• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

D. Hasil Perlakuan Pada Hewan Uji

Penelitian pengaruh penambahan virgin coconut oil (VCO) pada perasan daging buah makuto dewo (Phaleria macrocapa(Scheff.) Boerl.) kajian terhadap efek anti-inflamasi adalah untuk mengetahui apakah kombinasi VCO dan perasan daging buah makuto dewo mempunyai efek anti-inflamasi atau tidak dan untuk mengetahui besarnya penambahan VCO yang efektif dalam kajian anti-inflamasi. Selain itu, dalam penelitian ini sekaligus juga untuk mengetahui apakah VCO dan makuto dewa masing-masing memiliki efek inflamasi atau tidak. Efek anti-inflamasi dalam penelitian yang menggunakan metode induksi udema oleh Langford, Holmes, dan Emele yang telah dimodifikasi ini ditandai dengan penurunan bobot udema pada telapak kaki mencit yang telah disuntik dengan karagenin 1% subplantar akibat pemberian campuran VCO dan perasan daging buah makuto dewo secara peroral.

Metode induksi udema oleh karagenin adalah metode standar dan sangat umum digunakan untuk menguji efek anti-inflamasi akut. Metode ini banyak digunakan karena sederhana dan murah dari segi peralatan, bahan, dan cara kerjanya (Jain dkk, 2001). Data yang diperoleh adalah bobot telapak kaki mencit yang diberi injeksi karagenin 1% subplantar dikurangi dengan bobot telapak kaki mencit yang diberi perlakuan campuran VCO dan makuto dewo sebelum injeksi karagenin 1% subplantar.

Karagenin 1% digunakan sebagai zat penginduksi udema pada telapak kaki mencit karena karagenin merupakan salah satu zat iritan atau penginduksi udema yang sering digunakan untuk memprediksi efektivitas potensial terapeutik

dari obat-obat anti-inflamasi, baik dari golongan steroid maupun nonsteroid. Karagenin memberikan udema yang reproduksibel. Selain itu, karagenin juga tidak menimbulkan kerusakan pada jaringan (Jain et al., 2001), tidak menimbulkan bekas serta memberikan respon yang lebih peka terhadap anti-inflamasi dibandingkan senyawa lain. Udema yang diinduksi karagenin menunjukkan respon dua fase. Fase pertama diperantarai melalui pelepasan histamin, serotonin, dan bradikinin. Sedangkan fase kedua berhubungan dengan pelepasan prostaglandin dan neutrofil yang menghasilkan radikal bebas, seperti hidrogen peroksida, superoksida, dan radikal hidroksil (Suleyman dkk, 2004).

Aquadest merupakan pelarut dari natrium diklofenak dan sediaan yang diberikan adalah perasan daging buah makuto dewo. Kontrol aquadest diperlukan untuk mengetahui apakah aquadest memiliki efek anti-inflamasi yang berpengaruh terhadap efek anti-inflamasi sediaan yang diteliti. Natrium diklofenak digunakan sebagai kontrol karena memiliki aktifitas yang besar sebagai anti-inflamasi dan memiliki efek samping yang rendah dibanding OAINS lainnya.

Data bobot udema kaki mencit yang dihasilkan akibat injeksi karagenin 1% subplantar pada kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dapat dilihat pada lampiran 12. Data rata-rata bobot udema telapak kaki mencit akibat karagenin 1% subplantar dari tiap kelompok kontrol dan perlakuan disajikan pada tabel X dan grafiknya dapat dilihat pada gambar 11.

