HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
E. Analisis Data Penelitian 1.Uji Asumsi 1.Uji Asumsi
2. Hasil Uji Hipotesis
Setelah uji asumsi dilakukan dan terbukti bahwa data penelitian memenuhi syarat normalitas sebaran dan linearitas maka dilanjutkan dengan analisis korelasi bivariate khususnya korelasi Product Moment Pearson untuk menganalisis hubungan antara dua variabel yaitu erat atau tidaknya hubungan, arah hubungan, dan berarti atau tidaknya hubungan. Peneliti ingin melihat secara lebih khusus hubungan antara kelekatan remaja dan kecerdasan emosi. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan SPSS 16,0 for Windows diperoleh dua data korelasi sebagai berikut.
Tabel 9 Hasil Uji Hipotesis
Kelekatan KE kelekatan Pearson Correlation 1 .298 ** Sig. (1-tailed) .001 N 102 102 KE Pearson Correlation .298 ** 1 Sig. (1-tailed) .001 N 102 102
**. Correlation is significant at the 0.01 level (1-tailed).
Dari tabel di atas didapat bahwa koefisien korelasi antara kelekatan remaja awal dengan ibu dan kecerdasan emosi adalah sebesar 0,298 dengan signifikasi 0,001 (p<0,01) dengan uji 1-tailed. Hal ini berarti bahwa hipotesis diterima sehingga dapat dinyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara kelekatan remaja awal dengan ibu dan kecerdasan emosi.
F. Pembahasan
Berdasarkan hasil uji hipotesis dengan menggunakan teknik Pearson Product Moment diperoleh hasil koefisien korelasi yang bernilai 0,307 dengan signifikasi 0,001 (p<0,01), maka hipotesis penelitian yang berbunyi adanya hubungan positif antara kelekatan remaja awal dengan ibu dan kecerdasan emosi diterima. Hal ini berarti menunjukkan bahwa semakin tingginya kelekatan remaja dengan ibu, maka akan semakin tinggi pula kecerdasan emosinya.
Sejalan dengan penelitian yang ada sebelumnya, dalam penelitian ini ditemukan bahwa ada hubungan positif antara kelekatan remaja awal dengan ibu dan kecerdasan emosi. Penelitian yang dilakukan oleh Hamarta, Deniz, dan Saltali (2009) menemukan bahwa kelekatan secara signifikan memprediksi kecerdasan emosi. Hamarta, Deniz, dan Saltali menemukan bahwa dengan kelekatan yang berbeda menunjukkan hasil kecerdasan emosi yang berbeda pula pada masing-masing aspeknya. Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Leiberman, Doyle dan Markiewicz (1999) juga menemukan
bahwa keberadaan ibu melewati transisi yang penting dari masa anak-anak ke masa remaja, dan kualitas hubungan ibu dan remaja sangat berkaitan erat dengan kelekatan aman (Allen dkk dalam Barrocas, 2008). Allen dkk menemukan bahwa perilaku ibu seperti memberikan dukungan dan menjadi tempat remaja menyandarkan diri memberikan rasa nyaman dalam hubungan ibu dan remaja (dalam Barrocas, 2008).
Penemuan yang berbeda oleh Hermasanti (2009) yang menemukan hasil bahwa kelekatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kecerdasan emosi yang berarti bahwa kelekatan kurang dapat digunakan sebagai prediktor untuk memprediksi kecerdasan emosi remaja. Hal ini bisa dijelaskan karena perbedaan kelompok usia subjek dalam penelitian yang dilakukan. Kelompok subjek yang digunakan dalam penelitian tersebut merupakan remaja yang berada pada masa remaja akhir. Hal ini dikarenakan pada masa remaja akhir, remaja mulai mendapatkan ketenangan emosi. Emosi pada masa ini berkurang dari pada masa remaja awal (Soesilowindradini, tanpa tahun).
Subjek dalam penelitian ini adalah remaja awal dengan rentang usia antara 12 hingga 15 tahun. Permasalahan kecerdasan emosi pada remaja awal dapat dijelaskan secara konseptual dengan teori perkembangan terutama yang berkaitan dengan berbagai permasalahan dan tugas perkembangan yang terjadi pada usia 12-15 tahun. Kelompok usia remaja awal yang berusia 12-15 tahun biasanya memiliki berbagai permasalahan dalam kehidupannya. Kelompok remaja yang berada pada usia ini memiliki keadaan emosi yang labil, suasana
hatinya mudah berubah-ubah tidak dapat diramalkan sebelumnya sehingga menyulitkan orang lain mengadakan pendekatan (Gunarsa & Gunarsa, 1986). Remaja awal dengan kondisi suasana hati yang mudah berubah-ubah tersebut jika dihadapkan pada berbagai masalah akan membuat mereka menjadil semakin labil dan cemas.
