• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Pengukuran Kadar Malondialdehid (MDA) dan Aktivitas GSH Ekstrak Biji Jarak Pagar

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil Pengukuran Kadar Malondialdehid (MDA) dan Aktivitas GSH Ekstrak Biji Jarak Pagar

Hasil pengukuran kadar MDA dan aktivitas GSH setelah pemberian ekstrak biji jarak pagar dapat dilihat pada gambar 4.1.

Gambar 4.1 Hasil Pengukuran Kadar MDA dan Aktivitas GSH. (A) Hasil pengukuran kadar MDA setelah pemberian ekstrak biji jarak pagar (ANOVA, P<0,05), (B) Hasil pengukuran aktivitas GSH setelah pemberian ekstrak biji jarak pagar (ANOVA, P<0,05), (C) Hasil korelasi kadar MDA

0,818

Ekstrak Biji Jarak Pagar (mg/kgBB) A

EKstrak Biji Jarak Pagar (mg/kgBB) B

38 dengan aktivitas GSH setelah pemberian ekstrak biji jarak pagar (Korelasi Pearson: -0,918 ; P<0,01 (lampiran 11.)).

Gambar 4.1 (A) menunjukkan bahwa rata-rata kadar MDA tertinggi ada pada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB dan terendah pada kelompok kontrol dan (B) menunjukkan bahwa rata-rata aktivitas GSH tertinggi terdapat pada kelompok kontrol dan terendah ada pada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB.

Kedua data tersebut selanjutnya dilakukan uji normalitas dan homogenitas varian. Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data kadar MDA dan aktivitas GSH terdistribusi secara normal karena memiliki nilai signifikan lebih dari 0,05 untuk setiap kelompok. Hasil uji homogenitas varian Levene untuk MDA didapatkan nilai signifikan 0,054 (Sig>0,05), sedangkan untuk GSH didapatkan nilai signifikan 0,535 (Sig>0,05) sehingga kedua data dikatakan homogen. Data yang didapatkan terdistribusi normal dan homogen sehingga memenuhi syarat untuk uji parametrik one way ANOVA. Hasil uji one way ANOVA menunjukkan nilai P=0,000 (P<0,05) sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian ekstrak biji jarak pagar berefek terhadap kadar MDA dan aktivitas GSH.

Dari seluruh kelompok, kelompok kontrol memiliki kadar MDA terendah sebesar 0,818 nmol/ml dan aktivitas GSH tertinggi yaitu 0,979 µg/ml. Hasil tersebut menunjukkan bahwa aktivitas GSH mampu menekan kadar MDA untuk mencegah kondisi stres oksidatif. Kadar MDA pada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB adalah yang tertinggi daripada kelompok lainnya yaitu 2,720 nmol/ml dengan aktivitas GSH terendah yaitu sebesar 0,463 µg/ml. Aktivitas GSH yang rendah tidak mampu menekan jumlah radikal bebas yang terbentuk.

Ketidakseimbangan antara produksi dan pembuangan radikal bebas menyebabkan akumulasi radikal bebas sehingga terjadi stres oksidatif. Hal tersebut ditunjukkan melalui peningkatan kadar MDA sebagai biomarker kondisi stres oksidatif.6,22

Kondisi stres oksidatif tersebut dapat menyebabkan kerusakan sel melalui berbagai reaksi, seperti peroksidasi lipid, reaksi silang dan perubahan lain pada protein, dan kerusakan DNA.6 Keadaan tersebut sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan sebelumnya oleh Nabilah Aulia (2016) dan Fio Noviany (2015)

39 terkait efek ekstrak biji jarak pagar terhadap kadar protein VEGF dan kerusakan tubulus seminiferus. Berdasarkan penelitian Nabilah Aulia (2016) diketahui bahwa pada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB terjadi penurunan kadar protein VEGF sehingga apoptosis sel meningkat. Hal tersebut disebabkan terjadinya penurunan proteksi oleh sel terhadap ekspresi VEGF.28 Pada penelitian Fio Noviany (2015) diketahui bahwa kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB mengalami proses aktivasi kaspase 3 yang menyebabkan apoptosis pada spermatogenesis. Kondisi tersebut mengakibatkan atrofi dan nekrosis tubulus seminiferus serta kerusakan gambaran spermatozoa terberat ada pada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB.27

