• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Survei di Tingkat Provinsi

Kondisi dan potensi pertambangan mineral dan batubara

Potensi bahan tambang di Provinsi Jawa Barat sangat besar, mencapai 29 jenis mineral dan batubara yang terdiri dari 17 mineral non logam (andesit, kapur, bentonit, diatome, felspar, fosfat, kaolin, marmer, pasir urug, sirtu, kuarsa, tanah liat, tras, zeolit, gipsum, belerang, kalsit);

delapan Mineral logam (pasir besi, bijih besi, galena, emas, perak, mangan, tembaga, seng); dan 25

empat mineral batuan (batu permata, onyx, batu ares dan obsidian), dan batubara. Seluruh potensi yang besar tersebut tersebar di 19 kabupaten di Provinsi Jawa Barat, antara lain (Kabupaten Cianjur, Sukabumi, Bogor, Purwakarta, Karawang, Bekasi, Subang, Tasikmalaya, Pangandaran, Garut, Bandung, Bandung Barat, Ciamis, Cirebon, Indramayu, Kuningan, Banjar, Sumedang dan Majalengka).

Sumber daya batu kapur yang terbesar terdapat di Kabupaten Sukabumi (>1,562 miliar ton), andesit di Kabupaten Karawang (>870 juta ton), bentonit di Kabupaten Cianjur dan Sukabumi (masing-masing >130 juta ton), sirtu di Kabupaten Karawang (>533 juta ton), pasir kuarsa di Kabupaten Sukabumi (>3 miliar ton), tanah liat di Kabupaten Sumedang (>122,7 miliar ton), tras di Kabupaten Bandung Barat (>2 miliar ton), dan pasir besi di Kabupaten Sukabumi (>113 juta ton).

Keberadaan sumber daya mineral dan batubara di wilayah Provinsi Jawa Barat yang luasnya 35.222,18 km2, cukup besar dan tersebar diseluruh wilayah kabupaten, diusahakan oleh 131 usaha logam, 93 usaha bukan logam dan 555 usaha batuan, dengan total izin usaha pertambangan berjumlah 779 buah (Tabel 4.1. dan Gambar 4.2).

Tabel 4.1. Rekapitulasi Usaha Pertambangan di Provinsi Jawa Barat

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat, 2015

26

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat, 2015

Gambar 4.1. Grafik Jumlah IUP per Komoditas di Provinsi Jawa Barat

Kondisi pengelolaan pertambangan setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014

Untuk mengelola sumber daya yang besar dan tersebar di seluruh wilayah provinsi, Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat melakukan pengelolaan pertambangan dengan keterbatasan dan dilakukan secara sporadis. Jumlah tenaga pelaksana pertambangan di dinas ini, terdiri atas: 1 orang Sarjana Strata 3, 29 orang Sarjana Strata 2, 59 orang Sarjana Strata 1, 13 orang Sarjana Muda (Diploma 3), 1 orang Diploma 1, 91 orang SLTA, dan 11 orang SD. Dilihat berdasarkan latar belakang pendidikan dan keahlian, terdiri atas: 11 orang Sarjana Tambang, 10 orang Sarjana Geologi, 5 orang Sarjana Teknik Geodesi, 6 orang Sarjana Ekonomi, 3 orang Sarjana Sosial, 10 Sarjana Manajemen, dan 5 orang Inspektur Tambang.

Peralatan pendukung berupa peralatan laboratorium dan peralatan lapangan. Peralatan laboratorium, antara lain: Ph Meter (1 unit), Conductivity Meter (1 unit), Filter RO (2 unit), Neraca analitik 4 decimal (2 unit), Spektrofotometer UV-Vis (1 unit), COD Reaktor (2 unit), Ruang asam (3 unit), Kompresor (4 unit), AAS (2 unit), Oven (2 unit), Jaw Crusher (1 unit), Pulveferizer (1 unit), dan Alat Uji Kuat Tekan (1 unit). Peralatan lapangan terdiri atas: Water Level Meter (5 unit), GPS (20 unit), Borehole Camera (1 unit), Geolistrik (1 unit) dan Vibration Meter (1 unit).

27

Anggaran kegiatan untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsi yang terkait dengan sektor mineral dan batubara berjumlah Rp.121.197.000.000, dengan perincian anggaran rutin Rp.18.282.905.000 dan anggaran pembangunan yang meliputi perencanaan, pembangunan fisik, evaluasi dan pengembangan sebesar Rp.102.914.095.000.

