• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

A. Analisa Data

2. Hasil tambahan penelitian

Penelitian ini juga memperoleh beberapa hasil tambahan yang dapat memperkaya hasil penelitian, yaitu gambaran tingkat kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK berdasarkan usia, jenis kelamin, tingkat kelas, dan frekuensi penggunaan layanan BK.

a. Gambaran kedisiplinan berdasarkan usia subjek penelitian.

Berdasarkan usia, gambaran kedisiplinan yang menjadi subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 14:

Usia

Gambaran kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK berdasarkan usia

N Min Max Mean Kedisiplinan Rendah Sedang Tinggi

15 tahun 31 86 152 118,9 4 orang 25 orang 2 orang

16 Tahun 49 59 152 116,12 7 orang 37 orang 5 orang

17 Tahun 61 59 140 114,5 7 orang 45 orang 9 orang

18 Tahun 15 86 132 108,6 2 orang 9 orang 4 orang

19 Tahun 8 59 140 118,25 1 orang 7 orang ---

Dari tabel 14 dapat dilihat bahwa nilai mean tertinggi kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK berdasarkan usia terpadat pada siswa yang berusia 15 tahun (118,9). Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa kedisiplinan siswa yang berusia 15 tahun yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 4 orang, kategorisasi sedang sebanyak 25 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 2 orang. Untuk kedisiplinan siswa yang berusia 16 tahun yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 7 orang, dan kategorisasi sedang sebanyak 37 orang, kategorisasi tinggi sebanyak 5 orang. Untuk kedisiplinan siswa yang berusia 17 tahun yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 7 orang, dan kategorisasi sedang sebanyak 45 orang, kategorisasi tinggi sebanyak 9 orang. Untuk kedisiplinan siswa yang berusia 18 tahun yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 2 orang, dan kategorisasi sedang sebanyak 9 orang, kategorisasi tinggi sebanyak 4 orang. Untuk kedisiplinan siswa yang berusia 19 tahun yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 1 orang, dan kategorisasi sedang sebanyak 7 orang, kategorisasi tinggi tidak ada.

b. Gambaran kedisiplinan siswa berdasarkan jenis kelamin subjek penelitian Berdasarkan jenis kelamin, gambaran kedisiplinan yang menjadi subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 15:

Jenis Kelami

Gambaran kedisiplinan berdasarkan jenis kelamin

N Min Max Mean Self-Efficacy

Rendah Sedang Tinggi

Laki-laki 123 59 152 115,9 20 orang 91 orang 12 orang

Perempuan 41 59 132 113,9 7 orang 30 orang 4 orang

Total 164 27 orang 121 orang 16 orang

Dari tabel 15 dapat dilihat bahwa nilai mean tertinggi kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK berdasarkan jenis kelamin terpadat pada siswa yang berjenis kelamin laki-laki (115,9). Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa kedisiplinan siswa yang berjenis kelamin laki-laki yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 20 orang, kategorisasi sedang sebanyak 91 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 12 orang. Untuk kedisiplinan siswa yang berjenis kelamin perempuan yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 7 orang, kategorisasi sedang sebanyak 30 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 4 orang.

c. Gambaran kedisiplinan berdasarkan tingkat kelas subjek penelitian

Berdasarkan tingkat kelas, gambaran kedisiplinan yang menjadi subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 16:

Tingkat Pendidikan

Gambaran kedisiplinan siswa berdasarkan tingkat kelas

N Min Max Mean Self-Efficacy Rendah Sedang Tinggi

Kelas X 32 59 140 116,4 5 orang 24 orang 3 orang

Kelas IPA 44 56 142 113,02 6 orang 33 orang 5 orang

Kelas IPS 88 61 152 116,38 11 orang 70 orang 7 orang

Total 164 22 orang 127orang 15 orang

Dari tabel 16 dapat dilihat bahwa nilai mean tertinggi kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK berdasarkan tingkat kelas terpadat pada siswa yang memiliki tingkat kelas X yaitu 116,4. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa kedisiplinan siswa tingkat kelas X yang terdiri dari 5 subjek masuk mategoti rendah, 24 subjek masuk dalam kategori sedang, dan 3 orang masuk kategori tinggi. Untuk kedisiplinan siswa tingkat IPA yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 6 orang, kategorisasi sedang sebanyak 33 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 5 orang. Untuk kedisiplinan siswa tingkat IPS yang terdiri dari 11 subjek termasuk dalam kategori rendah, 70 orang untuk kategori sedang, dan 7 orang untuk kategori tinggi.

