BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.3 Hasil Uji Farmakologi
4.3.2 Hasil Pengukuran KGD Mencit setelah Perlakuan dengan
Masing-masing kelompok mencit diabetes diberi perlakuan yaitu kelompok dengan pemberian suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelompok dengan pemberian glibenklamid sebagai kontrol positif, kelompok dengan pemberian ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian
0
CMC 0,5% Glibenklamid etanol D1 etanol D2 etanol D3 etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB. Hasil pengukuran KGD mencit ditunjukkan pada Tabel 4.4, Gambar 4.2, dan Gambar 4.3.
Tabel 4.4 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan Kelompok
Perlakuan
Kadar Glukosa Darah (KGD) mg/dl Normal Diabetes
Berdasarkan Tabel 4.4 tampak bahwa pemberian ekstrak n-heksan kelopak bunga rosela dalam berbagai dosis menunjukkan efek yang sangat rendah dibandingkan dengan kelompok yang diberi glibenklamid, di mana kelompok dengan pemberian glibenklamid memberikan efek penurunan KGD yang sangat baik. Ini berarti bahwa ekstrak n-heksan 200 mg, 400 mg, dan 600 mg tidak mempunyai aktivitas antidiabetes.
Gambar 4.2. Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan Ket: D1 = dosis 200 mg/kg BB
D2 = dosis 400 mg/kg BB D3 = dosis 600 mg/kg BB
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
normal diabetes M I M II M III M IV M V
KGD (mg/dl)
CMC Glibenklamid nheksan D1 nheksan D2 nheksan D3
Gambar 4.3. Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan
Ket: D1 = dosis 200 mg/kg BB D2 = dosis 400 mg/kg BB D3 = dosis 600 mg/kg BB
Tabel 4.5 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak n-heksan
Minggu KGD
CMC Glibenklamid nheksan D1 nheksan D2 nheksan D3
II
Berdasarkan hasil uji beda Duncan yang mengelompokkan kelompok yang tidak memiliki signifikansi secara statistik ke dalam subset yang sama, tampak bahwa kelompok glibenklamid tidak pernah berada dalam subset yang sama sejak minggu I. Dari gambar 4.3 tampak bahwa glibenklamid telah menunjukkan efek penurunan yang signifikan dibandingkan dengan kelompok yang diberikan ekstrak n-heksan dan CMC 0,5%, yang semakin dipertegas oleh data statistik yang selalu menunjukkan signifikansi data pada kelompok glibenklamid dibanding dengan kelompok ekstrak n-heksan dan kelompok CMC 0,5%.
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu V diperoleh F hitung (99,72) > F tabel (2,78), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.5 tampak bahwa pemberian glibenklamid menunjukkan penurunan KGD yang memiliki perbedaan yang nyata dibanding pemberian ekstrak n-heksan dan CMC 0,5%, sedangkan kelompok ekstrak n-heksan dosis 600 mg/kg BB tidak menunjukkan signifikansi secara statistik dengan kelompok ekstrak n-heksan dosis 200 mg/kg BB yang berarti memiliki aktivitas yang sama secara statistik; namun memiliki perbedaan nyata terhadap pemberian ekstrak n-heksan dosis 400 mg/kg BB dan CMC 0,5%.
Kelompok ekstrak n-heksan dosis 200 mg/kg BB, dosis 400 mg/kg BB, dan CMC 0,5% tidak menunjukkan signifikansi secara statistik karena berada dalam subset yang sama.
4.3.3 Hasil Pengukuran KGD Mencit Setelah Perlakuan dengan Pemberian Ekstrak Etil Asetat Kelopak Bunga Rosela
Masing-masing kelompok mencit diabetes diberi perlakuan yaitu kelompok dengan pemberian suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelompok dengan pemberian glibenklamid sebagai kontrol positif, kelompok dengan pemberian ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, Hasil pengukuran KGD mencit ditunjukkan pada Tabel 4.6, Gambar 4.4, dan Gambar 4.5.
Tabel 4.6 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat Kelompok
Perlakuan
Kadar Glukosa Darah (KGD) mg/dl normal diabetes Berdasarkan Tabel 4.6 tampak bahwa pemberian ekstrak etil asetat kelopak bunga rosela dalam berbagai dosis tidak menunjukkan penurunan KGD, di mana tidak terdapat signikansi data penurunan KGD ekstrak etil asetat dengan kelompok kontrol dengan pemberian CMC 0,5%. Ini berarti bahwa ekstrak etil asetat 200 mg, 400 mg, dan 600 mg tidak mempunyai aktivitas antidiabetes sama sekali.
