• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.2. Tipe Pulau-Pulau Kecil

Pulau-pulau kecil yang ada di dunia dapat dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori, misalnya berdasarkan tipe dan asal pembentukan pulau atau berdasarkan ketinggian pulau di atas permukaan laut (Bengen dan Retraubun 2006). Berdasarkan ketinggian pulau di atas permukaan laut, pulau kecil dibagi menjadi pulau datar dan pulau berbukit, sebagai berikut:

2.2.1 Pulau Datar

Pulau datar adalah pulau dimana ketinggian daratannya dari muka laut rendah. Pulau ini berasal dari pulau vulkanik maupun non-vulkanik. Pulau-pulau dari tipe ini merupakan pulau yang paling rawan terhadap bencana alam, seperti taufan dan tsunami. Oleh karena pulau tersebut relatif datar dan rendah, maka

massa air dari bencana alam yang datang ke pulau tersebut akan masuk jauh ke tengah pulau. Jenis-jenis pulau datar adalah sebagai berikut:

1. Pulau Atol: Pulau atol adalah pulau karang yang berbentuk cincin. Umumnya

pulau ini adalah pulau vulkanik yang ditumbuhi oleh terumbu karang membentuk fringing reef, kemudian berubah menjadi barrier reef dan terakhir berubah menjadi pulau atol. Proses pembentukan tersebut disebabkan oleh adanya gerakan ke bawah (subsidence) dari pulau vulkanik dan adanya pertumbuhan vertikal dari terumbu karang. Contoh pulau atol yang cukup terkenal di Indonesia adalah pulau-pulau yang terdapat di gugus pulau di Takabone Rate.

2. Pulau Karang: Pulau karang adalah pulau yang terbentuk oleh sedimen klastik

berumur kuarter. Banyak pulau-pulau di Indonesia yang memiliki ekosistem terumbu karang. Pulau koral/karang atau pulau teras terangkat umumnya sangat subur dan hijau, karena mempunyai daya kapilaritas yang tinggi, sehingga memiliki sumber air tawar yang banyak bagi kehidupan habitat dan manusia. Contoh-contoh pulau karang terdapat di wilayah Maluku.

3. Pulau Aluvium: Pulau aluvium terbentuk karena proses pengendapan yang

biasanya terjadi di sekitar muara sungai besar, dimana laju pengendapan lebih tinggi dibandingkan intensitas erosi oleh arus dan gelombang laut. Pulau-pulau di pantai timur Sumatera dan pulau-pulau di delta-delta di Kalimantan merupakan tipe pulau endapan atau pulau aluvium.

2.2.2. Pulau Berbukit

Pulau berbukit adalah pulau dataran tinggi yang memiliki ketinggian di atas muka laut yang relatif tinggi. Umumnya pulau ini memiliki ketinggian lebih dari 10 m di atas pemukaan laut. Pulau-pulau yang tergolong pulau berbukit adalah pulau tektonik, pulau vulkanik, pulau teras terangkat, pulau petabah dan pulau genesis campuran.

1. Pulau Tektonik: Pulau yang pembentukannya berkaitan dengan proses

tektonik, terutama pada zona tumbukan antar lempeng, misalnya Pulau Nias, Pulau Siberut dan Pulau Enggano. Sumberdaya air di pulau tektonik lebih banyak dijumpai sebagai aliran sungai, dan sangat sedikit air tanah.

2. Pulau Vulkanik: Pulau vulkanik adalah pulau yang sepenuhnya terbentuk dari kegiatan gunung berapi, yang timbul secara perlahan-lahan dari dasar laut ke permukaan. Pulau jenis ini bukan merupakan bagian dari daratan benua, dan terbentuk di sepanjang pertemuan lempeng-lempeng tektonik, dimana lempeng-lempeng tersebut saling menjauh. Tipe batuan dari pulau ini adalah basalt, silica (kadar rendah). Ada pula pulau vulkanik yang membentuk untaian pulau-pulau dan titik gunung api dan terdapat di bagian tengah lempeng benua (continental plate).

3. Pulau Karang Timbul: Pulau karang timbul adalah pulau yang terbentuk oleh terumbu karang yang terangkat ke atas permukaan laut, karena adanya gerakan ke atas (uplift) dan gerakan ke bawah (subsidence) dari dasar laut karena proses geologi. Pada saat dasar laut berada dekat permukaan, terumbu karang mempunyai kesempatan untuk tumbuh dan berkembang di dasar laut yang naik. Setelah berada di atas permukaan air laut, terumbu karang akan mati dan menyisakan terumbu dan terbentuk pulau karang timbul. Jika proses ini berlangsung terus, maka akan terbentuk pulau karang timbul. Pada umumnya karang yang timbul ke permukaan laut berbentuk teras-teras seperti sawah di pegunungan. Proses ini dapat terjadi pada pulau-pulau vulkanik maupun non-vulkanik. Pulau karang timbul ini banyak dijumpai di perairan timur Indonesia, seperti di Laut Seram, Sulu, Banda.