Rata-rata kadar MDA pada kelompok perlakuan dosis 25 mg/kgBB dan 250 mg/kgBB sebanyak 2,043 nmol/ml dan 2,518 nmol/ml sedangkan untuk aktivitas GSH sebanyak 0,621 µg/ml dan 0,544 µg/ml. Kulkarni et al (2005) menyatakan bahwa senyawa racun pada tanaman jarak pagar terbanyak ditemukan pada bijinya. Dengan demikian, semakin besar dosis ekstrak biji jarak pagar yang diberikan akan meningkatkan jumlah racun yang terkandung di dalamnya. Hal tersebut menyebabkan rata-rata kadar MDA pada kelompok perlakuan dosis 250 mg/kgBB lebih besar daripada kelompok perlakuan dosis 25 mg/kgBB.

Rata-rata aktivitas GSH pada kelompok perlakuan dosis 25 mg/kgBB dan 250 mg/kgBB (setelah penghilangan resin) masih lebih tinggi daripada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB. Aktivitas GSH yang tinggi dapat disebabkan oleh respon sel untuk memproteksi diri dengan meningkatkan produksi dan aktivitas antioksidan terhadap radikal bebas. GSH akan mereduksi radikal bebas melalui donor elektron sehingga mencegah peroksidasi lipid.19,20 Pencegahan peroksidasi lipid akan menekan pembentukan MDA.

Meskipun dosis yang diberikan lebih tinggi, kelompok perlakuan dosis 250 mg/kgBB memiliki kadar MDA yang lebih rendah daripada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB Kondisi tersebut dapat diakibatkan karena pada kelompok perlakuan dosis 250 mg/kgBB telah dilakukan penghilangan senyawa resin seperti yang dinyatakan dalam penelitian Nabilah Aulia (2016) dan Fio Noviany (2015).

Resin merupakan molekul protein kompleks yang memiliki toksisitas tinggi sehingga penghilangan senyawa resin dapat mengurangi efek toksisitas ekstrak

40 biji jarak pagar. Penghilangan senyawa resin tersebut dilakukan karena pada penelitian sebelumnya bertujuan untuk menguji mekanisme molekuler yang terlibat dalam aktivitas antifertilitas ekstrak biji jarak pagar sehingga ditambahkan dosis paling tinggi yaitu 250 mg/kgBB dengan penghilangan senyawa resin.27 Oleh karena penelitian ini merupakan penelitian lanjutan, maka diputuskan untuk tetap menggunakan rancangan penelitian yang sama dengan tetap menggunakan dosis 250 mg/kgBB (setelah penghilangan resin).

Kelompok perlakuan dosis 5 mg/kgBB memiliki kadar MDA terendah dibandingkan dengan dosis 25, 50, dan 250 mg/kgBB yaitu 1,363 nmol/ml dan aktivitas GSH tertinggi yaitu 0,675 µg/ml. Aktivitas antioksidan GSH yang lebih tinggi daripada MDA dapat mencegah kondisi stres oksidatif. Selain itu, rendahnya kadar MDA sebagai biomarker stres oksidatif menunjukkan belum/tidak terjadinya kondisi stres oksidatif pada kelompok perlakuan dosis 5 mg/kgBB sehingga tidak menimbulkan kerusakan sel.

