BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
C. Hasil Preparasi Sampel
Bunga melinjo yang telah diperoleh dicuci dengan air mengalir untuk membersihkan sampel dari pengotor-pengotor yang menempel. Sampel bunga melinjo yang telah dicuci kemudian dilakukan perajangan dengan cara dipotong kecil-kecil, tujuan dari proses perajangan ini adalah untuk mempermudah proses pengeringan. Perajangan dilakukan jangan terlalu tebal maupun terlalu tipis. Ukuran
perajangan sangat berpengaruh pada kualitas bahan simplisia, jika perajangan terlalu tipis, maka dapat meningkatkan kemungkinan berkurangnya zat yang terkandung di dalam sampel. Namun jika perajangan terlalu tebal maka kandungan air dalam simplisia akan sulit dihilangkan. Langkah selanjutnya adalah sampel diangin-anginkan untuk kemudian dilakukan pengeringan dengan menggunakan oven. Tujuan dilakukannya pengeringan adalah untuk mengurangi jumlah kadar air yang terdapat di dalam sampel sehingga sampel menjadi lebih awet dan tidak mengalami pembusukan sehingga kandungan kimia yang terdapat di dalam sampel dapat tetap terjaga kualitasnya. Suhu pengeringan bergantung pada bahan simplisia yang akan digunakan. Bahan simplisia umumnya dapat dikeringkan pada suhu 30-900C, tetapi suhu yang baik tidak melebihi dari 600C. Untuk simplisia yang mengandung senyawa aktif yang tidak tahan panas, simplisia harus dikeringkan pada suhu 30-450C, dengan alat pengering yang memiliki vakum atau aliran udara (Depkes RI, 1985). Karena senyawa aktif dalam sampel belum diketahui maka digunakan suhu pengeringan 400C. Suhu ini sesuai dengan suhu yang digunakan untuk mengeringkan simplisia yang memliki senyawa aktif yang tidak tahan panas. Tidak dipilih suhu yang lebih tinggi karena ditakutkan dalam sampel bunga melinjo terdapat senyawa aktif yang tidak tahan panas sehingga dapat merusak senyawa aktif tersebut.
Setelah sampel tanaman benar-benar kering, Sampel kemudian diblender untuk memperkecil ukuran partikel sehingga didapatkan partikel-partikel yang kecil sehingga luas permukaannya lebih besar. Semakin besar luas permukaan sampel maka kesempatan untuk bersentuhan dengan cairan penyari akan semakin besar yang
menyebabkan proses penyarian lebih efektif. Hal ini disebabkan adanya kemudahan cairan penyari menembus sampel dan menyari senyawa kimia yang terdapat di dalam bunga melinjo.
2. Pembuatan ekstrak etanolik bunga melinjo
Langkah yang selanjutnya dilakukan adalah melakukan proses penyarian atau ekstraksi. Tujuan dari proses ekstraksi adalah untuk menarik zat pokok atau komponen kimia yang diinginkan dari bahan mentah obat dan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat yang diinginkan dapat larut. Dasar dari metode ekstraksi adalah perpindahan massa aktif yang semula berada dalam sel, ditarik oleh cairan penyari sehingga terjadi larutan zat aktif dalam cairan penyari tersebut (Trevor, 1995). Semakin banyak permukaan simplisia yang bersentuhan dengan cairan penyari maka proses ekstraksi yang terjadi akan semakin baik (Harborne, 1987) sehingga senyawa fenolik yang terdapat pada bunga melinjo dapat diambil.
