• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian

B.3. Hasil tambahan penelitian

Hasil korelasi r menunjukkan tanda (-) maka terdapat terdapatHubungan negatif diartikan sebagai suatu hal dimana semakin tinggi Konflik Individu di tempat kerjanya maka semakin rendah Kesejahteraan Psikologis PNS tersebut. Sebaliknya semakin tinggi kesejahteraan psikologis PNS maka semakin rendah Konflik individu yang dirasakan oleh PNS dtempat kerjanya.

B.3. Hasil Tambahan Penelitian

B.3.1. Kategorisasi skor Kesejahteraan Psikologis Karyawan

Kategorisasi skor kesejahteraan psikologisdi tempat kerja kerja dapat diperoleh melalui uji signifikansi perbedaan antara mean skor empirik dan mean hipotetik. Skala kesejahteraan psikologis pada karyawan terdiri dari

Correlations konflik Kesejahteraan psikologis dan Konflik individu Pearson Correlation -.677** Sig. (1-tailed) .000

Sum of Squares and

Cross-products -1.002E4

Covariance -101.190

N 100

35 aitem dengan lima pilihan jawaban yang bergerak dari 1 sampai 5. Dari skala kesejahteraan psikologis pada karyawan yang diisi subjek, maka diperoleh mean hipotetik sebesar 105,00 dengan standar deviasi sebesar 23,33. Sementara mean empirik yang diperoleh sebesar 110,45 dengan standar deviasi sebesar 16,975. Perbandingan antara mean hipotetik dan mean empirik dapat dilihat pada tabel 13 berikut.

Tabel 13. Nilai Hipotetik dan Empirik pada skala kesejahteraan psikologis

Variabel

Nilai Empirik Nilai Hipotetik Min Max Mean SD Min Max Mean SD Kesejahteraan

psikologis Karyawan

75 161 110,45 16,975 35 175 105 23,33

Berdasarkan tabel 13 diatas maka diperoleh kategorisasi kesejahteraan psikologis PNS di tempat kerja seperti berikut

Tabel 14. Kategorisasi data hipotetik kesejahteraan psikologis

Variabel Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase kesejahteraan psikologis PNS X < 82 Rendah 2 2% 82  X < 128 Sedang 84 84 % X  128 Tinggi 14 14 % Total 100 100 %

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa subjek terbanyak adalah karyawan yang memiliki kesejahteraan psikologis yang sedang ditempat kerja dengan total sebanyak 84 orang (84%), subjek yang memiliki kesejahteraan psikologis yang tinggi sebanyak 14 orang (14%) dan subjek yang memiliki kesejahteraan psikologis rendah sebanyak 2 orang (2%).

B.3.2. Kategorisasi Skor Konflik Individu ditempat kerja.

Kategorisasi skor penyesuaian kerja dapat diperoleh melalui uji signifikansi perbedaan antara mean skor empirik dan mean hipotetik. Skala penyesuaian kerja terdiri dari 20 aitem dengan lima pilihan jawaban yang bergerak dari 1 sampai 5. Dari skala penyesuaian kerja yang diisi subjek, maka diperoleh mean hipotetik sebesar 60 dengan standar deviasi sebesar 13,33. Sementara mean empirik yang diperoleh sebesar 59,85 dengan standar deviasi sebesar 8,520. Perbandingan antara mean hipotetik dan mean empirik dapat dilihat pada tabel 15 :

Tabel 15. Nilai Hipotetik dan Empirik pada skala Konflik Individu

Variabel

Nilai Empirik Nilai Hipotetik Min Max Mean SD Min Max Mean SD Konflik

Individu

Berdasarkan tabel 15 diatas maka diperoleh kategorisasi konflik individu ditempat kerja seperti berikut :

Tabel 16. Kategorisasi data hipotetik Konflik Individu

Variabel Rentang Nilai Kategori Frekuensi Persentase Konflik Individu ditempat Kerja X < 47 Tinggi 15 15% 47  X < 73 Sedang 80 80% X  73 Rendah 5 5% Total 100 100 %

Dari tabel diatas dilihat bahwa subjek yang memiliki Konflik individu sedang berada pada jumlah subjek terbanyak yaitu 80 orang (80%), subjek yang memiliki konflik individu yang rendah sebanyak 5 orang (5%) dan subjek yang memiliki konflik individu tinggi sebanyak 15 orang (15%) ditempat kerjanya.

