Hipotesis dalam penelitian ini adalah : Ada pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying.
BAB III
Metode penelitian merupakan unsur penting di dalam penelitian ilmiah, karena metode yang digunakan dalam penelitian dapat menentukan apakah penelitian tersebut dapat dipertanggungjawabkan (Hadi, 2000). Jenis penelitian ini adalah penelitian korelasional, yaitu penelitian yang bertujuan untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada satu faktor berkaitan (berkorelasi) dengan satu atau lebih faktor lain berdasarkan koefisien korelasi (Sinulingga, 2011). Berikut akan dibahas mengenai identifikasi variabel penelitian, definisi operasional variabel penelitian, populasi dan metode pengambilain sampel, alat ukur yang digunakan, prosedur penelitian dan metode analisis data.
A. IDENTIFIKASI VARIABEL PENELITIAN
Variabel diartikan sebagai sesuatu yang akan menjadi objek pengamatan penelitian atau faktor-faktor yang berperan dalam gejala yang diamati. Variabel merupakan sebuah simbol dimana angka-angka atau nilai ditetapkan dan suatu konsep atau pengertian dapat dikatakan sebagai variabel bila menunjukkan adanya variasi (Kerlinger, 2000). Sesuai dengan judul penelitian yaitu pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying, maka terdapat 2 (dua) variabel, yaitu dukungan sosial dan depresi.
1. Variabel Bebas
Varibel bebas pada penelitian ini adalah dukungan sosial.
2. Variabel Tergantung
B. DEFINISI OPERASIONAL VARIABEL PENELITIAN
Definisi operasional merupakan batasan suatu fenomena yang dapat diamati dan diukur, bersifat behavioral (Purwanto, 2008). Definisi operasional dari penelitian perlu dijabarkan untuk menghindari perbedaan dalam menginterpretasi masing - masing variabel penelitian (Hadi, 2000).
1. Depresi
Depresi adalah suatu keadaan dimana individu mengalami simtom-simtom perasaan sedih, tertekan, kesepian, berkurang nafsu makan, membutuhkan usaha lebih besar dalam melakukan sesuatu, kesulitan tidur, kesulitan untuk memulai mengerjakan sesuatu, merasa tidak bersahabat, dan merasa tidak disukai orang lain. Depresi dapat dilihat dari simtom-simtom yang dideteksi melalui CES-D (The Center for Epidemiological Studies-Depression Scale) yang dikembangkan oleh Radloff (1977) melalui National Institute of Mental Health yang terdiri dari 20 aitem dan disusun berdasarkan 4 faktor, yaitu:
a. Depressed effect/ negative affect merupakan perasaan-perasaan, emosi, atau suasana hati yang dirasakan negatif seperti perasaan sedih (blues), tertekan (depressed), kesepian (lonely), dan menangis (cry sad).
b. Somatic symptoms merupakan gejala psikologis yang dirasakan berkaitan dengan keadaan tubuh seperti merasa terganggu, berkurang atau bertambahnya nafsu makan, membutuhkan usaha dalam melakukan sesuatu, kesulitan, tidur, dan sulit memulai sesuatu.
c. Positive affect merupakan perasaan, emosi, suasana hati yang dirasakan positif bagi individu dan memiliki harapan yang merupakan kebalikan dari perasaan negatif.
d. Interpersonal relation merupakan perasan negatif yang dirasakan individu berkaitan dengan perilaku orang lain seperti tidak bersahabat dan merasa tidak disukai.
2. Dukungan Sosial
Dukungan sosial yang dimaksud adalah segala bentuk bantuan yang dirasakan individu berupa kenyaman, perhatian, penghargaan, yang dirasakan individu dapat memberi efek positif bagi dirinya yang diperolehnya melalui interaksi dari individu atau kelompok lain. Dukungan sosial yang diterima individu dapat dilihat dari bentuk-bentuk dukungan sosial yang dikemukakan oleh Sarafino (2006), yaitu: dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informatif, dan dukungan persahabatan. Dalam penelitian ini, sumber dukungan sosial dapat berasal dari orang-orang di sekitar subjek seperti keluarga, sekolah, dan teman.
Sarafino (2006) membagi dukungan sosial kedalam 5 bentuk, yaitu: a. Dukungan Emosional
Dukungan emosional merupakan ekspresi dari afeksi, kepercayaan, perhatian, dan perasaan didengarkan. Dukungan emosional mencakup ungkapan empati, kepedulian dan perhatian terhadap orang yang bersangkutan.
b. Dukungan Instrumental
Dukungan instrumental mencakup bantuan langsung, dapat berupa jasa, waktu, atau uang. Misalnya pinjaman uang bagi individu atau pemberian pekerjaan saat individu mengalami tekanan.
c. Dukungan Informatif
Dukungan informatif mencakup pemberian nasehat, petunjuk-petunjuk, saran-saran, informasi atau umpan balik. Dukungan ini membantu individu mengatasi masalah dengan cara memperluas wawasan dan pemahaman individu terhadap masalah yang dihadapi. Informasi tersebut diperlukan untuk mengambil keputusan dan memecahkan masalah secara praktis. Dukungan informatif ini juga membantu individu mengambil keputusan karena mencakup mekanisme penyediaan informasi, pemberian nasihat, dan petunjuk.
d. Dukungan Persahabatan
Dukungan persahabatan mencakup kesediaan waktu orang lain untuk menghabiskan waktu atau bersama dengan individu, dengan demikian akan memberikan rasa keanggotaan dari suatu kelompok yang saling berbagi minat dan melakukan aktivitas sosial bersama.
C. POPULASI, SAMPEL, DAN TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL 1. Populasi dan Sampel
Populasi adalah seluruh individu atau penduduk yang dimaksudkan untuk diteliti. Populasi dibatasi sebagai jumlah penduduk atau individu yang paling sedikit mempunyai satu sifat yang sama (Hadi, 2000). Dalam penelitian ini yang
menjadi populasi adalah remaja awal, yaitu siswa-siswi Sekolah Menengah Pertama yang menjadi korban bullying yang ditemukan di sekolah-sekolah menengah pertama dan sederajat.
Sampel adalah bagian dari populasi. Artinya, sampel merupakan sekelompok individu yang dipilih dari populasi yang dimaksudkan sebagai wakil populasi dari suatu penelitian. Sampel harus memiliki sedikitnya satu sifat yang sama agar dapat dilakukan generalisasi (Kaplan & Saccuzo, 2005). Subjek penelitian menurut Azwar (2001) adalah sumber utama data penelitian, yaitu mereka yang memiliki data mengenai variabel yang akan diteliti. Karakteristik subjek penelitian diperlukan untuk menjamin homogenitasnya.
Karakteristik subjek penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Merupakan korban bullying.
b. Termasuk remaja awal. Remaja awal menurut Monks (2004) berusia 12-15 tahun.
2. Teknik Pengambilan Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah teknik sampel bloking (cluster random sampling). Teknik pengambilan sampel ini digunakan untuk memilih sampel yang berupa kelompok dari beberapa kelompok dimana setiap kelompok terdiri atas beberapa unit yang lebih kecil (Sugiarto dkk, 2001). Sampel dalam penelitian ini adalah remaja yang bersekolah di wilayah Kecamatan Medan petisah yaitu di SMP Kartika I-1 dan SMP Amir Hamzah.
3. Jumlah Sampel Penelitian
Sugiarto (2003) berpendapat bahwa untuk penelitian yang akan menggunakan analisis data dengan statistik, besar sampel yang paling kecil adalah 30, walaupun ia juga mengakui bahwa banyak peneliti lain menganggap bahwa sampel sebesar 100 merupakan jumlah yang minimum. Menurut Azwar (2004), secara tradisional statistika menganggap jumlah sampel yang lebih dari 60 subjek sudah cukup banyak. Namun, sesungguhnya tidak ada angka yang dapat dikatakan dengan pasti. Dalam penelitian ini, jumlah remaja korban bullying yang menjadi sampel penelitian adalah sebanyak 65 orang.
D. METODE PENGUMPULAN DATA
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode self-reports. Menurut Hadi (2000), metode self-report berasumsi bahwa :
1. Subjek adalah orang yang paling tahu tentang dirinya sendiri.
2. Apa yang dinyatakan subjek kepada peneliti adalah benar dan dapat dipercaya.
3. Interpretasi subjek tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada subjek adalah sama dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti.
Pengumpulan data dalam penelitian ilmiah dimaksudkan untuk memperoleh informasi yang relevan, akurat dan memadai. Pentingnya prosedur adalah baik buruknya penelitian tergantung pada teknik-teknik pengumpulan datanya (Hadi, 2000).
