• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tahun Nilai Indeks Kerentanan Berdasarkan Skenario Pengelolaan

Tanpa Pengelolaan Pengelolaan Skenario 1 Pengelolaan Skenario 2

2010 6.18 6.18 6.18 2011 6.964306144 6.611292079 6.425378533 2012 7.739801974 7.03991998 6.669894697 2013 8.506586459 7.465900161 6.913551522 2014 9.264757455 7.889248978 7.156352029 2015 10.01441172 8.309982684 7.398299227 2016 10.75564492 8.728117434 7.639396114 2017 11.48855166 9.143669283 7.87964568 2018 12.21322547 9.556654185 8.119050903 2019 12.92975883 9.967087996 8.357614749 2020 13.63824319 10.37498648 8.595340175 2021 14.33876895 10.78036529 8.832230128 2022 15.03142553 11.18323999 9.068287545 2023 15.71630132 11.58362606 9.303515351 2024 16.39348372 11.98153886 9.537916462 2025 17.06305916 12.37699367 9.771493783 2026 17.72511308 12.77000568 10.00425021 2027 18.37972998 13.16058998 10.23618863 2028 19.0269934 13.54876156 10.46731191 2029 19.66698594 13.93453533 10.69762292 2030 20.29978927 14.3179261 10.92712452 2031 20.92548417 14.69894858 11.15581954 2032 21.54415047 15.07761741 11.38371083 2033 22.15586713 15.45394713 11.61080121 2034 22.76071222 15.82795219 11.8370935 2035 23.35876293 16.19964694 12.06259049 2036 23.95009558 16.56904566 12.28729498 2037 24.53478564 16.93616253 12.51120976 2038 25.11290772 17.30101164 12.73433761 2039 25.68453561 17.66360701 12.95668128 2040 26.24974225 18.02396256 13.17824354 2041 26.80859978 18.38209212 13.39902714 2042 27.36117952 18.73800944 13.6190348 2043 27.90755199 19.09172818 13.83826925 2044 28.44778692 19.44326194 14.05673322 2045 28.98195324 19.7926242 14.27442941 2046 29.51011914 20.13982838 14.49136052 2047 30.03235201 20.48488781 14.70752924 2048 30.54871851 20.82781574 14.92293824 2049 31.05928453 21.16862534 15.1375902 2050 31.56411522 21.50732969 15.35148778

Tahun Nilai Indeks Kerentanan Berdasarkan Skenario Pengelolaan

Tanpa Pengelolaan Pengelolaan Skenario 1 Pengelolaan Skenario 2

2051 32.06327503 21.84394179 15.56463362 2052 32.55682764 22.17847457 15.77703038 2053 33.04483605 22.51094088 15.98868068 2054 33.52736253 22.84135348 16.19958715 2055 34.00446867 23.16972505 16.40975239 2056 34.47621535 23.49606821 16.61917903 2057 34.94266278 23.82039547 16.82786964 2058 35.40387048 24.14271931 17.03582682 2059 35.85989732 24.46305208 17.24305315 2060 36.31080149 24.7814061 17.4495512 2061 36.75664053 25.09779358 17.65532352 2062 37.19747135 25.41222667 17.86037266 2063 37.63335021 25.72471744 18.06470117 2064 38.06433272 26.0352779 18.26831157 2065 38.4904739 26.34391996 18.4712064 2066 38.91182812 26.65065548 18.67338817 2067 39.32844916 26.95549624 18.87485938 2068 39.74039019 27.25845393 19.07562253 2069 40.14770378 27.55954019 19.27568011 2070 40.55044191 27.85876658 19.4750346 2071 40.94865598 28.15614459 19.67368847 2072 41.3423968 28.45168564 19.87164418 2073 41.73171464 28.74540107 20.06890419 2074 42.11665916 29.03730216 20.26547093 2075 42.49727951 29.32740012 20.46134686 2076 42.87362424 29.61570608 20.65653438 2077 43.2457414 29.90223113 20.85103594 2078 43.61367847 30.18698625 21.04485393 2079 43.97748241 30.46998238 21.23799075 2080 44.33719965 30.75123039 21.43044881 2081 44.69287608 31.03074107 21.62223048 2082 45.04455711 31.30852516 21.81333815 2083 45.39228762 31.58459332 22.00377418 2084 45.73611198 31.85895616 22.19354093 2085 46.07607408 32.1316242 22.38264076 2086 46.41221729 32.40260791 22.57107601 2087 46.74458451 32.67191771 22.75884901 2088 47.07321817 32.93956392 22.94596209 2089 47.39816021 33.20555683 23.13241758 2090 47.71945208 33.46990665 23.31821777 2091 48.0371348 33.73262353 23.50336499 2092 48.35124891 33.99371755 23.68786151

