BAB III METODOLOGI PENELITIAN
B. Hasil dan Pembahasan
2. Hasil Uji Hipotesis Penerimaan Pajak Penghasilan
Persentase Terhadap WP Terdaftar 2005 131.036 - - 3,63% 2006 136.101 5.065 3,87% 3,43% 2007 144.741 8.640 6,35% 2,37% 2008 147.248 2.507 1,78% 1,49% 2009 150.147 2.899 1,97% 0,94% 2010 150.782 635 0,42% 0,77%
Sumber: Direktorat TIP, data diolah
2. Hasil Uji Hipotesis Penerimaan Pajak Penghasilan Tabel 4.9
Mann Whitney Test Ranks Penerimaan Pajak Penghasilan Ranks
PERIODE N Mean Rank Sum of Ranks
JMLPENERIMAAN Sebelum 16 9.00 144.00
Sesudah 8 19.50 156.00
Total 24
Sumber : Hasil pengolahan SPSS 17
Tabel 4.9 diatas adalah ringkasan data statistik penerimaan pajak penghasilan dari kedua sampel (sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan). Data penerimaan pajak penghasilan yang diperoleh selama 6 tahun (4 tahun sebelum dan 2 tahun sesudah) diolah secara triwulanan, sehingga menghasilkan 16 sampel sebelum penerapan UU No. 36 Tahun 2008 dan 8 sampel sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008. Penerimaan pajak penghasilan sebelum penerapan UU No. 36 Tahun 2008 tersebut memiliki Mean Rank
(rata-rata peringkat) sebesar 9,00 dan Sum of Ranks (jumlah peringkat) sebesar 144,00. Sedangkan penerimaan pajak penghasilan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 memiliki Mean Rank (rata-rata peringkat) sebesar 19,50 dan Sum of Ranks (jumlah peringkat) sebesar 156,00. Maka dari hasil test ranks di atas dapat disimpulkan bahwa nilai rata-rata penerimaan pajak penghasilan sebelum penerapan UU No. 36 Tahun 2008 lebih kecil dibandingkan dengan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 (9,00 < 19,50).
Tabel 4.10
Hasil Output Mann Whitney Test Statistics Penerimaan Pajak Penghasilan Test Statisticsb JMLPENERIMAAN Mann-Whitney U 8.000 Wilcoxon W 144.000 Z -3.429
Asymp. Sig. (2-tailed) .001
Exact Sig. [2*(1-tailed Sig.)]
.000a a. Not corrected for ties.
b. Grouping Variable: PERIODE Sumber: Hasil Pengolahan SPSS 17
Dari tabel hasil uji Mann Whitney test statistics diatas diperoleh nilai z hitung sebesar -3,429 dan nilai Asymp.Sig.(2-tailed) sebesar 0,001 sedangkan untuk tingkat kepercayaan 95% uji dua sisi (2-tailed) nilai z tabel yang didapat adalah ±1,96. Dengan membandingkan z hitung yang diperoleh dengan z tabel (-3,429 > -1,96) dan melihat angka probabilitas (0,001 < 0,05) maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang
signifikan pada penerimaan Pajak Penghasilan periode sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 (tolak Ho, terima Ha).
