LANDASAN TEORI
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
B. Hasil Penelitian
3. Hasil Tambahan Penelitian
Ada beberapa hasil tambahan dalam penelitian ini yang diharapkan dapat memperkaya hasil penelitian, antara lain perbedaan stres kerja ditinjau dari usia, pendidikan terakhir, pekerjaan, masa kerja, jumlah anak, dan usia anak terkecil.
a. Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Usia
Untuk melihat gambaran stres kerja berdasarkan usia dapat dilihat pada tabel 19 berikut ini.
Tabel 19. Gambaran stres kerja berdasarkan usia
Variabel Usia (Tahun) Jumlah (N) Mean SD F P Stres Kerja 23-27 18 110.06 8.861 0.202 0.817 28-32 34 108.56 10.925 33-37 24 108.17 9.173 Jumlah 76 108.79 9.831
Berdasarkan hasil uji Anova pada tabel 19 di atas, maka diperoleh nilai F = 0.202 dengan nilai signifikansi (p) yaitu 0.817. Hasil tersebut tidak signifikan karena p > 0.05, dengan demikian tidak ada perbedaan stres kerja berdasarkan usia.
b. Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Untuk melihat gambaran stres kerja berdasarkan pendidikan terakhir dapat dilihat pada tabel 20 berikut ini.
Variabel Pendidikan Terakhir
Jumlah
(N) Mean SD F P
Stres Kerja SMU/SMK 44 108.55 10.676
0.802 0.452
D-3 20 110.80 7.951
S-1 12 106.33 9.490
Jumlah 76 108.79 9.831
Berdasarkan hasil uji Anova pada tabel 20 di atas, maka diperoleh nilai F= 0.802 dengan nilai signifikansi (p) yaitu 0.452. Hasil tersebut tidak signifikan karena p > 0.05, dengan demikian tidak ada perbedaan stres kerja ditinjau dari pendidikan terakhir.
c. Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Pekerjaan
Untuk melihat gambaran stres kerja berdasarkan pekerjaan dapat dilihat pada tabel 21 berikut ini.
Tabel 21. Gambaran stres kerja berdasarkan pekerjaan
Variabel Pekerjaan Jumlah
(N) Mean SD F P
Stres Kerja Karyawan 42 110.19 10.131
1.875 0.161 Pegawai
Negeri 9 103.33 7.018
Wiraswasta 25 108.40 9.772
Jumlah 76 108.79 9.831
Berdasarkan hasil uji Anova pada tabel 21 di atas, maka diperoleh nilai F= 1.875 dengan nilai signifikansi (p) yaitu 0.161. Hasil tersebut tidak signifikan karena p > 0.05, dengan demikian tidak ada perbedaan stres kerja ditinjau dari pekerjaan.
d. Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Masa Kerja
Untuk melihat gambaran stres kerja berdasarkan masa kerja subjek dapat dilihat pada tabel 22 berikut ini.
Tabel 22. Gambaran stres kerja berdasarkan masa kerja
Variabel Pekerjaan Jumlah
(N) Mean SD F P
Stres Kerja 1-5 tahun 34 108.18 9.974
0.237 0.628
6-10 tahun 42 109.29 9.806
Jumlah 76 108.79 9.831
Berdasarkan hasil uji Anova pada tabel 22 di atas, maka diperoleh nilai F = 0.237 dengan nilai signifikansi (p) yaitu 0.628. Hasil tersebut tidak signifikan karena p > 0.05, dengan demikian tidak ada perbedaan stres kerja ditinjau dari masa kerja.
d. Gambaran Stres Kerja Berdasarkan Jumlah Anak
Untuk melihat gambaran stres kerja berdasarkan jumlah anak subjek dapat dilihat pada tabel 23 berikut ini.
Tabel 23. Gambaran stres kerja berdasarkan jumlah anak
Variabel Jumlah Anak
Jumlah
(N) Mean SD F P
Stres Kerja 1 orang 33 109.09 10.462
0.277 0.877
2 orang 37 108.62 10.040
3 orang 5 109.60 3.507
4 orang 1 101.00 .
Jumlah 76 108.79 9.831
Berdasarkan hasil uji Anova pada tabel 23 di atas, maka diperoleh nilai F = 0.277 dengan nilai signifikansi (p) yaitu 0.877. Hasil tersebut tidak signifikan karena p > 0.05, dengan demikian tidak ada perbedaan stres kerja ditinjau dari jumlah anak.
