ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
B. HASIL PENELITIAN
3. Hasil Tambahan
a. Kategorisasi Data Penelitian
Berdasarkan deskripsi data penelitian, dapat dilakukan pengelompokkan yang mengacu pada kriteria pengkategorisasian yang didasarkan pada asumsi bahwa skor subjek penelitian terdistribusi secara normal (Azwar, 2000) Kriterianya terbagi atas tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Pada tabel 14 akan mendeskripsikan data pengkategorisasian kedua variabel penelitian yaitu variabel dukungan sosial dan depresi.
Tabel 14. Deskripsi Variabel Dukungan Sosial dan Depresi
Variabel Skor Empirik Skor Hipotetik
Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD Dukungan
Sosial
101 168 136,68 13,307 45 180 112,5 22,5 Depresi 4 29 14,97 5,839 0 51 25,5 8,5
Berdasarkan tabel 14 diperoleh skor empirik dan skor hipotetik. Skor empirik merupakan skor yang didapat di lapangan. Mean empirik pada variabel
dukungan sosial sebesar 136,68 dengan standar deviasi empirik sebesar 13,307. Mean empirik variabel depresi didapat sebesar 14,97 dengan standar deviasi empirik sebesar 5,839. Sedangkan skor hipotetik merupakan skor yang diharapkan dapat dicapai oleh sampel penelitian. Hasil mean hipotetik untuk variabel dukungan sosial didapat sebesar 112,5 dengan standar deviasi sebesar 22,5. Mean hipotetik untuk variabel depresi didapat sebesar 25,5 dengan standar deviasi sebesar 8,5. Setelah perhitungan skor empirik dan hipotetik, maka hasil tersebut dimasukkan kedalam rumus kriteria jenjang pengkategorian dalam tabel 15.
Tabel 15. Kriteria jenjang kategorisasi variabel dukungan sosial dan depresi Variabe l Jenjang kategorisasi Empirik Hipotetik Rentang Nilai Fr k % Kategor i Rentang Nilai Fr k % Kategori Dukungan Sosial x < (-1.0) x < 123 11 16,9 2 Rendah x < 90 0 0 Rendah (-1.0) x (+1.0 ) 123 x 150 46 70,7 7 Sedang 90 x 135 28 43,0 8 Sedang (+1.0 )< x 150< x 8 12,3 1 Tinggi 135< x 37 56,9 2 Tinggi Depresi x < (-1.0) x < 9 8 12,3 1 Rendah x < 17 43 66,1 5 Rendah (-1.0) x (+1.0 ) 9 x 21 49 75,3 8 Sedang 17 x 34 22 33,8 5 Sedang (+1.0 )<x 21 < x 8 12,3 1 Tinggi 34 < x 0 0 Tinggi b. Frk = Frekuensi
Berdasarkan tabel 15. data empirik diketahui subjek penelitian pada variabel dukungan sosial yang tergolong kedalam kategori tinggi sebanyak 8 orang (12,31%), kategori sedang sebanyak 49 orang (75,38%), kategori rendah
sebanyak 8 orang (12,31%). Data hipotetik diketahui subjek penelitian pada variabel dukungan sosial yang tergolong kedalam kategori tinggi sebanyak 37 orang (56,92%), kategori sedang sebanyak 28 orang (43,08%), dan tidak ada siswa yang termasuk kategori rendah (0%).
Perbandingan mean empirik dengan mean hipotetik variabel dukungan sosial menunjukkan mean empirik lebih besar dibandingkan dengan mean hipotetik ( X > Y), maka dapat dikatakan bahwa dukungan sosial subjek penelitian lebih tinggi daripada rata-rata remaja pada polulasi umumnya. Kategorisasi subjek penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian termasuk kategori yang mendapatkan dukungan sosial sedang, yaitu sebesar 75,38%. Artinya, dukungan sosial yang diterima remaja tidak tinggi dan juga tidak rendah. Selebihnya, 12,31% mendapatkan dukungan sosial yang tinggi dan 12,31% mendapatkan dukungan sosial yang rendah.