Potensi penerimaan pajak Negara berasal dari Pajak Penghasilan baik Non Migas maupun Migas, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Bumi dan Bangunan, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan, serta Pajak Lainnya. Secara keseluruhan penerimaan pajak Negara dari tahun 2005 sampai dengan tahun 2010 adalah sebagai berikut:
Tabel 4.11
Total Penerimaan Pajak Tahun 2005 s/d Tahun 2010 Tahun Total Penerimaan Pajak
2005 Rp234.353.310.848.210 2006 Rp273.761.669.225.917 2007 Rp367.234.748.073.903 2008 Rp460.186.162.049.444 2009 Rp444.669.577.438.308 2010 Rp521.024.535.178.164
Sumber: Direktorat TIP, data diolah
Untuk mengetahui dan menganalisis pertumbuhan penerimaan Pajak Penghasilan sebelum dan sesudah penerapan UU No. 36 Tahun 2008 digunakan rumus yang sama seperti dalam penghitungan pertumbuhan jumlah Wajib Pajak yaitu (Wahyuni, Priyo Hari Adi: 2009)
( )
%
100
1 1x
P
P
P
r
t t t − −−
=
Ket : r = Pertumbuhan Penerimaan PPh Pt = Penerimaan PPh pada periode ke-t
Total penerimaan Negara yang berasal dari Pajak Penghasilan, khususnya Pajak Penghasilan Non Migas dapat diketahui dari tabel berikut
Tabel 4.12
Penerimaan Pajak Penghasilan Non Migas Tahun 2005 s/d Tahun 2010
Tahun Total Penerimaan PPh Non Migas Tingkat Pertumbuhan (%) Persentase Terhadap Total Penerimaan Pajak 2005 Rp123.419.368.476.029 - 52,66% 2006 Rp144.254.200.247.265 16,88% 52,69% 2007 Rp179.599.634.818.947 24,50% 48,91% 2008 Rp228.331.808.157.502 27,13% 49,62% 2009 Rp243.609.226.064.721 6,69% 54,78% 2010 Rp265.289.242.504.854 8,89% 50,92%
Sumber: Direktorat TIP, data diolah
Dari tabel di atas terlihat bahwa penerimaan Pajak Penghasilan Non Migas mengalami pertumbuhan sejak tahun 2005 sampai dengan 2008, sedangkan di tahun 2009 yang merupakan tahun awal penerapan UU No. 36 Tahun 2008 Tentang Pajak Penghasilan yang baru, pertumbuhan penerimaan Pajak Penghasilan Non Migas mengalami penurunan sebesar 20,44% dari tahun sebelumnya, kemudian pada tahun 2010 penerimaan tersebut hanya tumbuh sekitar 2,20% saja. Kenaikan dan penurunan penerimaan Pajak Penghasilan juga dapat diketahui dengan membandingkan penerimaan PPh pada tahun yang bersangkutan dengan jumlah Wajib Pajak PPh efektifnya sehingga diketahui rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak.
Tabel 4.13
Rata-Rata Penerimaan Pajak Penghasilan Per Wajib Pajak Tahun Jumlah Penerimaan
PPh Jumlah WP PPh Efektif Rata-rata Penerimaan PPh Per WP 2005 Rp123.419.368.476.029 3.480.913 Rp35.456.033 2006 Rp144.254.200.247.265 3.832.476 Rp37.639.949 2007 Rp179.599.634.818.947 5.951.175 Rp30.178.853 2008 Rp228.331.808.157.502 9.728.505 Rp23.470.390 2009 Rp243.609.226.064.721 15.782.566 Rp15.435.337 2010 Rp265.289.242.504.854 19.426.617 Rp13.655.967
Sumber: Direktorat TIP, data diolah
Dari tabel 4.13 di atas dapat diketahui bahwa jumlah penerimaan PPh dari tahun 2005-2010 mengalami pertumbuhan dengan persentase sebesar 214,95% selama 6 tahun. Sedangkan jumlah WP PPh efektif di tahun 2005-2010 mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dimana dalam jangka waktu 6 tahun persentasenya meningkat hingga mencapai 558,09%. Tetapi rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak hanya mengalami peningkatan pada tahun 2005-2006. Rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak tertinggi terjadi pada tahun 2006, kemudian cenderung menurun di tahun 2007 hingga tahun 2010 sedangkan jumlah Wajib Pajak PPh Efektif terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Penurunan rata-rata penerimaan PPh per Wajib Pajak yang cukup signifikan terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar Rp8.035.053 per Wajib Pajak dari tahun 2008. Dengan jumlah Wajib Pajak efektif sebanyak 15.782.566 dan rata-rata penerimaan PPh per WP adalah Rp15.435.337 maka total penerimaan PPh di tahun 2009 hanya sebesar
