HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Hasil Pengujian Antiinflamasi
Pengujian efek antiinflamasi dilakukan dengan menggunakan alat pletismometer air raksa dengan prinsip pengukuran berdasarkan hukum Archimedes yaitu “sebuah benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas yang besarnya sama dengan berat zat cair yang dipindahkannya”. Pengujian ini menggunakan ekstrak etanol kulit buah rotan dosis 100 mg/kg bb, 200 mg/kg bb, dan 400 mg/kg bb dan menggunakan pembanding yaitu obat antiinflamasi nonsteroid natrium diklofenak dosis 4,5 mg/kg bb. Induksi radang dilakukan secara kimia menggunakan larutan karagenan 1% , yang disuntikkan secara subplantar pada telapak kaki tikus sebanyak 0,05 ml. Pembentukan radang oleh karagenan menghasilkan peradangan akut, dan tidak menyebabkan kerusakan jaringan, meskipun radang dapat bertahan selama 360 menit dan berangsur-angsur berkurang selama satu hari.
Dari perubahan volume kaki tikus, dapat dihitung persen radang pada kaki tikus. Perubahan volume kaki tikus dan persen radang berbanding lurus. Apabila perubahan volume kaki tikus besar, maka persen radang pun besar. Selanjutnya dibuat grafik perubahan persen radang rata-rata kaki tikus dan grafik perubahan persen inhibisi radang rata-rata kaki tikus.
Kelompok persen radang pada kaki tikus yang lebih kecil dari kelompok kontrol menunjukkan bahwa bahan uji mampu menekan radang yang disebabkan oleh karagenan. Hasil pengukuran persen radang rata-rata yang terjadi dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Apabila volume radang besar, maka persen radangnya pun besar. Pada Gambar 4.1 dapat dilihat bahwa semua kelompok dosis memiliki persen radang rata-rata yang lebih kecil dari kelompok kontrol dari menit ke-30 sampai menit
0 100 200 300 400 500 600 700 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
Kontrol natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb
EEKBR dosis 100 mg/kg bb EEKBR dosis 200 mg/kg bb EEKBR dosis 400 mg/kg bb P er sen R ada ng ( % ) Waktu (menit) Keterangan:
ke-360. Pada menit ke-30, persen radang rata-rata kelompok dosis EEKBR dan natrium diklofenak sama. Pada menit ke-60 EEKBR 100 mg/kg bb dan EEKBR 200 mg/kg bb memiliki persen radang rata-rata yang sama, namun masih lebih besar dari EEKBR 400 mg/kg bb dan natrium diklofenak. Menit ke-90 sampai menit ke-210, EEKBR 400 mg/kg bb memiliki persen radang rata-rata yang lebih kecil dari EEKBR 200 mg/kg bb dan EEKBR 100 mg/kg bb namun masih lebih besar dari kelompok natrium diklofenak. Pada menit ke-240 dan menit ke-270, EEKBR 100 mg/kg bb dan EEKBR 200 mg/kg bb memiliki persen radang rata-rata yang sama, namun masih lebih besar dari EEKBR 400 mg/kg bb dan natrium diklofenak. Pada menit ke-300 sampai menit ke 360, EEKBR 400 mg/kg bb memiliki persen radang rata-rata yang lebih kecil dari EEKBR 200 mg/kg bb dan EEKBR 100 mg/kg bb, dan lebih besar dari kelompok natrium diklofenak. Data persen radang rata-rata dapat dilihat pada Lampiran 12 halaman 64 - 65.
Kemudian, efek antiinflamasi dari ekstrak etanol kulit buah rotan dapat dilihat dari besarnya persen inhibisi radang rata-rata. Apabila kelompok bahan uji memiliki persen radang yang besar, maka kelompok itu kurang dapat menghambat radang pada tikus sehingga persen inhibisi radangnya kecil. Persen radang rata-rata tiap waktu pengukuran dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Pada Gambar 4.2 dapat dilihat bahwa natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb memiliki persen inhibisi radang rata-rata yang lebih besar dari pada EEKBR 400 mg/kg bb, 200 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb dari menit ke-30 sampai ke-360. EEKBR 400 mg/kg bb memiliki persen inhibisi radang rata-rata yang sama dengan EEKBR 200 mg/kg bb dan 100 mg/kg bb pada menit ke-30. Pada menit ke-60, EEKBR 200 mg/kg bb memiliki persen inhibisi radang rata-rata yang sama dengan EEKBR 400 mg/kg bb dan lebih besar dibanding EEKBR 100 mg/kg bb. Kemudian menit ke-90 sampai ke-210, EEKBR 100 mg/kg bb memiliki persen inhibisi radang rata-rata yang paling kecil, diikuti oleh EEKBR 200 mg/kg bb dan EEKBR 400 mg/kg bb memiliki persen inhibisi radang rata-rata paling besar dari semua dosis variasi EEKBR. Pada menit ke-240 dan menit ke-270, EEKBR 100
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360
natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb EEKBR dosis 100 mg/kg bb EEKBR dosis 200 mg/kg bb EEKBR dosis 400 mg/kg bb
P er se n I nhi bi si R ada ng Waktu (menit) Keterangan:
Gambar 4.2Persen inhibisi radang rata-rata telapak kaki kiri tikus tiap waktu pengamatan.