Dalam penelitian ini terdapat tiga alat ukur, yaitu:
1. Skala Bullying
Skala bullying yang digunakan dalam penelitian ini dimodifikasi dari skala perilaku bullying yang digunakan oleh Sonia (2009). Skala bullying tersebut disusun dengan mengadaptasi dan memodifikasi The Revised Olweus Bully/Victim Questionnaire yang dikembangkan oleh Olweus. Dalam penelitian sebelumnya (Sonia, 2009), terdapat empat pertanyaan yang menanyakan mengenai keterlibatan murid dalam perilaku bullying, yaitu sebagai korban dan sebagai pelaku. Namun, dalam penelitian ini peneliti hanya mengambil 2 (dua) pertanyaan yang berhubungan dengan keterlibatan murid sebagai korban bullying.
Skala perilaku bullying menggunakan skala model Likert. Skala ini terdiri dari pernyataan dengan menggunakan 5 pilihan jawaban, yaitu:
1) Tidak pernah mengalami bullying
2) Hanya terjadi satu sampai dua kali dalam beberapa bulan terakhir 3) Dua sampai tiga kali dalam sebulan
4) Kira-kira sekali seminggu 5) Beberapa kali dalam seminggu
Penilaian untuk respon yang diberikan subjek untuk setiap pernyataan berturut-turut adalah 1,2,3,4,5. Menurut Solberg dan Olweus (dalam Lee, Cornel, dan Cole, 2001) murid yang melaporkan mengalami bullying 2 sampai 3 kali dalam sebulan atau lebih akan diklasifikasikan sebagai korban bullying.
2. Skala Depresi
Depresi dapat dilihat dari simtom-simtom depresi yang dialami seseorang yang dideteksi melalui CES-D (The Center for Epidemiological Studies-Depression Scale) yang dikembangkan oleh Radloff (1977) melalui National Institute of Mental Health yang terdiri dari 20 aitem dan disusun berdasarkan 4 faktor, yaitu: depressed effect/ negative affect, Somatic symptoms, Positive affect, interpersonal relation. Skala CES-D yang digunakan dalam penelitian ini merupakan skala yang telah diadaptasi dan dimodifikasi oleh peneliti sebelumnya, Sonia (2009), untuk melihat perbedaan depresi ditinjau dari kategori bullying dan jenis kelamin. Dalam penelitian ini, peneliti menambahkan lima buah aitem sehingga jumlah total aitem skala Depresi CES-D yang digunakan dalam penelitian ini adalah 25 aitem. Skala depresi menggunakan skala model Likert yang menggunakan pernyataan dengan 4 pilihan jawaban yaitu TP (tidak pernah), KK (kadang-kadang), AS (agak sering), dan S (sering). Skala disajikan dalam bentuk favourable (pernyataan yang mendukung faktor yang ingin diukur). Respon subjek untuk setiap pernyataan yaitu TP = 0, KK = 1, AS = 2, S = 3. Khusus untuk aitem faktor positive affect cara penilaiannya adalah TP=3, KK=2, AS=1, S=0.
Tabel 1. Distribusi Aitem Skala Depresi Sebelum Uji Coba
No. Dimensi Nomor Aitem Jumlah Persentase
1. Depressed affect 3,6,9,10,14,17,18 7 28%
2. Somatic simtom 1,2,5,7,11,13,20 7 28%
3. Positif affect 4,8,12,16,21,22 6 24%
4. Interpersonal relation 15, 19,23,24,25 5 20%
Proses adaptasi skala dilakukan dengan menerjemahkan aitem-aitem skala CES-D yang berbahasa Inggris kedalam bahasa Indonesia oleh tiga orang, yaitu: seseorang yang memiliki latar belakang pendidikan sastra Inggris, seorang guru bahasa Inggris, dan seorang ahli dalam bidang Psikologi dan memiliki kemampuan bahasa Inggris yang baik (Zahra, 2008). Dari hasil adaptasi tersebut peneliti melakukan modifikasi dengan menambahkan lima aitem. Peneliti meminta seorang professional judgement yaitu dosen pembimbing peneliti untuk melihat kesesuaian penggunaan bahasa dengan faktor yang akan diukur melalui skala.
3. Skala Dukungan Sosial
Skala Dukungan Sosial yang disusun oleh peneliti sendiri berdasarkan lima bentuk-bentuk dukungan sosial yang dikemukakan oleh Sarafino (2006), yaitu: dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informatif, dukungan persahabatan.
Berikut dalam Tabel 2 akan dirangkumkan blue print skala dukungan sosial sebelum di uji coba.
Tabel 2. Blue Print Skala Dukungan Sosial Sebelum Uji Coba
Aspek Nomor Aitem Jumlah Persentase Favourable Unfavourable Dukungan emosional 1,3,5,7,9, 11,13,15, 17,19,21,23, 25,27,29 15 25% Dukungan instrumental 31,33,35,37, 39,41,43,45, 47,49,51,53, 55,57,59 15 25% Dukungan informatif 2,4,6,8, 10,12,14,16, 18,20,22,24, 26,28,30 15 25% Dukungan persahabatan 32,34,36,38, 40,42,44,46, 48,50,52,54, 56,58,60 15 25% Jumlah 32 28 60 100%
Skala Dukungan sosial ini menggunakan model skala Likert yaitu dengan menyediakan 4 (empat) pilihan respon yaitu SS (Sangat Sesuai), S (Sesuai), TS (Tidak Sesuai), STS (Sangat Tidak Sesuai). Aitem dalam skala ini terbagi dalam dua arah, yaitu favorable dan unfavorable, setiap pilihan alternatif respon memiliki skor masing-masing tergantung dari jenis aitem, apakah favorable atau unfavorable. Untuk aitem favorabel, SS diberi skor 4, S diberi skor 3, TS diberi skor 2, dan STS diberi skor 1. Sedangkan skor untuk aitem yang unfavorable diberi skor 4 untuk jawaban STS, skor 3 untuk jawaban TS, skor 2 untuk jawaban S, dan skor 1 untuk jawaban SS (Azwar, 2000). Semakin tinggi skor yang diperoleh subjek maka semakin tinggi tingkat dukungan sosial yang dimiliki oleh subjek, begitu juga sebaliknya semakin rendah skor yang diperoleh subjek maka semakin rendah dukungan sosial yang dimiliki oleh subjek.
E. VALIDITAS, UJI DAYA BEDA, DAN RELIABILITAS ALAT UKUR 1. Validitas Alat Ukur
Validitas alat ukur adalah sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsinya. Suatu tes atau instrumen pengukuran dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan tujuan pengukuran (Azwar, 2004). Validitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah validitas isi (content validity). Validitas ini menunjukkan sejauh mana aitem-aitem dalam skala telah komprehensif mencakup semua aspek dalam penelitian dan tingkat relevansinya. Validitas isi dalam penelitian ini diestimasi lewat pengujian
terhadap isi tes dengan analisis rasional (kesesuaian dengan blue print yang telah disusun oleh peneliti) dan diperkuat lewat professional judgement (Azwar, 2000).
Setelah skala depresi dan dukungan sosial diuji coba pada sejumlah sampel, maka peneliti akan melakukan uji daya beda aitem untuk mendapatkan aitem-aitem yang memenuhi persyaratan. Uji daya beda aitem adalah sejauh mana aitem mampu membedakan antara individu atau kelompok individu yang memiliki dan tidak memiliki atribut yang diukur. Prinsip kerja yang dijadikan dasar untuk melakukan seleksi aitem dalam hal ini adalah memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya selaras atau sesuai dengan fungsi ukur tes sebagaimana yang dikehendaki oleh penyusunnya (Azwar, 2000)
Untuk menguji daya beda dari aitem-aitem dalam skala depresi dan dukungan sosial, peneliti menggunakan formula koefesien korelasi Pearson Product Moment. Prosedur pengujian ini menghasilkan koefesien korelasi aitem total yang dikenal dengan indeks daya beda aitem (Azwar, 2000). Berdasarkan pengolahan data yang dilakukan dengan SPSS versi 16.0 for Windows akan diperoleh item-item yang memenuhi persyaratan. Menurut Azwar, (1991) semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal rix ≥ 0.300, daya pembedanya
dianggap memuaskan. Semakin tinggi harga kritik, maka aitem tersebut semakin baik.
Validitas isi memiliki dua tipe yaitu validitas muka dan validitas isi. a. Validitas Muka
Validitas muka adalah tipe validitas yang paling rendah signifikansinya karena hanya didasarkan pada penilaian terhadap format penampilan tes.
