• Tidak ada hasil yang ditemukan

Nilai Tukar Rupiah per Dollar AS

B. Analisis dan Pembahasan 1. Hasil Uji Asumsi Klasik

3. Hasil Uji Regresi Metode OLS

Hasil pengolahan data menggunakan regresi linier berganda dengan metode OLS untuk model persamaan LogER = α + β1LogIHK + β2LogPMDN + β3LogPMA + β4DM + μi adalah sebagai berikut:

Tabel 4.5

Hasil Olah Data Dengan Metode OLS Dependent Variable: LER

Method: Least Squares Date: 03/16/11 Time: 23:36 Sample: 1983 2009

Included observations: 27

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

LIHK 0.366086 0.139393 2.626292 0.0154

LPMDN 0.010565 0.044710 0.236292 0.8154

LPMA 0.100658 0.047463 2.120770 0.0455

DM 0.751467 0.180189 4.170446 0.0004

C 3.953790 0.674818 5.859048 0.0000

R-squared 0.973119 Mean dependent var 8.221575

Adjusted R-squared 0.968231 S.D. dependent var 0.870248

S.E. of regression 0.155111 Akaike info criterion -0.723781

Sum squared resid 0.529304 Schwarz criterion -0.483811

Log likelihood 14.77104 F-statistic 199.1052

Durbin-Watson stat 1.555914 Prob(F-statistic) 0.000000

81 4. Hasil Uji Statistik

a. Uji Parsial (Uji-t)

Uji t statistik dapat dilakukan dengan uji satu sisi (one tail test), dengan α = 5%. Jika t-tabel < t-hitung berarti Ho ditolak atau variabel independen berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen, tetapi jika t-tabel > t-hitung berarti Ho diterima, maka variabel independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Tabel 4.6 Hasil Uji t-Statistik

Variabel Prbabilitas t-hitung t-tabel Keterangan LIHK 0,0154 2.626619 1.717 Signifikan LPMDN 0,8163 0.235152 1.717 Tidak signifikan LPMA 0,0457 2.117947 1.717 Singifikan DM 0,0004 4.165069 1.717 Signifikan Sumber : data diolah dengan Eviews 5.0

1) Uji t-statistik terhadap variabel Inflasi / IHK

Hipotesis pengaruh variabel Inflasi variabel nilai tukar rupiah per dollar AS adalah :

Ho : X1 = 0, maka variabel Independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

82 Ha : X1 ≠ 0, maka variabel Independen berpengaruh terhadap variabel

dependen.

Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X1 = 2,626619 sedangkan t-tabel = 1,717 [df = n-k (27-5=22), α = 0,05], sehingga dapat disimpulkan t-hitung > t-tabel, tetapi hasil yang diperoleh ialah (2,626619 > 1,717).

Perbadingan tersebut menunjukkan jika t-hitug > t tabel , sehingga Ho diterima maka dapat disimpulkan variabel X1 berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS.

Nilai Prob. t-statistik Inflasi adalah 0,0154. Nilai ini lebih kecil dari

α=5 persen atau 0,05 yang berarti menolak Ho dan menerima HA. Hal

ini menunjukkan bahwa variabel Inflasi secara individual berpengaruh secara signifikan terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS.

Nilai koefisien variabel inflasi adalah 0,366829 sehingga dapat diartikan jika inflasi mengalami kenaikan sebesar satu persen maka nilai tukar rupiah akan terdepresiasi sebesar 0,366829 persen.

2) Uji t-statistk terhadap variabel Investasi (PMDN)

Hipotesis pengaruh variabel Invetasi (PMDN) terhadap variabel nilai tukar rupiah per dollar AS adalah :

Ho : X2 = 0, maka variabel Independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

83 Ha : X2 ≠ 0, maka variabel Independen berpengaruh terhadap variabel

dependen.

Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X2 = 0,235152 sedangkan t-tabel = 1,717 [df = n-k (27-5=22), α = 0,05], sehingga dapat disimpulkan bahwa t-hitung > t-tabel, tetapi hasil yang diperoleh 0.235152 < 1.717.

