• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 4 ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.4. Hasil Perhitungan Kadar Aspal Optimum …

Hasil pengujian marshall meliputi nilai stabilitas, flow, porositas, densitas dan marshall quotient. Rekapitulasi hasil dari nilai tersebut dapat dilihat di tabel 4.9 Dari data-data nilai masing-masing di tampilkan juga dengan grafik hubungan antara kadar aspal dengan densitas, porositas, stabilitas, flow dan Marshall Quotient. Setiap grafik dibuat garis batas-batas persyaratan.

commit to user Vulkanik terhadap Stabilitas

Grafik hubungan antara stabilitas dengan kadar aspal pada campuran HRS kadar filler abu vulkanik dapat dilihat padaGambar 4.1.

Gambar 4.1. Grafik Hubungan Kadar Aspal dengan Stabilitas menggunakan Filler Abu Vulkanik Merapi

Stabilitas adalah kemampuan lapisan perkerasan menerima beban yang bekerja tanpa perubahan bentuk. Nilai stabilitas juga menunjukkan besarnya kemampuan perkerasan untuk menahan deformasi akibat beban lalu lintas yang bekerja. Dari nilai stabilitas yang didapat dari berbagai campuran kadar aspal dan variasi kadar filler abu vulkanik diatas menunjukan bahwa dengan penambahan kadar aspal akan menaikkan nilai stabilitasnya namun stabilitas akan turun jika sudah mencapai nilai kadar aspal optimum dan akan terus menurun seiring penambahan kadar aspal hal ini dikarenakan campuran yang mengandung kadar aspal yang berlebih akan mengalami bleeding sehingga kemampuan perkerasan jalan dalam menerima beban lalu lintas akan turun.

y = -1172.x2+ 16320x - 56107 R² = 0.910 y = -1013.x2+ 14132x - 48544 R² = 0.833 y = -1035.x2+ 14448x - 49626 R² = 0.792 y = -998x2+ 13949x - 47962 R² = 0.714 y = -1009.x2+ 14134x - 48684 R² = 0.749 300 400 500 600 700 800 900 6.5 6.75 7 7.25 7.5 S tab il itas (k g ) Kadar Aspal (%) Abu Vulkanik 0% Abu Vulkanik 25% Abu Vulkanik 50% Abu Vulkanik 75% Abu Vulkanik 100%

commit to user

Contoh perhitungan regresi polynomial untuk kadar campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% adalah sebagai berikut :

y = -1172x2 + 16320x - 56107 y2 = 0

0 = -2344 x + 16320 2234 x = 16320 X = 6,96 %

Jadi kadar aspal optimum adalah 6,96 % dari berat total campuran. y = -1172x2 + 16320x - 56107

Stabilitas = -1172 (6,96)2 + 16320 (6,96) – 56107 = 706,65 kg

Untuk kadar aspal optimum pada campuran aspal dengan menggunakan filler abu vulkanik dan nilai Marshall properties yang lain dihitung seperti contoh diatas dan dapat dilihat Tabel 4.26. Sehingga diperoleh kadar aspal optimum untuk campuran dengan kadar filler abu vulkanik 0% terletak pada 6,96 %, untuk campuran dengan kadar filler abu vulkanik 25% terletak pada 6,98 %, untuk campuran dengan kadar filler abu vulkanik 500% terletak pada 6,98 %, untuk campuran dengan kadar filler abu vulkanik 75% terletak pada 6,99 %, untuk campuran dengan kadar filler abu vulkanik 100% terletak pada 7,00 %.

