BAB V ANALISIS DATA
5.1 Hasil Temuan I
Tiorina Malau merupakan ibu dari 6 anak, umur 48 tahun, suku batak toba yang memiliki salah satu kios souvenir di kawasan Batu Kursi Siallagan.bu Tiorina bernama Sahat Siallagan, sekarang bekerja sebagai tukang ukir. Bu Tiorina tinggal di desa Siallagan Pindaraya semenjak dia lahir hingga sekarang. Bu Tiorina sudah memiliki rumah sendiri di desa Siallagan, dan kegiatan Bu Tiorina sehari-hari disamping sebagai ibu rumah tangga adalah menjaga kios souvenir yang dimiliknya. Bu Tiorina sudah menjalani kegiatan berjualan souvenir selama 16 tahun.
Sebelum objek wisata Batu Kursi berdiri di desa Siallagan, mata pencaharian keluarga ibu Tiorina Malau adalah bertani lahan kering yaitu menanam jagung, kacang tanah dan ubi kayu. Seiring dengan berjalannya waktu, objek wisata batu kursi semakin ramai dikunjungi touris lokal dan mancanegara. Keadaan tersebut membuat ibu Tiorina tertarik untuk menyewa sebuah kios yang sudah disediakan oleh pemangku kekuasaan setempat dengan ukauran 3x4 meter. Kios tersebut disewakan dengan harga Rp.1.000.000 per tahun.
Keluarga Ibu Tiorina malau menjual souvenir berupa kaos Lake Toba, selendang Batak/ ulos, ukir-ukiran, patung, gantungan kunci, dan lain-lain. Ketika Keluarga Ibu tiorina malau beraktivitas sebagai petani lahan kering, rata-rata hasil panen tiap tahunnya adalah Rp 16 Juta rupiah dengan 3 kali panen. Dengan pendapatan keluarga yang pas-pasan terebut, keluarga Ibu Tiorina hidup sebagai keluarga yang sederhana. Akan tetapi, keadaan keluarga ibu Tiorina mulai berubah semenjak Ibu tiorina mengelola Kios souvenir. Penghasilan keluarga
mereka bertambah karena kehadiran touris ke Desa Siallagan membuat dagangan ibu Tiorina cukup laris terjual.
Dengan keuntungan dari souvenir, Ibu tiorina mampu menyekolahkan anak-anaknya sampai ke perguruan tinggi. Bagi Tiotina, keberadaan Objek Wisata di Desa Siallagan memberi dampak yang sangat positif bagi keluarga maupun masyarakat yang ada di Desa Siallagan. Khusus bagi Bu Tiorina sendiri, dia merasa semenjak adanya Objek Wisata tersebut, membuka peluang usaha bagi yang dapat menambah penghasilan keluarga Bu Tiorina. Dampak lain yang dirasakan Bu Tiorina adalah, semakin majunya desa Siallagan Pindaraya semenjak keberadaan Objek Wisata tersebut karena banyaknya Tourist asing yang berkunjung ke desa Siallagan sehingga membawa berbagai informasi baru dari luar yang bisa membantu kemajuan desa Siallagan Pindaraya.
Banyaknya wisatawan asing yang datang ke desa Siallagan, membuat masyarakat di desa tersebut banyak melakukan interaksi/ komunikasi sehingga masyarakat mulai bisa menggunakan bahasa Asing. Dulu masyarakat di Desa Siallagan selalu menggunakan bahasa Batak Toba sebagai bahasa pengantar mereka sehari-hari. Tidak banyak masyarakat yang bisa berbahasa Indonesia dengan baik. Setelah berdirinya Objek Wisata Batu Kursi di Desa Siallagan Pindaraya, banyak touris lokal dan mancanegara yang berkunjung ke desa Siallagan, secara tidak langsung memaksa masyarakat di desa Siallagan harus mampu melakukan interaksi dengan berkomunikasi kepada para tamu. Seiring berjalannya waktu, masyarakat di Desa Siallagan termasuk Bu tiorina malau mulai bisa menggunakan bahasa Indonesia dengan baik, dan mulai bisa berbahasa Inggris walaupun hanya sekedar.
Bu Tiorina juga menceritakan keadaan desa Siallagan Sebelum adanya objek Wisata di desa Siallagan. Dulu, desa Siallagan adalah desa yang sangat terpencil. Akibat kurang diperhatikannya pembangunan di Desa Siallagan, sempat muncul kesan kekumuhan di Kawasan ini. Letak bangunan rumah di Desa Siallagan tidak tertata dengan rapi. Tidak banyak masyarakat yang tinggal di desa Siallagan. Dulu, Mata pencaharian masyarakat di desa Siallagan yang mayoritas adalah petani dan nelayan. Dahulu, masyarakat saling membantu satu sama lain ketika musim panen.
