• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dalam rangka menjamin kepastian hukum dan sambil menunggu terbitnya peraturan pelaksanaan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, maka pada masa transisi ini pemerintah cq Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah mengeluarkan Surat Edaran Kementerian ESDM untuk dijadikan pedoman dalam pengelolaan pertambangan mineral dan batubara di daerah. Selain itu, Kementerian ESDM melakukan beberapa hal, antara lain:

TERJADI PERUBAHAN POLA

PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

PERLU PENYESUAIAN UU NOMOR 4 TAHUN 2009

TERJADI PERUBAHAAN POLA

KEWENANGAN PENGELOLAAN ESDM

PERLU PENGATURAN MASA TRANSISI

64

a) Sejak berlakunya Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, pengelolaan Inspektur Tambang (IT) dan Pejabat Pengawas menjadi kewenangan Pemerintah Pusat.

b) Meminta kepada Kadis ESDM Prov/Kab/Kota melakukan pendataan IT pada masing-masing SKPD.

c) KESDM melakukan jejak minat bagi pejabat fungsional IT dan Calon IT di Provinsi dan Kab/Kota yang berminat untuk mutasi menjadi Aparatur Siplil Negara di KESDM yang ditempatkan di Daerah.

d) KESDM melakukan penyiapan revisi perubahan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 dan produk hukum turunannya berpedoman kepada Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014.

Berdasarkan proses persiapan revisi Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 dan produk hukum turunannya telah diinvetarisasi beberapa pasal yang segera harus disesuaikan (Tabel 5.1). Selain penyesuain beberapa pasal Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 dengan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, dalam perbaikan tersebut juga menambahkan beberapa hal yang dipandang perlu untuk dimasukan dalam revisi Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 dan produk hukum turunannya.

Tabel 5.1. Pasal-Pasal Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 yang harus Disesuaikan

No Pasal Substansi/Materi

1. Pasal 6 Kewenangan Pemerintah Pusat

Termasuk di dalamnya pengelolaan Inspektur Tambang

2. Pasal 7 Kewenangan pemerintah provinsi Termasuk di dalamnya kewenangan bupati/walikota yang sebelumnya diatur dalam Pasal 8 Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009

3. Pasal 8 Kewenangan pemerintah kabupaten/kota Dihapus  tidak mempunyai kewenangan lagi 4. Pasal 21 Penetapan WPR

Menjadi kewenangan pemerintah Daerah provinsi (gubernur) 5. Pasal 23 Pengumuman kepada masyarakat terkait penetapan WPR

Menjadi kewenangan pemerintah Daerah provinsi (gubernur)

6. Pasal 26 Ketentuan lebih lanjut tentang kriteria dan mekanisme penetapan WPR Menjadi kewenangan pemerintah Daerah provinsi, maka pengaturannya dalam peraturan daerah provinsi

7. Pasal 37 Kewenangan pemberian IUP

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 8. Pasal 40 ayat

(3) dan ayat (6)

Kewenangan penerbitan IUP untuk mineral lain

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 9. Pasal 44 Kewenangan penerbitan izin sementara

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur

65

10. Pasal 48 Kewenangan pemberian IUP Operasi Produksi

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 11. Pasal 67 Kewenangan pemberian IPR

Menjadi kewenangan pemerintah Daerah provinsi (gubernur) 12. Pasal 72 Ketentuan lebih lanjut tentang tata cara pemberian IPR

Menjadi kewenangan pemerintah Daerah provinsi, maka pengaturannya dalam peraturan daerah provinsi

13. Pasal 73 Kewajiban dalam pengelolaan usaha pertambangan rakyat Menjadi kewenangan pemerintah Daerah provinsi

14. Pasal 93 Terkait pengalihan IUP

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 15. Pasal 100 Kewenangan penunjukan pihak ketiga untuk melaksanakan reklamasi dan

pascatambang

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 16. Pasal 104 Kewenangan pemberian IUP Operasi Produksi khusus untuk pengolahan dan

pemurnian

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 17. Pasal 105 Kewenangan pemberian IUP Operasi Produksi untuk penjualan

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 18. Pasal 110 Penyerahan data eksplorasi dan operasi produksi

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur No. Pasal Substansi/Materi

19. Pasal 113 dan Pasal 114

Kewenangan persetujuan penghentian sementara kegiatan usaha pertambangan Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 20. Pasal 118 Penyerahan kembali IUP

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 21. Pasal 119 dan

Pasal 121

Kewenangan pencabutan IUP

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 22. Pasal 122 dan

Pasal 123

Pengembalian IUP yang berakhir

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur 23. Pasal 139, Pasal

140, dan Pasal 141

Pembinaan dan pengawasan penyelenggaraan usaha pertambangan Bupati tidak mempunyai kewenangan

 pengawasan Pemerintah kepada pemerintah Daerah provinsi

 Kewenangan pembinaan dan pengawasan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan oleh pemegang izin berada pada Menteri dan gubernur

 Terkait kewenangan Inspektur Tambang (pengelolaan IT oleh Pemerintah Pusat)

24. Pasal 142 Kewajiban pelaporan penyelenggaraan pengelolaan usaha pertambangan Bupati tidak mempunyai kewenangan  pelaporan oleh gubernur 25. Pasal 143 Pembinaan dan pengawasan usaha pertambangan rakyat