Tahun Nilai Indeks Kerentanan Berdasarkan Skenario Pengelolaan

Tanpa Pengelolaan Pengelolaan Skenario 1 Pengelolaan Skenario 2

2093 48.66183449 34.25319874 23.87170963 2094 48.96893118 34.51107707 24.05491163 2095 49.27257818 34.76736243 24.23746977 2096 49.57281423 35.02206466 24.41938633 2097 49.86967766 35.27519355 24.60066354 2098 50.16320633 35.52675881 24.78130367 2099 50.45343773 35.7767701 24.96130895 2100 50.74040888 36.02523702 25.14068161

AMIRUDDIN TAHIR. Formulation of Environmental Vulnerability Index for Small

Islands: Case of Kasu Island-Batam, Barrang Lompo Island-Makasar, and Saonek

Island-Raja Ampat. Under supervisor by MENNOFATRIA BOER, SETYO BUDI

SUSILO, and INDRA JAYA.

Indonesian archipelago consist of strings of island, large and small. Small

islands, in particularly, are vulnerable to the impact of global warming and sea level

rise. The vulnerability of assessment of small islands is important and critical

sustainable small island management. The present research aims to formulate the

environmental vulnerability index for small islands, to analize the parameters of

environmental vulnerability, to simulate and to predict the vulnerability dynamic of

continue existance of small islands, to predict small islands inundation, and to

develop the adaptation strategies for small islands. The assessment was carried out

on three different small island that are Kasu Island located in Batam, Barrang

Lompo Island located in Makasar, and Saonek Island located in Raja Ampat to

formulate its index of vulnerablity. To support the assessment, data were collected

through direct observation and measurement of various parameters such as

elevation, coral reef, mangrove and sea grass. In addition depth interview was

carried out to collect the social economic data. The principle of data analysis is by

mean of transformation of quantitative and qualitative data into scoring value to

produce the small island vulnerability index. The results showed that vulnerability

index for Kasu Island is 2.44 (low), Barrang Lompo Island is 7.67 (moderate), and

Saonek Island is 6.18 (moderate); coastal inundation until 2100 reach 84 % the land

area for Barrang Lompo Island, 39 % for Saonek Island and 10.50 % for Kasu

Island. The suggested adaptation strategies are conservation of 50 % of coastal

habitat, sea wall construction and resettlement.

Key words: Small island, vulnerability, exposure, sensitivity, adaptive capacity,

index.

Kecil: Kasus Pulau Kasu-Kota Batam, Pulau Barrang Lompo-Kota Makasar, dan

Pulau Saonek-Kabupaten Raja Ampat. Dibimbing oleh MENNOFATRIA BOER,

SETYO BUDI SUSILO, dan INDRA JAYA

Perubahan iklim global diprediksi akan mempengaruhi kehidupan masyarakat

di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil. Pulau-pulau kecil merupakan salah satu

daerah yang paling rentan terhadap kenaikan muka laut. Kerentanan merupakan

salah satu aspek yang mendapat perhatian banyak pihak dalam pembangunan pulau-

pulau kecil. Negara-negara yang tergolong dalam Small Island Development State

memberikan perhatian yang serius terhadap kajian kerentanan pulau-pulau kecil.