59

Tabel X. Rata-rata bobot udema telapak kaki mencit akibat karagenin 1% subplantar pada kelompok kontrol dan perlakuan

Kelompok Rata-rata bobot udema kaki mencit (mg) ± SE Karagenin 25 mg/kg BB 81,14 ± 1,62 Aquadest 25 g/kg BB 77,83 ± 1,18 Diklofenak 4,48 mg/kg BB 36,03 ± 2,12 Makuto Dewo 107,19 ± 6,42 VCO 52,71 ± 0,74

Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/4 66,06 ± 2,35 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/2 61,36 ± 2,28 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1 60,26 ± 2,61 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:2 59,94 ± 0,58 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4 46,41 ± 2,12

Dari dari tabel X dan gambar 11 dapat dikatakan bahwa aquadest tidak menghambat udema yang diakibatkan oleh karagenin 1% subplantar karena rata-rata bobot udema kelompok kontrol aquadest tidak berbeda jauh dengan kelompok kontrol karagenin. Jadi, aquadest tidak memiliki efek anti-inflamasi. Dapat dilihat juga bahwa kontrol perasan daging buah makuto dewo memberikan rata-rata bobot udema yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata bobot udema kelompok karagenin. Dapat disimpulkan bahwa perasan daging buah makuto dewo merupakan peradang yang lebih tinggi daripada karagenin. Sedangkan untuk kelompok perlakuan lainnya memiliki efek anti-inflamasi. Hal ini diketahui dengan adanya penurunan bobot udema telapak kaki mencit setelah diberi perlakuan.

0 20 40 60 80 100 120 rata-rata bobot udema (mg) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 kelompok

Gambar 11. Grafik rata-rata bobot udema telapak kaki mencit akibat karagenin 1% subplantar pada kelompok kontrol dan perlakuan

Keterangan:

1 = kelompok kontrol karagenin 2 = kelompok kontrol aquadest

3 = kelompok kontrol natrium diklofenak 4 = kelompok kontrol makuto dewo 5 = kelompok kontrol VCO

6 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/4

7 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/2

8 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1

9 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:2

10 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4

Dari data rata-rata bobot udema setiap kelompok dapat dihitung efek anti-inflamasinya. Rata-rata efek anti-inflamasi kelompok kontrol dan perlakuan disajikan pada tabel XI dan grafik efek anti-inflamasinya dapat dilihat pada gambar 12.

61

Tabel XI. Rata-rata efek anti-inflamasi pada kelompok kontrol dan perlakuan

Kelompok Efek anti-inflamasi (%) ± SE

Karagenin 25 mg/kg BB 0.00 ± 2.00

Aquadest 25 g/kg BB 4,03 ± 1,46

Diklofenak 4,48 mg/kg BB 55,58 ± 2,61

Makuto Dewo -32.16 ± 7.92

VCO 35,00 ± 0.92

Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/4 18,55 ± 2,90 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/2 24,34 ± 2,81 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1 25,70 ± 3,22 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:2 26,09 ± 0,68 Kombinasi perasan daging buah makuto

dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4 42,77 ± 2,61

Dari tabel XI dapat dilihat bahwa kelompok kontrol makuto dewo memiliki efek anti-inflamasi negatif. Dari gambar 12 juga ditunjukkan bahwa kelompok kontrol makuto dewo memiliki diagram batang yang berbeda dari kelompok lainnya, dimana arahnya menuju ke bawah. Hal ini menunjukkan bahwa perasan daging buah makuto dewo memiliki efek inflamasi yang lebih besar daripada karagenin. Karagenin dalam penelitian ini merupakan zat pembuat radang dan digunakan sebagai kontrol. Efek anti-inflamasi dihitung dengan menggunakan rumus dari metode Langford dkk., dimana karagenin merupakan zat yang memberikan efek anti-inflamasi sebesar nol. Dari hasil perhitungan, efek anti-inflamasi dari perasan daging buah makuto dewo memberikan nilai negatif, sehingga dapat disimpulkan bahwa makuto dewo memiliki kemampuan membuat radang lebih besar daripada karagenin.

-40 -30 -20 -10 0 10 20 30 40 50 60 efek anti-inflamasi (%) 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 kelompok

Gambar 12. Grafik rata-rata efek anti-inflamasi pada kelompok kontrol dan perlakuan Keterangan:

1 = kelompok kontrol karagenin 2 = kelompok kontrol aquadest

3 = kelompok kontrol natrium diklofenak 4 = kelompok kontrol makuto dewo 5 = kelompok kontrol VCO

6 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/4

7 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/2

8 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1

9 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:2

10 = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4

Efek anti-inflamasi pada setiap kelompok kemudian dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov. Hasil analisis tersebut menyatakan bahwa data terdistribusi secara normal. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan efek anti-inflamasi dari setiap kelompok maka dilakukan uji Anova Satu Arah. Hasil uji Anova Satu Arah dapat dilihat pada tabel XII.

