• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Uji Analisis Data Penelitian

2. Hasil Uji Hipotesis Penelitian

Karena variabel dependen bersifat dummy (mengalami financial distress dan tidak mengalami financial distress), maka pengujian terhadap hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji regresi logistik. Tahapan dalam pengujian dengan menggunakan uji regresi logistik dapat dijelaskan sebagai berikut (Ghozali, 2012):

a. Hasil Uji Kesesuaian Keseluruhan Model (Overall Model Fit)

Pengujian dilakukan dengan membandingkan nilai antara -2 Log Likelihood (-2LL pada awal (Block Number=0) dengan nilai -2 Log Likelihood (-2LL) pada akhir (Block Number=1). Nilai -2LL awal adalah sebesar 174.673. Setelah dimasukkan ketujuh variabel independen, maka nilai -2LL akhir mengalami penurunan menjadi

71 128.747. Penurunan Likelihood (-2LL) ini menunjukkan model regresi yang lebih baik atau dengan kata lain model yang dihipotesiskan fit dengan data.

Tabel 4.5

Menilai Keseluruhan Model Iteration -2 Log

likelihood

Coefficients Constant SIZECA FRECA INCA SIZEDI

R SIZECO M MANJ INST Step 1 1 138.165 2.107 -.321 -.102 -1.154 -.227 -.918 .015 1.280 2 129.944 4.308 -.938 -.192 -1.950 -.203 -.951 .588 2.296 3 128.772 5.655 -1.318 -.234 -2.342 -.225 -1.004 .833 2.753 4 128.747 5.894 -1.383 -.241 -2.404 -.232 -1.019 .859 2.812 5 128.747 5.900 -1.384 -.242 -2.405 -.232 -1.020 .860 2.813 6 128.747 5.900 -1.384 -.242 -2.405 -.232 -1.020 .860 2.813 Initial -2 Log Likelihood: 174.673

Sumber: output SPSS

b. Hasil Uji Koefisien Determinasi (Nagelkerke R. Square)

Besarnya nilai koefisien determinasi pada model regresi logistik ditunjukkan oleh nilai Nagelkerke R. Square. Nilai Nagelkerke R. Square adalah sebesar 0,407 yang berarti variabilitas variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh variabel independen adalah sebesar 40,7%, sedangkan sisanya sebesar 59,3% dijelaskan oleh variabel-variabel lain di luar model penelitian, seperti ukuran perusahaan, kinerja manajemen, kompentensi komite audit, kepemilikan saham oleh publik, dan rasio-rasio keuangan.

Tabel 4.6 Koefisien Determinasi Step -2 Log

likelihood

Cox & Snell R Square

Nagelkerke R Square

1 128.747a .305 .407

72 c. Hasil Uji Kelayakan Model Regresi

Kelayakan model regresi dinilai dengan menggunakan Hosmer and Lemeshow’s Goodness of Fit Test. Pengujian menunjukkan nilai Chi-square sebesar 5.597 dengan signifikansi (p) sebesar 0,692. Berdasarkan hasil tersebut, karena nilai signifikansi lebih besar dari 0,05 maka model dapat disimpulkan mampu memprediksi nilai observasinya.

Tabel 4.7

Menguji Kelayakan Model Regresi Step Chi-square Df Sig.

1 5.597 8 .692

Sumber: output SPSS d. Hasil Uji Multikolinearitas

Model regresi yang baik adalah regresi dengan tidak adanya gejala korelasi yang kuat diantara variabel bebasnya. Pengujian ini menggunakan matriks korelasi antar variabel bebas untuk melihat besarnya korelasi antar variabel independen.

Hasil Tabel 4.8 menunjukkan tidak ada nilai koefisien korelasi antar variabel yang nilainya lebih besar dari 0,8, maka tidak ada gejala multikolinearitas yang serius antar variabel bebas (Damayanti dan Sudarma, 2008).