Tabel 24. Gambaran stres kerja berdasarkan Usia Anak Terkecil
Variabel Usia Anak Terkecil
Jumlah
(N) Mean SD F P
Stres Kerja 1 tahun 23 109.61 9.885
0.509 0.730 2 tahun 20 107.45 8.432 3 tahun 14 106.86 13.772 4 tahun 13 111.54 9.270 5 tahun 6 108.67 3.141 Jumlah 76 108.79 9.831
Berdasarkan hasil uji Anova pada tabel 24 di atas, maka diperoleh nilai F = 0.509 dengan nilai signifikansi (p) yaitu 0.730. Hasil tersebut tidak signifikan karena p > 0.05, dengan demikian tidak ada perbedaan stres kerja ditinjau dari usia anak terkecil.
C. Pembahasan
Hasil penelitian pada sampel menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara konflik peran ganda dengan stress kerja pada wanita bekerja, dimana semakin tinggi konflik peran maka semakin tinggi pula stres kerjanya, demikian sebaliknya semakin rendah konflik peran maka semakin rendah pula stres kerjanya. Hasil penelitian ini sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Settless, dkk (2002) yang menyebutkan bahwa peran ganda yang dijalankan wanita, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai wanita yang bekerja, dapat menimbulkan konflik, baik konflik intrapersonal maupun konflik interpersonal. Konflik yang berkepanjangan dapat menyebabkan timbulnya respon fisiologis, psikologis dan tingkah laku sebagai bentuk penyesuaian diri terhdap kondisi yang mengancam yang disebut dengan stres.
Sejalan dengan hal tersebut Rice (1992), seseorang dapat dikategorikan mengalami stress kerja jika urusan stres yang dialami melibatkan juga pihak organisasi atau perusahaan tempat individu bekerja. Namun penyebabnya tidak hanya di dalam perusahaan, karena masalah rumah tangga yang terbawa ke pekerjaan dan masalah pekerjaan yang terbawa ke rumah dapat juga menjadi penyebab stres kerja.
Dari hasil penelitian berdasarkan jenis pekerjaan, tidak ditemukan perbedaan stres kerja. Hal ini berbeda dengan Laporan oleh the International
Labour Organisation (ILO) sejak tahun 1992 mencatat bahwa antara “gender,
pekerjaan dan stres” adalah suatu hubungan yang komplek. Beberapa faktor bisa meningkatkan dampak stres pada wanita. Diantaranya fakta bahwa wanita sering kurang bisa mengatasi tekanan pekerjaan daripada laki-laki. Diantaranya fakta bahwa wanita sering kurang bisa mengatasi tekanan pekerjaan daripada laki-laki, banyak tempat kerja yang tidak memberikan jaminan untuk keluarga, dan jenis dari pekerjaan yang menimbulkan stres pada wanita. Sebuah penelitian di Amerika menemukan bahwa selama lebih dari sepuluh tahun, wanita dengan pekerjaan dengan tingkat ketegangan yang tinggi tetapi dengan sedikit control hampir tiga kali lebih banyak mengalami peningkatan sakit kepala daripada kelompok sebanding pada pekerjaan yang lainnya (Unison, 2001). Ini mungkin dikarenakan subjek penelitian tidak memiliki variasi tanggung jawab dan komitmen di tempat mereka bekerja. Selain itu subjek penelitian yang diambil tidak hanya karyawan dari perusahaan saja melainkan juga wanita yang bekerja
sebagai seorang wiraswasta sehingga kurang menggambarkan adanya perbedaan tingkat tanggung jawab dan komitmen di tempat mereka bekerja.
Analisis stres kerja berdasarkan jumlah anak yang dimiliki menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan pada mean dan standard deviasinya. Berdasarkan data dari analisis varians (Anova) diperoleh nilai F = 0.271 dengan p> 0.05. Hal ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Veldez & Gutek (dalam Gutek dan Larwood, 1990) menemukan bahwa wanita dengan jabatan profesional atau manajerial ternyata memiliki anak yang relatif lebih sedikit dibandingkan dengan wanita dengan tingkat jabatan yang lebih rendah. Penyebabnya karena ketegangan peran meningkat seiring dengan jumlah anak (Keith dan Schafer, dalam Gutek, dkk, 1991). Oleh karena itu dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya konflik peran ganda tinggi, wanita cenderung memilih untuk membatasi jumlah anak (Gerson, dalam Gutek, dkk, 1991).
Dari hasil penelitian berdasarkan usia, pekerjaan, masa kerja, dan jumlah anak ternyata tidak ditemukan perbedaan stres kerja pada wanita bekerja, hal ini bisa saja disebabkan oleh situasi lingkungan, karena menurut McGrath (dalam Chandraiah dkk, 2003) menyatakan bahwa stres berhubungan dengan situasi lingkungan yang dipersepsikan sebagai suatu tekanan yang melampaui kemampuan dan keadaan diri seseorang untuk mengatasinya. Penghayatan stres ditentukanoleh penafsiran tentang tuntutan apa yang dihadapi dan oleh analisis dari sumber-sumber yang dimiliki untuk mampu menghadapi tuntutan (Munandar, 2001).
BAB V