Apabila penampilan tes telah meyakinkan dan memberikan kesan mampu mengungkap apa yang hendak diukur maka dapat dikatakan bahwa validitas muka telah terpenuhi. Tes yang memiliki validitas muka yang tinggi akan memancing motivasi individu yang dites untuk menghadapi tes tersebut dengan sungguh-sungguh (Azwar, 2000).
b. Validitas Isi
Validitas isi disebut juga validitas sampling. Validitas tipe ini menunjuk pada sejauhmana isi tes merupakan representasi dari ciri-ciri atribut yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas isi yang tinggi, suatu tes harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi aitem yang relevan dan perlu menjadi bagian tes secara keseluruhan. Suatu objek ukur yang yang hendak diungkap oleh tes haruslah dibatasi lebih dahulu kawasan perilakunya secara seksama dan konkret. Batas-batas perilaku yang kurang jelas akan menyebabkan terikutnya aitem-aitem yang tidak relevan dan tertinggalnya bagian penting dari tes yang bersangkutan (Azwar,2000).
Penilaian validitas isi tergantung pada penilaian subjektif individual. Hal ini dikarenakan estimasi validitas isi tidak melibatkan perhitungan statistik apapun melainkan dengan analisis rasional dan melalui professional judgement (Azwar, 2004). Dalam penelitian ini, peneliti meminta professional judgement yaitu dosen pembimbing peneliti.
2. Uji Daya Beda
Sebelum melakukan pengujian reliabilitas, hendaknya terlebih dahulu melakukan prosedur seleksi aitem dengan cara menguji karakteristik
masing-masing aitem yang menjadi bagian tes yang bersangkutan. Aitem-aitem yang tidak memenuhi syarat kualitas yang baik tidak boleh diikutkan menjadi bagian tes (Azwar, 2000). Prinsip kerja yang dijadikan dasar untuk melakukan seleksi aitem dalam hal ini adalah memilih aitem-aitem yang fungsi ukurnya selaras atau sesuai dengan fungsi ukur skala sebagaimana dikehendaki oleh penyusunnya (Azwar, 2005).
Pengujian daya beda aitem menghendaki dilakukannya komputasi korelasi antara distribusi skor aitem dengan suatu kriteria yang relevan, yaitu distribusi skor skala itu sendiri. Komputasi ini akan menghasilkan koefisien korelasi aitem total (rit) yang dikenal dengan sebutan parameter daya beda aitem. Kriteria
pemilihan aitem berdasarkan korelasi aitem menggunakan batasan rit ≥ 0,30.
Semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0,30, daya pembedanya dianggap memuaskan. Aitem yang memiliki harga rit kurang dari 0,30 dapat
diinterpretasikan sebagai aitem yang memiliki daya beda rendah (Azwar, 2005). Pernyataan-pernyataan pada skala diuji daya beda aitemnya dengan menghitung antara skor aitem dengan skor total skala. Teknik statistika yang digunakan adalah koefisiensi Product Moment oleh Pearson. Formulasi koefisien korelasi Product Moment dari Pearson digunakan bagi tes-tes yang setiap aitemnya diberi skor kontinyu. Semakin tinggi koefisien korelasi positif antara skor aitem dengan skor skala berarti semakin tinggi konsistensi antara aitem tersebut dengan skala secara keseluruhan yang berarti semakin tinggi daya bedanya. Bila koefisien korelasi rendah mendekati angka nol berarti fungsi aitem tersebut tidak cocok dengan fungsi ukur skala dan daya bedanya tidak baik
(Azwar, 2005). Pengujian daya beda aitem ini dilakukan dengan menggunakan program komputer SPSS 16.0
3. Uji Reliabilitas
Menurut Azwar (2004) reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama, selama aspek yang diukur dalam diri subjek memang belum berubah. Pengukuran yang tidak reliabel akan menghasilkan skor yang tidak dapat dipercaya karena perbedan skor yang terjadi diantara individu lebih ditentukan oleh faktor erorr (kesalahan) daripada faktor perbedaan yang sesungguhnya. Reliabilitas alat ukur dapat dilihat dari koefisien reliabilitas yang merupakan indikator konsistensi aitem-aitem tes dalam menjalankan fungsi ukurnya bersama-sama (Azwar, 2007).
Uji reliabilitas skala penelitian ini menggunakan pendekatan konsistensi internal, dimana tes dikenakan sekali saja pada sekelompok subjek. Reliabilitas dinyatakan oleh koefisien realibilitas (rxx`) yang angkanya berada dalam rentang 0
sampai dengan 1. Koefisien reliabilitas yang semakin mendekati angka satu menandakan semakin tinggi reliabilitas. Sebaliknya, koefisien yang semakin mendekati angka 0 berarti semakin rendah reliabilitas yang dimiliki (Azwar, 2007). Teknik estimasi reliabilitas yang digunakan adalah teknik koefisien alpha Cronbach dengan menggunakan program SPSS Versi 16.0. for Windows.
F. HASIL UJI COBA ALAT UKUR
Uji coba skala depresi dan skala dukungan sosial dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2011 di SMP Negeri 10 Padang Bulan. Peneliti menyebarkan 211 skala dan diperoleh 208 skala yang dapat dianalisis, sedangkan 3 skala lainnya tidak dianalisis karena subjek tidak termasuk remaja awal. Peneliti melakukan analisis uji coba dengan menggunakan aplikasi komputer SPSS versi 16 untuk melihat daya diskriminasi aitem. Menurut Hadi (2000), semua aitem yang mencapai koefisien korelasi minimal 0.275, daya pembedanya dianggap memuaskan. Semakin tinggi harga kritik, maka aitem tersebut semakin baik. Dalam penelitian ini, koefisien korelasi yang digunakan adalah 0,3.
1. Skala Depresi
Hasil uji coba Skala Depresi menghasilkan 17 aitem yang diterima dari 25 aitem yang diuji cobakan. Tujuh belas aitem sahih yang akan digunakan dalam penelitian, memiliki koefisien korelasi yang berkisar antara rxx = 0.307 sampai
dengan rxx = 0,508 (N= 208) dan reliabilitas sebesar 0.815.
Tabel 3. Distribusi Aitem Skala Depresi Setelah Uji Coba
No. Dimensi Nomor Aitem Jumlah Persentase
1. Depressed affect 3,6,9,10,14,17,18 7 41,18%
2. Somatic simtom 5,11,20 3 17,65%
3. Positif affect 8,12,16 3 17,65%
4. Interpersonal relation 15, 19,23,24 4 23,53%
Jumlah 17 100%
Aitem-aitem yang sahih ini kemudian disusun kembali dengan melakukan penomoran ulang untuk dijadikan alat pengumpulan data penelitian yang sebenarnya. Penomoran kembali ini, dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 4. Penomoran Kembali Skala Depresi Setelah Uji Coba
No. Dimensi No.Aitem Lama No. Aitem Baru Jumlah Persentase 1. Depressed affect 3,6,9,10,14,17,18 1,3,4,5,8,11,12 7 41,18% 2. Somatic simtom 5,11,20 2,6,14 3 17,65% 3. Positif affect 12,16 7,10 2 11,76% 4. Interpersonal relation 15, 19,23,24,25 9,13,14, 15,16,17 5 29,41% Jumlah 17 100%
2. Skala Dukungan Sosial
Hasil uji coba skala Dukungan Sosial menghasilkan 45 aitem yang diterima dari 60 aitem yang diuji cobakan. Empat puluh tujuh aitem sahih yang akan digunakan dalam penelitian, memiliki koefisien korelasi yang berkisar antara rxx = 0.307 sampai dengan rxx = 0,508 (N= 208) dan reliabilitas sebesar 0.921.
