• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN

4.2 Hasil Pengukuran Kuesioner Perasaan Kelelahan dari

Tabel 4.5. Distribusi Frekuensi Pekerja Berdasarkan Pertanyaan Pelemahan Kekuatan pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

N o

Pengukuran Sangat Sering

% Serin g

% Kadang % Tidak Perna

h

%

1 Berat di

kepala 0 0 18 34 29

54,

7 6

11, 3 2 Lelah seluruh

badan 0 0 23

43,

4 23

43,

4 7

13, 2 3 Berat di kaki

2 3,8 9 17 20 37,

7 22 41,

5 4 Sering

Menguap 2 3,8 11 20,

8 30 56,

6 10 18,

9

5 Pikiran 32, 64,

Total Waktu TIdur (Jam)

Frekuensi (n) Persentase (%)

≤7 49 92,5

>7 4 7,5

Total 53 100

6 Mengantuk 1 1,9 15 28, kelelahan pada supir terbanyak yaitu sangat sering merasakan ingin berbaring yaitu 19 orang (35,8%), sering merasakan ingin berbaring 24 orang (45,3%), kadang merasakan sering meguap dan megantuk sama yaitu masing-masing 30 orang (56,6%) dan tidak pernah merasakan canggung dan kaku yaitu 41 orang (77,4%).

Tabel 4.6. Distribusi Frekuensi Pekerja Berdasarkan Pertanyaan Pelemahan Motivasi pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

N o

Pengukuran Sangat Sering

sesuatu 2 8 2 8 kelelahan pada supir terbanyak yaitu sangat sering merasakan sulit mengontrol sikap yaitu 19 orang (35,8%), sering merasakan melupakan sesuatu yaitu 19 orang (35,8%), kadang-kadang merasakan tidak dapat konsentrasi yaitu 26 orang (49,1%) dan tidak pernah merasakan gugup yaitu 43 orang (81,1%).

Tabel 4.7. Distribusi Frekuensi Pekerja Berdasarkan Pertanyaan Kelelahan Fisik pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

N o

Pengukuran Sangat Sering

8

Mengganjal

di mata 0 0 3 5,7

16

30,

2 34

64, 2 9

Badan

gemetar 0 0 3 5,7 14

26,

4 36

67, 9 1

0

Kurang sehat 3 5,7 6 11,

3 24 45,

3 20 37,

7 Berdasarkan tabel 4.8. di atas, dapat diketaui bahwa frekuensi perasaan kelelahan pada supir terbanyak yaitu sangat sering merasakan haus yaitu 21 orang (39,6%), sering merasakan haus yaitu 30 orang (56,6%), kadang-kadang merasakan pusing yaitu 38 orang (71,7%) dan tidak pernah merasakan sesak nafas yaitu 43 orang (81,1%).

Tabel 4.8. Distribusi Frekuensi Pekerja Berdasarkan Kelelahan Kerja pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

Berdasarkan tabel 4.9. di atas dapat diketahui bahwa frekuensi perasaan kelelahan paling banyak berada pada kategori tinggi yaitu berjumlah 45 orang (84,9%), selanjutnya pada kategori sedang dan sangat tinggi sama yaitu masing-masing berjumlah 4 orang (7,5%).

Perasaan Lelah Frekuensi (n) Persentase (%)

Sedang 4 7,5

Tinggi 45 84,9

sangat tinggi 4 7,5

Total 53 100

Tabel 4.9. Distribusi Frekuensi Umur Berdasarkan Kelelahan Kerja pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

Berdasarkan tabel 4.10. di atas dapat diketahui bahwa frekuensi terbesar kategori sedang berada pada kelompok umur 35-44 yaitu berjumlah 2 orang (50%), frekuensi terbesar kategori tinggi berada pada kelompok umur 45-54 yaitu berjumlah 25 orang (55, 6%) dan frekuensi terbesar kategori sangat tinggi berada pada kelompok umur 55-64 yaitu berjumlah 3 orang (75%).

