Berisi gambar hasil perancangan berupa gambar kerja.
LAMPIRAN
Berisi lampiran berupa data eksisting bangunan dan foto maket serta perspektif suasana.
DAFTAR PUSTAKA
Berisi daftar pustaka yang digunakan sebagai literatur selama proses perencanaan dan perancangan kasus proyek.
BAB II
DESKRIPSI PROYEK
2.1 Judul dan Pengertian “Medan Boutique Hotel”
Judul dari proyek studi ini adalah “ Medan Boutique Hotel ” yang merupakan sebuah tempat penginapan yang memberikan suatu suasana yang berbeda dari hotel pada umumnya. Dalam judul “ Medan Boutique Hotel “ memiliki pengertian sebagai berikut : 1. Pengertian Medan6
• Medan adalah ibukota provinsi Sumatera Utara, Indonesia. Kota ini merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya.
:
2. Pengertian Boutique 7
Boutique n a small shopping outlet, especially one that specializes in elite and fashionable items such as clothing and jewellery.
:
“butik, sebuah toko kecil, yang khusus menjual barang-barang tertentu yang mewah dan mengikuti tren seperti pakaian dan perhiasan.”
3. Pengertian Hotel :
• Hotel, commercial establishment that provides lodging and often food, entertainment, and other services for the public, esp. for transients8
”Hotel, sebuah bangunan komersil yang menyediakan penginapan, makanan, hiburan dan pelayanan jasa, terutama bagi mereka yang menginap sementara.” • Hotel, suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian atau seluruh
bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial serta memenuhi ketentuan persyaratan yang ditetapkan dalam keputusan pemerintah.9
Medan Boutique Hotel merupakan sebuah penginapan yang memberikan suatu konsep penginapan yang berbeda dari hotel-hotel pada umumnya. Boutique hotel memiliki defenisi seabgai berikut sebuah hotel dalam skala kecil, yang menawarkan suatu tema pada keseluruhan penginapannya, dan memberikan pelayanan yang maksimal bagi seluruh tamu yang datang menginap.
2.2 Tinjauan Umum
Tinjauan umum membahas tentang boutique hotel secara keseluruhan dan hotel secara umum. 6 http://en.wikipedia.org/wiki/kota_medan 7 http://en.wikipedia.org/wiki/Boutique 8
Halsey .WD, Dictionary Macmillan. New York : Macmillan, 1979, hal 498
9
2.2.1 Sejarah Perkembangan Hotel
Adapun sejarah perkembangan hotel yang mana berawal di Eropa dan Amerika dan akhirnya berkembang di Indonesia, Di bawah ini adalah sejarah perkembangan hotel di Eropa , Amerika serta Indonesia.
2.2.1.1 Sejarah Perkembangan Hotel di Eropa dan Amerika10
Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, "tempat penampungan buat pendatang" atau bisa juga "bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum". Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat. Tak aneh kalau di negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah.
Sampai pada tahun City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable. Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat yang mumpuni. Jadi, tak ada salahnya didirikan di pinggir kota.
Setelah itu, muncul hotel-hotel legendaris seperti selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu tempat paling top di (AS). Tremont bersaing ketat deng itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat. Saat pembangunan jaringa (stasiun) ada hotel.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan makin luasnya jangkauan angkutan darat (terlebih setelah ditemukannya kendaraan bermotor), kawasan sekitar rel kereta api tak lagi menarik minat para investor. Orang kemudian lebih suka jalan-jalan menggunaka ketimbang kereta. Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran kata "motor hotel" alias tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.
10
Kejayaan motel tak berlangsung lama. Seiring makin pesatnya perkembangan kota, berakhir pula era motel. Terutama karena letaknya yang agak di pinggir kota dan fasilitasnya yang kalah bagus dengan hotel di pusat kota. Walaupun terpaksa bermalam di kawasan pinggiran, motel harus bersaing dengan hotel resort, yang banyak tumbuh di tempat-tempat peristirahatan.