Faktor lain yang mungkin terjadi karena biji jarak pagar juga mengandung beberapa enzim antioksidan utama, seperti superoxide dismutase, glutathione, ascorbate peroxidase, dan catalase untuk mencegah kondisi stres oksidatif akibat produksi radikal bebas, seperti MDA.GSH dapat berkonjugasi dengan komponen radikal bebas endogen dan xenobiotik sehingga melindungi dari kerusakan sel dalam tubuh.11 Kadar antioksidan yang tinggi berpotensi untuk mencegah progresi steatosis menjadi steatohepatitis dan fibrosis pada perlemakan hepar. Antioksidan dapat menurunkan konsentrasi TGF-β dan memperbaiki inflamasi.30

Hal tersebut sesuai dengan penelitian Nabilah Aulia (2016) bahwa dosis yang diberikan pada kelompok perlakuan 5 mg/kgBB masih tergolong aman sehingga belum menyebabkan kerusakan jaringan. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan Fio Noviany (2015) juga menyatakan bahwa rekomendasi penggunaan dosis ekstrak biji jarak pagar yang masih aman untuk digunakan adalah dosis 5 mg/kgBB. Selain itu, penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa kelompok perlakuan dosis 5 mg/kgBB menyebabkan kondisi atrofi dan nekrosis tubulus seminiferus terendah daripada kelompok perlakuan lainnya. Dengan demikian, dapat dilakukan penelitian lebihl lanjut pada dosis ekstrak biji jarak

41 pagar 5 mg/kgBB terkait penggunaannya secara oral untuk mengetahui manfaatnya terhadap tubuh.

Rata-rata kadar MDA dan aktivitas GSH pada setiap kelompok kemudian dilakukan uji korelasi Pearson dan didapatkan nilai signifikan sebesar 0,01 (P<0,05) (Lampiran 11). Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara rata-rata aktivitas GSH dan MDA pada pemberian ekstrak biji jarak pagar.

Aktivitas antioksidan yang tinggi akan mencegah kondisi stres oksidatif pada kelompok perlakuan melalui reaksi enzimatik dengan radikal bebas sehingga terjadi penurunan kadar MDA.11 Korelasi antara aktivitas GSH dan kadar MDA ditunjukkan pada Gambar 4.1 (C).

Berdasarkan uji korelasi Pearson, didapatkan nilai Sig (2tailed) sebesar -0,918. Angka tersebut mendekati nilai -1 yang menunjukkan korelasi kuat sekali antara aktivitas GSH dengan kadar MDA. Nilai negatif (-) pada uji korelasi tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara aktivitas GSH dan MDA adalah berbanding terbalik. Jika terjadi peningkatan aktivitas GSH, maka kadar MDA akan menurun, begitu pun sebaliknya. Antioksidan akan berkonjugasi dengan radikal bebas endogen atau eksogen sehingga menurunkan konsentrasi radikal bebas dalam jaringan.23

Laju pembentukan atau aktivitas antioksidan yang tinggi dapat terjadi karena ekstrak biji jarak pagar mengandung sejumlah antioksidan utama yang cukup tinggi dan/atau sebagai respon sel untuk melindungi diri dari radikal bebas.

Akan tetapi, jika dosis ekstrak biji jarak pagar yang diberikan semakin besar, maka efek toksisitasnya pun semakin besar sebagaimana yang dikatakan pada penelitian Kulkrein (2005). Hal ini dapat disebabkan peningkatan produksi radikal bebas sehingga kadarnya dalam sel meningkat dan memberikan efek negatif dengan menekan aktivitas sejumlah antioksidan. Oleh karena itu, pada pemberian dosis ekstrak biji jarak pagar yang tinggi, kadar MDA lebih besar daripada aktivitas GSH sehingga timbul stres oksidatif yang menyebabkan kerusakan sel.

42 4.2. Gambaran Diameter Vena Sentralis Hepar

Struktur hepar yang diamati dan diukur dalam penelitian ini adalah diameter vena sentralis. Pengamatan vena sentralis hepar dilakukan secara kualitatif dan kuantitatif dengan mengukur diameter vena sentralis normal.

Kriteria vena sentralis secara kualitatif yaitu vena sentralis dalam bentuk potongan melintang dan strukturnya intake dengan jaringan sekitarnya. Diameter vena sentralis diukur melalui pengkuran panjang garis diagonal vena sentralis dibagi dua. Gambaran diameter vena sentralis hepar perwakilan setiap kelompok dapat dilihat pada gambar 4.2 dan rata-rata ukuran diameter pada tabel 4.1.

