• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PENAMBAHAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) PADA PERASAN DAGING BUAH MAKUTO DEWO (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) PADA MENCIT PUTIH BETINA : KAJIAN TERHADAP EFEK ANTI-INFLAMASI SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENGARUH PENAMBAHAN VIRGIN COCONUT OIL (VCO) PADA PERASAN DAGING BUAH MAKUTO DEWO (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) PADA MENCIT PUTIH BETINA : KAJIAN TERHADAP EFEK ANTI-INFLAMASI SKRIPSI"

Copied!
120
0
0

Teks penuh

(1)

KAJIAN TERHADAP EFEK ANTI-INFLAMASI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

VERA ROSIANA

NIM : 038114066

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)

ii

PENGARUH PENAMBAHAN

VIRGIN COCONUT OIL

(VCO) PADA PERASAN DAGING BUAH MAKUTO DEWO

(

Phaleria macrocarpa

(Scheff.) Boerl.)

PADA MENCIT PUTIH BETINA :

KAJIAN TERHADAP EFEK ANTI-INFLAMASI

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Program Studi Ilmu Farmasi

Oleh :

VERA ROSIANA

NIM : 038114066

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(3)
(4)
(5)
(6)
(7)

vii

bimbingan, dukungan, kekuatan, kasih, dan cintanya yang senantiasa dilimpahkan kepada penulis, sehingga penulis dapat melakukan penelitian dan penyusunan skripsi yang berjudul ”Pengaruh Penambahan Virgin Coconut Oil (VCO) pada Perasan Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa(Scheff.) Boerl) pada Mencit Putih Betina : Kajian terhadap Efek Anti-Inflamasi” sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Farmasi (S. Farm.) di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, dengan baik dan lancar.

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak menerima bimbingan, arahan, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak dalam menghadapi hambatan dan kesulitan yang ditemui penulis. Dalam kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

2. Yosef Wijoyo, M.Si., Apt. selaku dosen pembimbing dan penguji yang telah memberi banyak bantuan, bimbingan dan arahan selama penelitian dan penyusunan skripsi ini.

(8)

viii

4. Drs. Mulyono, Apt. yang telah membantu dalam memberi pengetahuan dan masukan kepada penulis serta telah memberikan kesediaannya sebagai dosen penguji.

5. Phebe Hendra, M.Si., Apt. yang telah membantu penulis dalam menyediakan jurnal-jurnal yang dibutuhkan dalam penyusunan skripsi ini.

6. Mas Heru yang telah menyediakan mencit dan memberi keceriaan selama penulis melakukan penelitian di laboratorium farmakologi.

7. Mas Parjiman yang telah meyediakan alat dan membantu penulis selama penulis melakukan penelitian.

8. Mas Kayat yang telah banyak membantu selama penelitian berlangsung. 9. Staff pengajar dan segenap dosen Fakultas Farmasi, Universitas Sanata

Dharma, Yogyakarta.

10. Boboh dan Kung-Kung, segala perjuangan dan kerja keras yang penulis curahkan dalam skripsi ini merupakan bentuk rasa terima kasih penulis atas rasa cinta dan sayang yang diberikan.

11. Mama, Papa, dan adikku, Hendra Gunawan yang telah memberikan dukungan dan kasih yang luar biasa kepada penulis. Penulis sangat bersyukur mempunyai keluarga yang begitu mencintai penulis.

12. Ii Ayen, Widdy, dan Demas yang telah memberi dukungan kepada penulis selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma.

(9)

ix

15. Keluarga dan orang terdekat Madya dan Punto yang telah memberikan bantuan dan dukungan.

16. Yulia Ratika Siwi, Lucia Esti Purwandari, Alvian Yoan Diaz, Budiarto, Agatha Vilma, Hartono, Andreas Sudarto, Maria Rosa, Katarina Ratih, Agnes Rufina, Lucy Lahrita, Jenny, Robertus Hengky yang telah memberikan dukungan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 17. Sahabat terbaik penulis : Lina, Ellen, Ningsih, Thriz, Vonny, Ayu yang telah

membantu penulis menghilangkan rasa jenuh dalam penyusunan skripsi ini, masa-masa indah bersama kalian di Petung 36 tidak akan terlupakan.

18. Kakak, teman, dan sahabat penulis, Eddy Sugianto, S.Farm. yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan bantuan yang besar kepada penulis. 19. Ferry, Yulius, Afu, Handi, Albert, Mardoni, Vivien, Lavie, Monica, Lia, Ina,

Lian yang secara langsung maupun tidak langsung telah memberi dukungan kepada penulis. Terima kasih karena penulis telah diberi kesempatan untuk mengenal kalian.

(10)

x

Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan. Penulis selalu membuka diri atas masukkan, saran, dan kritik yang bersifat membangun demi perbaikan skripsi ini. Penulis berharap skripsi ini menjadi bagian pengetahuan dan berguna bagi semua.

(11)
(12)

xii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

HALAMAN JUDUL ………...…… HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ………. HALAMAN PENGESAHAN ………. HALAMAN PERSEMBAHAN ……….. PRAKATA ……….. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ………...……….. DAFTAR ISI ...……… DAFTAR TABEL ..………. DAFTAR GAMBAR ….………...……….. DAFTAR LAMPIRAN ..………. INTISARI ………….………..

ABSTRACT………...………..

BAB. I PENGANTAR .……….. A. Latar Belakang ……….………...

1. Permasalahan ……….………. 2. Keaslian Penelitian ……….………. 3. Manfaat Penelitian .……….………. B. Tujuan Penelitian ……….………... BAB II. PENELAAHAN PUSTAKA …….………...

A. Virgin Coconut Oil(VCO)) ……….………...

(13)

xiii

2. Nama Daerah……… 3. Kandungan Kimia………. 4. Khasiat……….. C. Inflamasi ……...……….. 1. Definisi ….………... 2. Penyebab ………. 3. Respon….………... 4. Tanda-tanda ……… 5. Mekanisme………... 6. Mediator……….. D. Obat Anti inflamasi ..………... E. Natrium Diklofenak ………..……….. F. Radikal Bebas dan Antioksidan………... G. Flavonoid…… ……… H. Vitamin E….……… I. Metode Pengujian Daya Anti-Inflamasi……….. 1. Uji eritema………

2. Paw edema test……….

3. Tes radang selaput dada (pleurisy)……….. 4. Tes kantong granuloma………

(14)

xiv

J. Landasan Teori……… K. Hipotesis………... BAB III. METODOLOGI PENELITIAN ……….………

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ………. B. Metode dan Prinsip Penelitian………. C. Variabel dan Definisi Operasional………..

1. Variabel…….. ….………... 2. Definisi Operasional………... D. Subyek dan Bahan Penelitian …...………...

1. Subyek Uji……….. 2. Bahan Penelitian………. E. Alat Penelitian ...………...………... F. Tata Cara Penelitian ..……….. 1. Determinasi tanaman makuto dewo...…...………... 2. Pembuatan bahan uji………..…..……… 3. Orientasi percobaan….… ……… 4. Perlakuan hewan uji………...……….. 5. Tata cara analisis hasil...……….. BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN …………...………...

A. Hasil Determinasi Buah Makuto Dewo..……… B. Pembuatan Larutan Uji... 1. Pembuatan perasan daging buah makuto dewo...

(15)

xv

1. Hasil orientasi penetapan selang waktu pemotongan kaki... 2. Hasil orientasi penetapan dosis natrium diklofenak... 3. Hasil orientasi penetapan selang waktu pemberian natrium

diklofenak... D. Hasil Perlakuan Pada Hewan Uji ………...……..……….. E. Perbandingan Hasil Penelitian dengan Penelitian Lain…….………... BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN …….……… A. Kesimpulan ..……… B. Saran ...………. DAFTAR PUSTAKA ...……….. LAMPIRAN ………...………. BIOGRAFI …..………

47 50

(16)

xvi

DAFTAR TABEL

I. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki..……... II. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki……….….………... III. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat

injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki……….……..……… IV. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian berbagai variasi dosis natrium diklofenak………. V. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah data bobot udema kaki mencit

akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dalam 3 peringkat dosis……….…………. VI. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat

injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dalam 3 peringkat dosis……….…… VII. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dosis efektif pada rentang waktu tertentu………...

Hal

47

48

49

51

52

53

(17)

xvii

IX. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dosis efektif pada rentang waktu tertentu..….……….. X. Rata-rata bobot udema telapak kaki mencit akibat karagenin 1%

subplantar pada kelompok kontrol dan perlakuan...….……... XI. Rata-rata efek anti-inflamasi pada kelompok kontrol dan

perlakuan………...……… XII. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah efek anti-inflamasi kelompok kontrol dan perlakuan……… XIII. Rangkuman hasil uji Scheffe efek anti-inflamasi kelompok kontrol dan perlakuan………... XIV. Potensi relatif VCO dan kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO……….. XV. Hasil uji efek anti-inflamasi, proteksi nyeri, dan efek hepatoprotektif

pada kelompok perlakuan……….

56

59

61

63

63

71

(18)

xviii

Patogenesis dan tanda suatu peradangan……… Skema dari mediator-mediator yang berasal dari asam

(19)

xix Gambar 12.

Gambar 13.

Gambar 14.

Gambar 15. Gambar 16. Gambar 17.

