• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil Uji Hipotesis

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 22-28)

Setelah melakukan distribusi data, uji normalitas dan uji linearitas terhadap data, selanjutnya melakukan uji hipotesis. Uji hipotesis dilakukan menggunakan uji hipotesis korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS 20 for Windows. Pada tahap uji hipotesis ini, peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut:

Ha : Ada hubungan pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun

Ho : Tidak ada hubungan pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun

Analisis hasil uji hipotesis Pearson Product Moment adalah sebagai berikut:

a. Signifikansi Korelasi

Uji hipotesis korelasi dilakukan dengan menggunakan dasar perhitungan.

1) Hipotesis diterima, apabila nilai signifikansi < 0,05 2) Hipotesis ditolak, apabila nilai signifikansi > 0,05

Berikut hasil uji hipotesis korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS 20 for Windows.

Tabel 4. 13 Hasil Uji Hipotesis

Pearson Correlation Sig Pengajaran Pendidikan Keuangan

0,447 0,037 Kemampuan Literasi Keuangan Anak

Berdasarkan hasil uji hipotesis diatas dapat disimpulkan bahwa hipotesis “adanya hubungan pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi anak usia 4-5 tahun” diterima, karena hasil nilai signifikansi sebesar 0,037 < 0,05. Maka, terdapat hubungan pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi anak usia 4-5 tahun.

Secara rinci dapat dilihat pada lampiran 21 halaman 106.

b. Hubungan Korelasi

Hubungan korelasi antara pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun dapat ditentukan dengan pedoman interpretasi koefisien korelasi yang dikemukakan oleh Sugiyono (2017) untuk mengetahui kuat atau tidaknya hubungan tersebut. Pedoman untuk memberikan interpretasi koefisien korelasi adalah sebagai berikut.

Tabel 4. 14 Interpretasi Koefisien Korelasi

Interval Koefisien Tingkat Hubungan

0,00 – 0,199 Sangat Rendah

0,20 – 0,399 Rendah

0,40 – 0,599 Sedang

0,60 – 0,799 Kuat

0,80 – 1,000 Sangat Kuat

Nilai koefesien korelasi yang diperoleh dari perhitungan dengan menggunakan Pearson Product Moment sebesar 0,447. Nilai tersebut terdapat padat kategori sedang yaitu antara 0,40-0,599, artinya hubungan antara pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun memiliki hubungan yang sedang. Maka, dapat disimpulkan bahwa pengajaran pendidikan keuangan memengaruhi kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun. Secara rinci dapat dilihat pada lampiran 21 halaman 106.

c. Arah Hubungan

Arah hubungan dalam penelitian korelasi ditentukan dari kriteria sebagai berikut.

1) Positif, jika koefisien korelasi antara 0 sampai dengan 1 2) Negatif, jika koefisien korelasi antara 0 sampai dengan -1 3) Nihil, jika koefisien korelasi 0

Berdasarkan tabel hasil uji hipotesis korelasi menunjukkan nilai koefisien sebesar 0,447 yang berarti menunjukkan tanda yang positif (+) karena berada di antara 0 sampai dengan 1. Hasil nilai koefisien yang positif juga memiliki arti bahwa arah hubungan antara kedua variabel searah (Azwar, 2012). Artinya jika nilai pengajaran pendidikan keuangan tinggi dan maksimal, maka nilai kemampuan literasi keuangan anak meningkat, sebaliknya jika nilai pengajaran pendidikan keuangan rendah maka nilai kemampuan literasi keuangan anak menurun. Maka, dapat disimpulkan bahwa jika nilai pengajaran pendidikan keuangan tinggi

akan berpengaruh terhadap kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun. Secara rinci dapat dilihat pada lampiran 21 halaman 106.

B. Pembahasan

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun di 3 lembaga TK di Gugus 3 Ciputat Timur, Kota Tangerang Selatan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan seluruh anggota populasi dalam penelitian. Data pengajaran pendidikan keuangan dan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun diperoleh melalui persebaran kuesioner yang dibagikan ke guru kelas A dan orang tua.