Tabel 4.10. Distribusi Frekuensi Masa Kerja Berdasarkan Kelelahan Kerja pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

Umur (Tahun)

Perasaan Lelah

Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %

25-34 1 25 6 13,3 0 0

35-44 2 50 13 28,9 0 0

45-54 1 25 25 55,6 1 25

55-64 0 0 1 2,2 3 75

Total 4 100 45 100 4 100

Masa Kerja (Tahun)

Perasaan Lelah

Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %

3 1 25 2 4,4 0 0

4 0 0 0 0 2 50

5 2 50 4 8,9 0 0

6 1 25 6 13,3 0 0

7 0 0 4 8,9 1 25

8 0 0 7 15,6 0 0

9 0 0 3 6,7 0 0

10 0 0 8 17,8 0 0

12 0 0 5 11,1 1 25

15 0 0 4 8,9 0 0

20 0 0 1 2,2 0 0

25 0 0 1 2,2 0 0

Total 4 100 45 100 4 100

Berdasarkan tabel 4.11. di atas dapat diketahui bahwa frekuensi terbesar kategori sedang pada masa kerja 5 tahun yaitu berjumlah 2 orang (50%), frekuensi terbesar kategori tinggi pada masa kerja 10 tahun yaitu berjumlah 8 orang (17,8%) dan frekuensi terbesar kategori sangat tinggi pada masa kerja 4 tahun yaitu berjumlah 2 orang (50%).

Tabel 4.11. Distribusi Frekuensi Durasi Mengemudi Berdasarkan Kelelahan Kerja pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

Berdasarkan tabel 4.12. di atas dapat diketahui bahwa frekuensi terbesar terbesar kategori sedang pada durasi mengemudi ≤8 jam dan >8 jam sama yaitu masing-masing 2 orang (50,%), frekuens terbesar kategori tinggi pada durasi mengemudi >8 jam yaitu 40 orang (88,9%) dan frekuensi terbesar kategori sangat tinggi pada durasi mengemudi >8 jam yaitu 3 orang (75,%)

Durasi Mengemudi

(Jam)

Perasaan Lelah

Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %

≤8 jam 2 50 5 11,1 1 25

>8 jam 2 50 40 88,9 3 75

Total 4 100 45 100 4 100

Tabel 4.12. Distribusi Frekuensi Total Waktu Tidur Berdasarkan Kelelahan Kerja pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017

Berdasarkan tabel 4.13. di atas dapat diketahui bahwa frekuensi terbesar kategori sedang pada total waktu tidur ≤7 jam dan >7 jam sama yaitu masing-masing 2 orang (50%), frekuensi terbesar kategori tinggi pada total waktu tidur ≤7 jam yaitu 44 orang (97,8%) dan frekuensi terbesar kategori sangat tinggi pada total waktu tidur ≤7 jam yaitu 3 orang (75%).

Total Waktu

Tidur (Jam)

Perasaan Lelah

Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Frekuensi % Frekuensi % Frekuensi %

≤7 jam 2 50 44 97,8 3 75

>7 jam 2 50 1 2,2 1 25

Total 4 100 45 100 4 100

BAB V PEMBAHASAN

5.1 Kelelahan Kerja

Kelelahan adalah suatu mekanisme perlindungan tubuh agar tubuh terhindar dari kerusakan yang lebih lanjut sehingga terjadi pemulihan setelah istirahat.

Kelelahan diatur secara sentral oleh otak. Pada susunan saraf terdapat sistem aktivasi (bersifat simpatis) dan inhibisi (bersifat parasimpatis). Istilah kelelahan biasanya menunjukan kondisi yang berbeda-beda pada setiap individu tetapi semuanya bermuara kepada kehilangan efisiensi dan penurunan kapasitas kerja serta ketahanan tubuh (Tarwaka, 2015).

Kelelahan secara nyata dapat mempengaruhi kesehatan tenaga kerja.

Kelelahan kerja ditandai dengan melemahnya tenaga kerja dalam melakukan pekerjaan atau kegiatan, sehingga meningkatkan kesalahan dalam melakukan pekerjaan dan akibat fatalnya adalah terjadinya kecelakaan kerja. Kelelahan dapat menurunkan kapasitas kerja dan ketahanan kerja yang ditandai oleh sensasi lelah, motivasi menurun, memperlambat waktu reaksi, dan kesulitan dalam mengambil keputusan yang menyebabkan menurunnya kinerja dan menambahnya tingkat kesalahan kerja. Sehingga dengan meningkatnya kelelahan kerja akan memberikan peluang terjadinya kecelakaan kerja dalam industri (Santoso, 2004).

Pengukuran kelelahan pada penelitian ini dilakukan dengan kuesioner menurut skala Industrial Fatigue Research Committe (IFRC) yaitu menggunakan 30 item pertanyaan. Jawaban untuk kuesioner IFRC tersebut terbagi menjadi 4

kategori besar yaitu sangat sering (SS) dengan diberi nilai 4, sering (S) dengan diberi nilai 3, kadang-kadang (K) dengan diberi nilai 2, dan tidak pernah (TP) dengan diberi nilai 1. Hasilnya akan menunjukkan bahwa semakin besar nilai total yang didapat maka semakin tinggi tingkat kelelahan yang dialami pekerja.

Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran kelelahan kerja pada supir angkutan kota trayek 12 Kota Medan tahun 2017.

5.2 Kelelahan Kerja Pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 Kota Medan Tahun 2017

Hasil pengukuran kuesioner IFRC menunjukkan bahwa dari 53 supir angkutan kota trayek 12, sebanyak 4 orang (7,5%) mengalami kelelahan kategori sedang, sebanyak 45 orang (84,9%) mengalami kelelahan tinggi dan sebanyak 4 orang (7,5%) mengalami kelelahan sangat tinggi.

Berdasarkan pertanyaan perasaan kelelahan kerja pada kuesioner IFRC, dapat diketahui bahwa perasaan kelelahan terbanyak yaitu sangat sering merasakan haus yaitu 21 orang (39,6%), sering merasakan haus yaitu 30 orang (56,6%), kadang merasakan pusing yaitu 38 orang (71,7%) dan tidak pernah merasakan gugup dan sesak nafas yaitu 43 orang (81,1%). Berdasarkan uraian di atas menunjukkkan bahwa rata-rata supir mengalami kelelahan dibagian fisik.

Untuk jawaban sangat sering dan sering, disebabkan oleh suhu mesin mobil yang cepat panas dan mesin nya tersebut pas di bawah tempat duduk supir dan bantalan tempat duduk mobil tersebut sudah sangat tipis sehingga supir sangat sering dan sering merasakan haus pada saat bekerja.

Timbulnya kondisi lelah pada diri supir merupakan hasil dari adanya berbagai penyebab kelelahan baik yang berasal dari supir ataupun lingkungan pekerjaan.

5.2.1 Kelelahan Berdasarkan Umur Pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 Kota Medan Tahun 2017

Salah satu faktor yang berpengaruh terhadap kejadian kelelahan adalah umur. Berdasarkan hasil kuesioner maka dapat dilihat bahwa umur supir angkutan kota trayek 12 berkisar antara 25-64 tahun. Berdasarkan tabel 4.7. dapat dilihat bahwa umur sopir yang terbanyak yaitu berumur 45-54 tahun yaitu berjumlah 25 orang (55,6%). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa sopir angkutan kota trayek 12 Kota Medan ini berada dalam usia produktif (umur 15 – 65 tahun) yang masuk kategori angkatan kerja dan akan mempengaruhi produktifitas kerja dan kesehatan kerja.

Berdasarkan kelelahan kategori sedang, dapat diketahui frekuensi terbesar berada pada kelompok umur 35-44 tahun yaitu berjumlah 2 orang (50,0%).

Berdasarkan kelelahan kategori tinggi, diketahui bahwa frekuensi paling banyak pada supir berada di kelompok umur 45-54 tahun (55,6%). Berdasarkan kelelahan kategori sangat tinggi, bahwa frekuensi paling banyak berada pada kelompok umur 55-64 tahun (75,0%). Terdapat 4 orang mengalami kelelahan kategori sangat tinggi karena distribusi pekerja berdasarkan hasil kuesioner terdapat 4 orang pekerja yang memiliki umur diatas 45 tahun.

Dari data ini dapat kita lihat bahwa kelelahan kerja lebih banyak dialami oleh supir angkutan kota trayek 12 pada kelompok umur 55-64 tahun. Hal ini juga

sesuai dengan pernyataan Caffin dalam Tarwaka bahwa kelelahan biasanya mulai dirasakan lebih menonjol pada usia 25 sampai 65 tahun, dimana tingkat keluhan atau kelelahan akan bertambah seiring bertambahnya umur. Hal ini terjadi karena seiring peningkatan umur, kekuatan dan ketahanan otot akan menurun sehingga resiko terjadinya kelelahan meningkat (Tarwaka, 2004).

5.2.2 Kelelahan Berdasarkan Masa Kerja Pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 Kota Medan Tahun 2017

Masa kerja setiap supir angkutan kota trayek 12 ini berbeda-beda, dimulai dari masa kerja 3 tahun sampai masa kerja 25 tahun. Berdasarkan tabel 4.8. dapat diketahui bahwa masa kerja supir angkutan kota trayek 12 yang terbanyak berada pada masa kerja 10 tahun yaitu berjumlah 8 orang (17,8%).

Berdasarkan masa kerja, diketahui bahwa frekuensi kelelahan kategori sedang paling banyak pada supir angkutan kota trayek 12 berada pada masa kerja 5 tahun yaitu 2 orang (50,0%). Berdasarkan kelelahan kategori tinggi, diketahui bahwa frekuensi supir angkutan kota trayek 12 berada pada masa kerja 10 tahun yaitu 8 orang (17,8%). Berdasarkan kelelahan kategori sangat tinggi, diketahui bahwa frekuensi supir angkutan kota trayek 12 berada pada masa kerja 4 tahun yaitu 2 orang (50,0%).