Grafik rata-rata efek anti-inflamasi pada kelompok kontrol dan perlakuan...… Mekanisme kemungkinan penangkapan radikal bebas oleh vitamin E...…….. Mekanisme reaksi penangkapan radikal bebas oleh flavonoid...…. Mekanisme resonansi radikal bebas flavonoid………..…. Mekanisme penggabungan radikal bebas flavonoid…………... Grafik perbandingan hasil uji efek anti-inflamasi, proteksi nyeri, dan efek hepatoprotektif pada kelompok perlakuan……

62

67

68 68 69

(20)

xx

(21)

xxi

(22)

xxii

INTISARI

Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh penambahanvirgin coconut oil

(VCO) pada perasan daging buah makuto dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada mencit putih betina dengan menggunakan model inflamasi akut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek anti-inflamasi kombinasi perasan daging buah makuto dewo dan VCO dengan perbandingan yang menunjukkan peningkatan jumlah VCO serta untuk mengetahui keefektifan kombinasi tersebut dibandingkan VCO atau perasan daging buah makuto dewo.

Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental murni rancangan acak lengkap pola searah menggunakan metode induksi udema oleh Langford yang dimodifikasi. Subyek uji adalah mencit putih betina galur Swiss, berumur 2-3 bulan dengan berat badan 20-30 gram. Tujuh puluh ekor mencit dikelompokkan menjadi 10 kelompok. Kelompok I-V merupakan kelompok kontrol, sedangkan kelompok VI-X diberi kombinasi VCO dan perasan daging buah makuto dewo dengan perbandingan berturut-turut 1:¼, 1: ½, 1:1, 1:2, 1:4. Lima belas menit kemudian diinjeksi subplantar dengan karagenin 1% pada kaki kiri bagian belakang. Setelah 3 jam hewan uji dikorbankan dan kedua kakinya dipotong pada sendi torsocrural, kemudian ditimbang. Data bobot udema dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusinya, dilanjutkan analisis varian pola satu arah dan uji Scheffe untuk melihat perbedaan antarkelompok.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi VCO dan perasan daging buah makuto dewo dengan perbandingan 1:¼, 1: ½, 1:1, 1:2, 1:4 mempunyai efek anti-inflamasi berturut-turut sebesar 18,55%, 24,34%, 25,70%, 26,09%, 42,77%. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa VCO memiliki efek anti-inflamasi sebesar 35,00% sedangkan perasan daging buah makuto dewo tidak memiliki efek anti-inflamasi. Peningkatan efek anti-inflamasi sebanding dengan penambahan VCO pada perasan daging buah makuto dewo.

(23)

xxiii

small mice by using an acute inflammation models had been done. The goal of this research is to know about the anti-inflammation effect of the combination of makuto dewo squeezed and VCO and also to know its effectiveness compare with pure VCO and pure makuto dewo squeeze.

This research is pure experimental research. The subject of this experiment was Switzerland white female mice whose age 2-3 months and its weight is 20-30 gram. Seventy small mice were divided into ten groups. Group I to group V were as control group, whereas group VI to group X were given the combination of makuto dewo squeeze and VCO with proportion 1:1/4; 1: ½; 1:1; 1:2; and 1:4. Successively fifteen minutes later, those small mice’s left legs were injected with karagenin 1%. Then, 3 hours later those small mice were killed and its two legs were cut at torsocrural joint. Data about oedema weight was analyzed with Kolmogorov-Smirnov to see its distribution. After that, this research was continued with variant analysis of one direction pattern then researcher did Scheffe test.

The result of the analysis shows that the combination of makuto dewo squeeze and VCO with proportion 1:1/4; 1: ½; 1:1; 1:2; and 1:4 has the percentage of anti-inflammation effect was successively 18,55%, 24,34%, 25,70%, 26,09%, 42,77%. This research also shows that pure VCO has the percentage of anti-inflammation effect was successively 35,00% and pure makuto dewo squeeze doesn’t have anti-inflammation effect. The raising of anti-inflammation effect is equivalent with addition of VCO into makuto dewo squeeze.

Keyword: anti-inflammation effect, virgin coconut oil (VCO), makuto dewo

(24)

1

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang

Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni di tahun 2005 dan 2006 menjadi sangat fenomenal setelah diketahui berbagai khasiatnya yang menjanjikan. Banyak orang berlomba-lomba mengkonsumsi VCO demi kesehatan tubuhnya, bahkan orang sehat sekalipun. Virgin coconut oil mengandung asam lemak jenuh minyak kelapa yang didominasi oleh asam laurat yang merupakan

medium chain trigliceride (MCT) (Sukartin dan Sitanggang, 2005). Asam laurat inilah yang menjadikan minyak kelapa mampu menambah kesehatan bagi tubuh. Menurut H. Kono dan dr. A. Nanji, ahli penyakit dalam dari Amerika Serikat, MCT minyak kelapa akan langsung disalurkan dari saluran cerna menuju hati.

(25)

2

sehingga pembentukan spesies oksigen reaktif yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan dan proses peradangan menjadi terhambat.

Makuto dewo telah banyak diteliti secara ilmiah sebagai tanaman Indonesia yang memiliki khasiat sebagai obat. Daun dan kulit buah makuto dewo mengandung alkaloid, saponin, dan flavonoid. Adanya flavonoid dalam makuto dewo menunjukkan aktivitas antialergi, anti-inflamasi, antivirus, antiproliferasi, dan antikarsinogenik. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Marissa (2006) dan Puspitasari (2006), ekstrak etanol daging buah makuto dewo terbukti memiliki daya anti-inflamasi pada mencit putih betina. Adanya flavonoid dalam makuto dewo diduga dapat memberikan efek anti-inflamasi karena flavonoid merupakan antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas yang merupakan hasil dari respon zat kimia penginduksi udema.

Inflamasi merupakan salah satu aspek yang harus dipenuhi oleh suatu obat antihepatitis yang ideal. Menurut Donatus (1992), obat hepatitis yang ideal seharusnya tidak hanya mempunyai aspek preventif (perlindungan hati dari aneka hepatotoksin/ hepatoprotektif) tetapi harus pula mempunyai aspek kuratif (penanggulangan radang/ inflamasi) dan aspek suportif (meningkatkan sistem imun). Dalam rangka mengembangkan penelitian mengenai kombinasi VCO dan makuto dewo agar dapat menjadi salah satu alternatif obat hepatitis yang ideal, maka peneliti ingin menguji efek anti-inflamasinya pada mencit putih betina.

(26)

3

Wilson, 1992). Peran proses inflamasi diantaranya untuk penghancuran mikroorganisme yang masuk sehingga akan mencegah penyebaran infeksi (Underwood, 1996). Inflamasi tidak diinginkan karena terjadinya inflamasi biasanya disertai gejala-gejala yang menimbulkan rasa tidak nyaman yaitu kemerahan (rubor), panas meningkat (calor), pembengkakan (tumor), nyeri (dolor), dan gangguan fungsi (functiolaesa). Hal ini menjadi alasan mengapa inflamasi butuh pengobatan.

1. Permasalahan

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, dirumuskan permasalahan sebagai berikut ini.

a. Apakah penambahan VCO pada perasan daging buah makuto dewa mempunyai efek anti-inflamasi yang lebih tinggi daripada VCO atau perasan daging buah makuto dewo murni ?

b. Berapakah besar penambahan VCO pada perasan daging buah makuto dewa yang efektif dalam kajian efek anti-inflamasi?

2. Keaslian Penelitian

Penelitian yang menggunakan makuto dewo di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta sudah banyak dilakukan diantaranya:

a. Efek Hepatoprotektif Perasan Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa

(Scheff.) Boerl.) pada Mencit Jantan Terinduksi Parasetamol (Sisilia, 2001).

b. Efek Hepatoprotektif Perasan Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa

(27)

c. Efek Hepatoprotektif Infusa Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Mencit Jantan Terinduksi CCl4 (Linawati, 2002).

d. Efek Hepatoprotektif Infusa Simplisia Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Mencit Jantan Terinduksi Parasetamol (Prasetia, 2002).

e. Efek Hepatoprotektif Infusa Simplisia Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Mencit Jantan Terinduksi Karbontetraklorida (Harianto, 2003).

f. Efek Hepatoprotektif Ekstrak Etanol Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Mencit Jantan Terinduksi CCl4(Yudanti, 2005).

g. Efek Hepatoprotektif Ekstrak Etanol Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Mencit Jantan Terinduksi Parasetamol (Purwandani, 2005).

h. Daya Analgesik Ekstrak Etanol Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Mencit Betina Terinduksi Kimia (Anggoro, 2005).

(28)

5

j. Daya Anti-Inflamasi Ekstrak Etanol Daging Buah Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) pada Mencit Betina Terinduksi Formalin (Puspitasari, 2006).

Penelitian mengenai efek anti-inflamasi VCO dan penelitian mengenai efek anti-inflamasi kombinasi VCO dan makuto dewo pada mencit putih betina, sepanjang pengetahuan penulis belum pernah ada yang melakukan.

3. Manfaat Penelitian

a. Manfaat teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam pengembangan ilmu kefarmasian serta pengetahuan tentang keefektifan penambahan VCO pada perasan buah makuto dewo sebagai anti-inflamasi.

b. Manfaat praktis

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai kebenaran, keefektifan efek anti-inflamasi dari penambahan VCO pada perasan buah makuto dewo secara khusus untuk penyakit hepatitis.

B. Tujuan Penelitian

1. Tujuan umum

(29)

2. Tujuan khusus

(30)

7

BAB II

PENELAAHAN PUSTAKA

A. Virgin Coconut Oil(VCO)

Minyak kelapa murni atau Virgin Coconut Oil (VCO) merupakan salah satu hasil olahan dari buah kelapa (Cocos nucifera) famili Arecaceae (Palmae). Komponen minyak kelapa terdiri dari asam lemak jenuh (90%) dan minyak tak jenuh (10%) (Sutarmi dan Rozaline, 2005).