2.2.1.2 Sejarah Perhotelan di Indonesia11
1. Jakarta, dibang
Sejarah perkembangan perhotelan di Indonesia belum banyak terungkap, juga belum banyak buku yang mengungkapkan masalah ini. Indonesia telah dikenal di dunia pariwisata sejak sebelum Perang Dunia ke I, tetapi jumlah wisatawan yang berkunjung masih terbilang ribuan. Seiring dengan perkembangan kedatangan wisatawan asing ke indonesia yang lebih memerlukan sarana akomodasi pariwisata bersifat memadai, maka semasa penjajahan kolonial Belanda, mulai berkembanglah hotel-hotel di Indonesia. Dari buku PARIWISATA INDONESIA DARI MASA KE MASA tercatat hotel-hotel yang sudah hadir pada saat itu diantaranya :
2. Surabaya, berdiri Hotel Sarkies da 3. Semarang, berdiri
4. Malang, 5. Solo,
6. Yogyakarta, Grand Hotel ( sekarang
7. Bandung,
8. Bogor,
9. Medan, 10. Makasar,
Kebanyakan hotel-hotel itu sampai sekarang masih ada, ada yang menjadi Herritage, ada yang sudah direnovasi menjadi lebih baik dan ada juga yang telah diredevelopment total sehingga tidak ada lagi bentuk aslinya, seperti perkembangannya pernah menjadi Hotel Duta Indonesia, kini pertokoan Duta Merlin.
Setelah periode pemerintahan Orde Baru, pembangunan dan kehadiran hotel di Indonesia jauh dan sangat berkembang pesat. Terutama setelah masuknya beberapa chains
11
‘management’ hotel international yang banyak merambah ke kota-kota besar di Indonesia. Sejalan dengan berkembangnya hotel di indonesia ,wajah sangat berkembang dan inovative.
2.2.2 Pengertian Hotel
Secara umum, kata Hotel dulunya berasal dari kata HOSPITIUM (bahasa Latin), artinya ruang tamu. Dalam jangka waktu lama kata hospitium mengalami proses perubahan pengertian dan untuk membedakan antara Guest House dengan Mansion House (rumah besar) yang berkembang pada saat itu, maka rumah-rumah besar disebut dengan HOSTEL. Rumah-rumah besar atau hostel ini disewakan kepada masyarakat umum untuk menginap dan beristirahat sementara waktu, yang selama menginap para penginap dikoordinir oleh seorang host, dan semua tamu-tamu yang (selama) menginap harus tunduk kepada peraturan yang dibuat atau ditentukan oleh host (HOST HOTEL).
Sesuai dengan perkembangan dan tuntutan orang-orang yang ingin mendapatkan kepuasan, tidak suka dengan aturan atau peraturan yang terlalu banyak sebagaimana dalam hostel, dan kata hostel lambat laun mengalami perubahan. Huruf “s” pada kata hostel tersebut menghilang atau dihilangkan orang, sehingga kemudian kata hostel berubah menjadi Hotel seperti apa yang kita kenal sekarang.
Menurut SK Menparpostel No.KM 34/HK 103/MPPT-87, hotel merupakan suatu jenis akomodasi yang mempergunakan sebagaian atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial serta memenuhi ketentuan persyaratan yang ditetapkan dalam keputusan pemerintah.
2.2.2.1 Klasifikasi Hotel di Indonesia
Adapun klasifikasi hotel di Indonesia yang dikeluarkan oleh peraturan pemerintah, Deparpostel dan dibuat oleh Dirjen Pariwisata dengan SK : Kep-22/U/VI/78.
1. Kriteria klasifikasi hotel berdasarkan rating bintang • Hotel bintang satu (*)
Jumlah kamar standar minimum 15 kamar
Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 20 m2 • Hotel bintang dua (**)
Jumlah kamar standar minimum 20 kamar
Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 22 m2
Luas kamar suite minimum 44 m2 • Hotel bintang tiga (***)
Jumlah kamar standar minimum 30 kamar
Jumlah kamar suite minimum 2 kamar
Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 24 m2
Luas kamar suite minimum 48 m2 • Hotel bintang empat (****)
Jumlah kamar standar minimum 50 kamar
Jumlah kamar suite minimum 3 kamar
Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 24 m2
Luas kamar suite minimum 48 m2 • Hotel bintang lima (*****),
memiliki 3 tingkatan yaitu Palm, Bronze, dan Diamond
Jumlah kamar standar minimum 100 kamar
Jumlah kamar suite minimum 4 kamar
Kamar mandi didalam
Luas kamar standar minimum 26 m2
Luas kamar suite minimum 52 m2
Menurut Keputusan Direktorat Jenderal Pariwisata No 12/U/II/88 tanggal 25 Februari 1988, hotel butik belum memiliki ketentuan yang mengatur12. Pada tabel 2.1 di bawah merupakan klasifikasi hotel beserta ketetapan jumlah minimal kamar dan standar hotel.
