administrasi Visum terlebih dahulu yaitu mengisi Buku Register Pengambilan Visum Et Repertum yang di dalamnya mencantumkan tanggal pengambilan, nomor visum et repertum, nama dokter, nama pengambil, pangkat, NRP, wilayah, tanggal pengambilan dan tanda tangan pengambil.

b. Jenis kasus yang dimintakan visum et repertum

Berdasarkan hasil observasi pada lembar pelayanan visum Triwulan I tahun 2013 di RSUD Tugurejo Semarang jenis kasus yang dilayani yaitu:

1) Visum et repertum tentang pemeriksaan luka (korban hidup): a) Kasus penganiayaan

b) Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) c) Kekerasan Dalam Pacaran (KDP)

d) Kekerasan / Penganiayaan Terhadap Anak e) KLL / kecelakaan

f) Pengeroyokan g) Luka - luka

h) Perawatan pasca melahirkan

2) Visum et repertum tentang kejahatan susila: a) Pemerkosaan

b) Pencabulan

c) Pelaku pencabulan d) Persetubuhan anak e) Persetubuhan

3) Visum et repertum tentang pemeriksaan mayat (jenazah): Mayat gelandangan (pemeriksaan mayat non bedah).

4) Visum et repertum Psikiatrik: a) Psikologi

b) Hak asuh

Di RSUD Tugurejo Semarang pelayanan visum et repertum digolongkan menjadi dua jenis visum yaitu visum PPKPA dan visum Umum. Jumlah pelayanan visum et repertum Triwulan I

tahun 2013 pada masing – masing kasus dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.1

Pelayanan visum Triwulan I tahun 2013 di RSUD Tugurejo Semarang

No Kasus Spesialis Jenis Ʃ Kunj Persentase

1 Kasus penganiayaan Menyesuaikan Umum 20 32,79%

2 KDRT Menyesuaikan Umum &

PPKPA

7 11,47%

3 KDP Menyesuaikan Umum &

PPKPA

2 3,28%

4 Kekerasan/Penganiayaan Terhadap Anak

Menyesuaikan PPKPA 2 3,28%

5 KLL / kecelakaan Bedah / Peny. Dalam

Umum 1 1,64%

6 Pengeroyokan Menyesuaikan Umum 9 14,75%

7 Luka - luka Umum Umum 1 1,64%

8 Perawatan pasca mela- hirkan

Obsgyn PPKPA 1 1,64%

9 Pemerkosaan Obsgyn PPKPA 2 3,28%

10 Pencabulan Psikologi Umum 1 1,64%

11 Pelaku pencabulan Psikologi Umum 1 1,64%

12 Persetubuhan Anak Psikologi/ Anak

PPKPA 5 8,20%

13 Persetubuhan Obsgyn PPKPA 2 3,28%

14 Mayat gelandangan (pemeriksaan mayat non bedah).

Umum Umum 1 1,64%

15 Psikologi Psikologi PPKPA 5 8,20%

16 Hak asuh Psikologi PPKPA 1 1,64%

Total 61 100%

Keterangan:

Menyesuaikan yang dimaksud di sini yaitu untuk kasus - kasus tertentu dirujuk ke Dokter Spesialis sesuai dengan keadaan pasien yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Contoh: pasien bermasalah dengan telinga dirujuk ke Spesialis THT, Mata ke Spesialis Mata, dll.

c. Pihak Peminta visum et repertum

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara kepada petugas di RSUD Tugurejo Semarang didapatkan bahwa pihak yang berhak meminta visum et repertum adalah pihak penyidik dari kepolisian.