Sementara Indonesia sebagai negara kepulauan, dimana sebagian besar pulaunya

adalah pulau-pulau kecil, sampai saat ini belum memiliki indeks kerentanan

lingkungan. Tujuan penelitian ini adalah (1) memformulasikan model indeks

kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil, (2) menganalisis parameter kerentanan

lingkungan pulau-pulau kecil terkait dengan kenaikan muka laut; (3) menghitung

indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil dan memproyeksikan perubahan

kerentanan lingkungan pada masa yang akan datang; (4) memperkirakan perendaman

daratan pulau akibat kenaikan muka laut; dan (5) merancang strategi adaptasi

berdasarkan karakteristik lingkungan pulau-pulau kecil.

Pengumpulan data dilakukan melalui survei lapangan dan pengumpulan data

sekunder. Analisis data terdiri dari (1) analisis ekosistem dan sumberdaya pulau-

pulau kecil. Melalui analisis ini diperoleh gambaran umum tentang kondisi

ekosistem dan sumberdaya pesisir di pulau-pulau kecil; (2) analisis karakteristik fisik

dan sosial masyarakat. Hasil dari analisis ini adalah gambaran umum karakteristik

fisik pulau seperti ketinggian pulau di atas permukaan laut, kelerengan pulau, dan

karakteristik sosial masyarakat termasuk persepsi masyarakat, infrastruktur yang ada

di pulau-pulau kecil; (3) analisis kecenderungan kenaikan muka laut, termasuk erosi

pantai. Analisis ini menghasilkan informasi tentang kecenderungan kenaikan muka

laut; dan (4) analisis kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil. Hasil yang didapatkan

dari analisis ini adalah informasi terkait dengan dinamika kerentanan lingkungan

pulau-pulau kecil. Setelah dilakukan overlay terhadap hasil analisis didapatkan

keluaran dari penelitian berupa indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil dan

strategi adaptasi pulau-pulau kecil. Untuk menentukan parameter kerentanan

lingkungan digunakan pendekatan VSD (vulnerability scoping diagram), dimana

terdapat 17 parameter yang dikaji dalam penelitian ini, yaitu kenaikan muka laut,

erosi pantai, tinggi gelombang, rata-rata tunggang pasang, kejadian tsunami,

pertumbuhan dan kepadatan penduduk, elevasi dan slope, tipologi pantai, penggunaan

lahan, tipologi pemukiman penduduk, habitat pesisir, ekosistem mangrove, ekosistem

terumbu karang, padang lamun dan konservasi laut.

Parameter kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil sudah memiliki nilai yang

cukup tinggi, yaitu tinggi gelombang, pertumbuhan dan kepadatan penduduk serta

kejadian tsunami (exposure), parameter kerentanan lingkungan untuk dimensi

lamun. Nilai indeks kerentanan lingkungan saat ini memiliki perbedaan antara ketiga

pulau, dimana kerentanan lingkungan tertinggi adalah Pulau Barrang Lompo sebesar

7.67 (kerentanan sedang), Pulau Saonek sebesar 6.18 (kerentanan sedang) dan Pulau

Kasu sebesar 2.44 (kerentanan rendah)

Perilaku parameter kerentanan lingkungan yang akan berubah dalam 2 tahun

ke depan adalah kenaikan muka laut untuk ketiga pulau, penurunan kualitas terumbu

karang untuk Pulau Barrang Lompo dan dampak terhadap pemukiman untuk Pulau

Kasu. Simulasi kerentanan lingkungan dengan dua skenario (pengelolaan skenario 1

dan skenario 2) menunjukkan bahwa perubahan kerentanan lingkungan dapat

diperlambat untuk ketiga pulau. Skenario pengelolaan yang disarankan adalah

meningkatkan kapasitas adaptif dan menurunkan tingkat sensitivitas pulau. Hasil

simulasi kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil memperlihatkan bahwa sampai

tahun 2100 terjadi beberapa kemungkinan yaitu (1) pengelolaan skenario 1 untuk

Pulau Kasu hanya akan mencapai kerentanan tinggi pada tahun 2060, (2) pengelolaan