Cairan penyari yang digunakan dalam penelitian ini adalah etanol 70 %. Etanol dipilih sebagai penyari karena etanol bersifat universal, aman, dan ekonomis. Bersifat universal karena dapat melarutkan sebagian besar kandungan kimia (senyawa organik) dalam sampel. Aman karena dibanding pelarut organik lain seperti metanol, etanol lebih aman bagi kesehatan dan lingkungan. Bersifat ekonomis karena etanol lebih murah harganya jika dibandingkan dengan pelarut organik lain seperti metanol. Penggunaan etanol juga dapat mencegah terjadinya browning karena etanol dapat mendenaturasi enzim polifenol oksidase. Etanol dapat dengan efisien berpenetrasi ke
dalam membran sehingga mendorong terekstraksinya sejumlah besar komponen endoselular (Silva, Lee, Kinghorn, 1998).
Metode penyarian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode maserasi. Metode maserasi dipilih karena dalam pengerjaannya metode ini tidak memerlukan panas untuk menarik kandungan zat aktif dari tanaman. Dalam penelitian ini, metode ekstraksi dengan pemanasan tidak dipilih karena kandungan zat aktif di dalam sampel bunga melinjo belum diketahui secara pasti sehingga ditakutkan terdapat beberapa senyawa kimia yang tidak tahan panas akan mengalami kerusakan jika dilakukan proses ekstraksi dengan pemanasan. Temperatur selama proses ekstraksi akan mempengaruhi stabilitas senyawa fenolik karena dapat menyebabkan degradasi yang mengurangi kandungan fenolik total dan aktivitas antioksidan. Oleh karena itu metode ini sangat cocok digunakan. Selain itu, metode maserasi juga dipilih karena proses pengerjaannya yang mudah dan peralatannya yang sederhana.
Ketika proses maserasi berlangsung akan terjadi pemecahan dinding dan membran sel akibat perbedaaan tekanan antara di dalam dan di luar sel, sehingga metabolit sekunder yang berada di sitoplasma akan terlarut di dalam pelarut organik (Fouad, 2005). Cairan penyari yaitu etanol akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel yang mengandung senyawa kimia, senyawa kimia itu akan larut dalam cairan penyari dan cairan penyari yang sudah pekat dengan senyawa kimia akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi cairan di dalam dan di luar sel. Selama proses
maserasi, perlu dilakukan pengadukan dengan batuan shaker. Pengadukan ini berfungsi untuk meningkatkan kontak antara cairan penyari dengan sampel, sehigga penyarian lebih efektif. Selain itu pengadukan dengan shaker juga berfungsi untuk meratakan cairan penyari yang sudah jenuh oleh komponen terlarut, sehingga akan terjadi gradien konsentrasi. Gradien konsentrasi ini perlu dijaga agar difusi cairan penyari dapat berlangsung hingga cairan penyari jenuh. Proses maserasi dilakukan selama 2 hari pada suhu ruangan yang kemudian dilanjutkan dengan proses remaserasi.
Remaserasi dilakukan untuk memaksimalkan proses penyarian senyawa-senyawa yang mungkin belum tersari akibat sudah jenuhnya cairan penyari. Selama proses maserasi dan remaserasi bejana maserasi ditutup dengan aluminium foil untuk mengurangi intensitas cahaya matahari dan mencegah terjadinya kerusakan senyawa-senyawa akibat terpapar sinar UV.
Hasil maserasi dan remaserasi disaring dengan kertas saring yang diletakan di dalam corong Buchner dengan bantuan pompa vacuum untuk mempercepat proses penyaringan. Kemudian, cairan penyari diuapkan dengan vaccum rotary evaporator
pada suhu 500C dan tekanan rendah hingga diperoleh ekstrak etanolik bunga melinjo. Ekstrak etanolik bunga melinjo selanjutnya diuapkan lagi hingga diperoleh ekstrak kental etanol. Penguapan dengan tekanan rendah akan mempercepat proses penguapan karena pelarut akan menguap pada suhu di bawah titik didihnya dan rusaknya zat aktif akibat kontak dengan panas berlebihan dapat dihindari. Bobot
ekstrak etanolik bunga melinjo yang diperoleh adalah 44,798 g dan rendemen yang didapat dari ekstrak etanolik bunga melinjo adalah sebesar 1,493 %.