• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3 Hasil Uji Asumsi Klasik

Untuk mengetahui apakah model regresi benar-benar menunjukkan

hubungan yang signifikan dan mewakili (representatif), maka model tersebut

harus memenuhi uji asumsi klasik regresi, yang meliputi :

4.3.1 Hasil Uji Normalitas

Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,

variabel dependen dan independen atau keduanya mempunyai distribusi normal

atau tidak. Model regresi yang baik adalah yang mendekati normal (Imam

Ghozali,2006). Untuk melihat model regresi normal atau tidak dilakukan analisis

grafik dengan melihat “normal probability report plot” yang membandingkan

antara distribusi kumulatif dari data sesungguhnya dengan distribusi normal.

Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal dan ploting data akan

dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data normal, maka garis yang

menggantikan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya (Imam

Ghozali, 2006).

Kemudian, untuk meningkatkan hasil uji normalitas data, maka akan

digunakan uji Kolmogorov-Smirnov. Uji ini digunakan untuk menghasilkan

angka yang lebih detail, apakah suatu persamaan regresi yang akan dipakai lolos

normalitas. Suatu persamaan regresi dikatakan lolos normalitas apabila nilai

signifikansi uji Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari 0,05 (Imam Ghozali, 2006).

Hasil pengujian normalitas dengan analisis grafik plot yang terdapat pada

dan penyebarannya mengikuti arah garis diagonalnya. Hal ini menunjukkan

bahwa data terdistribusi normal.

Gambar 4.1

Hasil Uji Normalitas dengan Analisis Grafik Plot

Sumber : Data Sekunder yang diolah

Tabel 4.2

Hasil Uji Kolmogorov-Smirnov

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Unstandardized Residual

N 68

Mean .0000061 Normal Parametersa,,b

Std. Deviation 3.32070067E10 Absolute .134 Positive .134 Most Extreme Differences

Negative -.080 Kolmogorov-Smirnov Z 1.102 Asymp. Sig. (2-tailed) .176 a. Test distribution is Normal.

b. Calculated from data.

Hasil uji Kolmogorov-Smirnov pada tabel 4.2 di atas menunjukkan nilai

signifikansi sebesar 0,176. Nilai ini jauh diatas nilai signiifikan sehingga dapat

disimpulkan bahwa data terdistribusi normal dan model regresi layak untuk

dipakai.

4.3.2 Hasil Uji Autokorelasi

Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah dalam suatu model

regresi linier terdapat korelasi antara kesalahan pengganggu pada periode t dengan

kesalahan pengganggu pada periode t-1 (sebelumnya). Jika terjadi korelasi maka

dinamakan ada problem autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi yang

berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lain. Masalah ini timbul karena

residual (kesalahan pengganggu) tidak bebas dari satu observasi ke observasi yang

lainnya. Hal ini sering ditemukan pada data runtut waktu atau times series karena

“gangguan” pada seseorang individu atau kelompok cenderung mempengaruhi

“gangguan” pada individu atau kelompok yang sama pada periode berikutnya

(Imam Ghozali, 2006).

Salah satu alat uji statistik yang dapat digunakan untuk mendeteksi ada

tidaknya autokorelasi adalah uji statistik run test. Suatu persamaan regresi

dikatakan terbebas autokorelasi jika hasil uji statistik run testnya tidak signifikan

atau diatas 0,05 (Imam Ghozali, 2006). Pengambilan keputusan pada uji run test

didasarkan pada acak tidaknya data. Apabila data bersifat acak, maka dapat

diambil kesimpulan bahwa data tidak terkena autokorelasi. Menurut Imam

• Apabila nilai probabilitas ≥ α = 0,05 maka observasi terjadi secara acak.

• Apabila nilai probabilitas ≤ α = 0,05 maka observasi terjadi secara tidak acak.

