HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Penelitian
4.1.3. Pengujian Validitas dan Reliabilitas
4.1.3.2. Uji Validitas dan Realibilitas Variabel Pengembangan Wilayah
4.1.5.2.3. Hasil Uji Parsial (Uji-t)
Pada uji statistik secara parsial dengan nilai t kritis (critical value) pada df = (n-k), dimana n adalah jumlah sampel dan k adalah jumlah variabel independen termasuk konstanta. Untuk menguji koefisian regresi parsial secara individu dari masing-masing variabel bebas dapat dilihat pada Tabel 4.12.
Tabel 4.12. Uji Statistik-t
Model
a. Dependent Variable: Pengembangan Wilayah
Pada Tabel 4.12. hasil uji statistik t diperoleh, sebagai berikut :
1. Variabel penguatan kelembagaan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai.
2. Variabel pemberdayaan sumberdaya perempuan berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai.
3. Variabel pengembangan masyarakat berpengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai.
Berdasarkan Tabel 4.12. dapat disusun persamaan regresi berganda sebagai berikut :
Y = -0,865+ 0,293 X1 + 0,208 X2 + 0,555 X3 Model persamaan regresi berganda tersebut bermakna :
1. Nilai konstanta sebesar -0,865 yang berarti jika tidak ada nilai variabel independen, dalam hal ini penguatan kelembagaan, pemberdayaan sumberdaya
perempuan dan pengembangan masyarakat sama dengan 0 (nol) maka nilai pengembangan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai akan sebesar -0,865.
2. Variabel penguatan kelembagaan (X1), pemberdayaan sumberdaya perempuan (X2), dan pengembangan masyarakat (X3) masing-masing memiliki nilai koefisien beta sebesar 0,293; 0,208; dan 0,555 dan bertanda positif..
4.2. Pembahasan
Penguatan kelembagaan yang meliputi kondisi kelembagaan, pemberian dukungan/bantuan kepada lembaga masyarakat dan pengkoordinasian lembaga massyarakat dalam kemitraan dalam program Desa Prima sudah berjalan sebagaimana mestinya dengan kerjasama dengan lembaga masyarakat dalam meningkatkan ekonomi perempuan, pengembangan sistem informasi dan sistem monitoring telah berjalan dengan baik dalam Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri. Hal ini disebabkan keseluruhan masyarakat responden menjawab rata-rata sangat positif dengan penguatan kelembagaan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dalam program Desa Prima yang ada di masing-masing desa.
Pemberdayaan sumberdaya perempuan yang meliputi pelatihan masyarakat, dan pendampingan kepada masyarakat dalam program Desa Prima sudah berjalan sebagaimana mestinya dengan pengembangan kapasitas SDM, akses terhadap informasi pasar dan teknologi, pengetahuan dan pemberian modal dan
pengetahuan mengenai pembiayaan telah berjalan dengan baik dalam Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri. Hal ini disebabkan keseluruhan masyarakat responden menjawab rata-rata sangat positif dengan pemberdayaan sumberdaya perempuan yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dalam program Desa Prima yang ada di masing-masing desa.
Pengembangan masyarakat yang meliputi penyuluhan, fasilitasi dan pelayanan dalam program Desa Prima sudah berjalan sebagaimana mestinya dengan perempuan diberikan penyuluhan, membantu dan memudahakan usaha kelompok, mengakomodir permasalahan yang dihadapi kelompok usaha masyarakat telah berjalan dengan baik dalam Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri. Hal ini disebabkan keseluruhan masyarakat responden menjawab rata-rata sangat positif dengan pengembangan masyarakat yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai dalam program Desa Prima yang ada di masing-masing desa.
Pengembangan wilayah yang meliputi pendapatan, kesempatan usaha dan kerja, pendidikan, dan kesehatan dalam program Desa Prima sudah berjalan sebagaimana mestinya dengan meningkatnya pendapatan, kesempatan usaha dan kerja, pendidikan dan kesehatan akibat adanya Program Desa Perempuan Indonesia Maju Mandiri. Hal ini disebabkan keseluruhan masyarakat responden menjawab positif dengan pengembangan wilayah yang diperoleh dari adanya program Desa Prima yang ada di masing-masing desa.