Tabel 5. Distribusi Aitem Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba
Aspek Nomor Aitem Jumlah Persentase Favourable Unfavourable Dukungan emosional 1,3,9,11,17,18 5,7,13,27,29 11 24,44% Dukungan instrumental 33,35,37,51,53 39,41,45,55,57,59 11 24,44% Dukungan informatif 2,8,10,12,14,16 18,20,22,26,30 11 24,44% Dukungan persahabatan 32,34,36,42,44,52,54 38,46,48,50,58 12 26,68% Jumlah 24 21 45 100%
Aitem-aitem yang sahih ini kemudian disusun kembali dengan melakukan penomoran ulang untuk dijadikan alat pengumpulan data penelitian yang sebenarnya. Penomoran kembali ini, dapat dilihat dari tabel berikut :
Tabel 6. Penomoran Kembali Skala Dukungan Sosial Setelah Uji Coba
Aspek Nomor Aitem Jumlah Persentase Favourable Unfavourable Dukungan emosional 1,3,7,9,17,18 4,5,11,20,21 11 24,44% Dukungan instrumental 24,26,28,38,40, 30,31,34,42,43,45 11 24,44% Dukungan informatif 2,6,8,10,12,13 14,15,16,19,22 11 24,44% Dukungan persahabatan 23,25,27,32, 33,39,41 29,35,36,37,44 12 26,68% Jumlah 24 21 45 100%
G. PROSEDUR PELAKSANAAN PENELITIAN 1. Tahap Persiapan Penelitian
Dalam rangka pelaksanaan penelitian ini ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh peneliti, antara lain :
a. Mengumpulkan konsep teori mengenai dukungan sosial, depresi, dan bullying. Pada tahap ini peneliti berusaha mengumpulkan dan mempelajari informasi serta konsep teori yang berkenaan dengan dukungan sosial dan depresi pada korban bullying.
b. Perizinan
Setelah mendapatkan informasi tentang sekolah yang akan diteliti, peneliti kemudian mengurus perizinan untuk melakukan penelitian. Proses perizinan dimulai dari Fakultas Psikologi Universitas Sumatera Utara mengajukan surat permohonan izin melakukan pengambilan data uji coba di SMP Negeri 10 Padang Bulan. Peneliti kemudian mencari informasi dari Dinas Pendidikan mengenai daftar sekolah-sekolah menengah pertama yang ada di Kecamatan Petisah.
Kemudian peneliti memilih dua SMP dan mengurus izin pengambilan data penelitian di SMP Amir Hamzah dan SMP Kartika I-1 Medan.
c. Rancangan alat dan instrumen penelitian
Pada tahap ini dirancang tiga skala yang akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu: Skala Bullying, Skala Depresi, dan Skala Dukungan Sosial yang dibuat dalam bentuk booklet ukuran kertas A4.
Skala Bullying terdiri dari 2 pertanyaaan.
Skala Depresi CES-D terdiri dari 25 pertanyaan dan memiliki 4 alternatif jawaban.
Skala Dukungan Sosial terdiri dari 60 pernyataan dan setiap pernyataan memiliki 4 alternatif jawaban.
d. Uji Coba Alat Ukur
Sebelum menjadi alat ukur yang sebenarnya, skala diuji validitasnya berdasarkan professional judgement kemudian skala tersebut diuji cobakan kepada sampel yang memiliki karakteristik yang sama dengan subjek penelitian. Uji coba dilaksanakan pada tanggal 4 Juni 2011 di SMP Negeri 10 Padang Bulan.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Setelah skala penelitian lulus dalam uji validitas dan reliabilitas, maka aitem dalam skala tersebut disusun kembali. Selanjutnya, aitem-aitem yang lulus penyaringan dijadikan alat pengumpulan data pada sampel yang sesungguhnya.
Pelaksanaan penelitian diadakan dengan menyebarkan skala pada remaja awal. Para remaja awal diberikan Skala Bullying, Skala Depresi, dan Skala Dukungan Sosial. Skala disebarkan kepada siswa siswi SMP Amir Hamzah
Medan pada tanggal 25 dan 26 Juli 2011 dan kepada siswa siswi SMP Kartika I-1 Medan pada tanggal 9 Agustus 2011.
Dari 175 skala yang disebar dapat diketahui 73 orang merupakan korban bullying, namun 8 orang diantaranya berusia 11 tahun sehingga datanya tidak dapat dipakai sebagai data subjek penelitian. Maka diperoleh 65 orang subjek penelitian yang merupakan remaja awal korban bullying.
3. Tahap Pengolahan Data
Pengolahan data penelitian ini seluruhnya menggunakan bantuan program komputer SPSS 16.0
4. Etika Penelitan
Dalam penelitian ini, yang menjadi subjek penelitian adalah remaja awal yang menjadi korban bullying. Ketika mengisi skala mengenai bullying, maka subjek akan mengingat kejadian bullying yang tidak menyenangkan yang pernah dialaminya. Untuk menjaga agar subjek kembali merasa nyaman setelah diminta mengisi skala yang mengingatkannya tentang pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut, maka peneliti perlu mengembalikan keadaan subjek pada keadaan semula yaitu dengan melakukan debriefing setelah peneliti mendapatkan data dari subjek. Debriefing yang dimaksud dalam penelitian ini adalah pemberian penjelasan yang bertujuan untuk memberikan edukasi kepada partisipan mengenai penelitian, khususnya mengenai bullying dan agar partisipan memiliki perasaan positif tentang partisipasinya. Dalam penelitian ini, debriefing dilakukan oleh peneliti yang bukan merupakan psikolog sehingga debriefing yang dilaksanakan
bukanlah debriefing yang sesuai dengan standar APA (American Psychological Association).
Pada saat debriefing, peneliti melakukan psikoedukasi, yaitu dengan memberikan penjelasan kepada para siswa. Penjelasan yang dimaksud disini adalah agar siswa mengetahui apa yang dimaksud dengan bullying, bentuk-bentuk bullying dan dapat mencegah terjadinya perilaku tersebut pada dirinya pada masa yang akan datang. Bagi kasus-kasus yang butuh penanganan khusus, peneliti menyarankan siswa untuk melapor kepada pihak sekolah atau tenaga konseling yang ada di sekolah.
H. METODE ANALISIS DATA
Teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian adalah dengan menggunakan teknik analisis regresi yang bertujuan melihat dan menjelaskan kedekatan hubungan antar variabel, yakni dengan mencari koefisien korelasi r dan koefisien diterminasi r kuadrat. Seluruh data penelitian dianalisis dengan bantuan program SPSS versi 16.0 for windows. Namun sebelum menguji hipotesis dengan menggunakan statistika parametrik, maka dilakukan uji normalitas dan uji linieritas (Hadi, 2000).
1. Uji Normalitas
Uji normalitas sebaran dimaksudkan untuk menguji apakah data yang dianalisis sudah terdistribusi sesuai dengan prinsip–prinsip distribusi normal agar dapat digeneralisasikan terhadap populasi. Uji normalitas sebaran pada penelitian ini dilakukan untuk membuktikan bahwa data semua variabel yang berupa skor – skor yang diperoleh dari hasil penelitian tersebar sesuai dengan kaidah normal.
Pada penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov dengan bantuan program komputer SPSS 16.0. Kolmogorov-Smirnov adalah suatu uji yang memperhatikan tingkat kesesuaian antara distribusi serangkaian harga sampel (skor yang diobservasi) dengan suatu distribusi teoritis tertentu. Kaidah normal yang digunakan adalah jika p ≥ 0,05 maka sebarannya dinyatakan normal dan sebaliknya jika p < 0,05 maka sebarannya dinyatakan tidak normal (Hadi, 2000).
2. Uji Linearitas
Uji linieritas hubungan untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung serta untuk mengetahui signifikansi penyimpangan dari linieritas hubungan tersebut. Apabila penyimpangan tersebut tidak signifikan maka hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan linier. Uji linieritas dilakukan dengan menggunakan analisis statistik uji F dengan bantuan program komputer SPSS 16.0. Kaidah yang digunakan untuk mengetahui linier atau tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung adalah jika p < 0,05 maka hubungannya antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan linier, sebaliknya jika p > 0,05 berarti hubungan antara variabel bebas dengan variabel tergantung dinyatakan tidak linier (Hadi, 2000). Apabila uji asumsi terpenuhi, maka dilanjutkan dengan uji hipotesis.
BAB IV
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Pada bab ini akan diuraikan analisis data dan pembahasan, yang diawali dengan memberikan gambaran umum subjek penelitian, hasil penelitian dan pembahasan.
A. GAMBARAN UMUM SUBJEK PENELITIAN
Populasi penelitian ini adalah remaja awal korban bullying yang bersekolah di Kecamatan Medan Petisah. Subjek penelitian adalah siswa siswi SMP Amir Hamzah Medan dan SMP Kartika I-1 Medan yang berjumlah 65 orang yang memenuhi karakteristik populasi penelitian.
Dari 65 orang yang terpilih, diperoleh gambaran subjek berdasarkan jenis kelamin, usia, dan frekuensi mengalami bullying.
1. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Jenis Kelamin
Berdasarkan jenis kelamin subjek penelitian maka diperoleh gambaran penyebaran subjek penelitian seperti yang tertera pada tabel 7.
Tabel 7. Gambaran subjek penelitian berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin Jumlah (N) Persentase (%)
L 36 55,38
P 29 44,62
Total 65 100
Berdasarkan data pada tabel 7, diketahui bahwa jumlah subjek berjenis kelamin laki-laki sebanyak 36 orang (55,38%) dan jumlah subjek berjenis kelamin perempuan sebanyak 29 (44,62%).
2. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Usia
Berdasarkan usia subjek penelitian maka diperoleh gambaran penyebaran subjek penelitian seperti yang tertera pada tabel 8.