Dari data ini dapat kita lihat bahwa supir angkutan kota trayek 12 dengan masa kerja ≥5 tahun lebih banyak mengalami kelalahan kerja dari pada masa kerja

<5 tahun. Sutjana dalam Virgy 2011 mengatakan bahwa tingkat pengalaman seseorang dalam suatu pekerjaan akan mempengaruhi terjadinya kelelahan kerja, hal ini dikarenakan semakin berpengalaman orang tersebut dalam pekerjaannya,

efisiensinya dalam bekerja juga meningkat. Orang tersebut dikatakan dapat mengatur besarnya tenaga yang dikeluarkan oleh karena seringnya mengambil pekerjaan yang sama. Selain itu, pekerja tersebut juga telah mengetahui posisi kerja yang terbaik atau nyaman untuk dirinya, sehingga produktivitasnya juga terjaga. Hal – hal tersebut diperkirakan dapat mencegah atau mengurangi terjadinya kelelahan maupun kecelakaan akibat kerja. Suma’mur (2009) menyatakan bahwa tingkat keterampilan dan kemampuan tenaga kerja yang tinggi. Masa kerja juga dapat mempengaruhi kelelahan kerja karena semakin lama masa kerja, tenaga kerja semakin berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaannya, sehingga telah terbiasa dengan pekerjaannya. Namun pernyataan diatas tidak sesuai dengan data tabel hasil penelitian tentang kelelahan berdasarkan masa kerja. Hal ini bisa terjadi karena distribusi pada supir angkutan kota trayek 12 berdasarkan masa kerja lebih banyak pada masa kerja ≥5 tahun.

Berdasarkan tanya jawab dengan supir, mereka yang mempunyai masa kerja 5 tahun kebawah merasa masih harus membutuhkan banyak waktu untuk bisa menyesuaikan diri dengan mengendrai angkutan kota agar mereka dapat menyesuaikan tenaga yang dikeluarkan untuk pekerjaan, menyesuaikan posisi kerja dengan pekerjaan yang mereka lakukan.

5.2.3 Kelelahan Berdasarkan Durasi Mengemudi Pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 Kota Medan Tahun 2017

Berdasarkan tabel 4.9. dapat diketahui bahwa kelompok durasi mengemudi pada supir angkutan kota trayek 12 terbanyak pada kelompok >8 jam, yaitu 45 orang. Berdasarkan durasi mengemudi, diketahui bahwa frekuensi kelelahan

kategori sedang paling banyak pada supir angkutan kota trayek 12 berada pada kelompok durasi mengemudi ≤8 jam dan >8 jam sama besarnya, yaitu masing-masing 2 orang (50,0%). Berdasarkan durasi mengemudi, diketahui bahwa frekuensi kelelahan kategori tinggi paling banyak pada supir angkutan kota trayek 12 berada pada kelompok durasi mengemudi >8 jam, yaitu 40 orang (88,9%). Dan frekuensi kelelahan kategori sangat tinggi paling banyak pada kelompok durasi mengemudi >8 jam, yaitu 3 orang (75,0%).

Dari data ini dapat kita lihat bahwa pada supir angkutan kota trayek 12 dengan durasi mengemudi >8 jam lebih banyak mengalami kelelahan kerja dibandingkan dengan ≤8 jam. Grandjean (1991) menjelaskan bahwa faktor penyebab terjadinya kelelahan di industri sangat bervariasi, dan untuk memelihara/mempertahankan kesehatan dan efisiensi, proses penyegaran harus dilakukan di luar tekanan (cancel out the stress). Penyegaran terjadi terutama selama waktu tidur malam, tetapi periode istirahat dan waktu-waktu berhenti kerja juga dapat memberikan penyegaran. Faktor-faktor lain penyebab kelelahan yaitu:

intensitas lamanya kerja fisik dan mental, ergonomi, lingkungan (iklim, penerangan, kebisingan, getaran dll), circadian rhythm, problem psikis (tanggung jawab, kekhawatiran, konflik dll), kenyerian dan kondisi kesehatan, dan nutrisi (Tarwaka, 2015).

