• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Uji Analisa a.Uji Asumsi

Dalam dokumen T1 802010098 Full text (Halaman 24-33)

HASIL PENELITIAN

2. Hasil Uji Analisa a.Uji Asumsi

Tahap selanjutnya adalah melakukan uji asumsi, yaitu uji normalitas yang bertujuan untuk mengetahui normal atau tidaknya distribusi data penelitian pada masing-masing variabel. Data dari variabel uji penelitian diuji normalitasnya menggunakan metode Kolmograv-Smirnov Test. Data dapat dikatakan berdistribusi normal apabila nilai p > 0,05.

Table 4 Hasil Uji Normalitas

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Baca Tidak Baca

N 30 30

Normal Parametersa Mean 5.40 1.33

Std. Deviation 5.709 1.668 Most Extreme Differences Absolute .191 .221 Positive .191 .221 Negative -.172 -.212 Kolmogorov-Smirnov Z 1.047 1.212

Asymp. Sig. (2-tailed) .223 .106

Hasil uji normalitas pada Tabel 4 menunjukkan bahwa variabel stres akademik pada masing-masing kelompok sampel memiliki koefisien Kolmogrov-Smirnov Test sebesar 1, 047 dan 1,212 dengan probabilitas (p) atau signifikansi sebesar 0,223 dan 0,106 pada masing-masing kelompok sampel. Dengan demikian, variabel stres akademik memiliki distribusi data yang normal karena p > 0,05 pada kedua kelompok yang diteliti.

Uji homogenitas bertujuan untuk melihat apakah sampel dalam penelitian berasal dari populasi yang sama atau tidak. Data dapat dikatakan homogen apabila nilai probabilitas p > 0,05.

Tabel 5

Hasil Uji Homogenitas

Test of Homogeneity of Variances Stres Akademik

Levene Statistic df1 df2 Sig.

10.088 1 58 .002

Dari hasil uji homogenitas pada Tabel 5, menunjukkan bahwa nilai koefisien Levene Test sebesar 10,088 dengan signifikansi sebesar 0,002 (p < 0,05). Oleh karena nilai signifikansi lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa data tersebut tidak homogen.

b. Uji Komparasi

Setelah kedua tahap ini dilakukan, selanjutnya adalah mengetahui perbedaan stres akademik antara anak taman kanak-kanak yang mendapat pengajaran membaca dan tidak mendapat pengajaran membaca, dengan

menggunakan perhitungan Independent Sample t-test. Setelah analisis data dilakukan, maka diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 6 Hasil Uji-t

Group Statistics

B_TB N Mean Std. Deviation Std. Error Mean

SA 1 30 5.40 5.709 1.042

2 30 1.33 1.668 .305

Tabel 6.1

Independent Samples Test Levene's Test

for Equality

of Variances t-test for Equality of Means

F Sig. t df Sig. (2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper SA Equal variances assumed 12.479 .001 3.745 58 .000 4.067 1.086 1.893 6.240 Equal variances not assumed 3.745 33.914 .001 4.067 1.086 1.860 6.274

Hasil perhitungan Independent Sample t-test pada tabel 6.1 menunjukkan bahwa nilai signifikansi untuk perbedaan antara anak taman kanak-kanak yang mendapat dan tidak mendapat pengajaran membaca memiliki nilai t-test sebesar 3,745 dengan signifikansi 0,001 (p < 0,05) yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan pada academic stress antara anak

taman kanak-kanak yang mendapat dan tidak mendapat pengajaran membaca. Selain itu hasil perhitungan juga menunjukkan mean academic stress pada anak yang mendapat pengajaran membaca sebesar 5,40 dan mean academic stress pada anak yang tidak mendapat pengajaran membaca sebesar 1,33. Maka, anak yang mendapat pengajaran membaca, memiliki tingkat stres yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak mendapat pengajaran membaca.

PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil analisis data menggunakan Independent Sample t-test, diperoleh nilai signifikansi (p) sebesar p = 0,001 (p < 0,05), artinya H0 ditolak dan H1

diterima. Selanjutnya hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa mean academic stress pada anak yang mendapat pengajaran membaca sebesar 5,40 dan mean academic stress pada anak yang tidak mendapat pengajaran membaca sebesar 1,33, artinya anak yang mendapat pengajaran membaca memiliki tingkat stres akademik yang lebih tinggi dari anak yang tidak mendapat pengajaran membaca. Hal ini juga menunjukkan bahwa beberapa anak yang mendapat pengajaran membaca termasuk dalam kategori stres akademik yang tinggi dan sedang, sedangkan anak yang tidak mendapat pengajaran membaca memiliki skor stress akademik yang rendah.