d. Pembuat visum et repertum

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di RSUD Tugurejo Semarang visum et repertum dibuat oleh dokter yang pertama kali menangani korban atau dokter jaga yang ada pada saat itu (Dokter Umum). Dokter Umum merujuk kepada Dokter Spesialis jika pasien memang memerlukan penanganan yang lebih lanjut dan hasilnya nanti akan ditandatangani oleh ke dua dokter tersebut atau hanya salah satu dokter saja tergantung dari hasil pemeriksaannya. Pada hasil visum tersebut terdapat tanda tangan dokter pemeriksa 1 dan dokter pemeriksa 2. Tetapi untuk kasus tertentu pembuatan visum langsung ditangani oleh Dokter Spesialis seperti pada kasus Psikologi. Pada kasus pemerkosaan biasanya dari Dokter Umum disarankan untuk dilakukan visum pada Dokter Spesialis Obsgyn. Untuk kasus – kasus lainnya dirujuk ke Dokter Spesialis sesuai dengan keadaan pasien yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Contoh: pasien bermasalah dengan telinga dirujuk ke Spesialis THT, Mata ke spesialis Mata, dll.

e. Peranan petugas rekam medis dalam melayani visum et repertum Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di RSUD Tugurejo Semarang peranan petugas rekam medis di sini yaitu

mencarikan Dokumen Rekam Medis (DRM), mencatat pada tracer sebagai ganti dokumen di rak filing, dan mencatat pada buku peminjaman (Buku Peminjam CM) yang di dalamnya berisi No. RM, nama, tanggal pinjam, nama peminjam, tanggal pengembalian dan tanda tangan. Untuk pasien lama jika dalam surat permintaan dari kepolisian tidak mencantumkan No. RM pasien maka petugas rekam medis akan mencarikan No. RM di indeks untuk kemudian dicari dokumen rekam medisnya. Pada pasien baru akan dibuatkan No.RM oleh bagian pendaftaran UGD. Untuk alur pelayanannya hampir sama dengan pelayanan pada pasien lama.

f. Penyerahan visum et repertum

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di RSUD Tugurejo Semarang hasil visum diserahkan langsung oleh Staf Bidang Pelayanan kepada pihak pemohon yaitu penyidik dari kepolisian yang pertama kali mengajukan permintaan visum tersebut. Tidak ada ketentuan dari rumah sakit mengenai pangkat pihak pengambil asalkan masih dalam instansi yang sama. Untuk pengambilan yang bukan dari pihak kepolisian maka harus menunjukkan surat kuasa dari kepolisian. Adapun ketentuan administrasinya yaitu pihak yang mengambil harus mengisi Buku Register Pengambilan Visum Et Repertum yang di dalamnya berisi tanggal pengambilan, nomor visum et repertum, nama dokter, nama pengambil, pangkat, NRP, wilayah, tanggal pengambilan dan tanda tangan pengambil. Formulir yang diserahkan yaitu formulir hasil visum yang sudah diketik disertai dengan surat pengantar dari

Direktur. Berdasarkan observasi kepangkatan pengambil visum Triwulan I tahun 2013 di RSUD Tugurejo Semarang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.2

Pengambil Hasil Visum Triwulan I tahun 2013 No Pangkat Pengambil Jumlah Persentase

1 Brigadir 2 8 % 2 Bripka 4 16 % 3 Briptu 2 8 % 4 Aipda 6 24 % 5 Aiptu 5 20 % 6 Peksos 2 8 % 7 Kurir 4 16 % Total 25 100%

Dari pelayanan visum Triwulan I tahun 2013 diketahui 40,98% hasil visum tidak diambil oleh pihak kepolisian karena tidak digunakan untuk kepentingan peradilan, biasanya kasus berakhir damai. Hasil visum yang tidak diambil oleh pihak kepolisian hanya akan diagendakan oleh pihak rumah sakit.

g. Pengagendaan visum et repertum

Berdasarkan hasil observasi dan wawancara di RSUD Tugurejo Semarang pengagendaan visum et repertum ditangani oleh bagian Bidang Pelayanan. Adapun hal – hal yang diagendakan yaitu surat permintaan dari kepolisian, surat disposisi, surat pengantar dari Direktur, formulir hasil visum et repertum yang sudah diketik dan yang belum diketik. Formulir hasil visum yang sudah diketik dapat diserahkan kepada pihak kepolisian jika akan

digunakan untuk kepentingan peradilan. Tetapi jika tidak untuk keperluan peradilan (berakhir damai) biasanya hasil visum tidak diambil oleh pihak kepolisian, melainkan hanya menjadi agenda rumah sakit. Kelengkapan formulir - formulir visum yang diagendakan di RSUD Tugurejo Semarang dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.3 Kelengkapan Formulir

No Formulir yang diagendakan Jumlah Presentase 1 Surat permintaan dari kepolisian 61 100% 2 Surat disposisi Direktur – Wakil Direktur 61 100% 3 Surat disposisi Wakil Direktur – Ka.