4. Pulau Petabah: Pulau petabah adalah pulau yang terbentuk di daerah yang

stabil secara tektonik. Pulau seperti ini antara lain dijumpai di Paparan Sunda. Litologi pembentukan pulau petabah sering terdiri atas batuan ubahan, intrusi, dan sedimen yang terlipat dan berumur tua, seperti Pulau Batam, Pulau Bintan dan Pulau Belitung.

5. Pulau Genesis campuran: Pulau genesis campuran adalah pulau yang

terbentuk dari gabungan dua atau lebih genesis pulau-pulau tersebut di atas. Potensi air di pulau genesis campuran tergantung pada genesis pulau yang bergabung, dan dapat berupa sumber air yang mengalir sepanjang tahun maupun aliran air permukaan dengan jumlah yang biasanya terbatas. Pulau-pulau seperti Pulau Haruku, Pulau Nusa Laut, Pulau Kisar dan Pulau Rote adalah contoh pulau genesis campuran.

Salah satu kawasan di dunia yang memiliki banyak hamparan pulau-pulau kecil adalah kawasan Pasifik. Campbell (2006) mengelompokkan pulau-pulau kecil di kawasan pasifik menjadi 4 tipe pulau, yaitu pulau kontinental, pulau vulkanik, pulau atol dan pulau karang terangkat. Keempat tipe pulau tersebut memiliki implikasi yang berbeda terhadap gangguan alam, seperti gangguan dari bencana alam, ketersingkapan dan sebagainya. Hubungan antara tipe pulau dengan implikasi terhadap bahaya gangguan alam di kawasan Pasifik disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Tipe pulau dan implikasi terhadap bahaya gangguan alam

No. Tipe Pulau Implikasi Terhadap Bahaya Gangguan Alam

1. Pulau Kontinental • Sangat luas

• Memiliki elevasi tinggi • Keanekaragaman tinggi • Ketersediaan tanah yang cukup

untuk kegiatan pertanian • Sistem aliran sungai dataran

• Berada pada daerah subduksi dan mudah mendapatkan pengaruh dari gempa bumi dan aktivitas vulkanik • Masalah banjir merupakan

masalah yang utama di pulau ini

2. Pulau Vulkanik

• Memiliki slope yang curam • Ada penghalang karang

• Daratan lebih kecil dibandingkan pulau kontinental

• Memiliki sistem aliran sungai dataran yang lebih kecil dibandingkan kontinental

• Sungai-sungai kecil dapat menyebabkan banjir

• Karena ukurannya besar pulau ini tidak terekspose terhadap badai trofis

3. Pulau Atol

• Lahan daratan sangat terbatas • Elevasi sangat rendah

• Tidak tersedia air permukaan

• Terekspose terhadap badai, pasang dan gelombang

• Sangat terbatas sumberdaya alam • Air permukaan merupakan

masalah utama 4. Pulau Karang Terangkat

Slope outer curam • Pesisir dataran sempit • Tidak ada air permukaan • Tidak ada atau sangat minim

tanah pertanian

• Sangat tergantung pada ketinggian, ekspose terhadap badai

• Air permukaan terbatas

Sumber: Campbell (2006).

Kajian karakteristik pulau-pulau kecil di Indonesia dilakukan Asriningrum (2009). Kajian yang dilakukan adalah melihat keterkaitan atau hubungan antara

karakteristik pulau kecil dengan pertumbuhan atau perkembangan ekosistem pesisir. Kajian dilakukan pada tiga tipe pulau, yaitu pulau tektonik, pulau vulkanik dan pulau karang dengan kemungkinan keberadaan atau pertumbuhan ekosistem mangrove, terumbu karang dan lamun pada ketiga pulau tersebut. Hasil kajiannya pada beberapa pulau kecil di Indonesia memperlihatkan perbedaan antara pulau tektonik, vulkanik dan pulau karang sebagaimana diperlihatkan pada Tabel 3.

Tabel 3. Hubungan tipe pulau dengan ekosistem pesisir Ekosistem

Laut

Tipe pulau kecil

Tektonik Vulkanik Karang Mangrove tumbuh lebih baik

pada pantai landai dan datar yang lebih terlindung

tumbuh pada sisi pulau yang datar dan terlindung

sulit tumbuh

Terumbu karang tumbuh lebih baik pada pantai terjal berbatu yang menghadap laut lepas aktivitas vulkanik semakin rendah terumbu karang semakin baik

tumbuh lebih baik pada posisi perairan laut yang lebih terbuka Lamun tumbuh lebih baik

pada daerah yang lebih terlindung

tumbuh pada sisi pulau yang terlindung

sulit tumbuh

Sumber : Asriningrum (2009)

2.3. Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil dalam Konteks Pengelolaan Pesisir