BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Pengembangan Model Bahan Ajar BIPA Komunikasi Bisnis
Sesuai dengan langkah-langkah pengembangan model Gall dan Borg, analisis kebutuhan adalah langkah pertama yang telah dilakukan melalui analisis keharusan, analisis kelemahan, dan kebutuhan. Analisis kebutuhan, analisis kondisi, dan analisis dokumen adalah wujud penelitian pendahuluan yang dilakukan pada tahap ini. Analisis kebutuhan diperoleh melalui penyebaran angket, observasi, dan wawancara untuk mengidentifikasikan kebutuhan peserta dan guru BIPA UMN. Untuk memenuhi analisis kondisi, penelitian difokuskan pada identifikasi kondisi bahan ajar dan silabus yang tersedia di Program BIPA UMN melalui angket, observasi, dan wawancara manajemen dan guru BIPA UMN. Tahap pertama ini diakhiri dengan analisis dokumen hasil analisis kebutuhan dan analisis kondisi. Berdasarkan analisis dokumen ini diketahui hasilnya berupa butuh tidaknya bahan ajar yang sedang digunakan dengan model bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan.
Sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Suyitno (2008: 111-119), pengajaran dan pembelajaran bahasa Indonesia untuk penutur asing (BIPA) memiliki sejumlah unsur yang berbeda daripada pengajaran bahasa Indonesia secara umum. Salah satu letak perbedaan yang mencolok adalah adanya perbedaan latar belakang budaya dari para peserta. Analisis kebutuhan para peserta serta norma-norma pedagogis dari pembelajaran bahasa merupakan prasyarat yang tidak bisa ditawar-tawar ketika memilih bahan ajar BIPA yang melibatkan para peserta asing. Analisis Keharusan Bahan Ajar Bahasa Indonesia Berbasis Tugas Ranah Komunikasi Bisnis bagi Tenaga Kerja Asing
a. Bahan Ajar sesuai dengan Analisis Kebutuhan
Sesuai dengan artikel ilmiah yang ditulis oleh Ampa, et. al. (2013: 1-10), Tomlinson menjelaskan bahwa peran paling penting dari bahan ajar adalah melibatkan peserta dalam membuat keputusan mengenai proses belajar mereka. Salah satunya adalah menyalurkan energi mereka dalam membuat materi yang ada lebih relevan dan memotivasi mereka; melibatkan mereka dalam pembuatan materi mereka sendiri di luar materi yang ada untuk menyesuaikan bahan ajar tersebut dengan minat dan tingkat belajar mereka. Untuk mengetahui kebutuhan yang diinginkan oleh peserta, guru, dan lembaga, telah diajukan analisis kebutuhan terlebih dahulu yang nantinya akan terlihat kebutuhan apa yang diperlukan oleh peserta, guru, dan lembaga. Penelitian ini berpedoman pada kriteria yang disampaikan oleh Tomlinson untuk menganalisis kebutuhan. Namun, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan akan difokuskan pada kebutuhan bahan ajar bahasa Indonesia berbasis tugas ranah komunikasi bisnis.
Terdapat dua bagian besar untuk menganalisis keharusan. Pertama, dilihat dari keharusan bahan ajar berdasarkan kebutuhan peserta dan kedua dilihat berdasarkan kebutuhan guru. Berdasarkan keharusan bahan ajar dari sisi peserta, terdapat 13 dimensi yakni rasional kebutuhan peserta, kemandirian, pengembangan diri, kreativitas, kerja
sama, isi, kesesuaian, keotentikan tugas, kepekaan budaya, tampilan, kemudahan akses, tautan, dan stimulus (Tomlinson, 2003).