Data empirik subjek penelitian pada variabel depresi yang tergolong kedalam kategori tinggi sebanyak 11 orang (16,92%), kategori sedang sebanyak 46 orang (70,77%), kategori rendah sebanyak 8 orang (12,31%). Data hipotetik subjek penelitian pada variabel depresi tidak ada yang yang tergolong kedalam kategori tinggi (0%), kategori sedang sebanyak 22 orang (33,85%), kategori rendah sebanyak 43 orang (66,15%).
Perbandingan mean empirik dengan mean hipotetik variabel depresi menunjukkan mean empirik lebih besar dibandingkan dengan mean hipotetik ( X > Y), maka dapat dikatakan bahwa depresi subjek penelitian lebih tinggi daripada rata-rata remaja pada polulasi umumnya. Kategorisasi subjek penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian termasuk kategori yang mengalami depresi sedang, yaitu sebesar 63,08%. Artinya, gejala depresi yang dialami remaja tidak tinggi dan juga tidak rendah. Selebihnya, 26,15% mengalami depresi yang tinggi dan 7% mengalami depresi yang rendah. Untuk melihat penyebaran variabel dalam bentuk matriks kategori dapat ditunjukkan pada tabel 16 berikut:
Tabel 16. Matriks Hubungan Antar Variabel Dalam Bentuk Kategori Dukungan Sosial
Rendah Sedang Tinggi
Depresi Rendah 2 3,08% 5 7,69% 1 1,54% Sedang 6 9,23% 36 55,38% 7 10,77% Tinggi 3 4,62% 5 7,69% 0 0% Jumlah 11 16,93% 46 70,76% 8 12,31% 65 (100%)
Dari matriks di atas dapat dilihat bahwa hubungan variabel dukungan sosial yang tinggi dengan depresi rendah memiliki persentase 1,54 % (1 orang). Variabel dukungan sosial tinggi dengan depresi sedang memiliki persentase 10,77% (7 orang), dan tidak ada yang memiliki dukungan sosial tinggi dan depresi tinggi.
Hubungan variabel dukungan sosial sedang dengan depresi rendah memiliki persentase 7,69 % (5 orang). Hubungan variabel dengan persentase paling besar adalah variabel dukungan sosial sedang dengan depresi sedang yaitu 55,38 % (36 orang). Dan variabel dukungan sosial sedang dengan depresi tinggi memiliki persentase 7,69 % (5 orang).
Hubungan variabel dukungan sosial yang rendah dengan depresi rendah memiliki persentase 3,08 % (2 orang). Hubungan variabel dukungan sosial yang
rendah dengan depresi yang sedang memiliki persentase 9,23 % (6 orang). Hubungan variabel dukungan sosial yang rendah dengan depresi yang tinggi memiliki persentase 4,62 % (3 orang).
b. Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial
Pada tabel 17 dideskripsikan data pengkategorisasian variabel dukungan sosial berdasarkan bentuk-bentuk dukungan sosial dan depresi.
Tabel 17. Deskripsi Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial dan Depresi
Variabel Skor Empirik Skor Hipotetik
Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD Dukungan Emosional 25 42 33.11 3.918 11 44 27,5 5,5 Dukungan Instrumental 24 41 33.48 3.953 11 44 27,5 5,5 Dukungan Informatif 25 41 33.60 3.815 11 44 27,5 5,5 Dukungan Persahabatan 24 45 36.49 4.434 12 48 30 6 Depresi 4 29 14.97 5,839 0 51 25,5 8,5 Berdasarkan tabel 17 diketahui skor empirik dan skor hipotetik dari bentuk-bentuk dukungan sosial. Mean empirik bentuk-bentuk dukungan sosial: Dukungan emosional sebesar 33,11 dengan standar deviasi sebesar 3,918. Dukungan instrumental sebesar 33,48 dengan standar deviasi sebesar 3,953. Dukungan informatif sebesar 33,60 dengan standar deviasi sebesar 3,815. Dukungan Persahabatan sebesar 36,49 dengan standar deviasi 4,434.