Gambar 4.2 Vena Sentralis ditunjukkan dengan tanda panah putih (perbesaran 20x) (A) Kontrol (B) Ekstrak biji jarak pagar dosis 5 mg/kgBB (C) Ekstrak biji jarak pagar dosis 25 mg/kgBB (D) Ekstrak biji

C

A B

E

B

43

Data tersebut selanjutnya dilakukan uji normalitas dan homogenitas varian. Hasil uji normalitas Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data diameter vena sentralis tidak terdistribusi secara normal. Uji homogenitas Levene tidak dapat dilakukan karena jumlah data yang kurang dari setiap kelompok. Hasil uji Kruskal-Wallis didapatkan Asymp. Sig>0,05 yang menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan pada diameter vena sentralis setiap kelompok perlakuan.

Berdasarkan tabel 4.1, kelompok kontrol memiliki rata-rata ukuran vena sentralis sebesar 169 µm. Ukuran tersebut merupakan ukuran diameter terbesar jika dibandingkan dengan kelompok lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi kerusakan sel akibat stres oksidatif yang dapat memicu perubahan struktur vena sentralis. Kondisi tersebut juga sesuai dengan hasil kadar MDA dan aktivitas GSH pada kelompok kontrol yang masih mampu menekan kondisi stres oksidatif.

Ukuran diameter yang besar akan menurunkan resistensi vaskular sehingga menurunkan potensi hambatan aliran darah di vena sentralis. Pada kelompok kontrol didapatkan aktivitas GSH yang lebih tinggi daripada kadar MDA, kondisi tersebut menyebabkan efek proteksi terhadap jaringan hepar. Sel hepatosit masih mampu menekan stres oksidatif sehingga proses detoksifikasi zat-zat berbahaya dalam darah berjalan optimal. Dengan demikian, darah yang dialirkan menuju vena sentralis telah mengalami proses detoksifikasi sehingga mencegah kerusakan oksidatif di vena sentralis.9,26

Tabel 4.1 Rata-rata Diameter Vena Sentralis

44 Pada kelompok dosis 25 mg/kgBB, 50 mg/kgBB, dan 250 mg/kgBB rata-rata diameter vena sentralis lebih kecil daripada kelompok kontrol dan dosis 5 mg/kgBB. Hal ini dapat disebabkan telah terjadinya stres oksidatif sehingga menyebabkan kerusakan sel di berbagai struktur dan lokasi. Akan tetapi, jika diperhatikan, rata-rata diameter pada kelompok perlakuan dosis 25 mg/ kgBB lebih kecil daripada dosis 50 mg/kgBB dan 250 mg/kgBB meskipun dosis ekstrak biji jarak pagar yang terkandung lebih sedikit.

Kondisi tersebut tidak sesuai dengan hasil kadar MDA dan aktivitas GSH yang didapatkan pada ketiga kelompok tersebut. Kelompok perlakuan dosis 25 mg/kgBB memiliki kadar MDA yang terendah dan GSH tertinggi daripada kelompok perlakuan dosis 50 dan 250 mg/kgBB dengan rata-rata kadar GSH lebih tinggi daripada MDA sehingga seharusnya masih mampu menekan kondisi stres oksidatif untuk mencegah kerusakan sel.

Salah satu faktor yang dapat menyebabkan kondisi tersebut yaitu seperti dijelaskan pada penelitian Nabilah Aulia (2016) bahwa pada kelompok dosis 25 mg/kgBB terjadi peningkatan konsentrasi protein VEGF tertinggi daripada kelompok perlakuan lainnya. Protein VEGF berperan dalam peningkatan proliferasi hepatosit sebagai respon adanya jejas sel.28 Faktor lain yang dapat menyebabkan kondisi tersebut adalah akibat keberadaan senyawa toksik lain, seperti phorbol esters, curcin, saponins, phytates, protease inhibitors and curcalonic acid pada biji jarak pagar. Paparan zat toksik tersebut dapat menyebabkan stres oksidatif dan kerusakan sel.17