No KLASIFIKASI HOTEL
JUMLAH KAMAR MINIMAL
SYARAT PERATURAN 1 Melati Satu 5 kamar standard • Fisik lokasi &
bangunan • Taman • Tempat parkir • Bangunan Perda no 6 tahun 1988 tentang Perubahan Pertama Perda prop Dati 1 Bal no 04 tahun 1985
12
Sumber Direktorat Jenderal Pariwisata
• Kamar • Lobby • Front office • Kantor pengelola • Ruang tamu • Gudang • Organisasi manadeen • Tenaga kerja • House keeping • Keamanan • Kebersihan • Pelayanan makanan&minuman tentang Usaha Losmen dan Keputusan Gubernur no 338 tahun 1989 tentang Perubahan Istilah Resmi menjadi Hotel dengan tanda Bunga Melati
2 Melati Dua 10 kamar standard Sama dengan syarat Hotel Melati Satu plus fasilitas riil di lapangan Kwalitas lebih baik dari melati satu
Sama dengan Melati Satu
3 Melati Tiga 15 kamar standard Sama dengan syarat Hotel Melati Satu plus fasilitas riil di lapangan Kwalitas lebih baik dari melati dua seperti:
• kolam renang
• Kamar mandi, bath tub • AC • TV • Kulkas Sama dengan Melati Satu
4 * 15 kamar standard • Lokasi &Lingkungan • Taman
• Tempat parkir
Kep Dirjen Pariwisata no 14 /U/II/88 tgl 25
• Olah raga • Bangunan • Kamar tamu • Ruang makan • Bar • Lobby • Telepon • Toilet umum • Koridor • Ruang disewakan • Dapur • Area Administrasi • Front office • Kantor pengelola hotel
• Area tata graha • Ruang binatu • Gudang
• Ruang Karyawan • Operasional
Managemen
• Food and beverage • Keamanan • Olahraga rekreasi • Pelayanan februari 1988 5 ** 20 kamar standard + 1 kamar suite Sama dengan fasilitas hotel Bintang
satu (*) Kep Dirjen Pariwisata no 14 /U/II/88 tgl 25 februari 1988 6 *** 30 kamar standard + 2 kamar suite Sama dengan fasilitas hotel Bintang
satu (*) plus: 2 buah restoran /lebih parkir luas Kep Dirjen Pariwisata no 14 /U/II/88 tgl 25 februari 1988
2 kolam renang /lebih
Fasilitas penunjang
Tennis
Fitness
Spa & sauna
7 **** 50 kamar standard
+ 3 kamar suite
Sama dengan fasilitas hotel Bintang
tiga (***) Kep Dirjen Pariwisata no 14 /U/II/88 tgl 25 februari 1988 8 ***** 100 kamar standard + 4 kamar suite Sama dengan fasilitas hotel Bintang
tiga (***) Kep Dirjen Pariwisata no 14 /U/II/88 tgl 25 februari 1988 9 ***** plus 100 kamar standard + 4 kamar suite Sama dengan fasilitas Bintang dua
(**) Pasar malam Galeri Ruang Konferensi Kep Dirjen Pariwisata no 14 /U/II/88 tgl 25 februari 1988 10 Pondok wisata Max 5 kamar merupakan sebagian rumah tinggal yang disewakan
IMB rumah tinggal
H.O
SITU pondok wisata
Kamar mand Lain-lain Perda o 13 thn 1989 tentang Usaha Pondok Wisata Keputusan Gubernur no.391 thn 1991 tentang Juklak
11 Hotel butik - - Belum ada
ketentuan yang mengatur 12 Taman Kreasi & objek wisata - - Perda no14 thn 1989 tentang Penyerahan sebagian urusan Pemerintahan Prop Dati II
Sumber: Direktorat Jenderal Pariwisata
2.2.2.2 Kriteria fasilitas hotel bintang 513 1. Umum
Hotel kelas ini mempunyai kondisi sebagai berikut:
a) Lokasi mudah dicapai, dalam arti akses ke lokasi tersebut mudah b) Bebas polusi
c) Unsur dekorasi Indonesia tercermin pada lobby d) Bangunan terawat rapi dan bersih
e) Sirkulasi di dalam bangunan mudah
2. Bedroom
a) Mempunyai minimum 100 kamar standar dengan luasan 26 m2/ kamar b) Mempunyai minimum 4 kamar suite dengan luasan 52 m2/ kamar c) Tinggi minimum 2.6 m tiap lantai
d) Dilengkapi dengan pengatur suhu kamar di dalam kamar
3. Dining room
Mempunyai minimum 3 buah dinning room, salah satunya dengan spesialisasi masakan (Japanese/ Chinese/ European food).