Dari Gambar 4.3 di atas menunjukkan bahwa penggunaan perbedaan campuran aspal memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap nilai stabilitas campuran. Dengan memasukkan nilai kadar aspal optimum sebesar 6,96% ; 6,98% ; 6,98% ; 6,99% dan 7,00% diperoleh nilai stabilitas untuk campuran HRS-WC menggunakan filler abu vulkanik 0% mempunyai nilai stabilitas yang kecil yaitu sebesar 706,65 kg, sedangkan untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 25% mempunyai nilai stabilitas yang lebih besar yaitu sebesar 743,62 kg, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 50% mempunyai nilai stabilitas sebesar 795,43 kg, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 75% mempunyai nilai stabilitas sebesar 779,13 kg, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 100%

commit to user

vulkanik maka nilai stabilitas akan semakin naik. Spesifikasi Bina Marga untuk stabilitas adalah minimal 800 kg. Berdasarkan spesifikasi tersebut maka nilai stabilitas untuk campuran dengan kadar abu vulkanik 100% memenuhi syarat Bina Marga sehingga penggantian abu batu dengan abu vulkanik dapat digunakan. Dibandingkan dengan penelitian sebelumnya oleh Jamil A. Naji dan Ibrahim M. Asi dengan menggunakan filler abu vulkanik di Yaman, didapat bahwa hanya dengan penggantian kadar filler sebesar 10 % telah mencapai hasil yang optimal. Perbedaan kadar filler yang sangat mencolok pada kedua penelitian di atas disebabkan karena perbedaan keadaan alam pada kedua daerah asal penghasil abu vulkanik. Penelitian yang pertama, abu vulkanik yang digunakan adalah abu vulkanik yang berasal dari pegunungan di Yaman. Iklim yang cukup ekstrim dibandingkan dengan di Indonesia akan mempengaruhi keadaan alam sehingga menyebabkan perbedaan unsur pembentuk (kandungan kimia) abu vulkanik. Hal ini bisa saja disebabkan karena kandungan silika abu vulkanik Yaman lebih besar daripada abu vulkanik Merapi. Sehingga hanya dengan kadar 10% saja sudah memberikan hasil yang optimal dibanding pada penelitian ini.

commit to user Vulkanik terhadap Flow

Grafik hubungan antara flow dengan kadar aspal pada campuran HRS kadar filler abu vulkanik dapat dilihat padaGambar 4.2.

Gambar 4.2. Grafik Hubungan Kadar Aspal dengan Flow menggunakan Filler Abu Vulkanik Merapi

Nilai flow menyatakan besarnya deformasi yang terjadi pada suatu lapis keras akibat beban lalu lintas. Suatu campuran dengan nilai flow tinggi akan cenderung lembek, sehingga mudah berubah bentuk jika menerima beban. Sebaliknya jika nilai flow rendah maka campuran menjadi kaku dan mudah retak jika menerima beban yang melampaui daya dukungnya. Nilai flow dipengaruhi beberapa faktor, yaitu kadar aspal, penetrasi aspal, suhu, gradasi dan jumlah pemadatan. Dari nilai flow yang didapat dari berbagai campuran kadar aspal dengan variasi kadar filler abu vulkanik di atas menunjukan bahwa dengan penambahan kadar aspal akan menaikan nilai kelelehannya, besarnya kenaikan nilai kelelehan itu sendiri seiring dengan besarnya kadar aspal yang ditambahkan semakin besar kadar aspal maka semakin besar nilai kelelehannya.

y = 0.84x - 1.36 R² = 0.853 y = 0.993x - 2.236 R² = 0.886 y = 0.906x - 1.46 R² = 0.887 y = 0.92x - 1.426 R² = 0.892 y = 1.2x - 3.346 R² = 0.898 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 5.50 6.00 6.5 6.75 7 7.25 7.5 Fl o w (m m ) Kadar Aspal (%) Abu Vulkanik 0% Abu Vulkanik 25% Abu Vulkanik 50% Abu Vulkanik 75% Abu Vulkanik 100%

commit to user

menggunakan filler abu vulkanik 0% adalah sebagai berikut : y = 0,84x - 136

dengan memasukkan nilai OBC yang telah didapat dari perhitungan sebelumnya pada campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% sebesar 6,96%, maka :