skenario 1 untuk Pulau Barrang Lompo memperlambat perubahan kerentanan dari

tinggi (2027) ke kerentanan sangat tinggi pada tahun 2074, (3) pengelolaan skenario 1

untuk Pulau Saonek hanya akan mencapai kerentanan tinggi pada tahun 2041, (4)

pengelolaan skenario 2 untuk Pulau Kasu memperlambat perubahan kerentanan dari

kerentanan rendah menjadi kerentanan sedang pada tahun 2032, (5) pengelolaan

skenario 2 untuk Pulau Barrang Lompo akan mencapai kerentanan tinggi pada tahun

2039, (6) pengelolaan skenario 2 untuk Pulau Saonek hanya akan mencapai

kerentanan tinggi pada tahun 2064.

Dampak kenaikan muka laut khususnya kemungkinan terjadinya perendaman

daratan pulau, akan terjadi di ketiga pulau. Dampak terbesar akan dialami oleh Pulau

Barrang Lompo dan Saonek. Hal ini disebabkan karena kedua pulau ini memiliki

proporsi luas daratan pulau yang memiliki ketinggian kurang dari 100 cm cukup

besar. Berdasarkan hasil penilaian parameter kerentanan, perhitungan indeks

kerentanan, simulasi dinamika kerentanan, dan rancangan strategi adaptasi dapat

disimpulkan bahwa ketiga pulau memiliki perbedaan tingkat kerentanan lingkungan.

Strategi adaptasi yang dapat dikembangkan untuk ketiga pulau adalah strategi

yang bersifat reaktif. Strategi tersebut adalah (1) strategi adaptasi jangka pendek

dengan penetapan kawasan laut sebesar 30 % dari luas habitat pesisir untuk ketiga

pulau baik untuk ekosistem mangrove maupun terumbu karang; (2) strategi jangka

menengah dilakukan dengan meningkatkan proporsi kawasan konservasi laut menjadi

50 % dan pembangunan bangunan pelindung pantai; dan (3) strategi jangka panjang

dilakukan dengan menata pemukiman baik melalui pembangunan rumah panggung

maupun dengan merelokasi pemukiman penduduk ke tempat yang lebih aman (lebih

tinggi).

Kata kunci: pulau-pulau kecil, kerentanan, exposure, sensitivity, adaptive capacity,

indeks.

Perubahan iklim dan pemanasan global diprediksi akan mempengaruhi kehidupan masyarakat di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil di berbagai belahan dunia (IPCC 2001). Salah satu hal yang akan berubah adalah akselerasi terhadap kenaikan muka laut yang akan menimbulkan dampak lanjutan seperti perendaman/penggenangan pesisir/pulau-pulau kecil (coastal inundation), peningkatan banjir, erosi pantai, intrusi air laut dan perubahan proses-proses ekologi di wilayah pesisir. Perubahan yang terjadi pada aspek biologi-fisik ini juga akan berdampak terhadap aspek sosial ekonomi masyarakat di wilayah pesisir seperti hilangnya infrastruktur, penurunan nilai-nilai ekologi, nilai ekonomi sumberdaya pesisir dan terganggunya sistem lingkungan dan ekonomi pesisir (Klein dan Nicholls 1999). Selain itu, perkembangan daerah pemukiman dan pertumbuhan penduduk yang cepat pada pusat-pusat perkotaan di wilayah pesisir juga merupakan salah satu hal yang akan mengalami perubahan secara fundamental karena perubahan iklim (Nicholls 1995).

Pemanasan global juga berdampak terhadap ketahanan pangan termasuk bagi masyakat pesisir. Pemanasan global dan perubahan iklim akan mempengaruhi ketahanan pangan, terutama dikaitkan dengan suplai dan ketersediaan pangan, stabilitas suplai pangan, akses, dan pemanfaatan pangan. Pemanasan global berdampak terhadap sistem mata pencaharian masyarakat pesisir khususnya nelayan. Kenaikan suhu permukaan laut berdampak terhadap ekosistem pesisir khususnya terumbu karang. Fenomena pemutihan karang karena kenaikan suhu permukaan laut diprakirakan akan berdampak terhadap sumberdaya perikanan yang memiliki habitat ekosistem terumbu karang. Masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap sumberdaya pesisir dan perikanan. Dengan terganggunya ekosistem pesisir dan perikanan akan berdampak terhadap sumber mata pencaharian masyarakat pesisir dan pulau-pulau kecil.

