BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
IV.1. Hasil Penelitian
IV.1.2. Karakteristik Responden
Responden dalam penelitian ini adalah pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar yang telah memanfaatkan layanan BDS lebih dari satu tahun. Karakteristik responden disekripsikan berdasarkan jenis kelamin, usia, status perkawinan, suku bangsa, domisili atau tempat tinggal, jumlah tanggungan, apakah usaha pertenunan merupakan keguatan utama serta alasan menjalankan usaha pertenunan.
IV.1.2. 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Hasil penelitian karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin, diperoleh gambaran dari 48 pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar mayoritas adalah jenis kelamin wanita (62,5%), sedangkan jenis kelamin pria (37,7%). Dengan demikian usaha pertenunan di Kota pematangsiantar lebih banyak dijalankan atau dikembangkan oleh perempuan dibandingkan laki-laki.
Studi Semeru (2003) menyatakan bahwa kegiatan usaha mikro dan usaha kecil tidak terlepas dari peran kaum perempuan. Usaha mikro banyak diminati oleh perempuan dengan pertimbangan bahwa usaha ini dapat menopang kehidupan rumah tangga dan dapat memenuhi kebutuhan pengembangan diri. Meskipun sulit untuk memisahkan peran perempuan dan laki-laki dalam usaha mikro, dan belum ada angka pasti tingkat keterlibatan perempuan dalam usaha mikro, diperkirakan porsinya cukup besar dan sebanding dengan porsi perempuan dalam usaha kecil, yaitu sekitar 40%.
Tabel IV.1 Jenis Kelamin Pengusaha Pertenunan Kota Pematangsiantar
No Jenis Kelamin Jumlah Persentase (%)
1 Pria 18 37.5
2 Wanita 30 62.5
Jumlah 48 100.0
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
IV.1.2. 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Umur
Karakteristik responden berdasarkan umur di Kota Pematangsiantar, hasil penelitian menunjukkan mayoritas pada kelompok umur lebih dari 48 tahun (31,3%), sedangkan pada yang berumur kurang dari 25 tahun (4,2%).
Berdasarkan hasil yang diperoleh tersebut terlihat bahwa mayoritas responden berusia lebih dari 48 tahun , bila dikaitkan dengan tahapan dalam siklus hidup, pada usia-usia tersebut telah berkeluarga dan memiliki anak bahkan cucu. Dengan demikian dalam menjalankan usaha pertenunan mereka telah memperhitungkan sebagai usaha yang dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarganya serta telah menetapkan sebagai bidang yang dijalan sselama masih mampu bekerja.
Tabel IV.2. Umur Pengusaha Pertenunan Kota Pematangsiantar
No Umur Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Kurang dari 25 Tahun 2 4.2
2 25-30 Tahun 4 8.3
3 31-36 Tahun 7 14.6
4 37-42 Tahun 8 16.7
5 43-48 Tahun 12 25.0
6 Lebih dari 48 Tahun 15 31.3
Jumlah 48 100.0
IV.1.2. 2 Karakteristik Responden Berdasarkan Status Perkawinan
Dilihat dari status perkawinan responden di Kota Pematangsiantar, mayoritas dengan status kawin (91,7%), sedangkan yang berstatus belum kawin (8,3%). Bila dikaitkan dengan keberadaan pengusaha pertenunan yang umumnya dengan status kawin, artinya sudah mempunyai tanggung jawab untuk mencukupi nafkah keluarganya. Pada pengusaha yang statusnya belum menikah, pemenuhan kebutuhan hidup dari usaha pertenunan hanya untuk diri sendiri, namun bagi yang telah menikah tentunya harus memenuhi kebutuhan keluarganya dari usaha pertenunan.
Tabel IV.3. Status Perkawinan Pengusaha Pertenunan Kota Pematangsiantar No Status Perkawinan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Belum Kawin 4 8.3
2 Kawin 44 91.7
Jumlah 48 100.0
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
IV.1.2. 3 Karakteristik Responden Berdasarkan Suku Bangsa
Mayoritas pengusaha industri pertenunan di Kota Pematangsiantar merupakan suku Batak Toba (66,7%), sedangkan yang paling sedikit adalah suku Mandailing (8,3%).