Bidang Pelayanan

61 100%

4 Surat disposisi Ka. Bidang Pelayanan – Kasi pelayanan RJ

61 100%

Hasil visum yang belum diketik 61 100% 5 Hasil visum yang sudah diketik 61 100%

6 Surat pengantar Direktur 61 100%

b. Prosedur tetap (protap) visum et repertum RSUD Tugurejo Semarang a. Permintaan visum dari pihak kepolisian ditujukan kepada Direktur

Rumah Sakit Umum Tugurejo Semarang

b. Direktur merekomendasikan kepada Kepala Bidang Pelayanan kemudian untuk diserahkan ke Kasi Pelayanan Rawat Jalan untuk ditindaklanjuti

c. Kasi Pelayanan Rawat Jalan memerintahkan staf yang ditunjuk untuk mencari dokumen Rekam Medik yang dimaksud di bagian Rekam Medik

d. Setelah dokumen rekam medik ditemukan, maka diserahkan ke Dokter Pemeriksa untuk dibuat Visumnya

e. Setelah visum selesai dibuat oleh dokter pemeriksa akan diketik dan dirapikan oleh administrasi visum kemudian dimintakan tanda tangan dari dokter pemeriksa. Setelah ditandatangani oleh dokter pemeriksa dimintakan persetujuan untuk dilakukan koreksi seperlunya oleh dokter Spesialis Forensik

f. Visum yang telah disetujui oleh dokter Spesialis Forensik, dibuatkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Direktur

g. Pihak kepolisian mengambil hasil visum melalui administrasi visum setelah menyelesaikan urusan administrasi. (11)

c. Kesesuaian antara protap visum et repertum dengan pelaksanaan visum et repertum Tabel 4.4 Tabel kesesuaian Protap Pelaksanaan Ʃ sesuai % Ʃ tidak sesuai % a. Permintaan visum dari pihak kepolisian

ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit Umum Tugurejo Semarang

61 100% 0 0%

b. Direktur merekomendasikan kepada Kepala Bidang Pelayanan kemudian untuk diserahkan ke Kasi Pelayanan Rawat Jalan untuk ditindaklanjuti

0 0% 61 100%

c. Kasi pelayanan Rawat jalan memerintahkan staf yang ditunjuk untuk mencari dokumen Rekam Medik yang dimaksud di bagian Rekam Medik

d. Setelah dokumen rekam medik ditemukan, maka diserahkan ke Dokter Pemeriksa untuk dibuat Visumnya

61 100% 0 0%

e. Setelah visum selesai dibuat oleh dokter pemeriksa akan diketik dan dirapikan oleh administrasi visum kemudian dimintakan tanda tangan dari dokter pemeriksa. Setelah ditandatangani oleh dokter pemeriksa dimintakan persetujuan untuk dilakukan koreksi seperlunya oleh Dokter Spesialis Forensik

61 100% 0%

f. Visum yang telah disetujui oleh Dokter Spesialis Forensik, dibuatkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Direktur

61 100% 0 0%

g. Pihak kepolisian mengambil hasil visum melalui administrasi visum setelah menyelesaikan urusan administrasi.

25 40,98 %

36 59,02 %

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui ketidaksesuaian antara pelaksanaan pelayanan visum et repertum dengan protap yaitu pada bunyi protap yang menyebutkan Direktur merekomendasikan kepada Kepala Bidang Pelayanan kemudian untuk diserahkan ke Kasi Pelayanan Rawat Jalan untuk ditindaklanjuti (100%). Pada kenyataannya dari Direktur kepada Wakil Direktur baru kemudian ke Kepala Bidang Pelayanan. Ketidaksesuaian lain yaitu pada bunyi protap yang menyebutkan pihak kepolisian mengambil hasil visum melalui administrasi visum setelah menyelesaikan urusan administrasi (59,02%). Pada kenyataannya hasil visum tidak selalu diambil oleh pihak kepolisian jika tidak digunakan untuk kepentingan peradilan, sehingga hanya diagendakan oleh pihak rumah sakit.

