Web Server Apache
HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Pengujian Fatigue
4. Hasil Pengujian F ractography (Foto Makro)
Proses foto makro dilakukan sesaat setelah pengujian fatigue selesai dengan tujuan mengetahui bentuk dan jenis patahan pada spesimen. Gambar foto makro diambil menggunakan kamera digital dengan macro mode atau mode makro.
Gambar 5. Foto Makro spesimen BMSP8
Gambar 6. Foto Makro spesimen BMSP8CAA
Setiap gambar spesimen menunjukkan dua buah bagian. Bagian yang pertama adalah bagian yang diberi warna merah. Tanda tersebut menunjukkan daerah dari patahan fatigue karena permukaan pada patahan terlihat lebih halus. Permukaan patahan yang lebih halus timbul karena beban dinamis atau berulang pada spesimen terjadi secara perlahan, sehingga daerah patahan bertambah secara perlahan. Retakan bermula dari daerah ujung notch yang laju rambatnya sangat
134 | Prosiding Semnas FPTVI Bali 2017
pelan (zona 1), kemudian retakan bertambah dengan laju rambat yang cukup konstan hingga daerah tengah spesimen (zona 2).
Bagian yang diberi warna kuning menunjukkan bentuk patahan yang getas (brittle). Retakan yang telah melewati daerah tengah spesimen (zona 2) menyebabkan spesimen tidak mampu lagi menahan beban yang diberikan dengan baik. Kondisi spesimen yang telah patah di setengah bagian pertama mengakibatkan spesimen menjadi tidak stabil dan mudah patah. Kondisi seperti ini yang terus menerus mengenai spesimen akan menimbulkan bentuk patahan yang kasar seperti pada Gambar dan terjadi dalam waktu yang sangat cepat (zona 3) hingga pada akhirnya spesimen tidak mampu lagi menahan beban.saat ketahanan spesimen telah mencapai batasnya, maka spesimen seolah-olah mendapatkan beban tarik yang mengakibatkan kegagalan berupa patah getas.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
1. Kombinasi Perlakuan Shot Peening dan Chromic Acid Anodizing mampu meningkatkan ketahanan material dalam menerima beban dinamis.
2. Dengan pembebanan yang sama yaitu dengan AP 180kg perlakuan shot peening dan Anodizing meningkatkan banyaknya siklus dari 133.519 menjadi 179.395.
Saran
1. Pengamatan pertambahan rambat retak pada spesimen sangatlah penting untuk menjamin akurasi penelitian, sehingga apabila dimungkinkan perlu dibuat mikroskop digital yang dapat dihubungkan dengan monitor sehingga mata pengamat tidak capek dan pengamatan lebih akurat. 2. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan dengan penambahan intensitas shot peening sehingga dapat diketahui intensitas shot peening yang paling optimal dalam penurunan laju perambatan retak fatik.
DAFTAR PUSTAKA
Ardianto, H., 2015, Pengaruh Shot Peening dan Chromic Acid Anodizing pada material pesawat terbang AL 7050- 7651 Terhadap laju Perambatan Retak
Fatik,Thesis, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
ASM Metal Handbook Committe, 1990, ASM Handbook International Volume 2,
Properties and Selection Nonferrous and Special-Purpose Material, MetalPark Ohio :
ASM International.
ASM Metal Handbook Committee, 1990, ASM Metal Handbook Vol.02,
Properties and Selection Nonferrous Alloys and Special-Purpose Material.
ASM Metal Handbook Committe, 1994, ASM Metal Handbook Vol.05, Surface
135 | Prosiding Semnas FPTVI Bali 2017
ASM Metal Handbook Committe, 1996, Vol. 19, Fatigue and Fracture.
ASTM E 647, 2005, Standard Test Method for Measurement of Fatigue Crack Grown Rates. ASTM, 2003, Metal Test Methods and Analitycal Prosedures, Annual Book of STM Standard.
Sec. 3, Vol. 03.01,E647.