Dimensi pertama, rasional kebutuhan peserta, dijelaskan bahwa sebuah buku ajar harus memiliki kejelasan tujuan setiap unit, kesesuaian materi ajar dengan kebutuhan, keinginan, minat dan tujuan peserta bisnis sehingga efektif dan memberi rasa percaya diri dan dapat diterapkan dalam dunia nyata. Dimensi kedua, kemandirian/
otonomi, dijelaskan bahwa bahan ajar harus memiliki kejelasan instruksi, kesesuaian
belajar secara mandiri sehingga bahan ajar dapat dipelajari meskipun tanpa guru. Dimensi ketiga, pengembangan diri, dijelaskan bahwa bahan ajar yang baik melibatkan faktor kognitif dan afektif peserta sehingga sanggup berpikir rasional, kritis, dan sanggup mengembangkan bakat. Dimensi keempat, kreativitas, bahwa bahan ajar yang baik memberikan kesempatan yang cukup bagi peserta untuk membangkitkan partisipasi dan menimbulkan energinya melalui media ajar, latihan, dan tugas yang menantang sehingga termotivasi untuk belajar lebih baik lagi. Dimensi kelima, kerja
sama; ketersediaan metode di dalam bahan ajar yang menawarkan kesempatan untuk
peserta kooperatif seperti kegiatan kerja kelompok atau berpasangan sehingga dapat bertukar informasi dan peserta pun dapat berkontribusi secara aktif dalam interaksi kelompok. Dimensi keenam, isi bahan ajar bahasa; bahan ajar kebahasaan yang bervariasi antara formal dan nonformal dengan topik-topik komunikasi bisnis yang disertai penjelasan tata bahasa yang memadai dan evaluasi berbasis tugas dengan tingkat kesulitan yang sesuai.
Dimensi ketujuh, kesesuaian bahan ajar; ketersediaan materi kebahasaan, rasa bahasa penulis, ragam dan topik bahan ajar yang sesuai dengan peserta bisnis sehingga tujuan atau sasaran pembelajaran tercapai. Dimensi kedelapan keotentikan tugas; ketersediaan tugas-tugas di dalam bahan ajar menggali bahasa sasaran secara komunikatif dan realistis serta merefleksikan topik dan peristiwa dari dunia bisnis secara nyata sehingga kegiatan melalui tugas-tugas dalam bahan ajar dapat menghubungkan minat peserta dengan kehidupan dunia bisnis secara nyata. Dimensi kesembilan kepekaan budaya; ketersediaan bahan ajar yang merefleksikan kepekaan dan kesadaran adanya variasi sosiokultural sehingga peserta memiliki kepekaan konteks budaya secara multikultural melalui tokoh dan latar budaya di dalam bahan ajar.
Dimensi kesepuluh tampilan gambar; ketersediaan rancangan dan tampilan bahan -ajar, teks dan gambar yang menarik, lembar kosong setiap halaman untuk pengisian evaluasi, dan buku latihan khusus peserta. Dimensi kesebelas kemudahan
akses; ketersediaan kemudahan mengakses bahan ajar, terdapat indeks, daftar kosakata,
cara atau instruksi yang jelas dalam menggunakan buku dan bagaimana mengeksploitasi isi buku secara efektif dan komunikatif sehingga mempermudah peserta menggunakan bahan ajar. Dimensi kedua belas adalah tautan; setiap unit dan latihan yang saat digunakan bertautan dengan baik dalam hal tema, situasi, topik, pola pengembangan keterampilan atau kemajuan tata bahasa dengan teks yang lain sehingga terdapat keseimbangan antara keterampilan dan pengetahuan produktif (berbicara dan menulis) dan reseptif (menyimak dan membaca). Dimensi ketiga belas stimulus; terdapat kesempatan cukup bagi peserta untuk menggunakan dan mempraktikkan keterampilan dan strategi komunikasi bisnis mereka di kehidupan nyata sehingga bahan ajar yang digunakan menimbulkan rangsangan yang baik untuk belajar. Sementara itu, keharusan yang ada pada bahan ajar dilihat dari sisi guru terdapat sepuluh dimensi yakni pedoman,
pilihan, refleksi/ inovatif, metodologi, fleksibilitas, tampilan gambar, kemudahan akses, kepekaan budaya, tautan, dan stimulus (Tomlinson, 2003; Ampa, 2013).