Secara kimiawi, minyak kelapa terbentuk dari rantai karbon, hidrogen, dan oksigen yang disebut dengan asam lemak. Komponen-komponen asam lemak tersebut akan membentuk gliserida saat bergabung dengan gliserol. Gliserida yang umum terdapat pada lemak dan minyak adalah trigliserida atau lipida (Syah, 2005).

Minyak kelapa mengandung fosfatida, gums, sterol, dan tokoferol. Tokoferol berfungsi sebagai antioksidan alami yang dapat memperpanjang periode terjadinya proses oksidasi sampai timbulnya bau tengik. Tokoferol juga mengandung komponen aktif biologis yang secara umum diterima sebagai aktivitas vitamin E dalam menjaga kekebalan tubuh manusia (Syah, 2005).

(31)

monokaprin. Hasil pecahan lemak jenuh rantai sedang jarang disimpan sebagai lemak dan jarang menumpuk di pembuluh darah. Minyak kelapa memiliki kadar asam lemak tidak jenuh ganda omega-3 eicosa-penta-einoic acid (EPA) dan

docasa-hexaenoic acid (DHA) yang dapat menurunkan very low density lipoprotein (VLDL) dan viskositas darah, menghambat tromboksan, serta mencegah penyumbatan pembuluh darah (Sutarmi dan Rozaline, 2005).

Asam laurat dan asam lemak jenuh berantai pendek yang terkandung dalam minyak kelapa murni berperan positif dalam proses pembakaran nutrisi makanan menjadi energi. Fungsi lain dari zat ini, antara lain sebagai antivirus, antibakteri, dan antiprotozoa (Sutarmi dan Rozaline, 2005)

B. Tanaman Makuto Dewo (Phaleria macrocarpa(Scheff.) Boerl.)

Makuto dewo termasuk dalam familia Thymelaeaceae dengan nama latin spesiesnyaPhaleria macrocarpa(Scheff.) Boerl. (Anonim, 1998; Backer andvan den Brink, 1963).

1. Morfologi

Tanaman makuto dewo merupakan tanaman berupa herba dengan tinggi kira-kira mencapai 5 meter. Tanaman ini tumbuh di dataran rendah dengan ketinggian 1000 meter di atas permukaan laut (Anonim, 2000).

2. Nama Daerah

(32)

9

(Indonesia) (Ning, 2001) atau Simalakama (Sumatera/ Melayu) (Winarto, 2005).

3. Kandungan Kimia

Zat aktif yang terkandung di dalam daun dan kulit buah antara lain alkaloid, terpenoid, saponin, dan senyawa resin. Pada daun diketahui terkandung lignan (polifenol), sedangkan pada kulit buah terkandung zat flavonoid (Winarto, 2005).

4. Khasiat

Pengobatan dengan ramuan makuto dewo diyakini dan telah terbukti secara turun-temurun dapat menyembuhkan beberapa penyakit seperti kanker, tumor, diabetes mellitus, hepatitis, jantung, rematik, asam urat tinggi, penyakit kulit, dan gangguan ginjal (Winarto, 2005).

C. Inflamasi

1. Definisi

(33)

reaksi vaskular yang hasilnya merupakan pengiriman cairan, zat-zat terlarut, dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringaninterstitialpada daerah cedera atau nekrosis (PriceandWilson, 1992).

2. Penyebab

Penyebab utama dari radang akut ialah infeksi mikrobial (bakteri, virus,dll), agen fisik (trauma, radiasi pengion, panas, dingin, dll), atau kimiawi (korosif, asam, basa, dll) (Underwood, 1996). Penting untuk diketahui bahwa inflamasi dan infeksi tidak sinonim. Infeksi disebabkan oleh mikroorganisme dan menyebabkan inflamasi, tetapi tidak semua inflamasi disebabkan oleh infeksi (KeeandHayes, 1996).

3. Respon

Menurut Katzung (2001), inflamasi secara umum dibagi dalam 3 fase, yakni: inflamasi akut, respon imun, dan inflamasi kronis. Inflamasi akut merupakan respon awal terhadap cedera jaringan, hal tersebut terjadi melalui media rilisnya autacoid serta pada umumnya didahului oleh pembentukan respon imun (Katzung, 2001). Fase ini ditandai dengan adanya vasodilatasi lokal dan peningkatan permeabilitas kapiler (Vogel, 2002).

(34)

11

inflamasi kronis. Inflamasi kronis melibatkan keluarnya sejumlah mediator yang tidak menonjol dalam respons akut seperti interferon, platelet-derived growth factor (PDGF) serta interleukin-1,2,3 (Katzung, 2001). Pada fase ini terjadi degenerasi jaringan dan fibrosis (Vogel, 2002).

4. Tanda-tanda

Tanda-tanda pokok peradangan adalah: a. rubor(kemerahan)

Rubor biasanya merupakan hal pertama yang terlihat didaerah yang mengalami peradangan. Waktu reaksi peradangan mulai timbul, maka arteriol yang mensuplai darah tersebut melebar akibat adanya pelepasan mediator kimia yakni histamin (Keeand Hayes, 1996). Dengan demikian lebih banyak darah mengalir ke dalam mikrosirkulasi lokal. Kapiler yang sebelumnya kosong atau sebagian saja yang merenggang dengan cepat terisi penuh dengan darah. Keadaan ini dinamakan hiperemia atau kongesti, menyebabkan warna merah lokal karena peradangan akut (PriceandWilson, 1992).

b. calor(panas)

(35)

c. tumor(pembengkakan)

Pembengkakan ditimbulkan oleh pengiriman cairan dan sel-sel dari sirkulasi darah ke jaringan-jaringan interstitial. Pada keadaan dini reaksi peradangan sebagian besar eksudat adalah cair. Kemudian sel-sel darah putih, atau leukosit meninggalkan aliran darah dan tertimbun sebagai bagian dari eksudat (PriceandWilson, 1992).

d. dolor(rasa sakit)

Rasa sakit dari reaksi peradangan dapat dihasilkan dengan berbagai cara. Perubahan pH lokal atau konsentrasi lokal ion-ion tertentu dapat merangsang ujung-ujung saraf. Hal yang sama, pengeluaran zat kimia tertentu seperti histamin atau zat bioaktif lainnya dapat merangsang saraf (Price and Wilson, 1992). Menurut Underwood (1996), beberapa mediator kimiawi pada radang akut termasuk bradikinin, prostaglandin, dan serotonin, diketahui juga dapat mengakibatkan rasa sakit. Selain itu, pembengkakan jaringan yang meradang yang mengakibatkan peningkatan tekanan lokal tanpa diragukan lagi dapat menimbulkan rasa sakit (PriceandWilson, 1992).

e. functio laesa(perubahan fungsi)

(36)

13

secara fisik mengakibatkan berkurangnya gerak jaringan (Underwood, 1996). Dalam gambar 1 digambarkan bagan patogenesis peradangan.

Gambar 1. Patogenesis dan tanda suatu peradangan (Mutschler, 1986)

5. Mekanisme

Respon dari radang akut melalui tiga proses yaitu perubahan diameter pembuluh darah dengan konsekuensi alirannya, kenaikan permeabilitas vaskuler dan pembentukan cairan eksudat, serta pembentukan eksudat seluler berupa emigrasi neutrofil polimorf ke dalam rongga ekstravaskuler (Underwood, 1996).

Segera sesudah masuknya rangsang iritan terdapat konstriksi singkat arteriola diikuti dilatasi berkepanjangan. Ini menjurus kepada menjadi merahnya anyaman kapiler dengan darah dan membukanya saluran kapiler yang tak aktif. Juga terjadi dilatasi venula dan pembuluh limfa sehingga aliran darah bertambah (SpectorandSpector, 1989).

Pembuluh darah secara normal permeabel terhadap air dan solute kecil namun hanya sedikit permeabel terhadap protein plasma yakni albumin, globulin,

noksius

Kerusakan sel

Pembebasan bahan mediator

Emigrasi leukosit

Proliferasi sel

eksudasi Perangsangan reseptor nyeri Gangguan

sirkulasi lokal

pemerahan panas Pembeng kakan

Gangguan fungsi

(37)

dan fibrinogen. Kenyataannya, tekanan onkotiklah yang menahan molekul dengan melawan tekanan hidrostatik darah. Tekanan onkotik ini membuat air tetap tinggal didalam pembuluh sedangkan desakan tekanan hidrostatik darah mendorongnya keluar lewat dinding pembuluh (SpectorandSpector, 1989).

Pada radang, terdapat kenaikan hidrostatik yang disebabkan oleh vasodilatasi dan penurunan tekanan onkotik yang disebabkan bocornya cairan berkadar protein tinggi keluar endotel (Robbins, Cotran, dan Kumar, 1995). Hal ini menyebabkan terganggunya keseimbangan sehingga lebih banyak air meninggalkan darah memasuki jaringan. Yang lebih penting, dinding venula dan kapiler sekarang kehilangan impermeabilitasnya terhadap protein. Sebagai akibatnya albumin, globulin, dan fibrinogen tercurah lewat dinding menuju jaringan. Pembengkakan jaringan ini dikenal sebagai udema dan cairannya sendiri disebut eksudat. Perubahan dalam sifat dinding pembuluh inilah yang disebut meningkatnya permeabilitas pembuluh. Bertambahnya permeabilitas pembuluh dapat disebabkan oleh kerusakan endotel yang langsung mempengaruhi kapiler dan venula serta oleh aksi mediator kimia (seperti histamin) yang menyebabkan konstraksi endotel hanya pada venula (SpectorandSpector, 1989).