Tabel 8. Gambaran subjek penelitian berdasarkan usia
Usia Jumlah (N) Persentase (%)
12 tahun 22 33,85 13 tahun 16 24,62 14 tahun 24 36,92 15 tahun 3 4,61 Total 65 100
Berdasarkan data pada tabel 8, diketahui bahwa jumlah subjek berusia 12 tahun sebanyak 22 orang (33,85%), jumlah subjek berusia 13 tahun sebanyak 16 (24,62%), jumlah subjek berusia 14 tahun sebanyak 24 (36,92%), dan jumlah subjek berusia 15 tahun sebanyak 3 (4,61%).
3. Gambaran Subjek Penelitian Berdasarkan Frekuensi Mengalami
Bullying
Berdasarkan frekuensi subjek penelitian mengalami bullying maka diperoleh gambaran sebagai berikut yang tertera pada tabel 9.
Tabel 9.Gambaran subjek penelitian berdasarkan frekuensi mengalami bullying
Frekuensi mengalami Bullying Jumlah (N) Persentase (%)
Dua sampai tiga kali dalam sebulan 13 20
Kira-kira sekali seminggu 21 32,31
Beberapa kali dalam seminggu 31 47,69
Total 65 100
Frekuensi mengalami bullying yang diperoleh dari skala bullying secara berturut adalah: tidak pernah menjadi korban bullying, hanya terjadi satu sampai dua kali dalam beberapa bulan terakhir, dua sampai tiga kali dalam sebulan,
kira-kira sekali seminggu, dan beberapa kali dalam seminggu. Remaja dikatakan sebagai korban bullying jika frekuensi mengalami bullying minimal dua sampai tiga kali dalam sebulan.
Berdasarkan data pada tabel 9, diketahui bahwa subjek paling banyak mengalami bullying dalam frekuensi yang paling sering, yaitu beberapa kali dalam seminggu dengan presentase 47,69 % atau sebanyak 31 orang. Remaja awal yang mengalami bullying dengan frekuensi kira-kira sekali seminggu sebanyak 21 orang (32,31%) dan remaja awal yang mengalami bullying dengan frekuensi dua sampai tiga kali dalam sebulan sebanyak 13 orang (20%). Hal ini menunjukkan bahwa gambaran perilaku bullying berdasarkan frekuensi mengalami bullying pada subjek penelitian berada pada tingkat tinggi atau pada frekuensi yang paling sering.
B. HASIL PENELITIAN
Berikut ini akan dipaparkan hasil uji asumsi yang meliputi uji normalitas dan uji linieritas, hasil utama penelitian, dan kategorisasi data penelitian, hasil pengolahan data hubungan antara dukungan sosial dengan depresi, dan deskripsi hasil penelitian.
1. Uji Asumsi a. Uji Normalitas
1) Uji normalitas skala dukungan sosial dilakukan dengan metode statistik tes Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas diperoleh nilai Z = 0,636 dan p = 0,813 maka p > 0,05 artinya distribusi data skala dukungan sosial telah menyebar secara normal.
2) Uji normalitas skala depresi dilakukan dengan metode statistik tes Kolmogorov-Smirnov. Hasil uji normalitas diperoleh nilai Z = 0,517 dan p = 0,952 maka p > 0,05 artinya distribusi data skala depresi telah menyebar secara normal. Untuk lebih jelas dapat dilihat pada tabel 10, gambar 1, dan gambar 2 di bawah ini:
Tabel 10. Hasil Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Dukungan_Sosial Depresi
N 65 65
Normal Parametersa Mean 136.68 14.97
Std. Deviation 13.307 5.839 Most Extreme Differences Absolute .079 .064 Positive .058 .064 Negative -.079 -.062 Kolmogorov-Smirnov Z .636 .517
Asymp. Sig. (2-tailed) .813 .952
a. Test distribution is Normal.
Gambar 2. Gambaran Normalitas Skala Depresi
b. Uji Linieritas
Berdasarkan hasil uji linearitas antara dukungan sosial dengan depresi yaitu menggunakan uji F diperoleh F = 6,167 dan p < 0.05 (p = 0.020), maka dapat disimpulkan bahwa variabel dukungan sosial memiliki hubungan yang linear dengan variabel depresi. Hubungan linearitas antara dukungan sosial dengan depresi dapat dilihat pada tabel 11.
Tabel 11. Hasil Uji Linearitas ANOVA (b)
Model
Sum of
Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 182.131 1 182.131 5.738 .020a
Residual 1999.807 63 31.743
Total 2181.938 64
a. Predictors: (Constant), Dukungan_Sosial b. Dependent Variable: Depresi
Hubungan linier di atas dapat pula dilihat pola penyebaran skor skalanya dengan menggunakan teknik interactive graph, yang menghasilkan diagram pencar (scatter plot), seperti terlihat pada gambar 3 berikut:
Gambar 3. Grafik Linearitas antara Dukungan Sosial dengan Depresi
2. Hasil Utama Penelitian
Berikut ini akan dijelaskan pengolahan data mengenai pengaruh variabel dukungan sosial dengan depresi remaja awal yang diperoleh dengan menghitung koefisien korelasi. Metode yang digunakan untuk mengkorelasikan data adalah uji analisis regresi dengan bantuan program komputer SPSS 16.0. Apabila suatu korelasi memiliki nilai probabilitas kurang dari 0,05 atau p < 0,05 maka hubungan korelasi tersebut adalah signifikan (Budi, 2006)
Berdasarkan hasil pengolahan data diperoleh koefisien korelasi (R) sebesar 0,289 dengan taraf signifikansi (p) sebesar 0,020 sehingga p < 0.05. Hasil ini
menunjukkan adanya pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying pada taraf kepercayaan 95%. Dengan demikian, maka hipotesis nol Ho ditolak sehingga hipotesis penelitian ini yang menyatakan bahwa ada pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying diterima.
Tabel 12. Hasil Model Summary pada Analisis Regresi
Dari hasil analisis regresi pada tabel 12, koefisien determinan (R-square) yang diperoleh dari pengaruh dukungan sosial terhadap depresi adalah sebesar 0,083 (R-square / r2= 0,083). Hasil ini menunjukkan bahwa pengaruh dukungan
sosial terhadap depresi adalah sebesar 8,3%. Artinya, dukungan sosial memberikan sumbangan efektif sebesar 8,3% untuk mengurangi depresi, sedangkan sisanya yang sebesar 91,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Persamaan garis regresi dapat dilihat pada tabel 13 berikut.
Tabel 13. Hasil Coefficients pada Analisis Regresi Coefficients(a) Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 32.297 7.267 4.444 .000 Dukungan_Sosial -.127 .053 -.289 -2.395 .020 a. Dependent Variable: Depresi
Garis persamaan regresi yang dihasilkan, yaitu Depresi = 32,297 – 0,127* Dukungan Sosial. Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai konstanta b = 32,297, nilai
Model Summary Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate 1 .289a .083 .069 5.634
a. Predictors: (Constant), Dukungan_Sosial b. Dependent Variable: Depresi
ini dapat diinterpretasikan maknanya bahwa ketika tidak ada dukungan sosial yang diterima individu (X = 0), maka model regresi akan memprediksi bahwa nilai depresi sama dengan nilai konstanta. Dari tabel juga dapat dilihat bahwa nilai b1 = - 0,127. Nilai ini menunjukkan arah garis regresi. Hal ini menggambarkan perubahan hasil berhubungan dengan berubahnya satu satuan perubahan variabel prediktor. Jika variabel prediktor, yang dalam penelitian ini adalah variabel dukungan sosial, meningkat satu satuan, maka kemudian model regresi akan memprediksi bahwa terjadi penurunan depresi sebesar 0,127. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika dukungan sosial yang diterima individu semakin besar, maka depresi akan semakin menurun.
3. Hasil Tambahan
a. Kategorisasi Data Penelitian
Berdasarkan deskripsi data penelitian, dapat dilakukan pengelompokkan yang mengacu pada kriteria pengkategorisasian yang didasarkan pada asumsi bahwa skor subjek penelitian terdistribusi secara normal (Azwar, 2000) Kriterianya terbagi atas tiga kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. Pada tabel 14 akan mendeskripsikan data pengkategorisasian kedua variabel penelitian yaitu variabel dukungan sosial dan depresi.