1. Pelaksanaan prosedur pelepasan informasi medis untuk keperluan visum et repertum.

a. Tata cara permintaan visum et repertum

1) Permintaan visum et repertum di RSUD Tugurejo Semarang diawali dengan permintaan secara tertulis dari pihak kepolisian (penyidik) dan ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit. Hal ini ditunjukkan dari persentase hasil penelitian pada dokumen visum Triwulan I tahun 2013 yang diagendakan didapatkan kelengkapan surat permintaan dari kepolisian secara tertulis berjumlah 100%. Tidak diperkenankan melakukan permintaan secara lisan dan permintaan langsung dari pasien sendiri karena visum digunakan untuk kepentingan peradilan dan surat permintaan dari kepolisian tersebut merupakan bukti bahwa ada pihak yang bertanggung jawab terhadap pasien.

Namun di dalam protap hanya menyebutkan bahwa permintaan visum dari pihak kepolisian ditujukan kepada Direktur Rumah Sakit Umum Tugurejo Semarang, tidak menyebutkan bahwa permintaan harus dilakukan secara tertulis.

Di dalam teori menyebutkan bahwa pemohon harus mengajukan permohonan tertulis yang ditujukan langsung ke Direktur Rumah Sakit. Pemohon yang diberi kewenangan oleh KUHP untuk meminta visum et repertum yaitu Penyidik, penyidik pembantu dengan pangkat serendah – rendahnya bagi penyidik Polisi Negara adalah pembantu Letnan dua atau komandan berpangkat bintara di bawah pembantu letnan dua, sedangkan

pangkat bagi penyidik pembantu serendah – rendahnya sersan dua, dan yang terakhir yaitu hakim namun yang melaksanakannya ialah jaksa penuntut umum. (10)

Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaannya sudah sesuai dengan protap yaitu sama – sama dilakukan oleh pihak kepolisian. Namun protap yang ada belum sesuai dengan teori karena belum mencantumkan bahwa permohonan harus dilakukan secara tertulis dan belum memuat ketentuan mengenai pemohon yang diberi kewenangan untuk melakukan permohonan.

2) Direktur mendisposisikan kepada Wakil Direktur dan selanjutnya Wakil Direktur merekomendasikannya kepada Kepala Bidang Pelayanan untuk kemudian diserahkan ke Kasi Pelayanan Rawat Jalan agar segera ditindaklanjuti. Hal ini ditunjukkan dari persentase hasil penelitian pada dokumen visum Triwulan I tahun 2013 yang diagendakan didapatkan kelengkapan ketiga surat disposisi masing-masing berjumlah 100%.

Isi Protap menyebutkan Direktur merekomendasikan kepada Kepala Bidang Pelayanan kemudian untuk diserahkan ke Kasi Pelayanan Rawat Jalan untuk ditindaklanjuti.

Di dalam teori menyebutkan bahwa setelah dari Direktur surat didisposisikan langsung ke bagian tata usaha rumah sakit kemudian surat tersebut didistribusikan ke Unit Rekam Medis yaitu kepada Kepala Rekam Medis terlebih dahulu. (10)

Dapat disimpulkan bahwa pelaksanaan belum sesuai dengan protap karena menurut protap tidak menyebutkan mengenai pendisposisian dari Direktur kepada Wakil Direktur. Pelaksanaan dan protap yang ada juga belum sesuai dengan teori. Dalam pelaksanaan dan protap dilakukan oleh Bidang pelayanan, sedangkan dalam teori pelaksanaannya dilakukan oleh Unit Rekam Medis.

3) Kasi Pelayanan Rawat Jalan mengkoordinasikan secara lisan kepada bagian rekam medis terutama bagian filing untuk mencarikan Dokumen Rekam Medis (DRM) pasien.

