HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2. Hasil Penelitian
4.2.3. Analisis Regresi Logistik
4.2.3.3 Hasil Pengujian Hipotesis
Hasil pengujian hipotesis bertujuan untuk mengetahui apakah pengaruh dari variabel bebas terhadap opini audit. Pengujian dengan regresi logistik ditunjukkan dalam tabel-tabel berikut ini.
Tabel 4.16.
Ikhtisar Pengolahan Data Case Processing Summary
Unweighted Casesa
N Percent Selected Cases Included in Analysis 31 100.0
Missing Cases 0 .0
Total 31 100.0
Unselected Cases 0 .0
Total 31 100.0
a. If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.
Berdasarkan Tabel 4.16. diatas kita dapat diambil analisis sebagai berikut : a. Jumlah sampel pengamatan sebanyak 31 sampel, dan seluruh sampel telah diperhitungkan ke dalam pengujian hipotesis,
b. Tidak ada variabel dependen yang dikeluarkan dengan nilai dummy variabel. Untuk variabel dependen bernilai 0 untuk tidak tercapai dan bernilai 1 untuk tercapai, c. Metode yang digunakan untuk memasukkan data adalah metode ENTER dimana apabila menggunakan metode ini seluruh variabel bebas (independen) disertakan dalam pengolahan (analisis) data untuk mengetahui variabel mana yang berpengaruh terhadap variabel dependen.
Selanjutnya variabilitas antara variabel dependen dengan variabel independen dapat dilihat pada Tabel 4.17 berikut ini.
Tabel 4.17. Model Summary
Step
-2 Log likelihood
Cox & Snell R Square
Nagelkerke R Square
1 9.828a .149 .392
a. Estimation terminated at iteration number 7 because parameter estimates changed by less than ,001.
Berdasarkan Tabel 4.17. diatas, maka dapat dilihat bahwa hasil analisis regresi logistik secara keseluruhan menunjukkan nilai Cox & Snell R Square sebesar 0,149. Cox & Snell R Square merupakan ukuran yang mencoba meniru ukuran seperti halnya R2 pada OLS regression yang didasarkan pada teknik estimasi likelihood dengan nilai maksimum kurang dari satu, sehingga sulit untuk diinterpretasikan.
Nagelerke’s R square merupakan modifikasi dari koefisien Cox dan Snell. Untuk memastikan bahwa nilainya bervariasi dari 0 (nol) sampai 1 (satu) hal ini dilakukan dengan cara membagi nilai Cox dan Snell’s R square dengan nilai maksimumnya. Nilai Nagelerke R2 dapat diinterpretasikan seperti nilai R2 pada OLS regression. Dilihat dari hasil output pengolahan data nilai Nagalerke R Square adalah sebesar 0,392 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 39,2% dan sisanya sebesar 60,8% adalah diluar model.
Matriks Klasifikasi
Matriks klasifikasi akan menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan peningkatan penjualan.
Tabel 4.18. Classification Tablea,b
Observed Predicted Tingkat_penjualan Percentage Correct .00 1.00 Step 0 Tingkat_penjualan .00 0 2 .0 1.00 0 29 100.0 Overall Percentage 93.5
a. Constant is included in the model. b. The cut value is ,500
Tabel 4.18. menunjukkan hasil output Classification Tabledimana kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan peningkatan penjualan sebesar 93,5%, hal ini berarti model dapat dikatakan baik dan dari perbandingan antara kedua nilai mengidentifikasikan tidak terdapatnya masalah homoskedastisitas (asumsi model logit).
Menguji Koefisien Regresi
Tabel 4.11 menunjukkan hasil pengujian dengan regresi logistik. Model regresi logistik yang digunakan dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :
�(�) = �
�+ �
��
�+�
Dengan :P(x) = tingkat penjualan (variabel dummy, 1 jika tingkat penjualan tercapai, 0 jika tingkat penjualan tidak tercapai)
�0 = konstanta
�1 = koefisien
�1 = Variabel Iklim kelompok kerja e = error
Tabel 4.19. Variables in the Equation
B S.E. Wald Df Sig. Exp(B) Step 1a Iklim_kelompok_kerja .324 .167 3.742 1 .053 1.382
Constant -19.899 11.282 3.111 1 .078 .000
a. Variable(s) entered on step 1: Iklim_kelompok_kerja.