Broek, D., 1983, Elementary Engineering Fracture Mechanics, Martinus NijhoffPublisher, The Hague, Netherlands
Callister, Jr., W.D., and Rethwisch, D.G., 2007, Fundamenta l of Materials
Catherine, dkk 1994 ASM Metal Handbook Volume 5, Surface Engineering Science and
Engineering – An Integrated Approach, 3rd ed., John Wiley &Sons, Inc.
Cerny, I., 2011, Growth and Retardation ofPhysically Short Fatigue Cracks in An Aircraft
Al-alloy after Shot Peening, Procedia Engineering 10, 3411-3416.
Champaigne, Jack, 2001, Shot Peening Overview, Electronic Inc.
Sidharta, Bambang Wahyu., Soekrisno, R., Iswanto., Priyo Tri., 2012, PengaruhKonsentrasi
Elektrolit dan WaktuAnodasi Terhadap Ketahanan Aus danKekerasan pada
Oksida PaduanAluminium ADC12, Jurnal, Pasca Sarjana Teknik Mesin, Jurusan
Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta Trsko L., Mario G., Bokuvka O., Novy F., 2014, Fatigue Life of AW 7075 Aluminium Alloy after
Severe Shot P eening Treatment with Different Intensities, Procedia Engineering 74,
136 | Prosiding Semnas FPTVI Bali 2017
Pengaruh Implementasi Jaringan 4G Terhadap Pertumbuhan Trafik Data Di Kota Malang
I Dewa Made Widia
Dosen Teknik Komputer, Program Pendidikan Vokasi Universitas Brawijaya Malang Email : [email protected] atau [email protected]
Abstrak
Jaringan 4G (4th Generation) merupakan teknologi jaringan seluler terkini yang sudah diterapkan oleh semua penyelenggara jaringan bergerak/seluler di Indonesia. Produk jasa dianggap berhasil apabila pasar (pelanggan) merespon positif dari jasa yang diluncurkan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh dari implementasi jaringan 4G terhadap pertumbuhan trafik data di kota Malang dibandingkan dengan teknologi sebelumnya, 2G dan 3G. Desain penelitian menggunakan metode deskriptif kuantitatif, Variabel yang diukur berupa pertumbuhan trafik data sebelum dan sesudah adanya 4G. Data-data diambil dari salah satu penyelenggara jaringan seluler dan survei yang dilakukan pada beberapa pelanggan seluler di Kota Malang.
Kata Kunci : seluler, teknologi 4G, trafik data. Abstract
4G (4th Generation) is the latest mobile network technology that has been implemented by all network operators to mobile / cellular in Indonesia. Products considered successful if the services market (customers) respond positively to the launch of its services. This study aims to determine how much influence on the implementation of 4G networks to the growth of data traffic in the city of Malang in comparison with the previous technology, 2G and 3G. Design research using quantitative descriptive method, which measured variables such as growth in data traffic before and after the 4G. The data is taken from one mobile network operator and a survey conducted on some mobile subscribers in Malang.
I. PENDAHULUAN
Jaringan 4G (4th Generation) merupakan teknologi jaringan seluler terkini yang sudah diterapkan oleh semua penyelenggara jaringan bergerak/seluler di Indonesia. Berbagai keuntungan dan keleluasaan bisa didapatkan pada jaringan 4G ini dibandingkan dengan teknologi jaringan sebelumnya. Pada jaringan 4G ini difokuskan hanya pada penggunaan trafik data. Hal tersebut tentu sangat berbanding lurus dengan pergeseran paradigma telekomunikasi yang sebelumnya berbasis komunikasi telepon dan sms (short message service) menuju aplikasi data.
Kota Malang sebagai kota pendidikan mempunyai kontribusi yang besar terhadap pertumbuhan trafik data secara nasional. Dengan kondisi geografis, udara yang sejuk dan lokasi- lokasi tempat pendidikan / perguruan tinggi hampir terkonsentrasi di satu area /lokasi
137 | Prosiding Semnas FPTVI Bali 2017
menyebabkan banyak masyarakat yang ingin kuliah di Malang Kondisi tersebut juga sangat memudahkan bagi penyelenggara telekomunikasi untuk menggelar jaringan lebih efisien dan optimal. Salah satu penyelenggara jaringan tersebut adalah Indosat. Indosat sudah menggelar jaringan 4G di kota Malang sejak 2016.