Dimensi pertama pedoman; bahan ajar yang baik memiliki ketersediaan buku pedoman guru, yakni buku pegangan guru selain buku ajar bahasa Indonesia yang tersedia saat ini, catatan bagi guru yang berguna dan jelas untuk dilakukan, naskah simakan dan kunci jawaban, daftar kosakata penting, dan ringkasan pelajaran di setiap unit buku pegangan guru. Dimensi kedua pilihan; bahan ajar bahasa Indonesia komunikasi bisnis memberikan kesempatan kepada guru untuk bisa menyajikan materi dalam cara yang berbeda, memberikan guru ruang untuk adaptasi, memungkinkan guru
untuk menambah, menghilangkan, mengganti, dan berimprovisasi sesuai pemahamannya.
Dimensi ketiga adalah refleksi dan inovasi; bahan ajar bahasa Indonesia komunikasi bisnis mengandung inovasi-inovasi kekinian dalam pemilihan topik-topik bisnis, mendorong kreativitas imajinasi dan eksplorasi guru dalam berkomunikasi bisnis, meningkatkan kesadaran kritis guru dengan memfasilitasi bahan ajar itu sendiri dan metode yang ada di dalamnya, dan mendorong guru mengevaluasi setiap unit pelajaran. Dimensi keempat adalah metodologi; bahan ajar bahasa Indonesia komunikasi bisnis harus merefleksikan wawasan dan temuan dari riset dan teori terbaru dari pemerolehan bahasa kedua, berbasis tugas, bertujuan khusus komunikasi bisnis, atau diperkenalkan bidang lain.
Dimensi kelima adalah fleksibilitas; ketersediaan bahan ajar bahasa Indonesia komunikasi bisnis yang memberikan kesempatan guru untuk mempersiapkan tambahan materi dan media ajar secara fleksibel. Dimensi keenam adalah tampilan gambar; rancangan dan tampilan bahan ajar, teks dan gambar yang menarik, lembar kosong setiap halaman untuk pengisian evaluasi, dan buku latihan khusus peserta. Dimensi ketujuh adalah kemudahan akses; artinya kemudahan mengakses bahan ajar, terdapat indeks, daftar kosakata, cara atau instruksi yang jelas dalam menggunakan buku dan bagaimana mengeksploitasi isi buku secara efektif dan komunikatif sehingga mempermudah peserta menggunakan bahan ajar.
Dimensi kedelapan adalah kepekaan budaya; berarti bahan ajar komunikasi bisnis selain penekanan pada keterampilan berbahasa juga mengusung unsur budaya bahasa yang dipelajari, dalam hal ini pentingnya memahami komunikasi antarbudaya. Dimensi kesembilan adalah tautan; setiap unit dan latihan bertautan dengan baik dalam hal tema, situasi, topik, pola pengembangan keterampilan atau kemajuan tata bahasa
dengan teks yang lain sehingga terdapat keseimbangan antara keterampilan dan pengetahuan produktif (berbicara dan menulis) dan reseptif (menyimak dan membaca). Dimensi kesepuluh adalah stimulus; artinya bahan ajar yang baik bila terdapat kesempatan cukup bagi peserta untuk menggunakan dan mempraktikkan keterampilan dan strategi komunikasi bisnis mereka di kehidupan nyata sehingga bahan ajar yang digunakan menimbulkan rangsangan yang baik untuk belajar.
Berikut akan dipaparkan hasil penelitian bahan ajar sesuai dengan analisis kebutuhan.
b. Peserta Didik
Berdasarkan keharusan bahan ajar dari sisi peserta, terdapat 13 dimensi yakni
rasional kebutuhan peserta, kemandirian, pengembangan diri, kreativitas, kerja sama, isi, kesesuaian, keotentikan tugas, kepekaan budaya, tampilan, kemudahan akses, tautan, dan stimulus (Tomlinson, 2003; Ampa, et al, 2013).
