• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.2 Hasil Skrining Fitokimia

Skrining fitokimia adalah uji untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terdapat pada simplisia dan ekstrak etanol daging buah labu kuning. Hasil skirining fitokimia yang dilakukan terhadap simplisia dan ekstrak daging buah labu kuning dapat dilihat pada Tabel 4.1.

Tabel 4.1 Hasil Skrining Fitokimia Simplisia dan Ekstrak Etanol Buah Labu Kuning

No. Pemeriksaan

Buah Labu Kuning

Simplisia Ekstrak

1. Alkaloid + +

2. Flavonoid + +

3. Tanin - -

4. Saponin - -

5. Glikosida + +

6. Steroid - -

37 Keterangan :

(+) positif : mengandung senyawa metabolit sekunder (-) negatif : tidak mengandung senyawa metabolit sekunder

Hasil yang diperoleh pada Tabel 4.1 menunjukkan bahwa ekstrak mengandung senyawa alkaloid, flavonoid dan glikosida dan bubuk simplisia mengandung alkalooid, flavonoid dan glikosida. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Adhlani (2014) menyatakan hasil skrining fitokimia simplisia daging labu kuning posiif mengandung alkaloid dan flavonoid serta tidak mengandung senyawa saponin, tannin, steroid serta triterpenoid.

Hasil di atas menunjukkan bahwa daging buah labu kuning memiliki potensi sebagai antioksidan dengan adanya senyawa yang mempunyai potensi sebagai antioksidan yaitu flavonoid. Di antara metabolit sekunder, flavonoid sangat ampuh sebagai antioksidan. Flavonoid dan turunannya merupakan golongan polifenol yang banyak dan sangat penting pada tanaman. Flavonoida bertindak sebagai pemerangkapan radikal hidroksil yang sangat reaktif. Antioksidan terdiri dari senyawa enzimatik dan nonenzimatik yang menghambat reaksi berantai dalam molekul protein lipid atau DNA (Singhatong, 2010).

4.3 Hasil Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia Buah Labu Kuning 4.3.1. Hasil Pemeriksaan Makroskopik

Berdasarkan hasil pemeriksaan makroskopik buah labu kuning menunjukkan bahwa buah labu kuning berbentuk bulat sedikit oval, berdaging buah tebal berwarna kuning terang dengan kulit buah tebal dan keras berwarna kuning kecoklatan hingga sedikit hijau serta memiliki rasa yang manis. Buah labu kuning yang dikeringkan memiliki bentuk yang tidak beraturan dengan warna kuning muda

38

kecoklatan dan memiliki tekstur sedikit rapuh sehingga mudah diserbukkan. Serbuk buah labu kuning berbentuk spheris berwarna kuning terang dengan ukuran mesh 20. Irisan buah labu kuning dengan ketebalan 2-3 mm memiliki ukuran panjang 7-8 cm dan lebar 5-6 cm. Setelah dikeringkan, irisan buah labu kuning menyusut cukup banyak dengan ukuran panjang 4-5 cm dan lebar 3-4 cm. Hasil pemeriksaan makroskopik buah labu kuning dan simplisia buah labu kuning dapat dilihat pada Lampiran 3 dan lampiran 4, halaman 54.

4.3.2. Hasil Pemeriksaan Mikroskopik

Hasil mikroskopik simplisia daging buah labu kuning menunjukkan adanya sel-sel parenkim dan pati. Hasil pemeriksaan mikroskopik dapat dilihat pada Lampiran 5 , halaman 55.

4.3.3. Karakteristik Simplisia

Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia yaitu kadar air, kadar sari larut air, kadar sari larut etanol, kadar abu total dan kadar abu yang tidak larut asam yang dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Karakteristik Simplisia Daging Buah Labu Kuning

No. Parameter Hasil (%)

1. Kadar air 7,99

2. Kadar sari larut air 46,06

3. Kadar sari larut etanol 39,06

4. Kadar abu total 2,37

5. Kadar abu tidak larut asam 0,74

Monografi simplisia biji labu kuning dapat ditemukan pada Materia Medika Indonesia, tetapi simplisia buah labu kuning tidak tertera sehingga tidak ada acuan

39

untuk menentukan parameter simplisia buah labu kuning. Pada Materia Medika Indonesia (MMI) Jilid VI (1995), ditemukan simplisia biji labu merah dengan suku yang sama dengan labu kuning yaitu Cucurbitaceae. Sehingga peneliti menggunakan parameter acuan simplisia biji buah labu merah untuk menentukan parameter simplisia buah labu kuning.

Berdasarkan hasil pemeriksaan, simplisia daging buah labu kuning memiliki nilai kadar air sebesar 7,99%, dimana sudah memenuhi persyaratan kadar air secara umum, yaitu lebih kecil dari 10%. Penentuan kadar sari sangat berguna untuk mengetahui banyaknya bahan yang terlarut dari simplisia. Kadar air yang lebih dari 10% dapat menyebabkan ketidakstabilan sediaan obat serta menjadi media pertumbuhan yang baik untuk jamur dan mikroba lainnya (WHO, 1998).

Hasil karakterisasi simplisia daging buah labu kuning menunjukkan kadar sari larut air diperoleh sebesar 46,06%, yang menunjukkan bahwa hasil tersebut memenuhi persyaratan yaitu tidak kurang dari 6% (Depkes RI, 1995). Dan kadar sari larut etanol sebesar 39,06% yang menunjukkan bahwa hasil tersebut memenuhi persyaratan yaitu tidak kurang dari 5% (Depkes RI, 1995). Hasil ini menunjukkan bahwa kadar sari yang larut dalam air lebih besar daripada sari larut etanol, hal ini menunjukkan bahwa senyawa yang terlarut dalam air lebih banyak seperti glikosida, gula, gom, protein, enzim dan asam organik (Depkes RI, 1995).

Penetapan kadar sari larut dalam air dilakukan untuk mengetahui kadar senyawa yang bersifat polar, sedangkan kadar sari larut dalam etanol untuk mengetahui senyawa yang terlarut dalam etanol baik polar maupun nonpolar. Senyawa yang bersifat polar dan larut dalam air akan tersari oleh air. Senyawa-senyawa yang tidak larut dalam air dan larut dalam etanol akan tersari oleh etanol (WHO, 1998).

Hasil penetapan kadar abu total simplisia yang didapat sebesar 2,37% yang

40

menunjukkan bahwa hasil tersebut memenuhi persyaratan yaitu tidak lebih dari 8%

(Depkes RI, 1995) dan kadar abu tidak larut asam sebesar 0,74% yang menunjukkan bahwa hasil tersebut memenuhi persyaratan yaitu tidak lebih dari 1% (Depkes RI, 1995). Penetapan kadar abu dilakukan untuk mengetahui kandungan mineral internal (abu fisiologi) dan mineral eksternal (non fisiologi) yang berasal dari dalam atau luar jaringan tanaman yang terdapat dalam sampel. Kadar abu tidak larut dalam asam untuk menunjukkan jumlah silikat yang ada terutama pasir yang terdapat pada simplisia (WHO, 1998). Penetapan kadar abu total memberikan gambaran kandungan mineral internal dan eksternal yang berasal dari proses awal sampai terbentuknya ekstrak dan kadar abu tidak larut asam ditetapkan untuk memberikan jaminan bahwa ekstrak tidak mengandung logam berat melebihi nilai yang ditetapkan karena berbahaya bagi kesehatan (Ditjen POM, 2000). Hasil perhitungan dapat dilihat pada lampiran 8 halaman 60-64.

Dokumen terkait