Implementasi jaringan 4G ditentukan oleh 3 faktor yaitu kesiapan jaringan 4G, kartu 4G serta perangkat handphone yang harus dapat digunakan di jaringan 4G. Untuk faktor 1 dan 2 ditentukan oleh penyelenggara jaringan, sedangkan factor ke 3 ditentukan oleh pelanggan untuk mengganti perangkat handphone yang belum didukung oleh jaringan 4G. Penggelaran jaringan tentu saja berkaitan dengan investasi yang telah dan akan dikeluarkan oleh penyelenggara jaringan. Keberhasilan penggelaran jaringan dan jasa yang diluncurkan sangat tergantung dari respon pasar/pelanggan terhadap produk jasa tersebut.
Sehubungan dengan hal diatas maka kami melakukan penelitian untuk mengamati seberapa besar respon masyarakat/pelanggan terhadap hadirnya 4G di Kota Malang. Sehingga akan didapatkan gambaran tentang dampak dari implementasi tersebut, yang pada akhirnya akan digunakan sebagai pertimbangan untuk mengambil langkah lebih lanjut terkait implementasi teknologi bagi penyelenggara jaringan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sejarah Telekomunikasi
Definisi dari telekomunikasi adalah pertukaran informasi (perubahan bentuk informasi) pada hubungan jarak jauh (Uke Kurniawan, 2008). Telekomunikasi, sejatinya telah dikenal masyarakat kita sejak lama. Seperti penggunaan kentongan pada masyarakat desa ketika ada bencana, berkumpul mapun kegiatan lainnya
Telekomunikasi di dunia dimulai pada tahun 1837 dimana Samuel F.B. Morse mengembangkan telegraf dan bahasa kode Morse yang dikirim secara elektronik antara dua tempat yang berjauhan melalui kabel. Meski masih dalam format terbatas, akan tetapai keberadaannya membantu banyak pihak sampai pada tahun 1875 Alexander Graham Bell menciptakan dan mengembangkan telepon. Jika pada teknologi kabel dimulai dengan telegraf dan telepon, perkembangan berikutnya pada teknologi tanpa kabel (nirkabel) dengan penemuan sistem radio gelombang mikro oleh Guglielmo Marconi pada tahun 1895.
Teknologi telekomunikasi berkembang seiring juga dengan perkembangan teknologi informasi. Pada awalnya informasi dikirim dalam bentuk format sinyal analog. Selanjutnya format informasi dijital merupakan kebutuhan di era telekomunikasi saat ini. Hal tersebut dikarenakan tuntutan akan jenis layanan telekomunikasi yang beragam seperti suara, teks/tulisan, gambar hingga layanan multimedia.
2.2. Konsep Komunikasi Seluler
Teknologi Komunikasi seluler diawali dengan berkembangnya teknologi komunikasi berbasis analog Sekitar tahun 1980 an dengan menggunakan teknik Frequency Division Multiple Access (FDMA). Analog Radio System menggunakan analog input seperti komunikasi suara. Banyak
138 | Prosiding Semnas FPTVI Bali 2017
hal yang mendasari dikembangkannya jaringan komunikasi seluler, termasuk area layanan yang relatif terbatas sehingga kita sering tidak dapat berkomunikasi kapan dan di mana kita butuhkan.
Sistem Komunikasi Seluler adalah sistem komunikasi yang memberikan layanan jasa telekomunikasi bagi pelanggan bergerak dimana daerah layanannya dibagi-bagi menjadi daerah yang kecil-kecil yang disebut sel. Pelanggan mampu bergerak secara bebas di dalam area layanan sambil berkomunikasi tanpa terjadi pemutusan hubungan.