Pada dimensi pertama, rasional kebutuhan peserta, ditanyakan apakah dibutuhkan bahan ajar yang memiliki kejelasan tujuan setiap unit, peserta didik rata-rata menjawab sangat dibutuhkan. Di setiap unit telah dijelaskan tujuan pembelajaran dalam bentuk sapaan seperti berikut ini.
Pertanyaan berikutnya adalah apakah dibutuhkan bahan ajar yang memiliki kesesuaian materi ajar dengan kebutuhan, keinginan, minat dan tujuan peserta bisnis sehingga efektif dan memberi rasa percaya diri dan dapat diterapkan dalam dunia nyata. Peserta didik rata-rata menjawab sangat membutuhkan. Buku ajar ini bertujuan khusus komunikasi bisnis dan di dalamnya terdapat tugas-tugas yang harus mereka kerjakan dalam kehidupan sehari-hari yang dapat memberikan rasa percaya diri dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun tugas-tugas itu tercantum di dalam buku kerja siswa seperti tampilan berikut ini.
Gambar 4.2
Pada dimensi kedua, kemandirian/ otonomi, ditanyakan apakah dibutuhkan bahan ajar yang memiliki kejelasan instruksi, kesesuaian tingkatan materi dan pilihan materi, ketersediaan evaluasi dalam beragam strategi belajar secara mandiri sehingga bahan ajar dapat dipelajari meskipun tanpa guru. Jawaban peserta didik rata-rata sangat dibutuhkan. Buku ajar ini telah dilengkapi dengan buku kerja siswa yang di dalamnya terdapat instruksi yang jelas seperti contoh berikut ini.
Gambar 4.3
Tampilan Bahan Ajar Dimensi Kemandirian pada Buku Kerja Siswa
Selain itu, buku ajar ini mengandung kesesuaian tingkatan materi dan pilihan materi berdasarkan pelevelan UKBI dan materi pun disusun berdasarkan peta masalah dalam UKBI. Pada bagian akhir disuguhkan latihan soal-soal UKBI sebagai evaluasi dalam beragam strategi belajar secara mandiri sehingga bahan ajar dapat dipelajari meskipun tanpa guru. Berikut buktinya.
Gambar 4.4
Tampilan Soal-soal Latihan UKBI
Pada dimensi ketiga, pengembangan diri, ditanyakan apakah peserta didik membutuhkan bahan ajar yang melibatkan faktor kognitif dan afektif peserta sehingga sanggup berpikir rasional, kritis, dan sanggup mengembangkan bakat. Rata-rata peserta didik menjawab sangat membutuhkan. Bahan ajar ini telah dibuat dengan tujuan pengembangan diri. Berdasarkan tujuan pembelajaran, tidak hanya bersifat kognitif, tetapi juga afektif. Berikut bukti yang dapat dilihat pada buku kerja guru.
Gambar 4.5
Tampilan Dimensi Pengembangan Diri di dalam Bahan Ajar
Pada dimensi keempat, kreativitas, ditanyakan peserta didik membutuhkan bahan ajar yang memberikan kesempatan yang cukup bagi peserta untuk membangkitkan partisipasi dan menimbulkan energinya melalui media ajar, latihan, dan tugas yang menantang sehingga termotivasi untuk belajar lebih baik lagi. Rata-rata peserta didik menjawab sangat membutuhkan. Bahan ajar hasil penelitian ini telah dirancang dengan menyediakan materi ajar dengan metode interaktif. Peserta didik tidak hanya berlatih kemampuan berbahasa secara individu, tetapi juga dilatih dan ditantang untuk kreatif melalui media ajar interaktif (pembagian Siswa A dan Siswa B) seperti berikut ini.