5.2.4 Kelelahan Berdasarkan Total Waktu Tidur Pada Supir Angkutan Kota Trayek 12 Kota Medan Tahun 2017

Berdasarkan tabel 4.10. dapat diketahui bahwa kelompok total waktu tidur pada supir angkutan kota trayek 12 terbanyak pada kelompok ≤7 jam, yaitu 49

orang. Berdasarkan total waktu tidur, diketahui bahwa frekuensi kelelahan kategori sedang paling banyak pada supir angkutan kota trayek 12 berada pada kelompok total waktu tidur ≤7 jam dan >7 jam sama besarnya, yaitu masing-masing 2 orang (50,0%). Untuk frekuensi kelelahan kategori tinggi paling banyak pada supir angkutan kota trayek 12 berada pada kelompok total waktu tidur ≤7 jam, yaitu 44 orang (97,8%). Dan pada kategori sangat tinggi paling banyak pada supir angkutan kota trayek 12 berada pada kelompok total waktu tidur ≤7 jam, yaitu 3 orang (75,0%).

Dari data ini dapat kita lihat bahwa pada supir angkutan kota trayek 12 dengan total waktu tidur ≤7 jam lebih banyak mengalami kelelahan. Jam kerja mengemudi maksimum yang dibolehkan adalah 12 jam dalam periode waktu 24 jam dan wajib istirahat minimum selama 7 jam tanpa terputus. Istirahat di sini adalah pengemudi wajib tidur tanpa terputus (National Transport Comittee, 2015).

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada 53 Supir Angkutan Kota Trayek 12 di Kota Medan Tahun 2017 disimpulkan sebagai berikut:

1. Tingkat kelelahan kerja pada supir angkutan kota trayek 12 Kota Medan sebanyak 4 orang (7,5%) termasuk dalam kategori perasaan lelah sedang, 45 orang (84,9%) termasuk dalam kategori perasaan lelah tinggi dan 4 orang (7,5%) termasuk dalam kategori perasaan lelah sangat tinggi.

2. Berdasarkan umur responden, kategori perasaan lelah sedang paling banyak responden berada pada umur 35-44 tahun yaitu sebanyak 2 orang (50%).

Untuk kategori perasaan lelah tinggi paling banyak responden berada pada umur 45-54 tahun yaitu sebanyak 25 orang (55,6%). Dan untuk kategori perasaan lelah sangat tinggi paling banyak responden berada pada umur 55-64 tahun yaitu sebanyak 3 orang (75%).

3. Berdasarkan masa kerja, kategori perasaan lelah sedang paling banyak responden pada masa kerja 5 tahun yaitu 2 orang (50%). Untuk kategori perasaan lelah tinggi paling banyak responden pada masa kerja 10 tahun (17,8%). Dan untuk kategori perasaan lelah sangat tinggi paling banyak responden pada masa kerja 4 tahun yaitu 2 orang (50%).

4. Berdasarkan durasi mengemudi, jumlah responden sama banyaknya yaitu pada kategori perasaan lelah sedang berada pada durasi mengemudi ≤8 jam

dan >8 jam sebanyak 2 orang (50%). Untuk kategori perasaan lelah tinggi paling banyak responden pada durasi mengemudi >8 jam yaitu sebanyak 40 orang (88,9%). Dan pada kategori perasaan lelah sangat tinggi berada pada durasi mengemudi >8 jam yaitu 3 orang (75%).

5. Berdasarkan total waktu tidur, jumlah responden sama banyaknya yaitu pada kategori perasaan lelah sedang berada pada total waktu tidur ≤7 jam dan

>7jam sebanyak 2 orang (50%). Untuk kategori perasaan lelah tinggi paling banyak responden pada total waktu tidur ≤7 jam yaitu sebanyak 44 orang (97,8%). Dan untuk kategori perasaan lelah sangat tinggi paling banyak responden pada total waktu tidur ≤7 jam yaitu 3 orang (75%).

6.2 Saran

1. Kepada pengemudi dianjurkan untuk beristirahat yang cukup setelah selesai bekerja.

2. Pada saat istirahat dianjurkan kepada pengemudi untuk melakukan relaksasi dan peregangan otot-otot tubuh yang terasa sakit.

DAFTAR PUSTAKA

Angka Kecelakaan Lalu Lintas di Indonesia Tertinggi se-Asia. 2016.

http://ragam.analisadaily.com/read/who/240063/2016/05/29. Analisa.

(diakses tanggal 15 maret 2017).

Asal usul angkot medan yang disebut sudako,

https://greentravelers.wordpress.com. (diakses tanggal 01 Maret 2017).

Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara. 2011-2013.

http://sumut.bps.go.id/frontend/linkTabelStatis/view/id/73. (diakses tanggal 15 maret 2017).