Perbadingan tersebut menunjukkan jika t-hitug < t tabel , maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan variabel X2 negatif dan tidak signifikan terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS.

Nilai Prob. t-statistik PMDN adalah 0,8163. Nilai ini lebih besar dari α=5 persen atau 0,05 yang berarti menolak HAdan menerima Ho. Hal ini menunjukkan bahwa variabel PMDN secara individual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah.

3) Uji t-statistk terhadap variabel Investasi (PMA)

Hipotesis pengaruh variabel Invetasi (PMA) terhadap variabel nilai tukar rupiah per dollar AS adalah :

Ho : X3 = 0, maka variabel Independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Ha : X3 ≠ 0, maka variabel Independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X3 = 2,117947 sedangkan t-tabel = 1,717 [df = n-k (27-5=22), α = 0,05], sehingga

84 dapat disimpulkan t-hitung > t-tabel, tetapi hasil yang diperoleh 2,117947 > 1,717.

Perbadingan tersebut menunjukkan jika t-hitug > t-tabel , maka Ho ditolak. Sehingga dapat disimpulkan variabel X3 positif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS.

Selain itu, nilai Prob. t-statistik PMA adalah 0,0457. Nilai ini lebih kecil dari α=5 persen atau 0,05 yang berarti menolak Ho dan menerima HA. Hal ini menunjukkan bahwa variabel PMA secara individual berpengaruh secara signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah.

Nilai koefisien variabel PMA adalah 0,100562 sehingga dapat diartikan jika PMA mengalami kenaikan sebesar satu persen maka nilai tukar rupiah akan terdepresiasi sebesar 0,100562 persen.

4) Uji t-statistk terhadap variabel Dummy Krisis

Hipotesis pengaruh variabel Inflasi variabel nilai tukar rupiah per dollar AS adalah :

Ho : X4 = 0, maka variabel Independen tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

Ha : X4 ≠ 0, maka variabel Independen berpengaruh terhadap variabel dependen.

Hasil perhitungan yang didapat adalah t-hitung X4 = 4,165069 sedangkan t-tabel = = 1,717 [df = n-k (27-5=22), α = 0,05], sehingga

85 dapat disimpulkan t-hitung > t-tabel, tetapi hasil yang diperoleh 4,165069 > 1,717.

Perbadingan tersebut menunjukkan jika t-hitug > t tabel, sehingga Ho diterima maka dapat disimpulkan variabel X4 berpengaruh positif dan signifikan terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS.

Nilai Prob. t-statistik DM adalah 0,0004. Nilai ini lebih kecil dari

α=5 persen atau 0,05 yang berarti menolak Ho dan menerima Ha. Hal

ini menunjukkan bahwa variabel dummy crisis secara individual berpengaruh secara signifikan terhadap variabel nilai tukar rupiah.

Nilai koefisien variabel DM adalah 0,751027 sehingga dapat diartikan jika terjadi krisis ekonomi maka nilai tukar rupiah akan terdepresiasi sebesar 0,7510 persen.

b. Uji F-statistik

Uji statistik F digunakan untuk menguji signifikansi seluruh variabel independen secara bersama-sama dalam mempengaruhi variabel dependen, atau melihat pengaruh variabel independen secara bersama-sama. Dengan cara membandingkan antara F-hitung dengan F-tabel. F tabel = (α : k-1, n-k), α = 0,05 (5-1= 4; 27-5 = 22).

Hasil Perhitungan yang didapat adalah F hitung = 199,1173, sedangkan F tabel = 2,816708 (α = 0,05 ; 4 ; 22), Dari hasil perbandingan antara F hitung dan F tabel, menunjukkan nilai F hitung > F tabel maka Ho di tolak dan HA diterima. Dengan kata lain variabel

86 IHK, PMDN, PMA dan DM secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada tingkat kepercayaan 97 persen.

Selain itu, nilai Prob. F-statistik adalah 0,000000. Nilai ini lebih kecil dari tingkat kesalahan (α=5 persen atau 0,05) yang berarti menolak Ho dan menerima Ha. Hal ini menunjukkan bahwa variabel independen (inflasi, PMDN, PMA, dan DM) bersama–sama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (nilai tukar rupiah).