d. Gambaran kedisiplinan siswa berdasarkan frekuensi penggunaan layanan BK

Berdasarkan frekuensi penggunaan layanan BK, gambaran kedisiplinan yang menjadi subjek penelitian dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 17:

Masa Kerja

Gambaran kedisiplinan berdasarkan frekuensi penggunaan layanan BK

N Min Max Mean Self-Efficacy Rendah Sedang Tinggi

1-2 kali 101 59 152 114,6 15 orang 73 orang 13 orang

3-4 kali 47 59 154 115,74 8 orang 35 orang 4 orang

5-6 kali 16 95 152 120,31 2 orang 12 orang 2 orang

Total 164 25 orang 120orang 19 orang

Dari tabel 17 dapat dilihat bahwa nilai mean tertinggi kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK berdasarkan frekuensi penggunaan layanan BK terpadat pada siswa yang menggunakan layanan BK sebanyak 5-6 kali yaitu 120,31. Dari tabel tersebut juga dapat dilihat bahwa kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK sebanyak 1-2 kali yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 15 orang, kategorisasi sedang sebanyak 73 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 13 orang. Untuk kedisiplianan siswa yang menggunakan layanan BK sebanyak 3-4 kali yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 8 orang, kategorisasi sedang sebanyak 35 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 4 orang. Untuk kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK sebanyak 5-6 kali yang termasuk dalam kategorisasi rendah sebanyak 2 orang, kategorisasi sedang sebanyak 12 orang, dan kategorisasi tinggi sebanyak 2 orang.

B. Pembahasan

Berdasarkan hasil utama yang diperoleh dari hasil penelitian ini yang terdiri dari 164 subjek penelitian maka diperoleh gambaran kedisiplinan siswa SMAN 14 Medan yang menggunakan layanan BK di sekolah. Kedisiplinan siswa yang berada pada kategori tinggi adalah sebanyak 12 subjek (tabel 11), Prijodarminto (1994) mengatakan bahwa karakreristik individu yang memiliki kedisiplinan tinggi adalah individu yang memilik pemahaman yang baik dan benar mengenai manfaat dari suatu tata tertib atau peraturan, tekun dalam menyelesaikan tugas-tugas. Dalam setiap aspek kehidupannya, ia berusaha untuk berperilaku sesuai dengan didikan disiplin yang diperoleh sejak dini, menanamkan usaha yang kuat dalam apa yang dilakukannya dan meningkatkan usaha saat menghadapi kegagalan dalam kepatuhan terhadap peraturan.

Kedisiplinan siswa SMAN 14 Medan yang menggunakan layanan BK yang berada pada kategorisasi rendah adalah sebanyak 27 subjek (tabel 11), menurut Prijodarminto (1994) berdasarkan tiga dimensi kedisiplinan maka dapat dilihat karakteristik individu yang tingkat kedisiplinannya rendah memiliki karakteristik seperti memiliki pemahaman yang buruk dan salah mengenai manfaat dari suatu tata tertib atau peraturan, malas dalam menyelesaikan tugas-tugas. Dalam setiap aspek kehidupannya, ia berperilaku sesuai dengan didikan disiplin yang buruk yang diperoleh sejak dini, menanamkan sifat malas dalam apa yang dilakukannya dan apatis terhadap peruaturan, menyerah saat menghadapi kegagalan dalam kepatuhan terhadap peraturan.

Berdasarkan hasil penelitian ini diperoleh tingkat kedisiplinan siswa SMAN 14 Medan yang menggunakan layanan BK di sekolah yang berada pada kategori sedang sebanyak 125 subjek (tabel 11). Karakteristik siswa yang memiliki kedisiplinan sedang dapat digambarkan berdasarkan jawaban-jawaban subjek pada skala kedisiplinanyang digunakan dalam penelitian ini (tabel 13). Adapun karakteristik kedisiplinan sedang tersebut yaitu pada dimensi pemahaman,

individu memiliki pemahaman yang cukup baik terhadap manfaat dari suatu peraturan dan manfaat dari disiplin tetapi memiliki pemikiran yang menyatak bahwa menjadi orang yang disiplin sangat sulit dan berat untuk dijalani. Pada dimensi sikap mental, individu memiliki afek (perasaan) yang positif untuk menjadi seseorang yang disiplin dan ingin mewujudkannya namun dalam pelaksanaannya individu cenderung lebih menunjukkan sikap tidak disiplin. Pada dimensi perilaku, terkadang individu menunjukkan perilaku disiplin dalam aspek kehidupannya dan cenderung lebih kuat ketika lingkungan mendukung.