Tabel 14. Deskripsi Variabel Dukungan Sosial dan Depresi
Variabel Skor Empirik Skor Hipotetik
Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD Dukungan
Sosial
101 168 136,68 13,307 45 180 112,5 22,5 Depresi 4 29 14,97 5,839 0 51 25,5 8,5
Berdasarkan tabel 14 diperoleh skor empirik dan skor hipotetik. Skor empirik merupakan skor yang didapat di lapangan. Mean empirik pada variabel
dukungan sosial sebesar 136,68 dengan standar deviasi empirik sebesar 13,307. Mean empirik variabel depresi didapat sebesar 14,97 dengan standar deviasi empirik sebesar 5,839. Sedangkan skor hipotetik merupakan skor yang diharapkan dapat dicapai oleh sampel penelitian. Hasil mean hipotetik untuk variabel dukungan sosial didapat sebesar 112,5 dengan standar deviasi sebesar 22,5. Mean hipotetik untuk variabel depresi didapat sebesar 25,5 dengan standar deviasi sebesar 8,5. Setelah perhitungan skor empirik dan hipotetik, maka hasil tersebut dimasukkan kedalam rumus kriteria jenjang pengkategorian dalam tabel 15.
Tabel 15. Kriteria jenjang kategorisasi variabel dukungan sosial dan depresi Variabe l Jenjang kategorisasi Empirik Hipotetik Rentang Nilai Frk % Kategori Rentang Nilai Fr k % Kategori Dukungan Sosial x < (-1.0) x < 123 11 16,9 2 Rendah x < 90 0 0 Rendah (-1.0) x (+1.0 ) 123 x 150 46 70,7 7 Sedang 90 x 135 28 43,0 8 Sedang (+1.0 )< x 150< x 8 12,3 1 Tinggi 135< x 37 56,9 2 Tinggi Depresi x < (-1.0) x < 9 8 12,3 1 Rendah x < 17 43 66,1 5 Rendah (-1.0) x (+1.0 ) 9 x 21 49 75,3 8 Sedang 17 x 34 22 33,8 5 Sedang (+1.0 )<x 21 < x 8 12,3 1 Tinggi 34 < x 0 0 Tinggi b. Frk = Frekuensi
Berdasarkan tabel 15. data empirik diketahui subjek penelitian pada variabel dukungan sosial yang tergolong kedalam kategori tinggi sebanyak 8 orang (12,31%), kategori sedang sebanyak 49 orang (75,38%), kategori rendah
sebanyak 8 orang (12,31%). Data hipotetik diketahui subjek penelitian pada variabel dukungan sosial yang tergolong kedalam kategori tinggi sebanyak 37 orang (56,92%), kategori sedang sebanyak 28 orang (43,08%), dan tidak ada siswa yang termasuk kategori rendah (0%).
Perbandingan mean empirik dengan mean hipotetik variabel dukungan sosial menunjukkan mean empirik lebih besar dibandingkan dengan mean hipotetik ( X > Y), maka dapat dikatakan bahwa dukungan sosial subjek penelitian lebih tinggi daripada rata-rata remaja pada polulasi umumnya. Kategorisasi subjek penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian termasuk kategori yang mendapatkan dukungan sosial sedang, yaitu sebesar 75,38%. Artinya, dukungan sosial yang diterima remaja tidak tinggi dan juga tidak rendah. Selebihnya, 12,31% mendapatkan dukungan sosial yang tinggi dan 12,31% mendapatkan dukungan sosial yang rendah.
Data empirik subjek penelitian pada variabel depresi yang tergolong kedalam kategori tinggi sebanyak 11 orang (16,92%), kategori sedang sebanyak 46 orang (70,77%), kategori rendah sebanyak 8 orang (12,31%). Data hipotetik subjek penelitian pada variabel depresi tidak ada yang yang tergolong kedalam kategori tinggi (0%), kategori sedang sebanyak 22 orang (33,85%), kategori rendah sebanyak 43 orang (66,15%).
Perbandingan mean empirik dengan mean hipotetik variabel depresi menunjukkan mean empirik lebih besar dibandingkan dengan mean hipotetik ( X > Y), maka dapat dikatakan bahwa depresi subjek penelitian lebih tinggi daripada rata-rata remaja pada polulasi umumnya. Kategorisasi subjek penelitian
menunjukkan bahwa sebagian besar subjek penelitian termasuk kategori yang mengalami depresi sedang, yaitu sebesar 63,08%. Artinya, gejala depresi yang dialami remaja tidak tinggi dan juga tidak rendah. Selebihnya, 26,15% mengalami depresi yang tinggi dan 7% mengalami depresi yang rendah. Untuk melihat penyebaran variabel dalam bentuk matriks kategori dapat ditunjukkan pada tabel 16 berikut:
Tabel 16. Matriks Hubungan Antar Variabel Dalam Bentuk Kategori Dukungan Sosial
Rendah Sedang Tinggi
Depresi Rendah 2 3,08% 5 7,69% 1 1,54% Sedang 6 9,23% 36 55,38% 7 10,77% Tinggi 3 4,62% 5 7,69% 0 0% Jumlah 11 16,93% 46 70,76% 8 12,31% 65 (100%)
Dari matriks di atas dapat dilihat bahwa hubungan variabel dukungan sosial yang tinggi dengan depresi rendah memiliki persentase 1,54 % (1 orang). Variabel dukungan sosial tinggi dengan depresi sedang memiliki persentase 10,77% (7 orang), dan tidak ada yang memiliki dukungan sosial tinggi dan depresi tinggi.
Hubungan variabel dukungan sosial sedang dengan depresi rendah memiliki persentase 7,69 % (5 orang). Hubungan variabel dengan persentase paling besar adalah variabel dukungan sosial sedang dengan depresi sedang yaitu 55,38 % (36 orang). Dan variabel dukungan sosial sedang dengan depresi tinggi memiliki persentase 7,69 % (5 orang).
Hubungan variabel dukungan sosial yang rendah dengan depresi rendah memiliki persentase 3,08 % (2 orang). Hubungan variabel dukungan sosial yang
rendah dengan depresi yang sedang memiliki persentase 9,23 % (6 orang). Hubungan variabel dukungan sosial yang rendah dengan depresi yang tinggi memiliki persentase 4,62 % (3 orang).
b. Deskripsi Data Penelitian Berdasarkan Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial
Pada tabel 17 dideskripsikan data pengkategorisasian variabel dukungan sosial berdasarkan bentuk-bentuk dukungan sosial dan depresi.
Tabel 17. Deskripsi Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial dan Depresi
Variabel Skor Empirik Skor Hipotetik
Min Maks Mean SD Min Maks Mean SD Dukungan Emosional 25 42 33.11 3.918 11 44 27,5 5,5 Dukungan Instrumental 24 41 33.48 3.953 11 44 27,5 5,5 Dukungan Informatif 25 41 33.60 3.815 11 44 27,5 5,5 Dukungan Persahabatan 24 45 36.49 4.434 12 48 30 6 Depresi 4 29 14.97 5,839 0 51 25,5 8,5 Berdasarkan tabel 17 diketahui skor empirik dan skor hipotetik dari bentuk-bentuk dukungan sosial. Mean empirik bentuk-bentuk dukungan sosial: Dukungan emosional sebesar 33,11 dengan standar deviasi sebesar 3,918. Dukungan instrumental sebesar 33,48 dengan standar deviasi sebesar 3,953. Dukungan informatif sebesar 33,60 dengan standar deviasi sebesar 3,815. Dukungan Persahabatan sebesar 36,49 dengan standar deviasi 4,434.
Mean empirik variabel depresi didapat sebesar 14,97 dengan standar deviasi empirik sebesar 5,839. Hasil mean hipotetik untuk bentuk-bentuk dukungan sosial: Dukungan emosional sebesar 27,5 dengan standar deviasi sebesar 5,5. Dukungan instrumental sebesar 27,5 dengan standar deviasi sebesar
5,5. Dukungan informatif sebesar 27,5 dengan standar deviasi sebesar 5,5. Dukungan persahabatan sebesar 30 dengan standar deviasi 6. Mean hipotetik untuk variabel depresi didapat sebesar 25,5 dengan standar deviasi sebesar 8,5.
c. Analisis Regresi Pengaruh Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial Terhadap Depresi
Berikut ini akan dijelaskan pengolahan data mengenai pengaruh bentuk-bentuk dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying yang diperoleh dengan menghitung koefisien korelasi. Metode yang digunakan untuk mengkorelasikan data adalah uji analisis regresi linier berganda dengan bantuan program komputer SPSS 16.0. Berdasarkan hasil pengolahan data analisis regresi antara bentuk-bentuk dukungan sosial dengan depresi pada tabel 18 berikut:
Tabel 18. Hasil Analisis Regresi Bentuk-Bentuk Dukungan Sosial*Depresi
Korelasi Sig
Dukungan Emosional*Depresi -0,213 0,044 Dukungan Instrumental*Depresi -0,316 0,005 Dukungan Informatif*Depresi -0,190 0,065 Dukungan Persahabatan*Depresi -0,234 0,031
Dari tabel dapat dilihat bahwa koefisien korelasi (R) antara dukungan emosional dengan depresi adalah sebesar 0,213 dengan signifikansi 0,044. Korelasi antara dukungan instrumental dengan depresi sebesar 0,316 dengan signifikansi 0,005. Koefisien korelasi dukungan informatif dengan depresi sebesar 0,190 dengan signifikansi 0,065. Koefisien korelasi dukungan persahabatan dengan depresi sebesar 0,234 dengan signifikansi 0,031.Dari keempat bentuk-bentuk dukungan sosial tersebut dapat dilihat bahwa bentuk-bentuk dukungan yang
memiliki korelasi yang lebih tinggi dibandingkan bentuk yang lain adalah bentuk dukungan instrumental, yaitu sebesar 0,316.