Dalam protap menyebutkan Kasi Pelayanan Rawat Jalan memerintahkan staf yang ditunjuk untuk mencari Dokumen Rekam Medik yang dimaksud di bagian Rekam Medik. Dalam struktur organisasi sendiri dapat dilihat bahwa Bidang Pelayanan tidak membawahi Rekam Medik, jadi sifatnya bukanlah perintah melainkan hanya sebatas koordinasi. Sekalipun Bidang Pelayanan tidak membawahi bagian Rekam Medik tetapi masih dapat dilakukan koordinasi karena kesepakatan bersama bagian yang bersangkutan yang terwujud di dalam protap dan telah ditandatangani oleh Direktur Rumah Sakit. Di dalam protap menyebutkan bahwa yang menangani visum ialah Bidang Pelayanan sedangkan pada umumnya pelayanan dilakukan oleh Unit Rekam Medis, keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing – masing.

Tabel 4.5

Kelebihan dan kekurangan masing – masing bagian Bagian yang

melayani

Kelebihan Kekurangan

Bidang Pelayanan Pelayanan visum akan lebih terfokus karena ada bagian tersendiri yang khusus mena- ngani visum.

Proses akan lebih panjang karena harus melakukan koordinasi pada bagian lain yaitu Rekam Medik. Secara struktur organisasi sendiri Bidang Pelayanan tidak membawahi URM

Unit Rekam Medis Pelayanan cukup dilakukan dalam satu bagian, yaitu Unit

Rekam Medis

sehingga lebih mudah dalam koordinasi tugas.

Karena tugas Unit Rekam Medik cukup banyak, maka pelayanan visum tidak dapat terfokus karena tidak ada petugas RM yang khusus menangani Visum

Dalam teori menyebutkan Kepala Rekam Medis memerintahkan petugas bagian visum et repertum untuk menanganinya. Staf rekam medis mencatat nomor dan menggandakan surat permohonan tersebut, lalu menyiapkan bandel Dokumen Rekam Medis korban dan formulir visum et repertum. (10)

Pelaksanaan di RSUD Tugurejo sudah sesuai dengan protap karena sama – sama dilakukan oleh Kasi Pelayanan Rawat Jalan. Dapat dikatakan bahwa pelaksanaan dan protap

yang ada belum sesuai dengan teori karena di dalam teori pelaksanaannya dilakukan oleh Kepala Rekam Medis.

4) Setelah DRM ditemukan maka langsung diserahkan kepada kasi pelayanan rawat jalan untuk diserahkan ke dokter yang memeriksa pertama kali (Dokter Umum) untuk segera dibuatkan visumnya. Jika memang membutuhkan penanganan yang lebih lanjut, maka dari Dokter Umum dapat mengkonsultasikan kepada Dokter Spesialis sesuai dengan keadaan pasien. Tetapi untuk kasus tertentu pembuatan visum langsung ditangani oleh Dokter Spesialis seperti pada kasus Psikologi.

Protap menyebutkan setelah dokumen rekam medik ditemukan, maka diserahkan ke Dokter Pemeriksa untuk dibuat visumnya.

Teori menyebutkan staf rekam medis mencatat nomor dan menggandakan surat permohonan tersebut, lalu menyiapkan bendel dokumen rekam medis korban dan formulir visum et repertum untuk diserahkan ke dokter yang menangani. Yang dimaksud dokter di sini semua dokter yang sudah disumpah baik Dokter Umum, Spesialis, Dokter Pemerintah baik sipil maupun tentara atau Polri juga Dokter Swasta. (10)

Pelaksanaan yang ada sudah sesuai dengan protap meskipun dalam protap tidak disebutkan secara jelas siapa yang menyerahkan DRM kepada dokter. Hal ini dapat mengakibatkan kesalahan dalam pelaksanaannya. Pelaksanaan dan protap yang ada belum sesuai dengan teori karena penyerahan kepada

dokter dilakukan oleh kasi pelayanan rawat jalan, sedangkan di dalam teori menyebutkan penyerahan dilakukan oleh Staf Rekam Medis.