Suku Batak Toba yang mendominasi usaha pertenunan di Kota Pematangsiantar sesuai dengan studi Sumardjo (2002) tentang sejarah pertenunan (partonun) pada masa awal munculnya berbagai jenis ulos lebih tepat disebut sebagai seniman ulos karena menggabungkan antara tehnik pembuatan ulos dengan system religi masyarakat Batak Toba. Asumsi ini dibuat karena ulos masuk ke dalam konteks
artefak perlambangan akan sesuatu maksud/ tujuan yang tidak harus dibuat atas dasar hubungan empiris saja. Ulos berhubungan dengan ide/ gagasan yang terelaborasi dalam kehidupan religiusitas Orang Batak masa dahulu yang kompleks. Ulos bukan hanya benda lambang, tetapi ulos merupakan manifestasi kehidupan religi yang terlambangkan oleh si pembuat (partonun) pada masa ini. Itu sebabnya ragam hias pada ulos umum dipakai dalam lambang-lambang religi lama di berbagai etnis di Indonesia. Tidak dapat dipastikan kalau hal itu merupakan "peniruan" bentuk-bentuk yang empirik, yang kemudian digeneralisasi oleh para pengamat masa kini (seperti gambar manusia, binatang, tumbuhan selalu ada pada kain-kain tenunan tradisional).
Tabel IV.4. Suku Bangsa Pengusaha Pertenunan Kota Pematangsiantar No Suku Bangsa Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Batak Toba 32 66.7
2 Simalungun 12 25.0
3 Mandailing 4 8.3
Jumlah 48 100.0
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
IV.1.2.4 Karakteristik Responden Berdasarkan Domisili (Tempat Tinggal) Dilihat dari tempat tinggal pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar, mayoritas berdomisili di Kota pematangsiantar (85,4%), sedangkan yang berdomisili di luar Kota Pematangsiantar (14,6%).
Berdasarkan persentase dimisili atau tempat tinggal responden, menunjukkan bahwa sebagian pengusaha pertenunan menjalankan usaha pertenunan sekaligus lokasi usaha tersebut menjadi tempat tinggalnya, namun terdapat sebagian responden
yang hanya menjalankan usaha pertenunan di Kota Pematangsiantar, namun bertempat tinggal di luar Kota Pematangsiantar.
Tabel IV.5. Domisili atau Tempat Tinggal Pengusaha Pertenunan Kota Pematangsiantar
No Domisili atau Tempat Tinggal Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Kota Pematangsiantar 41 85.4
2 Luar Pematangsiantar 7 14.6
Jumlah 48 100.0
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
IV.1.2.5 Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar, mayoritas mempunyai tingkat pendidikan Akademi/Universitas (62,5%), sedangkan yang berpendidikan SLTP (4,2%). Dengan demikian tingka keterampilan atau kemampuan pengusaha dalam mengelola atau menjalankan usaha pertenunan sudah cukup didukung oleh tingkat pendidikan. Secara umum tingkat pengetahuan sejalan dengan tingkat pendidikan, mengacu kepada hal tersebut dimana pendidikan pengusaha pertenunan umumnya adalah tingkatan pendidikan tinggi, maka diharapkan memiliki pengetahuan yang baik pula dalam menjalankan usaha pertenunan, termasuk dalam memanfaatkan layanan dari program Business Development Services.
Tabel IV.6. Pendidikan Pengusaha Pertenunan Kota Pematangsiantar
No Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Tamat SMP 2 4.2
2 Tamat SLTA 16 33.3
3 Tamat Akademi/Universitas 30 62.5
Jumlah 48 100.0
IV.1.2.6 Karakteristik Responden Berdasarkan Jumlah Tanggungan
Jumlah tanggungan dalam keluarga termasuk dalam hal ini istri/suami dari pengusaha serta anak maupun orang yang tinggal bersama dan menjadi tanggungan pengusaha. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas mempunyai jumlah tanggungan 3-5 orang (72,9%), sedangkan yang mempunyai jumlah tanggungan 0-2 orang (8,3%). Dengan demikian tingkat ketergantungan terhadap pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar antara 3-5 orang, artinya setiap pengusaha pertenunan rata-rata menanggung hidup sebanyak 3-5 orang.
