A. Gambaran Umum Pasien
Nama : An. GB
Jenis Kelamin : Laki-laki No. Rekam. Medis : 372-73-99
Tempat Tanggal Lahir: Jakarta, 14 Mei 1999
Umur : 14 tahun 10 bulan
Agama : Kristen Protestan
Pendidikan : Belum Tamat Sekolah Menengah Pertama Pekerjaan : Pelajar
Masuk IGD : 24 Maret 2014 Masuk R.Rawat : 27 Maret 2014
Ruang Rawat : Ged. A lt.1 bagian anak Tanggal Pengamatan : 2-4 Maret 2014
Diagnosa Medis :Decompensatio Cordis NYHA III-IV, Pulmonary Hypertension, Chronic Lung Disease, TB Paru Aktif dalam OAT (Obat Anti Tubercolosis) Bulan ke III, Gizi Buruk Marasmik
B. Masalah Penyakit Pasien 1. Riwayat Penyakit Keluarga
Tidak ditemukan penyakit serupa di dalam keluarga, selain itu tidak ada riwayat penyakit lain.
2. Riwayat Penyakit Dahulu
Imunisasi tidak lengkap, hanya BCG dan hepatitis 1x. Terdiagnosa Chronic Lung Disease, TB Paru on bulan III, Pulmonary Hypertension
3. Riwayat penyakit sekarang
Sesak, bengkak sejak 5 hari SMRS. Bengkak pada mata dan kaki. Aktifitas terbatas, mudah lelah, tidak ada batuk/pilek/demam/mual/muntah. Os rutin berobat ke poli respi dan kardio. Obat diminum teratur. Terakhir ke poli kardio 2 bulan yang lalu. Pasien saat ini dirawat dengan edukasi F100
4. Diagnosa penyakit : Penatalaksanaan Diet pada Pasien Decompensatio Cordis NYHA (New York Heart Association) III-IV,
Pulmonary Hypertension, Chronic Lung Disease, TB Paru Aktif dalam OAT (Obat Anti Tubercolosis) Bulan ke III dan Gizi buruk marasmik
C. Skrinning Gizi
Tahapan pelayanan gizi rawat inap diawali dengan skrinning/penapisan gizi oleh perawat ruangan dan penetapan order diet awal (preskripsi diet awal) oleh dokter. Skrining gizi adalah proses identifikasi karakteristik yang mempunyai hubungan dengan masalah gizi. Tujuan dilakukannya skrining gizi adalah untuk menentukan seseorang beresiko malnutrisi atau tidak. Proses skrining dapat dilakukan dengan cara memperoleh informasi tentang perubahan berat badan (meningkat atau menurun), perubahan asupan makanan, keluhan yang berhubungan fungsi saluran cerna (mual, muntah, diare). Untuk skrining gizi pada pasien anak-anak digunakan Strong Kids. Hasil skrining pada pasien yang diamati adalah 5 (pasien berisiko malnutrisi tinggi).
D. Asuhan Gizi Terstandar 1.Assessment
a) Antropometri
Secara umum, antropometri berarti ukuran tubuh manusia. Penilaian secara antropometri adalah suatu pengukuran dimensi tubuh dan komposisi dari berbagai tingkat umur dan tingkat gizi. Data antropometri merupakan hasil pengukuran fisik pada individu. Pengukuran yang umum dilakukan antara lain tinggi badan (TB), berat badan (BB), tinggi lutut, lingkar lengan atas, tebal lemak, lingkar pinggang, lingkar panggul, dan sebagainya. Data yang telah didapat akan dianalisis menggunakan CDC karena umur pasien > 5 tahun dengan kategori BB/U, TB/U, BB/TB dan LLA/U. hasil analisis disajikan dalam bentuk persentase. Data yang didapatkan dari pasien dan analisis status gizinya adalah sebagai berikut:
BB : 27 kg PB : 145 cm LILA : 16 cm BBI : 36 kg HA : 11 th 0 bln
Tabel 3.1 Pengkajian Status Gizi Berdasarkan Antropometri
Keterangan Hasil Penilaian
BB Ideal 36
-BB/U 58 % Gizi buruk
TB/U 86,5 % Gizi kurang
BB/TB 76 % Gizi kurang
LLA/U 63 % Gizi buruk marasmik
HA 11 tahun 0 bulan
-Kesan : status gizi An. GB adalah gizi buruk perawakan pendek.