(38)

15

celah diantara sel endotel melintasi lamina basalis untuk sampai ke dinding pembuluh darah dan menuju ke lokasi radang (Underwood, 1996). Neutrofil bergerak menuju pusat radang karena pengaruh mediator kimia (prostaglandin, leukotrien, komplemen-C5a) disebut kemotaksis. Lalu, menggerombol pada pusat radang atau mengelilingi pusat radang dengan tujuan melokalisir daerah radang disebut agregasi. Pada akhirnya neutrofil memakan kuman-kuman atau sel mati dan dicernakan oleh enzim katalitik dari lisosom, disebut fagositosis (Sander, 2003).

Neutrofil merupakan garis pertahanan pertama melawan mikroorganisme yang masuk. Jika respon inflamatoris akut berjalan terus, maka sel mononuklear (termasuk limfosit dan monosit) akan muncul pada daerah inflamatoris, setelah ke luar dari pembuluh darah melalui cara yang sama dengan neutrofil. Monosit memperbesar pertahanan dengan menambahkan fungsi fagosit ke daerah radang (Ward, 1993).

6. Mediator

Amina vasoaktif yang paling penting adalah histamin yang mampu menghasilkan vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas vaskuler. Sejumlah besar histamin disimpan dalam sel mast, sel basofil, dan trombosit. Banyak cedera fisik menyebabkan degranulasi sel mast dan melepaskan histamin (Price and

Wilson, 1992)

(39)

enzim fosfolipase diaktifkan untuk mengubah fosfolipida yang terdapat di situ menjadi asam arakhidonat (Tjay dan Rahardja, 2002). Asam arakhidonat yang merupakan suatu asam lemak 20-karbon, disimpan atau tersedia dalam bentuk ester dari struktur fosfolipid di membran sel dari kebanyakan jaringan, tetapi dapat juga berasal dari ester trigliserida atau ester kolesterol (Wilmana, 1995). Agar dapat dipergunakan sel membentuk mediator, asam arakhidonat harus dibebaskan dari membran fosfolipid oleh aktivitas fosfolipase sel. Selama proses radang, lisosom neutrofil diyakini merupakan sumber fosfolipase yang penting (Robbins, Cotran,andKumar, 1995).

(40)

17

Gambar 2. Skema dari mediator-mediator yang berasal dari asam arakhidonat dan titik tangkap kerja obat anti-inflamasi (Rang, Dale, Ritter,andMoore, 2003)

Keterangan:

OAINS = Obat Anti-Inflamasi Non Steroid;PAF=Platelet Activating Factor; LT = leukotrien

↓ = diubah; = dihambat; = enzim; = obat anti-inflamasi

Fosfolipid

Fosfolipase A2

(41)

Enzim siklooksigenase yang terlibat dalam reaksi ini terdiri dari dua isoenzim, yakni siklooksigenase-1 (COX-1) dan siklooksigenase-2 (COX-2). Enzim siklooksigenase-1 terdapat di kebanyakan jaringan antara lain di trmbosit, ginjal, dan saluran cerna (Tjay dan Rahardja, 2002). Enzim ini berperan dalam memelihara kehidupan sel. Siklooksigenase-1 menghasilkan prostaglandin jenis PGI2 dan PGE2 serta tromboksan (TXA2) yang dibutuhkan dalam fungsi homeostasis. Di lambung, enzim ini bertugas mensintesis prostaglandin yang berfungsi memproteksi mukosa lambung dan regulasi darah. Enzim siklooksigenase-1 bersifat konstitutif (bersifat pokok, selalu ada) dan cenderung menjadi homeostasis dalam fungsinya (Katzung, 2001). Enzim siklooksigenase-2 dalam keadaan normal tidak terdapat di jaringan tapi dibentuk selama proses peradangan oleh sel-sel radang (Tjay dan Rahardja, 2002). Dengan adanya rangsangan maka kadarnya akan meningkat, terutama pada sel leukosit, sel monosit, dan sel kondriosit. Enzim ini sangat mudah diinduksi oleh berbagai mekanisme dan akan menghasilkan PGE2 yang berperan dalam inflamasi, nyeri, dan demam.

(42)

19

membran sinovial sehingga terjadi radang dan nyeri. Prostasiklin terutama dibentuk di dinding pembuluh dan berdaya vasodilatasi. Tromboksan khusus di bentuk dalam trombosit berdaya vasokonstriksi (antara lain di jantung) (Tjay dan Rahardja, 2002).

Bagian lain dari arakhidonat diubah oleh enzim lipoksigenase menjadi zat leukotrien (LT). LTB4, LTC4, LTD4, dan LTE4 dibentuk sebagai hasil dari metabolisme ini. LTC4, LTD4, dan LTE4 terutama dibentuk di eosinofil (Tjay dan Rahardja, 2002) dan menyebabkan peningkatan permeabilitas vaskuler (Robbins, Cotran, and Kumar, 1995). LTB4 khusus disintesa di makrofag dan neutrofil alveolar dan bekerja kemotaksis yaitu menstimulasi migrasi leukosit. Tertarik oleh leukotrien, leukosit dalam jumlah besar menginvasi daerah peradangan dan mengaktifkan banyak gejala radang (Tjay dan Rahardja, 2002).

Fosfolipida selain diubah menjadi arakhidonat oleh enzim fosfolipase juga diubah menjadi lyso-glyseril-fosforilkolin yang kemudian diubah lagi menjadi

Platelet Activating Factor (PAF) (Rang et al., 2003). Platelet Activating Factor

menyebabkan agregasi dan pelepasan trombosit, vasodilatasi, peningkatan permeabilitas vaskuler, peningkatan adhesi leukosit, dan kemotaksis leukosit (Robbins, Cotran,andKumar, 1995).

(43)

akhirnya meningkatkan permeabilitas vaskuler (Robbins, Cotran, and Kumar, 1995).

Jalur lipoksigenase dari arakhidonat menghasilkan leukotrien yang mempunyai efek kemotaksis yang kuat pada eosinofil, neutrofil, dan makrofag serta meningkatkan bronkokonstriksi dan perubahan-perubahan dalam permeabilitas pembuluh darah (Katzung, 2001). Stimulasi membran neutrofil menghasilkan free radicals derivat oksigen. Anion superoksida dibentuk oleh reduksi oksigen molekuler yang dapat memacu produksi molekul lain yang reaktif seperti hidrogen peroksida (H2O2), serta radikal hidroksil (OH*) (Wibowo dan Gofir, 2001).

D. Obat Anti-inflamasi

(44)

obat-21

obat Anti-Inflamasi Non Steroid (AINS) memegang peran utama dalam pengobatan radang (Katzung, 2001). Klasifikasi AINS berdasarkan kimiawinya dapat dilihat pada gambar 3.

AINS

ASAM KARBOKSILAT ASAM ENOLAT

Asam Derivat Asam Derivat Asam Derivat Asam Derivat Derivat

Asetat Salisilat Propionat Fenamat Pirazolon Oksikam

Aspirin As. Tiaprofenat As. mefenamat Azapropazon Piroksikam Benorilat Fenbufen Meklofenamat Fenilbutazon Tenoksikam

Diflunisal Fenoprofen Oksifenbutazon

Salsalat Flurbiprofen Ibuprofen Ketoprofen Naproksen

Derivat Asam Fenilasetat Derivat Asam asetat Inden/indol:

Diklofenak Indometasin

Fenklofenak Sulindac

Tolmetin

Gambar 3. Klasifikasi obat Anti-Inflamasi Non Steroid (AINS) (Wilmana, 1995)

(45)

oksigen reaktif yang diproduksi neutrofil dan makrofag terlibat dalam kerusakan jaringan pada beberapa kondisi, dan AINS yang mempunyai efek peredaman radikal oksigen yang kuat sama baiknya seperti aktivitas inhibisi COX dapat mengurangi kerusakan jaringan (Rang et al., 2003). Mekanisme kerja obat anti-inflamasi dapat dilihat pada gambar 4.

Gambar 4. Mekanisme kerja obat anti inflamasi (Wilmana, 1995)

Metabolisme sebagian besar obat AINS berlangsung melalui enzim CYP450 dalam hati. Sekalipun ekskresi ginjal adalah rute yang paling penting untuk eliminasi terakhir, hampir semuanya melalui berbagai tingkat ekskresi empedu dan penyerapan kembali (sirkulasi enterohepatitis) (Katzung, 2001).

Sejumlah efek samping berkaitan dengan penghambatan sintesis prostaglandin dan terutama terjadi pada lambung, ginjal, dan fungsi trombosit (Tjay dan Rahardja, 2002). Efek samping yang tidak diinginkan dari AINS pada

Trauma/ luka pada sel Gangguan pada membran sel

Fosfolipid

Enzim fosfolipase Dihambat kortikosteroid

Asam arakidonat

Hidroperoksid

Leukotrien

enzim lipoksigenase enzim siklooksigenase

Enderoperoksid PGG2/PGH

Tromboksan A2 PGE2, PGF2, PGD2 Prostasiklin

(46)

23

lambung terutama terjadi karena inhibisi COX-1. Enzim COX-1 bertanggung jawab untuk sintesis prostaglandin yang berguna untuk menghambat sekresi asam lambung dan melindungi mukosa lambung (Rang et al., 2003). Obat AINS dapat menyebabkan gangguan fungsi ginjal karena menghambat prostaglandin yang berguna untuk memelihara volume darah yang mengalir melalui ginjal (perfusi). Obat AINS juga menyebabkan agregasi trombosit dikurangi sehingga masa pendarahan dapat diperpanjang (Tjay dan Rahardja, 2002).