Pulau-pulau kecil (small islands) merupakan salah satu daerah yang paling rentan terhadap kenaikan muka laut (Mimura, 1999). Fenomena ini telah

ditunjukkan oleh pulau-pulau kecil di beberapa negara SIDS (small island development state) di kawasan Pasifik. Umumnya, pulau-pulau kecil yang paling rentan terhadap kenaikan muka laut adalah pulau yang memiliki daratan rendah (low-lying). Untuk merespon fenomena ini, kajian kerentanan terhadap kenaikan muka laut dan pengembangan strategi adaptasi menjadi sangat penting. Hal ini telah dilakukan oleh negara-negara kepulauan di kawasan Asia Pasifik sejak tahun 1992. Dalam konteks kerentanan pulau-pulau kecil, Lewis (2009) menyatakan bahwa kerentanan sudah merupakan karakteristik dari pulau-pulau kecil. Pulau- pulau kecil sebagai tempat/lokasi yang sangat kecil, menyebabkan seluruh kegiatan di pulau tersebut, baik karena pengaruh dari luar maupun pengaruh internal dari sistem pulau-pulau kecil akan berinteraksi satu sama lainnya di pulau tersebut.

Sekitar 7 persen area daratan muka bumi ini terdiri atas pulau-pulau kecil. Dari jumlah tersebut, Indonesia memiliki kontribusi terbesar terhadap jumlah pulau-pulau kecil di dunia, dimana Indonesia memiliki tidak kurang dari 10 000 pulau kecil. Pulau-pulau kecil ini tergolong unik ditinjau dari sisi bio-fisik, geografi, penduduk yang mendiami, budaya dan daya dukung lingkungannya (Beller 1990). Kawasan pulau-pulau kecil dikenal sebagai kawasan yang memiliki kekayaan sumberdaya cukup besar, seperti kekayaan ekosistem, kekayaan sumberdaya alam dan jasa-jasa lingkungan. Pulau-pulau kecil memiliki ekosistem produktif, seperti terumbu karang, padang lamun, dan mangrove. Kawasan pulau-pulau kecil juga menyediakan sumberdaya ikan dan berbagai kekayaan sumberdaya alam yang tidak terbarukan seperti energi kelautan. Selain itu, pulau-pulau kecil juga menyediakan layanan jasa lingkungan, seperti penyedia nilai-nilai estetika, nilai-nilai sosial, pelindung keanekaragaman hayati dan pelindung atau penghalang bagi daratan dari bencana alam seperti tsunami, gelombang dan badai.

Di satu sisi, pulau-pulau kecil memiliki sejumlah potensi yang dapat dikembangkan seperti disebutkan di atas, namun pada sisi lain juga terdapat sejumlah kendala yang dihadapi dalam pembangunan pulau-pulau kecil. Ukuran pulau-pulau yang kecil bahkan sangat kecil, merupakan salah satu kendala yang dihadapi dalam pembangunan pulau-pulau kecil. Konsekuensi dari ukuran yang

kecil adalah keterbatasan lahan produktif untuk mendukung (daya dukung lingkungan) kebutuhan hidup manusia. Oleh karena itu, pilihan optimasi pemanfaatan sumberdaya alam pulau-pulau kecil difokuskan pada sumberdaya pesisir dan laut. Letak atau lokasi pulau-pulau kecil yang jauh dari daratan bahkan terpencil (remote) juga menjadi kendala dalam pembangunan pulau-pulau kecil. Konsekuensi dari karakter ini adalah biaya transportasi dan komunikasi menjadi sangat mahal dan menyebabkan pembangunan pulau-pulau kecil sulit mencapai skala ekonomi (economical scale) yang optimal.