E. Data Biokimia
Data biokimia adalah data yang didapat dari hasil pemeriksaan darah pada pasien. Data biokimia yang akan disajikan adalah data yang terkait dengan gizi
Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan Biokimia 26 Maret 2014
Data Biokimia Satuan Hasil Nilai normal Kesimpulan
Hb g/dl 13,6 11,5-14,5 Normal
Ht % 41,7 33-43 Normal
Leukosit /µL 7,060x103 4-12x103 Normal Trombosit /µL 262x103 150-400x103 Normal Kesan : tidak ada masalah gizi berdasarkan data laboratorium.
F. Klinis/Fisik
Data klinis merupakan data yang didapat dari apa penampakan atau yang dapat dilihat secara langsung oleh pasien ataupun dokter namun tidak dapat diukur, contohnya penampakan gemuk atau kurus, gigi tanggal/ompong, pasien dalam keadaan sadar atau tidak.
Sedangkan data fisik adalah data yang didapat dari hasil pengukuran fisik atau tubuh seperti tekanan darah,
denyut nadi, frekuensi pernapasan dalam satuan berapa kali per menit dan suhu tubuh. Berikut adalah data klinis dan fisik yang didapat dari pasien pada tanggal 1 April 2014
Tabel 3.3 Keadaan Klinis Pasien Tanggal 1 April 2014
Keadaan Hasil
Muka Muka pucat, tirus
Lengan Wasting, tulang terbalut kulit
Sesak Terlihat sesak namun sudah berkurang Nyeri dada Tidak ada nyeri dada
Mual/muntah/diar e
Tidak ada mual/muntah/diare Kesadaran Compos mentis
Kaki Tulang terbalut kulit, lemah jika berdiri Kesan: pasien mengalami gizi buruk marasmik
Tabel 3.4 Keadaan Fisik Pasien Tanggal 1 April 2014
Keadaan Fisik Hasil Nilai Normal Keterangan Tekanan darah(mmHg) 119/79 120/65 Normal
Nadi (kali/menit) 110 70-110 Normal
Pernapasan(kali/menit) 24 18-30 Normal
Suhu 0C 36,7 36-37 Normal
Sa02% 84 >90 Rendah
Kesan : pasien mengalami sesak nafas. G. Riwayat Diet
Riwayat diet didapatkan dari wawancara kepada keluarga pasien. Riwayat diet pada kasus ini dibagi menjadi 2 yakni pola makan sebelum masuk rumah sakit atau pola makan dirumah (meliputi adanya alergi terhadap makanan atau tidak, makan yang disukai dan tidak disukai) dan saat masuk rumah sakit. Untuk pola makan saat dirumah sakit ditentukan dengan metode recall 24 jam. Data dianalisis menggunakan nutrisurvey. Berikut data asupan makan sebelum dan sesudah masuk rumah sakit :
Riwayat diet pasien SMRS didapatkan berdasarkan anamnesis dengan ibu Pasien. Yaitu dengan menanyakan kebiasaan makan pasien selama 3 bulan terakhir yaitu meliputi makan utama, selingan, makanan kesukaan, makanan yang tidak suka dan makanan pantangan.
Pasien menyukai makanan yang digoreng dan sayur lalapan, tidak menyukai susu bubuk fullcream, serta kurang menyukai sayuran matang kecuali jagung kuning pipil dan sawi putih. Selain itu, jarang mengonsumsi sayuran. Tidak ada alergi dan pantanagan makanan. Makan utama sehari 3x dan 2x selingan. Berikut data asupan makan Pasien selama 3 bulan terakhir sebelum masuk rumah sakit:
Jam 08.00 = nasi 1 P, telur ceplok 1P,
Jam 10.00 = biscuit biskuat coklat 2 bungkus
Jam 12.00 = nasi 1,5P, tempe goreng 1P,sup sayuran¼ P. Jam 16.00 = roti 1P
Jam 18.00 = nasi 1,5P, tempe goreng 1P,sup sayuran¼P. Kesan: pola makan tidak seimbang
2. Riwayat Diet MRS
Data riwayat diet dianamnesis ketika 1 hari sebelum pengamatan yaitu dengan melakukan wawancara dengan ibu pasien. Selama di rumah sakit nafsu makan baik jika tidak sesak. Pasien saat ini (31 Maret 2014) mendapatkan diet MB 1500 kkal (3x utama dan 2x selingan) serta F100 3x200ml. Pasien dapat menghabiskan hampir semua makanan yang diberikan jika tidak sesak. Namun, saat ini sedang sesak sehingga tidak sarapan dan dalam sehari hanya mengonsumsi nasi 2P, Hewani 1,5P, Buah 2P, Biskuit biskuat 1 bungkus kecil serta F100 3x200ml.