Program Desa Prima dengan dimensi variabel penguatan kelembagaan (X1), pemberdayaan sumberdaya perempuan (X2), dan pengembangan masyarakat (X3) memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap pengembangan wilayah Kabupaten Serdang Bedagai. Hasil ini sejalan dengan penelitian Dewi, et al (2010) yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antara pinjaman dana bergulir P2KP dengan peningkatan pendapatan usaha kelompok swadaya masyarakat di BKM Bina Budi Mulya, Kelurahan Pancoranmas, Kecamatan Pancoranmas, Kota Depok. Hasil penelitian Cahyaningtyas (2008) yang menunjukkan ada pengaruh yang signifikan antara P2KP terhadap pengembangan usaha masyarakat Desa Mejasem Barat Kabupaten Tegal.
Pembangunan masyarakat perdesaan khususnya pemberdayaan sumberdaya perempuan sebenarnya meliputi dua unsur pokok. Pertama, materi yang dihasilkan dan dibagi. Kedua, masalah manusia yang menjadi manusia pembangunan. Para ahli ekonomi memang berbicaran tentang SDM atau sumber daya manusia. Tetapi pembicaraan tentang manusia disini lebih menekankan aspek keterampilan. Dengan demikian, manusia dianggap sebagai masalah teknis untuk peningkatan produksi saja.
Dengan demikian, masalah manusia dilihat sebagai masalah teknis untuk peningkatan keterampilan, melalui bermacam sistem pendidikan (Budiman, 2000). Pada titik ini, berbicara tentang faktor-faktor non-material, seperti adanya rasa aman, rasa bebas dari ketakutan, dan sebagainya. Hanya dengan diciptakannya suasana ini, kondisi yang merangsang kreativitas (yang pada gilirannya akan melahirkan
manusia-manusia pembangunan yang punya inisiatif dan dapat memecahkan bermacam persoalan) dapat diselenggarakan. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya berurusan dengan produksi dan distribusi barang-barang material. Selain itu pembangunan juga harus menciptakan kondisi-kondisi yang membuat manusia bisa mengembangkan kreativitasnya. Bagaimanapun juga, pembangunan pada akhirnya harus ditujukan pada pembangunan manusia. Manusia yang dibangun adalah manusia yang kreatif. Untuk bisa kreatif, manusia tersebut harus merasa bahagia, merasa aman dan bebas dari rasa takut. Hanya manusia seperti inilah yang bisa menyelenggarakan pembangunan dan memecahkan masalah yang dijumpainya (Budiman, 2000).
Pengertian prinsip bertumpu pada pembangunan manusia adalah masyarakat hendaknya memilih kegiatan yang berdampak langsung terhadap upaya pembangunan manusia daripada pembangunan fisik semata (PTO PNPM Mandiri Perdesaan, 2010). Untuk menjelaskan fungsi ilmu sosiologi, ada gunanya jika melihat ke proses pengaturan peran-serta pemanfaat dalam pembangunan pedesaan.
