BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.2. Pembahasan
IV.2.1. Hasil Uji Hipotesis Pertama Pengaruh permodalan, Pemasaran dan
IV.2.1.1. Pengujian Asumsi Klasik Hipotesis Pertama Pengaruh Permodalan, Pemasaran dan Informasi
Sebelum melakukan pengujian hipotesis dari penelitian ini, terlebih dahulu dilakukan pengujian asumsi klasik untuk memastikan bahwa alat uji regreri berganda dapat digunakan atau tidak. Apabila uji asumsi klasik telah terpenuhi, maka alat uji statistik regersi linier berganda dapat dipergunakan.
a. Uji Normalitas Data
Model yang paling baik adalah apabila datanya berdistribusi normal atau mendekati normal. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti arah diagonal, maka model regresi memenuhi asumai normalitas. Sebaliknya, jika data menyebar jauh dari garis diagonal atau tidak mengikuti arah garis diagonal, maka model regresi tidak memenuhi asumsi normalitas (Sugiono, 2005).
Uji untuk mengetahui apakah data berdistribus normal atau mendekati normal dilakukan dengan regression standrarized residual. Hasil pengujian dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual Dependent Variable: Pendapatan setelah
Observed Cum Prob
1.00 .75
.50 .25
0.00
Expected Cum Prob
1.00
.75
.50
.25
0.00
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
Gambar IV.2. Hasil Uji Normalitas Data Hipotesis Pertama
Berdasarkan pada Gambar IV.2 di atas, dapat dilihat bahwa penyebaran data berada pada sekitar garis diagonal dan mengikuti garis arah diagonal. Dengan demikan maka model regresi hipotesis pertama tersebut memenuhi asumsi normalitas
b. Uji Multikolonieritas
Multikolonieritas adalah kejadian yang menginformasikan terjadinya hubungan antara variabel-variabel bebas dan hubungan yang terjadi cukup besar. Hal ini menyebabkan koefisien-koefisien menjadi tidak dapat ditaksir dan nilai standrad
error setiap koefisien regresi menjadi tidak terhingga.. Hasil pengujian multikolonieritas dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel IV.15. Hasil Uji Multikolonieritas Data Hipotesis Pertama Coefficientsa -11505135 1351813 -8.511 .000 517472.832 140334.8 .374 3.687 .001 .438 2.285 387928.388 155215.8 .280 2.499 .016 .359 2.786 441414.293 149756.1 .337 2.948 .005 .344 2.907 (Constant) Modal Pasar Informasi Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardi zed Coefficien ts
t Sig. Tolerance VIF Collinearity Statistics
Dependent Variable: Pendapatan setelah a.
Coefficients
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
Berdasarkan pada Tabel IV.15 di atas, dapat dilihat bahwa nilai VIF untuk variabel permodalan, pemasaran dan informasi lebih kecil dari 10 (VIF < 10). Dengan demikian maka model atau persamaan regresi hipotesis pertama tersebut memenuhi asumsi multikolonieritas.
c. Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terajdi ketidaksamaan variance dari residual atau pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas, sebaliknya jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Hasil pengujian heteroskedastisitas dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Scatterplot
Dependent Variable: Pendapatan setelah
Regression Standardized Predicted Value
2.0 1.5 1.0 .5 0.0 -.5 -1.0 -1.5 -2.0
Regression Studentized Residual
4 3 2 1 0 -1 -2
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
Gambar IV.3. Hasil Uji Heteroskedastisitas Data Hipotesis Pertama Berdasarkan pada Gambar IV.3 di atas, dapat dilihat bahwa titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu. dengan demikian dapat disimpulkan model atau persamaan regresi hipotesis pertama tersebut terbebas dari asumsi heteroskedastisitas.
d. Uji Autokorelasi
Uji heteroskedastisitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ada korelasi antara kesalahan penganggu pada periode t dengan kesalahan penganggu pada periode t-1 (sebelumnya ). Jika ada korelasi, maka terjadi masalah autokorelasi. Autokorelasi muncul karena observasi berurutan sepanjang waktu berkaitan satu sama lainnya. Autokorelas dapat dideteksi dengan melakukan uji Durbin-Watson
(DW-test). Dasar pengambilan keputusan ada tidaknya autokorelasi apabila nilai DW Test antara -2 dengan +2. Hasil pengujian autokorelasi dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel IV.16. Hasil Uji Autokorelasi Data Hipotesis Pertama
Model Summary b .896a .802 .789 1801500.46 1.875 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-W atson Predictors: (Constant), Informasi, Modal, Pasar
a.
