MANFAAT PETA RUPABUM
5.5. ANALISIS LANDSCAPE 1 HASIL PENGAMATAN
5.5.2. HASIL PENGUKURAN
Titik Koordinat Ca Cb Ct Tinggi Alat Sudut Azimuth Sudut Vertikal Jarak Horizontal Beda Tinggi O-A X= 0402594 Y= 9186270 1940 1020 1480 1450 64° 25’ 20” 100°08’ 20” 89149,572569 -15970,966 O-B 2790 1770 2280 88° 00’ 40” 98°29’ 10” 99779,340 -15715,417 O-C 1680 1040 1360 99°04’ 10” 101°29’ 00” 61463,569 -12575,91 O-D 2310 1690 2000 78°05’ 40” 101°22’ 30” 59588,648 -12537,041 O-E 2670 2150 2410 55°16’ 10” 103°N56’ 40” 48980,453 -13121,362
Terdapat tiga tahapan utama dalam kerja ukur tanah, yaitu melihat gambaran medan secara umum, observasi dan pengukuran dan yang ketiga yaitu penyajian. Tahap yang pertama yaitu melihat gambaran medan secara umum. Hal ini merupakan tahap survei awal untuk mendapatkan gambaran umum terhadap daerah yang akan dipetakan. Sehingga dapat ditentukan langkah-langkah kerja pengukuran, metode pengukuran yang akan digunakan, jumlah tenaga lapangan surveyor serta waktu yang diperlukan untuk melaksanakan pekerjaan tersebut.
Tahap berikutnya yaitu melakukan observasi dan pengukuran. Pengukuran dilakukan untuk mendapatkan hubungan posisi antara titik yang satu dengan yang lain, dengan menentukan ukuran jarak, sudut horizontal, sudut vertikal, tinggi alat ukur, dan beda tinggi. Posisi titik secara relatif dan absolut juga diperlukan. Posisi absolut yaitu
meliputi zona, posisi pada koordinat x, lokasi pada koordinat y, dan lokasi pada koordinat z. Posisi relatif dapat dibuat menggunakan sket pengukuran. Sket ini sangat berguna saat pengolahan data survei pengukuran.Tahap ketiga yaitu penyajian. Tahapan ini merupakan suatu tahap untuk mengubah data yang diambil dari survei lapangan menjadi informasi. Informasi ini dapat berupa peta, grafik, sket, maupun profil melintang.
Tujuan dari survei lapangan ini yaitu membuat profil detail (Short transect) dari daerah kajian. Survei yang dilakukan yaitu survei topografi yaitu survei untuk mendapatkan gambaran bentuk permukaan bumi, baik kenampakan fisikal (natural features) maupun kenampakan kultural (artificial features). Metode yang digunakan untuk pembuatan profil yaitu levelling dengan metode memanjang. Sebelum melakukan pengukuran lapangan, dilakukan observasi awal untuk melihat gambaran medan secara umum. Observasi awal ini dilakukan dengan melakukan orientasi medan daerah kajian. Orientasi medan ini juga merupakan tahap untuk melihat apakah titik-titik pengukuran yang telah ditentukan dari peta kontur sesuai untuk dijadikan titik pengukuran.
Titik – titik pengukuran awal ini dibuat berdasarkan data peta kontur yaitu sepanjang igir. Dibuat di sepanjang igir tujuannya yaitu untuk memudahkan dalam proses pengukuran di lapangan. Parameter yang digunakan selain relief/topografi yang didapat dari peta kontur yaitu penggunaan lahan. Penggunaan lahan dapat dilihat dari peta RBI skala 1 : 25.000 maupun dari citra Quick Bird. Setiap ada perubahan topografi yang signifikan dibuat titik pengukuran agar detil topografi dapat tergambarkan dengan baik. Setelah ditentukan titik – titik pegukuran, dicatat sudut azimuthnya yang harus dipertahankan saat pengukuran di lapangan.