Nilai koefisien konstanta (C) adalah 3,955078 (β1, β2, β3, β4= 3,955078) berarti bila semua variabel independen (inflasi, PMDN, PMA, dan DM) naik sebesar satu persen secara rata-rata maka nilai tukar rupiah akan terdepresiasi sebesar 3,955078 persen.

c. Koefisien Determinasi (R2)

Perhitungan yang dilakukan untuk mengukur proporsi atau prosentase dari variasi total variabel dependen yang mampu dijelaskan oleh model regresi R2 dalam regresi sebesar 0.973121. Hal ini menunjukkan bahwa model regresi tersebut dapat menjelaskan sebesar 97,3121 persen terhadap permasalahan yang diteliti dalam penelitian ini. Sedangkan sisanya sebesar 2,6879 persen dipengaruhi oleh variabael diluar model ini.

87 5. Interprestasi Ekonomi

a.Inflasi

Hasil regresi tersebut menunjukkan bahwa koefisien tingkat harga memiliki pengaruh yang posistif. Dapat diartikan jika Indek harga konsumen (IHK) mengalami kenaikan sebesar satu persen atau terjadi inflasi sebesar satu persen, maka nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan terdepresiasi sebesar 0,366829 persen.

Pengaruh positif Inflasi sesuai dengan teori paritas daya beli. Naiknya harga barang mendorong terjadinya inflasi. Inflasi menyebabkan uang akan kehilangan nilainya, dalam artiaan berkurangnya barang dan jasa yang dapat dibeli dan berkurangnya jumlah mata uang lain yang dapat diperoleh. Sehingga hal ini mendorong rupiah terus terdepresiasi karena adanya inflasi.

Jika tingkat harga (IHK) naik atau terjadi inflasi maka nilai rupiah yang dibutuhkan untuk mendapatkan dollar AS akan terdepresiasi. Hal ini dapat memperburuk kestabilan nilai tukar rupiah, sehingga otoritas moneter perlu menjaga kestabilan tingkat harga. Oleh karena itu, kebijakan moneter dengan pengendalian inflasi harus menjadi salah satu perhatian utama negara Indonesia. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh dua hasil penelitian sebelumnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Triyono (2008:164) yang berjudul “Analisis Perubahan Kurs Rupiah Terhadap Dollar Amerika”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam jangka panjang Inflasi berpengaruh pada kurs rupiah

88 terhadap dollar Amerika. Dan penelitian Indra Suhendra (2003:49) yang

berjudul “Pengaruh Faktor Fundamental, Faktor Resiko, dan Ekspektasi

Nilai Tukar Terhadap Nilai Tukar Rupiah (Terhadap Dollar) Pasca Penerapan Sistem Kurs Mengambang Bebas Pada Tanggal 14 Agustus 1997”. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perubahan tingkat harga yang merupakan cerminan dari inflasi berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah baik dalam jangka panjang maupun jangka pendek, pada periode 1997.9 -2001.12.

b. Investasi

1). Penanaman Modal Dalam Ngeri (PMDN)

Hasil regresi tersebut menunjukkan bahwa koefisien PMDN (Penanaman Modal Dalam Negeri) tidak berpengaruh dengan nilai tukar rupiah. Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran rupiah terhadap dollar AS. PMDN merupakan bentuk penanaman modal yang berasal dari dalam negeri. Pada saat investor melakukan investasi, pengaruh yang timbul terhadap permintaan dan penawaran rupiah terhadap dollar AS sangat kecil atau tidak terpengaruh. Hal ini karena investasi dilakukan dengan mata uang rupiah, sedangkan mata uang asing dalam keadaan tetap atau tidak terpengaruh.

