HASIL PENELITIAN
D. Hasil Uji Normalitas
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan paired samples t test
Metode ini termasuk metode parametrik yang mensyaratkan data berdistribusi normal. Dalam penelitian ini uji normalitas dilakukan dengan menggunakan one sample kolmogorov-smirnov test. Pengujian dilakukan pada taraf signifikansi 5% sehingga nilai kritis distribusi z yang digunakan sebagai
commit to user
Tabel 4.7 Hasil Uji Normalitas
Kelompok Data Z p Posttest Pretest 1,225 0,728 0,100 0,665
Berdasarkan tabel 4.7 diketahui bahwa uji normalitas terhadap pretest
maupun posttest menghasilkan nilai zhitung yang terletak di antara –1,96 dan
1,96 atau menghasilkan nilai signifikansi (p) > 0,05. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semua data yang digunakan dalam penelitian ini berdistribusi normal.
E. Hasil Uji Beda Pretest dan Posttest Pengetahuan tentang KMS
Analisis komparasi dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara skor pretest dengan skor posttest pengetahuan tentang KMS. Rumusan hipotesis yang diuji adalah sebagai berikut:
H0 : tidak ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dengan skor
posttest
Ha : ada perbedaan yang signifikan antara skor pretest dengan skor
posttest
Perbedaan didefinisikan sebagai selisih yang diperoleh dari skor posttest dikurangi skor pretest. Hasil pengujian disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 4.8 Hasil Uji Beda Skor Pretest dan Skor Posttest
Mean Posttest – Pretest t df p
Posttest
Pretest 5,683 10,283 40 0,000
Berdasarkan tabel 4.8 diketahui bahwa rata-rata selisih (skor posttest dikurangi skor pretest) bernilai positif yaitu sebesar 5,683, sehingga dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatan skor dari sebelum ke sesudah pendidikan kesehatan. Uji statistik terhadap peningkatan skor tersebut
menghasilkan nilai thitung > ttabel (10,283 > 2,021) atau p < 0,05 dengan derajat
kebebasan (df) sebesar 40 dan pada taraf signifikansi 5%maka diputuskan
bahwa H0 ditolak atau Ha diterima. Dengan demikian dapat disimpulkan
bahwa ada perbedaan (peningkatan) yang signifikan antara skor pretest dengan skor posttest, atau dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan tentang KMS dapat meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang KMS.
commit to user BAB V PEMBAHASAN
Penelitian tentang pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan kader tentang KMS dilaksanakan di Posyandu Desa Kadilangu Sukoharjo dimana kegiatan rutin di Posyandu Desa Kadilangu dilaksanakan dua kali pertemuan. Pertemuan pertama untuk penyuluhan kader oleh tenaga kesehatan. Pertemuan kedua digunakan untuk kegiatan posyandu. Dalam penelitian ini peneliti melakukan pretes dan pendidikan kesehatan pada pertemuan pertama dan melakukan posttes pada pertemuan kedua. Kendala dalam penelitian ini adalah ketika dilaksanakan postets setelah selesainya kegiatan posyandu sehingga kader mengerjakan kuesioner secara terburu-buru bahkan ada yang mengerjakan kuesioner posttest dirumah kader sehingga peneliti harus mengambil hasil posttest di rumah kader.
A. Karakteristik Responden
Pada tabel 4.1 menunjukkan tentang karakteristik responden berdasarkan umur dimana umur mempunyai pengaruh terhadap daya tangkap dan pola pikir seseorang. Semakin bertambah usia akan semakin berkembang pula daya tangkap dan pola pikirnya sehingga pengetahuan kader semakin baik Notoatmodjo (2005). Hasil penelitian menunjukkan distribusi umur responden, sebagian besar berumur 31-35 tahun ada 11 orang (26.83%) dan sebagian kecil berumur 16-20 tahun ada 1 orang (2.43%). Hal ini berarti
terdapat rentang umur dimana pengetahuan seseorang semakin baik yakni pada rentang umur dewasa hingga batas umur tua dimana seseorang akan cenderung berpengetahuan menurun. Sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Pangestuti (2008) bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap kemampuan menafsirkan pesan pertumbuhan anak dalam KMS adalah keaktifan kader, pendidikan, partisipasi sosial dan umur kader.
Pada tabel 4.2 menunjukkan tentang karakteristik responden berdasarkan pendidikan dimana pendidikan adalah suatu usaha untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup. Menurut Airin (2010) Pendidikan mempengaruhi proses belajar, makin tinggi pendidikan seseorang makin mudah orang tersebut untuk menerima pengetahuan. Namun kesadaran untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi masih kurang. Hasil penelitian menunjukkan distribusi responden sebagian besar berpendidikan SLTA ada 20 orang (47.78%) dan sebagian kecil berpendidikan SD ada 5 orang (12.20%). Hal ini berarti pendidikan dalam penelitian ini mayoritas masuk dalam kategori SLTA. Sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Rosphita (2007) bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan kader, pendidikan kader dengan ketrampilan menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) dan menggambar grafik pertumbuhan anak.
commit to user
yang di perlukan untuk kegiatan tertentu, sehingga pekerjaan akan mempengaruhi pengetahuan seseorang Notoatmodjo (2005). Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden tidak bekerja atau berstatus ibu rumah tangga ada 29 orang (70.73%) dan sebagian kecil bekerja ada 12 orang (29.73%). Kader di posyandu merupakan pengabdian masyarakat yang memerlukan waktu dari kader itu sendiri. Sehingga mayoritas kader yang dapat memberikan waktu untuk posyandu adalah kader yang tidak bekerja. Sesuai dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Airin (2010) bahwa terdapat pengaruh karakteristik kader (meliputi : paritas, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, pengetahuan, dan sikap) terhadap pengetahuan kader.