Tabel 3.5 Asupan Energi dan Zat Gizi SMRS & MRS
Asupan SMRS MRS
Energi (kkal) 1558 1257
Protein (gram) 44.3 39.5
KH (gram) 221 135
Vit.A(RE) 300 2584
Vit.C (mg) 9 41
Fe (mg) 4 6
Ca (mg) 160 650
Kesan : Pasien mengalami penurunan asupan energi dan zat gizi makro yaitu protein, lemak, karbohidrat saat MRS. Namun terdapat peningkatan asupan zat gizi mikro yaitu vitamin A, vitamin C, zat besi dan kalsium.
3. Perhitungan kebutuhan
SMRS
Energi = 65 kkal/kgBBI = 65 x 36 kg = 2340 kkal = 2300 kkal Protein = 12% total kebutuhan = 70 gram
Lemak = 30% total kebutuhan = 77 gram KH = 58% total kebutuhan = 333 gram Vit.A = 600 RE
Vit.C = 75 mg Fe = 19 mg Ca = 1000 mg
Tabel 3.6 Perbandingan Asupan Energi & Zat Gizi SMRS Terhadap Kebutuhan Asupan Kebutuhan SMRS n % Energi (kkal) 2300 1558 68 Protein (gram) 70 44.3 64 Lemak (gram) 77 50 64 KH (gram) 333 221 67 Vit.A(RE) 600 300 30 Vit.C (mg) 75 9 12 Fe (mg) 19 4 21 Ca (mg) 1000 160 16
Kesan : Asupan energi dan zat gizi SMRS belum memenuhi kebutuhan yaitu kurang dari 90% kebutuhan.
4. Perhitungan kebutuhan
MRS
Perhitungan Energi dan zat gizi remaja gizi buruk marasmik Energi = 60kkal/kgBBI= 60 x 36 = 2160= 2100 kkal
Protein = 3gr/kgBBA = 3 X 27 = 81 = 80 gram = 15,2% Lemak = 30% total kebutuhan = 70 gram
KH = 54.8% total kebutuhan = 288 gram Vit. A = 600 RE
Vit. C = 75 mg
Fe = 19mg
Ca = 1000mg
Cairan = 1000ml/24 jam
Tabel 3.7 Perbandingan Asupan Energi & Zat Gizi MRS Terhadap Kebutuhan Asupan Kebutuhan nMRS % Energi (kkal) 2100 1257 60 Protein (gram) 80 39.5 49 Lemak (gram) 70 64 91 KH (gram) 288 135 47 Vit.A(RE) 600 2584 430 Vit.C (mg) 75 41 55 Fe (mg) 19 6 32 Ca (mg) 1000 650 65 Cairan 1200 1350 112
Kesan : Asupan pasien MRS belum mencapai kebutuhan yaitu asupan kurang dari 90%
Tabel 3.8 Perbandingan Asupan Energi & Zat Gizi SMRS & MRS Terhadap Kebutuhan
Asupan Persentase SMRS Persentase MRS
Energi 68 60 Protein 64 49 Lemak 64 91 KH 67 47 Vit.A 30 430 Vit.C 12 55 Fe 21 32 Ca 16 65 Cairan - 112
Kesan: asupan energi dan zat gizi pasien SMRS dan MRS belum memenuhi kebutuhan yaitu belum mencapai 90% kebutuhan
H. Riwayat Personal
Riwayat personal adalah data-data mengenai pasien meliputi pendidikan, pekerjaan, social ekonomi, dsb. Riwayat personal dalam kasus ini adalah pasien merupakan anak pelajar SMP dengan berat lahir 3000 gram dan panjang lahir 45 cm. Pasien anak ke 1 dari 4 bersaudara. Memiliki riwayat imunisasi tidak lengkap, hanya BCG dan Hepatitis B 1x. tidak ada riwayat penyakit serupa dalam keluarga. Pasien sudah berobat jalan selama 2 tahun dan sudah dirawat 4x di RSCM. Aktifitas pasien di rumah terbatas karena sesak. Pasien berobat dan dirawat dengan Jamkesmas dan belum pernah mendapat kosneling gizi. Berikut obat yang diberikan:
Tabel 3.9 Data Obat
Obat Manfaat Interaksi obat terhadap
makanan Klaritomisin Mengatasi Decompensatio Cordis, efektif terhadap bakteri, seperti Haemophilus influenzae, Streptocomlus pneumoniae
Diare, mual, nyeri & rasa tidak enak pada perut, pengecapan abnormal, dispepsia, sakit kepala.
