HASIL DAN PEMBAHASAN
4.4 Hasil Pengujian Efektifitas Anti-Aging
Pengujian efektivitas anti-aging dilakukan terhadap sukarelawan wanita sebanyak 12 orang. Pengujian dilakukan pada daerah kulit wajah. Semua sukarelawan diukur terlebih dahulu kondisi kulit awal/sebelum perlakuan dengan menggunakan perangkat skin analyzer. Parameter pengukuran meliputi:
Kelembapan (moisture), Pori wajah (pore), Noda (spot), dan Keriput (wrinkle).
menggunakan program statistik dengan metode Kruskal-Wallis. Selanjutnya untuk menganalisis pengaruh formula terhadap kondisi kulit selama empat minggu perawatan digunakan Mann-Whitney Test.
4.4.1 Kelembapan (moisture)
Data hasil pengukuran kelembapan (moisture) pada kulit wajah sukarelawan dapat dilihat pada Tabel 4.5.
Tabel 4.5 Hasil pengukuran kelembapan (moisture) pada kulit wajah sukarelawan
Formula Kondisi Awal
Waktu Perawatan (hari) %
pemulihan
Dehidrasi 0-29; Normal 30-50; Hidrasi 51-100 (Aramo, 2012).
F0 : Masker clay tanpa minyak zaitun murni (Blanko)
F1 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 6%
F2 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 8%
F3 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 10%
Data pada Tabel 4.5 menunjukkan selama empat minggu perawatan dengan pemberian sediaan masker seminggu sekali secara rutin, kelembapan pada kulit sukarelawan mengalami peningkatan terutama dari Formula 3 dengan rata-rata persen pemulihan sebesar 40,20%. Formula blanko mengalami
peningkatan sebesar 6,97%. Grafik pengaruh pemakaian masker clay terhadap kelembapan kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Gambar 4.1 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap kelembapan (moisture) pada kulit wajah sukarelawan
Data selanjutnya dianalisis dengan menggunakan uji non parametrik Kruskal Wallis untuk mengetahui efektivitas formula terhadap kelembapan kulit sukarelawan dan diperoleh nilai p < 0,05 pada penggunaan 14 hari, 21 hari dan 28 hari yang menunjukkan bahwa perubahan kelembapan pada kulit signifikan.
Untuk mengetahui perbedaan tiap konsentrasi formula mempengaruhi peningkatan kelembapan pada kulit maka dilakukan uji Mann-Whitney. Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kelembapan yang signifikan antara F0 dengan F1, F2, dan F3, F1
lembut dan berfungsi dengan baik (Bentley, 2006). Untuk fungsi fisiologisnya kulit memerlukan lemak dan air. Lapisan lemak di permukaan kulit dan bahan-bahan dalam stratum korneum yang bersifat higroskopis dapat menyerap air dan berada dalam hubungan yang fungsional disebut Natural Moisturizing Factor.
Kemampuan stratum korneum untuk mengikat air sangat penting bagi fleksibilitas dan kelenturan kulit (Tranggono dan Latifah, 2007).
4.4.2 Pori (pore)
Hasil pengukuran pori pada kulit wajah sukarelawan dapat dilihat pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Hasil pengukuran besar pori (pore) pada kulit wajah sukarelawan Formula Kondisi
F0 : Masker clay tanpa minyak zaitun murni (Blanko)
F1 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 6%
F2 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 8%
F3 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 10%
Data pada Tabel 4.6 menunjukkan selama empat minggu perawatan dengan pemberian sediaan masker seminggu sekali secara rutin, kelompok blanko sedikit memberikan pengecilan ukuran pori (4,47%) sedangkan pada F1, F2, F3 menunjukkan adanya pengecilan ukuran pori masing-masing sebesar 16,40%, 27,78 % dan 31,97%. Grafik pengaruh pemakaian masker clay terhadap pori kulit sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.2.
Gambar 4.2 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap pori (pore) pada kulit wajah sukarelawan
Data selanjutnya dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 pada 14 hari, 21 hari dan 28 hari perawatan yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam mengecilkan ukuran pori kulit sukarelawan. Data selanjutnya diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda. Dari hasil dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara blanko/F0 dengan F1, F2, dan F3, F1
0
Pori-pori bisa membesar jika terpapar sinar matahari yang sangat panas, peningkatan suhu meyebabkan terbukanya pori-pori pada wajah. Minyak yang berlebih dan kulit mati dapat menyumbat pori-pori. Jika pori-pori tersumbat, dapat menimbulkan banyaknya masalah kulit seperti jerawat dan komedo
( Surjushe, et al., 2008).
Pembesaran pori-pori dapat dikurangi dengan pengelupasan secara teratur. Selain disebabkan oleh bertambahnya usia yang membuat pori-pori menjadi lebih besar karena berkurangnya elastisitas kulit juga dikarenakan seringnya terkena paparan sinar matahari. Banyaknya aktifitas yang menyebabkan peningkatan suhu tubuh juga dapat membuat ukuran pori-pori membesar (Bogadenta, 2012).