Ukuran diameter vena sentralis dosis 50 mg/kgBB lebih besar daripada dosis 250 mg/kgBB. Kondisi tersebut tidak sesuai dengan kadar MDA dan GSH yang terkandung dalam kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB dan 250 mg/kgBB. Rasio rata-rata kadar MDA/aktivitas GSH lebih tinggi pada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB daripada dosis 250 mg/kgBB. Rata-rata diameter vena sentralis yang lebih kecil pada dosis 250 mg/KgBB mungkin disebabkan telah terjadi paparan berulang terhadap zat yang bersifat toksik sehingga terjadi proses inflamasi terus-menerus yang menyebabkan perubahan struktur pembuluh darah dan peningkatan aktivitas sel stelata hepar untuk memperbaiki sel yang rusak dan menggantinya dengan jaringan ikat.28 Keadaan tersebut menyebabkan

45 fibrosis. Fibrosis dapat menyebabkan penarikan pada struktur disekitarnya.32 Selain itu, kondisi stres oksidatif juga bisa menyebabkan hipertrofi pada hepatoselular sehingga berkurangnya sirkulasi sinusoidal, hipoksia, dan nekrosis.33

Kondisi stres oksidatif yang terjadi pada kelompok perlakuan dosis 50 mg/kgBB tidak hanya akan menimbulkan jejas pada struktur pembuluh darah hepar, tetapi juga struktur lainnya. Stres oksidatif dapat menyebabkan penurunan fungsi dari hepatosit. Sel hepatosit memiliki RE kasar yang berperan dalam sintesis protein dan RE halus yang berperan dalam proses detoksifikasi.

Penurunan peranan RE kasar dalam sintesis protein dapat dikorelasikan dengan rendahnya konsentrasi VEGF pada penelitian Nabilah Aulia (2016) sebagai proses perbaikan jaringan. Penurunan konsentrasi VEGF tersebut menunjukkan sel sudah tidak mampu melakukan efek proteksi akibat tingginya apoptosis sel. Selain itu, penurunan fungsi RE halus akan menyebabkan proses detoksifikasi tidak berjalan optimal sehingga zat-zat toksik dapat terus terbawa aliran darah hepar ke ruang sinusoid dan mencapai vena sentralis. Akumulasi senyawa toksik sepanjang aliran darah dapat menimbulkan stres oksidatif pada pembuluh darah hingga meninggalkan jejas sel. Jejas sel yang terus menerus terjadi menyebabkan pemulihan tidak hanya terjadi dengan proses regenerasi saja, tetapi diikuti dengan pergantian sel menjadi jaringan ikat. Migrasi dan proliferasi fibroblas akan mengubah struktur jaringan. Jaringan akan menjadi kaku dan menyebabkan traksi.7,9

Keterbatasan pada penelitian ini adalah preparat yang digunakan sudah dalam sediaan paraffin blok dan telah mengalami proses penyimpanan yang cukup lama sehingga hanya beberapa vena sentralis perwakilan setiap kelompok yang memenuhi syarat untuk dapat dilakukan pengukuran diameter.

46 BAB 5

PENUTUP

5.1. Simpulan

Berdasarkan pembahasan pada penelitian ini, didapatkan kesimpulan sebagai berikut:

1. Pemberian ekstrak biji jarak pagar meningkatkan kadar MDA secara bermakna.

2. Pemberian ekstrak biji jarak pagar menurunkan aktivitas GSH.

3. Kadar MDA dan aktivitas GSH memiliki korelasi negatif pada pemberian ekstrak biji jarak pagar secara bermakna. Ekstrak biji jarak pagar dosis rendah menekan stres oksidatif, namun bila dosis tinggi stres oksidatif tidak dapat ditekan.

4. Pemberian ekstrak biji jarak pagar dengan dosis 25-250 mg/kgBB memiliki diameter vena sentralis lebih kecil, dibandingkan kontrol.