Beaulieau, J.K,. 2005. Working Paper: The Issues of Fatigue and Working Time in the Road Transport Sector. International Labour Organization: Geneva Switzerland. Diakses pada 17/10/2016 pukul 17:25 WIB.

http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---ed_dialogue/---sector/documents/publication/wcms_161410.pdf.

Budiono, A.M.S, Jusuf, RMF, Pusparini, A. 2003. Hiperkes dan keselamatan kerja. Semarang: Bunga Rampai.

ILO. 2015. Priority Safety and Health Issues in the Road Transport Sector, Report for discussion at the Tripartite Sectoral Meeting on Safety and Health in the Road Transport Sector. International Labour Office, Sectoral Policies Department:Geneva. Diakses pada 18/10/2016 pukul 10:30 WIB.

http://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---ed_dialogue/---sector/documents/publication/wcms_400598.pdf.

Kristanto, A. 2013.Kajian Faktor-Faktor Risiko yang Berhubungan dengan Kelelahan Pengemudi Truk Trailer di PT AMI Tahun 2012. Tesis.

FKM UI. Diakses pada 12/10/16 pada 23:22 WIB.

lib.ui.ac.id/file?file=digital/20334138-T32551-Aris%20Kristanto.pdf Maurits, L.S. 2007. Promosi Kesehatan dan Keselamatan Kerja, Pelatihan Para

Medis Seluruh Jawa Tengah, RSU Soeradji Klanten.

Maurits, L.S. 2010. Selintas tentang kelelahan kerja. Yogyakarta: Amara Books.

Notoadmodjo, S. 2010. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

Nurmianto, E. 2008. Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya. Surabaya: Prima Printing.

National Transport Comittee (NTC). 2001. Fatigue Expert Group Options for

and New Zealand. Diakses pada 24/11/2016/pukul/08:05WIB.

https://www.ntc.gov.au/Media/Reports/(EF21FA52-EEAA-EAED-1C00-93A69B5ACC58).pdf

National Transport Comittee (NTC). 2015. Developing a heavy vehicle fatigue data framework. Discussion Paper. Diakses pada 24/11/2016 pukul 08.00 WIB. https://www.ntc.gov.au/Media/Reports/(42AFE3BC-3728-4940-BFC6-A8DAFE4C94E8).pdf

Oentoro, S. 2004. Kampanye Atasi Kelelahan Mental dan Fisik.

Rachmadi, A. 2016. Gambaran Kelelahan Kerja Pada Pekerja Peternakan Ayam Broiler di Kecamatan Lampasi Tigo Nagori Kota Payakumbuh Tahun 2016. Skripsi, FKM-USU, Medan.

Santia, L. 2016. Hubungan Beban Kerja Dengan Kelelahan Kerja Pada Perawat di Unit Rawat Inap Rumah Sakit Tentara Binjai Tahun 2016. Skripsi, FKM-USU, Medan.

Santoso, G. 2004., Ergonomi Manusia, Peralatan dan Lingkungan. Jakarta:

Prestasi Pustaka Publisher.

Setiarto, H. 2002. Beberapa faktor yang berhubungan dengan kelelahan pada pengemudi bus jurusan Grabag-Borobudur. Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro:Semarang.

Sidabalok, L. 2007. Gambaran Kelelahan Kerja Pada Masinis Kereta Api Di PT.Kereta Api (Persero) Divisi Regional I Sumatera Utara Tahun 2007.

Skripsi. FKM USU. Medan.

Sugiyono. 2016. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D. Bandung:

Alfabeta.

Suma’mur, P.K. 2009. Hiegiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja (Hiperkes).

Jakarta: Sagung Seto.

Suma’mur, P.K. 2013. Higiene Perusahaan Dan Kesehatan Kerja (Hiperkes), Jakarta: CV. Sagung Seto.

Susetyo, J. Oesman, T.I., dan Sudharman, S.T., 2012. Pengaruh Shift Kerja Terhadap Kelelahan Karyawan dengan Metode Bourdon Wiesman dan 30 Items of Rating Scale. Fakultas Teknologi Industri. Institut Sains &

Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Syarifuddin, V. 2005. Gambaran Kelelahan Kerja Pada Pengemudi Angkutan Kota di Dumai 2005. Skripsi, FKM-USU, Medan.

Tarwaka, B.S. & Sudiajeng, L. 2004. Ergonomi Untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas. Surakarta, UNIBA Press.

Tarwaka. 2015. Ergonomi Industri: Dasar-Dasar Pengetahuan Ergonomi dan Aplikasi di Tempat Kerja. Surakarta: Harapan Press.