4.4.3 Noda (Spot)
Hasil pengukuran banyaknya noda kulit wajah dari sukarelawan dapat dilihat pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Hasil pengukuran noda (spot) pada kulit wajah sukarelawan Formula Kondisi
Keterangan:
Jumlah noda sedikit 0-19; Jumlah noda sedang 20-39; Jumlah noda banyak 40-100 (Aramo, 2012).
F0 : Masker clay tanpa minyak zaitun murni (Blanko)
F1 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 6%
F2 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 8%
F3 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 10%
Hasil pengukuran noda kulit sukarelawan pada Tabel 4.7 menunjukkan bahwa pada kondisi awal, semua kelompok sukarelawan memiliki noda yang sangat banyak (44-48). Setelah penggunaan masker clay dapat dilihat bahwa formula blanko sedikit memberikan efek pengurangan jumlah noda dengan persentase pemulihan 4,22%. F1, F2, dan F3 menunjukkan adanya efek pengurangan noda dari kategori banyak noda menjadi kategori sedang dengan persentase pemulihan 17,39%, 21,58%, dan 24,88%. Grafik pengaruh pemakaian masker clay terhadap banyak noda kulit wajah sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.3.
Data yang diperoleh selanjutnya dilakukan analisa statistik menggunakan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 yang menunjukkan bahwa adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam mengurangi noda pada kulit sukarelawan pada penggunaan 14 hari, 21 hari dan 28 hari. Kemudian data diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda.
Dari hasil uji Mann-Whitney dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yangsignifikan banyaknya noda kulit sukarelawan antara blanko dengan F1, F2, dan F3, F1 dengan F2 dan F3, F2 dengan F3 (nilai p < 0,05).
Gambar 4. 3 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap noda (spot) pada kulit wajah sukarelawan
Mulyawan dan Suriana (2013) menyebutkan bahwa noda hitam (hiperpigmentasi) bisa muncul pada kulit yang mulai menua maupun kulit yang belum tua oleh berbagai penyebab. Pada umumnya bercak-bercak hitam ini muncul pada bagian tubuh yang sering terpapar sinar matahari (Bogadenta, 2012). Semakin lama kulit terpapar sinar matahari, menyebabkan pembentukan melanin kulit semakin aktif dan menimbulkan bercak-bercak noda pada kulit (Sumaryati, 2012).
4.4.4 Keriput (Wrinkle)
Hasil pengukuran jumlah keriput pada Tabel 4.8 menunjukkan bahwa pada kondisi awal, semua kelompok sukarelawan memiliki keriput pada kulit wajah (42-50). Setelah penggunaan masker, dapat dilihat bahwa formula blanko sedikit memberikan efek dalam pengurangan jumlah keriput dengan persentase pemulihan 4,22%. F1, F2 dan F3 menunjukkan adanya efek pengurangan dengan persentase pemulihan masing-masing sebesar 9,72%, 22,44%, dan 32,32%.
0
Grafik pengaruh pemakaian masker clay terhadap kerutan sukarelawan selama empat minggu perawatan dapat dilihat pada Gambar 4.4.
Tabel 4.8 Hasil pengukuran Keriput (Wrinkle) pada kulit wajah sukarelawan Formula Kondisi
Keterangan: Tidak berkeriput 0-19; Berkeriput 20-52; Berkeriput parah 53-100 (Aramo, 2012).
F0 : Masker clay tanpa minyak zaitun murni (Blanko)
F1 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 6%
F2 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 8%
F3 : Masker clay dengan minyak zaitun murni konsentrasi 10%
Data yang diperoleh setelah perawatan selama empat minggu selanjutnya dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan diperoleh nilai p < 0,05 pada 14 hari, 21 hari dan 28 hari perawatan yang menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan antar formula dalam menurunkan jumlah keriput pada kulit sukarelawan. Data selanjutnya diuji menggunakan Mann-Whitney untuk mengetahui formula mana yang berbeda. Dari hasil dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara blanko/F0 dengan F1, F2, dan F3; kemudian antara F1 dengan F2 dan F3 dan F2 dengan F3.
Gambar 4.4 Grafik pengaruh perbedaan formula terhadap keriput (wrinkle) pada kulit wajah sukarelawan
Vitamin E digunakan dalam kosmetik untuk penggunaan sehari-hari untuk memperkuat potensi antioksidan alami kulit sehingga dapat mengatasi stres oksidatif. Vitamin E bertindak pada bagian dalam kulit dan mengurangi risiko kerusakan yang bisa disebabkan oleh sinar matahari melewati kulit.
Vitamin E membantu dalam pencegahan gejala yang disebabkan oleh kerusakan kulit yang ditimbulkan oleh sinar UV seperti kerutan dan pigmentasi yang tidak teratur (Barel, et al., 2001).
0
BAB V