Furosemide Mengatasi Decompensatio Cordis, mengatasi
Tekanan darah rendah, dehidrasi, defisiensi
Obat Manfaat Interaksi obat terhadap makanan
cairan pada jantung
Lisinopril
Mengatasi pulmonary hypertension, Untuk mengurangi zat kimia
yang menyempitkan pembuluh darah.
Efek CV (hipotensi, Efek CNS (kelelahan, sakit kepala); Efek GI (gangguan perasa) Sildenafil , Inhalasi iloprost Mengatasi pulmonary hypertension , perbaikan fungsional klas NYHA Hepatotoksik, menurunkan penyerapan vitamin B6 (pyridoxine), kalsium dan
vitamin D. FDC (rifampicin, pyrazinide) Mengatasi TB Makanan akan meningkatkan pH lam-bung mencegah disolusi
& absorbsi. Maka dikonsumsi dengan air
dan sebelum makan. Kesan : obat yang dikonsumsi dapat mengakibatkan perubahan indera pengecap, meningkatkan pH lambung sehingga menyebabkan tidak nafsu makan.
2. Diagnosis Gizi
Diagnosis gizi adalah kegiatan mengidentifikasi dan memberi nama masalah gizi yang aktual, dan atau berisiko menyebabkan masalah gizi yang merupakan tanggungjawab dietisien untuk menanganinya secara mandiri. Diagnosis gizi diuraikan atas komponen masalah gizi (Problem), penyebab masalah (Etiology), serta tanda dan gejala adanya masalah (Sign & Symptoms).
a) Domain Asupan
Malnutrisi berkaitan dengan kurang asupan energi dan protein kronis ditandai oleh asupan energi dan zat gizi <90%
kebutuhan, LLA/U <70%, iga terlihat gambang, tulang terbalut kulit, wasting.
Asupan cairan berlebih berkaitan dengan pengetahuan gizi yang kurang tentang asupan cairan ditandai oleh estimasi asupan cairan 112% kebutuhan.
b) Domain Perilaku
Kurangnya pengetahuan mengenai gizi berkaitan dengan belum pernah mendapatkan mendapatkan konseling gizi ditandai oleh pola makan tidak seimbang.
3. Intervensi Gizi
Intervensi adalah serangkaian aktivitas spesifik dan berkaitan dengan penggunaan bahan untuk menanggulangi masalah. Aktifitas ini merupakan tindakan yang terencana secara khusus, dengan tujuan untuk mengatasi masalah gizi terkait perilaku, kondisi lingkungan, atau status kesehatan individu, kelompok, atau masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizi klien
A. Tujuan Intervensi Gizi
1) Meningkatkan status gizi berdasarkan LLA/U mencapai 85-100%
2) Membatasi asupan cairan 1200 ml/hari 3) Meningkatkan pengetahuan gizi ibu pasien B. Syarat Diet :
1) Energi = 60kkal/kgBBI= 60 x 36 = 2160= 2100 kkal 2) Protein = 3gr/kgBBA = 3 X 27 = 81 = 80 gram = 15,2% 3) Lemak = 30% total kebutuhan = 70 gram
4) Karbohidrat= 54.8% total kebutuhan = 288 gram 5) Cairan = 1200ml/24 jam
6) Bentuk makanan biasa dikombinasikan dengan makanan cair
7) Porsi makan kecil tetapi sering yaitu 3x utama, 2x selingan dan F135 3 x 150ml
C. Implementasi Gizi
1) Diberikan diet makanan biasa 1500 kkal, protein 65 gram terdiri dari 3x makan utama dan 2x selingan serta F135 3 x 150ml per oral.
2) Diberikan edukasi tentang kebutuhan makanan dan cairan serta memotivasi pasien menghabiskan makanan yang diberikan.
