Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh ekstrak sarang burung walet (Collocalia fuciphaga) terhadap kadar GSH hepar tikus.
Penentuan dosis ekstrak sarang burung walet pada penelitian ini didasari oleh penelitian sebelumnya. Pada penelitian Ageng (2015) menyatakan bahwa pemberian ekstrak burung walet dosis 1 mg/kgBB tdak menghasilkan efek terhadap hewan uji, sedangkan pemberian dosis 100 mg/kgBB menyebabkan efek hepatotoksik, dan pemberian dosis 10 mg/kgBB menghasilkan efek yang signifikan.34 Hasil pengukuran kadar GSH pada tikus putih jantan galur Sprague dawley dilakukan pada kelompok normal, kontrol positif, dosis rendah (Ekstrak sarang burung walet dosis 10 mg/kgBB), dosis sedang (Ekstrak sarang burung walet dosis 20 mg/kgBB), dan dosis tinggi (Ekstrak sarang burung walet dosis 40 mg/kgBB) yang dapat dilihat pada gambar 4.1.
Gambar 4.1. Grafik rata-rata kadar GSH jaringan hepar tikus (ANOVA, P<0,05).
Gambar 4.1 menunjukkan bahwa kadar GSH terendah terjadi pada kelompok pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 10 mg/kgBB. Kadar GSH tertinggi berada pada kelompok kontrol positif (pemberian vitamin E) kemudian diikuti dengan kelompok pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 40
0,077 0,081
33
mg/kgBB. Hasil tersebut memberikan interpretasi bahwa kadar GSH paling sedikit terdapat pada kelompok pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 10 mg/kgBB. Sedangkan kadar GSH pada kelompok kontrol positif lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok pemberian ekstrak sarang walet dosis 40 mg/kgBB. Walaupun demikian, hasil grafik rerata kadar GSH menunjukkan adanya peningkatan kadar GSH seiring dengan peningkatan pemberian dosis ekstrak sarang burung walet.
Pada penelitian ini, kelompok normal dijadikan sebagai kontrol untuk membandingkan dengan kadar GSH pada kelompok perlakuan yang diberikan ekstrak sarang burung walet. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Ardo (2016) terdapat enam kelompok, yaitu kelompok normal (pemberian NaCMC 0,5%), kelompok kontrol positif (pemberian vitamin E 1000 IU), kelompok perlakuan pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 10 mg/kgBB, dosis 20 mg/kgBB, dan dosis 40 mg/kgBB. Pada penelitian ini terdapat sampel yang hilang, yaitu kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan H2O2.35
NaCMC (Natrium Carboxy Methyl Cellulose) merupakan derivat selulosa, memiliki karakteristik tidak berwarna, tidak berbau, larut dalam air, tidak mudah larut dalam pelarut organik. NaCMC digunakan sebagai pendispersi dipilih karena ekstrak sarang burung walet dapat terdispersi dengan baik dalam NaCMC, selain itu NaCMC tidak bersifat toksik dan tidak memberi pengaruh pada sistem tubuh tikus. Konsentrasi NaCMC 0,5% dipilih karena rentang konsentrasi NaCMC sebagai agen pendispersi yaitu sebesar 0,25-1%.35
Ekstrak sarang burung walet yang digunakan dalam penelitian ini telah dilakukan uji kualitatif seperti uji biuret, molisch, dan xantoprotein untuk mengetahui adanya kandungan protein, karbohidrat, dan asam amino gugus benzene.35 Ekstrak sarang burung walet mengandung berbagai macam asam amino, glikoprotein, vitamin C, dan vitamin A yang berperan penting sebagai antioksidan dalam menangkal radikal bebas.37,38
Antioksidan merupakan zat yang dapat mencegah terbentuknya reaksi radikal bebas. Tubuh memiliki antioksidan alami (endogen) yaitu glutathion (GSH). Glutathion merupakan tripeptida dengan tiga asam amino sebagai penyusun utamanya, yaitu glisin, asam glutamat, dan sistein. GSH dapat
34
ditemukan hampir di semua organ, namun konsentrasi tertinggi terdapat di dalam hepar yang merupakan organ penting dalam fungsi detoksifikasi.9