89 2). Penanaman Modal Asing (PMA)

Hasil regresi tersebut menunjukkan bahwa koefisien PMA (Penanaman Modal Asing) memiliki pengaruh yang posistif dengan nilai tukar rupiah. Dapat diartikan jika PMA mengalami kenaikan sebesar satu persen, maka nilai tukar rupiah terhadap dollar AS akan terdepresiasi atau naik sebesar 0,100562 persen. Hal ini menujukkan bahwa saat nilai PMA meningkat maka nilai mata uang rupiah akan terdepresiasi.

Terjadinya hubungan positif antara PMA dengan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Hal ini disebabkan oleh, PMA yang masih menggunakan input barang setengah jadi dan teknologi impor dalam proses produksinya. Hal tersebut menyebabakan adanya impor besar-besaran terhadap barang setengah jadi dan teknologi oleh para investor PMA. Kegiatan tersebut menyebabkan kurs rupiah terdepresiasi, karena permintaan mata uang dollar AS akan meningkat, meningkatnya permintaan tersebut menyebabkan rupiah terdepresiasi terhadap dollar AS.

Pada penelitian yang dilakukan oleh Indra Suhendra (2003:51) yang berjudul “Pengaruh Faktor Fundamental, Faktor Resiko, dan Ekspektasi Nilai Tukar Terhadap Nilai Tukar Rupiah (Terhadap Dollar) Pasca Penerapan Sistem Kurs Mengambang Bebas Pada

Tanggal 14 Agustus 1997”, yaitu investasi asing langsung berpengaruh

90 c. Dummy Krisis

Pada hasil regresi ini diperoleh bahwa krisis ekonomi (DM) berpengaruh positif terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS. Hal ini sesuai dengan hipotesa yang diajukan dalam penelitian ini, yaitu krsis ekonomi dan nilai tukar rupiah mempunyai pengaruh yang positif. Jadi adanya krisis ekonomi akan melemahkan nilai rupiah yang harus di tukarkan untuk mendapat mata uang negara lain (dollar AS) atau rupiah terdepresiasi terhadap dollar AS. Berdasarkan hasil regresi, koefisien variabel krisis ekonomi bernilai 0,751027, sehingga pada saat krisis ekonomi terjadi maka nilai tukar rupiah akan terdepresiasi sebesar 0,751027 persen.

Pada saat krisis ekonomi, berbagai perubahan terjadi pada kondisi perekonomian Indonesia. Nilai rupiah yang dibutuhkan untuk mendapatakan mata uang negara lain (dollar AS) terdepresiasi secara tajam. Hal ini disebabkan karena krisis ekonomi mendorong, gojalak negatif pada perekonomian. Selain itu tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang dalam negeri akan menurun, sehingga tingkat permintaan mata uang domestik pun ikut menurun. Disisi lain masyarakat lebih percaya terhadap mata uang asing, sehingga permintaan mata uang asing meningkat. Hal ini menyebabkan nilai tukar rupiah sebagai mata uang domestik akan terdepresiasi terhadap dollar AS.

Krisis ekonomi yang mulai terjadi pada pertengahan tahun 1997 dan mencapai puncak pada tahun 1998. Krisis ekonomi ini bermula dari krisis

91 ekonomi Thailand, terdepresiasinya nilai tukar mata uang bath menyebabkan terjadinya krisis ekonomi. Krisis ekonomi yang terjadi tersebut kemudian menyebar ke beberapa negara tetangga, seperti Malaysia, Filipina, Korea dan termasuk Indonesia. Para spekulan pasar valuta asing dianggap menjadi salah satu faktor pendorong terjadinya krisis ekonomi. Tetapi selain faktor tersebut rapuhnya makro ekonomi Indonesia juga mendorong terjadinya krisis ekonomi.

Krisis ekonomi tersebut, telah memberikan dampak buruk bagi perekonomian. Salah satu dari dampak buruk perekonomian tersebut ialah terdepresiasinya nilai tukar rupiah. Adanya krisis ekonomi tersebut menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang dalam negeri, sehingga mata uang rupiah akan terdepresiasi terhadap mata uang asing (dollar AS). Adanya krisis ekonomi juga menciptakan kelesuan usaha, kondisi stabilitas politik dan keamanan yang tidak stabil.