4. Bar
a) Apabila berupa ruang tertutup maka harus dilengkapi dengan pengatur udara mekanik (AC) dengan suhu 24OC
b) Lebar ruang kerja bartender setidaknya 1 m 5. Ruang fungsional
a) Minimum terdapat 1 buah pintu masuk yang terpisah dari lobby dengan kapasitas minimum 2.5 kali jumlah kamar
b) Dilengkapi dengan toilet apabila tidak satu lantai dengan lobby c) Terdapat prefunction room
6. Lobby
a) Mempunyai luas minimum 100m2
b) Terdapat 2 toilet umum untuk pria dan 3 toilet umum untuk wanita dengan perlengkapannya.
7. Drug store
a) Minimum terdapat drugstore, bank, money changer, biro perjalanan, travel agent, souvenir shop, perkantoran, butik dan salon
b) Tersedia poliklinik c) Tersedia paramedis
13
8. Sarana rekreasi dan olah raga
a) Minimum 1 buah pilihan : tenis, bowling, golf, fitness, sauna, billiard, jogging, diskotik dan taman bermain anak.
b) Terdapat kolam renang dewasa yang terpisah dengan kolam renang anak. c) Terdapat fasilitas nightclub /diskotik kedap suara dengan AC dan toilet. 9. Utilitas penunjang
Minimum seperti hotel bintang 4 dengan tambahan: a) Transportasi vertikal mekanis.
b) Ketersediaan air bersih minimum 700 liter/ orang/ hari. c) Dilengkapi dengan instalasi air panas/ dingin.
d) Dilengkapi dengan sentral video, musik, teleks, radio, carcall.
10. Business center
Di business center ini tersedia beberapa staf yang dapat membantu dengan bertindak sebagai co-secretary para tamu yang ingin berkomunikasi dengan kantor pusatnya maupun relasi bisnisnya. Selain itu, ada pula fasilitas lain seperti faksimili, teleks, mecanograf. Para tamu dapat memanfaatkan pelayanan dengan akses internet melalui kamarnya untuk reservasi dan promosi usahanya, di samping juga dapat melakukan telekonferensi.
11. Restoran
Subbagian restoran di hotel yang besar dapat dibagi menjadi:
a) Main dining room atau ruang makan utama yang menyediakan makanan Peraneis atau internasional.
b) Coffee shop, restoran yang menyediakan dan menyajikan makan pagi dengan menu dan jenis pelayanannya lebih sederhana atau biasa disebut ready on plate.
c) Restoran yang spesilik seperti grill-room, pizzarea, japanesse, oriental.
d) Room service: restoran yang melayani dan menyediakan hidangan makanan dan minuman kepada tamu hotel yang enggan keluar kamar. Atas dasar pesanan tamu, makanan dan minuman diantar langsung ke kamar tamu.
e) Take out service dan out side catering: untuk lebih meningkatkan pendapatan penjualan produk yang dihasilkan oleh dapur hotel, ada beberapa hotel yang melayani pesanan makanan dan minuman dan penyelenggaraan perjamuan di luar hotel seperti misalnya untuk perjamuan instansi-instansi pemerintah, perjamuan kenegaraan dan instansi-instansi swasta. Di samping itu, toko makanan berupa kue-kue yang dijual oleh pastry shop yang ada di hotel juga melayani penjualan kue-kue-kue-kue dan ice cream untuk keperluan umum.
2.3 Tinjauan Khusus
Pada kasus studi ini, Medan boutique hotel akan berada dibawah managemen dari Hotel Garuda Plaza yang telah berdiri selama 52 tahun di kota Medan. Hal ini dikarenakan Hotel Garuda Plaza merupakan salah satu hotel asli dari kota Medan, selain itu, juga mengalami perkembangan yang signifikan dari tahun ke tahun.