y = 0,84x – 136

Flow = 0,84 (6,96) – 136 = 4,49 mm

Dengan memasukkan nilai kadar aspal optimum sebesar 6,96% ; 6,98% ; 6,98% ; 6,99% dan 7,00% diperoleh nilai flow untuk campuran HRS-WC menggunakan filler abu vulkanik 0% mempunyai nilai flow yang kecil yaitu sebesar 4,49 mm, sedangkan untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 25% mempunyai nilai flow yang lebih besar yaitu sebesar 4,69 mm, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 50% mempunyai nilai flowsebesar 4,86 mm, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 75% mempunyai nilai flow sebesar 5,00 mm, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 100% mempunyai nilai flow sebesar 5,06 mm. Semakin tinggi kadar filler abu vulkanik maka nilai flow akan semakin naik. Hal ini dikarenakan dengan penambahan kadar aspal dengan variasi kadar filler abu vulkanik menyebabkan campuran cenderung lembek, sehingga tingkat kekerasan aspal menjadi kecil dan bersifat elastis. Campuran aspal dengan variasi kadar filler abu vulkanik juga memiliki titik lembek yang semakin rendah. Ini berarti keelastisan aspal semakin meningkat, sehingga memungkinkan terjadinya deformasi. Spesifikasi Bina Marga untuk flow adalah minimal 3 mm. Berdasarkan spesifikasi tersebut maka nilai flow untuk campuran dengan berbagai kadar abu vulkanik memenuhi syarat Bina Marga sehingga penggantian abu batu dengan abu vulkanik dapat digunakan.

commit to user Vulkanik terhadap Densitas

Grafik hubungan antara densitas dengan kadar aspal pada campuran HRS kadar filler abu vulkanik dapat dilihat padaGambar 4.3.

Gambar 4.3. Grafik Hubungan Kadar Aspal dengan Densitas menggunakan Filler Abu Vulkanik Merapi

Nilai kepadatan (densitas) menunjukkan besarnya derajad kepadatan suatu campuran yang telah dipadatkan. Campuran dengan nilai densitas yang tinggi akan mampu menahan beban yang lebih besar jika dibandingkan dengan campuran dengan nilai densitasnya lebih kecil. Dari nilai densitas yang didapat dari berbagai campuran kadar aspal dengan variasi filler abu vulkanik diatas menunjukan bahwa dengan penambahan kadar aspal akan menaikan nilai kepadatannya , besarnya kenaikan nilai kepadatan itu sendiri seiring dengan besarnya kadar aspal yang ditambahkan. Semakin besar kadar aspal maka semakin besar nilai kepadatannya.

Contoh perhitungan regresi linier untuk kadar campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% adalah sebagai berikut :

y = 0,010x +2,198 y = 0.010x + 2.198 R² = 0.398 y = 0.009x + 2.212 R² = 0.306 y = 0.015x + 2.185 R² = 0.559 y = 0.009x + 2.242 R² = 0.861 y = 0.019x + 2.189 R² = 0.637 2.25 2.26 2.27 2.28 2.29 2.30 2.31 2.32 2.33 2.34 2.35 6.5 6.75 7 7.25 7.5 D e n si tas (gr /c c) Kadar Aspal (%) Abu Vulkanik 0% Abu Vulkanik 25% Abu Vulkanik 50% Abu Vulkanik 75% Abu Vulkanik 100%

commit to user

pada campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% sebesar 6,96%, maka :

y = 0,010x +2,198

Porositas = 0,010 (6,96) +2,198 = 2,27%

Dengan memasukkan nilai kadar aspal optimum sebesar 6,96% ; 6,98% ; 6,98% ; 6,99% dan 7,00% diperoleh nilai densitas untuk campuran HRS-WC menggunakan filler abu vulkanik 0% mempunyai nilai densitas yang besar yaitu sebesar 2,27%, sedangkan untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 25% mempunyai nilai densitas yang lebih besar yaitu sebesar 2,27%, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 50% mempunyai nilai densitas s sebesar 2,29%, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 75% mempunyai nilai densitas sebesar 2,30%, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 100% mempunyai nilai densitas sebesar 2,32%.

