Umum
190. Pembagian DAU kepada setiap Kabupaten/Kota dilakukan dengan cara mengelompokkan seluruh Kabupaten/Kota yang ada ke dalam kelas-kelas tertentu. Kelas pertama adalah kelas berdasarkan perhitungan Needs atau kebutuhan daerah. Kelas kedua adalah kelas berdasarkan perhitungan potensi (revenue capacity) ditambah Bagi Hasil (BH).
191. Setiap Kabupaten/Kota yang berada dalam satu kelas Kebutuhan yang sama akan mendapatkan bagian DAU yang sama besar. Namun DAU yang diterima oleh Kabupaten/Kota tersebut akan berbeda dengan DAU yang diterima oleh Kabupaten/Kota lain yang berada pada kelas Kebutuhan yang berbeda. Demikian pula dengan kelas Potensi + BH. Setiap Kabupaten/Kota yang berada dalam satu kelas Potensi + BH yang sama akan mendapatkan bagian DAU yang sama besar, namun akan berbeda dengan Kabupaten/Kota lain yang berada pada kelas yang berbeda. Untuk itu diperlukan metode pembagian kelas baik berdasarkan Kebutuhan maupun Potensi + BH.
Pembagian Kelas Menurut Kebutuhan
192. Untuk menempatkan Kabupaten/Kota ke dalam kelas-kelas Kebutuhan diperlukan informasi mengenai kebutuhan daerah. Kebutuhan daerah diestimasi dengan cara mencari faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan suatu daerah. Kebutuhan daerah ditentukan oleh ukuran dari penyediaan sarana (size of service provision), biaya dari penyediaan sarana (cost of service provision) dan kebutuhan pembangunan (developmental needs). 193. Tiap faktor tersebut diwakili oleh variabel-variabel sebagai berikut: (1) penyediaan sarana (size of service provision) diwakili oleh jumlah penduduk (populasi), (2) biaya penyediaan sarana (cost of service provision) diwakili oleh variabel luas wilayah dengan memperhitungkan indeks pembangunan sarana (indeks Pekerjaan umum, PU), dan (3) persentase penduduk miskin di suatu daerah akan mewakili kebutuhan pembangunan (developmental needs).
194. Dari tiap faktor ditentukan bobot yang akan menentukan besarnya kebutuhan suatu daerah. Misalnya jika dirasakan bahwa kebutuhan daerah lebih banyak ditentukan oleh biaya dari penyediaan sarana, maka bobot faktor cost of service provision akan lebih besar dari faktor yang lain. Dalam simulasi ini, bobot tiap faktor dianggap hampir sama (equal weight). Dalam spreadsheet, bobot ini dapat diganti dengan mudah. Secara notasi aljabar menjadi:
Kebutuhan = 35% (populasi) + 35% (luas*indeks PU) + 30% (miskin/populasi) 195. Contoh perhitungannya adalah misalkan kabupaten Aceh Selatan diketahui populasi sebesar 372214 jiwa. Sementara luas wilayahnya sebesar 8910 Ha, dan indeks PU sebesar 111. Sedangkan jumlah penduduk miskin sebesar 224097. Maka estimasi
kebutuhan kabupaten Aceh Selatan adalah sebesar 476428,58, notasi perhitungannya adalah: 476428,58 = 35%(372214) + 35%(8910*111) + 30%(224097/372214).
196. Setelah diperoleh Kebutuhan tiap Kabupaten/Kota, langkah selanjutnya adalah mengelompokkan tiap Kabupaten/Kota tersebut ke dalam kelas-kelas. Kelas Kebutuhan dibuat dengan dua pendekatan. Kedua pendekatan ini merupakan perhitungan statistik biasa. Pendekatan I adalah membuat batas bawah (lower bound) dan batas atas (upper
bound) dari kelas. Kelas yang ingin dibuat adalah sebanyak 15 (lima belas) kelas. Untuk
itu diperlukan informasi mengenai nilai Kebutuhan maksimum dan minimum, serta selisihnya (range class). Setelah diperoleh batas bawah dan batas atas tiap kelas, maka tiap Kabupaten/Kota dimasukkan ke dalam kelas-kelas yang sesuai. Setelah itu diperhatikan jumlah Kabupaten/Kota di tiap kelas (frequency). Jika terlihat distribusi yang sangat timpang (terdapat beberapa outliers), maka diperlukan pendekatan II.