Menurut Santrock (1999), peilaku disiplin pada remaja dapat dilihat dari dengan adanya kenakalan-kenalakan remaja. Adapun faktor-faktor penyebab timbulnya kenakalan remaja menurut Santrock (1999), adalah identitas, kontrol diri, usia, jenis kelamin, harapan terhadap pendidikan dan nilai-nilai sekolah, proses keluarga, pengaruh teman sebaya, kelas sosial ekonomi, dan kualitas lingkungan sekitar tempat tinggal.

Dalam hasil tambahan penelitian ini, hasil atribut-atribut pribadi ini juga dapat dilihat. Selain atribut-atribut tersebut, penelitian ini juga memasukkan

atribut pribadi lainnya yang berkaitan dengan siswa yaitu tingkat kelas dan frekuensi penggunaan layanan BK.

Berikut ini akan dijelaskan hasil-hasil yang diperoleh dari penelitian ini berkaitan dengan pengaruh masing-masing atribut tersebut terhadap kedisiplinan siswa yang menggunakan layanan BK di sekolah.

1. Usia

Bila ditinjau dari segi usia, diperoleh hasil bahwa kedisiplinan yang lebih tinggi ditemukan pada siswa yang berusia 18 tahun. Kemudian jika dibandingkan dengan umur 15 tahun, 16 tahun, 17 tahun, siswa yang berusia 17 tahun memilik tingkat kedisiplinan yang paling rendah (tabel 14). Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Santrock (1999) yang menyatakan bahwa individu yang berada dalam tahap remaja (rata-rata 17 tahun) cenderung untuk menunjukkan perilaku kenakalan remaja. Hal ini terjadi karena pada tahap perkembangan remaja, individu memiliki emosi yang labil dan keinginan bereksplorasi tanpa adanya batasan.

2. Jenis kelamin

Bila ditinjau dari jenis kelamin, diperoleh hasil bahwa siswa yang banyak menggunakan layanan BK di sekolah adalah siswa yang berjenis kelamin laki-laki, sebanyak 123 orang (tabel 15). Dengan tingkat kedisiplinan siswa yang rendah sebanyak 20 orang, sedang sebanyak 91 orang, dan tinggi sebanyak 12 orang Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Santrock (1999) yang menyatakan bahwa remaja laki-laki lebih banyak melakukan perilaku anti sosial daripada perempuan.

3. Tingkat kelas

Bila ditinjau dari segi tingkat kelas, diperoleh hasil bahwa jumlah siswa yang menggunakan layanan BK yang paling besar adalah siswa IPS, yaitu sebanyak 88 orang (tabel 16). Dengan tingkat kedisiplinan siswa yang rendah sebanyak 11 orang, sedang sebanyak 70 orang, dan tinggi sebanyak 7 orang. Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil wawancara dengan siswa SMAN 14 Medan dan para guru BK bahwa siswa yang memiliki kecenderungan untuk melanggar disiplin adalah siswa IPS, dibandingkan dengan siswa kelas X dan siswa IPA. 4. Frekuensi penggunaan layanan BK

Bila ditinjau dari frekuensi penggunaan layanan BK, diperoleh hasil bahwa jumlah siswa yang menggunakan layanan BK sebanyak 1-2 kali lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan siswa yang menggunakan layanan BK sebanyak 3-4 kali dan 5-6 kali (tabel 17). Dengan tingkat kedisiplinan siswa yang rendah sebanyak 15 orang, sedang sebanyak 73 orang, dan tinggi sebanyak 3 orang. Hasil penelitian ini sesuai dengan kerangka berpikir penelitian ini. Dimana sesuai dengan alur penelitian ini, diketahui bahwa siswa yang menggunakan layanan BK di sekolah akan cenderung untuk lebih memahami manfaat peraturan dan cenderung menjadi siswa yang disiplin.

BAB V

Dokumen terkait