92 BAB V

PENUTUP

A.Kesimpulan

Penelitian ini mengkaji mengenai pengaruh inflasi dan investasi terhadap nilai tukar rupiah di Indonesia selama periode 1983-2009. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Hasil pengujian secara individu terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi nilai tukar rupiah per dollar AS dapat disimpulkan sebagai berikut :

a. Hasil pengujian menunjukkan bahwa inflasi berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS. Jadi adanya kenaikan inflasi akan akan menyebabkan nilai tukar rupiah terdepresiasi terhadap dollar AS. Jadi nilai rupiah yang dibutuhkan untuk mendapat satu dolla AS akan meningkat. Inflasi merupakan faktor penting dalam perekonomian disuatu negara. Meningkatnya harga barang-barang menyebabkan terjadinya inflasi. Sehingga daya beli masyarakat terhadap suatu barang akan menurun masyarakat, karena jumlah uang sama tahun lalu tidak dapat untuk membeli barang yang sama tahun ini. Hal ini menyebabkan mata uang rupiah terus terdepresiasi karena inflasi.

b. Hasil pengujian ini menunjukkan bahwa Penanaman Molda Dalam Negeri (PMDN) tidak berpengaruh terhadap nilai tukar rupiah. Hal tersebut disebabkan PMDN tidak berpengaruh terhadap pergerakan

93 nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Investor dalam negeri menggunakan mata uang domestik dalam melakukan investasinya, sehingga permintaan dan penawaran terhadap mata uang asing tidak terpengaruh.

c. Hasil Pengujian ini menunjukkan bahwa Penanaman Modal Asing (PMA) berpengaruh positif terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS. Jadi saat nilai PMA maka akan menyebabakan rupiah terdepresiasi terhadap dollar. Hal ini karena PMA masih menggunakan input bahan setengah jadi dan teknologi impor. Sehingga menyebabkan permintaan mata uang asing meningkat, hal ini mendorong nilai tukar rupiah terdepresiasi terhadap dollar AS.

d. Hasil pengujian menunjukkan bahwa krisis ekonomi (DM) mempunyai pengaruh posistif terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS. Sehingga saat krisis ekonomi terjadi nilai tukar mata uang rupiah akan terdepresiasi terhadap dollar. Adanya krisis ekonomi tersebut menyebabkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang dalam negeri, sehingga mata uang rupiah akan terdepresiasi terhadap mata uang asing (dollar AS).

2. Variabel inflasi, investasi (PMDN dan PMA), serta dummy crisis secara bersama–sama mampu menjelaskan pengaruh pada nilai tukar rupiah terhadap dollar AS dengan probability F-statistk ER = 0,000000 atau lebih kecil dari α = 5 persen. Nilai koefisien konstanta adalah 3,955078, berarti bila semua variabel independen naik satu persen secara rata-rata maka nilai

94 tukar rupiah terhadap dollar AS akan mengalami kenaikan sebesar 3,955078 persen.

3. Besarnya R-squared pada hasil estimasi model nilai tukar rupiah adalah sebesar 0,973121. Hal ini berarti 97,3121 persen perubahan nilai tukar rupiah secara bersama-sama dapat dijelaskan oleh variabel independen yang digunakan dalam model yaitu Inflasi, PMDN, PMA dan Dummy Krisis. Sedangkan sisanya sebesar 2,6879 persen dapat dijelaskan oleh variabel lain yang tidak termasuk dalam model yang digunakan.

B.Implikasi

Implikasi kebijakan yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian tentang pengaruh Inflasi dan Investasi terhadap nilai tukar rupiah per dollar AS adalah pemerintah harus menjaga nilai tukar rupiah dengan kebijakan– kebijakan yang dimilikinya.