63

Tabel XII. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah efek anti-inflamasi kelompok kontrol dan perlakuan

Keterangan DF F Probabilitas (p)

Efek anti-inflamasi

antarkelompok perlakuan 9 55,084 0,000

Hasil uji Anova Satu Arah menyatakan bahwa p < 0,05 sehingga dapat disimpulkan ada perbedaan efek anti-inflamasi antar kelompok. Analisis dilanjutkan dengan uji Scheffe untuk melihat apakah perbedaan tersebut bermakna atau tidak bermakna. Hasil uji Scheffe dapat dilihat pada tabel XIII.

Tabel XIII. Rangkuman hasil uji Scheffe efek anti-inflamasi kelompok kontrol dan perlakuan

Dibandingkan dengan kelompok Kelp.

I II III IV V VI VII VIII IX X

I - TB B B B TB B B B B II TB - B B B TB B B B B III B B - B B B B B B TB IV B B B - B B B B B B V B B B B - TB TB TB TB TB VI TB TB B B TB - B B B TB VII B B B B TB TB - TB TB TB VIII B B B B TB TB TB - TB TB IX B B B B TB TB TB TB - TB X B B TB B TB B TB TB TB -Keterangan:

I = kelompok kontrol karagenin II = kelompok kontrol aquadest

III = kelompok kontrol natrium diklofenak IV = kelompok kontrol makuto dewo V = kelompok kontrol VCO

VI = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/4

VII = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/2

VIII= kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1

IX = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:2

X = kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4

B = berbeda bermakna (p < 0,05) TB = berbeda tidak bermakna (p > 0,05)

Dari tabel XIII dapat dilihat bahwa kontrol karagenin (kelompok I) efek anti-inflamasinya tidak bermakna dengan kontrol aquadest (kelompok II) dan dengan kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1: 1/4 (kelompok VI). Dapat disimpulkan bahwa aquadest dan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1: 1/4 tidak memiliki efek anti-inflamasi. Aquadest tidak memberikan pengaruh efek anti-inflamasi sehingga dapat digunakan sebagai pelarut. Sedangkan kelompok lainnya jika dibandingkan dengan karagenin, memiliki efek anti-inflamasi, meskipun besarnya berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dengan adanya penurunan udema pada telapak kaki mencit.

Kelompok kontrol natrium diklofenak (kelompok III) memiliki perbedaan yang bermakna hampir terhadap semua kelompok, kecuali kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4 (kelompok X). Dapat disimpulkan bahwa kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4 memiliki efek anti-inflamasi yang sama dengan efek anti-inflamasi natrium diklofenak.

Natrium diklofenak merupakan salah satu obat anti-inflamasi non steroid dengan mekanisme menurunkan aktivitas enzim siklooksigenase. Mekanisme ini menghambat sintesis prostaglandin (Anonim, 2003b). Inflamasi dan trauma memacu metabolisme prostaglandin dan leukotrien dari asam arakhidonat yang diperantarai enzim siklooksigenase dan lipoksigenase menghasilkan H2O2. Prostaglandin dan leukotrien adalah mediator yang penting dalam inflamasi. Selama berlangsung radang, manakala sel fagosit teraktifkan maka akan

65

melepaskan oksigen aktif (O2-; H2O2; OH-) dan asam hipoklorit (HClO) (Wijoyo, 2001). Reaktif radikal ini dapat menyebabkan kerusakan sel dan jaringan secara langsung melalui degradasi oksidatif dari komponen sel.

Kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandngan 1:4 memiliki perbedaan yang bermakna dengan kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1: 1/4, namun memiliki perbedaan yang tidak bermakna dengan kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/2, 1:1, dan 1:2. Berdasarkan hasil analisis tersebut dapat dikatakan bahwa kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1: 1/2, 1:1, 1:2, dan 1:4 memiliki efek anti-inflamasi yang sama, meskipun keefektifannya dibandingkan dengan natrium diklofenak berbeda, hanya kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:4 yang memiliki efek anti-inflamasi yang berbeda tidak bermakna dengan natrium diklofenak.

Kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1:1/4memiliki perbedaan yang tidak bermakna dengan kelompok kontrol karagenin. Sehingga dapat dikatakan bahwa kelompok perlakuan ini tidak memiliki aktivitas anti-inflamasi.

Efek anti-inflamasi dari kelompok perlakuan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO meningkat secara berturut-turut dari perbandingan perasan daging buah makuto dewo dan VCO 1: ¼ (18,55%),1: ½ (24,34%), 1:1(25,70%), 1:2 (26,09%), dan 1:4 (42,77%). Efek anti-inflamasi semakin

meningkat dengan semakin banyaknya penambahan VCO dan semakin berkurangnya jumlah makuto dewo. Jika dilihat dari gambar 12, makuto dewo justru memiliki kemampuan membuat radang, jadi tidak memiliki efek anti-inflamasi. Dapat disimpulkan bahwa dalam kombinasi tersebut yang berperan besar memberikan efek anti-inflamasi adalah VCO.

Minyak kelapa mengandung fosfatida, gums, sterol, dan tokoferol (Syah, 2005). Tokoferol berfungsi sebagai antioksidan alami yang diduga berhubungan dengan efek anti-inflamasi VCO.

Cara kerja vitamin E sebagai antioksidan adalah dengan menyumbangkan elektron kepada radikal bebas, atau dapat dikatakan vitamin E akan menangkap (scavenging) radikal bebas. Mekanisme penangkapan radikal bebas oleh vitamin E (α-tokoferol) dapat ditunjukkan pada gambar 13.

Vitamin E yang menangkap radikal bebas menjadi vitamin E yang radikal, namun lebih stabil daripada radikal hidroksil karena kemampuan stabilitas resonansinya. Hal ini menyebabkan elektron tidak berpasangan yang ada pada radikal bebas vitamin E terjebak dalam stabilitas resonansi.

67 O CH3 CH3 CH3 O H3C CH2 CH2 CH2 CH CH3 CH3 H O CH3 CH3 CH3 O H3C CH2 CH2 CH2 CH CH3 CH3 Radikal vitamin E O CH3 CH3 CH3 O H3C CH2 CH2 CH2 CH CH3 CH3 O CH3 CH3 CH3 O H3C CH2 CH2 CH2 CH CH3 CH3 O CH3 CH3 CH3 O H3C CH2 CH2 CH2 CH CH3 CH3 O CH3 CH3 CH3 O H3C CH2 CH2 CH2 CH CH3 CH3 3 3 3 3 3 3 OH

Gambar 13. Mekanisme penangkapan radikal bebas oleh vitamin E (Sugianto, wawancara pribadi, 18 Desember 2006)

Dari penelitian ini, diketahui bahwa perasan daging buah makuto dewo memiliki kemampuan sebagai zat pembuat radang, bahkan kemampuannya lebih besar daripada karagenin yang digunakan sebagai kontrol. Makuto dewo mengandung flavonoid. Flavonoid mampu memperbaiki ketidakseimbangan sistem antioksidan dalam tubuh. Flavonoid atau 1,3-diarilpropan merupakan salah satu senyawa polifenol. Flavonoid memiliki gugus enol yang mampu menangkap radikal bebas (zat antara yang toksik). Dengan demikian flavonoid berperan sebagai inhibitor radikal bebas.

Diketahui atom O lebih elektronegatif daripada atom C sehingga memiliki kecenderungan menarik elektron pada atom H. Tarikan elektron oleh atom O ini diperkuat adanya cincin benzen yang nermuatan positif. Kondisi ini menyebabkan atom H dari hidroksil ini mudah putus dan bersifat asam. Kereaktifan flavonoid berguna untuk mereduksi radikal bebas menjadi molekul netral sehingga aktivitas radikal bebas dapat dikurangi. Reaksi penangkapan radikal bebas oleh flavonoid dapat dijelaskan dalam gambar 14.

