ANALISIS DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Pengolahan Data Kuesioner
Hasil kuesioner dari para responden diharapkan dapat mengukur sejauh mana kepuasan mereka terhadap Program Diklat Kepemimpinan yang telah diselenggarakan saat ini. Pengukuran tingkat kepuasan ini mencakup manfaat dan efektivitas penyelenggaraan serta pemenuhan kebutuhan kompetensi kepemimpinan mereka. Hasil pengolahan data kuesioner ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Bagaimana para peserta Diklat menilai manfaat dari mengikuti program Diklat Kepemimpinan
Setiap responden ditanya sejauh mana pengetahuan dan keterampilan serta perilaku kepemimpinan mereka meningkat dalam setiap sesi pembelajaran mata diklat.
Hasil penelitian pada Tabel 3.3 diketahui bahwa setelah mengikuti pembelajaran dalam Program Diklat Kepemimpinan, para peserta mengalami peningkatan kompetensi hampir di semua mata diklat. Peningkatan kompetensi tertinggi terdapat dalam pembelajaran terkait materi berpikir kreatif dan inovatif (=3,26), identifikasi permasalahan organisasi (=3,23), integritas dan kecerdasan emosi (=3,19). Sedangkan nilai peningkatan terendah adalah kompetensi terkait materi isu-isu aktual strategis (=2,98), Benchmarking (=3,06), Pilar-pilar Kebangsaan dan sistem administrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (=3,08), serta membangun tim efektif (=3,09) dan koordinasi dan kolaborasi (=3,11). Perlu penelitian lebih lanjut terkait hasil yang diperoleh belum diketahui faktor-faktor yang mempengaruhi ketercapaian tujuan pembelajaran suatu mata diklat, diantaranya adalah Widyaiswara pengampu, kurikulum, sarana dan prasarana, dan sebagainya.
Tabel 3.3. Persepsi Terhadap Peningkatan Kompetensi kepemimpinan Pernyataan 4 3 2 1 Mean DeviasiStd.
Kemampuan saya untuk
memahami isu-isu aktual strategis yang sedang berkembang saat ini yang bersifat instansional dan nasional:
15,1 66,0 18,9 0 2,98 0,604
Pemahaman saya tentang bagaimana pentingnya
mengadopsi dan mengadaptasi keunggulan organisasi lain yang memiliki best practice (institusi/ lembaga/ BUMN) dalam
pengelolaan tugas dan fungsi organisasi (Benchmarking):
18,9 66,0 15,1 0 3,06 0,633
Kemampuan saya untuk mengaktualisasikan nilai dan semangat pilar-pilar kebangsaan (Pancasila, UU 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) dalam mengelola pelaksanaan tugas dan fungsi di unit kerja:
15,1 75,5 9,4 0 3,08 0,549
Pemahaman saya tentang posisi dan kedudukan unit organisasi KESDM dalam Sistem Administrasi Negara Kesatuan Republik
Indonesia (Kelembagaan dan Tata Hubungan Kerja):
22,6 60,4 17,0 0 3,08 0,646
Kemampuan saya dalam
membangun kolaborasi yang efektif dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal untuk mengelola tugas dan fungsi unit kerja melalui pembelajaran identifikasi, pemetaan nilai dan kepentingan Pemangku
Kepentingan, dan strategi berkomunikasi:
22,6 62,3 15,1 0 3,09 0,658
Kemampuan saya dalam menerapkan koordinasi dan
kolaborasi dalam mengelola tugas dan fungsi unit kerja:
Kemampuan saya dalam merancang dan melaksanakan suatu perubahan (inovasi) pada pengelolaan tugas dan fungsi di unit kerja:
22,6 66,0 11,3 0 3,13 0,590
Kemampuan saya untuk memahami potensi diri yang relevan dengan kepemimpinan, melalui pembelajaran potensi diri dan berbagai jenis potensi diri:
22,6 67,9 9,4 0 3,15 0,601
Kemampuan saya untuk