mg/kg bb dan EEKBR 200 mg/kg bb memiliki persen inhibisi radang rata-rata yang sama yaitu 31,15%, namun masih lebih kecil dari EEKBR 400 mg/kg bb. Pada menit ke-300 sampai menit ke 360, EEKBR 400 mg/kg bb memiliki persen inhibisi radang rata-rata yang lebih besar dari EEKBR 200 mg/kg bb dan EEKBR 100 mg/kg bb. Data persen inhibisi radang rata-rata dapat dilihat pada Lampiran 12 halaman 65.
Untuk melihat perbedaan yang nyata antar kelompok, dilakukan uji statistik Mann Whitney dari menit ke-30 sampai menit ke-360 yang dapat dilihat pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3. Perbandingan Ada Tidaknya Perbedaan Bermakna Antara Kelompok Perlakuan Berdasarkan Hasil Uji Satistik Mann-Whitney
Keterangan:
(-) = Tidak terdapat perbedaan bermakna; √ = Terdapat perbedaan bermakna
I = Kelompok CMC 0,5%; II = Kelompok suspensi natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb; III = Kelompok suspensi EEKBR dosis 100 mg/kg bb; IV = Kelompok
suspensi EEKBR dosis 200 mg/kg bb; V = Kelompok suspensi EEKBR dosis 400 mg/kg bb.
Kelompok Persen Radang (%) pada menit ke-
30 60 90 120 150 180 210 240 270 300 330 360 I II √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ III √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - - IV √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ - V √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ √ II III - - - √ √ √ √ √ - √ √ √ IV - - √ √ √ - - √ - √ √ √ V - - - √ - - - - III IV - - - - V - - √ - √ √ √ √ √ √ √ √ V V - - - - √ - - √ √ √ - -
Uji Mann Whitney pada menit ke-30 sampai menit ke-360 menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok suspensi CMC 0,5% dengan kelompok natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb dan EEKBR 400 mg/kg bb. Untuk kelompok CMC 0,5% dan EEKBR 100 mg/kg bb terdapat perbedaan yang signifikan dari menit ke-30 sampai menit ke-300, namun pada menit ke-330 dan menit ke-360 tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Untuk kelompok CMC 0,5% dan EEKBR 200 mg/kg bb terdapat perbedaan yang signifikan dari menit ke-30 sampai menit ke-330, namun pada menit ke-360 tidak terdapat perbedaan yang signifikan. Walaupun secara statistik pada menit ke-330 dan menit ke-360 EEKBR 100 mg/kg bb dan menit ke-360 EEKBR 200 mg/kg bb tidak berbeda signifikan dengan CMC 0,5%, namun secara manual EEKBR 100 mg/kg bb tetap memiliki efek inhibisi radang yaitu berturut-turut 21,88% dan 11,29% dan 25,81% untuk EEKBR 200 mg/kg bb. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol kulit buah rotan memiliki efek sebagai antiinflamasi bila dibandingkan dengan kontrol negatif (CMC 0,5%).
Bila dibandingkan dengan natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb, EEKBR 400 mg/kg bb menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan dengan obat pembanding tersebut, kecuali pada menit ke-120. Untuk EEKBR 100 mg/kg bb dan EEKBR 200 mg/kg bb menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb. Hal ini dikarenakan daya antiinflamasi EEKBR 100 mg/kg bb dan EEKBR 200 mg/kg bb tidak sama kuat dengan natrium diklofenak 4,5 mg/kg bb. Hasil analisis uji Mann Whitney dapat dilihat pada Lampiran 13, halaman 67.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa ekstrak etanol kulit buah rotan mampu menghambat pembentukan radang yang
diakibatkan oleh karagenan. Hal ini kemungkinan karena ekstrak etanol kulit buah rotan dapat menghambat produksi nitrit oksida (NO), prostaglandin (PGE2)
dengan menurunkan jumlah isoform enzim nitrit oksida sinthase (iNOS) dan protein siklooksigenase (COX2) melalui penekanan aktivasi nuklear faktor kappa
B (NF-kB) menurut Choy, dkk., (2008). Gupta, (2008), juga menjelaskan bahwa
Daemonorops draco memiliki senyawa dracoflavan yang mempunyai aktivitas antiinflamasi, yaitu menghambat enzim siklooksigenase.
BAB V