2.3.1 Sejarah Singkat Hotel Garuda Plaza
Pada tahun 1958 Hj. Muhammad Arbie, Direksi Firma Madju Medan mendirikan sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perhotelan yang berada di Jalan Sisingamangaraja No.18 medan (d/h Jalan Radja Medan) yang bernama Hotel Garuda. Secara berangsur-angsur sesuai dengan bergulirnya waktu pada tahun 1970 losmen tersebut berkembang mencapai 58 kamar yang terdiri dari gedung berlantai tiga.
Usaha perhotelan ini berjalan dengan penuh suka duka serta dengan modal pengalaman yang dimiliki selama berdikari dalam dunia bisnis perhotelan. Pada tahun 1973 usaha perluasan dimulai dengan didirikan sebuah hotel di jalan yang sama yaitu Motel Garuda dengan kapasitas 35 kamar dan menjadi cikal bakal Garuda Citra Hotel.
Kedua hotel dan motel ini berjalan dengan lancar dari tahun ke tahun dan usaha-usaha peningkatan dalam pelayanan di segala bidang tetap berjalan dengan baik. Dengan bertambahnya tenaga profesional yang mengelola dan menangani kegiatan sehari-hari baik yang bersifat intern maupun yang bersifat ekstern, maka diharapkan usaha ini akan menjadi lebih maju kedepannya.
Berdasarkan pengalaman yang ada dan juga hasil dari peninjauan keluar daerah maupun peninjauan keluar negeri serta juga mempelajari kebijaksanaan yang diambil oleh pemerintah untuk menggalakkan arus pariwisata ke daerah ini, maka pimpinan mencoba untuk membuat gagasan baru. Lalu direncanakan untuk membangun kedua hotel dan motel tersebut lebih lanjut.
Pada tanggal 15 Oktober 1976, dimulailah pembangunan Hotel Garuda dengan cara 2 tahap. Tahap pertama direncanakan dengan membangun 54 kamar beserta sarana-sarana hotel lainnya seperti : ruang rapat, restoran yang sesuai dengan kemampuan dan rencana yang ditetapkan.
Pada tahap kedua, membangun kamar di Hotel Garuda menjadi lebih banyak yaitu sebanyak 115 kamar. Setelah menimbang berbagai hal, maka Dewan Direksi merasa perlu membentuk suatu badan untuk melaksanakan dan untuk terus merenovasi dan membangun
kedua Hotel dan Motel tersebut. Maka di bentuk Perseroan Terbatas yang di beri nama PT.Garuda Maju Cipta dan inilah yang bertanggung jawab atas pembangunan kedua Hotel dan Motel tersebut sampai dengan selesai. Sesuai dengan rencana pokok, maka sekitar bulan Agustus 1980 dimulailah pembangunan di Motel Garuda yang meliputi 70 kamar ditambah dengan ruang pertemuan (meeting room). Pembangunan ini rampung pada tanggal 1 April 1982. Dengan selesainya pembangunan tersebut maka jadilah motel tersebut dengan nama Motel Garuda Citra sebagai salah satu hotel bertaraf internasional dengan jumlah kamar sebanyak 70 kamar.
Setelah selesai pembangunan hotel dan motel tersebut, maka hotel Garuda diberi nama Hotel Garuda City. Hotel ini memiliki bangunan dan kamar-kamar yang cukup uptodate ditinjau dari segi kuantitatif yaitu mampu menyerap para wisatawan asing (mancanegara) dengan pengadaan kamar atau ruang penginapan yang cukup memadai yakni dengan pelayanan yang diberikan serta rendahnya tarif yang diberikan oleh pihak hotel kepada tamu. Pada tahun 1982, merupakan tahun yang bersejarah bagi hotel Garuda City karena pada tahun tersebut pembangunan telah rampung dan hotel tersebut dapat dioperasikan secara penuh. Pada tanggal 22 Juli 1982, hotel tersebut relatif megah dan pada waktu itu diresmikan oleh direksi kedua hotel tersebut yang pada masa itu masih dijabat oleh Bapak Haji Muhammad Arbie.