E. Natrium Diklofenak

NH

Cl Cl NaOCCH2

O

Gambar 5. Struktur natrium diklofenak (Hanson, 2000)

(47)

Efek samping yang terjadi meliputi pendarahan gastrointestinal dan timbulnya ulserasi lambung (walaupun lebih jarang daripada AINS lain) (Katzung, 2001). Diklofenak juga dapat menyebabkan gangguan fungsi hati dan gangguan haid (Tjay dan Rahardja, 2002).

F. Radikal Bebas dan Antioksidan

Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai setiap spesies yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan (HalliwellandGutteridge, 1999). Suatu molekul bersifat stabil bila elektronnya berpasangan, tetapi bila tidak berpasangan (single) molekul tersebut menjadi tidak stabil dan memiliki potensi untuk merusak (Kurnani, 2001). Radikal bebas kebanyakan berasal dari reaksi redoks biokimiawi yang melibatkan O2 yang terjadi sebagai bagian dari metabolisme sel normal namun dapat diinisiasi oleh pemaparan cahaya UV, polutan lingkungan, dan asap rokok (Diantini dan Safitri, 2001). Radikal bebas terpenting yang terdapat dalam tubuh adalah radikal derivat oksigen atau sering disebut sebagai Reactive Oxygen Species(ROS). Radikal-radikal tersebut berada dalam bentuk triplet (3O2), singlet (1O2), superoksida (O2˙ˉ), radikal hidroksida (OH˙), nitrit oksida (NO˙), dll (Kurnani, 2001).

(48)

25

mengakibatkan terjadinya aterosklerosis (Setiati, 2003). Namun, radikal bebas dalam kadar tertentu justru diperlukan untuk pertahanan tubuh. Ketika kuman masuk ke dalam tubuh, leukosit akan menghancurkan dan memakan kuman dengan bantuan radikal bebas (Anonim, 2003a). Jadi kunci kerja radikal bebas yang aman dan efektif dalam tubuh adalah keseimbangan (Cooper, 2001).

Antioksidan adalah senyawa yang dalam kadar lebih rendah dibanding bahan yang dapat dioksidasi, sangat memperlambat atau menghambat oksidasi bahan tersebut. Antioksidan dipercaya mempunyai kemampuan memperlambat proses aterosklerosis karena mampu menghambat proses oksidatif (Sitompul, 2003).

(49)

2 O2∙─+ 2 H+→ H2O2+ O2 (1) 2 H2O2→ 2 H2O + O2 (2) H2O2+ 2 GSH→ GSSG + 2 H2O (3)

Tetapi bila produksi radikal bebas terus meningkat sistem pertahanan antioksidan tubuh tidak akan efektif lagi bekerja sebagai pelindung terhadap serangan radikal bebas. Dalam keadaan ini akan terjadi apa yang disebut dengan

stress oksidatif atau kerusakan oksidatif. Untuk mencegah terjadinya stress oksidatif ini, antioksidan dari luar (antioksidan eksogen) sangat diperlukan (Subarnas, 2001).

Sistem antioksidan endogen diperkuat oleh sistem antioksidan eksogen yang diperoleh dari makanan (Setiati, 2003). Antioksidan eksogen bekerja dengan cara menangkap radikal dan mencegah reaksi berantai, misalnya retinol, β -karoten, vitamin C, α-tokoferol (vitamin E), serta albumin. Antioksidan eksogen bekerja melalui 3 macam mekanisme, yakni pemotongan rantai propagasi dari radikal bebas, melalui mekanisme khelasi terhadap metal transisi sehingga efek prooksidan dari metal dapat dihambat, serta memadamkan pengaruh singlet oksigen (Setiati, 2003).

G. Flavonoid

(50)

27

dalam produksi radikal bebas; (2) peredaman radikal bebas (Halliwell and

Gutteridge, 1999).

Kandungan senyawa flavonoid di dalam tanaman sangat rendah, yaitu sekitar 0,25% dan secara umum terikat atau terkonjugasi dengan senyawa gula membentuk glikosida. Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzena tersubstitusi) disambungkan oleh rantai alifatik 3-karbon. Kerangka dasar flavonoid dan sistem penomoran untuk turunan flavonoid terlihat pada gambar 6.

C C C

Gambar 6. Kerangka flavonoid (6a) dan sistem penomoran turunan flavonoid (6b) (Robinson, 1991)

(51)

Flavonoid menghambat enzim yang berperan pada pembentukan anion superoksid misalnya xantin oksidase dan protein kinase. Disamping itu flavonoid juga menghambat enzim siklooksigenase, lipoksigenase, monooksigenase mikrosom, glutation S-transferase, yang kesemua enzim tersebut terlibat dalam produksi radikal bebas (Subarnas, 2001). Efek flavonoid terhadap organisme sangat banyak macamnya, sehingga tumbuhan yang mengandung flavonoid dapat dipakai dalam pengobatan (Robinson, 1991).

H. Vitamin E

Tokoferol atau vitamin E adalah vitamin larut lemak yang memiliki peranan penting sebagai antioksidan. Vitamin E alami terdapat dalam delapan bentuk yang berbeda (isomer), yakni 4 tokoferol dan 4 tokotrienol. Semua isomer tersebut memiliki cincin kromanol, dengan gugus hidroksil yang dapat memberikan sebut atom hidrogen untuk mengurangi radikal bebas dan rantai samping hidrofobik yang mengizinkan terjadinya penetrasi ke membran biologi. Terdapat bentuk alfa, beta, gamma, dan delta untuk tokoferol dan tokotrienol. Determinasinya dilakukan dengan melihat jumlah gugus metil pada cincin kromanol. Tiap bentuk tersebut memiliki aktivitas biologinya masing-masing (Anonim, 2006).

(52)

29

O CH3

CH3

CH3

HO H3C

CH2 CH2 CH2 CH

CH3

CH3

3

Gambar 7. Struktur kimia vitamin E (α-tokoferol)

I. Metode Pengujian Daya Anti-inflamasi

Beberapa metode yang banyak digunakan untuk meneliti inflamasi akut dan sub akut adalah sebagai berikut.

1.Uji eritema

(53)

2. Paw edema test

Diantara banyak metode yang digunakan untuk skrining obat anti-inflamasi, satu dari teknik yang paling umum digunakan didasarkan pada kemampuan beberapa bahan uji untuk menghambat produksi udema kaki hewan uji setelah injeksi bahan pembuat radang. Banyak zat pembuat radang (iritan) yang telah digunakan seperti brewer’s yeast, formaldehid, dextran, albumin telur, kaolin, aerosol, karagenin, dll (Vogel, 2002). Iritan yang paling banyak digunakan adalah karagenin. Karagenin adalah fosfolipida tersulfatasi yang diekstrak dari lumut irlandia Chondrus crispus (Gryglewski, 1977). Reaksi inflamasi yang diinduksi karagenin mempunyai dua fase: fase awal dan akhir. Fase awal berakhir setelah 60 menit dan dihubungkan dengan pelepasan histamin, serotonin, dan bradikinin. Fase akhir terjadi antara 60 menit setelah injeksi dan berakhir setelah tiga jam. Fase ini dihubungkan dengan pelepasan prostaglandin dan neutrofil yang menghasilkan radikal bebas, seperti hidrogen peroksida, superoksida, dan radikal hidroksil (Suleyman, Demircan, Karagoz, Ozta, dan Suleyman, 2004). Tikus Sprague Dawley jantan atau betina digunakan dalam uji ini. Efeknya dapat diukur dengan beberapa cara misalnya kaki belakang dipotong pada sendi tarsocrural

dan ditimbang (Vogel, 2002). Metode ini banyak digunakan karena sederhana dan murah dari segi peralatan, bahan, dan cara kerjanya (Jain, Patil, Singh, dan Kulkarni, 2001).

3. Tes radang selaput dada (pleurisy)

(54)

31

intrapleural dari turpentine, evans blue, gum arab, glikogen, dekstran, perak nitrat, atau karagenin. Pada waktu tertentu setelah injeksi iritan hewan uji dibunuh dan eksudat dipindahkan, lebih baik dengan mencuci rongga dada dengan sejumlah larutan Hank’s yang diketahui volumenya untuk memastikan didapatnya eksudat dan sel utuh yang lengkap (Gryglewski, 1977). Radang selaput dada yang disebabkan karagenin dipertimbangkan sebagai model inflamasi akut yang paling sempurna dimana keluarnya cairan, migrasi leukosit, dan parameter biokimia lain yang ada dalam respon inflamasi dapat diukur dengan mudah dari eksudat (Vogel, 2002).

4. Tes kantung granuloma

(55)

J. Landasan Teori

Inflamasi sebenarnya merupakan respon biologi reaksi-reaksi kimiawi secara berurutan dan bertugas melindungi tubuh dari infeksi dan memperbaiki jaringan yang rusak (Wilmana, 1995). Bila ada jaringan yang rusak, maka tubuh akan membentuk prostaglandin sebagai mediator dalam peradangan. Pada biosintesis prostaglandin akan dihasilkan radikal oksigen akibat konversi peroksidase pada jalur siklooksigenase maupun lipoksigenase (Tjay dan Rahardja, 2002). Berbagai kinin, neuropeptida, dan histamin juga dikeluarkan di tempat cedera jaringan sebagaimana juga komponen-komponen komplemen, sitokin, dan produk-produk lain dari leukosit dan platelet (Katzung, 2001).