Dependent Variable: Pendapatan setelah b.
Model Summary
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
Berdasarkan pada Tabel IV.16 di atas, dapat dilihat bahwa nilai Durbit- Watson variabel permodalan, pemasaran dan informasi 1,875 (antara -2 dan +2). Dengan demikian maka model atau persamaan regresi hipotesis pertama tersebut tidak terjadi autokorelasi.
IV.2.1.2. Hasil Uji Hipotesis Pertama Pengaruh Permodalan, Pemasaran dan Informasi
Hipotesis pertama dalam penelitian ini adalah Business Development
Services berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha pertenunan di Kota
Pematangsiantar yang terdiri dari: permodalan (X1), pemasaran (X2) dan informasi
(X3). Berdasarkan pada Tabel IV.17, maka persamaan regresi linier berganda dalam
penelitian adalah.
Dengan menggunakan persamaan regresi berganda, dibentuk fungsi persamaan pendapatan pengusaha industri pertenunan. Variabel-variabel yang dianggap memberikan pengaruh terhadap persamaan ini adalah modal variabel modal, pemasaran dan informasi. Seluruh variabel tersebut secara serentak dimasukkan kedalam persamaan regresi berganda untuk pendapatan pengusaha pertenunan Kota Pematangsiantar sebagai berikut:
Tabel IV.17. Hasil Uji Determinasi Hipotesis Pertama (Permodalan, Pemasaran dan Informasi) Model Summary b .896a .802 .789 1801500.46 1.875 Model 1 R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-W atson Predictors: (Constant), Informasi, Modal, Pasar
a.
Dependent Variable: Pendapatan setelah b.
Model Summary
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
Nilai R Square sebesar 0,802 menunjukkan 80,2% variabel permodalan, pemasaran dan informasi dapat menjelaskan variasi pendapatan pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar.
IV.2.1.3. Uji Serempak Hipotesis Pertama
Model hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
Ho : b1, b2, b3 = 0 (Business Development Services (BDS) tidak berpengaruh
terhadap pendapatan pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar)
H1 : b1, b2, b3 ≠ 0 (Business Development Services (BDS) berpengaruh terhadap
pendapatan pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar) Kriteria pengujian hipotesis untuk uji serempak adalah sebagai berikut
a. Ho diterima jika F hitung < F tabel pada = 5%.
b. Ho ditolak (Ha diterima) jika F hitung > F tabel pada = 5%.
Hasil pengujian hipotesis pertama secara serempak untuk pengaruh variabel permodalan, pemasaran dan informasi dapat dilihat pada Tabel IV.18 sebagai berikut: Tabel IV.18. Hasil Uji F Hipotesis Pertama (Permodalan, Pemasaran dan Informasi)
ANOVAb 579394675617100 3 193131558539030.4 59.509 .000a 142797772299576 44 3245403915899.450 722192447916667 47 Regression Residual Total Model 1
Sum of Squares df Mean Square F Sig.
Predictors: (Constant), Informasi, Modal, Pasar a.
Dependent Variable: Pendapatan setelah b.
ANOVA
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
Berdasarkan Tabel IV.18 di atas diperoleh bahwa nilai Fhitung sebesar 59,509
lebih tinggi dibandingkan Ftabel (3,20), artinya pendapatan pengusaha dipengaruhi
variabel permodalan, pemasaran dan informasi. Hal ini mengindikasikan bahwa hasil penelitian menolak H0 dan menerima H1. Dengan demikian secara serempak peran
BDS yang terdiri dari permodalan, pemasaran dan informasi mampu meningkatkan pendapatan pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar, dengan tingkat pengaruh yang signifikan. Dalam hal ini, berarti pengusaha pertenunan setelah memanfaatkan layanan BDS melalui aspek permodalan, pemasaran dan pemberian informasi mampu meningkatkan kesejahteraan pengusaha pertenunan. Hal ini ditandai dengan meningkatkan pendapatan pengusaha pertenunan setelah memanfaatkan layanan BDS.