3) Diberikan edukasi mengenai pembuatan formula khusus F 135
4. Monitoring dan Evaluasi
Kegiatan monitoring dan evaluasi gizi dilakukan untuk mengetahui respon pasien/klien terhadap intervensi dan tingkat keberhasilannya. Indikator hasil yang diamati dan di evaluasi harus mengacu pada kebutuhan pasien/klien/kelompok, diagnosis gizi, tujuan/rencana intervensi dan kondisi penyakit
A. Data Antropometri
Tabel 3.10 Pengamatan Antropometri Selama Pengamatan 3 Hari Antropometri Hari ke-1 PengamatanHari ke-2 Hari ke-3
Berat badan 27 kg 27 27 kg
Lingkar lengan atas 16 cm 16 cm 16 cm
Kesan : tidak ada perubahan berat badan dan lingkar lengan atas Table 3.11 Pengkajian Status Gizi tanggal 4 April 2014
Status Gizi Hasil Penilaian
BB Ideal 36
-BB/U 58 % Gizi buruk
TB/U 86,5 % Gizi kurang
BB/TB 76 % Gizi kurang
LLA/U 63 % Gizi buruk
HA 13 tahun 0 bulan
-Kesan : status gizi buruk perawakan pendek B. Data Biokimia
Tidak ada pemeriksaan atau pengambilan sampel darah selama masa pengamatan.
C. Data Klinis dan Fisik
Data klinis merupakan data yang didapat dari penampakan atau yang dapat dilihat secara langsung oleh pasien ataupun dokter juga termasuk apa dirasakan oleh pasien namun tidak dapat diukur, contohnya penampakan
gemuk atau kurus, gigi tanggal/ompong, pasien dalam keadaan sadar atau tidak. Sedangkan data fisik adalah data yang didapat dari hasil pengukuran fisik atau tubuh seperti tekanan darah, denyut nadi, frekuensi pernapasan dalam satuan berapa kali per menit dan suhu tubuh. Berikut merupakan data klinis dan fisik yang diamati selama 3 hari Tabel 3.12 Hasil Klinis Selama Pengamatan 3 Hari
Keadaan Hari ke-1 Hari ke- 2 Hari ke-3
Muka Muka pucat, tirus Muka pucat, tirus Muka pucat, tirus Lengan Wasting, tulang terbalut kulit Wasting, tulang terbalut kulit Wasting, tulang terbalut kulit Sesak Sedikit sedak Sedikit sesak Sesak bertambah Nyeri dada Tidak ada
nyeri dada Tidak ada nyeri dada Tidak ada nyeri dada Mual/muntah/ diare Tidak ada mual/munt ah/diare Tidak ada mual/muntah /diare Tidak ada mual/muntah /diare Kesadaran Compos mentis Compos mentis Compos mentis Kaki Tulang terbalut kulit, lemah jika berdiri Tulang terbalut kulit, lemah jika berdiri Tulang terbalut kulit, lemah jika berdiri Kesan: sesak setiap hari namun sesak berkurang pada hari pertama dan kedua pengamatan. Sedangkan hari ketiga sesak kembali. Tidak ada mual dan muntah atau diare.
Tabel 3.13 Hasi Fisik Selama Pengamatan 3 Hari Hari ke-1 Hari
ke-2 Hari ke-3 Tekanan Darah (mmHg) Suhu (0C) SaO2 (%) 104/75 36,6 86 109/60 36,7 87 103/59 36,80C 85
Kesan: oksigen saturasi rendah pada hari ke-3 sehingga pasien mengalami sesak.
D. Data Asupan
Data asupan pada monitoring adalah data makanan yang dihabiskan oleh pasien sesuai dengan diet yang diberikan dan diamati selama 3 hari
Tabel 3.14 Asupan Energi dan Zat Gizi Selama 3 Hari Pengamatan
Asupan Kebutuhan Hari ke-1 Hari ke-2 Hari ke-3
Energi (kkal) 2100 2004 2185 1870
Protein (gram) 80 65.8 68 65
Lemak (gram) 70 67 72 65
KH (gram) 288 259.3 302 260
Cairan 1200 1250 1350 1250
Kesan : terjadi peningkatan asupan selama hari ke-1 dan hari ke-2. Dan terjadi penurunan asupan saat hari ke-3 pengamatan.