73 Tabel 4.8

Hasil Uji Multikolinearitas

Constant SIZECA FRECA INCA SIZEDIR SIZECOM MANJ INST

Step 1 Constant 1.000 -.821 -.105 -.525 -.275 .051 -.221 -.158 SIZECA -.821 1.000 -.018 .130 .073 -.237 -.018 -.149 FRECA -.105 -.018 1.000 .094 -.188 .147 -.026 -.222 INCA -.525 .130 .094 1.000 .218 .119 -.019 -.101 SIZEDIR -.275 .073 -.188 .218 1.000 -.127 .249 .180 SIZECOM .051 -.237 .147 .119 -.127 1.000 .039 .026 MANJ -.221 -.018 -.026 -.019 .249 .039 1.000 .561 INST -.158 -.149 -.222 -.101 .180 .026 .561 1.000 Sumber: output SPSS

e. Hasil Matriks Klasifikasi

Matriks klasifikasi menunjukkan kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan terjadinya financial distress pada sebuah perusahaan.

Tabel 4.9 Matriks Klasifikasi Observed Predicted FDISTRESS Percentage Correct 0 1 Step 1 FDISTRESS 0 46 17 73.0 1 15 48 76.2 Overall Percentage 74.6 Sumber: Output SPSS

Kekuatan prediksi dari model regresi untuk memprediksi kemungkinan perusahaan mengalami financial distress adalah sebesar 76,2%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan menggunakan model regresi yang digunakan, terdapat sebanyak 48 sampel (76,2%)

74 yang diprediksi akan mengalami financial distress dari total 63 sampel yang mengalami financial distress. Kekuatan prediksi model perusahaan yang tidak mengalami financial distress adalah sebesar 73% yang berarti bahwa dengan model regresi yang digunakan ada sebanyak 46 sampel (73%) yang diprediksi tidak mengalami financial distress dari total 63 sampel yang tidak mengalami financial distress.

f. Hasil Uji Regresi Logistik

Model regresi logistik yang terbentuk disajikan pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.10

Hasil Uji Koefisien Regresi Logistik

B S.E. Wald Df Sig. Exp(B)

Step 1a SIZECA -1.384 .646 4.597 1 .032 .251 FRECA -.242 .075 10.409 1 .001 .785 INCA -2.405 1.508 2.545 1 .111 .090 SIZEDIR -.232 .473 .240 1 .624 .793 SIZECOM -1.020 .470 4.716 1 .030 .361 MANJ .860 2.050 .176 1 .675 2.363 INST 2.813 1.184 5.642 1 .018 16.658 Constant 5.900 2.396 6.061 1 .014 364.911 Sumber: output SPSS

Hasil pengujian terhadap koefisien regresi menghasilkan model berikut ini:

FDISTRESS=5.900 – 1,384(SIZECA) - 0,242(FRECA) –

2,405(INCA) – 0,232(SIZEDIR) – 1.020(SIZECOM) + 0,860(MANJ) + 2,813(INST)+ ε

75 Berdasarkan pengujian regresi logistik (logistic regression) sebagaimana telah dijelaskan pada bagian sebelumnya, interprestasi hasil pengujian disajikan dalam tujuh bagian. Bagian pertama membahas pengaruh ukuran komite audit terhadap financial distress (FDISTRESS) (H1). Bagian kedua membahas pengaruh frekuensi pertemuan komite audit terhadap financial distress (FDISTRESS) (H2). Bagian ketiga membahas pengaruh proporsi komite audit independen terhadap financial distress (FDISTRESS) (H3). Bagian keempat membahas pengaruh ukuran dewan direksi terhadap financial distress (FDISTRESS) (H4). Bagian kelima membahas pengaruh ukuran dewan komisaris terhadap financial distress (FDISTRESS) (H5). Bagian keenam membahas pengaruh kepemilkan manajerial terhadap financial distress (FDISTRESS) (H6). Bagian ketujuh membahas pengaruh kepemilikan institusional terhadap financial distress (FDISTRESS) (H7). Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:

1) Pengaruh ukuran komite audit (SIZECA) terhadap financial distress (FDISTRESS)

Variabel SIZECA menunjukkan koefisien regresi negatif sebesar -1.384 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,032,

lebih kecil dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari α = 5% maka hipotesis ke-1 (H1) diterima. Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa ukuran komite audit

76 berpengaruh terhadap financial distress. Hasil penelitian ini mendukung hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan Pembayun dan Januarti (2012) tetapi bertolak belakang dengan hasil penelitian yang dilakukan Kristanti dan Syafrudin (2012).

