3 HASIL DAN PEMBAHASAN
2. Kelimpahan ikan berdasarkan interval waktu penangkapan
3.5 Hasil Tangkapan Bagan 1 Hasil tangkapan cumi-cum
3.5.2 Hasil tangkapan ikan 1 Komposisi jenis ikan
Hasil tangkapan bagan terdiri atas dua jenis organisma ikan, yaitu organisma fototaksis positif dan predator. Jenis organisma fototaksis positif adalah teri (Stolephorus spp.) seberat 1.977 kg atau 39,86% dari berat total ikan hasil tangkapan dan tembang (Sardinella fimbriata) 1.934 kg (38,99%). Adapun organisma predator meliputi layur (Trichiurus lepturus) 982 kg atau 19,80% dari berat total ikan hasil tangkapan, layang (Decapterus russelli) 11,5 kg (0,23%), selar (Selaroides leptolepis) 29 kg (0,58%) dan kuwe (Caranx sexfaciatus) 26,3 kg (0,53%). Komposisi berat ikan hasil tangkapan bagan berdasarkan jenisnya disajikan pada Gambar 23, adapun rincian datanya dituliskan pada Lampiran 5.
Ikan fototaksis positif 3.911 kg
Ikan predator 1.048,8 kg
Gambar 23 Komposisi berat per jenis ikan hasil tangkapan bagan berdasarkan jenisnya
Vertical bars denote 0.95 confidence intervals
20.00-01.00 WIT 01.00-05.00 WIT 20.8571 36.8571 33 20.8571 36.8571 33 206.2857 373.4286 324.6429 206.2857 373.4286 324.6429
standar dua tiga tiga dua
Penutup lampu -300 -200 -100 0 100 200 300 400 500 600 HT Cumi-c umi 20.8571 36.8571 33 206.2857 373.4286 324.6429
Gambar 22 Interaksi faktor penutup lampu dengan interval waktu penangkapan terhadap hasil tangkapan cumi-cumi.
Teri dan tembang merupakan jenis ikan hasil tangkapan terbanyak yang diperoleh bagan. Kedua jenis organisma ini bersifat fototaksis positif dan merupakan target utama penangkapan. Keberadaan cahaya di perairan bawah bagan akan merangsang teri dan tembang untuk mendekati bagan sehingga mudah tertangkap saat jaring diangkat. Selain itu, teri dan tembang bergerak mendekati bagan diakibatkan oleh aktivitas berburu makanan berupa plankton yang berada di perairan bawah bagan. Genisa (1998) menjelaskan bahwa ikan pelagis kecil fototaksis positif hidup bergerombol sehingga mempermudah nelayan untuk melakukan penangkapan dengan bagan. Tobing (2008) menambahkan bahwa keberadaan plankton di perairan bawah bagan memberikan pengaruh terhadap jenis ikan fototaksis positif untuk mendekati area perairan bawah bagan yang disinari cahaya. Plankton, menurut Pradini (1998), merupakan makanan bagi ikan fototaksis positif.
Jenis-jenis organisma predator yang tertangkap dengan bagan umumnya diakibatkan oleh kegiatan perburuan makan. Keberadaan jenis-jenis organisma kecil di perairan bawah bagan akan merangsang organisma predator untuk mendekati bagan. Aktifitas ini yang menyebabkan organisma predator berupa layur tertangkap saat penarikan jaring dilakukan oleh nelayan.
3.5.2.2Komposisi berat tangkapan ikan berdasarkan konstruksi penutup lampu
Berat total hasil tangkapan bagan berbeda sesuai dengan penggunaan tudung dan reflektor. Bagan dengan lampu bereflektor αr32,6o memperoleh hasil tangkapan tertinggi seberat 2.010,8 kg atau 40,54% dari bobot total hasil tangkapan bagan, reflektor αr23,30 seberat 1.692 kg (34,11%) dan lampu bertudung seberat 1.257 kg 25,34% (Gambar 24).
Penggunaan penutup lampu ternyata tidak hanya memberikan hasil tangkapan dengan bobot yang berbeda, namun juga jenis hasil tangkapan yang berbeda. Pada Gambar 25 dijelaskan komposisi berat hasil tangkapan per jenis ikan berdasarkan penutup lampu berbeda.