Data yang sudah terkumpul kemudian diuji prasyarat analisis, yaitu uji normalitas dan uji linieritas. Hasil dari uji normalitas, data berdistribusi normal dan hasil uji linieritas data memiliki hubungan yang linier. Data yang sudah di uji prasyarat analisis, selanjutnya diuji hipotesis menggunakan uji hipotesis korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan SPSS 20 for Windows. Hasil dari uji hipotesis, terdapat hubungan antara pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun, artinya hipotesis diterima.

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan adanya hubungan yang tergolong sedang antara pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun. Selain itu, hasil penelitian juga menunjukkan arah hubungan yang positif (+). Azwar (2012a), berpendapat bahwa arah hubungan yang positif memiliki arti arah hubungan antara kedua variabel searah. Artinya jika nilai pengajaran pendidikan keuangan tinggi dan maksimal, maka nilai kemampuan literasi keuangan anak meningkat, sebaliknya jika nilai pengajaran pendidikan keuangan rendah maka nilai kemampuan literasi keuangan anak menurun.

Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Deng, dkk (2013), yang menyatakan pengajaran pendidikan keuangan memiliki hubungan yang positif terhadap pengetahuan dan perilaku keuangan pribadi yang dimiliki anak, artinya

kemampuan seseorang dalam mengelola keuangan dapat meningkat dengan adanya pengajaran pendidikan keuangan. Deng, dkk (2013) juga menyatakan pengetahuan literasi keuangan yang dimiliki guru akan memengaruhi efektifitas pendidikan keuangan yang akan mereka sampaikan.

Pengajaran pendidikan keuangan yang dilakukan guru harus memperhatikan tahapan usia anak. Pada penelitian ini, usia anak 4-5 tahun berada pada tahap praoperasional, dimana anak belajar dengan gambar atau simbol.Dalam mengenalkan uang kepada anak, guru menggunakan media asli yaituuang yang ditunjukkan kepada anak, sehingga anak mudah memahami apa yangguru sampaikan. Dari hasil penelitian 54,5% anak dapat menunjukkan dan membedakan antara uang kertas dan uang koin atau logam. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Roos, dkk (2005) yang menyatakan bahwa kemampuan anak untuk memahami konsep keuangan juga dipengaruhi oleh berpikir secara operasional.

Hasil penelitian oleh Roos, dkk (2005) juga menunjukkan program pengajaran yang sesuai dengan usia anak untuk memperkenalkan konsep ekonomi seperti uang, pendapatan, pengeluaran, dan tabungan secara signifikan meningkatkan pemahaman anak-anak tentang literasi keuangan. Keberhasilan dari pengajaran program pendidikan keuangan dikaitkan dengan beberapa faktor meliputi: (1) penilaian dasar terhadap kemampuan literasi anak menghasilkan informasi yang akan digunakan untuk membuat program pengajaran yang sesuai, (2) penggunaan materi yang sesuai dengan usia anak, dan (3) keterlibatan guru dan orang tua yang kemungkinan akan berdampak positif pada hasil pengajaran yang dilakukan.

Penggunaan metode pembelajaran yang digunakan guru dalam pengajaran pendidikan keuangan juga akan memengaruhi kemampuan literasi keuangan anak. Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Jayaraman, dkk (2018) menyatakan bahwa pembelajaran berdasarkan pengalaman dan praktik telah terbukti berdampak positif pada anak untuk pengetahuan keuangannya, seperti guru di India mengajari anak-anak tentang transaksi uang menggunakan pengalaman

ditoko, sedangkan guru di Amerika menggunakan uang mainan, kartu kredit, serta permainan yang interaktif.

Hasil penelitian, menunjukkan guru menggunakan metode bermain peran.

Guru mengajak anak untuk bermain peran makro seperti kasir-kasiran atau berbelanja. Pada kegiatan tersebut anak praktik secara langsung bagaimana melakukan transaksi jual-beli, memilih sendiri barang yang ingin mereka beli, membuat keputusan uang mana yang akan mereka gunakan. Melalui kegiatan ini 54,5% anak bisa memilih sendiri beberapa jajanan atau barang yang mereka butuhkan serta dapat memilihkan untuk orang lain dan 45,5% anak bisa membayar jajanan yang mereka beli kepenjual secara mandiri.