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa semakin besar ukuran komite audit maka kemungkinan sebuah perusahaan mengalami financial distress akan semakin kecil. Semakin besar ukuran komite audit akan menambah keefektifan komite audit dalam menjalankan tugasnya. Teori dasar yang dikemukakan oleh (Pierce dan Zahra, 1992) menyatakan bahwa efektifitas komite audit akan meningkat bila ukuran komite meningkat, karena memiliki sumber daya lebih untuk menangani masalah-masalah yang dihadapi oleh perusahaan. Semakin banyak jumlah anggota komite audit perusahaan, maka pembagian tugas dalam melakukan pengendalian dalam sebuah perusahaan akan semakin jelas. Selain itu, jumlah anggota komite audit yang relatif kecil akan kekurangan keragaman keterampilan dan pengetahuan sehingga menjadi tidak efektif. Namun di lain pihak, menurut Dalton et al. (1999) komite audit yang lebih besar cenderung kehilangan fokus kurang partisipatif dibanding dengan ukuran yang lebih kecil.

Perusahaan dengan ukuran komite audit yang relatif kecil akan mengalami kesulitan dalam hal melakukan pembagian

77 tugas untuk mengawasi perusahaan karena kurangnya sumber daya. Kurangnya pengawasan akan menjadi celah bagi manajemen untuk bekerja tidak semaksimal mungkin. Sumber daya yang kurang memadai juga akan menghambat para anggota komite audit untuk bertukar pikiran dalam menyelesaikan masalah yang ada dalam perusahaan. Masalah yang tidak dapat segera diatasi bisa menjadi pemicu terjadinya financial distress. 2) Pengaruh frekuensi pertemuan komite audit (FRECA) terhadap

financial distress (FDISTRESS)

Variabel FRECA menunjukkan koefiesiensi regresi negatif sebesar -0,242 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,001,

lebih kecil dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih kecil dari α = 5% maka hipotesis ke-2 (H2) diterima. Hasil penelitian ini membuktikkan bahwa frekuensi pertemuan komite audit mempunyai pengaruh terhadap financial distress sebuah perusahaan. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Kristanti dan Syafrudin (2012). Tetapi Pembayun dan Januarti (2012) menunjukkan hasil berbeda bahwa frekuensi pertemuan komite audit tidak berpengaruh terhadap financial distress.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertemuan anggota komite audit mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap terjadinya financial distress sebuah perusahaan dengan

78 hubungan negatif. Hal ini berarti semakin sering komite audit melakukan pertemuan maka kemungkinan terjadinya financial distress akan semakin kecil.

Jika dilihat dari statistik deskriptif data penelitian ini rata-rata frekuensi pertemuan pada perusahaan non financially distressed adalah sebanyak 8 (delapan) kali, lebih besar dibandingkan dengan perusahaan financially distressed company yang hanya melakukan pertemuan rata-rata hanya 5 (lima) kali dalam setahun. Hal ini dapat menjadi faktor bahwa frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh terhadap financial distress.

Hal diatas sesuai dengan yang diwajibkan FGCI bahwa komite audit wajib untuk mengadakan pertemuan tiga sampai empat kali dalam setahun. Selain itu Ikatan Komite Audit Indonesia juga merekomendasikan bahwa frekuensi pertemuan komite audit dilakukan minimal 2 (dua) kali dalam 1 (satu) bulan. Frekuensi pertemuan tersebut harus jelas terstruktur dan dikontrol dengan baik oleh ketua komite.

Setiap mengadakan pertemuan, komite audit seringkali melakukan review atas kinerja yang dilakukan oleh auditor internal dalam rangka menjaga pengendalian internal yang tetap terlaksana dengan baik. Semakin sering komite audit melakukan pertemuan, maka kesempatan untuk bertukar pikiran dalam membahas permasalahan akan semakin sering sehingga

79 masalah-masalah yang ada dalam perusahaan dapat segera diselesaikan. Masalah yang segera terselesaikan akan meminimalisir kondisi financial distress.

3) Pengaruh proporsi komite audit independen (INCA) terhadap financial distress.

Pada Tabel 4.10 menunjukkan koefiesien regresi variabel INCA adalah negatif sebesar -2.405 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,111, lebih besar dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih besar dari α = 5% maka hipotesis ke-3 (H3) ditolak. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa prosentase komite audit independen tidak berpengaruh terhadap terjadinya financial distress dalam sebuah perushaan. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan Pembayun dan Januarti (2012) serta Wulandari (2010).Hasil ini juga berhasil mendukung penelitian yang dilakukan oleh Kristanti dan Syafrudin (2012) yang menyatakan bahwa komite audit independen mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap financial distress.