Gambar 24 Total hasil tangkapan ikan berdasarkan penggunaan lampu bertudung (a), lampu bereflektor αr23,3o (b) dan αr32,6o (c)
(b)
(a)
Bagan yang dilengkapi dengan tudung standar memperoleh lima jenis ikan hasil tangkapan dengan berat total 1.257 kg, atau paling rendah dibandingkan dengan kedua penutup lainnya. Jenis hasil tangkapan terberat adalah teri 723 kg (57,52%), selanjutnya tembang 444 kg (35,32%), layur sebanyak 85 kg (6,76%), selar 3 kg (0,24%) dan kuwe 2 kg (0,16%). Sementara itu, bagan dengan lampu bereflektor αr23,3o dan αr32,3o memperoleh enam jenis ikan, yaitu tembang, teri, layur, selar, kuwe dan layang. Komposisi bobot per jenis ikan hasil tangkapan bagan dengan lampu bereflektor αr23,3o adalah tembang 623 kg (36,82 %), teri 526 kg (31,09 %), layur 497 kg (29,37 %), selar 20 kg (1,18 %), kuwe 19 kg (1,12 %) dan layang 7 kg (0,41 %). Adapun rincian berat ikan hasil tangkapan bagan dengan lampu bereflektor adalah tembang 867 kg (43,12 %), teri 728 kg (36,20 %), layur 400 kg (19,89 %), selar 6 kg (0,30%), kuwe 5,3 kg (0,26%) dan layang 4,5 kg (0,22%). Rincian seluruh data ikan hasil tangkapan bagan disajikan pada Lampiran 5.
3.5.2.3Pengaruh penutup lampu berbeda terhadap hasil tangkapan ikan Penggunaan penutup lampu yang berbeda mempengaruhi intensitas cahaya yang menembus perairan. Ini mengakibatkan konfigurasi ikan di perairan bawah bagan tidak sama. Akibatnya, bobot ikan hasil tangkapan setiap bagan juga akan berbeda. Wisudo et al (2002) menjelaskan bahwa bagan dapat memperoleh hasil maksimal jika sumber cahaya yang digunakan dapat terkontrol.
Pola sebaran cahaya lampu bereflektor mencakup luasan jaring bagan. Jenis- jenis ikan fototaksis positif akan berkumpul dan terkonsentrasi pada area di atas jaring dalam bentuk gerombolan yang besar. Selain itu, intensitas cahaya yang tinggi dari lampu bereflektor akan merangsang ikan-ikan yang berada pada kedalaman tertentu untuk datang berkumpul di bawah bagan berkumpul. Pada lampu bertudung standar, cahaya menyorot ke jaring bagan membentuk silinder dengan diameter yang sama dengan tabung penutup lampu. Sebaran cahaya yang sempit menyebabkan terjadinya kompetisi perebutan daerah bagi setiap jenis organisma. Kompetisi ini menjadikan keberadaan organisma diperairan tersebut menjadi tidak tenang. Pengamatan di lapang menunjukkan penggunaan lampu Gambar 25 Komposisi berat ikan per jenis berdasarkan penutup lampu ( )
bertudung standar dengan intensitas cahaya rendah menyebabkan penetrasi cahaya yang masuk ke dalam perairan juga menjadi rendah. Hal ini mengakibatkan lampu bertudung tidak dapat mengumpulkan ikan-ikan yang berada pada kedalaman tertentu.
Secara deskriptif penggunaan tudung dan reflektor yang berbeda pada lampu bagan memberikan bobot ikan hasil tangkapan yang berbeda nyata. Ini artinya bahwa penggunaan tudung dan reflektor berbeda pada bagan akan mempengaruhi bobot hasil tangkapan ikan dengan bagan, karena masing-masing bagan yang dilengkapi tudung dan reflektor berbeda memiliki kemampuan berbeda untuk mengumpulkan ikan.
3.5.2.4Komposisi hasil tangkapan ikan berdasarkan interval waktu
Bobot ikan hasil tangkapan tertinggi didapatkan pada interval waktu penangkapan antara pukul 00.00-05.00 WIT, yaitu 3.019,3 kg atau 60,88% dari berat total ikan hasil tangkapan bagan). Sementara operasi penangkapan antara pukul 20.00-00.00 WIT hanya memperoleh 1.294 kg (39,12%) (Gambar 26). Data ikan hasil tangkapan berdasarkan waktu penangkapan disajikan secara rinci pada Lampiran 5.