C.Saran

Dasri hasil penelitian yang diperoleh makan dapat diajukan beberapa saran yang bisa dijadikan sebagai pertimbangan bagi pengambilan kebijakan, saran tersebut adalah sebagai berikut :

1. Dengan ditemukannya bahwa bila Inflasi meningkat maka nilai tukar rupiah juga akan terdepresiasi, maka kebijakan yang dapat diambil adalah dengan menjaga kestabilan inflasi yang terjadi di masyarakat, sehingga harga barang-barang tidak meningkat terlalu tinggi. Maka nilai tukar rupiah

95 terhadap dollar akan berada dalam keadaan stabil dan inflasi pun pun juga demikian.

2. Hasil penelitian menemukan bahwa peningkatan PMA akan menimbulkan depresiasi nilai tukar rupiah. Hal ini disebabkan karena PMA masih banyak menngunakan input bahan baku impor dalam proses produksinya. Untuk itu pemerintah perlu mendorong PMA yang lebih menguntungkan bagi perekonomian.

3. Pemerintah Indonesia harus menjaga perekonomiannya agar permasalahan krisis ekonomi yang pernah melanda Indonesia tidak terulang lagi. Sehingga pemerintah secara insentif harus menjaga kestabilan seluruh sektor ekonomi agar perekonomian yang sehat dapat terus terjaga.

4. Dalamb penelitian selanjutnya, perlu adanya penambahan variabel makroekonomi lain yang kemungkinan mempengaruhi nilai tukar rupiah agar model estimasi dapat lebih dipercaya mampu menjelaskan nilai tukar rupiah.

96 DAFTAR PUSTAKA

Achsani, Ahmad. dkk. 2010. “The relationship between Inflation and real excange rate:comparative study between Asean + 3, EU and Nort America”. European Journal of Economics, Finance and Administrative Sciences.

Atmaja, Adwin Surja. 2002.” Analisa pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dollar amerika setelah diterapkannya kebijakan sistem nilai tukar mengambang bebas di Indonesia.” Jurnal Akuntansi & Keuangan Vol. 4, No. 1.

Ball, Christoper P.dkk, 2010. “Remittances, inflation, and exchange rate regimes in small open Economies”. Journal of Economics and Finance.

Badan Pusat Statistik. Indikator Ekonomi, Berbagai edisi, Jakarta.

Bank Indonesia. Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia,Berbagai edisi, Jakarta.

Curry, Jeffrey Edmun, 2001, “Memahami Ekonomi Internasional”. Jakarta: PPM.

Deliarnov. 2006. “Ekonomi Politik”. Jakarta: Erlangga.

Hamid, Abdul. 2009. “Buku Panduan Penulisan Skripsi”. Jakarta: UIN.

Hamja, Yahya. 2008. ”Modul Ekonometrik I”. Jakarta: UIN.

Herlambang, Sugiarto dan Baskara Said Kelana. 2001. “Ekonorni Makro: Teori Analisis dan Kebijakan”. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Husman, Jardine A. 2007. “Dampak Fluktuasi Nilai Tukar Terhadap Output Dan

Harga: Perbandingan Dua Rezim Nilai Tukar”. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Insukindro. 2003. “Modul Pelatihan Ekonometrika”. Yogyakarta: UGM.

Karunia, Nurul Y. 2005. “Faktor yang mempengaruhi kurs rupiah terhadap yen tahun 1970-2002 : Error Corection Model (ECM)”. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 6, No. 2.

Kharie, Latif. 2006. “Hubungan Kausal Dinamis Antara Variabel-Variabel Moneter Utama dan Output : Kasus Indonesia Di Bawah Sistem Nilai Tukar Mengambang Dan Mengambang Terkendali”. Buletin Ekonoomi Moneter.

97 Kuncoro, Mudrajad. 2003. “Metode Riset Untuk Bisnis dan Ekonomi”. Jakarta:

Erlangga.

Krugman, Paul R. 2005. “Ekonomi Internasional Teori dan Kebijakan”, edisi ke dua. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Kuncoro, Mudrajat. 2001. “Ekonomi Pembangunan : Teori Masalah dan Kebijakan. Yogyakrta : UPP AMP YKPN.