Penggunaan perbedaan campuran kadar aspal dan kadar filler abu vulkanik memberikan pengaruh terhadap nilai densitas yaitu nilai densitas semakin naik seiring bertambahnya campuran kadar aspal dan kadar filler abu vulkanik. Campuran HRS pada kadar aspal optimum menggunakan kadar filler abu vulkanik 100% mempunyai nilai densitas yang paling tinggi, sedangkan untuk campuran HRS yang menggunakan kadar filler abu vulkanik 25%, 50%, 75%, dan 100% mempunyai nilai densitas yang semakin rendah. Hal ini dikarenakan campuran aspal menjadi encer dan menyebabkan gaya adhesi antar batuan dengan aspal menjadi berkurang. Akibatnya ikatan menjadi renggang dan menyebabkan campuran kurang merata dan rongga yang terjadi dalam campuran semakin besar, sehingga campuran HRS dengan menggunakan filler abu vulkanik memiliki tingkat kepadatan yang kurang baik.

Spesifikasi porositas menurut DPU, 2005 adalah minimal 2 gr/cc. Nilai densitas untuk semua campuran dengan kadar variasi kadar aspal dan filler abu vulkanik memenuhi syarat DPU, 2005.

commit to user Vulkanik terhadap Porositas

Grafik hubungan antara porositas dengan kadar aspal pada campuran HRS kadar filler abu vulkanik dapat dilihat padaGambar 4.4.

Gambar 4.4. Grafik Hubungan Kadar Aspal dengan Porositas menggunakan Filler Abu Vulkanik Merapi

Porositas adalah prosentase pori atau rongga udara yang terdapat dalam suatu campuran. Nilai porositas juga menunjukkan banyaknya rongga yang terdapat dalam campuran. Dari nilai porositas yang didapat dari berbagai campuran kadar aspal dengan variasi kadar filler abu vulkanik diatas menunjukan bahwa dengan penambahan kadar aspal akan menurunkan nilai porositas, penurunan nilai porositas itu sendiri akan turun seiring dengan besarnya kadar aspal yang ditambahkan. Semakin besar kadar aspal maka semakin kecil nilai porositasnya. Contoh perhitungan regresi linier untuk kadar campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% adalah sebagai berikut :

y = -1.786x + 18.46 R² = 0.920 y = -1.772x + 18.15 R² = 0.894 y = -2.001x + 19.52 R² = 0.929 y = -1.757x + 17.46 R² = 0.993 y = -2.181x + 19.95 R² = 0.931 2.5 3.0 3.5 4.0 4.5 5.0 5.5 6.0 6.5 7.0 7.5 8.0 6.5 6.75 7 7.25 7.5 Por o si tas (% ) Kadar Aspal (%) Abu Vulkanik 0% Abu Vulkanik 25% Abu Vulkanik 50% Abu Vulkanik 75% Abu Vulkanik 0% Linear (Abu Vulkanik 0%) Linear (Abu Vulkanik 25%) Linear (Abu Vulkanik 50%) Linear (Abu Vulkanik 75%) Linear (Abu Vulkanik 0%) Abu Vulkanik 100%

commit to user

dengan memasukkan nilai OBC yang telah didapat dari perhitungan sebelumnya pada campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% sebesar 6,96%, maka :

y = -1,786x – 18,46

Porositas = -1,786 (6,96) – 18,46 = 6,03%

Dengan memasukkan nilai kadar aspal optimum sebesar 6,96% ; 6,98% ; 6,98% ; 6,99% dan 7,00% diperoleh nilai porositas untuk campuran HRS-WC menggunakan filler abu vulkanik 0% mempunyai nilai porositas yang besar yaitu sebesar 6,03%, sedangkan untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 25% mempunyai nilai porositas yang lebih besar yaitu sebesar 5,79%, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 50% mempunyai nilai porositas sebesar 5,55%, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 75% mempunyai nilai porositas sebesar 5,18%, untuk campuran HRS-WC yang menggunakan filler abu vulkanik 100% mempunyai nilai porositas sebesar 4,67%.

Penggunaan kadar aspal dengan variasi kadar filler abu vulkanik yang berbeda dalam campuran sangat berpengaruh terhadap nilai porositas dari suatu campuran itu sendiri. Semakin tinggi kadar aspal dengan variasi kadar filler abu vulkanik semakin tinggi pula nilai porositasnya. Untuk campuran HRS menggunakan campuran aspal dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% mempunyai nilai porositas yang paling tinggi, sedangkan untuk campuran HRS yang menggunakan campuran aspal dengan menggunakan filler abu vulkanik 25%, 50%, 75%, dan 100%, mempunyai nilai porositas semakin rendah.