Di Indonesia, penentuan komposisi dan jumlah anggota komite audit mengacu pada Keputusan Ketua Bapepam No:KEP-29/PM/2004 tentang pembentukan dan pedoman pelaksanaan kerja komite audit yang menyebutkan bahwa jumlah komite audit minimal tiga orang yang seluruhnya adalah

80 anggota independen yang terdiri atas satu orang komisaris independen dan dua orang anggota yang berasal dari luar emiten. Proses penunjukkan anggota komite audit masih belum jelas dan terbuka sehingga tingkat independensi komite audit masih patut diragukan. Kemudian adanya ketentuan anggota komite audit kemungkinan menyebabkan keberadaan anggota komite audit pada perusahaan di Indonesia hanya sekedar memenuhi ketentuan regulasi dan menghindari sanksi yang ada sehingga belum efektif dalam menjalankan fungsinya.

4) Pengaruh ukuran dewan direksi (SIZEDIR) terhadap financial distresss

Pada Tabel 4.10 menunjukkan bahwa Variabel SIZEDIR memiliki koefisien regresi negatif sebesar -232 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,624, lebih besar dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih besar dari α = 5% maka hipotesis

ke-3 (H3) ditolak. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ukuran dewan direksi mempunyai tidak berpengaruh terhadap terjadinya financial distress sebuah perusahaan dengan hubungan negatif. Hasil penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan Adityaputra (2012). Tetapi hasil penelitian ini bertolak belakang dengan penelitian yang dilakukan oleh Tribodroastuti (2009), Emrinaldi (2007), dan Wardhani (2006) yang menyatakan bahwa terdapat pengaruh

81 negatif signifikan antara ukuran dewan direksi dengan probabilitas terjadinya financial distress.

Penelitian ini menunjukkan bahwa berapapun jumlah dewan direksi yang terdapat dalam sebuah perusahaan ternyata tidak mampu mendeteksi kemungkinan terjadinya financial distress. Faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi kegagalan hasil penelitian ini adalah efektifitas kinerja yang dilakukan dewan direksi. Seperti yang diungkapkan oleh Bukhori (2012) bahwa ukuran dewan direksi tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajemen. Sehingga berapapun jumlah anggota dewan direksi tidak akan mempengaruhi kinerja manajemen apabila kinerja yang dilakukan kurang efektif. Semakin banyak anggota dewan direksi membawa keuntungan bagi perusahaan dalam mengelola sumber daya. Tetapi jumlah yang terlalu banyak akan menimbulkan masalah komunikasi dan koordinasi.

5) Pengaruh ukuran dewan komisaris (SIZECOM) terhadap financial distress (FDISTRESS)

Variabel ukuran dewan komisaris SIZECOM menunjukkan koefisiensi regresi negatif sebesar -1.020 dengan tingkat signifikansi (p) sebesar 0,030, lebih kecil dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi (p) lebih besar dari α = 5% maka hipotesis

ke-5 (H5) diterima. Hasil penelitian ini membuktikan bahwa ukuran dewan komisaris mempunyai pengaruh terhadap

82 financial distress. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas (2013), Tribodroastuti (2009) dan Wardhani (2006). Meskipun demikian penelitian lain yang dilakukan Ellomi et al. (2001) dan Sulistyaningsih dan Indarto (2011) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dan signifikan antara ukuran dewan komisaris dan financial distress.

Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin besar ukuran dewan komisaris akan mengurangi kemungkinan sebuah perusahaan mengalami financial distress. Mengingat fungsi komisaris adalah menjalankan fungsi monitoring maka penelitian ini menjelaskan bahwa perusahaan yang sedang mengalami kondisi financial distress cenderung memiliki dewan komisaris yang lebih sedikit.