B.3.3. Hubungan Tipe Konflik Individu dengan Kesejahteraan Psikologis PNS ditempat kerja

Schemerhorn dkk (2002) mengelompokkan 2 tipe konflik individu yaitu: Interpersonal Conflict, (yang terdiri dari 2 sifat konflik yaitu substantif dan emosional) dan Intrapersonal conflict (yang terdiri dari tiga jenis konflik yaitu : Approach-approach conflict, Avoidance-avoidance conflict, serta Approach- avoidance conflict .Sementara itu Pychological

well being karyawan menurut Ryff (1995) terbagi atas 6 dimensi yaitu : Penerimaan diri, Hubungan poitif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pengembangan diri.

Hubungan Tipe dari konflik individu dengan kesejahteraan psikologis dianalisis dengan menggunakan Pearson Product Moment untuk melihat bagaimana hubungan antara tipe konflik individu dengan kesejahteraan psikologis PNS ditempat kerja.

Tabel 17. Korelasi antara tipe konflik individu dengan kesejahteraan psikologis

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa konflik interpersonal dan konflik intrapersonal memiliki hubungan yang significant dengan kesejahteraan psikologis. Hal ini dapat dilihat dari nilai konflik interpersonal r = -0,648 dan p = 0,000 dan nilai konflik intrapersonal r = -0.497 dan p = 0.000. Correlations Pearson Correlation Sig. (2-tailed) Kesejahteraan psikologis N Konflik interpersonal 1 .000 -.648** 100 Konflik intrapersonal . 1 .000 -.497 100

Dari hasil data statistik korelasi diatas, menunjukkan bahwa yang paling memiliki hubungan kuat dengan kesejahteraan psikologis PNS ditempat kerja adalah konflik interpersonal dimana nilai korelasinya lebih tinggi dari pada korelasi konflik intrapersonal dengan kesejahteraan psikologis.

B.3.4. Tipe Konflik Individu yang Mempengaruhi Kesejahteraan di Tempat Kerja.

Schemerhorn dkk (2002) mengelompokkan 2 tipe konflik individu yaitu: Interpersonal Conflict, (yang terdiri dari 2 sifat konflik yaitu substantif dan emosional) dan Intrapersonal conflict (yang terdiri dari tiga jenis konflik yaitu : Approach-approach conflict, Avoidance-avoidance conflict, serta Approach- avoidance conflict .Sementara itu Pychological well being karyawan menurut Ryff (1995) terbagi atas 6 dimensi yaitu : Penerimaan diri, Hubungan positif dengan orang lain, kemandirian, penguasaan lingkungan, tujuan hidup dan pengembangan diri. Elemen dari tipe konflik individu kemudian dianalisis dengan menggunakan uji regresi linear sederhana untuk melihat pengaruhnya pada kesejahteraan psikologis di tempat kerja. Hasilnya dapat dilihat pada tabel 18 berikut.

Tabel 18. Hasil uji regresi tipe konflik individu

P<0.01, R = 0.689 = 0.475

Berdasarkan tabel 18 diperoleh B1 (interpersonal) = -1,469 dan B2

(intrapersonal) = -0,996. Dengan demikian dapat dilihat bahwa tipe konflik

individu yang paling berpengaruh terhadap kesejahteraan psikologis adalah konflik interpersonal

Schermerhorn dkk (2002) mengungkapkan salah satu konflik yang muncul adalah konflik interpersonal dimana munculnya konflik interpersonal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi hubungan tidak harmonis antara karyawan yang satu dengan karyawan yang lain. Sementara itu konflik intrapersonal dikatakan oleh Schermerhorn dkk (2002) terjadi pada diri individu karena tekanan sebenarnya atau yang dirasakan dari ketidaksesuaian tujuan dan harapan. Ketika konflik

intrapersonal muncul maka secara tidak langsung berhubungan

kesejahteraan psikologis seseorang ditempat kerja

Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. B Std. Error Beta (Constant) 183.423 7.906 23.200 .000 interpersonal -1.643 .253 -.533 -6.488 .000 intrapersonal -.996 .314 -.261 -3.178 .002 a. Dependent Variable: pwb

Dokumen terkait