Gambar 4.4. Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat
Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
0 50 100 150 200 250 300 350 400
normal diabetes M I M II M III M IV M V
KGD (mg/dl)
CMC Glibenklamid etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
Gambar 4.5. Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat
Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
Tabel 4.7 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak etil asetat
Minggu KGD
CMC Glibenklamid etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
II
Pada kelompok ekstrak etil asetat dari minggu I hingga V juga menunjukkan performa yang memiliki signifikansi secara statistik dengan kelompok glibenklamid, yang berarti bahwa aktivitas kelompok etil asetat tidak tampak sama sekali apabila dibandingkan dengan aktivitas penurunan kadar glukosa darah yang terdapat pada kelompok dengan pemberian glibenklamid.
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu V diperoleh F hitung (165,184) > F tabel (2,78), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.7 tampak bahwa pemberian glibenklamid menunjukkan penurunan KGD yang memiliki perbedaan yang nyata dibanding pemberian ekstrak etil asetat berbagai dosis dan CMC 0,5%, di mana kelompok ekstrak etil asetat berada dalam subset yang sama dengan CMC 0,5%.
4.3.4 Hasil Pengukuran KGD Mencit Setelah Perlakuan dengan Pemberian Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosela
Masing-masing kelompok mencit diabetes diberi perlakuan yaitu kelompok dengan pemberian suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelompok dengan pemberian glibenklamid sebagai kontrol positif, kelompok dengan pemberian ekstrak etanol 200 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak etanol 400 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak etanol 600 mg/kg BB, Hasil pengukuran KGD mencit ditunjukkan pada Tabel 4.8, Gambar 4.6, dan Gambar 4.7.
Tabel 4.8 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak etanol Kelompok
Perlakuan
Kadar Glukosa Darah (KGD) normal Diabetes
Berdasarkan Tabel 4.6 tampak bahwa pemberian ekstrak etanol kelopak bunga rosela dalam berbagai dosis menunjukkan penurunan KGD yang signifikan seperti pada pemberian dengan glibenklamid sebagai kontrol positif. Ini berarti bahwa ekstrak etanol 200 mg, 400 mg, dan 600 mg mempunyai aktivitas antidiabetes. Semakin besar dosis ekstrak etanol yang diberikan, semakin besar kemampuannya dalam menurunkan kadar glukosa darah.
Ekstrak etanol kelopak bunga rosela positif mengandung bioflavonoid yang telah terbukti menurunkan kadar glukosa darah pada hewan percobaan diabetes.
Dalam survei kritis yang dilakukan oleh Brahmachari (2011), tertera beragam kandungan bioflavonoida yang telah berhasil diisolasi dan diuji bioaktivitasnya dalam hal menurunkan kadar glukosa darah pada hewan percobaan diabetes, yaitu prunin (naringenin-7-O-β-D-glukosida), myrciacitrin dari Myrcia mutiflora, 6-hidroksi-flavonoida yang memiliki aktivitas penghambat enzim α-glukosidase, 6-hidroksiluteolin, apigenin, luteolin, turunan C-glukosidik
flavon yang dinamakan isoaffineyin, turunan genistein yang diisolasi dari Tetracera scandens, dan banyak senyawa lainnya.
Gambar 4.6. Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etanol Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB
D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
0 50 100 150 200 250 300 350 400
normal diabetes M I M II M III M IV M V
KGD (mg/dl)
CMC Glibenklamid etanol D1 etanol D2 etanol D3
Gambar 4.7. Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etanol
Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
Tabel 4.9 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak etanol
Minggu KGD
CMC Glibenklamid etanol D1 etanol D2 etanol D3
II
Dari data statistik di atas tampak bahwa ekstrak etanol dosis 600 mg/KgBB menunjukkan potensi yang cukup besar dalam hal aktivitas penurunan kadar glukosa darah. Pada minggu I tidak terdapat signifikansi yang berarti di antara ekstrak etanol dosis 600 mg/Kg BB dengan glibenklamid. Pada minggu ke-4 dan ke-5 tampak bahwa potensi penurunan kadar glukosa darah dengan pemberian dosis 400 mg/KgBB ekstrak etanol tidak memiliki signifikansi secara statistik sehingga hal ini menjadi indikasi bahwa kemampuan dosis 400 mg/Kg BB dalam menurunkan kadar glukosa darah tidak berbeda secara nyata atau menyerupai aktivitas glibenklamid.