Jumlah dewan komisaris yang lebih sedikit akan menyulitkan dewan komisaris melakukan monitoring secara efektif terhadap kinerja manajemen. Apabila pengawasan yang diberikan oleh dewan komisaris lemah maka kemungkinan manajemen bekerja dengan tidak efektif akan mungkin terjadi. Hal itu berdampak pada menurunnya profitabilitas perusahaan. 6) Pengaruh kepemilikan saham manajerial (MANJ) terhadap

financial distress (FDISTRESS)

Variabel kepemilikan manajerial (MANJ) menunjukkan koefisiensi regresi positif sebesar 0,860 dengan tingkat

83 signifikansi sebesar 0,675, lebih besar dari α = 5%. Karena

tingkat signifikansi lebih besar dari α = 5% maka hipotesis ke-6 (H6) ditolak. Hasil penelitian membuktikan bahwa kepemilikan manajerial tidak berpengaruh terhadap financial distress. Hasil ini berhasil mendukung penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas (2013), Parulian (2007), Tribodroastuti (2009), dan Abdullah (2006). Tetapi tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Emrinaldi (2007) dan Sulistyaningsih (2011) yang menyatakan bahwa kepemilikan manajerial berpengaruh terhadap financial distress.

Rata-rata kepemilikan saham manajerial pada perusahaan yang mengalami financial distress lebih besar dibandingkan dengan perusahaan yang tidak mengalami financial distress. Hal tersebut yang mungkin mempengaruhi koefisien regresi variabel ini menjadi positif.

Secara umum kepemilikan saham manajerial dalam seluruh perusahaan sampel menunjukkan rata-rata yang relatif kecil, yaitu sebesar 0,266%. Oleh karena persentase kepemilikan saham manajerial relatif kecil, maka hak suara manajerial dalam rapat-rapat pemegang saham tidak terlalu dipertimbangkan. Sehingga adanya kepemilikan saham oleh manajerial tidak mempengaruhi keputusan yang diambil oleh para pemegang saham atau perusahaan.

84 Dalam beberapa perusahaan, kepemilikan oleh pihak manajerial hanya sebagai simbol saja yang hanya dimanfaatkan untuk menarik perhatian investor. Jika investor mengetahui bahwa suatu perusahaan memiliki kepemilikan oleh pihak manajerial, maka investor akan beranggapan bahwa nilai dari perusahaan tersebut akan meningkat seiring dengan adanya kepemilikan oleh pihak manajerial itu tadi. Jika pengelola perusahaan memiliki sebagian dari saham perusahaan, berarti masalah-masalah keagenan antara pemilik perusahaan dengan pihak pengelola dapat teratasi, dan pengelola perusahaan pasti akan memaksimalkan nilai perusahaan (Xiaolon dan Zongjun dalam Ayuningtyas, 2013). Tetapi kepemilikan saham manajerial yang relatif kecil dan dimiliki oleh hanya segelintir pihak manajerial tidak akan mampu mengatasi masalah keagenan.

7) Pengaruh kepemilikan institusional (INST) terhadap financial distress

Variabel kepemilikan institusional (INST) menunjukkan koefisiensi regresi positif sebesar 2.813 dengan tingkat signifikansi sebesar 0,018, lebih kecil dari α = 5%. Karena tingkat signifikansi lebih kecil dari α = 5% maka hipotesis ke-7 (H7) diterima. Hasil penelitian membuktikan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh terhadap financial

85 distress. Hasil ini konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Ayuningtyas (2013), Emrinaldi (2007), serta Sulistyaningsih & Indarto (2011). Namun hasil penelitian ini tidak konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Parulian (2007) dan Tribodroastuti (2009).

Investor institusional adalah pemilik sementara (transfer owner). Mereka biasanya melakukan spekulasi atas kinerja yang dilakukan manajemen. Ketika kinerja menurun, harga saham jatuh, dan nilai perusahaan menurun seringkali insvestor institusional menarik sahamnya dan meninggalkan perusahaan tersebut. Biasanya kepemilikan institusional memiliki persentase yang cukup besar dalam struktur permodalan perusahaan. Ketika investor institusional menarik sahamnya, akan kembali mempengaruhi struktur permodalan perusahaan. Apabila semakin kecil persentase kepemilikan institusional, penarikan saham oleh investor tidak akan berpengaruh banyak terhadap kinerja manajemen dan kecenderungan terjadinya financial distress akan berkurang.