Gambar 1 Konsep Seluler
2.3 Sistem Seluler Generasi 1 (1G)
Advanced Mobile Phone Service (AMPS) adalah sistem selular analog asli dari Amerika
Serikat. Teknologi tersebut masih digunakan secara luas dan pada 1997 beroperasi di lebih dari 72 negara. AMPS adalah teknologi mobile telephone generasi pertama yang menggunakan system analog FDMA (Freqwency Division Multiple Access). AMPS beroperasi pada frekwensi 800 MHz, 821 – 849 MHz untuk base station receiving dan 869 – 894 MHZ untuk base station transmitting. Karena masih menggunakan teknologi analog, AMPS memiliki beberapa kekurangan antara lain :
Kapasitasnya masih terbatas, karena dalam system analog penggunaan suatu kanal akan dedicated untuk suatu subscriber. Maka pada saat subscriber itu tidak dalam keadaan berkomunikasi, kanal itu tidak dapat digunakan oleh subscriber lain.
Feature yang ditawarkan masih terbatas pada suara. Keamanan, dimana sistem analog mudah untuk disadap.
Teknologi AMPS bekerja pada band frekuensi 800 Mhz dan menggunakan metode akses FDMA (Frequency Division Multiple Access). Dalam FDMA, user dibedakan berdasarkan frekuensi yang digunakan dimana setiap user menggunakan kanal sebesar 30 KHz. Ini berarti tidak boleh ada dua user yang menggunakan kanal yang sama baik dalam satu sel maupun sel tetangganya. Oleh karena itu AMPS akan membutuhkan alokasi frekuensi yang besar. Saat itu kita sudah memakai handphone tetapi masih dalam ukuran yang relatif besar dan baterai yang besar karena membutuhkan daya yang besar.
2.4 Sistem Seluler Generasi 2 (2G)
Pada awal tahun 90-an untuk pertama kalinya muncul teknologi jaringan seluler digital. yang hampir bisa dipastikan memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan teknologi jaringan analog (1G) seperti suara lebih jernih, keamanan lebih terjaga dan kapaistas yg lebih besar.
139 | Prosiding Semnas FPTVI Bali 2017
Generasi kedua ini meliputi GSM (Global System for Mobile Communication), DCS 1800 (Digital Communication System at 1800 MHz), PDC (Personal Digital Celluler), DAMPS (Digital AMPS) dan CDMA. GSM muncul terlebih dahulu di Eropa sementara Amerika mengandalkan D- AMPS dan Quallcomm CDMA pertama mereka. kedua sistem ini (GSM dan CDMA) mewakili generasi ke dua (2G) dari teknologi jaringan nirkabel.
GPRS (The General Packet Radio Service) – 2.5G – adalah terobosan terbaru di generasi ke dua ini, lahir pada tahu 1997 GPRS dengan sigap menggantikan CSD yang boros. Dengan GPRS bisa dipastikan bahwa pengguna akan “Always on”. Pengguna dapat terhubung ke internet dimana saja dan kapan saja. Secara teori kecepatan GPRS mampu mencapai 115 kbps walau kenyataan kini berkata lain. GPRS juga membuat pengguna lebih hemat karena hitungannya menjadi per kilobyte bukan lagi permenit seperti CSD. Fasilitas yang diberikan oleh GPRS antara lain e-mail, mms, browsing, dan internet.
Antara tahun 2001 sampai 2003, EVDO Rev 0 pada CDMA2000 dan UMTS pada GSM pertama yang merupakan cikal bakal dari 3G mulai diperkenalkan. Tapi ini bukan berarti GPRS telah mati. Justru saat muncul EDGE (Enhanced Data rates for GSM Evolution) ini diharapkan akan menjadi pengganti GPRS yang baik, karena tidak perlu mengupgrade hardware secara ekstrem dan tidak terlalu banyak mengeluarkan biaya. Dengan EDGE pengguna sudah dapat merasakan kecepatan dua kali lebih cepat daripada GPRS akan tetapi tetap saja masih kurang cepat dari 3G.