Kuncoro, Mudrajat. 1996. “Manajemen Keuanagn Internasional”. Yogyakrta : UPP AMP YKPN.

Lukman. 2007. Modul I Praktikum Statistik Lab. Alat Analisis Kuantitatif. Semester Ganjil Tahun Akademik 2007/2008. Jakarta : UIN.

Mankiw, N. Gregory. 2006. “Makroekonom”. Jakarta : Erlangga.

Raharja, Pratama. 2008. “Pengantar Ekonomi (mikroekonomi dan

makroekonmi)”.Edisi ke tiga. Jakarta : LPFEUI.

Rehman, Hafez ur. dkk. 2010. “ Impact Foreign Direct Investmen (FDI) Inflow On Equilibrium Real Exchange Rate Of Pakistan”. Research Journal of South Asian Studies. Vol. 25 No. 1, January-June 2010.

Setyowati, Eni dan Siti Fatimah. 2007. “Analisis Faktor-Faktor yang

mempengaruhi investasi dalam negeri di Jawa Tengah”. Jurnal Ekonomi, Vol. 8.

Simorangkir, Iskandar dan Suseno. 2005. “Sistem dan Kebijakan Nilai Tukar”. Jakarta : PBSK BI.

Suhendra, Indra. 2003. “Pengaruh Faktor Fundamental, Faktor Resiko, dan Ekspektasi NIlai Tukar Terhadap Nilai Tukar Rupiah (terhadap Dollar) Pasca Penerapan Kurs Mengambang Bebas Pada Tanggal 14 Agusutus 1997 (Periode September 1997 S.D. Desember 2001)”. Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan.

Sukirno, Sadono. 2003 ”Pengantar Teori Eonomi Makro”. Jakarta : Grafindo Persada,

Suryatno. 2003. “Hutang Luar Negeri, Penanaman Modal Asing (PMA), Ekspor

dan Peranan Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Tahun 1975-2000”. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Vol. 4, No.1.

Triyono.2008. ”Analisis Perubahan Kurs Rupiah Terhadap Dollar Amerika”.

98

Widjaya, I.G. Rai. 2000. “Penanaman Modal Pedoman Prosedur Mendirikan Dan

Menjalankan Perusahaan Dalam Rangka PMA dan PMDN”. Pradyan Paramita, Jakarta.

Widarjono, Agus. 2007. “Ekonometrika : Teori dan Aplikasi Untuk Ekonomi dan

Bisnis”. Yogyakarta : Ekonisia FE UII.

Winarno, Wing Wahyu. 2007.“Analisis Ekonometrik dan Statistika dengan Eviews”. UPP STIM YKPM, Yogyakarta.

100 Lampiran 1 : Data Penelitian (Data Mentah)

OBS ER IHK PMDN PMA DM

1983 1020 8.56 7,428,200,000 2,939,844,000 0 1984 1103 9.33 2,099,900,000 1,221,131,300 0 1985 1114 9.74 3,749,700,000 956,926,000 0 1986 1282 10.63 4,416,700,000 1,059,060,200 0 1987 1643.8 11.62 1,026,500,000 2,394,852,200 0 1988 1685.7 12.27 14,915,900,000 7,475,236,700 0 1989 1795 13.02 19,593,900,000 847,024,600 0 1990 1901 14.44 56,510,500,000 16,635,841,000 0 1991 1992 15.98 41,077,900,000 17,485,776,000 0 1992 2062 16.9 29,450,400,000 21,286,438,000 0 1993 2110 18.77 39,450,400,000 17,179,198,000 0 1994 2200 21.25 53,289,100,000 52,193,460,000 0 1995 2308 23.28 69,853,000,000 92,123,128,000 0 1996 2383 24.94 100,715,200,000 71,326,526,000 0 1997 4650 27.98 119,755,500,000 154,038,225,000 0 1998 8025 49.17 60,748,500,000 108,790,913,000 1 1999 7100 50.06 55,600,300,000 77,328,940,000 1 2000 9595 54.19 88,294,400,000 146,638,466,000 1 2001 10400 61.1 58,636,000,000 156,456,560,000 1 2002 8940 68.12 25,262,400,000 87,284,796,000 1 2003 8465 71.71 48,484,800,000 111,798,948,000 1 2004 9290 76.36 36,747,600,000 95,476,117,000 1