Menjadi kewenangan pemerintah Daerah provinsi (gubernur) 26. Pasal 151 Kewenangan pemberian sanksi administratif

Bupati tidak mempunyai kewenangan  kewenangan pada Menteri dan gubernur

66

PENUTUP

6.1. Kesimpulan

Sebagaimana diketahui bahwa Undang-undang Nomor 32 Tahun 2010 tentang Pemerintahan Daerah telah diganti oleh Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 dengan judul yang sama. Ada perubahan mendasar dari kedua undang-undang tersebut, terutama dikaitkan dengan kewenangan dalam urusan pemerintahan; jika sebelumnya bertumpu kepada Pemerintahan Kabupaten/Kota (Undang-undang Nomor 32 Tahun 2010), maka kini banyak dilimpahkan kepada Pemerintah Provinsi (Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014), termasuk kewenangan dalam pengelolaan bidang mineral dan batubara.

Mengingat Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 harus langsung dilaksanakan tanpa menunggu peraturan pelaksanaannya (dalam bentuk Peraturan Pemerintah), maka Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dan Kementerian Dalam Negeri telah mengeluarkan Surat Edaran agar tidak terjadi kekosongan hukum yang dapat merugikan berbagai pihak. Di tingkat Daerah, para Gubernur juga mengeluarkan Surat Edaran serupa sebagai tindak lanjut dari Surat Edaran yang dikeluarkan oleh dua Kementerian tersebut.

Dari hasil survei yang dilakukan terhadap empat provinsi, yaitu Provinsi Jawa Barat beserta empat Kabupaten, yakni Cianjur, Sukabumi, Garut, dan Tasikmalaya; Jawa Timur beserta dua Kabupaten, yakni Sidoarjo dan Malang; Bangka-Belitung, khususnya di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur; serta Provinsi Kalimantan Selatan beserta Kabupaten Banjar, diperoleh data sebagai berikut:

1) Reaksi yang ditimbulkan atas pemberlakuan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 hampir sama di setiap provinsi dan kabupaten yang disurvei. Mereka merasa kehadiran Undang-undang tersebut tanpa disosialisasikan secara utuh terlebih dulu dan dipaksakan karena dikeluarkan menjelang berakhirnya pemerintahan Presiden SBY. Kondisi ini pada akhirnya telah menimbulkan “kegaduhan” di setiap daerah karena mereka, baik Pemerintahan Provinsi maupun Pemerintahan Kabupaten/Kota, merasa belum siap menerima perubahan yang cukup fundamental.

2) Meskipun telah dikeluarkan Surat Edaran dari Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral dan Menteri Dalam Negeri, yang juga diikuti oleh masing-masing Gubernur, ketiadaan Peraturan Pemerintah sebagai penjabaran dari Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 menjadi kendala utama bagi Pemerintah Kabupaten/Kota dalam melaksanakan ketentuan sebagaimana tercantum dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014. Hal ini

67

disebabkan Surat Edaran tersebut kurang implementatif serta kurang memiliki kekuatan hukum, sehingga dalam kenyataannya ada Pemerintah Kabupaten/Kota yang terpaksa mengeluarkan kebijakan sendiri untuk menghindari keadaan yang lebih buruk.

3) Telah terjadi “kebijaksanaan”, baik disengaja maupun tidak disengaja, terhadap berbagai hal yang terkait dengan masalah perizinan. Sebagai contoh: pengusaha kecil yang menambang mineral tertentu dengan luas yang hanya ratusan meter persegi, kesulitan mengurus izin ke provinsi karena menghabiskan waktu, tenaga, dan dana. Untuk itu, Pemerintah Kabupaten/ Kota mengambil “kebijaksanaan” yang memberi izin kepada pengusaha kecil tersebut tetap melaksanakan penambangan sambil menunggu proses perizinan selesai. Walaupun dianggap keliru dan cukup berisiko, langkah ini terpaksa diambil oleh Pemerintah Kabupaten/Kota agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan.

4) Ada sikap skeptis yang tidak hanya ditunjukkan oleh Pemerintah Kabupaten/Kota, tetapi bahkan juga oleh Pemerintah Provinsi, bahwa pemberlakuan Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 tidak akan menemui sasaran sebagaimana yang diinginkan. Terlepas dari latar belakang alasan kedua Pemerintahan di Daerah tersebut, baik Kabupaten/Kota maupun Provinsi, persoalan utamanya terletak kepada kekurangsiapan mereka menerima substansi dari Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014 yang dianggap kurang menggambarkan kondisi yang ada di lapangan.

6.2. Saran

1) Berdasarkan hasil studi kasus pengelolaan pertambangan mineral dan batubara pada 4 provinsi sebagai sampel, terjadinya persoalan carut marut pengelolaan pertambangan mineral dan batubara, maka diperlukan revisi terhadap berbagai materi yang tercantum dalam Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014, atau, paling tidak, ditangguhkan pelaksanaannya sembari menunggu Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari Undang-undang Nomor 23 Tahun 2014.

2) Untuk memberi jaminan kepastian hukum dalam berusaha di bidang pertambangan mineral dan batubara, maka perlu segera melakukan revisi perbaikan Undang-undang Nomor 4 Tahun 2009 dan produk hukum turunannya.

68