EDGE (Enhanced Data for Global Evolution) : teknologi perkembangan dari GSM, rata- rata memiliki kecepatan 3kali dari kecepatan GPRS. Kecepatan akses EDGE secara teori sekitar 384kbps. Fasilitas yang disediakan EDGE sama seperti GPRS. Beberapa sumber menyebutkan bahwa EDGE ini termasuk ke dalam 2.75 G, sehingga ia adalah peralihan dari 2G ke 3G.
2.5 Sistem Seluler Generasi 3 (3G)
UMTS(Universal Mobile Telecommuni cation Service) adalah perkembangan lebih lanjut dari EDGE. UMTS sering disebut generasi ke tiga (3G). Selain menyediakan fasilitas akses internet (e-mail, mms, dan browsing). Memiliki kecepatan transfer data cepat (144kbps- 2Mbps) sehingga dapat melayani layanan data broadband seperti internet, video on demand, music on demand, games on demand, dan on demand lain yang memungkinkan kita dapat memilih program musik, video, atau game semudah memilih channel di TV. Kecepatan setinggi itu juga mampu melayani video conference dan video streaming lainnya.
ITU (Intenational Telecomunication Union) mendefisikan 3G (Third Generation) sebagai teknologi yang dapat unjuk kerja sebagai berikut :
Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 144 kbps pada kecepatan user 100 km/jam. Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 384 kbps pada kecepatan berjalan kaki. Mempunyai kecepatan transfer data sebesar 2 Mbps pada untuk user diam (stasioner).
140 | Prosiding Semnas FPTVI Bali 2017
HSDPA (High Speed Downlink Packet Access) merupakan perkembangan akses data selanjutnya dari 3G. HSDPA sering disebut dengan generasi 3.5 (3.5G) karena HSDPA masih berjalan pada platform 3G. Secara teori kecepatan akses data HSDPA sama seperti 480kbps, tapi pastinya HSDPA lebih cepat.
Setelah beberapa tahun, CDMA 2000 mengupgrade teknologi jaringan evdo mereka. menjadi EVDO rev A. teknologi ini memiliki kecepatan 10 kali lebih cepat dari evdo rev 0. Juga UMTS yang menguprade teknologi mereka ke HSDPA dan HSUPA. inilah yang dinamakan 3.5G.
2.6 Sistem Seluler Generasi 4 (4G)
4G adalah singkatan dari istilah dalam bahasa Inggris: fourth-generation technology. Istilah ini umumnya digunakan mengacu kepada pengembangan teknologi telepon seluler. 4G merupakan pengembangan dari teknologi 3G. Nama resmi dari teknologi 4G ini menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) adalah “3G and beyond”.
4G yang digadang gadang 500 kali lebih cepat daripada CDMA2000 dapat memberikan kecepatan hingga 1Gbps jika anda di rumah atau 100Mbps ketika bepergian. Dapat dibayangkan betapa cepatnya akses data yang kita dapatkan, dapat dipastikan bahwa teknologi komunikasi generasi keempat ini semakin memperkecil dunia. Selain itu ini adalah salahsatu solusi yang paling efektif untuk jaringan internet dipedasaan karena lebih baik menanam 1 menara 4G untuk ber mil-mil jauhnya, daripada dengan menyelimuti sawah-sawah dengan kabel fiber optik.
Sistem 4G akan dapat menyediakan solusi IP yang komprehensif dimana suara, data, dan arus multimedia dapat sampai kepada pengguna kapan saja dan dimana saja, pada rata-rata data lebih tinggi dari generasi sebelumnya. Belum ada definisi formal untuk 4G. Bagaimanapun, terdapat beberapa pendapat yang ditujukan untuk 4G, yakni: 4G akan merupakan sistem berbasis IP terintegrasi penuh. 4G akan menawarkan segala jenis layanan dengan harga yang terjangkau.
Setiap handset
4G akan langsung mempunyai nomor IP v6 dilengkapi dengan kemampuan untuk berinteraksi internet telephon yang berbasis Session Initiation Protocol (SIP).