Hasil penelitian ini juga mendukung pendapat para ahli di Amerika dan Inggris yang melarang pengajaran membaca dan menulis bagi anak yang otaknya belum siap. Mereka berpendapat bahwa pembelajaran pada usia dini memang bermanfaat, tetapi bukan berarti pendidikannya bersifat akademis. Dr. Susan Johnson, seorang Dokter ahli spesialis perilaku dan perkembangan anak di Amerika selama 17 tahun telah meneliti

anak-anak, menyatakan bahwa jika PAUD, TK, serta UU pemerintah yang menetapkan standar pendidikan dapat mendukung kegiatan fisik dan berhenti mencoba mengajarkan baca tulis kepada anak-anak yang masih sangat muda, beliau yakin bahwa pada usia 8-9 tahun anak dapat mendengarkan, fokus, duduk diam, menulis, membaca, memperhatikan, dan bisa belajar dengan mudah (Indonesia Educate, 2013).

Hasil penelitian ini juga sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa pelajaran membaca secara tidak langsung dilarang untuk diperkenalkan pada anak-anak di bawah usia tujuh tahun. Piaget (dalam Santrock, 2008) beranggapan bahwa pada usia di bawah tujuh tahun anak belum mencapai fase operasional konkret, fase ketika anak-anak dianggap sudah bisa berpikir terstruktur. Hal ini dikhawatirkan otak anak-anak akan terbebani jika pelajaran membaca diajarkan pada anak-anak di bawah tujuh tahun. Maka dapat diartikan bahwa ketika anak diajarkan membaca diusia pra sekolah, maka ada potensi anak akan mengalami stres, meskipun masih dalam kategori stres yang rendah.

Hainstock (2002) juga menyatakan bahwa anak secara mental belum siap membaca hingga berusia paling tidak enam tahun, dan orangtua diingatkan bahwa dalam keadaan apapun seharusnya tidak mengajarkan anak membaca sebelum usia tersebut. Namun kenyataan yang ditemukan saat ini banyak para orangtua yang memaksakan anaknya membaca di usia pra sekolah tanpa menyadari kemampuan anak-anaknya. Hal ini dilatarbelakangi pendapat agar anaknya tidak mengalami kesulitan ketika masuk SD yang menjadikan kemampuan membaca sebagai tes pada penyaringan siswa baru yang masuk Sekolah Dasar. Hal ini juga seringkali menyebabkan orangtua dengan sengaja memberikan les privat agar anak bisa membaca (Media Indonesia, 2012).

Meskipun hasil penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan tingkat stres pada anak, hal ini bukanlah menjadi suatu kesimpulan bahwa anak tidak boleh diajarkan membaca di usia pra sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Adelar (2000) yang menyatakan bahwa anak pada usia empat sampai lima tahun bisa diajarkan membaca, yang penting adalah orangtua harus melihat bagaimana kemampuan dan minat anak. Pengajar atau orangtua yang membimbing anak harus menjauhkan cara mengajar yang sifatnya pemaksaan, kegiatan belajar sebaiknya lebih bersifat menyenangkan. Selain itu, metode pengajaran juga diharapakan tidak membebani anak, yang dapat menyebabkan mereka kelihatan murung dan menjadi bingung. Jika hal ini tidak diperhatikan dengan baik, maka inilah yang membuat anak berpotensi mengalami stres.

Berdasarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum dan Perbukuan 2014, anak usia 6 tahun diharapkan dapat memiliki pengetahuan tentang diri, keluarga, teman, guru, orang sekitar, makhluk hidup, benda, teknologi, seni dan budaya di lingkungan rumah, tempat bermain. Namun kenyataan yang ada saat ini, banyak sekolah yang tidak mengikuti kurikulum yang pemerintah sarankan. Beberapa sekolah memilih untuk membuat kurikulum sendiri, karena menurut pendapat mereka, kurikulum yang pemerintah buat tidak sesuai dengan perkembangan dunia, khususnya dunia pendidikan saat ini.