5) Hasil visum yang masih dalam bentuk tulisan tangan dokter akan diketik dan dirapikan oleh Administrasi Visum dari Bidang Pelayanan dan setelah selesai hasilnya akan dimintakan tanda tangan dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien. Yang dimaksud dengan dokter yang bertanggung jawab di sini yaitu Dokter Umum atau Dokter Spesialis. Jika visum hanya dilayani oleh Dokter Umum maka hasilnya hanya akan dimintakan tanda tangan Dokter Umum, tetapi jika visum dikonsultasikan kepada Dokter Spesialis maka hasil visum dapat dimintakan tanda tangan keduanya atau hanya salah satu dokter saja tergantung dari hasil pemeriksaannya baru kemudian dikonsultasikan kepada Dokter Spesialis Forensik. Dokter Spesialis Forensik hanya bersifat sebagai konsultan sehingga tidak perlu membubuhkan tanda tangan pada lembar hasil visum. Dokter Spesialis Forensik hanya memberikan tanda tangan pada file yang diarsipkan di sebelah tanda tangan dokter penanggung jawab sebagai bukti persetujuan.

Protap menyebutkan setelah visum selesai dibuat oleh dokter pemeriksa akan diketik dan dirapikan oleh administrasi visum kemudian dimintakan tanda tangan dari dokter pemeriksa. Setelah ditandatangani oleh dokter pemeriksa dimintakan

persetujuan untuk dilakukan koreksi seperlunya oleh Dokter Spesialis Forensik.

Teori menyebutkan Apabila visum selesai dilaksanakan, maka dokter menyerahkan hasil visum ke bagian Unit Rekam Medis untuk diketik. Hasil kegiatan visum tersebut diserahkan kembali ke dokter yang bersangkutan untuk dikoreksi. Dan apabila ketikan sudah sesuai dengan hasil visum, maka dokter menandatangani hasil ketikan tadi. (10)

Pelaksanaan yang ada sudah sesuai dengan protap meskipun protap hanya menyebutkan visum dimintakan tanda tangan pemeriksa saja tanpa keterangan lebih lanjut. Pelaksanaan dan protap yang ada belum sesuai dengan teori karena menyebutkan bahwa hasil visum diketik dan dirapikan oleh administrasi visum, sedangkan di dalam teori hasil visum diketik oleh Unit Rekam Medis.

6) Setelah hasil visum ditandatangani oleh dokter yang bertanggung jawab terhadap pasien dan telah disetujui oleh Dokter Spesialis Forensik maka akan dibuatkan surat pengantar dari Direktur oleh bagian Bidang Pelayanan.

Protap menyebutkan visum yang telah disetujui oleh Dokter Spesialis Forensik, dibuatkan surat pengantar yang ditandatangani oleh Direktur

Teori menyebutkan apabila ketikan sudah sesuai dengan hasil visum, maka dokter menandatangani hasil ketikan tadi lalu

menyerahkan kembali hasil ketikan ke bagian Unit Rekam Medis untuk diserahkan ke penyidik. (10)

Pelaksanaan yang ada sudah sesuai dengan protap. Dapat dikatakan pelaksanaan dan protap yang ada belum sesuai dengan teori karena persetujuan yang terakhir dilakukan oleh Dokter Spesialis Forensik, sedangkan dalam teori persetujuan dilakukan oleh dokter yang bersangkutan (dokter yang memeriksa).

7) Kemudian pihak rumah sakit dapat menghubungi pihak kepolisian untuk memberitahukan bahwa hasil visum sudah bisa diambil atau sebaliknya pihak kepolisian yang menghubungi pihak rumah sakit. Tetapi hasil visum tidak selalu diambil oleh pihak kepolisian. Jika kasus tidak untuk kepentingan peradilan (berakhir damai) biasanya hasil visum tidak diambil oleh pihak kepolisian melainkan hanya menjadi agenda rumah sakit. Dalam pengambilannya pihak kepolisian harus mengurus administrasi pada bagian Administrasi Visum terlebih dahulu yaitu mengisi Buku Register Pengambilan Visum Et Repertum.

Protap menyebutkan Pihak kepolisian mengambil hasil visum melalui administrasi visum setelah menyelesaikan urusan administrasi. Urusan administrasi yang dimaksud di sini yaitu

Dokumen terkait