Tabel 3.15 Perbandingan Asupan Energi dan Zat Gizi Selama 3 Hari Pengamatan
Asupan Kebutuhan Hari ke-1 (%)
Hari ke-2 (%)
Hari ke-3 (%)
Energi 2100 95.4 104 89
Protein 80 82.2 85 81
Lemak 70 96 103 93
KH 288 90 105 91
Cairan 1200 105 112 105
Kesan : asupan energi dan zat gizi pasien saat hari ke-1 dan ke-2 pengamatan mencapai kebutuhan kecuali protein. Namun saat pengamatan hari ke-3 hanya hanya asupan energi dan protein mencapai kebutuhan. Asupan cairan pasien berlebih selama 3 hari pengamatan. Namun mengalami perbaikan hari ke-3 pengamatan.
5. Evaluasi
a) Status gizi pasien berdasarkan LLA/U mencapai normal yaitu 85-100%.
b) Asupan energi dan zat gizi pasien mencapai ≥ 90% kebutuhan.
c) Cairan cukup ≤1200 ml
BAB IV PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil pengamatan, untuk skrining gizi pada pasien dengan menggunakan Strong Kids, didapatkan hasil skor sebesar 5 yang berarti pasien berisiko tinggi mengalami malnutrisi. Hal ini dikarenakan adanya penurunan berat badan, nafsu makan yang menurun dan penyakit yang dapat mengakibatkan malnutrisi.
Pengukuran status gizi menggunakan data antropometri yang telah dilakukan kemudian dianalisis dengan CDC. Analisis antropometri yang digunakan untuk menentukan status gizi adalah CDC, karena usia pasien lebih dari 5 tahun. .Berdasarkan data yang telah didapatkan, status gizi LILA/U An. GB gizi buruk dengan perawakan pendek.
Pengkajian data laboratorium diperoleh berdasarkan data laboratorium terakhir. Dan didapatkan hasil hemoglobin normal, leukosit normal dan trombosit normal. Sehingga tidak ada masalah gizi berdasarkan data laboratorium.
Penentuan status gizi buruk dapat ditentukan melalui status gizi atau tanda klinis. Tanda klinis pasien adalah muka pucat, iga gambang, sesak nafas, wasting, tulang terbalut kulit, lemah terutama saat berdiri. Dan berdasarkan data klinis tersebut maka didiagnosa pasien memiliki status gizi buruk marasmik.
Tanda fisik pada pasien menunjukkan oksigen saturasi pasien rendah. Sehingga dapat diketahui pasien mengalami sesak nafas. Sesak nafas yang dialami pasien memiliki pengaruh terhadap kemampuan pasien dalam mengonsumsi makanan. Diestimasikan pasien kurang asupan energi dan zat gizi kronis karena sesak nafas sehingga mempengaruhi kemampuan pasien dalam mengonsumsi makanan. Pernyataan ini dibuktikan berdasarkan pengkajian data riwayat diet pasien sebelum masuk rumah sakit (SMRS) dan selama masuk rumah sakit (MRS).
Pengkajian riwayat diet pasien dilakukan dengan wawancara dengan ibu pasien meliputi kebiasaan makan selama 1 bulan terakhir dan asupan pasien 1 hari sebelum pengamatan (recall). Asupan pasien SMRS dan MRS tidak memenuhi kebutuhan. Saat sehari sebelum pengamatan Pasien diberikan diet MB 1500 kkal dan F100 3x200ml. Pasien dapat menghabiskan semua MC yang diberikan sehingga. SMRS tidak menyukai susu yang diberikan oleh ibu yaitu susu Indom*lk coklat bubuk. Namun, Pasien mengaku menyukai F100. Asupan makanan cair setiap
harinya habis 100%. Namun, makanan biasa yang diberikan tidak habis karena pasien tidak menyukai beberapa jenis menu dari rumah sakit. Dan apabila sedang sesak maka pasien sulit mengonsumsi makanan. Hal ini menyebabkan asupan pasien kurang dalam jangka waktu kronis sehingga pasien gizi buruk marasmik.
Gizi buruk marasmik pada pasien dapat disebabkan juga karena adanya interaksi antara obat dan makanan seperti perubahan indera pengecap sehingga mempengaruhi rasa dan selera makan. Keadaan kekurangan makan dalam jangka waktu lama serta infeksi TB yang dialami pasien mengakibatkan pasien mengalami penurunan berat badan dan menjadi status gizi buruk marasmik.