Karakteristik pulau-pulau kecil seperti yang disebutkan di atas, menyebabkan pulau-pulau kecil menjadi salah satu kawasan yang rentan terhadap perubahan iklim dan kenaikan muka laut. Kerentanan (vulnerability) merupakan salah satu aspek yang mendapat perhatian banyak pihak dalam pembangunan pulau-pulau kecil. Negara-negara yang tergolong dalam SIDS (Small Island Development State) memberikan perhatian yang serius terhadap kajian kerentanan pulau-pulau kecil (SOPAC 2005). Mengingat pentingnya kajian kerentanan ini, maka kajian kerentanan di negara-negara anggota SIDS ini didorong dengan sebuah resolusi yang dikeluarkan pada tahun 1994 yang menyebutkan bahwa negara-negara kepulauan kecil dalam rangka kerjasama di tingkat nasional, regional dan kerjasama dengan lembaga internasional dan pusat-pusat penelitian, secara kontinyu bekerja untuk mengembangkan indeks kerentanan lingkungan dan indeks lainnya yang menggambarkan status dari negara-negara kepulauan.

Berbeda dengan negara-negara yang tergabung dalam SIDS, Indonesia sebagai negara kepulauan yang sebagian besar pulaunya adalah pulau-pulau kecil, sampai saat ini belum memiliki indeks kerentanan (Simamora 2009). Beberapa kajian kerentanan pesisir dan pulau-pulau kecil Indonesia telah dilakukan di beberapa tempat, namun metode dan hasil kajian kerentanan ini belum dijadikan rujukan untuk pengkajian kerentanan pulau-pulau kecil Indonesia. Dari berbagai kajian kerentanan yang telah dilakukan, terdapat banyak metode dan atribut kerentanan yang digunakan. Sebagian besar indeks kerentanan pulau-pulau kecil yang dikembangkan saat ini fokus pada sistem ekonomi dan sosial, dan hanya sebagian kecil kajian kerentanan yang fokus pada kerentanan lingkungan (Atkins et al. 1998). Kajian kerentanan pulau-pulau kecil merupakan bagian dari

pengelolaan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan (Mimura, 1999). Hal ini berarti bahwa hasil kajian kerentanan hendaknya memberikan kontribusi bagi perencanaan dan pengelolaan pulau-pulau kecil berkelanjutan. Kajian kerentanan lingkungan yang sudah dilakukan dalam mengkaji kerentanan pulau-pulau kecil dan pesisir mengacu pada indikator yang dikembangkan oleh SOPAC (1999) tentang kerentanan lingkungan (environmental vulnerability idex) dan Gornitz (1992) tentang kerentanan pesisir (coastal vulnerability index). Penelitian kerentanan lingkungan yang mengacu pada Konsep SOPAC (1999) telah dilakukan Kaly dan Pratt (2002), Gowrie (2003), dan Turvey (2007). Selain itu juga terdapat beberapa penelitian yang berhubungan dengan kerentanan pesisir (coastal vulnerability index) seperti yang dilakukan oleh Pendleton et al. (2004); Boruff et al. (2005); Doukakis (2005), Demirkesen et al. (2008), Rao et al. (2008), Al-Jeneid et al. (2008) dan DKP (2008).

Seiring dengan perkembangan isu perubahan iklim dan pemanasan global, konsep kerentanan kemudian banyak mendapatkan perhatian dari banyak peneliti. Konsep kerentanan tersebut mengintegrasikan aspek atau dimensi ketersingkan/keterbukaan (exposure), sensitivitas (sensitivity), dan kapasitas adaptif (adaptive capacity) (Turner et al. 2003; Fussel and Klein 2005; Metzger et al. (2006); UNU-EHS 2006). Dalam konteks pengelolaan pulau-pulau kecil, konsep ini lebih aplikatif dalam rangka membangun pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Penelitian yang dilakukan ini mengacu kepada konsep yang diuraikan di atas, dalam rangka mengembangkan model indeks kerentanan baru yang dapat diaplikasikan untuk menilai kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil.