B. Analisis Perbedaan Pretest dan Postest
Berdasarkan hasil perhitungan uji statistik menghasilkan nilai t sebesar 10,283 dengan signifikansi (p) sebesar 0,000. Pengujian dilakukan dengan derajat kebebasan (df) sebesar 40 dan pada taraf signifikansi 5% sehingga
nilai kritis distribusi ttabel yang digunakan sebagai pembanding adalah sebesar
2,021. Terlihat bahwa thitung > ttabel (10,283 > 2,021) atau p < 0,05 maka
diputuskan bahwa H0 ditolak atau Ha diterima. Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa ada perbedaan (peningkatan) yang signifikan antara skor pretest dengan skor posttest, atau dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan tentang KMS dapat meningkatkan pengetahuan kader posyandu tentang KMS. Sehingga ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap pengetahuan kader tentang KMS.
Hasil dari penelitian didapatkan hasil posttest lebih baik daripada hasil pretest hal ini disebabkan karena adanya suatu perlakuan yaitu sebelum posttest kader diberikan pendidikan kesehatan. Hal ini sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa setelah seseorang mengalami stimulus atau obyek kesehatan, kemudian mengadakan penilaian atau pendapat terhadap apa yang diketahui, proses selanjutnya diharapkan dapat melaksanakan atau mempraktikkan apa yang diketahui dan disikapinya. Sedangkan menurut Machfoed (2005), pendidikan kesehatan merupakan proses perubahan, yang bertujuan untuk mengubah individu, kelompok dan masyarakat menuju hal-hal yang positif secara terencana melalui proses belajar. Perubahan tersebut mencangkup pengetahuan, sikap dan ketrampilan melalui proses pendidikan kesehatan. Pada hakikatnya dapat berupa emosi, pengetahuan, pikiran, keinginan, tindakan nyata dari individu, kelompok dan masyarakat. Pendidikan kesehatan tentang KMS merupakan aspek penting dalam meningkatkan pengetahuan kader.
Berdasarkan hasil analisis di atas dapat diketahui pengetahuan kader tentang KMS sesudah diberi pendidikan kesehatan tentang KMS lebih baik dibandingkan dengan pengetahuan kader tentang KMS sebelum diberi pendidikan kesehatan tentang KMS. Perubahan pengetahuan ini melalui beberapa tingkatan sesuai dengan pendapat Notoatmodjo (2003) bahwa
commit to user
sebagainya, sebagai ukuran bahwa orang tersebut tahu tentang apa dipelajari atau informasi apa yang didapat. 2) Memahami (comprehension) seseorang dianggap memahami suatu objek bila ia bisa menjelaskan tentang objek tersebut, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan dan sebagainya. 3) Aplikasi (application) diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi sebenarnya, seperti penggunaan metode, prinsip dan sebagainya. 4) Analisis (analysis) yaitu kemampuan menjabarkan materi atau suatu objek dalam komponen-komponen dan masih ada kaitannya satu sama lain, seperti membedakan, memisahkan, mengelompokkan. 5) Sintesis (synthesis) yaitu kemampuan seseorang dalam menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. 6) Evaluasi (evaluation) diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk menilai materi atau objek dengan kriteria penelitian yang sudah ada atau yang ditentukan sendiri.
Pada penelitian ini didapatkan hasil bahwa pengetahuan kader sesudah diberi pendidikan kesehatan tentang KMS lebih baik, hal ini di dukung oleh metode yang dipakai dalam memberikan pendidikan kesehatan ini menggunakan metode ceramah. Materi yang disampaikan sesuai dengan kebutuhan responden dan dalam penyampaian pendidikan kesehatan menggunakan alat bantu berupa leaflet dan materi yang disertai dengan gambar yang jelas Airin (2010).
Penelitian yang mendukung hasil penelitian ini diantaranya penelitian yang dilakukan oleh Wahyuna (2008) dengan hasil ada pengaruh pendidikan
kesehatan tentang posyandu lansia terhadap pengetahuan dan sikap kader dalam memberikan pelayanan di posyandu lansia Nanda (2007) dengan hasil ada hubungan yang bermakna antara pengetahuan kader, pendidikan kader dengan keterampilan menginterpretasikan hasil penimbangan (N dan T) dan menggambar grafik pertumbuhan anak serta oleh Lopez (2003) dengan hasil promosi kesehatan pada kader posyandu meningkatkan pengetahuan kader.
commit to user BAB VI