O OH O O H OH O OH O O

Gambar 14. Mekanisme reaksi penangkapan radikal bebas oleh flavonoid

Flavonoid yang menangkap radikal bebas menjadi flavonoid yang radikal, namun lebih stabil daripada radikal hidroksil karena kemampuan stabilitas resonansinya. Hal ini menyebabkan elektron tidak berpasangan yang ada pada radikal bebas flavonoid terjebak dalam stabilitas resonansi. Mekanisme resonansi radikal bebas flavonoid ditunjukkan pada gambar 15.

O OH O O O OH O O

69

Selain itu, radikal bebas flavonoid juga dapat mengalami reaksi penggabungan (reaksi kopling). Reaksi penggabungan ini menjadikan radikal bebas flavonoid lebih stabil. Mekanisme penggabungan radikal bebas flavonoid menjadi bentuk yang lebih stabil ditunjukkan pada gambar 16.

O OH O O O OH O O O O O HO O O O OH

Gambar16. Mekanisme penggabungan radikal bebas flavonoid

Makuto dewo seharusnya memiliki efek anti-inflamasi karena kandungan flavonoidnya. Radikal bebas dapat direduksi oleh flavonoid dan dihasilkan radikal bebas flavonoid yang lebih stabil. Namun, perlu diingat pula bahwa keberadaan radikal bebas flavonoid yang berlebihan menyebabkan reaktifitasnya juga berlebihan, akibatnya dapat menyebabkan perasan daging buah makuto dewo bersifat prooksidan. Jika dibandingkan dengan VCO yang digunakan, perasan daging buah makuto dewo bukan merupakan produk yang siap dikonsumsi seperti

VCO yang tentunya sudah melalui berbagai macam proses sehingga siap dan aman untuk dikonsumsi.

Makuto dewo juga mengandung racun, terutama di bagian biji buahnya. Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, konsumsi biji buah makuto dewo dapat mengakibatkan muntah dan lidah menjadi mati rasa. Sebenarnya tidak dianjurkan untuk mengkonsumsi buah makuto dewo secara langsung karena dapat mengakibatkan pingsan. Dimungkinkan, senyawa toksik dalam biji buah makuto dewo inilah yang membuat perasan daging buah makuto dewo yang digunakan memiliki aktivitas pembuat radang. Untuk mengetahui aktivitas inflamasi makuto dewo dan zat toksik yang terkandung dalam biji makuto dewo, perlu dilakukan penelitian yang lebih spesifik.

Virgin coconut oil dan semua kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan berbagai perbandingan memiliki efek anti-inflamasi sehingga dapat dibandingkan dengan efek anti-inflamasi natrium diklofenak sebagai kontrol untuk memperoleh potensi relatif. Perasan daging buah makuto dewo tidak memiliki efek anti-inflamasi, sehingga tidak dapat dibandingkan dengan efek anti-inflamasi natrium diklofenak. Data potensi relatif dari VCO dan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dapat dilihat pada tabel XIV.

Virgin coconut oil dan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan 1: ¼, 1: ½, 1:1, 1:2, 1:4 mempunyai potensi relatif yang lebih rendah daripada natrium diklofenak. Potensi relatif kombinasi perasan

71

daging buah makuto dewo dan VCO meningkat secara berturut-turut dari perbandingan 1: ¼, 1: ½, 1:1, 1:2, 1:4.

Tabel XIV. Potensi relatif VCO dan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO

Kelompok Potensi relatif (%)

VCO 62,97

Perasan daging buah makuto dewo dan

VCO perbandingan 1: ¼ 33,38

Perasan daging buah makuto dewo dan

VCO perbandingan 1: ½ 43,79

Perasan daging buah makuto dewo dan

VCO perbandingan 1: 1 46,24

Perasan daging buah makuto dewo dan

VCO perbandingan 1: 2 46,94

Perasan daging buah makuto dewo dan

VCO perbandingan 1: 4 76,95

Dokumen terkait