Keempat bentuk dukungan sosial tersebut membentuk korelasi negatif terhadap depresi. Artinya terjadi hubungan tidak searah dimana semakin tinggi bentuk-bentuk dukungan sosial maka akan semakin menurun tingkat depresi. Sebaliknya, jika semakin rendah nilai dari bentuk-bentuk dukungan sosial, maka akan semakin tinggi tingkat depresi.
Dari hasil analisis regresi tersebut dapat juga dilihat taraf signifikansi pada korelasi antara variabel dukungan emosional dengan depresi, variabel dukungan instrumental dengan depresi, dan variabel dukungan persahabatan dengan depresi berada pada taraf signifikansi yang lebih kecil dari 0,05 (p < 0,05. Hasil tersebut menunjukkan bahwa jika angka signifikansi lebih kecil dari 0,05 maka terdapat hubungan yang signifikan antara kedua variabel tersebut. Sedangkan, korelasi antara variabel dukungan informatif dengan depresi memiliki taraf signifikansi p = 0,065. Hasil tersebut menunjukkan bahwa signifikansi lebih besar dari 0,05 (p > 0,05). Artinya, tidak terdapat pengaruh dukungan informatif terhadap depresi.
Tabel 19. Hasil Analisis Regresi Linier Berganda
R Sig. R Square Persamaan Regresi
0.323 0.151 0.105 Y = 32,121 – 0,050*X1 -0,401*X2 +0,038*X3 -0,092*X4
Ket: Y = Variabel tergantung = Depresi
X1= Variabel bebas 1 = Dukungan emosional X2 = Variabel bebas 2 = Dukungan Instrumental X3 = Variabel bebas 3 = Dukungan Informatif X4 = Variabel bebas 4 = Dukungan Persahabatan
Dari hasil analisis regresi pada tabel 19, koefisien determinan (R-square) yang diperoleh dari pengaruh bentuk-bentuk dukungan sosial terhadap depresi
adalah sebesar 0,105 (R-square / r2= 0,105). Hasil ini menunjukkan bahwa
pengaruh bnetuk-bentuk dukungan sosial terhadap depresi adalah sebesar 10,5%. Artinya, bentuk-bentuk dukungan sosial memberikan sumbangan efektif sebesar 10,5% untuk mengurangi depresi, sedangkan sisanya yang sebesar 89,5% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain. Persamaan garis multiregresi dapat dilihat pada tabel 20.
Tabel 20. Hasil Koefisien Regresi Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients T Sig. B Std. Error Beta 1 (Constant) 32.121 7.397 4.343 .000 Dukungan_Emosional -.050 .281 -.034 -.178 .859 Dukungan_Instrumental -.401 .249 -.272 -1.611 .112 Dukungan_Informatif .038 .274 .025 .139 .890 Dukungan_Persahabatan -.092 .212 -.070 -.432 .667 a. Dependent Variable: Depresi
Garis persamaan regresi yang dihasilkan, yaitu Y = 32,121 – 0,050*(Dukungan emosional) - 0,401*(Dukungan Instrumental) + 0,038*(Dukungan Informatif) - 0,092*(Dukungan Persahabatan). Dari tabel dapat dilihat bahwa nilai konstanta adalah b0 = 32,121. Dari model multiple regresi dapat dilihat beberapa b-values yaitu koefisien setiap variabel prediktor yang mengindikasikan kontribusi setiap variabel prediktor. Nilai b-values menunjukkan hubungan antara depresi dengan setiap prediktor. Jika koefisien bernilai positif berarti terdapat hubungan positif antara prediktor dan hasil, jika koefisien bernilai negatif maka menunjukkan hubungan negatif. Dari persamaan dapat dilihat bahwa nilai koefisien regresi dukungan emosional sebesar - 0,050, koefisien regresi dukungan instrumental
sebesar - 0,401, koefisien regresi dukungan informatif sebesar 0,038, koefisien korelasi regresi dukungan persahabatan sebesar -0,092. Dari keempat variabel prediktor yang menunjukkan hubungan yang negatif adalah dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan persahabatan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dari masing-masing variabel prediktor tersebut, maka nilai depersi akan semakin menurun. Sedangkan, variabel prediktor yang menunjukkan hubungan yang positif adalah dukungan informatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dukungan informatif, maka nilai depresi juga akan meningkat.
C. PEMBAHASAN
Hasil penelitian pada sampel remaja awal korban bullying yang bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Kecamatan Medan Petisah diperoleh nilai R = 0,289 dengan p= 0.020 (p<0,05) menunjukkan bahwa ada pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying. Dukungan sosial merupakan segala bentuk bantuan yang diberikan pada individu berupa kenyaman, perhatian, penghargaan, yang dirasakan individu dapat memberi efek positif bagi dirinya yang diperoleh melalui interaksi dengan individu atau kelompok lain. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa dukungan sosial memberi pengaruh terhadap penurunan tingkat depresi pada individu yang mengalami kejadian yang tidak menyenangkan dan yang dapat menyebabkan reaksi stres dari individu seperti bullying. Demikian sebaliknya menurunnya dukungan sosial memberi pengaruh pada peningkatan depresi. Hasil tersebut sesuai dengan teori interpersonal depresi yang menjelaskan bahwa berkurangnya dukungan sosial
dapat melemahkan kemampuan individu untuk mengatasi berbagai peristiwa hidup yang negatif dan membuatnya rentan terhadap depresi (Billings dkk dalam Davison, 2006).
Dari hasil penelitian diketahui pengaruh dukungan sosial memberi sumbangan efektif terhadap penurunan depresi hanya sebesar 8,3% pada remaja awal korban bullying. Hal ini dapat dijelaskan melalui adanya faktor-faktor lain yang juga turut mempengaruhi depresi pada korban bullying. Menurut Kerig dan Wenar (2006), terdapat multifaktor yang mempengaruhi depresi yang dapat dijelaskan dari konteks biologis, individual, keluarga, dan sosial. Dukungan sosial merupakan salah satu yang memperngaruhi depresi yang berasal dari faktor sosial yaitu faktor dari luar diri individu yang diterima melalui adanya hubungan interpersonal dengan orang atau kelompok lain. Dalam penelitian ini tidak diketahui seberapa besar peran dari masing-masing faktor lain tersebut.
Pengaruh dukungan sosial terhadap depresi juga dapat dilihat berdasarkan bentuk-bentuk dukungan sosial, yaitu dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informatif, dan dukungan persahabatan. Bentuk dukungan sosial yang diterima individu mungkin tidak sesuai dengan yang dibutuhkan sehingga perlu diperhatikan bentuk dukungan sosial yang tepat bagi individu dengan menyesuaikan dengan situasi yang sedang dihadapi individu. Dalam penelitian ini diketahui, dari keempat bentuk dukungan sosial, yang memiliki korelasi yang lebih besar dengan depresi adalah dukungan instrumental dengan korelasi 0,316 dan bentuk dukungan informatif tidak menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap depresi.
Dari hasil penelitian diketahui dukungan instrumental memiliki korelasi yang lebih besar dengan depresi dibandingkan bentuk dukungan sosial lainnya, yang berarti bahwa dukungan instrumental lebih tepat diberikan bagi remaja korban bullying. Hal ini sesuai dengan pernyataan Cutrona dan Russel (dalam Sarafino, 2006) yang telah membuat suatu pola untuk menyesuaikan bentuk dukungan sosial yang dibutuhkan. Cutrona dan Russel mengatakan bahwa dukungan instrumental akan sangat bermanfaat pada situasi penuh tekanan (stressful) yang dapat dikontrol (controllable), artinya individu dapat melakukan sesuatu agar kejadian tersebut tidak terjadi atau mencegah situasi yang lebih buruk. Bullying merupakan suatu situasi yang bisa menyebabkan perasaan tertekan bagi korban dan termasuk situasi yang dapat dikontrol, artinya dapat diatasi dan dicegah. Sehingga korban bullying akan lebih membutuhkan dukungan instrumental dari orang lain yang mencakup bantuan langsung yang diterima individu, baik berupa bantuan jasa maupun materi. Bantuan langsung dari orang lain, seperti memberi bantuan ketika individu mempunyai masalah dan dapat mengandalkan orang lain pada saat individu mengalami suatu masalah, misalnya individu merasa dibela sahabat ketika ada orang lain yang mengejek.