Rata-rata Penerimaan PPh Per WP = Jumlah Penerimaan PPh Tahun Jumlah WP PPh Efektif Tahun
Rp243.609.226.064.721. Sedangkan di tahun 2010, pada saat jumlah Wajib Pajak PPh efektif mencapai titik tertinggi sebesar 19.426.617 Wajib Pajak, penerimaan PPh hanya sebesar Rp265.289.242.504.854 dengan rata-rata penerimaan PPh per WP sebesar Rp13.655.967. Rata-rata penerimaan PPh pada tahun 2010 ini juga menurun sebesar Rp1.779.370 dari tahun 2009. Selain karena jumlah penghasilan yang diperoleh Wajib Pajak setiap tahunnya tidak selalu tetap, sehingga berpengaruh terhadap Pajak Penghasilan yang dibayarkan, faktor lain yang menyebabkan terjadinya penurunan penerimaan ini adalah telah berlakunya penurunan tarif Pajak Penghasilan dan kenaikan Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang terdapat pada UU No. 36 Tahun 2008 tentang Pajak Penghasilan. Sebagian besar jumlah Wajib Pajak PPh efektif di Indonesia adalah Wajib Pajak Orang Pribadi, dimana kewajibannya pemotongan/pemungutan pajaknya telah dilakukan oleh Wajib pajak badan, sedangkan di dalam UU No. 36 Tahun 2008 tarif PPh bagi WP Orang Pribadi mengalami penurunan sehingga dengan adanya penambahan pada jumlah Wajib Pajak PPh efektif, terutama Wajib Pajak PPh Orang Pribadi, tidak mengakibatkan kenaikan terhadap penerimaan Pajak Penghasilan bahkan penerimaan PPh akan cenderung menurun.
Dengan adanya Wajib Pajak PPh yang berstatus Non Efektif, maka Direktorat Jenderal Pajak kehilangan potensi penerimaan Pajak Penghasilan yang seharusnya dapat diterima akibat tidak adanya penyetoran/pembayaran pajak. Potensi penerimaan pajak tersebut dapat
dihitung dengan mengalikan jumlah Wajib Pajak Non Efektif pada tahun yang bersangkutan dengan rata-rata penerimaan Pajak Penghasilan per Wajib Pajaknya.
Tabel 4.14
Potensi Penerimaan Pajak Penghasilan melalui Jumlah Wajib Pajak Non Efektif Tahun Jumlah WP PPh Non Efektif Rata-rata Penerimaan PPh Per WP Potensi Penerimaan PPh 2005 131.036 Rp35.433.789 Rp4.643.101.975.404 2006 136.101 Rp37.639.948 Rp5.122.834.562.748 2007 144.741 Rp30.178.852 Rp4.368.117.217.332 2008 147.248 Rp23.470.390 Rp3.455.967.986.720 2009 150.147 Rp15.435.337 Rp2.317.569.544.539 2010 150.782 Rp13.655.967 Rp2.059.074.016.194
Sumber: Direktorat TIP, data diolah
Dari tabel 4.14 di atas, diketahui potensi penerimaan PPh yang hilang akibat adanya Wajib Pajak Non Efektif. Sejak tahun 2005 hingga tahun 2010, total potensi penerimaan PPh yang hilang sebesar Rp21.966.665.302.937 atau sebesar 1,85% dari keseluruhan penerimaan PPh tahun 2005 hingga tahun 2010. Pada tahun 2005, potensi penerimaan PPh yang hilang adalah sebesar 3,76% dari total penerimaan Pphnya. Pada tahun 2006 potensi penerimaan PPh yang hilang sebesar 3,55%, tahun 2007 sebesar 2,43%, tahun 2008 sebesar 1,51%, tahun 2009 sebesar 0,95%, dan di tahun 2010 sebesar 0,78% dari total penerimaan Pajak Penghasilan pada tahun yang bersangkutan.
Potensi Penerimaan PPh = Jumlah WP PPh Non Efektif Tahun yang bersangkutan x Rata-rata Penerimaan PPh Per WP
3. Komparasi Jumlah Wajib Pajak dan Penerimaan Pajak Penghasilan