Pernyataan “mengutamakan manusia” dalam proyek-proyek pemabangunan berarti member manusia lebih banyak peluang untuk berperan secara efektif dalam kegiatan pembangunan. Hal ini berarti memperkuat manusia untuk mengarahkan kapasitas mereka sendiri, menjadi aktor sosial ketimbang subyek yang pasif, mengelola sumberdaya, membuat keputusan dan mengawasi kegiatan yang mempengaruhi kehidupan mereka. Hasil dari pendekatan atas-bawah (top-down) yang paternalistik cukup terkenal. Kita sekarang tiba-tiba mendengar mode-mode pernyataan yang
mendukung pendekatan peran-serta (participatory approaches) dari politikus, perencana ahli ekonomi, dan teknokrat. Para ahli ilmu sosial adalah di antara yang pertama menjelaskan perlunya partisipasi. Partisipasi dalam program pembangunan pedesaan lebih merupakan slogan daripada realita. Pernyataan yang dilontarkan secara tajam oleh Gelias Castillo – “bagimana peran-serta menjadi peran-serta pembangunan” (how participatory is participatory development?) – sepenuhnya dibenarkan dan harus dinyatakan pada setiap program pembangunan. Apa yang sesunguhnya terjadi apabila manusia tidak diutamakan secara meyakinkan telah ditunjukkan oleh analisis dari banyak program pembangunan yang selesai namun gagal. Kottak dalam Cernea (1988), menyatakan bahwa mengutamakan manusia dalam campur tangan pembangunan berarti memenuhi kebutuhan bagi perubahan yang mereka rasakan; mengidenfikasi sasaran dan strategi bagi perubahan yang sesuai dengan budaya; membangun yang tepat-guna secara budaya, dapat dilaksanakan, dan rancangan yang efisien bagi inovasi; lebih bertujuan memanfaatkan ketimbang menentang kelompok dan organisasi yang ada; memantau dan mengevaluasi secara informal peserta selama pelaksanaan; dan mengumpulkan informasi terinci sebelum dan sesudah pelaksanaan sehingga dampak sosioekonomi dapat dinilai secara akurat. Keahlian sosial dapat membantu melokasikan dan merumuskan proyekproyek yang diprakarsai oleh penduduk setempat dalam menjawab masalah-masalah konkret yang mereka rasakan dan perubahan yang ingin mereka lakukan sendiri. Para ahli Sosiologi juga dapat membantu melokasikan
“kantung-kantung kemiskinan” yang merupakan arah program pembangunan (Cernea, 1988).
Pemberdayaan masyarakat adalah upaya untuk menciptakan/meningkatkan kapasitas masyarakat, baik secara individu maupun berkelompok, dalam memecahkan berbagai persoalan terkait upaya peningkatan kualitas hidup, kemandirian, dan kesejahteraannya. Pemberdayaan masyarakat memerlukan keterlibatan yang lebih besar dari perangkat pemerintah daerah serta berbagai pihak untuk memberikan kesempatan dan menjamin keberlanjutan berbagai hasil yang dicapai (Pendum PNPM Mandiri, 2007). Menurut Setiana (2005), pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu pada kata empowerment, yaitu sebagi upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki sendiri oleh masyarakat. Jadi, pendekatan pemberdayaan masyarakat titik beratnya adalah penekanan pada pentingnya masyarakat lokal yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka sendiri. Pendekatan pemberdayaan masyarakat yang demikian diharapkan dapat member peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi justru sebagai subyek pelaku pembangunan yang ikut menentukan masa depan dan kehidupan masyarakat secara umum. Selanjutnya Kartasasmita dalam Setiana (2005) mengatakan bahwa pada dasarnya memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakganan. Dengan kata lain, memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat.
Pengertian lain tentang pemberdayaan masyarakat adalah proses pembangunan di mana masyarakat berinisiatif untuk memulai proses kegiatan sosial untuk memperbaiki situasi dan kondisi diri sendiri. Pemberdayaan masyarakat hanya bisa terjadi apabila warganya ikut berpartisipasi. Suatu usaha hanya berhasil dinilai sebagai pemberdayaan masyarakat apabila kelompok komunitas atau masyarakat tersebut menjadi agen pembangunan atau dikenal juga sebagai subyek. Disini subyek merupakan motor penggerak, dan bukan penerima manfaat (beneficiaries) atau obyek saja (www.wikipedia.com). Untuk memahami proses pemberdayaan secara lebih proporsional, Korten dalam Soetomo (2006) menjelaskan power sebagai kemampuan untuk mengubah kondisi masa depan melalui tindakan dan pengambilan keputusan.
Pemberdayaan sumberdaya perempuan dapat dilakukan melalui pengembangan kemampuan masyarakat, perubahan perilaku masyarakat, dan pengorganisasian masyarakat. Kemampuan masyarakat yang dapat dikembangkan tentunya banyak sekali seperti kemampuan untuk berusaha, kemampuan untuk mencari informasi, kemampuan untuk mengelola kegiatan, kemampuan dalam home industry dan masih banyak lagi sesuai dengan kebutuhan atau permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat. Dalam pemberdayaan sumberdaya perempuan yang terpenting adalah dimuali dengan bagaimana cara menciptakan kondisi, suasana, atau iklim yang memungkinkan potensi masyarakat untuk berkembang.