Oksigen aktif (O22ˉ; H2O2; OHˉ) dan asam hipoklorit (HOCl) yang merupakan bagian dari satuan tempur aneka zat kimia dan terkandung dalam sel fagosit (neutrofil, monosit, makrofag, dan eosinofil) juga dilepaskan manakala sel fagosit teraktifkan selama berlangsung peradangan (Wijoyo, 2001). Rangsangan dari selaput neutrofil menghasilkan radikal-radikal bebas yang berasal dari oksigen. Anion superoksida dibentuk melalui reduksi dari oksigen molekuler, yang bisa merangsang produksi molekul-melekul reaktif lainnya seperti halnya hidrogen peroksida dan radikal hidroksil. Interaksi dari bahan-bahan ini dengan asam arakhidonat menghasilkan pembentukan substansi-substansi kemotaksis, selanjutnya secara berkesinambungan meneruskan inflamasi (Katzung, 2001).

(56)

33

inflamasi yang diinduksi oleh karagenin dihubungkan dengan pelepasan prostaglandin dan neutrofil yang menghasilkan radikal bebas, seperti hidrogen peroksida, superoksida, dan radikal hidroksil.

Radikal bebas dapat didefinisikan sebagai setiap spesies yang mengandung satu atau lebih elektron tidak berpasangan (Halliwell and Gutteridge, 1999). Radikal bebas dalam kadar tertentu diperlukan untuk pertahanan tubuh (Anonim, 2003a). Namun, radikal bebas yang berlebih dapat menyebabkan inflamasi dan kerusakan yang luas diseluruh tubuh dan mempercepat degenerasi jaringan yang menyebabkan penuaan lebih cepat (Pizzorno, 1998). Oleh sebab itulah diperlukan suatu antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas untuk mencegah terjadinya inflamasi.

Tanaman makuto dewo mengandung alkaloid, saponin, polifenol, dan flavonoida dalam kulit buah dan buahnya. Flavonoida dapat bertindak sebagai antioksidan. Yang paling penting adanya sifat penangkap radikal-radikal bebas (free radical scavenging), dimana dapat memutuskan reaksi berantai radikal bebas. Robinson (1991) menunjukkan bahwa flavonoida dapat menghambat enzim-enzim seperti fosfodiesterase, aldoreduktase, monoamina oksidase, protein kinase, reverse transcriptase, DNA polimerase dan lipooksigenase dan bertindak sebagai penampung radikal hidroksil dan superoksida yang baik sehingga dapat melindungi lipid membran terhadap reaksi yang merusak.

(57)

bersifat antioksidan, (2) menghambat enzim-enzim yang terlibat dalam produk radikal bebas.

Virgin coconut oil (VCO) mengandung tokoferol yang secara umum diterima sebagai vitamin E. Menurut Syah (2005), senyawa ini diduga sebagai antioksidan alami yang kuat. VCO juga mengandung asam lemak jenuh dalam jumlah tinggi (asam laurat dan asam miristat), sehingga minyak kelapa tahan terhadap proses oksidasi.

VCO dan makuto dewo, keduanya mengandung senyawa antioksidan yang dapat menangkap radikal bebas berlebih penyebab inflamasi. Oleh karena itu, penambahan VCO pada perasan daging buah makuto dewo diduga memiliki daya anti-inflamasi yang lebih efektif.

K. Hipotesis

(58)

35

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian ini termasuk jenis penelitian eksperimental murni dengan rancangan acak lengkap pola searah.

B. Metode dan Prinsip Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode induksi udema oleh Langford, dkk. (1972) yang telah dimodifikasi. Prinsip dari metode ini adalah aktivitas anti-inflamasi ditandai dengan penurunan bobot udema.

C. Variabel dan Definisi Operasional

1. Variabel

a. Variabel bebas:

Penambahan Virgin Coconut Oil (VCO) terhadap perasan daging buah makuto dewo.

b. Variabel tergantung:

(59)

c. Variabel pengacau:

1) Variabel pengacau terkendali

a) Subyek uji adalah mencit putih dengan spesifikasi galur Swiss, berat badan 20 – 30 g, umur 2 – 3 bulan dan jenis kelamin betina. b) Buah makuto dewo yang digunakan adalah makuto dewo yang

sudah tua, berwarna merah segar. 2) Variabel pengacau tak terkendali:

Kondisi patologis subyek uji, kemurnian VCO, umur buah makuto dewo.

2. Definisi operasional

a. Perasan daging buah makuto dewo adalah sari hasil perasan tangan dari potongan kecil daging buah makuto dewo dan sudah terpisah dari ampasnya.

(60)

37

D. Subyek dan Bahan Penelitian

1. Subyek Uji

Subyek uji yang digunakan berupa mencit putih dengan spesifikasi: galur Swiss, berat badan antara 20-30 gram, umur antara 2-3 bulan, jenis kelamin betina.

2. Bahan Penelitian

a. Virgin coconut oil(VCO)

VCO yang digunakan merupakan VCO produksi dari CV Kelapa Mas, Yogyakarta dengan merk Vicol.

b. Buah makuto dewo

Buah makuto dewo yang digunakan berasal dari perkebunan makuto dewo di Purworejo, Jawa Tengah. Makuto dewo ini diambil pada bulan Juli-Agustus dengan spesifikasi: masak dan bewarna merah tua.

c. Zat peradang

Zat peradang (inflamatogen) yang digunakan adalah karagenin tipe 1 (Sigma Chemical Co.) yang diperoleh dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

d. Natrium diklofenak

Natrium diklofenak (BP 98) yang digunakan berasal dari PT. Ifars Pharmaceutical Laboratories, Solo.

e. NaCl fisiologis

(61)

f. Aquadest

Aquadest yang digunakan berasal dari Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

E. Alat Penelitian

1. Alat-alat gelas merek Pyrex Iwaki Glass, Japan.

2. Neraca analitik merek Mettler Toledo tipe AB 204 Germany.

3. Homogenizer merek Yastral GmbH D-7801 Dottingen tipe : X 1020. 4. Spuit injeksi subplantar (0,1 - 1,0 ml) merek Terumo.

5. Alat pemberian peroral yaitu jarum suntik (0,1 - 1,0 ml) yang ujungnya diberi bulatan kecil dengan lubang ditengahnya sehingga tidak melukai hewan uji. Jarum suntik peroral ini dibuat di Bengkel MIPA, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

6. Gunting dan pinset.

F. Tata Cara Penelitian

1. Determinasi Tanaman Makuto Dewo

(62)

39

2. Pembuatan Bahan Uji

a. Pembuatan perasan daging buah makuto dewo

Makuto dewo yang akan digunakan dicuci bersih dengan air mengalir. Kulit makuto dewo dibuang dan buahnya dipotong kecil-kecil, kemudian diperas dengan kain saringan sehingga diperoleh perasan buah makuto dewo.

b. Pembuatan campuran larutan uji

Sejumlah ml sari buah makuto dewo yang sudah diperas dicampur dengan sejumlah ml VCO.

b. Pembuatan larutan karagenin

Menurut Williamson, Okpako, dan Evans (1996), 0,05 ml larutan karagenin 1 % yang dilarutkan dalam 0,9 % NaCl fisiologis digunakan sebagai bahan pembuat radang pada mencit. Larutan karagenin 1 % dibuat dengan cara karagenin sebanyak 100 mg dilarutkan dalam NaCl fisiologis (0,9 %) hingga volume 10 ml. Perhitungan dosis karagenin dengan mengasumsikan volume pemberian 0,05 ml dan BB mencit 20 g adalah sebagai berikut:

dosis karagenin =

BB C x V

=

kg 0,02

mg/10ml 100

x 0,05

(63)

Larutan natrium diklofenak dosis 4,48 mg/kgBB dengan konsentrasi 0,18 mg/ml dibuat dengan menimbang 4,50 mg serbuk natrium diklofenak kemudian ditambahkan aquadest sampai volumenya 25 ml dalam labu ukur.

3. Orientasi Percobaan

a. Penentuan dosis natrium diklofenak

Dosis natrium diklofenak yang digunakan sebagai dosis orientasi adalah 3,36; 4,48; dan 5,6 mg/kgBB. Dosis ini diperoleh berdasarkan penelitian Maryanto (1997) dengan cara perhitungan:

(1) dosis untuk tikus 200 g = 30 mg/kgBB

dosis untuk tikus 200 g =

250 200

x 30 = 24 mg/kgBB

konversi dari tikus 200 g ke mencit 20 g = 0,14 x 24 mg/kgBB = 3,36 mg/kgBB (2) dosis untuk tikus 200 g = 40 mg/kgBB

dosis untuk tikus 200 g =

250 200

x 40 = 32 mg/kgBB

konversi dari tikus 200 g ke mencit 20 g = 0,14 x 32 mg/kgBB = 4,48 mg/kgBB (3) dosis untuk tikus 200 g = 50 mg/kgBB

dosis untuk tikus 200 g =

250 200

x 50 = 40 mg/kgBB

(64)

41

b. Penetapan selang waktu pemotongan kaki

Dua belas hewan uji dibagi dalam empat kelompok, kemudian kaki kirinya disuntik dengan karagenin 1% sebanyak 0,05 ml sedangkan kaki kanannya sebagai kontrol, hanya disuntik dengan spuit injeksi tanpa karagenin. Tiap kelompok dikurbankan pada selang waktu tertentu (1, 2, 3, dan 4 jam) setelah penyuntikan karagenin. Setelah dikurbankan, kedua kaki belakangnya dipotong pada sendi tarsocrural dan ditimbang. Waktu pemotongan kaki ditentukan pada saat kaki mengalami peningkatan udema yang berarti.

c. Penetapan dosis natrium diklofenak

Sembilan hewan uji dibagi dalam tiga kelompok. Tiap kelompok diberi natrium diklofenak secara peroral dengan dosis tertentu (3,36 mg/kgBB; 4,48 mg/kgBB; dan 5,6 mg/kgBB) 15 menit sebelum disuntik dengan karagenin 1 %. Tiga jam setelah disuntik karagenin, hewan uji dikurbankan dan kedua kaki belakangnya dipotong pada senditarsocrural

dan ditimbang. Dosis natrium diklofenak ditentukan pada saat kaki mengalami penurunan udema yang berarti.

d. Penetapan selang waktu pemberian natrium diklofenak

(65)

pemberian natrium diklofenak ditentukan pada saat kaki mengalami penurunan udema yang berarti.

e. Penetapan kombinasi penambahan VCO pada perasan daging buah makuto dewo.