Setelah adanya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, menyebabkan hubungan antara provinsi dan kabupaten menjadi kurang optimal, disebabkan kesulitan penggunaan anggaran, pengelolaan sumber daya manusia tidak efisien, koordinasi kegiatan antara Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota belum dinamis karena belum adanya Peraturan Pemerintah sebagai turunan undang-undang tersebut sebagai payung hukum untuk dapat melaksanakannya.

Berikut diuraikan hasil survei tentang pelaksanaan pengembangan pertambangan mineral dan batubara setelah diberlakukannya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 di Provinsi Jawa Barat, yaitu:

1) Perizinan terhambat provinsi (belum adanya SOP, peraturan, PP yang mengatur undang-undang ini).

2) Dampak kerusakan lingkungan akan lebih besar, karena keterbatasan personil untuk melakukan pengawasan pengusahaan tambang ke seluruh kabupaten.

3) Distamben kabupaten/kota memiliki anggaran tetapi tidak dapat dilaksanakan, sementara propinsi dari segi anggaran belum ada, personil terbatas, tidak mungkin melaksanakan tugasnya dengan baik.

4) Penerimaan negara bukan pajak dari sektor minerba akan turun yang berdampak terhadap dana bagi hasil untuk kabupaten/kota. Dana bagi hasil untuk yang diterima kabupaten/kota sangat tergantung ada tidaknya data-data bukti setor royalti, yang selama ini dinas pertambangan dan energi kabupaten yang mengumpulkan termasuk menagih royalti.

5) Penambangan tanpa izin (peti) akan marak lagi. Penambangan batubara, emas dan batuan mulai muncul kembali setelah sekian lama hilang karena ketatnya pengawasan dari aparat kepolisian maupun dinas.

6) Terjadinya pembiaran peti dari aparat kepolisian karena ada uang jasa pengamanan.

7) Tidak semua wilayah memiliki migas [sementara yang diserahkan kepada kabupaten/kota adalah urusan migas].

8) Para pegawai di kabupaten/kota banyak menganggur (karena semakin sedikitnya tupoksi yang bisa dikerjakan).

9) Para pegawai di kabupaten/kota akan kehilangan pegawai- pegawai yang berkualitas (pengawas inspeksi tambang yang sudah mendapatkan pendidikan dan keahlian yang sudah dibiayai oleh kabupaten/kota karena akan ditarik semuanya ke provinsi).

28

10) Proses perpindahan pegawai dari kabupaten/kota memerlukan waktu yang cukup panjang, sementara tugas dan pekerjaan harus segera dilaksanakan karena Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 berlaku efektif saat itu.

11) Menjadikan keresahan bagi para pejabat dinas pertambangan dan energi di seluruh Kabupaten/Kota.

12) Kinerja SKPD dinas pertambangan dan energi rendah. DPA SKPD dinas pertambangan dan energi telah disahkan oleh dewan, sementara dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 DPA tersebut tidak dapat dilaksanakan karena alasan kewenangan sudah tidak dimiliki lagi. Maka bagi SKPD yang tidak melaksanakan DPA, dapat penilaian kinerjanya rendah.

13) Resiko tidak dapat menyelesaikan presentasi RKAB dan RKKTL karena jumlah IUP terlalu banyak yang harus dilaksanakan oleh provinsi.

14) Pola pembinaan karier pegawai terganggu, SKP sebagai parameter pengukur kinerja akan rendah. Otomatis nilai SKP para staf, pejabat rendah yang berimplikasi tidak naik pangkat, CPNS sulit menjadi PNS penuh.

Penerimaan daerah dari pertambangan mineral dan batubara

Selama tahun 2003 – 2014, penerimaan dari sektor perambangan terus memperlihatkan peningkatan (Gambar 4.2), dari Rp.2,67 miliar (2003) menjadi Rp.6,38 miliar (2014).

Penerimaan ini sebenarnya relatif kecil jika dibandingkan dengan jumlah IUP yang cukup banyak (total ada 779 buah) serta keberadaan sumber daya mineral dan batubara tersebar di wilayah Provinsi Jawa Barat yang cukup luas (35.222,18 km2).

Sumber : Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Jawa Barat, 2015

Gambar 4.2. Garafik Realisasi Bagi Hasil Sektor Pertambangan Umum bagi Provinsi Tahun 2003-2014

29

B. Hasil Survei di Tingkat Kabupaten