Mean empirik variabel depresi didapat sebesar 14,97 dengan standar deviasi empirik sebesar 5,839. Hasil mean hipotetik untuk bentuk-bentuk dukungan sosial: Dukungan emosional sebesar 27,5 dengan standar deviasi sebesar 5,5. Dukungan instrumental sebesar 27,5 dengan standar deviasi sebesar
5,5. Dukungan informatif sebesar 27,5 dengan standar deviasi sebesar 5,5. Dukungan persahabatan sebesar 30 dengan standar deviasi 6. Mean hipotetik untuk variabel depresi didapat sebesar 25,5 dengan standar deviasi sebesar 8,5.
c. Analisis Regresi Pengaruh Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial Terhadap Depresi
Berikut ini akan dijelaskan pengolahan data mengenai pengaruh bentuk-bentuk dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying yang diperoleh dengan menghitung koefisien korelasi. Metode yang digunakan untuk mengkorelasikan data adalah uji analisis regresi linier berganda dengan bantuan program komputer SPSS 16.0. Berdasarkan hasil pengolahan data analisis regresi antara bentuk-bentuk dukungan sosial dengan depresi pada tabel 18 berikut:
Tabel 18. Hasil Analisis Regresi Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial*Depresi
Korelasi Sig
Dukungan Emosional*Depresi -0,213 0,044 Dukungan Instrumental*Depresi -0,316 0,005 Dukungan Informatif*Depresi -0,190 0,065 Dukungan Persahabatan*Depresi -0,234 0,031
Dari tabel dapat dilihat bahwa koefisien korelasi (R) antara dukungan emosional dengan depresi adalah sebesar 0,213 dengan signifikansi 0,044. Korelasi antara dukungan instrumental dengan depresi sebesar 0,316 dengan signifikansi 0,005. Koefisien korelasi dukungan informatif dengan depresi sebesar 0,190 dengan signifikansi 0,065. Koefisien korelasi dukungan persahabatan dengan depresi sebesar 0,234 dengan signifikansi 0,031.Dari keempat bentuk-bentuk dukungan sosial tersebut dapat dilihat bahwa bentuk-bentuk dukungan yang
memiliki korelasi yang lebih tinggi dibandingkan bentuk yang lain adalah bentuk dukungan instrumental, yaitu sebesar 0,316.
Keempat bentuk dukungan sosial tersebut membentuk korelasi negatif terhadap depresi. Artinya terjadi hubungan tidak searah dimana semakin tinggi bentuk-bentuk dukungan sosial maka akan semakin menurun tingkat depresi. Sebaliknya, jika semakin rendah nilai dari bentuk-bentuk dukungan sosial, maka akan semakin tinggi tingkat depresi.
Dari hasil analisis regresi tersebut dapat juga dilihat taraf signifikansi pada korelasi antara variabel dukungan emosional dengan depresi, variabel dukungan instrumental dengan depresi, dan variabel dukungan persahabatan dengan depresi berada pada taraf signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jika angka signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Sedangkan, korelasi antara variabel dukungan informatif dengan depresi memiliki taraf signifikansi p = 0,065. Hasil tersebut menunjukkan bahwa signifikansi lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Artinya, tidak terdapat pengaruh dukungan informatif terhadap depresi.