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu V diperoleh F hitung (400,442) > F tabel (2,78), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.9 tampak bahwa pemberian glibenklamid tidak menunjukkan signifikansi statistik terhadap kelompok dengan pemberian ekstrak etanol 600 mg/kg BB dan ekstrak etanol 400 mg/kg BB. Hal ini berarti kemampuan ekstrak etanol 400 mg/kg BB dan 600 mg/kg BB dalam menurunkan KGD sangat mendekati atau menyerupai efek penurunan KGD yang ditunjukkan oleh glibenklamid. Sedangkan ekstrak etanol 200 mg/kg BB tidak mampu memberikan efek penurunan KGD yang menyerupai glibenklamid, namun dosis 200 mg/kg BB memiliki signifikansi data secara statistik dengan kelompok kontrol yang diberikan CMC 0,5%.
4.4 Hasil Pengukuran Aktivitas Ekstrak N-heksan, Etil asetat dan Etanol Kelopak Bunga Rosela
Mencit diabetes diberi perlakuan yaitu kelompok dengan pemberian suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif, kelompok dengan pemberian
glibenklamid, kelompok dengan pemberian ekstrak n-heksan dosis 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, 600 mg/kg BB, kelompok dengan pemberian ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, 600 mg/kg BB, dan kelompok dengan pemberian ekstrak etanol 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB, 600 mg/kg BB. Hasil pengukuran KGD mencit ditunjukkan pada Tabel 4.10, Gambar 4.8, dan Gambar 4.9.
Tabel 4.10 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan, etil asetat dan etanol
Kelompok Perlakuan
Kadar Glukosa Darah (KGD) normal diabetes
Gambar 4.8. Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol
Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
0 50 100 150 200 250 300 350 400 450
normal diabetes M I M II M III M IV M V
KGD (mg/dl)
CMC Glibenklamid nheksan D1 nheksan D2
nheksan D3 etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
etanol D1 etanol D2 etanol D3
Gambar 4.9. Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol
Ket: D1= dosis 200 mg/kg BB D2= dosis 400 mg/kg BB D3= dosis 600 mg/kg BB
0 50 100 150 200 250 300 350 400
normal diabetes M I M II M III M IV M V
KGD 9mg/dl)
CMC Glibenklamid n-heksan D1 n-heksan D2
n-heksan D3 etil asetat D1 etil asetat D2 etil asetat D3
etanol D1 etanol D2 etanol D3
Penurunan KGD mencit mulai terlihat pada minggu I. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.11.
Tabel 4.11 Hasil rata-rata KGD mencit minggu I setelah pemberian sediaan uji Perlakuan Rata-rata Kadar Glukosa Darah (mg/dl)
Diabetes Minggu I
kel. cmc 0,5% 326,50 326,83
kel. Glibenklamid 314,00 267,50
kel. ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB 324,17 325,50 kel. ekstrak n- heksan 400 mg/kg BB 326,50 343,83 kel. ekstrak n- heksan 600 mg/kg BB 304,83 303,83 kel. ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB 320,83 322,67 kel. ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB 324,33 326,17 kel. ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB 315,67 317,50 kel. ekstrak etanol 200 mg/kg BB 309,33 292,00 kel. ekstrak etanol 400 mg/kg BB 303,00 276,67 kel. ekstrak etanol 600 mg/kg BB 303,33 248,00 Tabel 4.12 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I
setelah pemberian sediaan uji KGD Duncan
Kelompok perlakuan N
Subset for alpha = 0.05
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu I diperoleh F hitung (7,982) > F tabel (2,05), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.12 tampak bahwa pemberian glibenklamid, ekstrak etanol 600 mg/kg BB, dan ekstrak etanol 400 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam penurunan KGD mencit diabetes. Pemberian glibenklamid, ekstrak etanol 400 mg/kg BB, dan ekstrak etanol 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi ekstrak etanol 200 mg/kg BB berbeda nyata dengan ekstrak etanol 600 mg/kg BB.
Pemberian ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB, ekstrak etanol 400 mg/kg BB, dan ekstrak etanol 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB berbeda nyata dengan pemberian glibenklamid dan pemberian ekstrak etanol 600 mg/kg BB. Pemberian ekstrak etanol 200 mg/kg BB, ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, dan juga pemberian CMC tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Pemberian ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, dan juga pemberian CMC tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Penurunan KGD mencit juga terlihat pada minggu II. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.13.