Keterlibatan orang tua dalam meningkatkan kemampuan literasi keuangan anak juga termasuk kedalam pengajaran pendidikan keuangan yang dilakukan guru (Jayaraman dkk, 2018). Hal ini sejalan dengan penelitian oleh Santana dan Zahro (2020) bahwa hubungan antara keterlibatan orang tua terhadap kemampuan pendidikan sosial anak usia 5-6 tahun memiliki hubungan yang kuat dan positif. Kemampuan pendidikan sosial dan finansial anak berkembang sesuai harapan, hal ini dikarenakan orang tua sering melakukan keterlibatan dengan anak dalam berbagai kegiatan sekolah seperti menabung dicelengan, berkunjung ke supermaket, dan mengikuti parents class.

Hasil penelitian, sekolah menerapkan kegiatan menabung di sekolah maupun dirumah sebagai langkah orang tua dan anak belajar akan pentingnya mengelola keuangan mereka. Di rumah orang tua berperan aktif melakukan kegiatan menabung secara mandiri bersama anak. Kegiatan ini dapat membantu untuk meningkatkan kemampuan literasi keuangan anak, hasil penelitian menunjukkan 36,4% anak bisa menabung di celengan secara mandiri.

Selain menambah pengetahuan dan wawasan anak terhadap uang, pengajaran pendidikan keuangan yang diberikan juga dapat membentuk karakter anak seperti berhemat, bertanggung jawab, berbagi dan memberi, serta berani mengambil risiko. Pada kegiatan berbagi atau beramal pada 3 lembaga sekolah di Gugus 3 Ciputat Timur, Tangerang Selatan sudah diterapkan. Hal ini mengajarkan anak tetang pengeluaran uang dan cinta kasih sayang terhadap

sesama. Kegiatan ini dapat membentuk karakter dan pola pikir anak terhadap keuangannya. Yuwono (2020) berpendapat, bahwa literasi keuangan berkaitan dengan pendidikan karakter, karena anak diajarkan mengelola keuangan untuk persiapan hidup dimasa depan dan mendapatkan kesejahteraan finansial, sehingga pola pikirnya akan terbentuk.

Pengajaran pendidikan keuangan yang dilakukan guru memiliki hubungan dalam dunia pendidikan anak usia dini. Pengajaran pendidikan keuangan dapat meningkatkan kemampuan literasi keuangan anak, membentuk karakter anak yang bertangung jawab, konsisten dan bijaksana dalam mengambil keputusan dalam hidupnya. Pendidikan keuangan juga memiliki tujuan agar anak mampu mengembangkan dirinya, memiliki wawasan yang luas dan bertanggung jawab, belajar mengelola keuangan dan barang yang dimilikinya, menabung, belajar membuat rencana dan keputusan, serta anak ikut berkontribusi dalam sosial finansialnya (PP-PAUD dan Dikmas Jawa Barat, 2018).

Kesimpulan dalam penelitian ini adalah pengajaran pendidikan keuangan dengan kemampuan literasi keuangan anak usia 4-5 tahun di 3 lembaga sekolah di Gugus 3 Ciputat Timur, Tangerang Selatan memiliki hubungan. Hubungan antara kedua variabel memiliki tingkat hubungan yang tergolong sedang.

Pengetahuan guru terhadap literasi keuangan berpengaruh terhadap proses pengajaran pendidikan keuangan mereka. Guru yang tidak memiliki cukup pengetahuan pendidikan keuangan pada anak dikhawatirkan akan memberikan pengajaran pendidikan keuangan yang tidak maksimal. Maka, penelitian ini dapat menjadi bahan pembelajaran dan pertimbangan guru agar bisa selalu mengembangkan pengetahuannya dan menjadi motivasi dalam setiap pengajaran yang dilakukan.

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 22-28)

Dokumen terkait