• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. Cash Dividrnd (Y)

4.6. Pembahasan 1.Implikasi 1.Implikasi

Berdasarkan analisis regresi linier berganda yang telah dilakukan diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa variabel independen Return On Invesment (ROI), Earning Per Share (EPS), Current Ratio, dan Debt to Total Asset (DTA) secara simultan berpengaruh terhadap Cash Dividend pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil pengujian secara simultan yang menghasilkan nilai signifikansi 0,007 kurang dari tingkat signifikan 0,05 sehingga dapat disimpulkan bahwa variabel Return On Invesment (ROI), Earning Per Share

(EPS), Current Ratio, dan Debt to Total Asset (DTA) bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap Cash Dividend. Hasil analisis ini juga menunjukkan bahwa model regresi ini cocok dan mampu menjelaskan perubahan variabel Cash Dividend. Sehingga H1 dapat diterima.

Secara parsial variabel independen Return On Invesment (ROI) dan

variabel independen Earning Per Share (EPS) dan Current Ratio tidak mempunyai pengaruh signifikan terhadap Cash Dividend pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia. Kesimpulan ini didasarkan pada hasil pengujian secara parsial antara Return On Invesment

(ROI), Earning Per Share (EPS), Current Ratio, dan Debt to Total Asset

(DTA) terhadap Cash Dividend dengan menggunakan Uji t.

Variabel Return On Invesment (ROI), Earning Per Share (EPS),

Current Ratio, dan Debt to Total Asset (DTA) hanya sebesar 56,3% mempengaruhi cash dividend sedangkan 43,7% dipengaruhi oleh variabel lain.

Menurut Sutrisno (2003: 304) faktor-faktor yang mempengaruhi besar kecilnya dividen yang akan dibayarkan oleh perusahaan kepada pemegang saham antara lain adalah :

a. Posisi solvabilitas perusahaan b. Posisi likuiditas perusahaan c. Kebutuhan untuk melunasi hutang d. Rencana peluasan

e. Kesempatan investasi f. Stabilitas pendapatan

Variabel Return On Invesment (ROI) berpengaruh terhadap Cash Dividend pada perusahaan manufaktur yang Go Public di Bursa Efek Indonesia, dikarenakan perusahaan dapat memanfaatkan total aktiva yang dimiliki oleh perusahaan untuk dapat menghasilkan laba. Apabila laba perusahaan bertambah secara tidak langsung laba yang dibagikan dalam bentuk dividen juga akan meningkat.

Kegunaan dari analisis ROI dapat dikemukakan sebagai berikut (Munawir, 2002: 91):

1. Salah satu kegunaanya yang prinsipal ialah sifat ROI yang

menyeluruh. Teknik analisis ROI dapat menggusur efisiensi penggunaan modal yang bekerja, efisiensi produksi dan efisiensi bagian penjualan.

2. Apabila perusahaan dapat mempunyai dataindustri sehingga dapat diperoleh ratio industri, maka dengan analisis ROI ini dpat dibandingkan efisiensi penggunan modal pada perusahaannya dengan perusahaan yang sejenis, sehingga dapat diketahui perusahaannya berada dibawah, sama, atau di atas rata-ratanya.

3. Analisis ROI dapatdigunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh divisi/bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan modal kedalam bagian yang bersangkutan.

4. Analisis ROI jugga dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas masing-masing produk yang dihasilkan perusahaan.

5. ROI selain berguna untuk keperluan control, juga berguna untuk keperluan perencanaan.

Variabel Debt to Total Asset (DTA) berpengaruh terhadap Cash Dividend pada perusahaan manufaktur yang Go Public di Bursa Efek Indonesia, dikarenakan Semakin besar rasio ini maka semakin besar pula resiko yang dihadapi perusahaan. (Fakhrudin, Sopian 2000: 61). Sedangkan menurut Parthington (1989) dalam Sunarto dan Kartika (2003) yaitu dengan semakin meningkatnya rasio Debt to Total Asset maka ketergantungan perusahaan terhadap pihak kreditur akan semakin besar dan juga berdampak pada profitabilitas yang diperoleh perusahaan berkurang maka hak para pemegang saham (dividen) juga semakin berkurang.

Tidak berpengaruhnya variabel Earning Per Share (EPS) terhadap

cash dividend pada perusahaan manufaktur yang go public di bursa efek indonesia, dikarenakan laba dari hasil operasi perusahaan tidak semuanya dibagikan dalam bentuk dividen, bagi perusahaan yang sedang berkembang lebih baik tidak membagikan laba yang diterima, laba yang diperoleh digunakan untuk reinvestasi kembali. Teori residual menyatakan bahwa perusahaan membayar dividen jika laba perusahaan tidak seluruhnya digunakan untuk investasi, sehingga masih terdapat “sisa laba” (Residual

Earning) setelah membiayai investasi baru. Menurut Sutrisno (2003 : 303) apabila perusahaan memutuskan untuk membagi laba yang diperoleh sebagai dividen berarti akan mengurangi jumlah laba yang ditahan yang akhirnya juga mengurangi sumber dana intern yang akan digunakan untuk mengembangkan perusahaan, begitu pula sebaliknya. Hasil penelitian ini tidak mendukung dari penelitian yang dilakukan oleh Kartika (2003) yang menyatakan bahwa

Earning Per Share (EPS) berpengaruh terhadap besarnya dividen per lembar saham.

Tidak berpengaruhnya variabel currrent ratio terhadap cash dividend

pada perusahan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia, disebabkan karena perusahaan yang sedang tumbuh dan berkembang mungkin tidak begitu kuat posisi likuiditasnya karena sebagian besar dari dananya tertanam dalam aktiva tetap dan modal kerja, tetapi apabila perusahan tidak ingin mengurangi pembayaran dividen hanya karena hal tersebut bisa ditafsirkan oleh investor sebagai memburuknya prospek perusahaan, maka perusahaan membagikan dividen yang relatif rendah untuk mengurangi kemungkinan kesulitan likuiditas. Bird-in-the Hand Theory

menyatakan bahwa investor akan meningkat sebagai akibat penurunan pembayaran dividen. Investor lebih merasa aman untuk memperoleh pendapatan berupa pembayaran dividen daripada menunggu capital again.

Tidak berpengaruhnya variabel currrent ratio terhadap cash dividend

diindonesia banyak yang menggunakan dana yang berasal dari kewajiban jangka panjang. (Meythi, 2005:268)

Hasil dari analisa dan pengujian koefisien menunjukkan pada persamaan regresi sesuai dengan H2 bahwa Return On Invesment (ROI),

Earning Per Share (EPS), dan Current Ratio berjalan searah dengan Cash Dividend. Artinya apabila Return On Invesment (ROI), Earning Per Share

(EPS), dan Current Ratio meningkat maka Cash Dividend juga akan meningkat, tetapi pada variabel Debt to Total Asset (DTA) tidak sesuai dengan H2 yang menyatakan bahwa variabel Debt to Total Asset (DTA) berbanding terbalik terhadap Cash Dividend, setelah diadakan pengujian DTA berjalan searah dengan Cash Dividend.

Berdasarkan hasil analisis dan perhitungan uji t dapat disimpulkan bahwa variabel Return On Invesment (ROI) dan Debt to Total Asset (DTA) berpengaruh signifikan terhadap Cash Dividend, sedangkan Earning Per Share (EPS) dan Current Ratio tidak berpengaruh signifikan terhadap Cash Dividend pada perusahaan manufaktur yang go public di Bursa Efek Indonesia, kesimpulan ini berdasarkan pada hasil uji parsial yang telah dilakukan.

Dokumen terkait