Spesifikasi porositas menurut DPU, 2005 adalah minimal 3% dan maksimal 6%. Nilai porositas untuk semua campuran dengan kadar variasi kadar aspal dan filler abu vulkanik memenuhi syarat DPU, 2005 kecuali pada kadar filler abu vulkanik 0%. Hal ini dapat terjadi karena pada HRS menggunakan agregat gap-graded, dimana dalam gradasi tersebut mempunyai kecenderungan mengarah pada kondisi memiliki rongga udara yang lumayan besar disebabkan karena adanya

commit to user

juga menjadi besar. Disamping itu juga dalam penggunaan kadar aspal yang tinggi menyebabkan campuran menjadi encer sehingga menyebabkan berkurangnya gaya adhesi antar batuan dengan aspal. berarti banyak rongga yang terjadi dalam campuran tersebut yang kemungkinan disebabkan oleh agregat kasar yang saling interconnected dan pecah karena proses pemadatan yang tidak sempurna. Sehingga campuran akan kurang kedap terhadap udara dan air. Adanya pori-pori ataupun celah pada perkerasan HRS memungkinkan air masuk ke dalam perkerasan. Akibatnya ikatan menjadi renggang dan menimbulkan pori-pori di sela ikatan tersebut sehingga semakin mudahnya selimut aspal beroksidasi dengan udara dan menjadi getas dan durabilitas menurun.

commit to user

4.4.5. Pengaruh Variasi Campuran Kadar Aspal dan Kadar Filler Abu Vulkanik terhadap Marshall Quotient

Gambar 4.5. Grafik Hubungan Kadar Aspal dengan Marshall Quotient menggunakan Filler Abu Vulkanik Merapi

Contoh perhitungan regresi polynomial untuk kadar campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% adalah sebagai berikut :

y = -225.1x2 + 3112x - 10598

dengan memasukkan nilai OBC yang telah didapat dari perhitungan sebelumnya pada campuran aspal 6,5% dengan menggunakan filler abu vulkanik 0% sebesar 6,96%, maka : y = -225.1x2 + 3112x - 10598 MQ = -225.1 (6,96)2 + 3112 (6,96) -10598 = 157,82 kg/mm y = -225.1x2+ 3112x - 10598 R² = 0.917 y = -183.1x2+ 2527.x - 8562. R² = 0.833 y = -182.4x2+ 2519.x - 8544. R² = 0.809 y = -182.3x2+ 2522.x - 8567. R² = 0.707 y = -151x2+ 2078.x - 6992. R² = 0.767 80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180 6.4 6.6 6.8 7 7.2 7.4 7.6 Abu Vulkanik 0% Abu Vulaknik 25% Abu Vulkanik 50% Abu Vulkanik 75% Abu Vulkanik 100% Poly. (Abu Vulkanik 0%) Poly. (Abu Vulaknik 25%) Poly. (Abu Vulkanik 50%) Poly. (Abu Vulkanik 75%) Poly. (Abu Vulkanik 100%)

commit to user

yang digunakan sebagai pendekatan terhadap tingkat kekakuan atau fleksibilitas campuran. Nilai Marshall Quotient yang tinggi menunjukkan kekakuan dari perkerasan dan berakibat mudah timbul retak - retak (cracking). Sebaliknya jika nilai Marshall Quotient yang rendah menunjukkan campuran terlalu plastis/fleksibel yang akan berakibat perkerasan mudah mengalami deformasi pada waktu menerima beban lalu – lintas. Dari nilai MQ yang didapat dari berbagai campuran kadar aspal dengan variasi kadar abu vulkanik diatas menunjukan bahwa dengan penambahan kadar aspal akan menaikan nilai MQ nya namun MQ akan turun jika sudah mencapai nilai kadar aspal optimum dan akan terus menurun seiring penambahan kadar aspal.