Umyati, A; Yaya H. Y; Eka S. N. S. 2015. Pengukuran Kelelahan Kerja Pengemudi Bis dengan Aspek Fisiologis Kerja dan Metode Industrial Fatique Research Committee (IRFC). Skripsi. Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknik, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.Cilegon-Banten.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan.

Jakarta. 2009.

Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas. Jakarta. 1992.

Virgy, S. 2011. Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kelelahan Kerja Pada Karyawan di Instalasi Gizi RSUD Pasar Rebo Jakarta. Skripsi. FK UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta.

Wignjosoebroto, S. 2000. Ergonomi, Studi Gerak Dan Waktu. Teknik Analisis Untuk Peningkatan Produktivitas Kerja. Penerbit Guna Widya. Surabaya.

Karakteristik Individu

Nomor Responden Umur Umurk Masa Durasi Durasik

1 1 25 2 5 11 2

2 2 48 4 9 10 2

3 3 48 4 10 10 2

4 4 49 4 9 10 2

5 5 52 4 12 10 2

6 6 45 4 10 10 2

7 7 27 2 7 11 2

8 8 45 4 6 10 2

9 9 36 3 5 8 1

10 10 35 3 25 10 2

11 11 52 4 5 8 1

12 12 46 4 8 10 2

13 13 50 4 12 8 1

14 14 35 3 7 10 2

15 15 52 4 10 10 2

16 16 54 4 12 9 2

17 17 39 3 8 10 2

18 18 50 4 15 10 2

19 19 30 2 6 10 2

20 20 47 4 10 10 2

21 21 49 4 12 10 2

22 22 52 4 12 10 2

23 23 39 3 8 11 2

25 25 45 4 12 9 2

26 26 35 3 15 11 2

27 27 45 4 15 10 2

28 28 30 2 8 11 2

29 29 45 4 5 11 2

30 30 50 4 6 9 2

31 31 45 4 3 10 2

32 32 48 4 9 10 2

33 33 43 3 15 10 2

34 34 54 4 10 8 1

35 35 54 4 8 8 1

36 36 57 5 7 10 2

37 37 35 3 6 11 2

38 38 57 5 4 11 2

39 39 57 5 4 11 2

40 40 36 3 8 10 2

41 41 25 2 3 11 2

42 42 35 3 5 9 2

43 43 40 3 10 10 2

44 44 35 3 6 10 2

45 45 55 5 7 8 1

46 46 48 4 6 11 2

47 47 40 3 10 9 2

48 48 30 2 6 11 2

49 49 38 3 5 8 1

50 50 28 2 3 10 2

51 51 42 3 7 9 2

53 53 50 4 10 9 2

Jawaban Hasil Pertanyaan Kuesioner

No Responden PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 PK6 PK7 PK8 PK9 PK10 PK1 PK2 PK3 PK4 PK5 Total Totalk

12 12 3 2 1 3 1 3 1 2 2 4 1 3 1 1 1 64 3

26 26 3 3 1 2 1 2 1 1 1 4 1 2 1 2 1 57 3

40 40 1 1 2 1 2 1 1 1 2 3 1 2 1 1 2 45 3

No Responden PK6 PK7 PK8 PK9 PK10 KF1 KF2 KF3 KF4 KF5 KF6 KF7 KF8 KF9 KF10 Total Totalk

14 14 3 1 1 4 1 3 2 2 1 4 2 3 1 1 1 55 3

28 28 2 1 1 3 2 3 3 3 2 3 1 3 1 1 2 55 3

42 42 2 1 2 3 2 1 1 2 1 3 1 2 1 2 1 48 3

1 = Tidak Pernah Merasakan 2 = Kadang-Kadang merasakan 3 = Sering Merasakan

4 = Sangat Sering Merasakan

P1 = Pertanyaan 1 (ada perasaan berat di kepala) P2 = Pertanyaan 2 (merasa lelah pada seluruh badan) P3 = Pertanyaan 3 (merasa berat di kaki)

P4 = Pertanyaan 4 (sering menguap pada saat bekerja) P5 = Pertanyaan 5 (pikiran kacau pada saat bekerja) P6 = Pertanyaan 6 (merasa meengantuk)

P7 = Pertanyaan 7 (merasa ada beban pada bagian mata) P8 = Pertanyaan 8 (gerakan terasa canggung dan kaku) P9 = Pertanyaan 9 (merasakan tidak stabil pada saat berdiri)

P11 = Pertanyaan 11 (merasa susah berpikir) P12 = Pertanyaan 12 (merasa malas untuk bicara) P13 = Pertanyaan 13 (merasa gugup)