Pengukuran dilakukan dengan menggunakan alat theodolite T-105. Data yang diambil di lapangan saat pengukuran yaitu Ca, Ct, Cb, tinggi alat, sudut horizontal, dan sudut vertikal. Pada dasarnya dalam pengukuran lapangan yang diukur yaitu berbentuk linear dan berbentuk angular. Data seperti jarak horizontal, jarak vertikal/beda tinggi merupakan contoh pengukuran linear. Sudut vertikal dan sudut horizontal merupakan contoh pengukuran angular. Data yang diukur di lapangan nantinya pada tahap penyajian data digunakan untuk menghitung jarak horizontal, jarak vertikal/beda tinggi dan arah (azimuth). Pencatatan koordinat
hanya perlu dilakukan di titik awal pengukuran yaitu meliputi koordinat x, y, dan z (ketinggian). Pembuatan sket pengukuran juga diperlukan pada tahap ini. Meskipun simpel, sket pengukuran menjadi sangat penting dalam tahap pengolahan data terkait dengan posisi relatif titik pengukuran.
Tidak seperti alat total station (TS), alat T-105 agak sedikit membutuhkan waktu dalam proses pengukuran dan pengolahan data hasil pengukuran. Data hasil pengukuran total station (TS) sudah berupa koordinat x, y, z yang sudah tersimpan pada memori dari alat tanpa perlu mencatat hasil pengukuran. Jika dibandingkan dengan TS, T-105 lebih boros waktu pada proses pengukuran dan pengolahan data. Namun kelebihan dari penggunaan alat T-105 yaitu pada tahap pembelajaran konsep pengukuran dan pengolahan data. Bagaimana memanajemen dari tahap tahap persiapan, pengukuran, sampai pengolahan data akan lebih bisa dipraktikkan dengan menggunakan alat T-105.
Metode yang digunakan untuk pembuatan profil detil yaitu levelling dengan metode memanjang. Out put yang diharapkan dari pengukuran ini yaitu hanya sebatas profil detil melintang, sehingga titik – titik yang perlu diukur hanyalah titik – titik di sepanjang garis lurus arah sudut azimuth yang telah ditentukan. Data titik – titik ini dapat digunakan untuk membuat peta DEM namun hasilnya kurang akurat. Hal ini dikarenakan detil topografi pada titik – titik di sekitar garis profil tidak diukur.
Transect pendek ditentukan dengan sudut azimuth 60O25’ 10”. Transect ini terletak di desa Legoksari Kecamatan Tlogomulyo yang merupakan desa kajian yang memiliki fokus permasalahan terkait dengan perkebunan tembakau. Transect dilakukan dari daerah yang mempunyai ketinggian yang tinggi ke daerah yang mempunyai ketinggian yang lebih rendah dengan membaginya menjadi 5 segmen. Dengan mengawali pengukuran pada posisi yang tinggi dapat menghemat waktu dan tenaga karena bisa langsung membidik titik – titik yang lebih rendah dengan mudah. Selain membuat profil, juga dilakukan pengukuran luas lahan sampel kebun tembakau. Lahan tersebut terletak pada segmen satu dan segmen dua. Pengukuran luas lahan sampel dilakukan dengan mengukur titik – titik batas dari lahan sampel tersebut.
Peta desa Legoksari dan jalur Short transect
Kesulitan yang dialami dalam proses pengukuran di lapangan yaitu terjalnya medan yang harus dibuat profil. Dilihat dari posisi relatifnya, desa kajian ini terletak di lereng bawah sisi timur laut dari Gunung Sumbing. Desa Legoksari ini merupakan desa terakhir sebelum menuju ke arah Gunung Sumbing dari Kecamatan Tlogomulyo. Reliefnya termasuk bergunung. Karena terjalnya medan, kadang harus mencari jalan memutar untuk mencapai titik – titik pengukuran. Kendala lain yaitu tidak bisa terbacanya baak ukur karena terhalang vegetasi. Ini terjadi pada titik pengukuran yang ke tiga. Sehingga pembawa baak ukur harus meninggikan baak ukurnya dengan cara mengangkatnya sampai telihat oleh pembaca. Hal yang paling menarik terjadi ketika mengukur titik terakhir yaitu titik ke enam dari titik transect pendek. Titik terakhir terletak pada area permukiman. Kendalanya yaitu titik tersebut (yang searah dengan sudut azimut) terletak di atas rumah warga sehingga harus naik. Setelah di cek lokasi tersebut berada di lantai 3 dari rumah seorang warga dengan ketinggian 10 meter dari tanah. Lantai tiga dari rumah tersebut merupakan tempat yang biasa digunakan untuk menjemur tembakau dan tidak memiliki atap sehingga memungkinkan untuk naik ke atas membawa baak ukur. Setelah meminta izin pemilik rumah, akhirnya pembawa baak ukur naik ke atas lantai tiga tersebut. Ini menghasilkan jarak horizontal terjauh yang diukur dari titik 4 yaitu 577, 33 meter dengan beda tinggi 86, 02 meter.