Tabel 19. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
R Sig. R Square Persamaan Regresi
0.323 0.151 0.105 Y = 32,121 – 0,050*X1 -0,401*X2 +0,038*X3 -0,092*X4
Ket: Y = Variabel tergantung = Depresi
X1= Variabel bebas 1 = Dukungan emosional X2 = Variabel bebas 2 = Dukungan Instrumental X3 = Variabel bebas 3 = Dukungan Informatif X4 = Variabel bebas 4 = Dukungan Persahabatan
Dari hasil analisis regresi pada tabel 19, koefisien determinan (R-square) yang diperoleh dari pengaruh bentuk-bentuk dukungan sosial terhadap depresi
adalah sebesar 0,105 (R-square / r2= 0,105). Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh bnetuk-bentuk dukungan sosial terhadap depresi adalah sebesar 10,5%. Artinya, bentuk-bentuk dukungan sosial memberikan sumbangan efektif sebesar 10,5% untuk mengurangi depresi, sedangkan sisanya yang sebesar 89,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Persamaan garis multiregresi dapat dilihat pada tabel 20.
Tabel 20. Hasil Koefisien Regresi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 32.121 7.397 4.343 .000 Dukungan_Emosional -.050 .281 -.034 -.178 .859 Dukungan_Instrumental -.401 .249 -.272 -1.611 .112 Dukungan_Informatif .038 .274 .025 .139 .890 Dukungan_Persahabatan -.092 .212 -.070 -.432 .667 a. Dependent Variable: Depresi
Garis persamaan regresi yang dihasilkan, yaitu Y = 32,121 – 0,050*(Dukungan emosional) - 0,401*(Dukungan Instrumental) + 0,038*(Dukungan Informatif) - 0,092*(Dukungan Persahabatan). Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai konstanta adalah b0 = 32,121. Dari model multiple regresi dapat dilihat beberapa b-values yaitu koefisien setiap variabel prediktor yang mengindikasikan kontribusi setiap variabel prediktor. Nilai b-values menunjukkan hubungan antara depresi dengan setiap prediktor. Jika koefisien bernilai positif berarti terdapat hubungan positif antara prediktor dan hasil, jika koefisien bernilai negatif maka menunjukkan hubungan negatif. Dari persamaan dapat dilihat bahwa nilai koefisien regresi dukungan emosional sebesar - 0,050, koefisien regresi dukungan instrumental
sebesar - 0,401, koefisien regresi dukungan informatif sebesar 0,038, koefisien korelasi regresi dukungan persahabatan sebesar -0,092. Dari keempat variabel prediktor yang menunjukkan hubungan yang negatif adalah dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan persahabatan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dari masing-masing variabel prediktor tersebut, maka nilai depersi akan semakin menurun. Sedangkan, variabel prediktor yang menunjukkan hubungan yang positif adalah dukungan informatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dukungan informatif, maka nilai depresi juga akan meningkat.
C. PEMBAHASAN
Hasil penelitian pada sampel remaja awal korban bullying yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Kecamatan Medan Petisah diperoleh nilai R = 0,289 dengan p= 0.020 (p<0,05) menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying. Dukungan sosial merupakan segala bentuk bantuan yang diberikan pada individu berupa kenyaman, perhatian, penghargaan, yang dirasakan individu dapat memberi efek positif bagi dirinya yang diperoleh melalui interaksi dengan individu atau kelompok lain. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa dukungan sosial memberi pengaruh terhadap penurunan tingkat depresi pada individu yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dan yang dapat menyebabkan reaksi stres dari individu seperti bullying. Demikian sebaliknya menurunnya dukungan sosial memberi pengaruh pada peningkatan depresi. Hasil tersebut sesuai dengan teori interpersonal depresi yang menjelaskan bahwa berkurangnya dukungan sosial
dapat melemahkan kemampuan individu untuk mengatasi berbagai peristiwa hidup yang negatif dan membuatnya rentan terhadap depresi (Billings dkk dalam Davison, 2006).