Pada output variables in the equation menunjukkan nilai signifikansi berdasarkan wald statistic, jika model signifikan, maka nilai sig. adalah kurang dari 0,05. Dari hasil terlihat bahwa indikator dari variabel independen yaitu iklim kelompok kerja tidak berpengaruh signifikan karena nilai sig.0,053 lebih besar dari 0,05. Kolom Exp(B) menunjukkan nilai oods ratio yang dihasilkan. Nilai ood ratio yang hanya mendekati 1,0 mengindikasikan bahwa variabel independen tidak mempengaruhi variabel dependen.
Pada output variables in the equation diatas dapat diperoleh model regresi logistik sebagai berikut :
�(�) = −��,��� + �,����+ �
Dari hasil analisis diperoleh nilai-nilai koefisien untuk persamaan regresi logistik pada penelitian ini. Persamaan logistik penelitian ini memiliki nilai konstanta sebesar -19,899. Selain itu, dari tabel juga dapat dilihat besar koefisien variabel bebas (iklim kelompok kerja) persamaan logistik tersebut, yaitu : bX = 0,324. Dari nilai ini dapat disimpulkan bahwa jika variabel iklim kelompok kerja senantiasa
sehat dan kondusif maka akan meningkatkan tingkat penjualan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Cabang Imam Bonjol Medan sebesar 0,324.
4.2.4. Pembahasan
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa berdasarkan nilai signifikansi pada Output variables in the equation terlihat bahwa variabel iklim kelompok kerja berpengaruh negatif dan berpengaruh tidak signifikan terhadap tingkat penjualan. Sebab iklim kelompok kerja yang kondusif berpengaruh pada peningkatan motivasi kerja karyawan yang berdampak pada produktivitas karyawan tersebut, bukan pada pencapaian tingkat penjualan. Hal ini sesuai dengan pendapat Riyanto&Martinus (2008:121-123) bahwa “kerja kelompok akan meningkatkan motivasi kerja bagi masing- masing anggota. Karyawan termotivasi karena terlibat, tahu latar belakang dan tujuannya, sadar bahwa mereka sebagai bagian yang penting. Dengan demikian, mereka juga terdorong untuk lebih berprestasi. Sehingga tingkat produktivitas kelompok akan lebih tinggi ketika tercipta suasana psikologis yang menimbulkan perasaan dan sikap setia kawan serta senasib sepenanggungan yang akan memberikan motivasi yang kuat dalam melakukan tugas, karena mereka merasa nyaman, aman dan mendapat dukungan dari berbagai pihak .
Sedangkan perolehan tingkat penjualan bukan hanya dipengaruhi faktor internal perusahaan seperti strategi pemasaran dan penjualan dari segi produk, harga hingga pada service terhadap konsumen, tetapi juga faktor eksterrnal perusahaan pula
yaitu faktor – faktor diluar kekuasaan perusahaan seperti perubahan selera konsumen, munculnya barang pengganti, adanya saingan baru dan perubahan kebijaksanaan pemerintah. Hal ini mengindikasi bahwa sekalipun iklim kelompok kerja yang kondusif apabila situasi/kondisi pasar yang tidak sehat akan mengakibatkan tingkat penjualan rendah dan begitu pula apabila terjadi kondisi sebaliknya. Di sisi lain, umumnya target penjualan yang telah ditetapkan perusahaan, dalam hal ini PT X, dengan kondisi kondusif atau tidak atau iklim nya sehat atau tidak, tuntutan pencapaian target itu harus selalu dipenuhi. Apabila target penjualan tidak tercapai, maka perusahaan umumnya memberikan sanksi kepada karyawan seperti bonus yang tidak diberikan, jalur karir yang lambat dan beban kerja yang lebih banyak.