Hasil penelitian ini menolak penelitian yang dilakukan oleh Durkin dan Steinberg (2009), tentang pengaruh membaca dini pada anak-anak. Dia menyimpulkan bahwa tidak ada efek negatif pada anak-anak dari membaca dini. Anak-anak yang telah diajar membaca sebelum masuk SD pada umumnya lebih maju di sekolah dari anak-anak yang belum pernah memperoleh membaca dini. Steinberg menemukan bahwa

anak-anak yang telah mendapatkan pelajaran membaca pada usia 1-4 tahun pada umumnya lebih maju di sekolah (dalam Nurbiana dkk, 2009).

Meskipun ada perbedaan stres akademik antara anak taman kanak-kanak yang mendapat pengajaran membaca dan tidak mendapat pengajaran membaca, namun jumlah anak yang mengalami tingkat stres tinggi dan sedang berjumlah sangat sedikit dibanding dengan anak yang memiliki stres rendah. Hal ini mengartikan bahwa anak yang diajarkan mambaca pasti akan mengalami stres, tetapi berpotensi mengalami stres ketika hal tersebut dianggap diluar kemampuannya. Berdasarkan pengamatan peneliti, tingkat stres akademik anak taman kanak-kanak mayoritas tergolong rendah, khususnya sekolah yang mengajarkan membaca adalah karena memang metode-metode yang digunakan oleh para pengajar merupakan metode yang menyenangkan dan tidak memaksakan anak, sehingga anak tetap merasa nyaman dan bisa menerima pengajaran tersebut.

Jika dilihat dari jumlah anak yang mengalami stres akademik dengan kategori yang tinggi namun berjumlah sangat sedikit, membuktikan bahwa tidak semua anak mengalami stres akademik ketika diajarkan membaca. Penelitian ini memberikan sumbangan yang positif dan menguatkan teori-teori kontra yang sebelumnya, bahwa tidak salah bagi orangtua maupun pihak sekolah memberikan pengajaran membaca kepada anak usia pra sekolah, selama menggunakan metode yang tepat dan tidak bersifat memaksa bagi anak.

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan uraian yang telah disampaikan, maka dapat ditarik suatu kesimpulan sebagai berikut :

1. Ada perbedaan stres akademik antara anak taman kanak-kanak yang mendapat pengajaran membaca dan tidak mendapat pengajaran membaca.

2. Stres akademik anak yang mendapat mendapat pengajaran membaca lebih tinggi dari anak yang tidak mendapat pengajaran membaca.

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dicapai, serta mengingat masih banyaknya keterbatasan dalam penelitian ini, maka peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut :

1. Saran bagi orangtua

Orangtua yang memiliki anak pada usia pra sekolah sebaiknya tidak memaksakan anak mereka agar bisa membaca dengan tujuan supaya bisa masuk di SD favorit. Selain itu, orangtua juga harus mengawasi dan memperhatikan perkembangan kemampuan anaknya di sekolah, sehingga dapat memberikan pengajaran yang tepat sesuai dengan kemampuan anak. Orangtua juga diharapkan tidak membebani anak dengan berbagai macam les privat membaca tanpa mengetahui bagaimana keadaan anak sebenarnya.

2. Saran bagi guru

Sebagai guru sebaiknya mengetahui kemampuan masing-masing para siswanya, sehingga dapat memberikan cara pengajaran membaca yang tepat pada para siswa. Selain itu juga memberikan pengajaran membaca permulaan, seperti pengenalan huruf dengan metode belajar sambil bermain, mengingat adanya kemungkinan penyebab stres.

3. Saran bagi peneliti selanjutnya

Penelitian ini masih terbatas, karena tidak meneliti subjek yang benar-benar homogen. Selanjutnya agar meneliti jenis sekolah yang memiliki ciri yang sesuai dengan kriteria dari variabel yang ada. Penelitian selanjutnya juga dapat meneliti efek stres dari pengajaran membaca pada anak usia pra sekolah, meneliti subjek anak SD yang berada di sekolah yang mewajibkan membaca dan tidak mewajibkan membaca.

Dalam dokumen T1 802010098 Full text (Halaman 24-33)

Dokumen terkait