197. Pendekatan II adalah pendekatan yang berusaha memperbaiki distribusi kelas Kebutuhan. Pendekatan ini dilakukan dengan cara mengubah nilai maksimum Kebutuhan, dimana nilai maksimum ini diperoleh dari batas atas kelas yang tidak mengandung outlier, sehingga diperoleh selisih kelas yang baru. Dengan demikian didapatkan pula batas atas dan batas bawah baru untuk tiap kelas. Setelah itu baru mengelompokkan Kabupaten/Kota ke dalam kelas yang bersesuaian. Jadi tiap Kabupaten/Kota diketahui masuk kelas berapa.
198. Dalam simulasi ini terlihat bahwa dengan pendekatan pertama hasil yang didapat cukup timpang. Untuk membentuk 15 kelas, range tiap kelas menjadi 581200,59. Dengan menggunakan range tersebut terlihat bahwa kabupaten yang berada pada kelas 7 hingga kelas 15 adalah outliers, karena dari sembilan kelas tersebut hanya diisi oleh 2 (dua) Kabupaten/Kota (lihat lampiran tabel 1.1 Pembagian Kelas Kebutuhan). Oleh karena itu diperlukan pendekatan kedua. Batas atas kelas 6 dijadikan nilai maksimum dalam penentuan range kelas. Range kelas yang baru adalah 232480,24 yang nilainya lebih kecil dari range sebelumnya. Dengan adanya penyesuaian tersebut bentuk distribusi yang baru sudah lebih baik.
199. Setelah diketahui batas bawah dan batas atas tiap kelas, tiap Kabupaten/Kota dimasukkan ke kelas yang sesuai dengan nilai estimasi Kebutuhan-nya. Misalkan terlihat di tabel berikut ini:
200. Dalam Tabel 1 berikut ini diberikan contoh pembagian kelas menurut kebutuhan. Tabel 1. Contoh Pembagian Kelas menurut Kebutuhan
Kabupaten Kebutuhan Kelas
Aceh Selatan Deli Serdang Manokwari 476428,58 783906,6 1802637 2 4 8
Kabupaten Aceh Selatan dengan nilai Kebutuhan sebesar 476428,58 termasuk kelas 2, karena kelas 2 memiliki range 247184,9 sampai 479665,1. Sedangkan Manokwari dikelompokkan ke dalam kelas 8, karena nilai Kebutuhan-nya berada di antara 1642066,4 dan 1874546,5 yang merupakan range kelas 8.
Pembagian kelas menurut potensi
201. Sama seperti pembagian kelas Kebutuhan, untuk membagi tiap Kabupaten/Kota ke dalam kelas-kelas berdasarkan potensi + BH, diperlukan informasi mengenai potensi dan bagi hasil tiap Kabupaten/Kota. Untuk menghitung potensi suatu daerah diperlukan perhitungan mengenai potensi pajak dan retribusi. Perhitungan potensi pajak dan retribusi ini telah dijelaskan dalam bagian sebelumnya. Setelah nilai potensi tiap Kabupaten/Kota diketahui, kemudian dijumlahkan dengan Bagi Hasil yang didapat tiap Kabupaten/Kota. Sehingga diperoleh potensi + BH tiap Kabupaten/Kota. Informasi ini digunakan untuk membagi kelas Potensi + BH.