An. GB seorang anak laki-laki, pelajar, berusia 14 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan bengkak pada mata dan kaki. Pasien masuk RS dengan diagnosa Chronic Lung Disease, TB Paru on bulan III, Pulmonary Hypertension, Gizi buruk marasmik. Pasien berubat rutin dan control ke RSCM selama 2 tahun terakhir. SMRS Pasien memiliki aktifitas yang terbatas karena sesak yang dialami selama 3 bulan terakhir akibat TB paru. SMRS tidak nafsu makan karena sesak dan selama dirawat, Pasien mengatakan semakin membaik nafsu makannya. Dokter kardio (Dr.RN) juga menyatakan tidak ada edema pada Pasien. mual/muntah/diare tidak ada.
Berdasarkan pengkajian data tersebut, maka disusunlah diagnosa gizi yaitu malnutrisi berkaitan dengan kurang asupan energi dan protein kronis ditandai oleh asupan energi dan zat gizi <90% kebutuhan, LLA/U <70%, iga terlihat gambang, tulang terbalut kulit, wasting.
Selama di rumah sakit terdapat pembatasan asupan cairan karena gagal jantung atau decompensatio cordis. Pembatasan asupan cairan untuk decompensatio cordis adalah 1000 ml/24 jam. Namun, setelah berdiskusi dengan dokter kardio yang menangani pasien, pembatasan asupan cairan menjadi 1200ml/24 jam. Berdasarkan data yang diperoleh, asupan cairan pasien melebihi 1200ml/24 jam. Maka disusunlah diagnosa
gizi yaitu asupan cairan berlebih berkaitan dengan pengetahuan gizi yang kurang mengenai asupan cairan ditandai oleh estimasi asupan cairan 112% kebutuhan.
Pengkajian riwayat makan SMRS diketahui bahwa asupan kurang dan memiliki pola makan tidak seimbang. Orang tua pasien atau pasien belum pernah mendapatkan konseling gizi. Sehingga diagnosa gizi mengenai perilaku yaitu Kurangnya pengetahuan mengenai gizi berkaitan dengan belum pernah mendapatkan mendapatkan konseling gizi ditandai oleh pola makan tidak seimbang.
Berdasarkan diagnosa tersebut, maka diberikan intervensi gizi untuk mengatasi masalah yang terdapat pada pasien terkait gizi. Sehingga tujuan intervensi gizi adalah meningkatkan status gizi berdasarkan LLA/U mencapai 85-100%, membatasi asupan cairan 1200 ml/hari, meningkatkan pengetahuan gizi ibu pasien.
Implementasi diet yang diberikan berdasarkan tatalaksana gizi buruk dengan pembatasan asupan cairan berdasarkan decompensatio cordis. Dikarenakan pembatasan cairan, maka diet F100 3 x 200ml diubah menjadi F135 3 x 150ml. Saat ini pasien memasuki fase rehabilitasi. Dimana pada fase ini, pasien sudah dapat menghabiskan diet yang diberikan dan merupakan fase tumbuh kejar untuk mencapai status gizi yang diharapkan.
Diet yang diberikan adalah diet 2100 kkal 80 gram protein dalam bentuk makanan biasa 1500 kkal, protein 65 gram terdiri dari 3x makan utama dan 2x selingan serta F135 3 x 150ml per oral. Perubahan diet yang dilakukan adalah pada protein yaitu 3P hewani dan 2P nabati serta pemilihan jenis masakan dilakukan oleh pengamat sesuai dengan kesukaan pasien
Selain itu, untuk mengatasi masalah kurangnya pengetahuan ibu mengenai asupan cairan dan pola makan tidak seimbang maka diberikan edukasi tentang kebutuhan makanan dan cairan serta memotivasi pasien menghabiskan makanan yang diberikan. Serta diberikan edukasi
mengenai pembuatan formula khusus F 135. Hal ini dikarenakan fase rehabilitasi akan terus berlanjut sampai pasien pulang / keluar dari rumah sakit. Maka perlu diberikan edukasi pembuatan F135 agar pasien dapat mencapai status gizi normal.
Berdasarkan intervensi tersebut maka dilakukan pengamatan selama 3 hari meliputi pengkajian status gizi, biokimia, fisik & klinis, asupan makan pasien. Untuk mengkaji status gizi maka pengamatan selama 3 hari meliputi berat badan dan LILA. Tidak ada perubahan baik penurunan atau peningkatan sehingga status gizi pasien adalah gizi buruk marasmik dengan perawakan pendek. Kategori yang dianalisis adalah BB/U, PB/U, BB/PB dan LILA/U. Penilaian status gizi yang digunakan