Misalnya, keluarga X panen hari ini, maka tetangga-tentangga keluarga X ikut membantu saat panen tanpa dibayar. Namun, ketika keluarga yang lain juga panen, mereka bergantian ikut membantu juga. Bu Tiorina mengakui, dulu masyarakat di Desa Siallagan sangat kompak dan selalu bahu membahu. Kalau ada salah satu keluarga yang mengalami kesulitan, maka masyarakat di desa itu turut membantu. Semua kegiatan adat yang ada di Desa Siallagan dilakukan secara gotong royong.
Namun di sisi lain, Bu tiorina juga merasakan dampak negatif yang tejadi setelah keberadaan objek wisata tersebut. Misalnya tatanan kehidupan sosial masyarakat yang mulai bergeser. Yaitu ditandai dengan munculnya persaingan-persaingan bisnis di kalangan masyarakat yang berjualan souvenir. Hal ini juga mengakibatkan perilaku sosial dibidang gotong royong mulai berkurang karena masing-masing masyarakat di Desa Siallagan sudah mulai sibuk berjualan. Apabila ada acara adat, beberapa masyarakat bahkan Ibu tiorina sendiripun kadang lebih mengutamakan untuk berdagang daripada mengikut acara adat tersebut. Berkurangnya intensitas masyarakat berkumpul di acara-acara
kemasyarakatan mengakibatkan terjadinya perubahan sikap diantara masyarakat. Masyarakat yang dulu memiliki sikap kebersamaan, mulai berubah menjadi masyarakat yang individual.
Perubahan yang terjadi setelah perkembangan objek wista Batu Kursi juga dapat dilihat dari cara berpakaian dan cara berbicara masyarakat di sekitar kawasan batu kursi. Dulu, cara berpakaian masyarakat di Desa Siallagan selalu berpakaian yang tertutup dan sopan. Bahkan Bu Tiorina mengakui, dulu dia selalu memakai sarung-sarung setiap harinya. Sangat berbeda dengan sekarang, Bu Tiorina sudah memakai kaos-kaos, kemeja, bahkan terkadang beliau tidak sungkan mengenakan pakaian yang agak terbuka.
Dampak lain yang dirasakan oleh Bu Tiorina malau adalah berubahnya pola pikir mengenai kepercayaan-kepercayaan kepada kekuatan magis. Dulu, Bu Tiorina adalah salah satu masyarakat yang meyakini bahwa nenek moyang nya lah yang memberikan rezeki kepada keluarganya. Dulu, bu Tiorina sering membuat sesajen untuk mengundang roh nenek moyang nya supaya memberikan rezeki dan kesehatan kepadanya. Seiring berkembangnya informasi dan pengetahuan akibat masuknya tourist asing ke Desa Siallagan, pandangan bu Tiorina tentang kepercayaan terhadap roh nenek moyang mulai berkurang hingga pada saat ini Bu Tiorina sudah tidak percaya lagi kepada hal-hal magis tersebut.
Berbicara mengenai dampak objek wisata terhadap ekonomi, Bu Tiorina adalah salah satu mayarakat Desa Siallagan Pindaraya yang merasakan langsung dampak keberadaan objek wisata tersebut terhadap peningkatan penghasilan ibu Tiorina. Seperti diceritakan pada paragraf di atas, sebelum adanya objek Wisata Batu kursi, Bu Tiorina beraktivitas sebagai petani lahan kering yang
mengharapkan hasil panen untuk memenuhi kebuuhan keluarga sehari hari. Setelah panen, bu tiorina menjual hasil tanamannya kepada toke dan uang dari hasil tanaman itulah Bu tiorina simpan untuk dapat dipergunakan memenuhi kebutuhan hidup sehari. Setelah fokus berjualan souvenir, bu Tiorina menyewakan lahan nya kepada orang lain. Dari berjualan souvenir, Bu tiorina memperoleh keuntungan rata-rata 70-100 ribu per hari. Begitu drastis perubahan penghasilan bu Tiorina jika dibandingkan saat dia bertani. Semenjak menekuni usaha souvenir , keluarga Bu Tiorina mampu merenovasi rumah mereka. Bu Tiorina juga mampu mengkuliahkan anak-anaknya dari hasil berjualan souvenir. Bu Tiorina mengakui bahwa penghasilan utama mereka saat ini adalah dari berjualan souvenir.
Semenjak keberadaan objek wisata batu kursi, pendapatan keluarga bu Tiorina jauh meningkat dibanding sebelumnya ketika mereka bertani. Bu Tiorina sudah memiliki sebuah sepeda motor dari hasil berjualan souvenir.
Tabel perubahan yang dialami oleh Informan I sebelum dan sesudah keberadaan objek wisata batu kursi.
No Indikator Perubahan Sebelum Sesudah
1 Pekerjaan Petani Pedagang Souvenir
2 Penghasilan Rp.1.000.000/tahun Rp. 3.000.000/bulan
3 Bahasa Daerah (Batak) Nasional (Indonesia)
4 Rumah Kayu Kayu+Beton
5 Kepercayaan Percaya kepada kekuatan gaib
Kepercayaan terhadap kekuatan gaib berkurang
7 Cara berpakaian Kuno Modern 8 Perilaku sosial Gotong royong Persaingan
5. 2 Hasil Temuan II