202. Masih sama dengan dengan metode pembagian kelas Kebutuhan, pembagian kelas Potensi + BH dilakukan dengan dua pendekatan. Pendekatan I melihat distribusi frekuensi dan jika terdapat outlier, maka dilakukan pendekatan II. Setelah selesai pendekatan II, diperoleh informasi tiap Kabupaten/Kota termasuk kelas berapa.
203. Dari perhitungan terlihat bahwa dengan range sebesar 9455,034, Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 7 hingga kelas 15 dapat dianggap sebagai outlier, sehingga diperlukan penyesuaian. Dengan menentukan batas atas kelas 6 sebagai nilai maksimum, diperoleh range kelas baru sebesar 3782,02 yang jauh lebih kecil dari range kelas sebelumnya. Dari hasil ini terlihat distribusi yang lebih baik (lihat lampiran tabel 1.2 Pembagian Kelas Potensi + Bagi Hasil).
204. Setelah batas bawah dan batas atas tiap kelas diketahui, maka langkah selanjutnya memasukkan tiap Kabupaten/Kota ke dalam kelas yang sesuai dengan nilai potensi + bagi hasil-nya. Dapat dilihat dari contoh dibawah ini:
Tabel 2. Contoh Pembagian Kelas Menurut Potensi Kabupaten Potensi + BH Kelas Aceh Selatan Deli Serdang Manokwari 4995 24069 18254 2 7 5
Kabupaten Aceh Selatan termasuk kelas 2, karena nilai Potensi + BH-nya berada diantara batas bawah dan batas atas kelas 2, yaitu 3937,1 dan 7719. Sedangkan kabupaten Deli Serdang dengan nilai Potensi + BH sebesar 24069 berada diantara batas bawah dan batas atas kelas 7, yaitu 22847,1 dan 26629.
Perhitungan Pembagian DAU
205. Setelah diperoleh informasi kelas Kebutuhan dan Potensi + BH, maka langkah berikutnya adalah membagi DAU berdasarkan kelas-kelas yang ada. Terdapat beberapa karakteristik dalam pengalokasian DAU ke dalam suatu kelas.
206. Untuk Kelas Kebutuhan, semakin tinggi kelas (kelas tertinggi adalah kelas 15) akan memperoleh bagian DAU yang semakin besar pula. Perbedaan tiap kelas (dalam simulasi ini dipergunakan selisih 10%) harus cukup berarti (signifikan). Jadi bagian DAU yang diterima sebuah Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 2 adalah 10% lebih besar dari bagian DAU yang diterima Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 1.
207. Untuk Kelas Potensi + BH, semakin tinggi kelas (kelas tertinggi adalah kelas 15) akan memperoleh bagian DAU yang semakin kecil, dengan perbedaan tiap kelas sebesar 10%. Jadi bagian DAU yang diterima Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 2 adalah 10% lebih kecil dari bagian DAU yang diterima oleh Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 1.
208. Namun berapa besar bagian DAU yang harus dialokasikan kepada seluruh Kabupaten/Kota, tergantung kepada skenario yang digunakan. Dalam simulasi ini digunakan tiga buah skenario (dalam spreadsheet, bobot dalam sebuah skenario dapat diubah dengan mudah). Tiap skenario memiliki perbedaan dalam penentuan bagian alokasi untuk tiga faktor utama dalam pembagian DAU. Tiga faktor tersebut adalah Lumpsum, Kebutuhan dan Potensi + Bagi Hasil. Ketiga skenario tersebut adalah:
209. Skenario 1 : DAU = 30% (Lumpsum) + 35% (Kebutuhan) + 35% (Potensi + Bagi Hasil)
210. Skenario 2: DAU = 20% (Lumpsum) + 50% (Kebutuhan) + 30% (Potensi + Bagi Hasil)
211. Skenario 3: DAU = 20% (Lumpsum) + 30% (Kebutuhan) + 50% (Potensi + Bagi Hasil).
212. Jadi, misalkan total DAU yang tersedia yang siap untuk didistribusikan adalah sebesar 4,5 triliun. Untuk skenario 1, 30% dari 4,5 triliun (1,35 triliun) akan didistribusikan secara merata kepada tiap Kabupaten/Kota. Bagian DAU sebesar 1,575 triliun (35% dari 4,5 triliun) akan didistribusikan kepada tiap Kabupaten/Kota berdasarkan kelas Kebutuhan. Begitu pula dengan sisa sebesar 1,575 triliun akan didistribusikan berdasarkan kelas Potensi + BH. Berapa besar alokasi DAU untuk tiap kelas Kebutuhan dapat dilihat pada lampiran tabel 1.1.