Pada tanggal 7 Agustus 1985 Hotel Garuda City berubah nama menjadi Hotel Garuda Plaza karena untuk menciptakan kesan “lebih Indonesia” sekaligus mengikut anjuran pemerintah bagi perusahaan-perusahaan untuk menggunakan merek-merek berbahasa Indonesia. Sesuai dengan pengklasifikasian hotel sebagai hotel berbintang dilihat dari syarat-syarat lokasi, akomodasi, makanan dan minuman, fasilitas pelayanan, personil dan berbagai fasilitas lainnya. Maka sejak berdirinya hotel tersebut dan disahkan oleh Direktur Jenderal Pariwisata, Hotel Garuda Plaza sudah dianggap layak sebagai hotel bintang satu. Dan sekarang, hotel Garuda Plaza telah menjadi hotel berbintang tiga.
2.3.2 Struktur Organisasi Hotel Garuda Plaza
Setiap perusahaan perlu membentuk suatu struktur sehingga pekerjaan dapat lebih baik dan sesuai dengan bidangnya serta keahlian masing-masing.
Struktur organisasi merupakan suatu bentuk yang menunjukkan aspek-aspek pokok bentuk dan hubungan antar bagian serta saluran pengawasan yang menduduki masing-masing jabatan. Struktur organisasi menggambarkan pembagian yang penting serta garis otoritas
formal. Kesemuanya ini adalah tanggung jawab pimpinan perusahaan untuk mengkoordinir perusahaan dan bekerja lebih efektif dan efisien.
Struktrur organisasi yang dianut oleh Garuda Hotel Group adalah organisasi “Garis dan Staf” dimana terdapat pimpinan dan wakil pimpinan dari perusahaan hotel ini merupakan pimpinan perusahaan.
Struktur organisasi dapat dipandang sebagai suatu kerangka yang menyeluruh yang menghubungkan berbagai fungsi dari badan usaha dan menunjukkan hubungan yang tetap antara para pegawai yang melaksanakan berbagai fungsi tersebut.
2.3.2 Boutique Hotel
Adapun defenisi maupun pengertian dari boutique hotel, dan karakteristik dari boutique hotel.
2.3.2.1 Pengertian Boutique Hotel
Boutique hotel memiliki beberapa pengertian menurut sumber-sumber yang diperoleh, antara lain :
1. Pengertian Boutique hotel menurut Lucienne Anhar dalam artikel berjudul “The Defenition of Boutique hotels in Recent Years”14
a. Kecil : memiliki kapasitas 50 kamar (di daerah pinggiran) atau 150 kamar (di daerah perkotaan). Dari jumlah kamar yang dibawah 200 tersebut dapat meningkatkan hubungan antara tamu yang menetap dengan anggota staf
adalah
b. Orisinalitas : kebanyakan butik hotel memiliki konsep yang jauh berbeda dari hotel-hotel bintang lima, sehingga sebuah butik hotel memiliki identitas yang kuat, misalnya hotel tersebut mempunyai dekorasi layaknya galeri, barang antik bahkan ada juga yang mendekorasi layaknya tempat-tempat tinggal di perkampungan yang sangat sederhana
c. Karya arsitektur yang sustainable : material yang digunakan bervariasi dan kebanyakan konsep dasarnya selaras dengan alam dan perkembangan budaya disekitar site. Juga memperhatikan manajemen pembuangan atau sisa dan keefisienan penggunaan energi
d. Mewah : sebuah butik hotel mempunyai pedoman utama yang berbunyi “kualitas, berapapun harganya” namum hal ini tidak diterapkan dalam pemilihan material , akantetapi dalam segi pelayanan dan keramahan yaitu menempatkan keinginan individu di atas segalanya
e. Low profile : butik hotel tidak mengiklankan diri, mereka berkeyakinan bahwa para turis yang akan mencari keberadaan mereka,
2. Pengertian boutique hotel :15
a. Boutique hotel bukanlah sebuah hotel berskala besar.
14
http://www.hospitalitynet.org/news/4010409.search?query=lucienne+anhar+boutique+hotel
15
1, Rob MITCHELL /8 - Aug - 2005/ Hotel Brands Break the Chain www.brandchannel.com
2, Harry NOBLES /December - 2001/ What is a boutique hotel?
www.hotel-online.com/news
3, Lucienne ANHAR /10 - Oct - 2005/ The definition of Boutique Hotels
b. Boutique hotel bukanlah bagian dari hotel lainnya.
Tidak peduli di hotel besar mana yang dikunjungi, logo, lobi dan keseluruhan