Pulau-pulau kecil Indonesia memiliki hamparan yang cukup luas, dari barat hingga ke timur ataupun juga dari utara sampai ke selatan. Mengingat penyebaran yang sangat luas, maka dipilih tiga pulau sangat kecil yang berada di wilayah bagian barat, tengah dan timur wilayah Indonesia. Ketiga pulau tersebut adalah Pulau Kasu-Kota Batam, Pulau Barrang Lompo-Kota Makasar, dan Pulau Saonek-Kabupaten Raja Ampat. Penelitian ini dimaksudkan untuk memberikan kontribusi terhadap penyediaan informasi ilmiah tentang kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil Indonesia. Diharapkan kajian ini dapat memperkaya metode dan pendekatan dalam mengkaji kerentanan pulau-pulau kecil di Indonesia, yang

selanjutnya dapat digunakan dalam perencanaan dan pengelolaan pulau-pulau kecil berkelanjutan di Indonesia.

1.2. Perumusan Masalah

Banyak pulau-pulau kecil memiliki kerentanan yang tinggi terhadap perubahan iklim dan kenaikan muka laut. Posisi pulau-pulau kecil yang remote merupakan faktor penyebab kerentanan pulau-pulau kecil. Belum lagi berbagai keterbatasan pulau-pulau kecil dalam hal ketersediaan lahan, kemampuan ekonomi turut menjadi faktor yang berperan terhadap kerentanan pulau-pulau kecil. Keberadaan dan kelangsungan sebuah ekosistem pulau-pulau kecil sangat dipengaruhi tingkat kerentanan pulau-pulau kecil (Mimura 1999), dimana kerentanan sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal dari sistem pulau-pulau kecil itu sendiri. Seberapa besar faktor luar mempengaruhi sistem pulau-pulau kecil akan menentukan tingkat kerentanan pulau-pulau kecil, yang selanjutnya akan mempengaruhi dan menentukan keberlanjutan dari sistem pulau- pulau kecil. Kajian kerentanan (vulnerability assessment) akan memberikan kontribusi terhadap upaya pengelolaan pulau-pulau kecil berkelanjutan.

Faktor luar yang mempengaruhi kerentanan adalah kenaikan muka laut, kondisi oseanografi khususnya gelombang dan pasang surut, peristiwa alam khususnya kejadian tsunami. Parameter inilah yang dinilai untuk mengkaji kerentanan pulau-pulau kecil. Kenaikan muka laut adalah fenomena global yang sudah banyak dikaji oleh para ilmuwan. Berbagai kajian dilakukan untuk mengantisipasi kerugian (ekonomi, sosial dan lingkungan) akibat kenaikan muka laut. Indonesia sebagai negara kepulauan, tidak luput dari ancaman kenaikan muka laut ini. Lebih spesifik lagi, banyak pulau-pulau kecil yang memiliki ketinggian hanya beberapa meter di atas permukaan laut. Tentunya, pulau-pulau kecil seperti ini merupakan pulau yang memiliki ancaman terbesar terhadap kemungkinan penggenangan daratan pulau. Dilihat dari posisinya terhadap keterbukaan (perairan), ada pulau kecil yang terletak pada perairan sempit (selat ataupun teluk), ada pulau yang terletak pada perairan terbuka (laut). Posisi atau letak pulau-pulau kecil yang demikian tentunya memiliki ancaman yang berbeda karena kenaikan muka laut. Oleh karena itu, penelitian ini akan mengkaji seberapa besar ancaman kenaikan muka laut terhadap pulau-pulau kecil dilihat

dari letak pulau-pulau kecil terhadap keterbukaan (perairan) yang dikaitkan dengan kerentanan pulau-pulau kecil.