Tabel 4.13 Hasil rata-rata KGD mencit minggu II setelah pemberian sediaan uji Perlakuan Rata-rata Kadar Glukosa Darah (mg/dl)
Diabetes Minggu II
kel. CMC 0,5% 326,50 329,17
kel. Glibenklamid 314,00 213,17
kel. ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB 324,17 324,67 kel. ekstrak n- heksan 400 mg/kg BB 326,50 342,33 kel. ekstrak n- heksan 600 mg/kg BB 304,83 297,17 kel. ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB 320,83 324,33 kel. ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB 324,33 327,33 kel. ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB 315,67 320,00 kel. ekstrak etanol 200 mg/kg BB 309,33 244,83 kel. ekstrak etanol 400 mg/kg BB 303,00 222,83 kel. ekstrak etanol 600 mg/kg BB 303,33 197,00
Tabel 4.14 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu II setelah pemberian sediaan uji
KGD
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu II diperoleh F hitung (29,085) > F tabel (2,05), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.14 tampak bahwa pemberian glibenklamid, ekstrak etanol 600 mg/kg BB, dan ekstrak etanol 400 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam penurunan KGD mencit diabetes. Pemberian ekstrak etanol 400 mg/kg BB dan ekstrak etanol 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi ekstrak etanol 200 mg/kg BB berbeda nyata dengan ekstrak etanol 600 mg/kg BB dan pemberian dengan glibenklamid. Pemberian ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600mg/kg BB, ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB dan ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Pemberian ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, dan juga pemberian CMC tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Penurunan KGD mencit juga terlihat pada minggu III. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.15.
Tabel 4.15 Hasil rata-rata KGD mencit minggu III setelah pemberian sediaan uji Perlakuan Rata-rata Kadar Glukosa Darah (mg/dl)
Diabetes Minggu III
kel. CMC 0,5% 326,50 332,33
kel. Glibenklamid 314,00 137,50
kel. ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB 324,17 318,83 kel. ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB 326,50 340,00 kel. ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB 304,83 294,33 kel. ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB 320,83 325,67 kel. ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB 324,33 329,50 kel. ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB 315,67 321,67 kel. ekstrak etanol 200 mg/kg BB 309,33 199,33 kel. ekstrak etanol 400 mg/kg BB 303,00 180,83 kel. ekstrak etanol 600 mg/kg BB 303,33 143,83
Tabel 4.16 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu III setelah pemberian sediaan uji
KGD
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu III diperoleh F hitung (67,925) > F tabel (2,05), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.16 tampak bahwa pemberian glibenklamid dan ekstrak etanol 600 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam penurunan KGD mencit diabetes. Pemberian ekstrak etanol 400 mg/kg BB dan ekstrak etanol 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi berbeda nyata dengan ekstrak etanol 600 mg/kg BB dan pemberian dengan glibenklamid. Pemberian ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, dan ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Pemberian ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, dan juga pemberian CMC tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Penurunan KGD mencit juga terlihat pada minggu IV. Hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4.17.
Tabel 4.17 Hasil rata-rata KGD mencit minggu IV setelah pemberian sediaan uji Perlakuan Rata-rata Kadar Glukosa Darah (mg/dl)
Diabetes Minggu IV
kel. CMC 0,5% 326,50 334,17
kel. Glibenklamid 314,00 110,00
kel. ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB 324,17 312,33 kel. ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB 326,50 336,67 kel. ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB 304,83 287,83 kel. ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB 320,83 327,67 kel. ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB 324,33 331,67 kel. ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB 315,67 324,17 kel. ekstrak etanol 200 mg/kg BB 309,33 150,5 kel. ekstrak etanol 400 mg/kg BB 303,00 127,83 kel. ekstrak etanol 600 mg/kg BB 303,33 91,67
Tabel 4.18 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu IV setelah pemberian sediaan uji
KGD
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu IV diperoleh F hitung (106,567) > F tabel (2,05), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.18 tampak bahwa pemberian ekstrak etanol 600 mg/kg BB menunjukkan perbedaan yang nyata dalam penurunan KGD mencit diabetes dibanding dengan semua perlakuan.