Menurut Pound dalam Diyah & Erman (2009), investor institusional yang mayoritas memiliki kecenderungan untuk berkompromi atau berpihak kepada manajemen dan mengabaikan kepentingan pemegang saham minoritas. Dengan adanya kondisi tersebut, maka keputusan-keputusan yang

86 diambil manajemen mungkin saja bukan keputusan yang optimal sesuai kondisi perusahaan. Keputusan yang diambil adalah keputusan untuk kepentingan mereka dan investor institusioal tadi. Keadaan tersebut akan mengganggu kinerja manajemen dan jalannya Good Corporate Governance di perusahaan itu sendiri.

87 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Penelitian ini meneliti tentang pengaruh karakteristik komite audit, ukuran dewan, dan struktur kepemilikan terhadap financial distress. Analisis dilakukan dengan menggunakan analisis regresi logistik dengan program Statistical Package for Social Science (SPSS) Ver. 21. Data sampel perusahaan sebanyak 126 pengamatan perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2009-2011.

Hasil pengujian dan pembahasan pada bagian sebelumnya dapat diringkas sebagai berikut:

1. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa ukuran komite audit secara statistik berpengaruh terhadap financial distress selama tiga tahun pengamatan (2009-2011).

2. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa frekuensi pertemuan komite audit berpengaruh terhadap financial distress selama tiga tahun pengamatan (2009-2011).

3. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa proporsi komite audit independen tidak berpengaruh terhadap financial distress selama tiga tahun pengamatan (2009-2011).

4. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa ukuran dewan direksi tidak berpengaruh terhadap financial distress selama tiga tahun pengamatan (2009-2011).

88 5. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa ukuran dewan komisaris berpengaruh terhadap financial distress selama tiga tahun pengamatan (2009-2011).

6. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa kepemilikan saham manajerial tidak berpengaruh terhadap financial distress selama tiga tahun pengamatan (2009-2011).

7. Berdasarkan hasil uji regresi logistik (logistic regression) menunjukkan bahwa kepemilikan saham institusional berpengaruh terhadap financial distress selama tiga tahun pengamatan (2009-2011).

B. Saran

Penelitian mengenai financial distress dimasa yang akan datang diharapkan mampu memberikan hasil yang penelitian yang lebih berkualitas, dengan mempertimbangkan saran dibawah ini:

1. Untuk penelitian selanjutnya, diharapkan lebih membatasi pada industri tertentu sehingga mengurangi adanya industrial effect.

2. Menggunakan proxy lain untuk variabel financial distress agar lebih menggambarkan kondisi financial distress, misalnya menggunakan proksi Z-Score.

3. Menambah variabel karakteristik komite audit, misalnya kompetensi komite audit.

89 C. Implikasi

Berdasarkan hasil penelitian diatas, terdapat implikasi untuk beberapa pihak yang berkaitan dengan penelitian ini, diantaranya:

1. Manajemen.

Ketika perusahaan sedang mengalami kondisi financial distress, maka manajemen perlu mengambil keputusan guna mengatasi kondisi financial distress. Diantaranya menambah anggota dewan, mengurangi kepemilikan saham oleh institusional lain, dan menambah komite audit. 2. Investor atau pemegang saham

Ketika investor menanamkan modal ke sebuah perusahaan tentu mengharapkan deviden atas laba yang dihasilkan perusahaan. Namun, ketika perusahaan mengalami financial distress maka perusahaan cenderung tidak membagikan deviden kepada investor. Oleh karena itu ketika perusahaan dalam kondisi financial distress investor perlu menambah anggota dewan komisaris guna mengatasi financial distress. 3. Pihak ketiga (Kreditur dan debitur)

Penelitian ini berkaitan dengan prediksi financial distress dan mempunyai relevansi kepada pihak ketiga untuk membuat keputusan dalam memberikan atau meminta pinjaman. Karena sebuah perusahaan yang sedang mengalami financial distress biasanya tidak dapat memenuhi kewajibannya utangnya kepada pihak ketiga karena kekurangan kas.

90 4. Regulator (Pemerintah dan Bapepam)

Regulator mempunyai tanggung jawab mengawasi kesanggupan membayar hutang dan menstabilkan perusahaan individu. Bagi regulator, ketika banyak perusahaan yang terkena financial distress maka harus segera mengambil keputusan/kebijakan agar dapat mengatasi financial distress. Misalnya mengatur jumlah minimal anggota dewan dalam sebuah perusahaan, atau mewajibkan rapat komite audit 1 bulan sekali.