101 Keterangan :

ER : Nilai Tukar (Rp/Dollar AS)

PMDN : Penanaman Modal Dalam Negeri (Rp) PMA : Penanaman Modal Asing (Rp)

DM : Dummy Crisis

DM = 0 (Sebelum Krisis Ekonomi) DM = 1 (Setelah Krisis Ekonomi)

2005 9830 89.49 50,577,400,000 133,484,519,000 1

2006 9020 95.47 162,767,200,000 140,928,480,000 1

2007 9419 101.83 188,516,400,000 225,926,060,000 1

2008 10950 113.86 20,359,900,000 162,841,830,000 1

102 Lampiran 2 : Hasil Data Setelah Diestimasi

OBS LER LIHK LPMDN LPMA DM

1983 6.927558 2.147100 22.72855 21.80162 0.000000 1984 7.005789 2.233235 21.46516 20.92304 0.000000 1985 7.015712 2.276241 22.04494 20.67924 0.000000 1986 7.156177 2.363680 22.20866 20.78065 0.000000 1987 7.404766 2.452728 20.74942 21.59659 0.000000 1988 7.429936 2.512035 23.42569 22.73486 0.000000 1989 7.492760 2.566487 23.69848 20.55724 0.000000 1990 7.550135 2.670002 24.75769 23.53483 0.000000 1991 7.596894 2.771338 24.43874 23.58465 0.000000 1992 7.631432 2.827314 24.10597 23.78134 0.000000 1993 7.654443 2.932260 24.39831 23.56697 0.000000 1994 7.696213 3.056357 24.69900 24.67822 0.000000 1995 7.744137 3.147595 24.96966 25.24639 0.000000 1996 7.776115 3.216473 25.33556 24.99053 0.000000 1997 8.444622 3.331490 25.50872 25.76047 0.000000 1998 8.990317 3.895284 24.83001 25.41269 1.000000 1999 8.867850 3.913222 24.74145 25.07133 1.000000 2000 9.168997 3.992496 25.20394 25.71123 1.000000 2001 9.249561 4.112512 24.79461 25.77605 1.000000 2002 9.098291 4.221271 23.95258 25.19244 1.000000 2003 9.043695 4.272630 24.60452 25.43997 1.000000 2004 9.136694 4.335459 24.32734 25.28214 1.000000

103 2005 9.193194 4.482890 24.64677 25.61725 1.000000 2006 9.107200 4.558812 25.81559 25.67151 1.000000 2007 9.150484 4.623305 25.96245 26.14347 1.000000 2008 9.301095 4.734970 23.73683 25.81605 1.000000 2009 9.148465 4.762430 24.35557 25.34493 1.000000

104 Lampiran 3 : Hasil Uji Regresi Log Linier

Dependent Variable: LER Method: Least Squares Date: 02/18/11 Time: 19:15 Sample: 1983 2009

Included observations: 27

Variable Coefficient Std. Error t-Statistic Prob.

LIHK 0.366829 0.139658 2.626619 0.0154

LPMDN 0.010513 0.044709 0.235152 0.8163

LPMA 0.100562 0.047481 2.117947 0.0457

DM 0.751027 0.180316 4.165069 0.0004

C 3.955078 0.674983 5.859526 0.0000

R-squared 0.973121 Mean dependent var 8.221575

Adjusted R-squared 0.968233 S.D. dependent var 0.870248

S.E. of regression 0.155106 Akaike info criterion -0.723840

Sum squared resid 0.529273 Schwarz criterion -0.483870

Log likelihood 14.77184 F-statistic 199.1173

105 Lampiran 4 : Hasil Uji Normalitas JB Test

0

1

2

3

4

5

6

7

-0.2 -0.0 0.2 0.4

Series: Residuals

Dokumen terkait