Tabel 3.1. Contoh Alokasi DAU Berdasarkan Skenario 1 menurut kebutuhan daerah
Kelas
Kebutuhan DAU Kabupaten/Kota yang diterima 1 2 3 44.878.933.705 49.366.827.075 54.303.509.783
213. Setiap Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 1 akan menerima bagian DAU masing-masing sebesar 44,879 milyar. Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 2 akan menerima bagian DAU sebesar 49,366 milyar, yang nilainya lebih tinggi 10% dari bagian DAU yang diterima oleh Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 1. Misalkan, kabupaten Aceh Selatan yang berada pada kelas Kebutuhan 2, maka kabupaten tersebut akan menerima bagian DAU sebesar 49,366 milyar.
214. Contoh pembagian DAU berdasarkan kelas Potensi + BH dapat dilihat di bawah ini (untuk mengetahui alokasi tiap kelas Potensi + BH dapat dilihat pada lampiran tabel 1.2):
Tabel 3.2. Contoh Alokasi DAU Berdasarkan Skenario 1 menurut Potensi Daerah
Kelas Kebutuhan
DAU yang diterima Kabupaten/Kota 1 2 3 66.465.543.211 60.423.221.101 54.930.201.001
Setiap Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 1 akan menerima bagian DAU masing-masing sebesar 66,465 milyar. Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 2 akan menerima bagian DAU sebesar 60,423 milyar, yang nilainya lebih rendah 10% dari bagian DAU yang diterima oleh Kabupaten/Kota yang berada pada kelas 1. Dari contoh sebelumnya terlihat bahwa kabupaten Aceh Selatan berada pada kelas Potensi + BH 2. Maka Aceh Selatan akan mendapat alokasi DAU sebesar 60,423 milyar.
215. Dengan diketahuinya alokasi DAU yang diterima tiap Kabupaten/Kota berdasarkan Kebutuhan dan Potensi + BH, maka diketahui pula total DAU yang diterima oleh sebuah Kabupaten/Kota berdasarkan skenario tertentu. Perhitungan tersebut dapat dilihat melalui tabel contoh di bawah ini.
Tabel 3.3 Contoh Total Alokasi DAU berdasarkan Skenario 1. Kabupaten Lumpsum (000) KebutuKelas han Kebutuhan (000) Potensi Kelas + BH Potensi + BH (000) Total (000) Aceh Selatan Deli Serdang Manokwari 45.918.367 45.918.367 45.918.367 2 4 8 49.366.827 59.733.860 87.456.345 2 7 5 60.423.221 37.518.066 45.396.860 155.708.415 143.170.294 178.771.573
Total Alokasi DAU yang diterima oleh kabupaten Aceh Selatan adalah 155,708 milyar, yang berasal dari 45,918 milyar bagian dari alokasi Lumpsum ditambah 49,366 milyar yang merupakan bagian dari alokasi berdasarkan Kebutuhan, ditambah lagi dengan 60,423 milyar yang merupakan bagian dari alokasi berdasarkan Potensi + Bagi Hasil. Begitu pula dengan total DAU yang diterima kabupaten Deli Serdang dan Manokwari. Untuk mengetahui alokasi DAU yang diterima setiap Kabupaten/Kota yang termasuk dalam simulasi ini dapat dilihat pada lampiran tabel 2.1 untuk skenario 1, tabel 3.1 untuk skenario 2. Sedangkan skenario 3 dapat dilihat pada tabel 4.1.