91 DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, S.N. “Board Structure and Ownership in Malaysia: The Case of Distressed Listed CompaniesCorporate Governance”, 6(5): 582-594. 2006

Adityaputra,Stephanus Andi.”Pengaruh Penerapan Corporate Governance Terhadap Kondisi Kesulitan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia (BEI)”, Tesis, Fakultas

Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, 2012.

Almilia,Luciana dan Spica Kristijadi.”Analisis Rasio Keuangan Untuk Memprediksi Kondisi Financial Distress Perusahaan Manufaktur Yang Terdaftar Di Bursa Efek Jakarta”, JAAI Vol 7 No.2 STIE Perbanas, Surabaya, 2003

Anggarini, Tifani Vota.“Pengaruh Karakteristik Komite Audit terhadap Financial Distress.Skripsi, Fakultas Ekonomi, Universitas Diponegoro. Semarang, 2010

Ayuningtyas,”Analisis Pengaruh Struktur Kepemilikan, Board Composition, Dan Agency Cost Terhadap Financial Distress.‟, Jurnal Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Surabaya, 2013

Bapepam, 2000. Pembentukan Komite Audit, Surat Edaran Bapepam No.SE.03/PM/2000

Bodroastuti,Tri.” Pengaruh Struktur Corporate Governance terhadap Financial Distress”, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Widya Manggala, 2009

Boediono, Gideon SB, ”Kualitas Laba: Studi Pengaruh Mekanisme Corporate Governance dan Dampak Manajemen Laba Dengan Menggunakan Analisis Jalur.”, Seminar Nasional Akuntansi, Solo, 2005.

Brigham, Eugene F dan Philip R. Daves.”Intermediete Financial Management”. Eight Edition, Thomson,South-Western.P. 837-859, 2003

92

Bukhori, Iqbal dan Raharja.”Pengaruh Good Corporate Governance dan Ukuran Perusahaan terhadap Kinerja Perusahaan: Studi Empiris pada Perusahaan yang Terdaftar di BEI 2010), Jurnal Akuntansi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, UNDIP, 2012.

Classens, S., Djankov, S. dan Lang.L.H. “The Separation of Ownership and Control in East Asian Corporation”.Journal of Finance Economics, Vol.58, 2000

Cornett M. M, J. Marcuss, Saunders dan Tehranian H.“Earnings Management, Corporate Governance, and True Financial Turnaround and Nonturnaround Declining Firms Performance”. Journal of Business Research, Vol. 39, 2006

Dezoort, F. Todd, et al.”Audit Committee Effectiveness: A Synthesis of the Empirical Audit Committee Literature”, Journal of Accounting Literature.Vol.21, hlm.38-75, Gainesville, 2002

Effendi, Muh Arief. ”The Power of Good Corporate Governance: Teori dan Implementasi”,Salemba Empat, Jakarta, 2009

Elloumi, F. dan Gueyie´ , J.P. „„Financial distress and corporate governance: an empirical analysis’‟, Vol. 1 No. 1, pp. 15-23 Corporate Governance: The International Journal of Business in Society, 2001,

Forum for Corporate Governance in Indonesia (FCGI).”Peranan Dewan Komisaris dan Komite Audit dalam Pelaksanaan Corporate Governance (Tata Kelola Perusahaan)”, FCGI, Jakarta, 2002

Ghozali, Imam.”Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 20”, Cetakan VI, Badan Penerbit Universitas Diponogoro, Semarang, 2012

Hamid Abdul, “Buku Panduan Penulisan Skripsi”, Fakultas Ekonomi dan Ilmu

93 Jensen, M.C. dan Meckling, W.H. „„Theory of the firm: managerial behavior, agency cost an ownership structure‟‟, Vol. 3, pp. 305-60,Journal of Financial Economics, 1976

Kamaluddin, dan Pribadi, Karina Ayu.”Prediksi Financial Distress Kasus Industri Manufaktur Pendekatan Model Regresi Logistik”, Forum

Bisnis dan Kewiraushaan Jurnal Ilmiah STIE MDP, FE Universitas Bengkulu, 2011

Keputusan Direksi PT Bursa Efek Jakarta. Nomor: Kep-339/BEJ/07-2001 tentang

Dokumen terkait