mengaktualisasikan etika publik dalam mengelola pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerjanya melalui pembelajaran akuntabilitas, etika, dan aktualisasi akuntabilitas dan etika:
18,9 77,4 3,8 0 3,17 0,470
Kemampuan saya untuk mengaktualisasikan integritas dalam mengelola pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja melalui pembelajaran aktualisasi
akuntabilitas dan etika:
20,8 75,5 3,8 0 3,19 0,521
Kemampuan saya untuk menerapkan kecerdasan
emosional dalam kepemimpinan pada pengelolaan tugas dan fungsi unit kerja:
26,4 64,2 9,4 0 3,19 0,622
Kemampuan saya untuk
mengidentifikasi permasalahan organisasi (instansi) dan
menentukan alternatif pemecahan masalahnya pada pengelolaan tugas dan fungsi unit kerja:
26,9 69,2 1,9 1,9 3,23 0,581
Kemampuan saya untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam
menyusun kegiatan terkait dengan program organisasi melalui
pembelajaran konsepsi, prinsip, dan strategi berpikir kreatif dan inovatif:
Tabel 3.4 menunjukkan bagaimana kontribusi Program Diklat Kepemimpinan terhadap peningkatan kompetensi peserta diklat dan tingkat kepuasan mereka terhadap penyelenggaraannya.
Hasil pengolahan data kuesioner menunjukkan para responden setuju bahwa materi pembelajaran (mata diklat) dalam diklat kepemimpinan akan bermanfaat karena relevan dan terorganisir sehingga membantu dalam pekerjaan mereka. Widyaiswara, bahan ajar, waktu, dan fasilitas belajar dianggap telah dipersiapkan dengan baik. Tingkat kepuasan dan ketercapaian tujuan pembelajaran sangat tinggi (=4,19 dan =4,15). Peserta diklat merasa didorong untuk selalu berpartisipasi dan berinteraksi (=4,25) selama pembelajaran. Namun, hasil pengukuran terkait relevansi topik/materi pembelajaran dengan kebutuhan peserta diklat dan pengorganisasian materi pembelajaran memiliki nilai terendah (=3,77 dan =3,87) .
Tabel 3.4 Persepsi Terhadap Penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan Pernyataan 5 4 3 2 1 MeanDeviasiStd.
% % % % %
Pengalaman pembelajaran Diklat Pim ini akan berguna dalam pekerjaan saya
39,6 54,7 5,7 0 0 4.34 0,586
Partisipasi dan interaksi semua
Peserta diklat didorong 34,0 58,5 5,7 1,9 0 4.25 0,648 Secara keseluruhan, Saya puas
dengan Diklat Kepemimpinan ini
26,4 66,0 7,5 0 0 4.19 0,557
Semua pembelajaran Mata Diklat yang diberikan dalam Diklat Kepemimpinan sangat bermanfaat
32,1 50,9 17,0 0 0 4.15 0,690
Tujuan penyelenggaraan
pelatihan terpenuhi 22,0 69,8 7,5 0 0 4.15 0,533 Widyaiswara/Fasilitator memiliki
pengetahuan tentang topik pelatihan
Widyaiswara/Fasilitator telah dipersiapkan dengan baik dan menyajikannya secara
profesional
15,1 66,0 17,0 1,9 0 3.94 0,633
Waktu yang dialokasikan untuk pembelajaran sudah mencukupi
13,2 67,9 15,1 3,8 0 3.91 0,658 Ruang kelas dan fasilitas
lainnya memadai dan nyaman
18,9 58,5 18,9 1,9 1,9 3.91 0,791
Semua materi pembelajaran dalam Diklatpim terorganisir dan mudah diikuti
15,1 58,5 22,6 3,8 0 3.87 0,680
Bahan/media ajar yang didistribusikan sangat membantu
15,1 58,5 22,6 3,8 0 3.85 0,718
Semua topik/materi
pembelajaran yang dibahas relevan dengan kebutuhan saya
20,8 45,3 26,4 5,7 1,9 3.77 0,912
Hasil jawaban peserta diklat atas pertanyaan apa yang paling disukai dari diklat kepemimpinan ini, terutama adalah terkait bertambahnya wawasan (30,2%) dan bertambahnya jejaring kerja (28,3%), benchmarking (13,2%), dan kebersamaan (13,2%).