Sesuai dengan definisi usaha mikro menurut USAID (dalam Semeru, 2003) adalah kegiatan bisnis yang mempekerjakan maksimal 10 orang pegawai termasuk anggota keluarga yang tidak dibayar. Kadangkala pemilik yang sekaligus menjadi pekerja. Kepemilikan aset dan pendapatannya terbatas.
Tabel IV.7. Jumlah Tanggungan Pengusaha Pertenunan Kota Pematangsiantar No Jumlah Tanggungan Jumlah (orang) Persentase (%)
1 0-2 orang 4 8.3
2 3-5 orang 35 72.9
3 6-8 orang 9 18.8
Jumlah 48 100.0
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
IV.1.2.7 Karakteristik Responden Berdasarkan Pertenunan sebagai Kegiatan Utama
Pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar, mayoritas menyatakan industri pertenunan sebagai kegiatan utama (93,8%), sedangkan yang bukan sebagai kegiatan utama (6,2%). Dengan demikian hampir seluruhnya responden melaksanakan usaha pertenunan sebagai kegiatan utama, sehingga pemenuhan
kebutuhan hidup sepenuhnya tergantung kepada keberhasilan dalam pengelolaan usaha pertenunan.
Tabel IV.8. Pertenunan sebagai Kegiatan Utama di Kota Pematangsiantar No Pertenunan sebagai Kegiatan Utama Jumlah (orang) Persentase (%)
1 Ya 45 93.8
2 Tidak 3 6.2
Jumlah 48 100.0
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
IV.1.2.8 Karakteristik Responden Berdasarkan Alasan Menjalankan Usaha Pertenunan
Hasil penelitian menunjukkan pengusaha pertenunan di Kota Pematangsiantar, mayoritas menyatakan alasan menjalankan industri pertenunan sesuai keahlian (66,7%), sedangkan alasan karena tidak ada pekerjaan lain (8,3%).
Menurut Farbman dan Lessik (1989) Usaha mikro seperti usaha pertenunan merupakan usaha keluarga dan menggunakan tenaga kerja keluarga, lokasi kerja biasanya di rumah, menggunakan teknologi tradisional, dan berorientasi pasar lokal.
Tabel IV.9. Alasan Menjalankan Usaha Pertenunan di Kota Pematangsiantar No Alasan Menjalankan Usaha Pertenunan Jumlah Persentase
1 Tidak ada pekerjaan lain 4 8.3
2 Warisan Orangtua 12 25.0
3 Sesuai Keahlian 32 66.7
Jumlah 48 100.0
Sumber: Hasil Penelitian, 2008 (Data Diolah)
Pengamatan di masa kini, seperti di Kota Pematangsiantar ulos diperjual- belikan di pasaran tak ubahnya seperti barang dagangan biasa. Kedalaman makna
filosofis dari selembar ulos telah berkurang dan cenderung lebih dinilai dari sudut pandang ekonomi. Harga selembar ulos dimulai dari harga dua puluh ribu sampai bisa mencapai jutaan rupiah (seperti dijual di Jakarta). Di balik tingginya nilai dan harga sebuah ulos, justru banyak partonun tingkat perekonomiannya masih kekurangan. Status sosial merekapun dianggap rendah sama seperti buruh upahan. Keadaan mereka diperparah lagi karena faktor penentu harga ulos ada di tangan para tokeh/ parkilang (distributor ulos ke pasaran, biasanya mereka memiliki sejumlah alat tenun dengan para partonun yang mereka gaji). Ani, seorang partonun di Pematang Siantar yang sudah lebih sepuluh tahun membuat ulos, mengatakan meskipun harga benang naik, upah partonun belum tentu bisa ikut naik. Ada saja alasan para tokeh/parkilang mengatakan kalau masih banyak ulos yang belum laku dijual menumpuk di gudang (www.internews.com).
IV.1.3. Peran BDS Terhadap Usaha Pertenunan di Kota Pematangsiantar