5.2. Saran

Saran untuk penelitian lebih lanjut adalah sebagai berikut:

1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai resin dan senyawa aktif lainnya pada ekstrak biji jarak pagar yang menyebabkan kondisi stres oksidatif dan perubahan ukuran diameter vena sentralis.

2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai efek ekstrak biji jarak pagar dosis 5 mg/kgBB terkait penggunaannya secara oral.

47 DAFTAR PUSTAKA

1. Agbogidi, O.M., Akparobi, S.O., Eruotor, P.G. “Health And Environmental Benefits Of Jatropha Curcas Linn”. App. Sci. Rep. 2013;

1(2): 36-39.

2. Sharma S, Dhamija HK, Parashar B. “Jatropha curcas: A review”. Asian J Res Pharm Sci. 2012; 2(3): 107-111.

3. Prasad DMR, Izam A, Khan MR. “Jatropha curcas: Plant of medical benefits”. J Med Plants Res. 2012; 6(14): 2691-2699.

4. Maula, IF. “Uji Antifertilitas Ekstrak N-Heksana Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L) Pada Tikus Putih Jantan (Rattus novergicus) Galur Sparague Dawley Secara In Vivo”, Skripsi, FKIK UIN Jakarta. 2014.

5. Sumit NL, Surendra S, Mruthunjaya K, Sachin BZ and Manjunath SM.

“Jatropha curcas: A Systemic Review on Pharmacological, Phytochemical, Toxicological Profiles and Commercial Applications”. RJPBCS. 2013;

4(1): 989-1010.

6. Vinay K, Abdul KA, Jon C. Buku Ajar Patologi Robbins. Singapura:

Elsevier. 2013.

7. Sha L, Hor You T, et al. “The Role of Oxidative Stress And Antioxidants in Liver Disease”. Int J Mol Sci. 2015; 16(11): 26087-26124.

8. Edita B, Birute K, et al. “Glutathione and Glutathione S-Transferase Levels in Patients with Liver Metastases of Colorectal Cancer and Other Hepatic Disorder”. Turk J Gastroenterol. 2016; 27: 336-341.

9. Anthony L Mescher. Junqueira’s Basic Histology, Twelve Edition. US:

The McGraw-Hill. 2010.

10. Jose Anger A B. Physic Nut (Jatropha curcas) Cultivation In Honduras Handbook. Honduras: FHIA. 2008.

11. Silva, LJD et al. “Lipid Peroxidation and Antioxidant Enzymes of Jatropha curcas L Seed Stores at Different Maturity Stages”. Acta Sci. 2018; 40: 1-10.

12. Alencar, NLM et al. Oxidative Stress Study of Jatropha curcas Seeds Subjected To Salt Stress During Germination and Seedling Development.

IV Inovagri International Meeting. 2017.

48 13. Papalia, T et al. “Assessment of Antioxidant and Cytoprotective Potential of Jatropha (Jatropha curcas) Grown in Southern Italy”. Int J Mol Sci.

2017; 18 (3): 660.

14. Campos, MLO et al. “Photosynthesis and Antioxidant Activity in Jatropha curcas L. Under Salt Stress”. Braz J. Plant Physiology. 2012; 24(1): 55-67.

15. Antonio Ayala, Mario F Munoz, and Sandro A. “Lipid Peroxidation:

Production, Metabolism, and Signaling Mechanism of Malondialdehyde and 4-Hydroxy-2-Nonenal”. Oxidative Medicine and Cellular Longevity.

2014: 1-31.

16. Angel C. Lipid Peroxidation. Croatia: Intech Open. 2012.

17. Singh Z, Karthigesu IP, Singh P, Kaur P. “Use of Malondialdehyde as a Biomarker for Assessing Oxydative Stress in Different Disease Pathologies: a Review”. Iranian J Publ Health. 2014; 43(3): 7-16.

18. Pandey MK, Mittra P, Maheshwari PK. “The Lipid Peroxidation Product as a Marker of Oxidative Stress in Epilepsy”. JCDR. 2012; 6(4): 590-592.