Tabel 4.3

Hasil Uji Autokorelsi Arus Kas

Runs Test

Unstandardized Residual Test Valuea -9.11059E9 Cases < Test Value 34 Cases >= Test Value 34 Total Cases 68 Number of Runs 28

Z -1.711

Asymp. Sig. (2-tailed) .087 a. Median

Sumber : Data Sekunder yang diolah

Hasil output SPSS pada tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa nilai

probabilitas adalah 0,5. Karena nilai probabilitas lebih besar dari 0,05, maka dapat

disimpulkan bahwa data residual terjadi secara acak (random) atau tidak terjadi

autokorelasi antar nilai residual.

4.3.3 Hasil Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam regresi

terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang

lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap,

maka homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model

regresi yang baik adalah yang homoskedastisitas atau tidak terjadi

Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas dalam

suatu model regresi adalah dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi

variabel terikat (ZPRED) dengan residualnya (SRESID). Apabila ada pola

tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur

(bergelombang, menyebar, kemudian menyempit), maka hal tersebut

menunjukkan bahwa telah terjadi heteroskedastisitas pada model regresi. Bila

pada grafik scatter plot tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar di atas

dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi

heterokedatisitas pada model regresi.

Gambar 4.2

Hasil Uji Heteroskedastisitas Arus Kas

Hasil pengujian heteroskedastisitas pada gambar 4.3 di atas menunjukkan

bahwa di dalam diagram scatterplot tidak terdapat pola yang jelas serta titik-titik

menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y. Oleh sebab itu, dapat

disimpulkan tidak terdapat heteroskedastisitas dalam model regresi.

Untuk meningkatkan pengujian heteroskedastisitas, maka selain dilakukan

pengujian dengan scatter plot, perlu dilakukan pengujian secara statistik, yaitu

dengan menggunkan uji Park.

Tabel 4.4 Hasil Uji Park

Coefficientsa Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Collinearity Statistics

Model B Std. Error Beta T Sig. Tolerance VIF

(Constant) 46.362 .374 124.033 .000

L.KOTOR 8.603E-13 .000 .082 .468 .642 .455 2.197

L.OPERASI 8.319E-12 .000 .299 1.238 .220 .242 4.135 1

L.BERSIH -2.905E-12 .000 -.070 -.351 .727 .351 2.852 a. Dependent Variable: LnU2i

Sumber : Data Sekunder yang diolah

Hasil uji Park pada tabel 4.4 di atas menunjukkan bahwa koefisien

parameter untuk variabel independen tidak ada yang signifikan, maka dapat

disimpulkan bahwa model regresi tidak terdapat heteroskedastisitas. Hal ini

konsisten dengan hasil uji dengan scatter plot.

4.3.4 Hasil Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk memberikan gambaran kepada

bebas (independen). Model regresi yang baik adalah model regresi yang tidak

terdapat korelasi diantara variabel independen. Jika variabel independen saling

berkorelasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal

merupakan variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama

dengan nol (Imam Ghozali, 2006).

Untuk mendeteksi ada atau tidaknya multikolinieritas dapat dilihat dari

nilai tolerance dan lawannya serta Variance Inflation Factor (VIF). Kedua ukuran

ini menunjukkan setiap variabel bebas manakah yang dijelaskan oleh variabel

bebas lainnya. Apabila nilai tolerance di atas 10% dan VIF di bawah 10, maka

dapat disimpulkan bahwa model regresi bebas dari multikolinieritas.

Tabel 4.5

Hasil Uji Multikolinieritas Arus Kas

Coefficientsa

Collinearity Statistics Model Tolerance VIF

L.KOTOR .455 2.197 L.OPERASI .242 4.135 1

L.BERSIH .351 2.852 a. Dependent Variable: ARUS.KAS

Sumber : Data Sekunder yang diolah

Hasil perhitungan uji multikolinieritas pada tabel 4.5 di atas menunjukkan

bahwa laba kotor, laba operasi, dan laba bersih memiliki nilai tolerance ≥ 0.10

yang berarti tidak terdapat korelasi antar variabel independen. Sedangkan hasil

perhitungan Variance Inflation Factor (VIF) menunjukkan bahwa ketiga variabel

independen memiliki nilai VIF ≤ 10. Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat

Dokumen terkait