Sedangkan, bentuk dukungan sosial yang memiliki korelasi paling lemah adalah bentuk dukungan informatif. Dukungan informatif mencakup pemberian nasehat, petunjuk, saran, informasi. Pada skala dukungan sosial yang digunakan dalam penelitian ini, aitem-aitem yang menggambarkan dukungan informatif dari teman dan sahabat lebih banyak daripada yang bersumber dari keluarga. Sehingga hal tersebut merupakan salah satu alasan lemahnya hubungan antara dukungan
informatif dengan depresi. Hal ini juga dapat dijelaskan melalui salah satu kriteria dukungan sosial yang digunakan untuk mengukur tingkat dukungan sosial yaitu guidance. Guidance merupakan dukungan sosial berupa nasihat dan informasi dari sumber yang dapat dipercaya (dalam Nurmalasari, 2007). Guidance of assurance of support diberikan kepada individu yang berasal dari figur yang lebih tinggi seperti orang tua atau guru (dalam Clark, 2005). Maka dalam penelitian ini, dukungan informasi sebaiknya berasal dari figur yang lebih tinggi seperti orang tua dan guru. Pemberian dukungan informasi berupa nasihat, bimbingan, dan saran dari teman sebaya akan menjadi kurang efektif untuk membantu mengenali dan mengatasi masalah yang dihadapi oleh remaja awal korban bullying.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
Pada bab ini berisi kesimpulan dan saran berdasarkan data yang telah diuraikan pada bab sebelumnya.
A. KESIMPULAN
Setelah dilakukan penelitian dan analisis data, maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
1) Hipotesis penelitian yaitu ada pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal korban bullying diterima, variabel dukungan sosial dan depresi memiliki koefisien korelasi (R) sebesar 0,289 dengan taraf signifikansi p = 0,020 (p < 0,05). Dukungan sosial berpengaruh negatif terhadap depresi. Hal ini berarti semakin meningkatnya dukungan sosial akan diikuti dengan semakin menurunnya depresi, dan sebaliknya semakin menurunnya dukungan sosial akan diikuti semakin meningkatnya depresi. 2) Garis persamaan regresi yang dihasilkan, yaitu Depresi = 32,297 – 0,127*
Dukungan Sosial. Dari persamaan diketahui nilai konstanta b = 32,297 dan nilai b1 = - 0,127 yang menunjukkan arah garis regresi negatif . Jika nilai variabel dukungan sosial meningkat satu satuan, maka kemudian model regresi akan memprediksi bahwa terjadi penurunan depresi sebesar 0,127. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jika dukungan sosial yang diterima individu semakin besar, maka depresi akan semakin menurun.
3) Pengaruh dukungan sosial terhadap depresi adalah sebesar 8,3%. Artinya, dukungan sosial memberikan sumbangan efektif sebesar 8,3% untuk mengurangi depresi, sedangkan sisanya yang sebesar 91,7% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, seperti faktor kognitif yang berasal dari dalam diri indivdu.
4) Korelasi bentuk-bentuk dukungan sosial dengan depresi secara berurut dari korelasi yang paling besar: korelasi antara dukungan instrumental dengan depresi = - 0,316, korelasi antara dukungan persahabatan dengan depresi = 0,234, korelasi antara dukungan emosional dengan depresi = -0,213, dan korelasi antara dukungan informatif dengan depresi = - 0,190. 5) Garis persamaan regresi yang dihasilkan antara bentuk-bentuk dukungan
sosial dengan depresi adalah Depresi = 32,121 – 0,050*(Dukungan emosional) - 0,401*(Dukungan instrumental) + 0,038*(Dukungan Informatif) - 0,092*(Dukungan Persahabatan). Dari keempat variabel prediktor yang menunjukkan hubungan yang negatif adalah dukungan emosional, dukungan instrumental, dan dukungan persahabatan. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dari masing-masing variabel prediktor tersebut, maka nilai depersi akan semakin menurun. Sedangkan, variabel prediktor yang menunjukkan hubungan yang positif adalah dukungan informatif. Hal ini menunjukkan bahwa semakin tinggi nilai dukungan informatif, maka nilai depresi juga akan meningkat.
B. SARAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan kesimpulan yang dikemukakan, maka peneliti mengemukakan beberapa saran. Saran-saran yang dikemukakan oleh peneliti diharapkan dapat berguna bagi perkembangan kelanjutan studi ilmiah.
1. Saran Metodologis
a. Berdasarkan koefisien determinasi (R2) diketahui bahwa sumbangan efektif dukungan sosial pada depresi remaja sebesar 8,3%, selebihnya dipengaruhi variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Bagi para peneliti selanjutnya yang mengambil topik depresi disarankan untuk melihat faktor-faktor lain yang turut berpengaruh pada depresi seperti faktor keperibadian.
b. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti pengaruh dukungan sosial terhadap depresi pada remaja awal berdasarkan kategori bullying, yaitu bully, victim, dan bully-victim.
2. Saran Praktis
Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh bahwa dukungan sosial berpengaruh terhadap depresi pada remaja awal korban bullying. Keluarga, pihak sekolah, dan teman sebaya remaja yang merupakan sumber dukungan sosial bagi remaja korban bullying diharapkan dapat memberikan bentuk dukungan sosial yang tepat. Dari hasil penelitian diketahui bahwa bentuk dukungan sosial yang paling berpengaruh adalah dukungan instrumental dimana individu merasakan adanya bantuan langsung. Dan dukungan instrumental yang diberikan juga
sebaiknya diikuti oleh bentuk-bentuk dukungan sosial lainnya, seperti dukungan emosional, dukungan persahabatan, dan dukungan informatif. a. Bentuk dukungan instrumental berupa bantuan langsung yang bersumber
dari:
1) Keluarga, seperti membantu remaja dalam menghadapi masalah misalnya mengajarkan remaja keterampilan sosial agar lebih asertif mengahadapi kejadian bullying.
2) Teman sebaya remaja, seperti membantu remaja ketika sedang menjadi target bullying dari para bully (pelaku bullying) dengan membela korban dan berani menegur bully.
3) Sekolah, seperti membantu remaja korban bullying dengan memberikan konseling khusus untuk mengurangi dampak bullying. Pihak sekolah juga bertanggung jawab untuk menangani para bully (pelaku bullying).
b. Bentuk dukungan emosional berupa empati, kepedulian dan perhatian terhadap remaja korban bullying. Dukungan emosional dapat berasal dari keluarga dan teman sebaya remaja, seperti turut merasakan apa yang dirasakan remaja, mendengarkan curahan hati remaja mengenai masalahnya, dan memperhatikan keadaan remaja.
c. Bentuk dukungan persahabatan dapat berasal dari:
1) Keluarga, seperti meluangkan waktu untuk menemani remaja, melakukan kegiatan bersama dengan remaja dan anggota keluarga lainnya.
2) Teman sebaya remaja, seperti menerima remaja untuk bergabung dalam suatu kelompok sehingga remaja merasakan bahwa ia merupakan bagian dari kelompok, melakukan aktivitas sosial bersama. 3) Sekolah, seperti bersikap bersahabat terhadap para remaja tanpa
membeda-bedakan remaja agar semua remaja merasa diterima dan tidak merasa diasingkan.
d. Bentuk informatif dapat berasal dari:
1) Keluarga, seperti memberi nasihat, petunjuk, dan saran yang diperlukan remaja untuk memecahkan masalah sehubungan dengan bullying.
2) Sekolah, seperti melakukan sosialisasi mengenai bullying, mengatasi bullying dan mencegah bullying melalui kebijakan sekolah, misalnya dibuatnya peraturan anti-bullying.
e. Bagi Remaja Korban Bullying
Bullying telah diketahui memberi dampak negatif bagi psikologis individu yang menjadi korbannya. Salah satu dampak negatif bullying yang dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai depresi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi penurunan depresi yang berasal dari luar diri individu adalah dukungan sosial. Sehingga disarankan bagi remaja yang mengalami bullying, agar berusaha untuk mencari dukungan sosial ketika mengalami situasi yang bisa menyebabkan perasaan tertekan melalui menjalin hubungan interpersonal yang baik dengan orang-orang di sekitar, seperti keluarga, sahabat, dan teman.