Perbandingan jumlah VCO dan perasan daging buah makuto dewo yang digunakan dilakukan dengan melihat kekentalan campuran VCO dan perasan daging buah makuto dewo yang masih dapat dikeluarkan dari spuit injeksi. Perbandingan kombinasi VCO dan perasan daging buah makuto dewo yang digunakan dalam penelitian yaitu sebesar 1:¼, 1:½, 1:1, 1:2 dan 1:4.

4. Perlakuan Hewan Uji

a. Perlakuan hewan uji

Tujuh puluh hewan uji dibagi dalam sepuluh kelompok secara acak. Tiap kelompok terdiri dari tujuh hewan uji.

Kelompok I = Kontrol karagenin dosis 25 mg/kgBB secara subplantar Kelompok II = Kontrol aquadest 25 g/kgBB secara peroral

Kelompok III = Kontrol larutan natrium diklofenak 4,48 mg/kgBB secara peroral

Kelompok IV = Kontrol VCO sebanyak 1 ml secara peroral Kelompok V = Kontrol perasan daging buah makuto dewo

sebanyak 1 ml secara peroral

(66)

43

penambahan VCO. Perbandingan perasan daging buah makuto dewo dan VCO yang diberikan adalah 1:¼, 1: ½, 1:1, 1:2, dan 1:4.

Semua kelompok (kecuali kelompok I) pada menit ke 15 setelah perlakuan diatas kemudian disuntik karagenin 1% sebanyak 0,05 ml pada telapak kaki kiri secara subplantar. Kaki kanannya digunakan sebagai kontrol sehingga hanya disuntik dengan spuit injeksi tanpa karagenin. Tiga jam setelah disuntik karagenin, hewan uji dikurbankan kemudian kedua kakinya dipotong pada bagian senditarsocrurallalu ditimbang.

b. Perhitungan efek anti-inflamasi

Aktivitas anti-inflamasi menurut Langford dkk (1972) diperoleh dari data perubahan bobot kaki mencit yang dinyatakan sebagai % efek anti-inflamasi dan dirumuskan sebagai berikut :

% efek anti-inflamasi =

D D U

x 102 Keterangan:

U = rata-rata bobot kaki kelompok karagenin dikurangi rata-rata bobot kaki kelompok normal (tanpa perlakuan)

D = rata-rata bobot kaki kelompok perlakuan dikurangi rata-rata bobot kaki kelompok normal (tanpa perlakuan)

Rumus tersebut memungkinkan diperolehnya % efek anti-inflamasi yang melebihi 100%, sehingga diperbaiki menjadi:

% efek anti-inflamasi =

U D U

x 100 % Keterangan:

U = rata-rata bobot kaki kelompok karagenin dikurangi rata-rata bobot kaki kelompok normal (tanpa perlakuan)

(67)

Rumus inilah yang digunakan dalam penelitian ini untuk memperoleh % efek anti-inflamasi.

c. Perhitungan potensi relatif efek anti-inflamasi

Potensi relatif efek anti-inflamasi penambahan VCO pada perasan daging buah makuto dewo terhadap natrium diklofenak sebagai kontrol positif dihitung dengan rumus:

Potensi relatif efek anti-inflamasi =

   

DAd DAp

x 100 % Keterangan:

Dap = % efek anti-inflamasi kelompok perlakuan Dad = % efek anti-inflamasi larutan natrium diklofenak

5. Tata Cara Analisis Hasil

(68)

45

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Determinasi Buah Makuto Dewo

Determinasi tanaman makuto dewo (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) dilakukan untuk menghindari kesalahan akan tanaman yang digunakan. Determinasi dilakukan di laboratorium Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan hasil determinasi sebagai berikut: Famili

1b-2b-3b-4b-13b-14b-17b-18b-19b-20b-21b-22b-23b-24b-25b-26b-27b-799b- 800b-801b-802b-806b-807b-809b-810b-811b-825b-826b-829b-830b-831b-832b- 833b-834a-835a-836a-837a-851b-856b-857b-872b-874b-875b-876b-877d-933b-934a-935b-936-937b-939a-940a-941b-942b ………..…(64. Thymelaceae) Genus

1a………...…….(Phaleria Jack) Spesies

(69)

B. Pembuatan Larutan Uji

1. Pembuatan perasan daging buah makuto dewo

Larutan uji diperoleh dengan memeras daging buah makuto dewo masak yang telah dicuci bersih terlebih dahulu dengan menggunakan kain saring. Biji buah harus dibuang karena sifatnya yang toksik. Buah makuto dewo yang matang ditandai dengan warna kulit yang merah tua dan agak lunak apabila ditekan.

Dari hasil orientasi diketahui bahwa dengan memeras 200 g daging buah makuto dewo akan dihasilkan 100 ml air perasan. Air perasan daging buah makuto dewo yang digunakan dalam penelitian ini merupakan perasan yang murni tanpa adanya penambahan air.

2. Pembuatan campuran perasan daging buah makuto dewo dengan VCO

Setelah air perasan daging buah makuto dewo didapat, maka langkah selanjutnya adalah mencampurkan air perasan tersebut denganVirgin Coconut Oil

dengan takaran yang telah ditentukan. Pencampuran dilakukan dengan bantuan alat homogenizer selama 30 detik.

C. Hasil Orientasi Percobaaan

(70)

47

1. Hasil orientasi penetapan selang waktu pemotongan kaki

Orientasi penetapan selang waktu pemotongan kaki dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk mendapatkan udema yang berarti pada telapak kaki mencit setelah penyuntikan karagenin. Data bobot udema kaki mencit yang dihasilkan akibat pemberian karagenin dalam berbagai selang waktu pemotongan kaki (1 ,2, 3, dan 4 jam) dapat dilihat pada lampiran 11. Rata-rata bobot udema kaki mencit pada tiap kelompok dapat dilihat pada tabel I dan grafik rata-rata bobot udema dapat dilihat pada gambar 8.

Tabel I. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki

Selang waktu pemotongan kaki (jam)

Rata-rata bobot udema kaki mencit (mg)

(71)

Dari gambar 8 dapat dilihat bahwa bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar semakin meningkat dengan semakin lamanya waktu pemotongan kaki mencit. Bobot udema paling kecil terdapat pada kelompok pemotongan kaki 1 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar dan yang terbesar pada kelompok pemotongan kaki 4 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa karagenin sudah berefek optimal pada kelompok pemotongan kaki 4 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar.

Data rata-rata bobot udema kaki mencit kemudian dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi datanya. Dari analisis diperoleh probabilitas (p) > 0,05 yang artinya data terdistribusi normal sehingga dapat dilanjutkan analisis dengan uji Anova Satu Arah dengan taraf kepercayaan 95%. Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan antarkelompok. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah dapat dilihat pada tabel II.

Tabel II. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki

Keterangan DF F Probabilitas (p)

Bobot udema

antarkelompok perlakuan 3 184,576 0,00

(72)

49

Tabel III. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar dalam berbagai variasi selang waktu pemotongan kaki

Bobot udema kaki mencit dibandingkan kelompok-Kelompok ± SE

I II III IV

I 41,50±1,20 - B B B

II 57,33±1,03 B - B B

III 77,73±1,45 B B - TB

IV 82,33±1,77 B B TB

-Keterangan:

I = pemotongan kaki 1 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar II = pemotongan kaki 2 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar III = pemotongan kaki 3 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar IV = pemotongan kaki 4 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar B = berbeda bermakna (p < 0,05)

TB = berbeda tidak bermakna (p > 0,05)  = rata-rata bobot udema

SE =standard error

(73)

mencit dilakukan 2 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar, bobot udemanya akan berbeda dengan bobot udema yang pemotongan kakinya dilakukan pada 1, 3, atau 4 jam setelah injeksi. Namun jika pemotongan kaki mencit dilakukan 3 atau 4 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar maka bobot udemanya dapat dikatakan sama, dan diharapkan telah mencapai udema optimal. Untuk efisiensi waktu kerja, pemotongan kaki mencit selanjutnya dilakukan 3 jam setelah injeksi karagenin 1% subplantar karena bobot udema kaki mencit yang dihasilkan jika pemotongan dilakukan 3 atau 4 jam setelah injeksi adalah sama secara statistik.

2. Hasil orientasi penetapan dosis natrium diklofenak

(74)

51

Rata-rata bobot udema kaki mencit pada tiap kelompok dapat dilihat pada tabel IV dan grafik rata-rata bobot udema dapat dilihat pada gambar 9.