Titik Koordinat Ca Cb Ct Tinggi Alat Sudut Azimuth Sudut Vertikal Jarak Horizontal Beda Tinggi
OA X= 0402594 1940 1020 1480 1450 64O25’ 20” 100 O 08’ 20” 89.149572569 -15.97097 OB Y= 9186270 2790 1770 2280 88O00’ 40” 98 O 29’ 10” 99.779340000 -15.71542 OC 1680 1040 1360 99 O 04’ 10” 101 O 29’ 00” 61.463569000 -12.57591 OD 2310 1690 2000 78 O 05’ 40” 101 O 22’ 30” 59.588648000 -12.53704 OE 2670 2150 2410 55 O 16’ 10” 103 ON56’ 40” 48.980453000 -13.12136 Tabel hasil pengukuran
Pengolahan data hasil pengukuran dilakukan pada tahap berikutnya, yaitu dengan menghitung jarak horizontal dan beda tinggi dengan rumus. Rumus yang digunakan untuk menghitung jarak horizontal yaitu D= K.(Ca-Cb). Cos2 (90-sudut vertikal). Beda tinggi dihitung menggunakan rumus BT= (Ct-Ta)-D.Tg(90-sudut pembacaan). Di mana D adalah jarak horizontal, BT adalah beda tinggi, dan K adalah konstanta yang bernilai 100.
Tabel koordinat xyz hasil pengolahan data
Setelah diketahui jarak horizontal dan beda tinggi, data tersebut digunakan untuk mencari koordinat dari masing - masing titik pengukuran. Koordinat yang digunakan acuan yaitu koordinat awal, yaitu x, y, dan z. Titik awal mempunyai koordinat x = 402594 mT, y= 9186270mU, dan z=1321 mdpal. Titik kedua dapat dihitung dengan menggunakan konsep trigonometri, yaitu x2 = x1+ D (sin sudut
TITIK X Y Z A 402594 9186270 1321 B 402685.3977 9186321.88 1303.479926 C 402774.1317 9186372.248 1281.465021 D 402803.4147 9186388.87 1274.492581 E 402913.2782 9186451.232 1240.719194 F 403415.3644 9186736.231 1154.68986 G 402674.4129 9186308.489 1305.029034 H 402693.7192 9186273.463 1305.284583 I 402654.6952 9186260.311 1308.42409 J 402652.3068 9186282.293 1308.462959 K 402634.2541 9186297.905 1307.878638 L 402691.393 9186526.612 1264.790916 M 402738.9108 9186446.774 1303.479926 N 402737.9979 9186454.374 1246.450396 P 402712.2438 9186449.663 1250.767596
horizontal ). Dan y2 = y1 + D(Cos sudut horizontal). Z2= z1+beda tinggi.
Peta DEM hasil interpolasi titik tinggi
Setelah semua titik diketahui koordinatnya, data tersebut disimpan dalam format tabel x, y, z. Kemudian diinput ke dalam software ArcGIS. Data tersebut ditampilkan ke dalam suatu layer, di eksport dan di interpolasi titik tinggi menggunakan tools yang ada di ArcGIS. Tools yang digunakan yaitu krigging. Hasilnya yaitu peta DEM. Pembuatan profil dilakukan dengan menggunakan tools yang ada pada 3D analyst. Perhitungan luas sampel dilakukan dengan membuat shape file baru berupa polygon, lalu menghubungkan titik – titik pada lahan sampel membentuk suatu polygon. Kemudian dihitung luasnya dengan menggunakan tools Calculate geometry. Hasilnya lahan sampel pertama mempunyai luas 1140 m2 dan sampel kedua mempunyai luas 1493,64 m2
.
Peta DEM dan lokasi lahan sampel