Gambar 3.2 Hal yang paling disukai dari Diklat Kepemimpinan Saat ditanyakan tentang aspek yang masih bisa diperbaiki dalam Diklat Kepemimpinan, jawaban para responden adalah metode pembelajaran (21%), kurikulum (19%), sarana dan prasarana (14%), media pembelajaran dan kompetensi Widyaiswara (12%), serta makanan dan mengundang tokoh nasional (5%).
Gambar 3.3 Aspek yang dapat diperbaiki dari Diklat Kepemimpinan 2. Kebutuhan kompetensi Kepemimpinan
Tujuan pertanyaan dalam kuesioner bagian ketiga ini, pertama untuk mengetahui sejauh mana Program Diklat Kepemimpinan yang telah
diselenggarakan selama ini telah memenuhi kebutuhan kompetensi kepemimpinan para peserta diklat. Tujuan kedua adalah untuk mengetahui kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan oleh peserta diklat, namun belum diakomodir dalam kurikulum Diklat kepemimpinan Tingkat IV.
Hasil analisis menunjukkan bahwa semua materi pembelajaran dalam Diklat Kepemimpinan sangat dibutuhkan oleh para responden karena relevan dengan kebutuhan kompetensi pejabat eselon IV. (Lihat Tabel 3.5). Materi kecerdasan emosi, berpikir kreatif dan inovasi, kaji banding (benchmarking), dan membangun tim efektif merupakan empat materi yang menduduki peringkat teratas. Sedangkan materi Proyek Perubahan, Pilar-pilar Kebangsaan dan Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia/SANRI menjadi tiga materi terakhir yang menjadi peringkat terakhir. Meskipun demikian tiga materi ini mendapatkan nilai rata-rata di atas skala 4.
Tabel 3.5. Persepsi Terhadap Materi Pembelajaran dalam Diklat Kepemimpinan
Pernyataan Mean DeviasiStd. Kecerdasan Emosional: Kemampuan untuk
menerapkan kecerdasan emosional dalam mengelola tugas dan fungsi unit kerjanya
4,36 0,591
Berpikir Kreatif dan Inovasi: Kemampuan untuk berpikir kreatif dan inovatif dalam menyusun kegiatan organisasi
4,34 0,618
Benchmarking ke Best Practice: Kemampuan untuk mengadopsi dan mengadaptasi keunggulan organisasi yang memiliki best practice (institusi/lembaga/ BUMN) dalam pengelolaan tugas dan fungsi organisasi
4,30 0,723
Membangun Tim Efektif: Kemampuan untuk
membangun kolaborasi yang efektif dengan pemangku kepentingan internal dan eksternal untuk mengelola tugas dan fungsi unit kerjanya
4,30 0,540
Isu Strategis: Kemampuan untuk memahami isu-isu aktual strategis yang sedang berkembang saat ini, baik yang bersifat instansional, nasional, regional, maupun internasional
4,28 0,568
Pengenalan Potensi Diri: Kemampuan untuk
kepemimpinan
Diagnostic Reading: Kemampuan untuk
mengidentifikasi permasalahan dan penentuan alternatif pemecahan masalahnya pada “pengelolaan tugas dan fungsi di unit kerjanya”
4,27 0,744
Inovasi: Kemampuan untuk melakukan inovasi terhadap
kegiatan dan program organisasi 4,26 0,593 Koordinasi dan Kolaborasi: Kemampuan untuk
menerapkan koordinasi dan kolaborasi dalam mengelola tugas dan fungsi unit kerjanya
4,26 0,524
Jejaring Kerja: Kemampuan untuk menata ulang jejaring kerja personal dan organisasi untuk efektifitas
pengelolaan program
4,26 0,560
Standar Etika Publik: Kemampuan untuk
mengaktualisasikan akuntabilitas dan etika publik dalam mengelola pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerjanya
4,21 0,536
Wawasan Kebangsaan: Kemampuan untuk mengaktualisasikan wawasan kebangsaan dan