3.5.2.5Pengaruh interval waktu penangkapan terhadap bobot ikan hasil tangkapan
Waktu penangkapan merupakan indikator penting yang harus diperhatikan dalam kegiatan penangkapan ikan. Pengetahuan tentang waktu yang tepat untuk melakukan penangkapan, akan mempermudah nelayan dalam melakukan penangkapan dan memaksimalkan hasil tangkapan bagan. Umumnya waktu penangkapan ikan dipengaruhi oleh adaptasi jenis-jenis ikan terhadap cahaya dan kebiasaan makan.
Hasil penilitian menunjukan bahwa kelimpahan organisma terjadi pada interval waktu penangkapan setelah tengah malam atau setelah Pukul 00.00 WIT dibandingkan dengan waktu sebelum tengah malam (< Pukul 00.00 WIT). Hal ini terjadi dikarenakan, pada interval waktu penangkapan sesudah tengah malam, jenis-jenis ikan telah terkonsentrasi dan berdaptasi pada perairan bawah bagan Gambar 26 Komposisi bobot ikan hasil tangkapan bagan berdasarkan interval waktu penangkapan (a) 20.00-00.00 WIT dan (b) 00.00-05.00 WIT
(a)
yang tersinari cahaya. Fauziyah et al (2013) membuktikan bahwa pada waktu diatas tengah malam ikan akan terkonsentrasi diperairan bawah bagan karena telah beradaptasi dengan sempurna.
Penyebab lain dari tingginya hasil tangkapan bagan pada interval waktu penangkapan 00.00-05.00 WIT adalah kebiasaan berburu makan dari jenis-jenis ikan yang menjadi target penangkapan. Amirudin (2006) menjelaskan bahwa selain dari faktor fototaksis positif, ikan teri masuk catchable area bagan disebabkan juga oleh faktor makanan. Jenis-jenis ikan berkumpul diperairan bawah bagan yang tersinari cahaya pada interval waktu penangkapan setelah tengah malam diindikasikan terjadi karena faktor berburu makanan. Ini dibuktikan dengan penelitian Sulaiman (2006) yang mengatakan bahwa waktu setelah tengah malam merupakan waktu makan bagi jenis-jenis ikan target penangkapan bagan. 3.5.2.6Interaksi antara penutup lampu berbeda dengan interval waktu
penangkapan terhadap hasil tangkapan ikan 1. Total hasil tangkapan jenis-jenis ikan
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa faktor penutup lampu dan interval waktu penangkapan mempengaruhi bobot hasil tangkapan bagan untuk jenis-jenis ikan, dimana nilai Pvalue <0.05 (0.00). Ini berarti bahwa penggunaan penutup lampu dan interval waktu penangkapan merupakan faktor penting yang harus diperhatikan untuk menunjang keberhasilan penangkapan jenis-jenis ikan. Bagan saat melakukan penangkapan dengan menggunaan penutup lampu terbaik dan disesuaikan dengan interval waktu penangkapan yang tepat, dapat meningkatkan hasil tangkapan jenis-jenis ikan.
Hal berbeda terjadi pada faktor interaksi antara penutup lampu berbeda dengan interval waktu penangkapan, dimana faktor ini tidak menunjukkan hasil yang mempengaruhi bobot hasil tangkapan jenis-jenis ikan (Pvalue >0.05 atau 0.45). Penyebabnya adalah rata-rata hasil tangkapan per trip dari masing-masing bagan pada interval waktu penangkapan berbeda memiliki perbedaan bobot yang signifikan. Tabel 5 dan Gambar 27 disajikan interaksi antara penutup lampu berbeda dengan interval waktu penangkapan terhadap hasil tangkapan jenis-jenis ikan.
Tabel 5 Interaksi penggunaan penutup lampu berbeda dengan interval waktu penangkapan terhadap hasil tangkapan jenis-jenis ikan.
Effect SS Degr. of Freedom MS F P Intercept 416633.3 1 416633.3 484.86 0.00 Penutup lampu 12786.1 2 6393.1 7.44 0.00 Waktu 17985.1 1 17985.1 20.93 0.00 Penutup lampu*Waktu 1400.5 2 700.2 0.81 0.45 Error 46401.1 54 859.3