Mencapai kematangan emosional bagi seorang remaja merupakan tugas perkembangan yang sulit. Hal ini disebabkan karena proses pencapaiannya sangat dipengaruhi oleh kondisi emosional lingkungannya, terutama lingkungan keluarga dan teman sebaya. Untuk mencapai kematangan emosi, remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional dengan cara membicarakan berbagai permasalahan pribadinya dengan orang lain. Hal ini dipengaruhi oleh pola hubungan sosial antara remaja dengan lingkungan sosialnya yang membuat remaja merasa aman dan adanya kecenderungan kepada siapa remaja ingin mengutarakan masalahnya tersebut (Gunarsa & Gunarsa, 1986). Biasanya ibu dianggap sebagai orang yang dapat membantu remaja dalam menghadapi masalah karena ibu merupakan sosok yang selalu ada, hangat dan mau berbagi. Hubungan yang dekat dengan ibu ini membuat remaja memiliki kelekatan dengan ibu (Bowlby dalam Monks dkk, 2002).
Remaja menyatakan bahwa mereka menghabiskan lebih banyak waktu dan lebih terbuka tentang perasaannya dengan ibu dibandingkan dengan ayah (Laursen & Collins, 2004). Berbagai penelitian terdahulu juga menghasilkan kesimpulan bahwa remaja mencari rasa aman dari orang yang mudah ditemui,
dalam hal ini orang yang biasanya mudah ditemui adalah ibu. Ibu adalah orang dalam keluarga yang paling mudah ditemui ketika remaja membutuhkannya (Collins & Repinsky, 1994). Komunikasi dengan ibu biasanya meliputi permasalahan sehari-hari. Ibu pada umumnya bersikap lebih menerima, lebih mengerti dan lebih kooperatif terhadap anak remajanya dibanding dengan ayah, meskipun ibu seperti juga ayah dapat menunjukkan otoritasnya bila persoalan mengenai hal-hal yang prinsip (Younger & Smollar dalam Monks dkk, 2002).
Kelekatan remaja dengan ibu ditandai oleh tiga aspek yaitu rasa percaya, komunikasi dan alienasi (Armsden & Greenberg, 1987). Rasa percaya pada ibu yang tumbuh pada diri remaja akan menumbuhkan pandangan bahwa ibu akan selalu ada untuknya dan merasa diri dicintai sehingga remaja memiliki pandangan yang positif. Hal ini didukung oleh hasil dari suatu penelitian yang mengatakan bahwa adanya hubungan yang tinggi antara kualitas hubungan ibu dan remaja karena adanya rasa percaya yang tinggi diantara keduanya (Leiberman, Doyle, & Markiewicz, 1999). Rasa percaya akan tumbuh jika orang yang dipercayai akan mengerti akan harapannya dan mengetahui cara untuk mengatasi keterbatasannya.
Rasa percaya merupakan aspek pertama dari kelekatan yang tumbuh antara ibu dan remaja tersebut akan mempengaruhi remaja dalam memotivasi diri sendiri dan membina hubungan dengan orang lain. Seseorang yang dipercayai diharapkan akan mengerti akan harapan individu sehingga akan menumbuhkan rasa optimis pada diri individu dan memiliki pikiran positif
dalam menilai sesuatu. Selain itu, seseorang yang mengetahui cara untuk mengatasi keterbatasan individu akan membantu untuk menumbuhkan sikap tenggang rasa dan perhatian pada orang lain. Hal ini akan membantu remaja untuk membina hubungan dengan orang lain dan hidup selaras dalam kelompok.
Komunikasi merupakan aspek kedua dari kelekatan. Komunikasi terjadi secara timbal balik yang terjadi secara harmonis yang membantu ikatan emosional yang kuat antara ibu dan anak (Segrin & Flora dalam Barrocas, 2008). Hazan dan Shaver (1994) dan Schneider dan Younger (1996) mengatakan bahwa remaja mencari kedekatan dan kenyamanan dalam bentuk nasihat ketika mereka merasa membutuhkannya, sehingga komunikasi menjadi sangat penting dalam masa remaja (dalam Barrocas, 2008). Keterbukaan antara ibu dan remaja akan membantu remaja untuk membuka diri dan mampu untuk mengakui perasaan dan pikiran, saling menerima, menghargai, saling bebas berpendapat. Hal tersebut akan membantu remaja dalam mengenali emosi diri dan orang lain. Remaja lebih bisa untuk menyadari dan mengenali perasaannya sendiri dan apa yang menjadi penyebab perasaan itu timbul. Remaja juga mau untuk mengakui perasaan dan pikiran orang lain dengan menerima sudut pandang orang lain dan mampu untuk mendengarkan orang lain. Selain itu, dengan adanya keterbukaan memberikan kesempatan pada remaja untuk bebas berpendapat yang akan membantunya untuk menumbuhkan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan orang lain dan mudah untuk bergaul dengan orang lain.
Sikap suportif dalam berkomunikasi memiliki ciri-ciri antara lain tidak menilai dalam menyampaikan perasaan dan pikiran, mengkomunikasikan keinginan untuk bekerja sama mencari pemecahan masalah, saling memberikan dukungan dan mau mengakui kesalahan dan minta maaf. Remaja yang mengkomunikasikan keinginannya akan membantunya untuk lebih bisa mengungkapkan amarah dengan tepat tanpa berkelahi dan dapat mengurangi kecemasan di dalam diriya. Saling memberikan dukungan akan mendorong remaja untuk segera bangkit dari perasaan-perasaan yang menekan. Selain itu, remaja yang mau mengakui kesalahan dan minta maaf akan membantu mengurangi perilaku agresif atau merusak diri.