Model hipotesis yang diajukan adalah sebagai berikut:
Pengaruh variabel permodalan terhadap pendapatan pengusaha pertenunan 1. Ho : b1 = 0 Variabel permodalan tidak berpengaruh terhadap pendapatan
pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar
H1 : b1 ≠ 0 Variabel permodalan berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha
pertenunan di Kota Pematangsiantar
2. Ho : b1 = 0 Variabel pemasaran tidak berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha
pertenunan di Kota Pematangsiantar
H1 : b1 ≠ 0 Variabel pemasaran berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha
pertenunan di Kota Pematangsiantar
3. Ho : b1 = 0 Variabel informasi tidak berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha
pertenunan di Kota Pematangsiantar
H1 : b1 ≠ 0 Variabel informasi berpengaruh terhadap pendapatan pengusaha
pertenunan di Kota Pematangsiantar
Kriteria pengujian hipotesis untuk uji serempak adalah sebagai berikut a. Ho diterima jika t hitung < t tabel pada = 5%.
b. Ho ditolak (Ha diterima) jika t hitung > t tabel pada = 5%.
Hasil pengujian hipotesis pertama secara parsial untuk pengaruh variabel permodalan, pemasaran dan informasi dapat dilihat pada Tabel IV.19 sebagai berikut
Tabel IV.19. Hasil Uji Parsial Hipotesis Pertama (Permodalan, Pemasaran dan Informasi
Coefficientsa -11505135 1351813 -8.511 .000 517472.832 140334.8 .374 3.687 .001 387928.388 155215.8 .280 2.499 .016 441414.293 149756.1 .337 2.948 .005 (Constant) Permodalan Pemasaran Informasi Model 1 B Std. Error Unstandardized Coefficients Beta Standardi zed Coefficien ts t Sig.
Dependent Variable: Pendapatan setelah a.
Coefficients
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
1. Permodalan nilai thitung untuk variabel permodalan lebih besar dari (3,387) lebih
besar dibandingkan dengan pemasaran dan informasi ttabel (1,678), atau nilai sig.t
untuk variabel permodalan (0,001) lebih kecil dari alpha (0,05), artinya variabel permodalan mempengaruhi pendapatan pengusaha pertenunan.
2. Pemasaran nilai thitung untuk variabel pemasaran lebih besar dari (2,499) lebih
besar dibandingkan ttabel (1,678), atau nilai sig.t untuk variabel pemasaran (0,016)
lebih kecil dari alpha (0,05), artinya variabel pemasaran mempengaruhi pendapatan pengusaha pertenunan
3. Informasi nilai thitung untuk variabel informasi lebih besar dari (2,948) lebih besar
dibandingkan pemasaran ttabel (1,678), atau nilai sig.t untuk variabel informasi
(0,005) lebih kecil dari alpha (0,05), artinya variabel informasi mempengaruhi pendapatan pengusaha pertenunan
Berdasarkan hasil yang diperoleh maka menolak H0 dan menerima H1.
Dengan demikian secara parsial variabel permodalan, pemasaran dan informasi berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan pengusaha pertenunan.
Usaha pertenunan merupakan usaha mikro tergolong jenis usaha marginal, yang antara lain ditunjukkan oleh penggunaan teknologi yang relatif sederhana, tingkat modal dan kadang akses terhadap kredit yang rendah, serta cenderung berorientasi pada pasar lokal. Studi-studi yang dilakukan di beberapa negara menunjukkan bahwa usaha mikro mempunyai peranan yang cukup besar bagi pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja melalui penciptaan lapangan pekerjaan, penyediaan barang dan jasa dengan harga murah, serta mengatasi masalah kemiskinan (www.smeru.or.id).
Berdasarkan perubahan pendapatan pengusaha pertenunan sebelum dan setelah memanfaatkan layanan BDS di Kota Pematangsiantar. Untuk mengetahui apakah terdapat perubahan (peningkatan) yang signifikan, dilakukan uji t-test sebagai berikut.
IV.2.2. Hasil Uji Hipotesis Kedua Perbedaan Pendapatan Sebelum dan Setelah