Tabel IV. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian berbagai variasi dosis natrium diklofenak

Dosis natrium diklofenak (mg/kgBB)

Rata-rata bobot udema kaki mencit (mg)

3,36 54.67

4,48 38.97

5,60 60.33

0 10 20 30 40 50 60 70

rata-rata bobot udema

(mg)

3,36 4,48 5,60

dosis (mg/kgBB)

Gambar 9. Grafik rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian berbagai variasi dosis natrium diklofenak

(75)

Data rata-rata bobot udema kaki mencit kemudian dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi datanya. Dari analisis diperoleh probabilitas (p) > 0,05 yang artinya data terdistribusi normal sehingga dapat dilanjutkan analisis dengan uji Anova Satu Arah dengan taraf kepercayaan 95%. Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan antarkelompok. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah dapat dilihat pada tabel V.

Tabel V. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dalam 3 peringkat dosis

Keterangan DF F Probabilitas (p)

Bobot udema

antarkelompok perlakuan 2 70,913 0,000

Hasil analisis uji Anova Satu Arah menunjukkan bahwa data antarkelompok adalah berbeda (signifikan) karena p < 0,05. Analisis uji Scheffe dilakukan sebagai analisis lanjutan untuk melihat apakah perbedaan yang diperoleh bermakna atau tidak bermakna secara statistik. Rangkuman hasil uji Scheffe dapat dilihat pada tabel VI.

(76)

53

Tabel VI. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dalam 3 peringkat dosis

Bobot udema kaki mencit dibandingkan

kelompok-Kelompok ± SE

I II III

I 54,67±1,03 - B TB

II 38,97±1,92 B - B

III 60,33±0,65 TB B

-Keterangan:

I = pemberian natrium diklofenak dengan dosis 3,36 mg/kgBB peroral II = pemberian natrium diklofenak dengan dosis 4,48 mg/kgBB peroral III = pemberian natrium diklofenak dengan dosis 5,60 mg/kgBB peroral B = berbeda bermakna (p < 0,05)

TB = berbeda tidak bermakna (p > 0,05)  = rata-rata bobot udema

SE =standard error

3. Hasil orientasi penenetapan selang waktu pemberian natrium diklofenak

(77)

Tabel VII. Rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dosis efektif pada rentang waktu tertentu

Selang waktu pemotongan kaki (jam)

Rata-rata bobot udema kaki mencit (mg)

Gambar 10. Grafik rata-rata bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dosis efektif pada rentang waktu tertentu

(78)

55

Data rata-rata bobot udema kaki mencit kemudian dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk melihat distribusi datanya. Dari analisis diperoleh probabilitas (p) > 0,05 yang artinya data terdistribusi normal sehingga dapat dilanjutkan analisis dengan uji Anova Satu Arah dengan taraf kepercayaan 95%. Uji ini dilakukan untuk melihat apakah ada perbedaan antarkelompok. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah dapat dilihat pada tabel VIII.

Tabel VIII. Rangkuman hasil uji Anova Satu Arah data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dosis efektif pada rentang waktu tertentu

Keterangan DF F Probabilitas (p)

Bobot udema

antarkelompok perlakuan 3 19,540 0,000

Hasil analisis uji Anova Satu Arah menunjukkan bahwa data antarkelompok adalah berbeda (signifikan) karena p < 0,05. Analisis uji Scheffe dilakukan sebagai analisis lanjutan untuk melihat apakah perbedaan yang diperoleh bermakna atau tidak bermakna secara statistik. Rangkuman hasil uji Scheffe dapat dilihat pada tabel IX.

(79)

60 menit (kelompok II). Namun kelompok I dan II menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan kelompok III dan IV.

Tabel IX. Rangkuman hasil uji Scheffe data bobot udema kaki mencit akibat injeksi karagenin 1% subplantar setelah pemberian natrium diklofenak dosis efektif pada rentang waktu tertentu

Bobot udema kaki mencit dibandingkan kelompok-Kelompok __ ± SE

I II III IV

I 37,83±2,06 - TB B B

II 41,43±2,17 TB - B B

III 56,80±3,67 B B - TB

IV 59,30±1,19 B B TB

-Keterangan:

I = pemberian natrium diklofenak 4,48 mg/kgBB 15 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar

II = pemberian natrium diklofenak 4,48 mg/kgBB 30 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar

III = pemberian natrium diklofenak 4,48 mg/kgBB 45 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar

IV = pemberian natrium diklofenak 4,48 mg/kgBB 60 menit sebelum injeksi karagenin 1% subplantar

B = berbeda bermakna (p < 0,05) TB = berbeda tidak bermakna (p > 0,05)

 = rata-rata bobot udema SE =standard error

(80)

57

D. Hasil Perlakuan pada Hewan Uji

Penelitian pengaruh penambahan virgin coconut oil (VCO) pada perasan daging buah makuto dewo (Phaleria macrocapa(Scheff.) Boerl.) kajian terhadap efek anti-inflamasi adalah untuk mengetahui apakah kombinasi VCO dan perasan daging buah makuto dewo mempunyai efek anti-inflamasi atau tidak dan untuk mengetahui besarnya penambahan VCO yang efektif dalam kajian anti-inflamasi. Selain itu, dalam penelitian ini sekaligus juga untuk mengetahui apakah VCO dan makuto dewa masing-masing memiliki efek inflamasi atau tidak. Efek anti-inflamasi dalam penelitian yang menggunakan metode induksi udema oleh Langford, Holmes, dan Emele yang telah dimodifikasi ini ditandai dengan penurunan bobot udema pada telapak kaki mencit yang telah disuntik dengan karagenin 1% subplantar akibat pemberian campuran VCO dan perasan daging buah makuto dewo secara peroral.

Metode induksi udema oleh karagenin adalah metode standar dan sangat umum digunakan untuk menguji efek anti-inflamasi akut. Metode ini banyak digunakan karena sederhana dan murah dari segi peralatan, bahan, dan cara kerjanya (Jain dkk, 2001). Data yang diperoleh adalah bobot telapak kaki mencit yang diberi injeksi karagenin 1% subplantar dikurangi dengan bobot telapak kaki mencit yang diberi perlakuan campuran VCO dan makuto dewo sebelum injeksi karagenin 1% subplantar.

(81)

dari obat-obat anti-inflamasi, baik dari golongan steroid maupun nonsteroid. Karagenin memberikan udema yang reproduksibel. Selain itu, karagenin juga tidak menimbulkan kerusakan pada jaringan (Jain et al., 2001), tidak menimbulkan bekas serta memberikan respon yang lebih peka terhadap anti-inflamasi dibandingkan senyawa lain. Udema yang diinduksi karagenin menunjukkan respon dua fase. Fase pertama diperantarai melalui pelepasan histamin, serotonin, dan bradikinin. Sedangkan fase kedua berhubungan dengan pelepasan prostaglandin dan neutrofil yang menghasilkan radikal bebas, seperti hidrogen peroksida, superoksida, dan radikal hidroksil (Suleyman dkk, 2004).

Aquadest merupakan pelarut dari natrium diklofenak dan sediaan yang diberikan adalah perasan daging buah makuto dewo. Kontrol aquadest diperlukan untuk mengetahui apakah aquadest memiliki efek anti-inflamasi yang berpengaruh terhadap efek anti-inflamasi sediaan yang diteliti. Natrium diklofenak digunakan sebagai kontrol karena memiliki aktifitas yang besar sebagai anti-inflamasi dan memiliki efek samping yang rendah dibanding OAINS lainnya.

Gambar

Gambar 1. Patogenesis dan tanda suatu peradangan (Mutschler, 1986)
Gambar 2. Skema dari mediator-mediator yang berasal dari asam arakhidonat dan titiktangkap kerja obat anti-inflamasi (Rang, Dale, Ritter, and Moore, 2003)
Gambar 3. Klasifikasi obat Anti-Inflamasi Non Steroid (AINS) (Wilmana, 1995)
Gambar 4. Mekanisme kerja obat anti inflamasi (Wilmana, 1995)
+7

Referensi

Dokumen terkait

FORMULASI KRIM EKSTRAK ETANOLIK BUAH MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) DENGAN BASIS A/M DAN M/A.. FORMULATION OF CREAM ETHANOLIC EXTRACT OF Phaleria

Skripsi yang berjudul “Formulasi Sediaan Gel Ekstrak Etanolik Buah Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) dengan Basis HPMC”, disusun sebagai salah satu syarat

PENGARUH PERLAKUAN SAMPEL BUAH MAHKOTA DEWA ( PHALERIA MACROCARPA (SCHEFF.) BOERL.) TERHADAP PERSENTASE INHIBISI.. AKTIVITAS ANTIOKSIDANNYA

Telah dilakukan penelitian perbandingan toksisitas ekstrak etanol kulit dan daging buah Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl.) mentah dan masak terhadap larva

UJI PENGHAMBATAN DEGRANULASI MASTOSIT TERSENSITISASI AKTIF OLEH EKSTRAK ETANOL DAUN MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl).. PADA

Efek Imunostimulan Ekstrak Etanol Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl) terhadap Imunoglobulin (IgM dan IgG) pada Mencit Balb/C yang Diinduksi Vaksin Hepatitis

Efek Imunostimulan Ekstrak Etanol Daun Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) terhadap Imunoglobulin (IgM dan IgG) pada Mencit Balb/c yang diinduksi Vaksin Hepatitis

Telah diuji aktivitas antiradang senyawa dominan buah Mahkota dewa (Phaleria macrocarpa Scheff. Boerl) yaitu senyawa hidroksi benzofenon glukosida, pada hewan