Pemberian glibenklamid dan ekstrak etanol 400 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam penurunan KGD mencit diabetes. Pemberian ekstrak etanol 400 mg/kg BB dan ekstrak etanol 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, tetapi ekstrak etanol 200 mg/kg BB berbeda nyata dengan pemberian dengan glibenklamid. Pemberian ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB dan ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Pemberian ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, dan juga pemberian CMC tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Perlakuan pada penelitian ini dihentikan pada minggu ke-5 karena 4 dari 11 perlakuan yakni pada pemberian glibenklamid dan ekstrak etanol 200 mg, 400 mg, dan 600 mg, KGD mencit sudah berada pada range normal. Hasil rata-rata KGD mencit dapat dilihat pada Tabel 4.19.
Tabel 4.19 Hasil rata-rata KGD mencit minggu V setelah pemberian sediaan uji Perlakuan Rata-rata Kadar Glukosa Darah (mg/dl)
Diabetes Minggu V
kel. CMC 0,5% 326,50 336,33
kel. Glibenklamid 314,00 76,17
kel. ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB 324,17 306,17 kel. ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB 326,5 316,17 kel. ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB 304,83 282,17 kel. ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB 320,83 329,00 kel. ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB 324,33 333,67 kel. ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB 315,67 326,33 kel. ekstrak etanol 200 mg/kg BB 309,33 114,67 kel. ekstrak etanol 400 mg/kg BB 303,00 87,67 kel. ekstrak etanol 600 mg/kg BB 303,33 67,67
Tabel 4.20 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu V setelah pemberian sediaan uji
KGD
Berdasarkan perhitungan statistik pada minggu V diperoleh F hitung (170,990) > F tabel (2,05), berarti terdapat perbedaan yang signifikan antar perlakuan dan untuk mengetahui perbedaan yang bermakna antar perlakuan
dilakukan uji beda rata-rata Duncan. Berdasarkan Tabel 4.20 tampak bahwa pemberian glibenklamid, ekstrak etanol 600 mg/kg BB, dan ekstrak etanol 400 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dalam penurunan KGD mencit diabetes. Pemberian ekstrak etanol 200 mg/kg BB menunjukkan perbedaan yang nyata dengan semua perlakuan. Pemberian ekstrak n-heksan 600 mg/kg BB dan ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Pemberian ekstrak n-heksan 200 mg/kg BB, ekstrak n-heksan 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 400 mg/kg BB, ekstrak etil asetat 600 mg/kg BB, dan juga pemberian CMC tidak menunjukkan perbedaan yang nyata.
Menurut Wang, et al., (2011), Hibiscus sabdariffa mengandung berbagai macam senyawa-senyawa yang bersifat bioaktif dengan disertai sifat yang antioksidatif, seperti asam protokatekuat, katekin, dan (–)-epigalokatekin galat.
Mekanisme dalam menurunkan kadar glukosa darah dimungkinkan oleh ada potensiasi efek insulin pada plasma baik dengan meningkatkan sekresi pankreas dari sel-sel β Langerhans atau dengan melepaskannya dari bentuk terikatnya.
Humadi dan Istudor (2008), menganalisa kuantitas flavonoid yang dikalkulasikan setara dengan quersetin dalam berbagai ekstrak rosela (Hibiscus sabdariffa) yang dianalisa menggunakan metode spektrofotometrik yang berbeda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengukuran dengan metode Chang, et al., dalam larutan etanol Hibiscus diperoleh flavonoid 0,0586 g% (g quersetin/100 g dari material tanaman kering); sedangkan dengan metode Christ-Mullers, dalam larutan etil asetat Hibiscus diperoleh flavonoid 0,0243 g% (g quersetin/ 100 g dari material tanaman kering). Narenjkar, et al., (2011) meneliti efek quersetin dalam
sensasi sakit yang dialami oleh tikus diabetes di mana quersetin secara signifikan mengurangi rasa sakit dalam fase kronis. Kandungan flavonoid yang tinggi dari suatu tanaman memberikan efek antidiabetes yang lebih potensial. Kandungan flavonoid dari ekstrak etanol lebih besar dari ekstrak etil asetat, sehingga ekstrak
sensasi sakit yang dialami oleh tikus diabetes di mana quersetin secara signifikan mengurangi rasa sakit dalam fase kronis. Kandungan flavonoid yang tinggi dari suatu tanaman memberikan efek antidiabetes yang lebih potensial. Kandungan flavonoid dari ekstrak etanol lebih besar dari ekstrak etil asetat, sehingga ekstrak