19. Aini, KA. “Pengaruh Pemberian Ekstrak Sarang Burung Walet (Collocalia fuciphaga Thunberg) Terhadap Kadar Malondialdehid (MDA) Hepar Tikus Sparague Dawley”, Skripsi, Fakultas Kedokteran UIN Jakarta. 2018.

20. Valko, M et al. “Free Radicals and Antioxidants in Normal Physiological Function and Human Disease”. Int J Biochem Cell Biol. 2007; 39 (1): 44-84.

21. Niedernhofer LJ, Daniels JS, Rouzer CA. “Malondialdehyde, a Product of Lipid Peroxidation, is Mutagenic in Human Cells”. J Biol Chem. 2003;

278 (33): 31426-33.

22. Yonny ME, Garcia EM, Lopez A, et al. “Measurement of Malondialdehyde as Oxidative Stress Biomarker in Goat Plasma by HPLC-DAD”. Michrochemical Journal. 2016; 129: 281-285.

23. Y Chen, H Dong, et al. “Glutathione Defense Mechanism in Liver Injury:

Insights From Animal Models”. Food Chem Toxicol. 2013; 60: 38-44.

24. Lu, Shelly C. “Glutathione Synthesis”. Biochim Biophys Acta. 2013;

1830(5): 3143-3153.

25. Ermita I Ibrahim Ilyas, M Djauhari Widjajakusumahdan Antonio Tanzil.

Buku Ajar Fisiologi Kedokteran, Edisi Revisi Berwarna Ke-12. Singapura:

Elsevier. 2016.

49 26. Sherwood, L et al. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: Buku

Kedokteran EGC. 2016.

27. Noviany, F. “Uji Efek Ekstrak Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L) Terhadap Aktivitas Kaspase 3 dan Kerusakan Tubulus Seminiferus Pada Tikus Jantan”, Skripsi, FKIK UIN Jakarta. 2015.

28. Hasanuddin, NA. “Efek Pemberian Ekstrak Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L) Terhadap Kadar Protein VEGF dan Gambaran Histologi Vena Sentralis Jaringan Hepar”, Skripsi, FKIK UIN Jakarta. 2016.

29. Bagian Biokimia FKUI. Penuntun Praktikum Biokimia. FMIPA FKUI.

1976.

30. Setiati, S dkk. Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam Edisi Keenam Jilid I.

Jakarta: Internal Publishing. 2014.

31. Kulkarni, M et al. “Jatropha curcas Poisioning”. Indian J Pediatr. 2005;

72: 75-76.

32. Zachary, JF, Mc Gavin MD. Pathologic Basis of Veterinary Disease Expert Consult 5thed. Missouri: Elsevier. 2012.

33. Maronpot, RL et al. “Hepatic Enzyme Induction : Histopathology”.

Toxicologic Pathology. 2010; 38(5): 776-795.

50 Lampiran 1.

Hasil Determinasi

Sumber : Fio Noviany (2015) dan Nabilah Aulia (2016).

51 Lampiran 2.

Hasil Uji Etik Hewan Percobaan

Sumber : Fio Noviany (2015) dan Nabilah Aulia (2016).

52 Lampiran 3.

Alur Pembuatan Ekstrak Biji Jarak Pagar (Jatropha curcas L)

Sumber : Fio Noviany, 2015.

1 kg Serbuk Biji Jarak Pagar

Determinasi di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor, LIPI Bogor

Dimaserasi dengan n-Heksana 8000 ml

Penyaringan Menggunakan Kapas dan Kertas Saring

Maserat

Dipekatkan dengan Vacuum Rotary Evaporator

Ekstrak Kental

Penampisan Fitokimia dan Uji Parameter Spesifik dan Nonspesifik

Pembuatan Suspensi

53

Suspensi ekstrak dibuat secara berkala setiap 50 ml maka ekstrak yang dibutuhkan sebanyak :

Suspensi ekstrak dibuat secara berkala setiap 50 ml maka ekstrak yang dibutuhkan sebanyak :

Dokumen terkait