Dari hasil penelitian diketahui pengaruh dukungan sosial memberi sumbangan efektif terhadap penurunan depresi hanya sebesar 8,3% pada remaja awal korban bullying. Hal ini dapat dijelaskan melalui adanya faktor-faktor lain yang juga turut mempengaruhi depresi pada korban bullying. Menurut Kerig dan Wenar (2006), terdapat multifaktor yang mempengaruhi depresi yang dapat dijelaskan dari konteks biologis, individual, keluarga, dan sosial. Dukungan sosial merupakan salah satu yang memperngaruhi depresi yang berasal dari faktor sosial yaitu faktor dari luar diri individu yang diterima melalui adanya hubungan interpersonal dengan orang atau kelompok lain. Dalam penelitian ini tidak diketahui seberapa besar peran dari masing-masing faktor lain tersebut.
Pengaruh dukungan sosial terhadap depresi juga dapat dilihat berdasarkan bentuk-bentuk dukungan sosial, yaitu dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informatif, dan dukungan persahabatan. Bentuk dukungan sosial yang diterima individu mungkin tidak sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga perlu diperhatikan bentuk dukungan sosial yang tepat bagi individu dengan menyesuaikan dengan situasi yang sedang dihadapi individu. Dalam penelitian ini diketahui, dari keempat bentuk dukungan sosial, yang memiliki korelasi yang lebih besar dengan depresi adalah dukungan instrumental dengan korelasi 0,316 dan bentuk dukungan informatif tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap depresi.
Dari hasil penelitian diketahui dukungan instrumental memiliki korelasi yang lebih besar dengan depresi dibandingkan bentuk dukungan sosial lainnya, yang berarti bahwa dukungan instrumental lebih tepat diberikan bagi remaja korban bullying. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cutrona dan Russel (dalam Sarafino, 2006) yang telah membuat suatu pola untuk menyesuaikan bentuk dukungan sosial yang dibutuhkan. Cutrona dan Russel mengatakan bahwa dukungan instrumental akan sangat bermanfaat pada situasi penuh tekanan (stressful) yang dapat dikontrol (controllable), artinya individu dapat melakukan sesuatu agar kejadian tersebut tidak terjadi atau mencegah situasi yang lebih buruk. Bullying merupakan suatu situasi yang bisa menyebabkan perasaan tertekan bagi korban dan termasuk situasi yang dapat dikontrol, artinya dapat diatasi dan dicegah. Sehingga korban bullying akan lebih membutuhkan dukungan instrumental dari orang lain yang mencakup bantuan langsung yang diterima individu, baik berupa bantuan jasa maupun materi. Bantuan langsung dari orang lain, seperti memberi bantuan ketika individu mempunyai masalah dan dapat mengandalkan orang lain pada saat individu mengalami suatu masalah, misalnya individu merasa dibela sahabat ketika ada orang lain yang mengejek.
Sedangkan, bentuk dukungan sosial yang memiliki korelasi paling lemah adalah bentuk dukungan informatif. Dukungan informatif mencakup pemberian nasehat, petunjuk, saran, informasi. Pada skala dukungan sosial yang digunakan dalam penelitian ini, aitem-aitem yang menggambarkan dukungan informatif dari teman dan sahabat lebih banyak daripada yang bersumber dari keluarga. Sehingga hal tersebut merupakan salah satu alasan lemahnya hubungan antara dukungan
informatif dengan depresi. Hal ini juga dapat dijelaskan melalui salah satu kriteria dukungan sosial yang digunakan untuk mengukur tingkat dukungan sosial yaitu guidance. Guidance merupakan dukungan sosial berupa nasihat dan informasi dari sumber yang dapat dipercaya (dalam Nurmalasari, 2007). Guidance of assurance of support diberikan kepada individu yang berasal dari figur yang lebih tinggi seperti orang tua atau guru (dalam Clark, 2005). Maka dalam penelitian ini, dukungan informasi sebaiknya berasal dari figur yang lebih tinggi seperti orang tua dan guru. Pemberian dukungan informasi berupa nasihat, bimbingan, dan saran dari teman sebaya akan menjadi kurang efektif untuk membantu mengenali dan mengatasi masalah yang dihadapi oleh remaja awal korban bullying.