semangat nasionalisme dalam mengelola pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja
4,19 0,622
Integritas: Kemampuan untuk menerapkan akuntabilitas kinerja dan etika publik dalam mengelola pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja
4,17 0,580
Proyek Perubahan: Kemampuan untuk merancang dan mengimplementasikan perubahan pada pengelolaan tugas dan fungsi di unit kerjanya
4,17 0,727
Pilar-Pilar Kebangsaan: Kemampuan untuk mengaktualisasikan nilai dan semangat pilar-pilar kebangsaan dalam mengelola pelaksanaan tugas dan fungsi unit kerja
4,15 0,770
Sistem Administrasi Negara Republik Indonesia: Kemampuan untuk memahami posisi dan kedudukan unit organisasinya dalam Sistem Administrasi Negara
Kesatuan Republik Indonesia (Kelembagaan dan Tata Hubungan Kerja)
4,11 0,751
Saat ditanyakan terkait kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan oleh para responden namun belum terakomodir dalam kurikulum Diklat Kepemimpinan Tingkat IV, empat kompetensi yang mendapat nilai tertinggi, meliputi Pendelegasian Wewenang, Analytical Thinking and Creative Problem Solving, Pelayanan Publik, dan Leader as a Coach. Kompetensi yang ditawarkan ini diambil dari matrik kompetensi kepemimpinan yang ada saat ini berdasarkan hasil studi literatur yang ada.
Tabel 3.6 Persepsi Terhadap Kebutuhan Kompetensi Kepemimpinan
Pernyataan Mean DeviasiStd.
Pendelegasian Wewenang: Kemampuan untuk mendelegasikan tugas dan kewenangan secara efektif
4,30 0,575 Analytical Thinking and Creative Problem Solving:
Kemampuan untuk mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan secara kreatif dan inovatif
4,25 0,551
Pelayanan Publik: Menunjukkan kemampuan untuk
meningkatkan pelayanan publik 4,25 0,556
Leader as a Coach: Kemampuan untuk melakukan
Coaching dan mentoring terhadap staf/bawahan 4,25 0,585 Presentation Skill: Kemampuan untuk berkomunikasi
secara efektif melalui presentasi 4,23 0,577 Manajemen Sumber Daya: Kemampuan untuk
mengelola sumber daya organisasi (termasuk sumber daya manusia)
4,23 0,609
Kepemimpinan Efektif: Kemampuan untuk
mengidentifikasi dan menerapkan teori kepemimpinan kunci saat ini dan model-model kepemimpinan efektif
4,21 0.567
Komunikasi Strategis: Kemampuan untuk melakukan komunikasi efektif melalui komunikasi publik dan komunikasi tertulis
4,21 0,600
kepemimpinan efektif: Kemampuan untuk memimpin orang lain
4,19 0,557 Kepemimpinan Visioner: Kemampuan untuk
mengembangkan visi pribadi untuk kepemimpinan 4,17 0,672 Sistem Thinking (Berpikir Sistem): kemampuan untuk
berpikir secara kritis dan analitis 4,17 0,580 Manajemen Proyek: Kemampuan untuk mengelola
kegiatan (project management system) yang efektif dan efisien
4,17 0,612
Manajemen Risiko: Kemampuan untuk mengelola risiko pada pengelolaan program dan kegiatan di unit kerjanya
4,11 0,577
Manajemen Konflik: Kemampuan untuk menerapkan langkah-langkah yang diperlukan dalam resolusi konflik di organisasi
4,11 0,543
Sedangkan jawaban atas pertanyaan mengenai kompetensi/materi tambahan lainnya yang dapat menunjang kompetensi kepemimpinan para responden. Masing-masing responden cenderung memberikan jawaban yang berbeda satu dengan lainnya. Empat kompetensi/ materi tambahan yang paling diinginkan tersebut meliputi, Problem Solving and Decision
Making, Leader as a Coach, Benchmarking, dan Membangun Jejaring Kerja.