Penggantian filler abu vulkanik pada campuran HRS menyebabkan Marshall Quotientnya semakin rendah. Untuk campuran HRS pada kadar aspal optimum menggunakan abu vulkanik 100% mempunyai nilai MQ yang paling tinggi, sedangkan untuk campuran HRS yang menggunakan kadar filler 0%, 25%, 50% dan 75% mempunyai nilai MQ yang semakin rendah . Hal ini dikarenakan penggantian filler menggunakan abu vulkanik membuat campuran menjadi lembek sehingga mudah mengalami deformasi.

commit to user

menggunakan Filler Abu Vulkanik dengan Parameter

Marshall

Untuk nilai Marshall properties yang lain dihitung seperti contoh diatas dan dapat dilihat Tabel 4.54

Tabel 4.55 Hasil Uji Marshall HRS-WC dengan Pengganti Filler Abu Vulkanik

Kadar Campuran KAO Stabilitas Flow Porositas Densitas Marshall Quotient ( % ) ( Kg ) ( mm ) ( % ) ( gr/ cm³) ( kg/mm ) Abu Vulkanik 0% 6.962 706.652 4.488 6.025 2.268 157.82 Abu Vulkanik 25% 6.975 743.617 4.690 5.790 2.275 156.91 Abu Vulkanik 50% 6.980 795.426 4.864 5.554 2.290 153.04 Abu Vulkanik 75% 6.988 779.133 5.003 5.181 2.305 155.55 Abu Vulkanik 100% 7.004 813.016 5.059 4.674 2.322 157.15 Batas DPU 2005 ﺕ800 ﺕ3 3-6 ﺕ2 ﺕ250

Dari tabel spesifikasi di atas dapat diketahui bahwa nilai karakteristik Marshall untuk kadar abu vulkanik 100% masih memenuhi persyaratan sesuai Spesifikasi Umum Bidang Jalan dan Jembatan, DPU 2005, kecuali pada parameter Marshall Quotient.

commit to user

96

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan

Dari hasil penelitian penggantian filler menggunakan abu vulkanik Merapi maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dari hasil pengujian dan pemeriksaan kandungan kimia dan berat jenis abu vulkanik, didapat hasil dalam 3 kategori kandungan, yaitu: SiO2+Al2O3+Fe2O3 sebesar 89,2105% > 70% (batas), MgO sebesar 0,4297% < 5% (batas), dan H2O sebesar 0,2749% < 3% (batas). Abu vulkanik Merapi mempunyai berat jenis sebesar 3,021 kg/L > 2,75 kg/L serta lolos saringan 200. Sehingga telah memenuhi syarat sebagai filler.

2. Penggantian filler abu vulkanik Merapi pada perkerasan HRS-WC tidak menyebabkan perubahan nilai karakteristik Marshall kecuali pada parameter stabilitas dengan kadar aspal 7,5%.

3. Kadar filler abu vulkanik sebesar 100% dengan kadar aspal optimum 7,0% merupakan campuran yang paling optimal pada HRS-WC. Ditinjau dari karakteristik Marshall pada kondisi KAO, campuran tersebut memenuhi spesifikasi DPU 2005, kecuali pada nilai Marshall Quotient-nya (MQ). Dengan nilai stabilitas 81γ,016 kg ≥ 800 kg (batas), nilai flow 5,059 mm ≥ γ mm (batas), nilai densitas 2,322 gr/cm3≥ β gr/cm3

(batas), dan nilai porositas 4,674% dengan batas 3-6%. Sementara nilai Marshall Quotient yang didapat sebesar 1γγ,870 kg/mm, sedangkan batas syarat yang memenuhi ≥ β50 kg/mm.

5.2. Saran

1. Perlu dikembangkan suatu penelitian dengan penggunaan kadar filler abu vulkanik dengan variasi lain, misal : abu vulkanik-abu sekam padi

commit to user

HRS-WC dengan variasi kadar abu vulkanik Merapi sebagai filler pada jenis perkerasan lainnya selain perkerasan HRS-WC.

Dokumen terkait