P14 = Pertanyaan 14 (merasa tidak dapat berkonsentrasi) P15 = Pertanyaan 15 (merasa sulit memusatkan perhatian) P16 = Pertanyaan 16 (merasa mudah melupakan sesuatu) P17 = Pertanyaan 17 (merasakan kepercayaan diri berkurang) P18 = Pertanyaan 18 (merasa cemas)

P19 = Pertanyaan 19 (merasa sulit mengontrol sikap) P20 = Pertanyaan 20 (merasa tidak tekun dalam bekerja) P21 = Pertanyaan 21 (merasa sakit pada bagian kepala) P22 = Pertanyaan 22 (merasa kaku di bagian bahu) P23 = Pertanyaan 23 (merasa nyeri di bagian punggung)

P25 = Pertanyaan 25 (merasa haus) P26 = Pertanyaan 26 (suara terasa serak) P27 = Pertanyaan 27 (merasa pusing)

P28 = Pertanyaan 28 (merasa ada yang mengganjal di kelopak mata) P29 = Pertanyaan 29 (anggota badan terasa gemetar)

P30 = Pertanyaan 30 (merasa kurang sehat)

LAMPIRAN 2 OUTPUT

Umur Responden (Tahun)

7 13,2 13,2 13,2

15 28,3 28,3 41,5

27 50,9 50,9 92,5

4 7,5 7,5 100,0

53 100,0 100,0

25-34 35-44 45-54 55-64 Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Masa Kerja (Tahun)

3 5,7 5,7 5,7

2 3,8 3,8 9,4

6 11,3 11,3 20,8

7 13,2 13,2 34,0

5 9,4 9,4 43,4

7 13,2 13,2 56,6

3 5,7 5,7 62,3

8 15,1 15,1 77,4

6 11,3 11,3 88,7

4 7,5 7,5 96,2

1 1,9 1,9 98,1

1 1,9 1,9 100,0

53 100,0 100,0

3 4 5 6 7 8 9 10 12 15 20 25 Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

durasi Mengemudi (Jam)

8 15,1 15,1 15,1

8 15,1 15,1 30,2

25 47,2 47,2 77,4

12 22,6 22,6 100,0

53 100,0 100,0

8 9 10 11 Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Frekuensi pengukuran kuesioner

Total Waktu Tidur (Jam)

2 3,8 3,8 3,8

15 28,3 28,3 32,1

21 39,6 39,6 71,7

11 20,8 20,8 92,5

4 7,5 7,5 100,0

53 100,0 100,0

4 5 6 7 8 Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan kekuatan 1 (Ada Perasaan Berat di Kepala)

6 11,3 11,3 11,3

29 54,7 54,7 66,0

18 34,0 34,0 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Sering merasakan Total

Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 2 (Merasa lelah pada seluruh badan)

7 13,2 13,2 13,2

23 43,4 43,4 56,6

23 43,4 43,4 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Sering merasakan Total

Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan K ekuatan3 (Merasa berat di kaki)

22 41,5 41,5 41,5

20 37,7 37,7 79,2

9 17,0 17,0 96,2

2 3,8 3,8 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Sering merasakan Sangat sering merasakan Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 4 (Sering menguap pada saat kerja)

10 18,9 18,9 18,9

30 56,6 56,6 75,5

11 20,8 20,8 96,2

2 3,8 3,8 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Sering merasakan Sangat sering merasakan Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 5 (Pikiran kacau pada saat bekerja)

34 64,2 64,2 64,2

17 32,1 32,1 96,2

2 3,8 3,8 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Sering merasakan Total

Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 6 (Merasa mengantuk)

7 13,2 13,2 13,2

30 56,6 56,6 69,8

15 28,3 28,3 98,1

1 1,9 1,9 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang merasakan Sering merasakan Sangat sering merasakan Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 7 (Merasa ada beban pada bagian mata)

28 52,8 52,8 52,8

23 43,4 43,4 96,2

2 3,8 3,8 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Sering merasakan Total

Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 8 (Gerakan terasa canggung dan kaku)

41 77,4 77,4 77,4

12 22,6 22,6 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Total Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 9 (Merasakan tidak stabi; pada saat berdiri)

28 52,8 52,8 52,8

24 45,3 45,3 98,1

1 1,9 1,9 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang

merasakan Sering merasakan Total

Valid

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Pelemahan Kekuatan 10 (Merasa ingin berbaring)

2 3,8 3,8 3,8

8 15,1 15,1 18,9

24 45,3 45,3 64,2

19 35,8 35,8 100,0

53 100,0 100,0

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang merasakan Sering merasakan Sangat sering

Tidak pernah merasakan Kadang-kadang merasakan Sering merasakan Sangat sering

Dokumen terkait