Karakteristik perairan Indonesia memiliki perbedaan antara perairan di wilayah bagian barat, bagian tengah dan timur. Perbedaan ini berimplikasi terhadap kemungkinan kisaran kenaikan muka laut, hal ini terlihat dari hasil kajian yang dilakukan oleh Hamzah et al. (in press) di Pulau Lombok dan Susandi (2008) di pesisir Sumatera Selatan. Perbedaan karakteristik pulau kecil juga akan menentukan perbedaan kerentanan antara satu pulau kecil dengan pulau kecil lainnya. Pulau-pulau kecil yang berkarakter sebagai pulau datar berbeda dengan pulau-pulau kecil yang berkarakter sebagai pulau berbukit. Hal ini sebagaimana diutarakan Campbell (2006) dalam mengkaji implikasi tipe pulau dengan gangguan alam di kawasan Pasifik. Banyak pulau-pulau kecil Indonesia yang memiliki tipologi pulau-pulau kecil seperti yang disebutkan di atas. Karakteristik pulau lainnya yang diperkirakan akan menentukan kerentanan pulau kecil adalah seperti yang dikaji Asriningrum (2009), dimana pulau-pulau kecil memiliki korelasi yang berbeda terhadap pertumbuhan dan perkembangan ekosistem pesisir seperti terumbu karang, mangrove dan lamun.

Perbedaan pulau-pulau kecil sebagaimana disebutkan di atas, memerlukan upaya atau pendekatan yang berbeda pula dalam menyusun strategi adaptasi dan mitigasi bencana karena gangguan alam seperti kenaikan muka laut. Konsep yang dikembangkan Turner et al. (2003), mengindikasikan bahwa untuk mengurangi tingkat kerentanan pulau-pulau kecil, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan meningkatkan kapasitas adaptif (adaptive capacity) dari suatu pulau kecil. Ekosistem pesisir sebagai ekosistem alami pulau-pulau kecil, memiliki kapasitas adaptif yang tinggi terhadap gangguan dari luar terhadap pulau-pulau kecil. Oleh karena itu, mengintegrasikan ekosistem pesisir dalam menilai kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil, merupakan pendekatan baru yang perlu dilakukan. Kapasitas adaptif pulau-pulau kecil dapat ditingkatkan dengan melakukan intervensi (kebijakan), baik melalui peningkatan kapasitas adaptif alami dari sistem pulau-pulau kecil itu sendiri maupun melalui pembangunan infrastruktur. Intervensi manajemen ini dapat dilakukan dengan mengembangkan pendekatan ‘adaptive management’ yaitu suatu pendekatan yang dilakukan dengan

menyesuaikan kondisi dan permasalahan spesifik dari suatu pulau kecil terkait dengan dampak dari kenaikan muka laut. Berdasarkan uraian di atas, beberapa permasalahan yang perlu dijawab dalam penelitian ini adalah:

• Bagaimana model indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil yang mampu memperlihatkan peran ekosistem pesisir dalam mengurangi laju kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil

• Bagaimana kerentanan pulau-pulau kecil terkait dengan perubahan iklim dan kenaikan muka laut.

• Seberapa besar kerentanan pulau-pulau kecil Indonesia terhadap kenaikan muka laut dan faktor-faktor yang berinteraksi dengan kenaikan muka laut. • Seberapa besar dampak kenaikan muka laut terhadap daratan pulau-pulau

kecil.

• Upaya apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan kapasitas adaptif guna menurunkan tingkat kerentanan pulau-pulau kecil dan adaptasi terhadap kenaikan muka laut.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan umum penelitian ini adalah mengembangkan indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil terhadap kenaikan muka laut dan gangguan alam seperti tsunami. Sedangkan tujuan spesifik penelitian adalah:

1. Memformulasikan model indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil. 2. Menganalisis parameter kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil

3. Menduga indeks kerentanan lingkungan pulau-pulau kecil dan memproyeksikan perubahan kerentanan pada masa yang akan datang melalui verifikasi model indeks kerentanan lingkungan pada tiga pulau kecil.

4. Menduga perendaman daratan pulau-pulau kecil akibat kenaikan muka laut. 5. Merancang strategi adaptasi berdasarkan karakteristik pulau-pulau kecil. 1.4. Ruang Lingkup Penelitian

Sebagaimana halnya dengan batasan dan pengertian kerentanan pulau-