Gambar 3.4 Kompetensi kepemimpinan Tambahan yang diinginkan
Kebutuhan kompetensi manajerial di luar kepemimpinan yang ada di KESDM juga harus dianalisis sehingga dapat menunjang kemampuan para pemimpin/Pejabat dalam mengelola bidang tugasnya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil pembahasan di atas, maka dalam pengembangan Program Kepemimpinan di KESDM ke depannya dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Diklat Kepemimpinan yang diselenggarakan di Indonesia pada dasarnya
telah sesuai dengan trend model pengembangan kepemimpinan yang dianggap paling efektif saat ini yang diharapkan dapat mencetak para pemimpin perubahan di lingkungan KESDM yang siap menghadapi tantangan di masa depan.
2. Setelah mengikuti pembelajaran dalam Program Diklat Kepemimpinan, para peserta mengalami peningkatan kompetensi hampir di semua mata diklat karena memiliki nilai rata-rata di atas tiga, kecuali materi terkait Isu Aktual Lembaga (2,98).
3. Peserta diklat merasakan adanya peningkatan kompetensi dan kepuasan terhadap penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan di PPSDMA, hal ini dibuktikan dengan nilai rata-ratanya yang cukup tinggi (di atas 3,5).
4. Hasil jawaban Peserta diklat atas pertanyaan tentang yang paling disukai dari Diklat Kepemimpinan dua di antaranya adalah terkait bertambahnya wawasan (30,2%) dan bertambahnya jejaring kerja (28,3%).
5. Kompetensi yang ada dalam Diklat Kepemimpinan saat ini dianggap masih relevan dengan kebutuhan para responden sebagai pejabat eselon IV (nilai rata-rata di atas empat).
6. Kompetensi kepemimpinan yang dibutuhkan oleh para responden namun belum terakomodir dalam kurikulum Diklat Kepemimpinan Tingkat IV, urutan tiga teratas meliputi Pendelegasian Wewenang, Analytical Thinking and Creative Problem Solving, Pelayanan Publik, dan Leader as a Coach. 7. Kompetensi/materi penunjang kepemimpinan yang dianggap penting oleh
para responden, empat teratas yaitu: Problem Solving and Decision Making, Leader as a Coach, Benchmarking, dan Membangun Jejaring Kerja.
B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka saran-saran yang dapat diberikan untuk perbaikan penyelenggaraan diklat kepemimpinan ke depannya yaitu: 1. Pola pengembangan kompetensi kepemimpinan dan metode
pembelajaran yang dilakukan seharusnya berkelanjutan (pengembangan vertikal);
2. Kompetensi pengembangan kepemimpinan harus bersifat dinamis yang disesuaikan dengan karakteristik lingkungan kerja dan tantangan yang dihadapi sehingga harus disesuaikan dengan kebutuhan organisasi masing-masing.
3. Kompetensi yang dibangun dalam Diklat Kepemimpinan Tingkat I hingga IV saat ini masih bersifat generik, sehingga harus ditunjang dengan diklat teknis manajerial lainnya.
4. Perlunya pengembangan metode pembelajaran campuran (blended learning) mengingat tingginya tingkat kesibukan para pemimpin/pejabat sehingga tidak dapat meninggalkan pekerjaan terlalu lama.
5. Perlu dipikirkan triangulasi dalam evaluasi peserta, sehingga tidak hanya difokuskan kepada penilaian inovasi.
6. Peserta diklat menganggap bahwa aspek utama yang masih bisa diperbaiki dalam Diklat Kepemimpinan adalah metode pembelajaran (21%), kurikulum (19%), sarana dan prasarana (14%), media pembelajaran dan kompetensi Widyaiswara (12%).
7. Perlu adanya kajian dan evaluasi yang lebih mendalam terkait kompetensi yang telah dibangun dan pola penyelenggaraan Diklat Kepemimpinan di Indonesia saat ini.