Menghargai keberadaan orang lain, memperhatikan kepentingan orang lain dan memadang masalah dari perspektif orang lain yang menjadi cirri dari keintiman akan membantu remaja dalam membina hubungan dengan orang lain yaitu remaja menjadi lebih bisa untuk memperhatikan kepentingan sosial, mampu untuk menyelesaikan konflik dengan orang lain dan memiliki sikap bersahabat.
Alienasi merupakan aspek terakhir dari kelekatan. Akan tetapi, untuk aspek alienasi ini akan menunjukkan kelekatan yang tinggi apabila skor yang diperoleh pada aspek ini rendah. Alienasi terjadi karena remaja merasa bahwa ibu tidak ada sehingga kelekatan menjadi kurang. Penolakan, isolasi, pengancaman, pengabaian dan penyimpangan merupakan aspek dalam alienasi yang tidak mendukung remaja dalam menumbuhkan kecerdasan emosi. Hal ini dikarenakan ibu melakukan penolakan akan apa yang menjadi
kebutuhan remaja, seperti menunjukkan kasih sayang. Selain itu, dalam aspek isolasi, ibu menghalangi remaja untuk berinteraksi sosial sehingga remaja kurang bisa membina hubungan dengan orang lain. Ibu juga melakukan pengancaman pada remaja sehingga membangun suasana yang menakutkan sehingga membuat remaja memiliki suasana hati yang negatif..
Perbandingan antara mean empirik dan mean teoritik dalam penelitian ini menunjukkan kelekatan remaja awal dengan ibu diperoleh nilai mean empirik sebesar 144,35 sedangkan mean teoritiknya sebesar 112,5. Dari hasil tersebut dapat dilihat bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada mean teoritik. Hal tersebut menunjukkan bahwa kelekatan remaja awal dengan ibu tergolong tinggi. Dalam perbandingan mean empirik dan mean teoritis pada kecerdasan emosi diperoleh nilai mean empirik sebesar 97,98 dan nilai mean teoritis sebesar 82,5 sehingga diketahui bahwa nilai mean empirik lebih besar daripada nilai mean teoritisnya. Hal ini menunjukkan bahwa kecerdasan emosi tergolong tinggi. Tingginya kecerdasan emosi pada remaja awal ini dikarenakan terjalinnya kelekatan yang tinggi dengan ibu yang melibatkan rasa percaya dan komunikasi. Pada kasus remaja yang bunuh diri setelah di marahi atau dinasihati karena sebuah masalah dapat dilihat bahwa remaja tersebut memiliki kecerdasan emosi yang rendah dikarenakan kurang adanya komunikasi yang baik dengan ibu atau orang tua. Dikatakan dalam kasus bahwa remaja yang melakukan bunuh diri tersebut merupakan anak yang tergolong pendiam, tidak pernah menceritakan masalahnya pada orang lain dan suka menyendiri apabila sebelumnya dimarahi ataupun dinasihati. Remaja
yang memiliki kelekatan dengan ibunya memiliki rasa percaya dan komunikasi di antara mereka sehingga remaja dapat membicarakan dan mengungkapkan setiap permasalahan dan apa yang dirasakannya bersama ibu. Akan tetapi, di satu sisi tingginya kecerdasan emosi dalam penelitian ini dapat dipengaruhi karena adanya kecenderungan social desirability. Hal ini dapat disebabkan karena adanya kalimat-kalimat dalam item yang kurang dapat mengatasi social desirability. Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan peneliti selama mengumpulkan data nampak bahwa hasil kecerdasan emosi yang tinggi tersebut tidak begitu sesuai dengan tindakan nyata secara langsung. Hal ini diperoleh dari pengamatan peneliti bahwa ada beberapa subjek yang terlibat masalah pertengkaran dengan sesama temannya yang pada akhirnya memicu mereka membuat keributan di sekolah. Tindakan tersebut dapat dilihat sebagai bukti bahwa hasil tes dipengaruhi karena subjek mengetahui bahwa dirinya sedang diteliti sehingga subjek akan memberikan jawaban yang akan dinilai baik dalam tes tersebut.
Berdasarkan penjelasan di atas, menunjukkan bahwa remaja awal yang memiliki kelekatan dengan ibunya memiliki kecerdasan emosi yang tinggi karena adanya rasa percaya dan komunikasi yang terjalin dengan ibu sehingga remaja terbiasa untuk bercerita tentang setiap permasalahannya dan apa yang dirasakannya pada ibu yang akan membantu menuntun remaja dalam bertindak pada orang lain. Remaja yang terbiasa untuk mengungkapkan permasalahannya akan lebih bisa untuk mengontrol emosinya dengan lebih bai
BAB V