Penelitian Roh et al. (2012) menyebutkan bahwa kandungan asam amino tertinggi pada sarang burung walet asal Xiemen, Cina adalah asam glutamat (51,78 mg/g), lalu diikuti oleh sistein (41,06 mg/g).39 Sedangkan dalam penelitian Elfita (2014) menyatakan bahwa kandungan asam amino non-esensial pada sarang burung walet (Collocalia fuciphaga) tertinggi yaitu serin, asam aspartat, asam glutamat, dan glisin.1
Selain antioksidan endogen, tubuh juga memerlukan antioksidan dari luar tubuh (eksogen) seperti vitamin C, vitamin A, dan vitamin E untuk mengatasi stres oksidatif yang berlebihan. Antioksidan GSH adalah sistem proteksi endogen yang utama, karena GSH langsung terlibat dan berpartisipiasi aktif dalam penghancuran senyawa reaktif oksigen (ROS) dan juga mempertahankan bentuk reduksi (aktif) dari vitamin C dan E.9,38
Radikal bebas adalah suatu senyawa yang mengandung satu atau lebih elektron yang tidak berpasangan, sehingga menjadi reaktif untuk mencari pasangan dengan cara mengikat elektron dari senyawa lain. Jika jumlah radikal bebas di dalam tubuh meningkat maka akan mengakibatkan stres oksidatif yang dapat memicu terjadinya kerusakan hingga kematian sel yang menyebabkan timbulnya berbagai kerusakan organ salah satunya hepar.7,38
Pada penelitian ini menggunakan H2O2 1% sebagai senyawa radikal yang diinduksikan ke hewan uji secara intramuskular pada hari ke 31 dan 32.
Penentuan konsentrasi H2O2 1% yang diberikan selama dua hari didasarkan pada penelitian sebelumnya, Ardo (2016) yang mengatakan bahwa pemberian konsentrasi H2O2 5% dan 10% selama dua hari dapat menginduksi radikal bebas dan merusak jaringan, sedangkan pemberian H2O2 1% selama dua hari dapat menginduksi radikal bebas tanpa merusak jaringan hepar hewan uji secara signifikan.35 H2O2 merupakan jenis radikal yang bersifat non-reaktif namun dapat mengakibatkan stres oksidatif jika kadar H2O2 di dalam tubuh terlalu tinggi dan tidak dapat dikompensasi oleh enzim katalase dan glutathione peroxidase (GPx).
Katalase dan glutathione peroxidase berperan dalam pemecahan H2O2 menjadi H2O dan O2 yang merupakan senyawa stabil.40
35
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Ardo (2016) terdapat peningkatan aktivitas enzim katalase pada pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 20 mg/kgBB yang diinduksi H2O2 i.m dibandingkan dengan kelompok kontrol positif (pemberian vitamin E dan induksi H2O2 i.m).35 Peningkatan aktivitas enzim katalase ini menunjukkan bahwa kandungan ekstrak sarang burung walet dapat berperan dalam meningkatkan antioksidan untuk menangkal radikal bebas H2O2.
Hasil penelitian ini menunjukkan kadar GSH terendah terdapat pada kelompok perlakuan dosis ekstrak sarang burung walet 10 mg/kgBB. Hal ini mungkin disebabkan dengan adanya radikal bebas H2O2 yang belum dapat diregulasi dengan pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 10 mg/kgBB, maka GSH yang terbentuk di dalam jaringan banyak terpakai untuk membantu enzim glutathione peroxidase dalam menangkal H2O2, sehingga kadarnya menurun.
Pada kelompok perlakuan dosis 20 mg/kgBB dan dosis 40 mg/kgBB, menunjukkan adanya peningkatan kadar GSH. Diduga hal ini disebabkan oleh pemberian ekstrak sarang walet dengan dosis tersebut dapat meningkatkan cadangan GSH. Pada perlakuan dosis 40 mg/kgBB kadar GSH menunjukkan hasil peningkatan kadar GSH yang sama dengan kelompok normal (hanya pemberian NaCMC tanpa pemberian ekstrak sarang burung walet dan tanpa diinduksi H2O2), hal ini mungkin terjadi karena kandungan asam amino ekstrak sarang burung walet seperti glutamat, sistein, dan glisin dapat menjadi penyusun struktur utama dari GSH, maka GSH yang terbentuk tercukupi untuk menangkal radikal H2O2
dan meningkatkan cadangan GSH, sehingga kadar GSH meningkat.
Penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan kadar GSH seiring dengan peningkatan dosis ekstrak sarang burung walet. Sesuai dengan penelitian Rifqi (2017) yang menyatakan bahwa semakin meningkatnya konsentrasi ekstrak sarang burung walet maka kadar antioksidan akan meningkat.41 Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa pemberian ekstrak sarang burung walet dapat meningkatkan kadar GSH pada dosis 40 mg/kgBB secara signifikan (p<0,05).
Hasil penelitian pada kelompok kontrol positif yang diberikan vitamin E menunjukkan kadar GSH tertinggi dibanding yang lainnya. Berbeda jika dilihat dari peranan antioksidan eksogen yang indikatornya berhubungan dengan
36
kemampuan antioksidan dalam menangkal radikal bebas di membran sel, salah satunya adalah kadar MDA yang merupakan indikator dalam stres oksidatif.
Untuk mencapai kadar GSH tertinggi yakni berupa aktivitas antioksidan endogen mungkin dibutuhkan peningkatan dosis ekstrak sarang burung walet, hal ini ditujukkan pada kadar GSH di kelompok pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 40 mg/kgBB yang mendekati kadar GSH pada kontrol positif.
Hasil penelitian tentang pengaruh pemberian ekstrak sarang burung walet terhadap kadar GSH juga dihubungkan dengan hasil pengamatan kualitatif gambaran histologi preparat jaringan hepar. Gambaran histologi preparat hepar dapat dilihat pada Gambar 4.2.
37
Gambar 4.2. Hepatosit Pada Perbesaran 40x (A) Kelompok Dosis Rendah (10 mg/kgBB), (B) Kelompok Dosis Tinggi (40 mg/kgBB). Tanda panah (h) hepatosit normal.
Preparat histologi jaringan hepar yang dipakai dalam penelitian ini merupakan hasil bersama dengan kelompok riset sarang burung walet. Pada penelitian ini preparat yang dapat diamati hanya pada kelompok ekstrak sarang burung walet dosis rendah 10 mg/kgBB dan dosis tinggi 40 mg/kgBB sebagai
h
A
h B
38
perwakilan dari seluruh kelompok perlakuan. Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya kesalahan pada proses pembuatan preparat yaitu pada tahap fiksasi jaringan yang seharusnya lebih baik dilakukan dengan menggunakan larutan fiksasi formalin PBS segera setelah jaringan di nekropsi.44
Pada proses embedding, parafin yang digunakan tidak sepenuhnya masuk ke jaringan, mungkin hal ini disebabkan karena masih tersisa cairan alkohol di dalam jaringan pada saat proses clearing. Jika di dalam jaringan masih tertinggal sedikit alkohol maka parafin tidak bisa masuk kedalam jaringan sehingga terjadi kesulitan pada saat proses pemotongan.44
Hasil preparat histologi ini tidak dapat dijadikan parameter hanya dijadikan sebagai data penunjang untuk hasil pengukuran kadar GSH. Hasil pengamatan preparat menunjukkan tidak adanya kerusakan pada jaringan hepar setelah pemberian ekstrak sarang burung walet dosis rendah (10 mg/kgBB) maupun dosis tinggi (40 mg/kgBB). Hal ini ditunjukkan pada gambaran sel hepatosit normal dengan karakteristik bentuk sel bulat-oval, membran sel yang jelas dengan inti bulat memadat di tengah.17 Hasil gambaran histologi tersebut didukung oleh penelitian Abdulla (2018) yang menunjukkan bahwa pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 30 mg/kgBB dan 60 mg/kgBB tidak menyebabkan kerusakan pada jaringan hepar tikus.42
39
BAB 5 PENUTUP
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kadar GSH hepar tikus Sprague dawley tertinggi terdapat pada pemberian ekstrak sarang burung walet dosis 40 mg/kgBB.
5.2. Saran
1. Perlu penelitian dengan perlakuan tambahan pada sampel berupa paparan radikal bebas secara langsung (rokok, asap, senyawa kimia, dsb) agar dapat berefek langsung terhadap stress oksidatif organ hepar.
2. Perlu penelitian dengan kontrol positif menggunakan antioksidan endogen.
40